I Find what Love is in You (Chapter 8)

I find what Love is in You (Chapter 8)

 

Title                        :               I find what love is in you

Author                  :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                     :               Romance, Friendship, Angst

Main Cast              :               Na Ra

Kim Jong in a.k.a Kai

Support Cast         :               Ji hyo, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               ini FF pertama author, mohon dimaklumi dengan segala keterbatasan yang author punya, hehe… maaf  kalau pengaturan bahasanya rada aneh, ditambah banyaknya typo disana-sini. Wah, chapter 8 loh… hehehe. Author datang lagi dengan membawa cerita gilanya. Wish all of you will like this one.  Maaf kalau chapter sebelumnya lama banget nongolnya, kayaknya udah banyak banget yang nge-post di blog ini, jadi waiting list-nya makin panjang. Semoga cerita kali ini tidak mengecewakan kalian. Well, tanpa babibu lagi. Enjoy it and Happy reading chingudeul.

____________________________________

Na Ra P.O.V

Sejak aku berada didalam mobilnya tadi aku memilih untuk tidak banyak bicara, menghindari setiap kesempatan untuk bertatap mata dengannya sebisa mungkin. Hari ini aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, ya mengakhiri hubunganku dengannya yang baru seumur jagung itu. keputusan besar yang kuambil dalam satu malam.

Dia mengajakku ke sebuah restoran mewah. Aku masih terpukau dengan indahnya restoran itu tapi harus kembali pada kenyataan bahwa tempat indah ini akan menjadi saksi putusnya hubunganku dengan kai. Aku berusaha sebisa mungkin menahan berita itu sebelum waktu makan kami selesai, tapi dia selalu mendesakku. Tapi bisa kupungkiri aku memang sangat gelisah tentang bagaimana harus mengucapkannya pada kai. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku menyatakan isi hatiku dan memintanya mengerti tentang keadaanku seiring dengan berjalannya waktu. Tapi apa yang aku persiapkan untuknya sekarang, sebuah keputusan lain yang berkebalikan. Tapi apalagi yang bisa kulakukan selain hal ini????

Kenapa harus aku yang menjalani semua ini? pikiran itu terus berputar diotakku, apalagi kalau aku teringat dengan ekspresi muka kai saat aku mengucapkan kalimat itu padanya. Kalimat yang akan merubah semua hal menjadi berbanding terbalik dengan sebelumnya.

 

~Flashback beberapa jam sebelumnya~

jadi sebenarnya ada apa?” tanya kai yang mulai tak sabar.

“kita makan dulu, eo? Setelah itu kita bicara. Hmmm..  kira-kira masih lama ga minumanku datang. Aku  benar-benar haus.” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan ini.

“sepertinya ada hal penting yang ingin kau bicarakan,  ya kan? Kau juga meminta bertemu karena memang ada hal yang ingin kau sampaikan? Apa tidak bisa sekarang saja.”ujar kai yang mulai tidak sabaran dengan jawabannya barusan.

“baiklah, kalau kau tidak sabar menunggu. Jangan salahkan aku kalau kau tidak ingin makan setelah mendengar ini…” ini menghentikan sebentar kalimatnya. Perasaanku semakin tidak enak mendengar kalimatnya  barusan. Aku mulai menduga-duga sepertinya berita buruk yang mungkin akan kudengar setelah ini.

“hmmmfff.. huuuh….” Helaan nafas panjangnya terdengar kontras ditelingaku dan mukanya benar-benar menunjukkan ekspresi serius  yang tidak ku mengerti. “aku… aku…” ucapnya terbata-bata “aku mau kita putus. Sekarang.” Lanjutnya jelas dan tegas.

Tidak ada kalimat keluar dari mulutnya selama beberapa menit kedepan, entah apa yang ada dipikirannya. Pandangannya terasa begitu tajam menatapku membuatku menjadi diam tak bergeming sedikitpun. Rencananya aku ingin meninggalkannya setelah mengucapkan kalimat itu, tapi sekarang untuk sekedar bernafas saja rasanya sulit dengan tatapannya yang seperti itu.

