A Thousand Years

Tittle: A Thousand Years

Author: Lee HaeYoung (@shflytanialee)

Genre: Romance

Rating: G

Length: Oneshoot

Cast:

Jung Soo Jung/Krystal (f(x))

Kim Jongin/Kai (EXO – K)

Disclaimer: This story is my own mind. Cast belong’s God. Don’t be a plagiator!

Note: Hati-hati dengan alur yang maju mundur.

RECOMMENDED SONG: A Thousand Years – Christina Perri

****

9220

Heart beats fast

Colors and promises

How to be brave

Soo Jung melihat dari kejauhan lelaki itu. Lelaki berkulit agak gelap yang selama empat tahun terakhir ini telah menjadi pusat perhatiannya, Kim Jongin. Lelaki yang dipujanya sejak ia duduk di kelas satu SMA. Bahkan sampai detik ini, lelaki itu masih terus berada di dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Soo Jung tersenyum kecil saat melihat dengan jelas ekspresi wajah lelaki itu. Wajah yang tersenyum, bahkan tertawa lebar. Mungkin lelaki itu tengah mendengar hal lucu yang dilontarkan kedua temannya yang berada tepat di hadapannya.

Hati bermental baja. Julukan itu tepat untuk diberikan kepada Soo Jung. Empat tahun dihabiskan hanya untuk menatap lelaki abu-abu yang bernama Kim Jongin. Soo Jung sendiri yang membuat seorang Kim Jongin menjadi abu-abu dimatanya. Hanya melihat, tanpa mencoba berbicara, ataupun bertatap muka langsung dengan lelaki itu.

—-

How can I love when I’m afraid to fall

But watching you stand alone

All of my doubt suddenly goes away somehow

Soo Jung sedikit berlari untuk segera tiba di ruang tata usaha. Ia terlambat untuk menyerahkan kertas pengisian ulang bagi murid baru di Paran High School. Hari kedua di sekolah menengah, dan secepat ini ia melanggar peraturan awal di sekolahnya. Terlambat menyerahkan selembar kertas, dikarenakan tadi pagi ia juga datang terlambat.

Saat sejengkal lagi langkah kakinya akan berbelok ke sebuah lorong, samar-samar ia mendengar suara dentuman musik. Tidak terlalu jelas, namun ia yakin suara musik itu ada. Tertarik, ia mencoba mencari darimana asal suara musik itu. Sebuah ruangan tidak jauh dari tempatnya berdiri menjadi sasarannya. Sedikit yakin suara itu berasal dari dalam ruangan tersebut.

Pintu ruangan itu sedikit terbuka, Soo Jung mencoba melihat. Ia ingin tau. Saat kedua matanya mencoba melihat ke dalam ruangan itu, saat itu juga matanya menangkap sosok lelaki tinggi sedang menari di tengah-tengah ruangan tersebut. Suara musik yang ia dengar tadi adalah suara musik pengiring gerakan lelaki itu. Sedetik pun ia tidak membuang tatapannya dari lelaki tinggi itu.

Soo Jung terpesona.

 

Awalnya Soo Jung yakin yang dirasakannya hanyalah kekaguman. Namun seiring berjalannya waktu, seiring kebiasaannya yang sangat suka melihat Kim Jongin, hingga kini ia berada di bangku kuliah semester dua, ia tau, ia bukan lagi gadis remaja yang seenaknya menyangkal perasaan dengan menyebutkan itu hanyalah rasa suka biasa.

Soo Jung jatuh cinta.

One step closer

Soo Jung melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru. Sudah lima menit ia melewatkan pelajaran bahasa. Dikarenakan Youngwoon seonsaengnim, guru kimia yang memanggilnya hanya untuk mengkritik tugas makalah yang ia buat dengan sedikit kesalahan.

Saat ia ingin menuruni tangga yang akan membawanya tiba di ruang Laboratorium Bahasa, ia bertemu dengan seseorang yang sebenarnya tidak ingin ia temui di dalam situasi seperti ini. Ia bertemu dengan Kim Jongin beserta tiga temannya yang lain. Sesaat, langkahnya terhenti saat melihat lelaki itu. Mau tidak mau, ia harus menuruni tangga yang ada di hadapannya sekarang, jika tidak ia akan melewati pelajaran bahasa selama satu jam kedepan.

