Please, Dont Go

Title                :   Please, Dont Go

Author            :   EShyun

Main Cast      :  

  • Zhang Yixing as Lay
  • Kang Jihwa
  • Kim Jongin as Kai

Rating            :   PG – 17

Length            :   Oneshot

Genre             :   Romance, Sad, Family, Brothership

Cover by        :   Lee Yong Mi  (allthingsiwannapost.wordpress.com)

 

Annyeong readers, author EShyun balik lagi bawa karya gaje. Aku iseng buat nih FF disela-sela Ujian sekolah *author nakal* 😀 FF ini murni hasil karya EShyun, jadi tolong jangan mem-plagiat-nya dan jangan jadi silent readers! Maaf, typo masih bertebaran dimana-mana. Oh iya, disini anggep aja marganya Lay dengan Kai itu sama ya, soalnya author buatnya mereka itu kakak-adik. Udah deh, dari pada banyak bacot mending langsung aja, happy reading ^^

+++++

please don't go

Please, Don’t Go

Lay POV

“Jihwa-ah…”aku memanggil nama yeoja yang telah resmi menjadi istriku dua tahun yang lalu. Dan hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya.

“Ji-ah…”ya, aku lebih suka memanggilnya seperti itu. Aku mendekat lalu memelukanya dari belakang.

“Ne, chagiya. Ada apa?”

“Ayo turun, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.”

“Apa itu chagi?”tanyanya dengan raut wajah penasaran.

“Makanya turun, dan kau akan mengetahuinya.”ujarku.

Kami berdua menuruni anak tangga dan aku tahu dia terkejut saat melihat sesuatu yang berbeda dimeja makan. Ya, malam ini aku sengaja memasak untuknya dan menyiapkan dinner special untuk kami berdua. Ku harap dia menyukainya.

“Chagiya, ini semua kau yang menyiapkannya?”tanyanya tak percaya.

“Ne, tentu saja ini memang sengaja aku siapkan, untuk merayakan dua tahun pernikahan kita.”

“Gomawo chagi.”dia mengecup bibirku sekilas. Lalu mendekat ke arah meja makan, aku menarik kursi dan mempersilahkannya duduk. Dari raut wajahnya aku tahu dia sangat senang.

Kami berdua makan sambil sesekali bersenda gurau. Melihatnya tersenyum seperti itu sudah membuatku sangat senang. Ku akui akhir-akhir ini aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku dan aku rasa dia mulai merasa kesepian. Tapi hari ini aku sengaja meluangkan waktuku hanya untuk bersamanya.

Saat ini aku sedang bersamanya di bawah langit malam, dengan bertaburan bintang-bintang yang sangat indah. Aku memperhatikan wajahnya, perlahan ku dekatkan wajahku dan mendaratkan bibirku di bibirnya.

Dia memejamkan matanya, seakan menikmati perlakuanku ini. Kugigit bibirnya lalu menelusupkan lidahku ke dalam. Ia membalasnya, ciuman itu semakin lama semakin memanas aku tahu kemana ujungnya ciuman ini. Ku angkat tubuhnya –tanpa melepaskan ciuman- lalu ku bawa dia ke kamar.

+++++

“Chagiya…Ireonayo”Perlahan Jihwa membangunkan Lay.

“Shireo..”ujar Lay lalu menarik Jihwa ke dalam pelukannya.

“Ya, ini sudah siang. Kau mau sampai kapan bermalas-malasan seperti ini Lay-ah?”

“Sampai aku bosan.”ujarnya lalu tersenyum. “Hari ini kan libur, aku ingin selalu bersamamu seperti ini.”ujarnya lalu mengecup bibir yeojanya itu sekilas.

“Kau ini, selalu seperti ini.”

“Saranghae Ji-ah..”

“Nado..”jawabnya lalu meletakkan kepalanya diatas dada Lay. “Chagiya…”panggilnya pelan.

“Hmm..”

“Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku.”

“Ne, tentu saja. Tak ada alasanku untuk meninggalkanmu. Aku akan selalu didekatmu dan tak sedetikpun meninggalkanmu, aku berjanji. Dan kau juga harus berjanji sampai kapanpun kau tak akan meninggalkanku”

“Ne chagiya.. Lay-ah, aku punya hadiah untukmu.”

“Hadiah apa?”

“Sebentar, ne..”Jihwa melepaskan pelukan Lay lalu beranjak ke suatu tempat. Karena penasaran Lay mengubah posisinya menjadi duduk dan memperhatikan yeojanya itu dengan tatapan bingung.

Tak lama Jihwa datang mendekat, namun kali ini ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu di balik tangannya.

“Chagiya, apa yang kau sembunyikan itu?”tanya Lay penasaran.

“Ini..”Jihwa menyodorkan sebuah benda yang kecil. Lay menerimanya tapi ia bingung sebenarnya benda apa itu, karena ini pertama kalinya ia melihat benda itu.

“Ini apa chagiya?”

“Mwo? Kau tak tahu ini apa?”Jihwa tertawa geli melihat ekspresi namjanya itu. “Tunggu sebentar ne..”ia kembali beranjak.

“Kau mau kemana chagi?”

“Tunggulah, aku hanya sebentar kok.”

Jihwa kembali datang dengan membawa selembar kertas lalu menyodorkannya pada suaminya itu.

“Bacalah.”Lay mengambilnya dan membacanya.

“Test pack?”ia menaikkan alisnya bingung lalu lanjut membaca. “Atau yang biasa di kenal dengan alat uji kehamilan.”dia kaget, matanya membulat dan hal itu membuat Jihwa tertawa. “Jadi kau…?”Lay memeluknya senang.

“Ya..ya.. kau belum selesai membacanya bukan? Lanjutkan dulu.”