Aku tidak ingin berlama-lama lagi dengan keadaan seperti ini, aku bisa tak tega melihatnya seperti ini.  Hatiku juga sakit mengatakan hal itu, apa dia tahu?. Segera kuraih tasku dan beranjak pergi dari tempat itu.

“tunggu…” ucapnya saat melihatku mulai berdiri. “tidak adakah kalimat lain yang ingin kau sampaikan padaku?” lanjutnya lagi

“apa?” tanyaku tidak ingin terbawa oleh suasana yang menjadi terlalu aneh buat kami berdua, bahkan terasa sangat aneh dibanding kejadian malam tahun baru itu.

“kau benar-benar tidak merasa bertanggungjawab untuk menjelaskan apapun padaku?”

“huh? Tanggung jawab? Memangnya apa yang aku lakukan padamu? Well, kita bukan lagi anak kecil tapi juga kurasa masih terlalu cepat untuk memikirkan tentang hubungan yang serius kan?”

“jadi bagimu ini semua hanya sekedar permainan?” tanyanya lagi dengan tatapan yang semakin menakutkanku. Kemarahan sudah benar-benar terpampang jelas diwajah yang selalu dielu-elukan oleh banyak yeoja itu.

“sudahlah, aku terlalu lelah kalau harus mengurusimu dengan semua sikapmu, kalau kau masih mau disini dan menghabiskan makananmu, silahkan. Aku pergi dulu. Dan ini uang untuk minumku.” Ucapku sambil mengeluarkan uang dari dompetku dan beranjak pergi tanpa sedikitpu menoleh lagi menatapnya.

“Jadi hanya begitu saja? Jadi ini arti diriku untukmu? Jadi ini arti waktu yang kau minta supaya aku mengerti tentang dirimu? Jadi inilah yang kau persiapkan selama ini untukku?” ucapnya dengan rasa marah yang membara dan membuat langkahku terhenti. “entah apa yang aku pikirkan sampai bisa mengira bahwa kau begitu tulus dengan ucapanmu saat itu…” hening sejenak “korban? Huh?”ucapnya lagi dengan seringai diwajahnya “aku rasa kita sudah tahu yang berpura-pura disini dan siapa yang menjadi korban sebenarnya. Kupikir kau berbeda dengan kebanyakan wanita yang ada disekelilingku, BENAR, kau memang berbeda, tapi bukan lebih baik. KAU lebih buruk dari mereka.” Lanjutnya dengan suara kencang yang kini terdengar seperti teriakan di restoran itu sampai membuat beberpa pengunjung restoran itu menatap kearah kami. Setelahnya tanpa berkata apapun lagi dia hanya berjalan pergi meninggalkanku yang hanya bisa mematung mendengarkan kalimatnya.

Aku hanya bisa menelan ludah setiap kali mendengar kalimatnya. Aku tak berani berhadapan langsung dengannya. Sejak dia memanggilku tadi, aku memang hanya membelakanginya. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, hatiku sudah begitu sakit harus mengatakan semua itu dan kini harus ditambah dengan semua kalimatnya itu. Kutatap langit-langit restoran itu berusaha agar tidak setetes air mataku keluar disana. Tapi ini sudah begitu sakit rasanya. Nafasku terasa benar-benar sesak. Kakiku mulai gemetaran menahan emosi yang kini bergejolak hebat didadaku. Dengan sisa tenaga yang ada, kulangkahkan kaki keluar dari restoran itu dan mencari taksi untuk pulang. Tak bisa kutahan lagi, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya didalam taksi. Tak kupedulikan lagi tatapan pak supir yang melihatku aneh.

~akhir Flashback~

 

Beberapa hari belakangan ini berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berarti dalam hidupku. Dua hari pertama setelah kejadian di restoran itu aku tidak keluar apartement-ku sama sekali. Aku hanya mengisi perutku dengan ramen atau makanan yang memang ada saja. Benar-benar tidak ada niat untuk keluar menghadapi dunia. Tugas-tugas kuliahku terbengkalai, jihyo juga sudah mulai bolak balik menghubungiku karena sifatku yang tidak biasa ini. Inilah efek patah hati. Apa jadinya kalau aku sudah benar-benar menyerahkan seluruh hatiku padanya, mungkin setelah mengatakan seperti beberapa hari yang lalu itu aku tidak punya keinginan untuk hidup lagi. Ah, bodohnya aku, membuang orang yang begitu menyayangiku tanpa syarat apapun, pikiran itu kembali terbesit dipikiranku.