Oh pastinya, ia tidak ingin hal itu terjadi. Semua pelajaran sangat penting baginya. Agar usahanya yang sangat ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Seoul University, universitas terbaik di Korea Selatan terwujud.

Dengan wajah tertunduk, dengan ditemani suara detak jantung yang berdegup jauh lebih cepat dari sebelumnya, dengan langkah kaki yang diseret secara perlahan, ia mencoba melewati kerumunan Kim Jongin bersama teman-temannya.

Saat Soo Jung hampir berhasil melewati kerumunan lelaki itu, tiba-tiba langkahnya terhenti. Bukan karena ia yang mau, tapi karena seseorang tengah menghadangnya. Soo Jung sedikit yakin, seseorang yang tepat berdiri di hadapannya saat ini pasti salah satu dari teman lelaki berkulit agak gelap itu.

“Kau Jung Soo Jung kan?” tanya lelaki yang berdiri tepat di hadapannya itu. Dengan ragu Soo Jung mengangkat kepalanya dan balik memandang lelaki itu.

“Ne. Aku Jung Soo Jung” jawab Soo Jung pelan.

“Kau jauh lebih cantik saat dilihat dari dekat daripada dilihat dari kejauhan” ucap lelaki itu. Mencoba melontarkan kata-kata yang sebenarnya terdengar sedikit menggelikan di telinga Soo Jung.

Soo Jung hanya diam. Tidak berniat untuk membalas ucapan lelaki yang masih berada di hadapannya itu. Dalam hati ia berharap, semoga ada yang menyelamatkannya dari kerumunan lelaki yang sangat membuatnya canggung itu.

“Baekhyun ah, menyingkirlah dari hadapannya. Kau menghalangi jalannya” ucap seseorang dari arah belakang Soo Jung.

Soo Jung tertegun, sepertinya ia tau suara itu. Perlahan, ia memutar kepalanya ke arah belakang, melihat seseorang yang telah berniat untuk menolongnya dari gangguan lelaki yang tak terlalu dikenalnya itu.

Tepat. Tebakannya benar. Suara penolong itu berasal dari Kim Jongin. Soo Jung menatap lelaki itu dengan tatapan datar namun disertai dengan degupan jantung yang berkali lipat lebih kencang dari sebelumnya saat tadi ia mencoba melewati kerumunan lelaki itu.

Lelaki itu tidak tersenyum. Wajahnya juga datar. Dan hambar.

“Sejak kapan kau peduli dengan gadis-gadis yang ingin kurayu Kai ya?” lelaki yang dipanggil Baekhyun itu menatap Kim Jongin dengan kening yang sedikit berkerut.

Soo Jung kembali menundukkan kepalanya dan berharap lelaki menggelikan yang berada di hadapannya saat ini segera menyingkir, karena ia sudah benar-benar sangat terlambat untuk mengikuti pelajaran bahasa.

“Baiklah” Baekhyun menggeserkan tubuhnya, menyingkir dari hadapan Soo Jung.

Soo Jung segera melangkahkan kakinya. Ia benar-benar tidak kuat berada di dituasi seperti itu. Sembari berjalan dengan cepat, Soo Jung berusaha untuk menormalkan kembali detak jantungnya. Pengalaman pertama yang melibatkannya dengan lelaki itu secara dekat. Tetapi ia juga merasa sedikit beruntung dengan situasi tadi. Tak apalah, Soo Jung sekarang tau, Kim Jongin dipanggil dengan nama Kai oleh teman-temannya.

—-

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid I have loved you

Tidak rela. Kedua kata itu cocok untuk mewakili ekspresi wajah Soo Jung sekarang. Sekian menit Soo Jung melihat pemandangan yang berada di depan matanya dengan air muka kecewa, kesal dan juga ditemani dengan organ yang bernama hati di dalam tubuhnya bagaikan mengeluarkan rasa perih.

‘Kai berpacaran dengan Kang Jiyoung’

Soo Jung sudah mendengar kabar itu, ia sudah mendengar rumor itu. Atau mungkin, tidak tepat lagi untuk disebut sebagai rumor. Karena ia sendiri sudah melihat faktanya dengan kedua matanya sendiri.