“Ne..”Lay melepas pelukannya, kembali membaca. “Bila bergaris satu maka hasilnya negatif, dan bergaris dua maka positif.”Lay lalu mengalihkan pandangannya ke arah benda tadi, dan matanya kembali membulat saat mendapati dua buah garis disana. “Chagiya.. neo? Yaaa, aku akan segera menjadi seorang appa.. gomawo Chagi..”Lay mengangkat tubuh Jihwa tiba-tiba, membuat yeoja itu sedikit terkejut.

“Ya.. Lay-ah. Turunkan aku.”pekiknya kaget.

“Tidak akan.. Yaaa aku sangat senang chagi..”

“Ne aku tahu kau senang, tapi cepat turunkan aku sekarang juga.”pintanya.

“Ne.. ne.. baiklah.”ia pun menurunkan Jihwa.

“Ji-ah.. mulai sekarang kau harus berhati-hati ya. Jangan sampai menyakiti calon anak kita, ne?”

“Tentu saja chagi. Kau juga, jangan bertindak seperti tadi. Kalau aku jatuh gimana eoh?”

“Baiklah.. tapi kau tak jatuh kan?”Lay mengedipkan matanya, menggoda yeojanya itu.

“Iya sih.. tapi tetap saja lain kali jangan membuat gerakan yang tiba-tiba seperti tadi. Kalau anak kita kaget gimana?”

“Ne chagi. Aku tak akan mengulanginya lagi.”ujarnya lalu berlutut di hadapan Jihwa. Ia mengelus perut yeojanya yang masih datar.

“Annyeong… Ini appa sayang. Kau baik-baik disana ya, jangan membuat umma sakit, ne? Cepat lahir ya sayang, appa akan menunggumu.”ia lalu mencium perut Jihwa.

Jihwa melihat kelakuan suaminya itu sambil tersenyum bahagia.

“Chagi, karena kau telah memberikan hadiah terindah untukku, sebagai gantinya hari ini semua pekerjaan rumah aku yang akan mengerjakannya. Kau hanya perlu duduk manis, ne? Dan ingat, kau tak boleh terlalu lelah. Arraseo?”

“Arraseo..”

“Ya sudah, sekarang kau beristirahatlah.”suruhnya. “Oh iya, sore nanti temani aku ke supermarket ya.”

“Ne, chagi.”

Lay mencium kening yeojanya. Mereka saling berbincang-bincang, terkadang tertawa bersama hingga mereka tak sadar hari sudah menjelang sore.

+++++

Lay POV

“Changi, kaja.”aku menggandeng tangan Jihwa lalu berjalan keluar. Saat melewati ruang tengah, aku melihat seseorang sedang duduk sambil menonton televisi. Aku sedikit mendekat dan ternyata itu adalah Kai, namdongsaeng-ku.

“Kai? Sejak kapan dia disini?”batinku.

“Chagi, kau tahu kapan Kai kesini?”tanyaku pada Jihwa.

“Molla, aku tak tahu Lay-ah. Dari tadi kan aku bersamamu di atas, coba kau tanya.”ujarnya dan akupun berjalan mendekat seraya memanggilnya.

“Kai-ah… kau disini?”ia terlihat kaget saat mendengar suaraku.

“Ah hyung.. kau mengagetkanku saja. Kau sudah bangun?”

“Perasaan dari tadi aku tak tidur.”ujarku bingung. “Kau sejak kapan disini?”

“Beberapa menit yang lalu hyung, benarkah kau tak tidur? Err… karena melihat keadaan rumah yang sepi jadi aku fikir kau sedang tidur hyung.”

“Ohh.. tumben kau kesini.”tanyaku, tapi dari yang kulihat wajahnya seperti mengisyaratkan kebingungan.

“Tumben? Ya hyung, aku kan memang selalu kesini. Kau aneh hyung.”ujarnya sambil menatapku. “Neo gwaenchana?”nada bicaranya terdengar sangat khawatir.

“Ne, gwaenchana. Waeyo?”

“Ani, aku hanya memastikan saja.”ucapnya pelan. Tapi aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

“Ya sudah.. kebetulan kau disini, aku mau pergi kau jaga rumah sebentar, ne?”

“Memangnya kau mau keman hyung?”

“Aku mau ke supermarket sebentar. Membeli bahan makanan dan beberapa kebutuhan rumah yang mulai habis.”

“Oh.. kau mau kutemani hyung?”

“Ani, tidak perlu. Lagi pula aku akan pergi bersama dia.”ujarku sambil tersenyum ke arah Jihwa.

“Dia? Dia siapa hyung?”tanyanya bingung.

“Ya! tentu saja dengan Jihwa noona. Kau ini gimana sih, sama noona sendiri masa nggak ingat.”ujarku kesal. Bisa-bisanya dia malah menanyakan hal yang tak penting seperti itu.

“Jihwa? Hyung….”kulihat wajahnya memucat. Ada apa ini? Apa Kai sedang sakit?

“Kai-ah, kau sakit? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?”

“A, ani. Aku.. aku baik-baik saja hyung. Err… kau yakin tak mau kutemani?”

“Ne tentu saja.”ujarku meyakinkannya. “Kaja chagi.”aku kembali menggenggam tangan yeojaku.

“Annyeong Kai-ah…”pamitku lalu berjalan keluar. Dan kembali aku melihat sesuatu yang aneh dari sorot matanya. Tapi aku tak mempedulikannya lagi.

Kami berdua melangkah menelusuri jalan. Kebetulan supermarket tak terlalu jauh dari rumahku. Hanya berjarak beberapa rumah saja. Setelah sampai aku dan dia masuk kedalam, tak lupa aku menyapa ajumma penjaga yang sudah aku kenal.

“Annyeong ajumma.”

“Annyeong, Lay-ah.. sudah lama aku tak melihatmu. Bagaimana keadaanmu?”