Mataku masih sembab karena air mata yang keluar beberapa hari ini setiap kali mengingat kalimat yang dia tujukan padaku itu. Ini adalah hari ketigaku dan bagiku inilah hari terakhir aku akan meratapi kisah cinta bodoh yang terjadi dalam hidup, Ya cukup semua sampai disini, toh dia tidak tahu apa alasanku melakukan semua ini dan hanya bisa mengeluarkan semua kalimat kejam itu tanpa pikir panjang tapi yang paling bodoh dari semua itu adalah AKU yang menangisi keputusan yang telah aku buat sendiri dan berharap dia akan mengerti nantinya. What a fool I am!!!

Drrt…drrt…

From : Ji hyo

Na ra-ya hari ini aku ke tempatmu yah. Ceritakan padaku ada apa sebenarnya denganmu. Setengah jam lagi aku sampai disana. Oke?

Jangan kemana-mana, aku sedang dikantin kampus sekarang. Ada yang ingin kau titip?

Ah, jihyo tak boleh kesini. Setidaknya untuk saat ini, dia tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini. Dia akan bertanya macam-macam dan itu bisa saja berujung pada cerita tentang aku dan kai, kalau itu terjadi semua usahaku akan sia-sia, pikiku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

To : Ji hyo

Mianhe jihyo-ya,  aku sedang tidak di apartement-ku, ada hal yang sedang aku lakukan, besok saja kita bertemu, oke?

Besok kita ada jadwal kuliah bareng kan? Oh ya, kita tidak ada tugas buat besokkan? Tugas-tugas selama beberapa hari aku tidak masuk tolong bawa besok ya, oke ?

Sent

Segera secepat mungkin aku gerakkan jari tanganku dan mengirim sms itu dan berharap dia memang masih dikampus sehingga tidak perlu datang kemari. Baru saja akan kuletakkan hp dimeja belajarku saat benda itu kembali bergetar

Drrt…drrt…

From : Ji Hyo

Memangnya kau sedang dimana? Kau tidak apa-apa kan? Lagi ada masalah? Sudah 3 hari kau tidak masuk kuliah. Ini bukan na ra yang aku kenal.

Besok tidak ada tugas kok, jadi kau tidak perlu cemas tapi kemaren choi songsaenim menanyakan tentangmu, beliau ingin tahu tentang perkembangan Tugas Akhirmu.

“Ah, iya Tugas Akhirku. Seharusnya itu yang menjadi fokusku saat ini. Sekarang apa yang aku lakukan? hanya memikirkan seorang namja yang mungkin bukan bagian dari masa depanku, bodoh… bodoh.. bodoh… ”gumamku sambil memukul pelan kepalaku karena tidak ingin menyiksa diriku, well aku masih membutuhkan kepalaku untuk mengerjakan TA-ku.

To : Ji Hyo

Aku tidak ada masalah apa-apa. besok ya kita ketemu. Terima kasih infonya. Besok kuusahakan untuk menemui choi songsaenim. Sampai jumpa besok Jihyo-ya. annyeong J

Sent

Sms itu kubalas secepat mungkin. Karena tidak ingin terganggu dengan bunyi sms atau telpon apapun lagi, aku memutuskan untuk mematikan hp-ku. Aku rasa kai juga tidak mungkin menghubungiku lagi. Ceritaku dengannya sudah berakhir. “dongeng indah sudah berakhir na ra-ya, time to wake up and face the real world” gumamku berusaha memberi kekuatan pada diri sendiri.