Kang Jiyoung, gadis cantik dan sangat populer di sekolahnya kini tengah duduk dengan mesra bersama Kai di bangku panjang yang terdapat tepat di bawah pohon besar di tengah-tengah gedung sekolahnya. Jiyoung merebahkan kepalanya di atas bahu kanan Kai. Sementara Kai juga tampak tidak menolak kelakuan manja Jiyoung kepadanya. Kini, keduanya memang tengah menjadi bahan sorotan yang hangat di sekolah itu. Termasuk juga oleh Soo Jung.

Pertama kali Soo Jung mendengar rumor itu, sikapnya memang masih biasa saja. Mencoba untuk tidak terganggu dengan kabar tidak jelas seperti itu. Tapi sekarang, berkali lipat ia sangat terganggu dengan kabar itu. Jujur saja, Soo Jung muak. Sangat muak, karena setiap ia melangkahkan kakinya, setiap itu pula kabar itu terdengar di telinganya.

Ia lelah dan sekaligus merasa sakit mendengar kabar itu. Walaupun melihat lelaki itu tengah duduk mesra bersama dengan seorang gadis, tapi Soo Jung masih tetap bertahan di tempatnya berdiri. Tak berniat sama sekali untuk berlari pergi.

Soo Jung menahan rasa sakitnya, menahan air mata yang memuncak, hanya untuk satu tujuan. Melakukan kegiatan favoritnya, melihat wajah Kim Jongin dengan waktu yang lama.

For a thousand years

I’ll love you for a thousand more

“Kau disini rupanya” seorang gadis cantik dengan kulit putih susu menghempaskan tubuhnya di bangku yang sama dengan bangku panjang yang diduduki Soo Jung. Soo Jung tersenyum simpul saat melihat temannya itu kini sudah duduk di sebelahnya. Choi Sulli, gadis cantik berambut hitam panjang satu-satunya teman yang ia miliki sejak ia menginjak kelas satu SMA. Dan bahkan kini juga menjadi temannya di Seoul University.

“Chanyeol oppa mana?” tanya Soo Jung.

“Dia sedang ada kelas. Mungkin satu jam lagi selesai” jawab Sulli.

Soo Jung mengangguk pelan saat mendengar jawaban singkat Sulli. Matanya kembali menatap ke depan. Fokus ke satu arah. Yaitu arah Kim Jongin.

“Dua jam lagi kita ada kelas dengan Hyukjae seonsaengnim” ucap Sulli setelah ia menatap sekilas jam tangan hitamnya.

“Aku tau” balas Soo Jung pelan.

Sulli melirik sekilas wajah Soo Jung. Sementara Soo Jung masih sibuk memandangi lelaki tinggi kecokelatan itu. Walaupun Soo Jung terlihat tidak fokus dengan ucapan yang dikeluarkannya tadi, tapi Sulli tau, Soo Jung pasti mengerti maksudnya.

Beberapa hari lalu, Soo Jung menyadari satu hal. Sekalipun di dalam hidupnya, bahkan setelah ia berada di umur 20 tahun seperti saat ini, Soo Jung belum pernah berpacaran dengan lelaki manapun.

Soo Jung tertawa kecil saat menyadari hal itu. Sebenarnya selepas dari sekolah menengah, sudah tak terhitung berapa banyak lelaki yang mencoba untuk mengajaknya berkencan. Tapi tidak ada satupun yang diterimanya. Jangankan menerima, Soo Jung merasa tertarik saja tidak. Entah bodoh, atau memang sudah direncanakannya dari awal. Fokusnya setiap hari hanya lelaki yang bernama Kim Jongin. Tidak tau manfaat apa yang didapatkannya dari memperhatikan lelaki itu. Tapi sungguh, Soo Jung merasa sangat puas setelah berlama-lama memperhatikan Kim Jongin.

Time stands still

Good look in all he is

I will be brave

Dari pagi hingga menjelang sore di kota Seoul, tidak sedikitpun Soo Jung melihat sosok Kai. Soo Jung baru saja menyelesaikan kelasnya yang memang dilakukan pada sore hari di sekolah itu. Kedua kaki Soo Jung melangkah dengan cepat. Menuju ruang practice dance di sekolahnya yang terdapat di lantai dua. Menurut insting Soo Jung, lelaki bernama Kim Jongin itu sedang berada di ruang practice dance.