“Mian, ajumma. Akhir-akhir ini aku memang sibuk, jadi jarang keluar. Aku baik-baik saja kok.”ujarku padanya.

“Baguslah.. aku sempat khawatir karena sudah lama tak melihatmu. Tapi sekarang aku lega, ternyata kau baik-baik saja. Kau kesini sendirian eoh?”tanyanya padaku. Ajumma bagaimana sih, apa dia tak bisa melihat kalau aku pergi dengan Jihwa?

“Aniyo, aku bersama….”kata-kataku terhenti saat menyadari bahwa Jihwa tak ada disampingku lagi. “Ajumma, apa kau melihat seorang yeoja tadi?”

“Yeoja? Tidak, aku tak melihat siapa-siapa dari tadi.”ujarnya bingung. Bagus, tadi Kai sekarang ajumma. Sebenarnya ada apa sih, kenapa mereka semua aneh? Jelas-jelas tadi aku bersama Jihwa.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling lalu dari kejauhan mataku menangkap sosok yeoja yang aku kenal. Jihwa, ia terlihat sedang memilih-milih sayuran.

“Ah, disana rupanya.”batinku.

“Ajumma, ternyata dia sudah disana.”tunjukku dan ajumma mengikuti arah yang kutunjuk, tapi tetap saja ia terlihat bingung. “Hmm, sepertinya dia butuh bantuanku, aku kesana dulu ya ajumma.”ujarku dan dia hanya mengangguk tetap dengan raut wajah bingung.

Aku melangkah mendekatinya, kulihat ia tengah menggapai sesuatu diatas sana. Dengan cepat, aku membantunya mengambil benda itu.

“Kau butuh ini chagi?”

“Ah, ne. Gomawo Lay-ah.”

“Ya! kau ini kenapa tadi meninggalkanku huh?”tanyaku kesal.

“Mianhae.. aku tak bermaksud meninggalkanmu.”

“Ya sudah, lain kali jangan seperti itu lagi. Kau membuatku cemas saja.”

“Ne chagi.”

“Hmm, sekarang apa lagi yang kita butuhkan?”tanyaku sambil menggandeng tangannya.

“Apa yaa? Aku rasa aku sudah mengambil semuanya. Kau ada butuh yang lain tidak?”

“Sebentar..”aku melihat-lihat barang bawaannya. “Sepertinya sudah tak ada lagi. Eh, tunggu.. kau lupa membeli susu.”

“Susu? Chagi, kau kan tahu aku tak menyukainya.”

“Ne, aku tahu. Tapi mulai sekarang kau harus menyukainya. Susu kan sangat baik untuk calon anak kita.”aku membelai rambutnya.

“Baiklah…”ujarnya mengalah, aku pun tersenyum kearahnya.

Aku sedang memilih-milih susu bersamanya, ketika aku melihat orang-orang sekitar memandangku aneh. Aku tak tahu apa maksud tatapan mereka itu.

“Chagi.. lihatlah mengapa orang-orang itu menatap aneh ke arah kita?”tanyaku pada Jihwa.

“Entahlah, akupun tak tahu..”

“Apa ada yang salah denganku?”kulihat dia memperhatikanku lalu menggelengkan kepalanya.

“Ani, tak ada yang salah denganmu.”ucapnya kemudian.

“Hmm, terus kenapa ya?”kulihat Jihwa hanya menganggkat bahu sebagai jawaban dari pertanyaanku. Sebenarnya aku masih bingung mengapa mereka menatap kami dengan aneh. Akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikan mereka semua.

Ketika aku dan Jihwa sedang berjalan menuju kasir, tiba-tiba kulihat Kai menghampiriku dengan tatapan cemas.

“Hyung…”panggilnya.

“Kai? Ada apa kau kesini? Kau butuh sesuatu eoh?”tanyaku padanya. Ya, kenapa dia sampai menyusulku kesini? Kalau dia butuh sesuatu kan tinggal meneleponku saja, dasar anak aneh.

“Ani hyung.. aku hanya ingin menjemputmu.” Apa dia bilang, menjemputku?

“Menjemputku? Hey, aku ini bukan anak kecil Kai-ah. Lagi pula aku kan perginya bersama Jihwa.”

“Hyung.. ayo kita pulang.”sekarang dia malah menarik tanganku.

“Aniyo…”aku melepaskan pegangannya. “Kau kenapa eoh? Sudah kubilang, aku bersama Jihwa. Jika sudah selesai, aku pasti pulang kok.”ujarku, lalu melirik Jihwa. “Benarkah chagi?”tanyaku dan dibalas anggukan oleh yeoja itu.

“Hyung… jebal jangan seperti ini.. Kau tidak dalam keadaan yang baik saat ini, kau butuh istirahat hyung. Ayo kita pulang.”kali ini ia memaksaku. Hey, kenapa dengan anak ini? tak biasanya dia bertingkah seperti ini.

“Shireo!”ujarku marah. “Kai-ah, berhenti bersikap seperti ini. Aku tak kenapa-kenapa, kau bisa lihat sendiri kan? Dan aku harus berkata berapa kali lagi padamu, sudah kubilang aku bersama Jihwa. Dia dari tadi bersa…”ucapanku terhenti, aku baru sadar kalau Jihwa sudah tak berada disampingku lagi.

“Hyung.. waeyo?”

“Jihwa… dimana dia? Bukannya dia tadi bersamaku?”tanyaku panik. “Aish, ini semua gara-gara kau.”aku memarahinya, tapi dia hanya menundukkan wajahnya.

Aku mencoba mencarinya, tapi tak dapat menemukannya. Lalu aku memutuskan untuk pulang, berharap bisa menemukannya disana.

“Hyung.. kau mau kemana eoh?”aku mendengar Kai memanggilku, tapi aku tak menghiraukannya.