 

Kai P.O.V

“kai-ah, gwencana?” tanya D.O hyung memecahkan lamunanku

“hah, ah hyung? Mworago?” aku balik nanya

“D.O  tanya, apa kau baik-baik saja. kai, kau terlihat aneh belakangan ini. Kau tidak bersemangat seperti biasanya dan kau jadi sering melamun, kau kenapa kai-ah?” ucap suho lengkap dengan pertanyaan yang mengganjal dikepalanya sejak beberapa lalu karena melihat sifat sang lead dancer group ini muram durjana.

aniya. Eopseo-yo hyung.”jawabku singkat

“jangan bohong pada kami kai-ah. Apa ini ada hubungannya dengan yeoja itu?” ucap chanyeol hyung

“hyung, tolong hentikan pertanyaan kalian. Aku bilang aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah dan banyak tugas kuliah makanya aku tidak fokus.”jawabku yang sudah sedikit terdengar seperti teriakan. “aku pergi” lanjutku lagi sambil meraih tas dan berjalan melewati mereka semua.

Hubunganku dengan na ra telah berakhir, seharusnya tidak ada beban lagi bagiku untuk tidak menceritakan masalah ini kepada member group-ku, apalagi bagiku mereka sudah seperti keluarga. Tapi memang sebaiknya hubungan ini tidak usah kuceritakan, bukan karena aku masih memegang janjiku padanya, tapi karena aku sedang tidak ingin menjelaskan rumitnya hubungan ini pada siapapun, setidaknya sekarang.

Aku berjalan pergi meninggalkan mereka secepat yang aku bisa. Sekarang aku hanya ingin sendiri. Ucapan na ra yang meminta untuk menghentikan hubungan kami benar-benar mempengaruhi hari-hariku. Tak bisa kupungkiri kalau aku menjadi berantakan karena hal itu, jadi wajar saja kalau anggota group-ku itu merasa aneh dengan tingkahku ini. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa tiba-tiba ingin putus dariku?,pikiran itu kembali terbesit dalam kepalaku.

Kemarahanku saat mendengarnya meminta putus dariku sudah menguasai diriku sebelum otakku sempat berpikir hal lain. Aku bahkan tidak berpikir menanyakan alasan kenapa dia melakukan hal itu. Saat itu yang ku inginkan hanyalah melampiaskan kemarahanku. “haaaaaah…”desahku frustasi. Tapi dia juga tidak membantah saat aku menanyakan apakah hubungan kami hanyalah sebuah permainan baginya. Ini bukan salahku, YA bukan salahku, aku berusaha memantapkan pikiran itu dalam kepalaku.

“Kau akan menyesal pernah melakukan ini padaku. Permainan ini kau yang memulainya na ra-ya. Ini bukan salahku, kau yang membuatku seperti ini. Kesalahan ini terlalu besar untuk aku maklumi” Ujarku sendiri

Langkah kaki mulai ringan menuju tempat parkir. Namun, saat aku ingin menuju mobilku tanpa sengaja malah menabrak seorang yeoja yang sedang berjalan bersama teman-temannya.

“aw… appo..” erang yeoja yang terjatuh itu

“hei, matamu dima… oh kai-si, gwencana?” ucap salah satu yeoja lain yang ku asumsikan sebagai temannya tiba-tiba.

“ahhh,, oh ne, nan gwencana.”jawabku singkat pada temannya itu. “do otte? Gwencana?”tanya ku pada yeoja yang bertabrakan denganku tadi dan membantunya berdiri.

ne, gwencana, gumawo kai-si” ucapnya malu-malu.

ne. mianhe karena aku menabrakmu.”

gwencana oppa.”jawabnya membuatku kaget. Oppa? Aneh mendengarnya dari seseorang yang tak kukenal tapi tak pernah mendengar dari yeojachingu-ku sendiri, pikirku sambil tersenyum. Ah, aniya, dia bukan yeojachingu-ku lagi, pikirku lagi sambil menggelengkan kepala.

“kai-si, kau kenapa?” tanya temannya

“ah, tidak ada apa-apa. Baiklah, aku pergi. sekali lagi aku minta maaf  telah menabrakmu.” Ucapku cepat dan segera beranjak pergi dari situ sebelum mereka merespon kalimatku.