Beruntung pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Sehingga Soo Jung bisa mengintip sedikit ke dalam untuk memastikan keberadaan lelaki itu. Benar, Kim Jongin sedang duduk bersila di tengah-tengah ruangan tersebut. Lelaki itu tampak sedang tidak baik-baik saja. Dan Soo Jung tau penyebabnya.

Baru beberapa bulan hubungan Kai dengan Kang Jiyoung berjalan, tapi Kai harus menerima kenyataan buruk tentang gadis itu. Lelaki itu melihat dengan mata kepalanya sendiri Kang Jiyoung tengah berciuman mesra dengan Byun Baekhyun, teman sepermainannya sendiri.

Soo Jung tau dengan jelas. Seseorang bernama Byun Baekhyun di sekolahnya merupakan lelaki yang senang mempermainkan perempuan. Tipe lelaki yang sangat dibenci Soo Jung. Itulah salah satu alasan saat kelas dua tahun lalu Soo Jung sangat takut ketika Byun Baekhyun mencegat langkah kakinya yang akhirnya diakhiri dengan suara pertolongan dari Kai.

Namun Soo Jung benar-benar tidak menyangka, Jiyoung berani mencampakkan Kai hanya demi seorang lelaki menggelikan seperti Byun Baekhyun. Tidak masuk akal baginya. Soo Jung hampir tidak berkedip saat melihat Kai yang belum juga berniat untuk berdiri dari duduknya. Soo Jung sadar, Kai benar-benar kecewa dengan gadis itu.

Percayalah, memang terasa sangat sakit saat melihat lelaki yang kau cintai berpacaran dengan gadis lain. Tapi akan lebih sakit lagi jika melihat lelaki yang kau cintai itu dikecewakan.

Dan inilah yang Soo Jung rasakan.

—-

I will not let anything take away

What’s standing in front of me

Soo Jung tersenyum lega saat melihat Kim Jongin tertawa. Lelaki itu tertawa lebar bersama kedua temannya, Oh Sehoon dan Do Kyungsoo. Raut wajah kecewa sudah benar-benar hilang dari wajahnya. Tidak sampai tiga hari Kai sudah kembali tertawa seperti biasanya dengan teman-teman sepermainannya itu. Bedanya, kini tidak ada lagi sosok Byun Baekhyun diantara mereka. Entah kemana, Soo Jung juga tidak mau tau tentang keberadaan lelaki itu. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya Kim Jongin. Dan senyuman manis kini sudah terhias kembali di bibir lelaki itu.

“Sepertinya Jiyoung tidak membawa dampak apapun bagi Kai” ucap Sulli sembari meletakkan dua gelas botol cola di depan wajah Soo Jung.

“Baguslah, bahkan gadis yang jauh lebih sempurna dari Jiyoung bisa Kai dapatkan dalam sekejap” sambung Sulli.

“Sulli ya, kecilkan suaramu. Meja mereka hanya terhalang satu meja di depan kita” balas Soo Jung.

“Hah, di kantin seramai ini tidak mungkin Kai dan teman-temannya itu mendengar pembicaraan kita” ucap Sulli.

Soo Jung tersenyum kecil, lalu menyeruput minuman colanya. Soo Jung terlalu takut. Terlalu takut jika Kai mengetahui tentang perasaannya. Perasaan yang ia simpan rapat-rapat sejak kelas satu SMA. Soo Jung tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kai jika lelaki itu mengetahui perasaannya. Kemungkinan besar Kai akan mengacuhkannya atau malah menertawakannya. Mengingat bahwa dirinya mungkin tidak lebih dari secuil debu di hadapan Kai.

“Nanti malam jangan lupa belajar dirumahku” ucap Soo Jung.

“Oh please. Kau terlalu banyak berkutat dengan buku Jung Soo Jung. Aku tidak mau sepertimu” Sulli memasang wajah sedikit jengkel untuk Soo Jung.

“Sebentar lagi kita ujian akhir. Kau tidak mau lulus dan menemaniku di Seoul University?” Soo Jung tersenyum sinis.

“Tapi beri aku waktu bernafas Soo Jung ah” balas Sulli.