“Ji-ah… Jihwa-ah..”aku memanggil-manggil namanya saat telah sampai dirumah. “Chagiya.. kau dimana eoh?”aku memasuki kamar, aku bernafas lega saat kulihat ia tengah duduk di sudut tempat tidur. Aku menghampirinya.

Aku menatapnya, entah kenapa kali ini aku melihat ada yang berbeda darinya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.

“Chagiya.. gwaenchana? Kenapa kau meninggalkanku lagi?”tanyaku padanya. Tapi ia hanya menundukkan wajahnya membuatku cemas. “Chagi… kau sakit?”ia menggelengkan kepalanya.

Kugenggam tangannya, dingin itu yang kurasakan.

“Chagi.. sepertinya kau sedang sakit. Sebaiknya kau beristirahat saja ya.”ujarku padanya. Aku membantunya berbaring lalu menutup tubuhnya dengan selimut. “Kau tidurlah.. jangan membuatku khawatir, ne?”aku mengelus-elus rambutnya.

Kulihat ia mulai memejamkan matanya, aku masih setia disampingnya. Aku tak mau hal buruk terjadi padanya. Kugenggam erat tangannya, kutatap wajahnya. Setelah merasa bahwa ia sudah terlelap aku pun memutuskan untuk meninggalkannya, tak mau mengganggunya.

Aku menuruni anak tangga, kulihat Kai sedang membenamkan kepalanya diatas meja. Aku berniat mendekatinya.

“Kai-ah.”panggilku pelan, ia lalu mengangkat kepalanya.

“Ne hyung..”jawabnya lemah.

“Ini sudah hampir malam, kau pulanglah. Umma pasti mencarimu.”

“Hmm, kau tak apa aku tinggal sendiri hyung?”tanyanya ragu.

“Ya Kai-ah, seharusnya kau menanyakan keadaan noona-mu bukan aku. Lihatlah karena mu dia jadi sakit.”

“Hyung!”

“Waeyo?”

“Ani… kau yakin tak kenapa-kenapa kan?”

“Aku tak kenapa-kenapa. Sekarang pulanglah.”

“Baiklah, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, ne?”

“Ne..”

“Annyeong hyung..”pamitnya lalu melangkah pergi, sepertinya ia tak tega meninggalkanku. Ada apa sih dengan anak itu? ah, mungkin dia merasa bersalah karena kejadian tadi.

Setelah melihatnya pergi, aku memutuskan untk kembali kekamar. Hari sudah berganti malam, aku berbaring sembari menatap wajah yeojaku itu. Sesekali aku tersenyum melihatnya, sungguh dia adalah hal terindah yang telah diciptakan Tuhan untukku. Hingga tak kusadari aku jatuh terlelap.

+++++

Secercah sinar menyilaukan membuat Lay membuka matanya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk saat matanya melihat Jihwa tengah terjaga disampingnya. Ia mendekat, dan barulah ia sadar kalau yeojanya itu tengah menagis.

“Chagiya.. gwaenchana? Kau kenapa menangis?”ia mendekap tubuh Jihwa, mencoba memberikan ketenangan.

“Lay-ah.. mianhaeyo.”ujarnya sambil terisak.

“Waeyo? Kenapa kau meminta maaf padaku? Apa yang terjadi chagi?”

“Mianhae Lay-ah. Aku..aku sudah tak bisa lagi bersamamu.”ucapannya itu sontak membuat Lay kaget.

“Mwo? Apa maksudmu berkata seperti itu?”tanyanya bingung.

“Waktuku sudah habis Lay-ah, aku harus pergi sekarang. Sudah saatnya kau melupakanku.. Selamat tinggal Lay-ah, semoga kau bahagia tanpaku.”selanjutnya Lay melihat cahaya mengelilingi tubuh Jihwa.

“Andwae! Jihwa kau tak boleh pergi. Aku masih ingin bersamamu, aku tak mau kehilanganmu. Jebal.. jangan pergi..”ujarnya menahan tangis. “Andwae Jihwa-ah… andwae!!”ia menjerit frustasi.

Lay tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, sinar itu menyilaukan matanya. Tak lama sinar itu menghilang bersamaan dengan hilangnya Jihwa dari pelukannya.

“Ji-ah.. kau dimana?”dia mencari-cari sosok yeojanya itu. “Jihwa-ah.. Andwae!”

Lay terjaga dari tidurnya dengan nafas tak teratur. Dengan panik ia melihat kesampingnya dan saat melihat Jihwa masih tertidur pulas disana ia menghembuskan nafas lega.

“Ji-ah.. kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?”Lay berbicara pada Jihwa yang masih terlelap. “Chagiya.. kumohon, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu, chagi.”ia mengelus kepala yeojanya itu dengan penuh kasih sayang lalu mengecup keningnya. “Berjanjilah…”

Ia melihat jam yang tergantung disudut ruangan, 01.15. Ternyata saat itu masih tengah malam. Ia memutuskan untuk kembali tidur, didekapnya tubuh yeojanya lalu mencoba memejamkan mata, hingga tak berapa lama ia kembali tertidur.

+++++

Sinar matahari pagi mengintip dari celah jendela, membuat Lay terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah samping, tapi ia tak menemukan Jihwa disana.

“Chagiya…”panggilnya namun tak ada jawaban. “Chagiya… kau dimana huh?”ia berdiri lalu berjalan turun. “Ji-ah…”panggilnya lagi namun tetap tak ada jawaban.

Lay merasa sedikit panik, ia mencari-cari yeojanya itu keseluruh penjuru rumah tapi ia tetap tak menemukannya. Ia teringat mimpinya malam tadi, fikirannya menjadi kacau. Entah kenapa mengingat mimpi itu membuatnya tubuhnya bergetar lemas.  Ia lalu mengambil handphone, mengubungi nomor yeojanya itu, tapi nihil nomornya tidak aktif.