 

Na Ra P.O.V

Hari ini aku mulai kembali melangkahkan kaki menginjak kampus ini. Aku tak perlu memikirkan possibility aku bertemu dengan kai. Bisa ku yakinkan itu cukup kecil. Pada saat aku masih menjadi yeojachingu-nya saja tidak pernah ada kebetulan bertemu selain pertemuan pertamaku itu, mana mungkin sekarang tidak sengaja bertemu dengannya semudah itu.

Dari jarak ini aku sudah bisa melihat sosok ji hyo yang berada didekat pintu masuk kelas kuliah yang kutuju. Kangen sekali rasa bercengkrama dengan sahabatku yang satu itu, yang menjadi awal permasalahanku dengan kai. Ah, sudahlah. Tidak usah pikirkan kai lagi. Dia sudah tidak menjadi bagian dari hidupku. Jangan sampai aku merusak hidupku karena orang yang sekarang mungkin sudah menikmati hidupnya dengan nyaman, ucapku dalam hati.

Aku melangkah mantap menuju tempat Jihyo berada dan

“dor.” Ucapku berusaha mengagetkannya

“ya! na ra-ya, kau mengangetkan. Kalau jantungku copot gimana? Huh.” Ucapnya kesal sambil mengelus dadanya.

“haha… serius banget sih, mikirin apa?” ucapku santai sambil mengajaknya masuk kekelas

“mmm… kau tahu tidak….”

“tidak” sambarku cepat dan hanya disambut dengan bibir manyunnya.

“aku serius”ucapnya lagi “kemarin aku tidak sengaja bertabrakan dengan kai-si..heheh” lanjutnya sambil terkekeh pelan

JLEB !!!! Kai lagi, nama yang berusaha kulupakan beberapa hari ini malah menjadi mantra tersendiri bagi sahabatku ini, batinku.

“oh ya? kok bisa?” tanyaku seserius mungkin

“entahlah, aku sedang ngobrol dengan ga eun dan mi young terus tiba-tiba saja dia sudah ada didekatku dan menabrakku. Takdir kali ya.” jawabnya sambil tersenyum senang.

“haha.. bisa saja. Semoga kau benar-benar takdir dengannya”ucapku sambil tersenyum. Sehingga pengorbananku bisa benar-benar terbayarkan, setidaknya ada yang bisa benar-benar bahagia diantara kami bertiga, lanjutku dalam hati.

“amin. Semoga saja. kajja kita masuk. Tuh Min Songsaenim sudah menuju kemari.” Ucapnya sambil menarik tanganku dan masuk kedalam kelas.

***

Kai P.O.V

Sudah hampir sebulan kejadian itu berlalu tapi tetap saja masih mempengaruhi hari-hariku. Hari ini aku tidak punya jadwal latihan dance bersama anggota group-ku itu, jadi aku tidak perlu khawatir untuk ditanya macam-macam lagi seperti waktu itu. Belakangan ini aku memang dengan sengaja menghindari mereka. Rasa bersalah muncul dipikiranku kalau mengingat bagaimana aku memperlakukan mereka. Kalau ada yang harus dimarahi itu adalah aku bukan mereka. Para hyung-ku hanya berusaha simpati terhadap keadaanku yang sedikit bermasalah ini, tapi sayangnya karena emosiku yang tak stabil ini. aku malah melampiaskan kemarahanku pada mereka.

Rasa sakit hatiku pada dia belum sepenuhnya hilang. Jujur, aku juga tak pernah benar-benar ingin melupakannya, masih ada hasrat dalam diriku untuk memintanya kembali padaku dan memulai semuanya kembali dari awal dan tentunya bukan lagi sebuah permainan belaka. Tapi harga diriku terlalu sakit untuk melakukan itu, dan rasa sakit itu menjadi lebih menyakitkan kalau aku mulai memikirkan kemungkinan itu. Jangankan memikirkan hal itu, setiap kali terlintas wajahnya dipikiranku, yang ada rasa ingin balas dendam atas semua kebohongan yang telah dibuatnya.

“ah, apa salahku sampai aku bisa bertemu yeoja seperti dia dan jatuh cinta padanya.” Gumamku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

chogiyo, kai-si apa kabar? Masih ingat aku?” tanya seorang yeoja yang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang.