“Terserahmulah” Soo Jung kembali menyeruput minuman colanya, sembari kedua matanya memperhatikan gerak-gerik Kim Jongin yang hanya berjarak beberapa meter dari mejanya.

Every breath

Every hour has come to this

One step closer

Kai melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Membuat arah kedua mata Soo Jung mengikutinya. Menurut Soo Jung atau hampir bisa dipastikan, lelaki itu pasti menuju ruang practice dance.

Dimata Soo Jung, sosok Kai sangat sempurna. Tubuh yang tinggi dan juga tegap. Warna kulit kecokelatan yang membuatnya sosoknya semakin indah jika dilihat dari kejauhan. Senyuman yang terhias di wajahnya juga dapat membuat hati gadis manapun tergila-gila. Termasuk Jung Soo Jung. Soo Jung bahkan tidak mampu mengalihkan perhatiannya sejenak dari lelaki itu. Kim Jongin telah berhasil membuat Soo Jung terlalu memuja sosoknya.

“Lihat” Sulli menyodorkan ponselnya ke arah Soo Jung.

Soo Jung sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat jelas sebuah foto di layar ponsel Sulli. Di foto itu, Sulli dan kekasihnya Park Chanyeol tengah berpose mesra disertai senyuman manis yang masing-masing terhias di bibir mereka.

“Sudah terlalu banyak foto mesramu dengan Chanyeol oppa yang kau tunjukkan padaku” ucap Soo Jung sembari tersenyum kecil.

“Jangan bilang kau iri kepadaku Jung Soo Jung? Haha” balas Sulli dengan tawa kecilnya.

“Tidak akan” Soo Jung membuang pandangannya dari Sulli.

“Soo Jung” Sulli memanggil pelan temannya itu.

“Hmm” sahut Soo Jung tanpa melihat kembali ke arah Sulli.

“Saat aku dan Chanyeol oppa berlibur ke Pulau Jeju kemarin, itu adalah momen yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku” ucap Sulli.

“Aku sangat bahagia Soo Jung ah” sambung gadis itu dengan senyuman yang terhias dari kedua sudut bibir merahnya.

“Aku mengerti” Soo Jung balik tersenyum kearah Sulli.

“Tapi jangan jadikan aku sebagai tempat pelarianmu lagi saat kau bertengkar dengan Chanyeol oppa” sambung Soo Jung.

Sulli mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan teman lamanya itu. Untuk masalah yang satu itu, Sulli tidak bisa berjanji untuk menepatinya. Pasalnya, hanya Soo Jung tempat yang bisa ia datangi saat ia tengah berada dalam situasi buruk. Termasuk saat ia bertengkar dengan Park Chanyeol.

Soo Jung kembali melemparkan pandangannya ke arah depan. Kembali melihat tempat yang tadi didiami oleh Kai, walaupun sosok lelaki itu sudah tidak berada di situ lagi sekarang.

Soo Jung baru menyadari, tadi Sulli menyebutkan satu kata yang sangat disenanginya. Momen. Satu kata yang akan selalu diingatnya. Kejadian-kejadian yang terjadi di hidupnya tidak akan pernah dilupakannya begitu saja. Jika sebuah kejadian luar biasa yang terjadi di dalam hidupnya, ia pasti akan mengingat kejadian itu untuk selamanya. Termasuk beberapa kejadian yang melibatkan sosok Kim Jongin.

Sampai di usia Soo Jung yang kini telah berada di angka 20, ada satu momen yang benar-benar membuatnya sangat bahagia. Memang, semua momen yang melibatkan Kai pasti membuat Soo Jung bahagia. Namun yang satu ini berbeda. Bahkan sangat berbeda.

Karena di momen itu juga keluar kata pertama dari sepasang bibir Soo Jung untuk lelaki yang bernama Kim Jongin.

Soo Jung menghentikan langkah kakinya tepat di bawah sebuah pohon besar yang terletak di tengah-tengah gedung Paran High School. Ia tersenyum kecil saat melihat sebuah bangku panjang kosong tak berpenghuni di bawah pohon itu. Bangku itu, bangku yang biasa Kai duduki bersama teman-temannya. Sekaligus bangku yang sama dengan bangku yang Kai duduki bersama Jiyoung beberapa bulan lalu.