Lay masih mencari-cari yeojanya ketika ia mendengar seseorang masuk ke rumahnya.

“Ah, itu pasti dia.”gumannya lalu segera berlari menuju pintu.

“Kau dari mana saja eoh…”ucapannya terpotong saat melihat orang dihadapannya itu bukanlah Jihwa melainkan Kai. “Ah, kau rupanya Kai.”

“Waeyo hyung? Aku baru saja datang dan umma menitipkan ini untukmu.”ia menunjukkan sebuah kantung. “Hyung, kau sedang mencari sesuatu eoh?”tanya Kai.

“Ne Kai-ah.. aku sedang mencari Jihwa. Saat bangun tadi aku tak melihatnya dan sampai sekarang aku tak bisa menemukannya dimanapun. Apa kau ada melihatnya?”ia bertanya pada Kai, namun yang ditanya terlihat sangat terkejut.

“Hyung… Gwaenchanayo?”tanyanya khawatir.

“Ne gwaenchanayo. Kau kenapa Kai-ah?”Lay bingung melihat ekspresi Kai.

“Hyung… kau bilang kau mencari siapa?”

“Aku mencari Jihwa, istriku. Waeyo, kau tak melihatnya juga ya?”

“Hyung, sebaiknya kau beristirahat.”

“Aku? Ani, aku tidak kenapa-kenapa kok. Ya sudah, kalau kau juga tak melihatnya. Aku mau mencarinya dulu ne. Nanti kalau kau melihatnya segera beritahu aku.”Lay hendak melangkah pergi, namun Kai menahan tangannya.

“Hyung.. sadarlah. Kau tak akan menemukan Jihwa noona.”ujar Kai pelan.

“Maksudmu apa?”Lay terlihat bingung.

“Hyung, Jihwa noona… sudah meninggal dua bulan yang lalu.”

+++++

Lay POV

“Hyung, sebaiknya kau beristirahat.”ucapnya tiba-tiba yang membuatku sedikit bingung.

“Aku? Ani, aku tidak kenapa-kenapa kok. Ya sudah, kalau kau juga tak melihatnya. Aku mau mencarinya dulu ne. Nanti kalau kau melihatnya segera beritahu aku.”ujarku lalu melangkah pergi, tapi langkahku tertahan saat Kai menahan tanganku.

“Hyung.. sadarlah. Kau tak akan menemuka Jihwa noona.”ujarnya pelan. Hey, apa yang dia maksud?

“Maksudmu apa?”

“Hyung, Jihwa noona… sudah meninggal dua bulan yang lalu.”

“Mwo? Apa kau bilang? Ya Kai! berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku. Jihwa meninggal? Kau… jangan mengarang cerita seperti itu. Jelas-jelas malam tadi aku masih bersamanya.”bentakku marah. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai yeojaku.

“Hyung…”ia memanggilku lirih. “Sadarlah hyung.. Jihwa noona sudah pergi, dia sudah meninggal hyung.. Aku tau kau mengalami amnesia setelah kejadian itu, dan yang kau ingat hanyalah dia. Tapi kumohon kau jangan seperti ini hyung.. Jihwa yang selama ini bersamamu hanyalah khayalanmu saja. Dia tak nyata hyung.. dia hanya ada difikiranmu..”aku terdiam mendengar perkataannya itu.

Tubuhku lemas, aku sangat emosi ingin rasanya aku memukulnya saat ini juga tapi entah kenapa tubuhku seperti sulit untuk digerakkan. Aku menatapnya tajam, menunjukkan ketidaksukaanku atas perkataannya barusan.

“Ya Kai! Diam… jangan kau teruskan perkataanmu itu. cukup! Aku tak akan mendengar bualanmu lagi. ingat! Jihwa itu istriku, dan dia adalah kakak iparmu. Tega sekali kau berkata seperti itu. Kau memang tak punya hati, aku menyesal mempunyai dongsaeng sepertimu!”aku meluapkan semua emosiku, sungguh hatiku sangat sakit mendengar bualannya itu.

“Hyung! terserah kau mau berkata apa, terserah kau mau membenciku dan membentakku. Aku tak peduli! Aku hanya ingin kau sadar, selama ini Jihwa sudah tak ada lagi, yang bersamamu hanyalah khayalanmu hyung. Sadar hyung, sadar!”Kai meremas kerah bajuku lalu menguncang-guncang tubuhku.

“Diamlah! Pergi kau dari sini, dongsaeng macam apa kau ini! Aku tak mau melihatmu lagi, pergi!”bentakku padanya, aku melepas tangannya kasar dan mendorongnya hingga jatuh.

“Hyung!”dia sepertinya terkejut. Kulihat ia berusaha berdiri lalu mendekat kearahku. “Aku tak akan pergi sebelum kau menyadari hal itu!”ucapnya lalu menarik tanganku.

“Ya! lepas. Kau mau membawaku kemana eoh?”aku berusaha melepaskan tangannya, tapi dia lebih kuat mengenggam tanganku.

“Tidak akan hyung. Sekarang kau harus ikut aku. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu sadar kalau selama ini kau salah!”ia menarikku masuk ke mobil.

“Shireo! Aku tak mau ikut denganmu.”teriakku namun tak di gubris olehnya. “Ya Kai! Kubilang lepaskan aku, aku tak mau ikut denganmu.”aku kembali berteriak, tapi kembali tak digubrisnya.

Aku memberontak, tapi tak bisa. Ku akui dia terlalu kuat, dan akhirnya aku hanya bisa mengalah walaupun dengan hati tak ikhlas.

Dia mulai menjalankan mobilnya, aku tahu dia sedang emosi sama sepertiku. Di ujung jalan ia membelokkan mobilnya memasuki sebuah kompleks… pemakaman?