“ah, oh. Kau yang tempo hari bertabrakan denganku,  ya kan?” ujarku memastikan yeoja tersebut

“ah, ne. Rupanya kau masih ingat. Aku kira kau sudah lupa.” Ucapnya pelan

“ada apa kau tiba-tiba memanggilku?” tanyaku penasaran

“oh, itu…. mmm… itu… aku ingin minta maaf padamu telah menabrakmu…”ucapnya terbata-bata

“ah, tidak masalah. Aku juga yang  salah. Kalau Cuma itu saja aku pergi dulu, ada hal yang harus kukerjakan” ucapku cepat dan segera pamit

“mmm… kai–si tunggu sebentar. Ini untukmu”ucapnya sambil menyerahkan bungkusan padaku.

“oh? Ini apa? Untukku?”tanyaku heran

“iya, itu untukmu. Aku harap kau suka.” Jawabnya sambil sedikit menunduk malu.

“tapi ini apa? Kenapa kau tiba-tiba memberikan ini padaku, kalau alasanmu karena tabrakan kemarin, aku rasa kau berlebihan memberikan kado ini untukku.”

“bukan, itu bukan karena tabrakan kemarin. Aku sudah menyiapkan kado ini lama sebelum tabrakan kemarin. Sebenarnya mmm… sebenarnya…”

“sebenarnya apa?” tanyaku tidak sabaran

“sebenarnya aku suka padamu” jawabnya cepat sambil menunduk

Aku hanya kaget ada orang yang tiba-tiba menyatakan cinta padaku siang bolong seperti ini. Berhubung aku cukup populer dikampus ini #eaaaaaa narsis dikit, bagiku biasa menerima pernyataan cinta atau kado dari para yeoja, tapi jarang bahkan tidak pernah ada yang benar-benar berani langsung datang seorang diri padaku dan menyatakan cintanya ditempat umum seperti ini serta siang hari pula.

“sudah lama aku menyukaimu. Aku tidak tahu tepatnya kapan, yang jelas setiap kali aku melihat performance-mu, aku selalu merasa jantungku berdetak kencang. Bahkan sekarang lebih kencang.” Dia diam sejenak.

Aku memiringkan kepalaku untuk melihat wajahnya yang masih tertunduk itu. Sekilas mata kami saling bertemu. Aku merasa ada kejujuran yang tertera dimata itu. Kejujuran yang ku ada yeoja yang pernah kucintai.

“aku merasa beruntung sekali bisa bertabrakan dengamu kemarin. Mungkin ini terdengar konyol ditelingamu tapi bagiku itu adalah salah satu alasan kenapa aku berani menyatakan isi hatiku sekarang. Mmm… apa aku terlihat aneh dimatamu karena aku menyatakan cintaku seperti ini?”

“hah? Mmm.. aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Apa kalau aku menerima kadomu ini, kau akan menganggap bahwa aku menerima cintamu? Begitu?”

“sebenarnya aku berharap begitu, tapi tidak masalah kalau kau hanya ingin menerima kadoku saja. Kenapa? Kau tidak mau menerimaku jadi yeojachingu-mu?” tanyanya langsung yang membuatku semakin kaget.

“hah? Mmm… itu… itu… aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi mungkin berteman saja dulu lebih baik.” Jawabku hati-hati takut tiba-tiba dia menangis ditempat  ini kalau aku langsung menolaknya terang-terangan. Bagaimana mungkin aku menerima seorang yeoja menjadi yeojachingu-ku begitu saja, saat aku sendiri tidak tahu siapa nama yeoja ini.

Tunggu dulu, sepertinya aku pernah mengalami kejadian seperti ini. IYA. Ini seperti kejadian dimalam tahun baru itu. Saat aku memutuskan untuk me’nembak’nya malam itu, padahal aku dan dia tidak mengenal satu sama lain. Masih mending yeoja didepanku saat ini mengetahui namaku, aku bahkan tidak mengetahui nama dia malam itu. Apa begini rasanya ‘ditembak’ oleh yang orang tidak dikenal? Pantas saja malam itu dia terus berusaha menghindar dariku. Bagi mereka yang mendengarkan pernyataan cinta dari orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, ini akan menjadi hal aneh, bahkan menakutkan. Tapi bagiku yang pernah mengalaminya, ini adalah perasaan jujur yang sebenarnya terjadi didalam diriku. Pantas dia meragukan cintaku. Ah TIDAK, dia hanya mempermainkanku. Aku tidak boleh bersimpati lagi padanya. TIDAK LAGI. Pikiran ini tiba muncul begitu saja diotakku karena kejadian yang ada didepan mataku saat ini.