Soo Jung menjatuhkan tubuhnya di atas bangku yang bercat cokelat tua itu. Ia senang. Pertama kalinya ia duduk di bangku itu setelah tiga tahun bersekolah di Paran High School. Hari ini adalah hari terakhir ujian di Paran High School. Itu artinya juga menjadi hari terakhir Soo Jung berada di sekolah itu. Besok, ia akan mulai menyusun persiapan untuk hidup barunya. Ya, hidup baru sebagai seorang mahasiswi di Seoul University.

Seoul University menerima Soo Jung dengan tangan terbuka, dikarenakan nilai akademik Soo Jung berada di atas rata-rata. Tentu saja, universitas terbaik di Korea Selatan itu tidak ingin membuang gadis cerdas seperti Soo Jung.

Soo Jung cukup puas, usahanya selama tiga tahun bergelut dengan segala jenis buku tidaklah sia-sia. Ia berhasil masuk ke Seoul University dengan jurusan yang ia sukai. Soo Jung berhenti tersenyum saat menyadari sebuah benda berada tepat di bawah kedua kakinya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat benda tersebut. Sebuah buku.

Perlahan, Soo Jung mengambil buku bersampul biru muda itu. Sepertinya bukan buku biasa. Ada huruf ‘J’ tercetak cukup besar di bagian sudut kanan atas buku itu. Penasaran, Soo Jung mencoba membuka halaman pertama buku itu. Tidak ada nama siapapun di halaman pertama. Dan juga tidak ada tanda-tanda tentang si pemilik buku. Hanya saja juga tertulis huruf ‘J’ besar di halaman pertama buku itu.

“Itu milikku”

Belum sempat Soo Jung membuka halaman berikutnya dari buku itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang dan refleks membuat Soo Jung memutar kepalanya ke arah suara itu. Soo Jung berdiri dari duduknya, matanya membulat sempurna saat melihat sosok lelaki yang tengah berjarak hanya satu meter dari tempat ia berdiri sekarang.

Kim Jongin berada satu meter di depannya dengan wajah datar. Membuat jantung Soo Jung tiba-tiba memompa lebih cepat. Soo Jung harus mencoba bernafas dengan lebih normal. Jika tidak, ia akan jatuh konyol di hadapan lelaki itu.

“Itu milikku” Kim Jongin mengulang kalimatnya.

Soo Jung sedikit menundukkan kepalanya saat mendengar kalimat yang sama terucap dari bibir lelaki itu. Oh tidak, Soo Jung bahkan tidak tau apa yang harus ia ucapkan untuk membalas kalimat lelaki itu.

“Bisa aku minta kembali benda milikku?” tanya Kai pelan seraya mengulurkan tangan kanannya.

Soo Jung mendongakkan kepalanya saat ia melihat tangan Kai mengambang di udara. Dengan kedua tangannya, Soo Jung memberikan buku berukuran sedang itu tepat di atas tangan Kai.

“Maaf” kata pertama dari sepasang bibir merah muda Soo Jung terucap untuk lelaki itu. Kata pertama seumur hidup dan mungkin akan menjadi kata terakhir.

“Tidak apa-apa” balas Kai sembari tersenyum.

Soo Jung tertegun saat melihat senyuman itu. Selama tiga tahun, senyuman itu hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Namun sekarang, senyuman itu berada tepat di hadapannya.

“Kau gadis yang diterima di Seoul University itu kan?” tanya Kai sembari mengamati wajah putih Soo Jung.

Soo Jung menganggukkan kecil kepalanya. Tidak mampu menjawab. Disaat seperti ini rasanya Soo Jung ingin melenyapkan lelaki itu dari hadapannya. Soo Jung hampir tidak bisa berdiri dengan tegak lagi sekarang.

“Selamat untuk prestasimu. Kau bahkan diterima sebelum pendaftaran untuk mahasiswa baru dibuka” ucap Kai sambil tersenyum, tulus.

Soo Jung kembali menganggukkan kecil kepalanya. Mungkin Soo Jung akan dikira bisu oleh Kai jika saja tadi ia tidak mengatakan kata ‘maaf’. Gugupnya Soo Jung dan berdebar-debarnya jantung gadis itu seakan telah membuat suaranya hilang entah kemana.