“Mwo? Apa maksudnya kau membawaku ketempat seperti ini?”bentakku padanya.

“Diamlah, nanti kau juga akan tahu hyung. Sekarang ayo turun.”ia menarik tanganku membawaku berjalan diantara makam-makam itu.

Entah kenapa aku hanya menurut saja, sampai ia menghentikan langkahnya saat berada disebuah makam yang terlihat baru.

“Hyung, lihatlah. Itu makam Jihwa noona.”ujarnya pelan. “Hyung kau tahu.. selama ini Jihwa yang bersamamu itu hanyalah khayalanmu, dia hanya imanjinasimu saja hyung….”kudengar ia berbicara tapi tak kuhiraukan dia.

Aku melihat makam itu, namanya terukir diatas nisan.

“Hyung.. Jihwa noona meninggal dua bulan yang lalu karena sebuah kecelakaan. Dan karena kecelakaan itu pula kau kehilangan ingatanmu.”

Tiba-tiba tubuhku jatuh terduduk, entah sejak kapan airmata ini mengalir membasahi pipiku. Aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan emosiku. Seketika itu sekelebat bayangan mengusai diriku membuatku kembali pada kejadian itu.

Flashback

Normal POV

Lay terbangun saat tak sengaja Jihwa menyengolnya. Ia melihat yeojanya itu berjalan terburu-buru. Karena penasaran iapun mengikuti yeojanya yang memasuki kamar mandi.

Ia melihat Jihwa muntah-muntah, wajahnya menunjukkan kesakitan. Dengan khawatir ia mendekati yeojanya itu.

“Ji-ah, ada apa? Kau sakit?”

“Entahlah, aku juga tak tahu. Saat bangun tadi tiba-tiba saja aku merasa mual chagi.”

“Omo.. kau sangat pucat chagi. Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang, aku tak mau hal buruk terjadi padamu.”

“Baiklah chagi.”

Setelah mengganti baju, pasangan itu segera pergi kerumah sakit dengan mengendarai mobil. Tak lama mereka telah sampai di tempat yang dituju.

Jihwa sedang diperiksa oleh dokter saat ini, dan Lay menunggunya dengan tak tenang, ia takut sesuatu terjadi pada yeoja yang sangat ia cintai itu. Ketika melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan segera ia menghampirinya dan bertanya.

“Dokter, apa sebenarnya yang terjadi pada istri saya?”tanyanya panik dan sang dokter hanya tersenyum melihatnya seperti itu. ia memandang Jihwa dan hal sama yang ia dapati dari yeojanya itu. “Ya.. ada apa ini. Kenapa kalian malah senyum-senyum seperti itu?”tanyanya masih dengan keadaan panik.

“Lay-ssi, kau tak perlu khawatir. Tak ada hal buruk yang menimpa istri anda.”jawab sang dokter.

“Benarkah? Tapi mengapa tadi dia muntah-muntah dok?”

“Hahaha, itu hal yang biasa Lay-ssi.”

“Maksudmu? Aku tak mengerti dok.”tanyanya bingung.

“Lay-ssi, selamat. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang appa.”jawaban sang dokter membuatnya terkejut dan seketika itu membulatkan matanya.

“Mwo? Kau hamil chagi?”tanyanya tak percaya.

“Ne chagi..”

“Yaaaa, aku sangat senang chagiya. Akhirnya setelah menunggu lama, kita akan segera menjadi orang tua chagi.”ia mengecup kening yeojanya. “Terima kasih dok..”kali ini ia menyalami sang dokter.

“Ne dan dia sudah memasuki bulan ke tiga, hanya saja kandungannya sedikit lemah. Istrimu tak boleh terlalu lelah, arraseo?”nasihat sang dokter.

“Arraseo..”ujarnya lalu tersenyum senang. “Gomawo chagiya..”ia mengecup bibir yeojanya itu sekilas.

“Kamsahamnida dok, sekarang kami pamit dulu.”mereka berdua keluar dari ruangan itu dengan senyum bahagia.

Saat ini mereka sedang berada dijalan menuju rumah umma Lay, ya mereka ingin memberitahukan kabar bahagia itu pada keluarga Lay.

Sepanjang jalan mereka saling bersenda gurau, sesekali Lay menggoda yeojanya itu. Karena terlalu asik bercengkrama Lay tak menyadari sebuah truk di depannya berhenti mendadak. Ia panik saat menyadari hal itu, ia mencoba mengerem namun terlambat. Mobilnya yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi itu menabrak truk itu. Kedua orang didalamnya terpelanting keluar.

Lay mencoba membuka matanya, darah segar keluar dari kepalanya, ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari Jihwa dan ia melihat yeojanya terbaring berlumuran darah tak jauh darinya. Keadaannya sangat mengenaskan, ia mencoba menggapainya.

“Jihwa-ah..”panggilnya lirih. “Chagiya, mianhaeyo..”

 Tapi seperkian detik kemudian semua menjadi gelap dan dia tak ingat apa-apa lagi.

Flasback END

+++++

Kai POV

“Diamlah! Pergi kau dari sini, dongsaeng macam apa kau ini! Aku tak mau melihatmu lagi, pergi!”ia membentakku, mencoba melepaskan tanganku dengan kasar lalu mendorongku hingga jatuh. Aku terkejut melihatnya seperti ini. Kali ini kesabaranku telah habis, aku sudah tak tahan melihatnya seperti ini terus.

“Hyung!”bentakku. Aku berdiri lalu medekatinya. “Aku tak akan pergi sebelum kau menyadari hal itu!”kutarik tangannya, kali ini ku akui aku sedikit kasar dengannya

“Ya! lepas. Kau mau membawaku kemana eoh?”dia kembali berusaha melepaskan tanganku, tapi aku lebih kuat mengenggam tangannya.