“teman?”ucapnya terdengar lesu.

“mmm… iya, kita berteman saja dulu. Kau tidak bisa tiba-tiba memintaku menjadi namjachingu-mu begitu saja. Aku bahkan tidak tahu siapa namamu.”ujarku lagi penuh dengan kehati-hatian.

“ah nama, iya benar juga. Aku lupa memperkenalkan diriku padamu. Wajar saja kalau kau menilaiku aneh”

Wah yeoja ini terang-terangan sekali orangnya. Sedikit mirip dengan na ra. Ah, kenapa aku mengingatnya lagi. Pikirku sambil geleng-geleng kepala.

“kau kenapa?” tanyanya melihat aku geleng-geleng kepala

“ah, tidak apa-apa.” Jawabku cepat.

“oh ya, namaku Nam Ji hyo imnida, panggil saja ji hyo. Maafkan aku lupa mengenalkan namaku. Mungkin aku terlalu tergesa-gesa memintamu untuk menjadi namjachingu-ku hingga aku lupa memperkenalkan diriku dulu.”

“oh, jadi ji hyo namamu. Senang berkenalan denganmu. Aku kai. Aku rasa kau juga sudah tahu.”

“ne, tentu saja kai-si. Jadi… kita berteman saja ya?” ucapnya dengan nada sedikit putus asa.

“ne, lebih baik begitu. Kan lebih baik saling mengenal dulu, lagian sekarang aku sedang sibuk dengan berbagai urusan kuliah dan group-ku. Kalau kau jadi yeojachingu-ku, mungkin aku tidak akan punya waktu untukmu. Hehe” jawabku sambil tertawa garing.

Oh tuhan, jadi begini rasanya. Wajar saja kalau dia ingin kabur dariku malam itu. Sekarang saja, aku benar-benar ingin segera kabur dari sini. Ah, tidak. Kenapa dia lagi yang terpikirkan olehku.

“hahaha. Begitu ya?” ujarnya sambil tertawa kecewa.

“ya begitulah. Aku memang sangat sibuk. Kalau tidak ada urusan lagi, aku pergi dulu. Ada hal lain yang harus kulakukan dan aku hampir telat” ucapku sambil membalikkan badan dan melangkah pergi. “oh ya, terima kasih kadonya. Bye” lanjutku lagi

“oh ne. Sama-sama.” Jawabnya “mmm… kai-si..”teriaknya lagi saat aku sudah sedikit jauh darinya.

Apalagi sekarang? Tidak bisakah aku segera pergi dari sini secepatnya.

“boleh aku minta nomor hp-mu? Sebagai teman, tidak masalahkan?” tanyanya ragu-ragu.

Oh no, aku ingat malam itu aku benar-benar berusaha keras untuk bisa mendapatkan nomor hp-nya, sekarang apa yang harus kulakukan, apa aku harus seperti na ra. Ah, kenapa aku harus seperti dia, orang yang hanya tahu memainkan perasaan orang lain. Dia harus kulupakan seutuhnya.

“tentu saja” seruku tiba-tiba. Aku bahkan kaget dengan jawabanku itu. Jarang sekali aku setuju untuk  memberikan nomor hp-ku pada orang yang baru kukenal.

“jinja?” ujarnya terlihat senang

“ne, tapi ada syaratnya.”

“apa?”

“jangan beritahukan nomor ini pada siapapun, oke?”

“ne, oke.”

“ini nomorku. Bla…bla.. bla#nomornya pikirin aja sendiri suka-suka. hehehe”

ah, gumawo kai-si

“ne, aku pergi kalau begitu. Sepertinya aku sudah benar-benar telat. Bye” pamitku padanya

“ne, hati-hati kai-si. Bye” ucapnya sambil melambaikan tangannya.