“Aku harus pergi” ucap Kai kemudian membalikkan tubuhnya hendak melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu.

“Aaahh” belum ada tiga langkah menjauh, Kai kembali membalikkan tubuhnya, seperti ingin mengatakan sesuatu yang terlupa.

“Dan sampai jumpa di Seoul University” ucap lelaki itu sembari tersenyum kecil. Lalu kembali melangkahkan kakinya, kini benar-benar menjauh dari tempat itu.

Tapi menjauh yang menyisakan tanda tanya besar dibenak seorang Jung Soo Jung.

—-

And all along I believed I would find you

Time has brought your heart to me

Sampai jumpa di Seoul University’

Awalnya Soo Jung benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Kai yang satu itu. Namun beberapa bulan setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Paran High School, akhirnya gadis itu mengerti juga.  Soo Jung mengerti saat melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok Kai tengah berada di gedung yang sama dengannya. Gedung A, tempat untuk mahasiswa baru di Seoul University.

Soo Jung cukup terkejut. Pasalnya, beberapa bulan sebelum ujian akhir menjelang di Param High School ia sempat mendengar kabar bahwa lelaki itu akan melanjutkan sekolahnya di Jepang dan akan tinggal disana untuk waktu yang lama. Dugaan Soo Jung yang tadinya tidak akan bisa melihat atau memperhatikan Kim Jongin dari kejauhan lagi ternyata tidak terjadi. Karena kenyataannya, sampai detik ini Kim Jongin masih bisa ia lihat setiap hari walau dari jarak belasan meter.

Dari jarak belasan meter, ia tetap puas. Bisa melihat lelaki itu setiap hari saja sudah merupakan kesenangan sendiri bagi Soo Jung. Walau sudah empat tahun berada di bangunan yang sama, sekolah menengah dan universitas yang sama, namun hanya di hari itu saja ia bisa bertatap muka dengan Kim Jongin. Setelah itu, ia habiskan hari-hari berikutnya masih menatap dari kejauhan. Universitas yang sama, tapi tidak dengan jurusan. Salah satu alasan Soo Jung tidak pernah bertemu langsung lagi dengan Jongin.

“Satu jam lagi kelas Hyukjae seonsaengnim akan dimulai” Sulli tiba-tiba mengeluarkan suaranya setelah menatap sekilas jam tangan hitamnya.

“Aku tau Choi Sulli” Soo Jung melirik temannya itu sambil tersenyum sinis.

“Kapan kau akan mengatakannya? Sejak tadi kau hanya duduk disini dengan lamunan kosong” ucap Sulli.

“Lelaki itu harus tau Soo Jung” sambung gadis itu.

“Kita sudah membicarakan ini semalam. Dan kau sudah tau keputusanku” balas Soo Jung seraya membuang pandangannya dari gadis berkulit putih susu itu.

“Iya, aku tau. Semua itu terserah padamu. Tapi apa yang kau tunggu hari ini? Disini” Sulli menatap Soo Jung intens. Namun gadis yang ditatap Sulli itu hanya diam. Seperti tengah memikirkan sesuatu di dalam kepalanya yang Sulli sendiri tidak tau sesuatu itu apa.

“Aku hanya ingin tau, adakah peristiwa di hari ini yang akan membuatku mengurungkan niat untuk menemui lelaki itu?” Soo Jung kembali mengeluarkan suaranya.

Sulli masih menatap wajah Soo Jung. Tapi kali ini tatapannya berbeda. Jika saja gadis yang berada di depan matanya saat ini bukan teman dekatnya sejak SMA, mungkin saja sekarang Sulli sudah memukul kepala gadis itu dengan tas putih yang dikenakannya.

“Jangan sampai hanya karena tujuanmu itu malah membuatmu terlambat untuk mengikuti pelajaran Hyukjae seonsaengnim. Kau pasti tau konsekuensinya” ucap Sulli lalu berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.

Soo Jung melangkah ragu. Ia bimbang. Antara ingin melanjutkan langkahnya atau berhenti sekarang. Ruang practice dance tak sampai lima meter lagi di depan matanya.