“Tidak akan hyung. Sekarang kau harus ikut aku. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu sadar kalau selama ini kau salah!”aku menariknya memaksa masuk ke mobil.

“Shireo! Aku tak mau ikut denganmu.”teriaknya namun tak ku gubris. “Ya Kai! Kubilang lepaskan aku, aku tak mau ikut denganmu.”dia kembali berteriak, dan aku tak mengubrisnya, lagi.

Dia memberontak, tapi aku semakin memperkuat cengkramanku. Sampai akhirnya ia hanya mengikutiku.

Aku mulai menjalankan mobil, emosiku sudah tak dapat ku tahan lagi, tapi jujur tak ada niat sedikitpun untuk menyakitinya. Aku membawanya ke pemakaman.

“Mwo? Apa maksudnya kau membawaku ketempat seperti ini?”ia membentakku

“Diamlah, nanti kau juga akan tahu hyung. Sekarang ayo turun.”aku menarik tangannya, membawanya berjalan diantara makam-makam itu.

Aku menghentikan langkahku tepat dihadapan makam Jihwa noona.

“Hyung, lihatlah. Itu makam Jihwa noona.”ujarku pelan. “Hyung kau tahu.. selama ini Jihwa noona yang bersamamu itu hanyalah khayalanmu, dia hanya imanjinasimu saja hyung….”

Aku melihatnya jatuh terduduk.

“Hyung.. Jihwa noona meninggal dua bulan yang lalu karena sebuah kecelakaan. Dan karena kecelakaan itu pula kau kehilangan ingatanmu.”

Aku mengelus pundaknya berusaha memberikan kekuatan padanya.

“Hyung… selama ini kami memang merahasiakan ini padamu. Mengingat kau mengalami amnesia dan hanya mengingat Jihwa noona. Mungkin awalnya aku masih bisa membiarkanmu tetap bersama khayalanmu itu, karena aku rasa itulah yang terbaik untukmu. Tapi ternyata aku salah hyung, membiarkanmu seperti itu malah membuatmu semakin terpuruk dan tak bisa menerima kenyataan..”

Aku menghela nafas, mataku mulai berkaca-kaca. Aku menengadahkan kepala, berusaha menahan agar airmataku tak jatuh.

“Aku sakit hyung, sakit melihatmu yang seperti ini. Aku juga muak pada mereka yang mengatakan kau gila saat melihatmu sedang berbicara sendirian. Walaupun aku tahu kau sedang berbicara dengan Jihwa noona. Tetap saja aku tak mau melihatmu di olok-olok oleh mereka. Ingatlah hyung, aku menyayangimu.. aku tak ingin melihat hyung-ku seperti ini, aku ingin hyung-ku kembali seperti yang dulu. Yang selalu sayang padaku…”

Kali ini aku tak dapat menahan airmataku, aku hanya bisa membiarkannya jatuh membasahi pipiku.

“Mianhae hyung… jujur hatiku sangat sakit ketika melihatmu berbicara sendiri. Seakan Jihwa noona benar-benar ada di dekatmu. Aku tak kuat lagi melihat keadaanmu yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Aku tahu ini memang sulit bagimu, tapi aku mohon padamu. Jebal… kembalilah menjadi Lay yang dulu. Kembalilah menjadi hyung-ku… jebal… kau jangan seperti ini lagi hyung. Aku menyayangimu hyung, aku tak ingin kau terlihat menyedihkan seperti ini.”

Kulihat Lay hanya terdiam, pandangannya terlihat kosong. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Aku mendekat, menggenggam tangannya.

“Hyung.. neo gwaenchanayo..?”tanyaku padanya.

“Kai-ah.. aku..aku sudah mengingat semuanya.”ucapnya lirih, setetes airmatanya jatuh. Tapi kemudian aku melihatnya mengangkat tangan, mencengkeram kuat kepalanya. Sepertinya ia merasa kesakitan.

“Hyung, waeyo? Kau kenapa eoh?”tanyaku panik.

“Kai… Arrgghhh, kepalaku sakit, aku… arggh aku tak tahan Kai, sakit sekali..”ia masih mencengkram kepalanya kuat, aku yang panik berusaha untuk melepaskannya.

“Ya hyung! apa yang terjadi? Hentikan hyung, kau hanya menambah sakit jika seperti ini.”sungguh aku tak tahu haru berbuat apa.

“Kai-ah… aku…”ucapannya terputus, kulihat ia sudah tak sadarkan diri. Aku panik, aku takut terjadi hal buruk pada hyung-ku ini.

Segera aku menggotong tubuhnya, membawanya ke mobil. Setelah itu aku membawanya ke rumah sakit dengan kecepatan penuh, aku tak peduli jika polisi menilang ku, saat ini yang ku pedulikan hanyalah Lay, hyung-ku.

Aku panik, fikiranku kacau aku berteriak meminta tolong ketika sudah sampai dirumah sakit. Beberapa perawat membawa hyung-ku memasuki sebuah ruangan dan aku hanya bisa menunggu diluar.

Aku merutuki kebodohanku, kerenaku Lay menjadi seperti ini. Aku merasa tak menjadi dongsaeng yang baik.

“Mianhae hyung… aku memang bukan dongsaeng yang baik untukmu.”ujarku lirih. Airmata sedari tadi jatuh bergulir di pipiku.

Tak lama aku mendengar suara pintu yang terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan Lay, dengan segera aku menghampirinya.

“Dokter, bagaimana keadaan hyung-ku? Dia baik-baik saja bukan?”tanyaku panik.

“Ne, dia baik-baik saja. Kau tak perlu panik. Dia pingsan karena efek dari kembalinya ingatannya. Mungkin caranya terlalu memaksa sehingga ia mengalami sakit yang luar biasa dan membutnya pingsan. Tapi ini biasa terjadi saat seseorang mulai mengingat masa lalunya.”jelasnya panjang lebar dan membuatku bisa bernafas lega.

“Syukurlah dok, jika dia tak kenapa-kenapa. Sekarang aku boleh melihatnya kan?”tanyaku dan dijawab dengan anggukan olehnya.

“Boleh, tapi sekarang dia sedang tidur. Sebaiknya kau jangan membangunkannya dulu, biarkan dia beristirahat.”

“Iya dok, gomawo.”aku membungkukkan badanku setelah melihatnya berlalu aku berjalan masuk.

Aku melangkah perlahan, mengambil sebuah kursi lalu duduk disampingnya. Ku genggam erat tanganya, mencoba memberikan kekuatan padanya.

“Hyung.. mianhaeyo.”ujarku lirih. Aku masih setia disampingnya, menunggunya terjaga. Hingga tanpa kusadari aku tertidur disampingnya.

+++++

“Kai-ah… ireonayo.”Lay yang telah terjaga mencoba membangunkan Kai yang terlelap disampingnya.

“Hmm..”gumam Kai.

“Ya.. ireona.”

“Ah, hyung kau sudah bangun?”Kai langsung mengangkat kepalanya ketika sadar hyungnya sudah bangun. “Hyung, masih sakitkah?”

“Ani, aku sudah tak merasa sakit lagi.”

“Hyung, mianhaeyo.. karenaku kau menjadi…”

“Sstt, sudahlah. Aku tahu sebenarnya kau tak bermaksud seperti itu, kau hanya ingin membuatku sadar bukan? Kai-ah, seharusnya aku lah yang harus meminta maaf padamu. Aku sudah membebanimu, aku sudah membuatmu menderita.”

“Aniyo hyung, aku tak pernah merasa terbebani. Aku hanya ingin kau sadar hyung, karena aku merindukanmu, merindukanmu yang dulu..”

“Ne, aku tahu. Mianhae Kai-ah..”Lay memeluk kepala dongsaengnya itu. “Kai-ah.. aku merasa sangat bersalah padamu dan.. Jihwa.”

“Waeyo hyung?”

“Karenaku Jihwa harus pergi.. itu semua karena kesalahanku Kai-ah. Seandainya waktu itu aku tak lalai, pasti saat ini dia masih bersamaku. Seharusnya saat itu aku yang mati, bukan dia.”Lay menangis.

“Andwae hyung. Kau tak salah. Kau tak boleh berkata seperti itu. Ini sudah menjadi takdir Jihwa noona. Kematiannya bukan hanya karena kesalahanmu, tapi takdir juga mengambil alih semuanya. Uljimayo hyung, aku sedih jika melihatmu seperti ini.”Kai menghapus airmata Lay.

“Ji-ah.. Mianhae.. Maafkan aku chagi, aku tak bisa menjagamu lebih lama lagi. Aku menyesal saat itu tak bisa menyelamatkanmu, jeongmal mianhae chagiya.”tangisnya.

“Hyung, dengarkan aku. Jika kau seperti ini maka Jihwa noona juga akan sedih. Percayalah, jika kau tersenyum maka noona juga akan tersenyum padamu. Kau tak boleh menjadi namja lemah seperti ini, kau harus kuat hyung.”

“Tapi Kai-ah…”

“Hyung, Lay yang aku kenal adalah Lay yang selalu tersenyum walaupun sedang mengalami masalah. Lay yang aku kenal tak pernah mengeluh sedikitpun, ia tak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun bahkan ia tak pernah menitikkan airmatanya di hadapan orang lain. Lay yang ku kenal adalah sosok namja yang kuat hyung, aku ingin kau kembali menjadi Lay yang aku kenal, bukan seperti ini.”Kai berusaha memberikan keyakinan pada hyungnya itu.

“Aku tahu itu. Hanya saja aku belum siap untuk kembali seperti yang dulu.”

“Hyung, hanya satu yang aku minta padamu. Jebal.. kembalilah menjadi Lay yang dulu. Berhentilah larut dalam kesedihanmu, aku mohon.. kembalilah…”Kai menundukkan kepalanya, menangis.

“Kai-ah..”Lay mengangkat kepala dongsaengnya itu. “Baiklah.. mulai sekarang aku akan mencoba untuk melupakan kesedihanku ini, aku berjanji akan berusaha untuk kembali menjadi Lay yang dulu.”perkataan Lay membuat Kai menarik bibirnya tersenyum.

“Gomawo hyung.. aku tahu kau pasti bisa. Aku akan membantumu untuk terlepas dari kesedihan itu. Gomawo hyung…”Kai memeluk Lay erat.

“Ne Kai-ah..”Lay membalas pelukan dongsaengnya itu.

“Terima kasih Tuhan karena kau telah memberikan seorang dongsaeng sepertinya, yang selalu mengerti keadaanku dan berusaha untuk membuatku terlepas dari kesedihan yang telah lama kurasakan. Terima kasih pula kau telah mempercayaiku untuk menjadi hyung-nya. Sungguh, aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Karena disaat aku terpuruk seperti ini, masih ada sosok dongsaeng yang peduli terhadapku. Terima kasih Tuhan…”guman Lay dalam hati.

 

-END-

 

Akhirnya selesai juga 😀

Gimana readers? Bagus nggak? *kayaknya nggak lah T__T* author sedikit bingung di bagian ending, makanya jadi rada aneh gitu. Mianhe readers *bow

Dan untuk judul, author rasa nggak ada nyambung2 nya lah. Habis author bingung mau dikasih judul apa nih FF.

Tapi tetap, RCL-nya jangan lupa ya, kritik dan saran akan sangat membantu untuk memperbaiki karya selanjutnya.

Kamsahamnida readers *bow*

 

 

 

 

Iklan

13 pemikiran pada “Please, Dont Go

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s