Dengan satu hentakan pasti di kakinya, ia kembali melanjutkan langkahnya. Kini Soo Jung dapat melihat dengan jelas lelaki itu. Ia melihat lelaki itu tengah menggerakkan tubuhnya kesana kemari mengikuti irama musik yang berkumandang di ruangan itu.

Situasi yang sama saat empat tahun lalu Soo Jung pertama kali melihat sosok Kai di Paran High School. Tapi saat ini, Soo Jung melihat Kai tidak lagi dengan diam-diam. Ia menyandarkan tubuhnya di depan pintu ruangan yang terbuka lebar tersebut. Mencoba menikmati gerakan Kai walau detak jantungnya kini sedang tidak stabil.

Limabelas menit, waktu yang cukup lama bagi Soo Jung untuk memperhatikan Kai yang kini tengah meneguk air dari botol minumnya. Gadis itu masih berdiri di tempatnya, melihat lelaki itu menyeka keringat yang telah membasahi wajahnya dengan punggung tangannya.

“Sejak kapan kau disitu?” Kai membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Soo Jung.

Soo Jung langsung menegakkan tubuhnya. Ternyata Kai sadar ia berada di ruangan itu. Soo Jung balik menatap lelaki itu. Mereka bertatapan. Tapi tidak ada satupun diantara mereka yang ingin mengeluarkan suara.

“Tidak terlalu lama. Hanya lima belas menit” Soo Jung mengeluarkan suaranya.

“Kau ingin memakai ruangan ini?” tanya lelaki itu.

“Tidak” jawab Soo Jung singkat.

“Lalu?” tanya Kai lagi.

“Apa kau ada perlu denganku?” sambung lelaki itu.

Soo Jung tidak menjawab pertanyaan lelaki itu. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Jongin. Saat Soo Jung sudah berada tepat di hadapan lelaki itu, dengan cepat ia mengeluarkan sebuah handuk putih kecil. Sedikit ragu, Soo Jung menyapukan handuk kecil itu dikening Kim Jongin. Wajah lelaki itu tak lepas dari kebingungan saat melihat apa yang tengah dilakukan Soo Jung. Tapi ia juga tak mempunyai niat untuk menghentikan gadis itu.

“Aku memang ada keperluan denganmu” ucap Soo Jung masih dengan tangan kanannya yang sibuk menyeka keringat di wajah lelaki itu. Kai tak berniat membalas ucapan Soo Jung. Ia menunggu Soo Jung untuk melanjutkan kalimatnya.

Soo Jung menghentikan kegiatannya. Ia memasukkan kembali handuk putih kecil itu kedalam tasnya. Lalu kembali menatap wajah Kai.

I have loved you for a thousand years

I’ll loved you for a thousand more

“Aku menyukaimu Kim Jongin” ucap Soo Jung tenang.

Tenangnya Soo Jung saat mengatakan kalimat itu juga setenang wajah Kai yang sekarang tengah menatap Soo Jung lekat. Tidak ada ekspresi wajah terkejut atau perubahan air muka yang berarti dari wajah lelaki itu.

“Sejak kapan?” Kim Jongin mengeluarkan suaranya setelah saling tatap selama tiga menit terberat menurut Soo Jung.

“Sejak kelas satu sekolah menengah. Sejak empat tahun lalu” ucap Soo Jung.

“Setelah empat tahun, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Kai memiringkan kepalanya, persis seperti seorang senior yang tengah berbicara dengan junior baru di kampusnya.

“Karena aku sudah lelah terus-menerus menyembunyikannya darimu” balas Soo Jung singkat.

“Lalu, apa kau butuh jawaban?” tanya lelaki itu lagi.

“Menurutmu?” Soo Jung balik bertanya seraya tersenyum simpul kepada lelaki berkulit cokelat itu.

Kai diam sembari terus menatap wajah Soo Jung. Entah apa yang Kai cari di wajah gadis itu, tapi tatapannya nyaris membuat jantung Soo Jung melompat keluar dari tempatnya. Soo Jung ingin segera mengakhiri situasi ini. Berharap Kai segera mengucapkan sesuatu lagi dari kedua bibirnya.

“Baiklah” Kai kembali bersuara.

“Ayo kita coba”

 

.END.

 

63 pemikiran pada “A Thousand Years

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s