 

***

Setelah beberapa langkah menjauh dari tempat tadi, akhirnya aku merasa sedikit tenang karena kupikir dia akan mengikutiku dari belakang. Sebenarnya aku tidak ada urusan apapun setelah ini. Hanya saja aku tidak ingin berlama-lama dengan orang yang baru kukenal dan langsung menyatakan cinta padaku seperti tadi. Apa yang dipikirkan na ra malam itu sampai akhirnya dia mau menerimaku dan dan  mau kuantar pulang sampai didepan apartement-nya. Mungkin dia berpikir aku lebih dari sekedar namja aneh. Apa ini alasannya menganggap hubungan ini permainan?  Namja aneh yang tiba-tiba datang dan langsung menyatakan cintanya?. Wajar saja dia mempunyai pikiran bahwa aku terobsesi padanya. Atau mungkin itu benar kalau aku terobsesi padanya?. Bahkan sampai saat ini aku masih selalu memikirkannya padahal sudah jelas dia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Tidak lebih dari perusak dihidupku.

Sejenak aku duduk didalam lapangan basket indoor kampus ini. Duduk dibangku penonton seperti ini malah mengingatkanku lagi padanya saat dia tiba-tiba datang padaku setelah kembali dari tugas risetnya. Aku ingat dengan jelas bagaimana hari berlalu. Hari yang tadinya kupikir adalah hari terindah dalam hidupku karena pada malam harinya dia menyatakan perasaanya padaku. Tapi itu semua tidak lebih hanya bagian dari permainannya. Rasa marah itu kembali membuncah di dadaku setiap kali mngingat kata-katanya hari itu. Hari itu, dia terdengar sangat jujur dan tulus. Tunggu dulu, mungkin ada alasan besar kenapa dia tiba-tiba meminta putus. Apa ada orang lain yang tahu hubungan kami, mumgkin saja fans beratku yang tidak senang padanya #eaaaa narsis lagi hehehe. Pikiran itu tiba-tiba terbesit karena barusan saja ada yang tiba-tiba berani menyatakan cinta padaku.

yeoja jaman sekarang memang menakutkan.. heheheh”  aku terkekeh pelan.

“apa-apaan aku ini, kenapa aku masih mencari alasan untuk membelanya dengan keputusannya menyudahi hubungan kami. Kalau memang karena fans-fansku, dia tidak perlu melakukan hal ini. Tapi hari itu jelas sekali dengan kejamnya dia mengatakan bahwa hubungan kami bukanlah sesuatu yang serius. Permainan. Iya, cukup satu kata itu saja yang perlu kuingaat tentangnya.”gumamku. Mataku memanas dan terasa mulai berair. Kutundukkan kepalaku dan mengacak-acak rambutku. “kenapa kau harus melakukan ini padaku. Cinta itu kutemukan padamu kini berubah menjadi luka lebar dihatiku dan itu sangat sakit karenamu. Aku benci kau, na ra!”

Aku kini berjalan menuju lapangan parkir. Menuju mobilku. Aku memutuskan untuk istirahat dirumah saja. Mataku terasa sembab. Bisa malu sekali kalau ada yang melihatku begini. Dari tadi aku menghindari tempat ramai dan setiap kali berpapasan dengan orang, aku menunduk untuk menyembunyikan mata sembabku. Aku langsung men-starter mobil setelah masuk ke mobil. Mobil bergerak keluar dari lapangan parkir dan menuju pintu keluar utama kampus ini, tapi dari jauh aku melihat yeoja tadi bersama temannya, jihyo. Mereka terlihat sangat akrab. Saat aku melewati mereka berdua, ada rasa penasaran untuk melihat kembali pada mereka. Kualihkan pandanganku kearah kaca spion mobilku dan kaget melihat lawan bicara ji hyo yang ternyata adalah na ra.

Aku benci melihatnya. Mobilku segera ku gas sehingga meninggalkan tempat itu dengan cepat. Aku memberhentikan mobilku di halte yang terdekat dari kampus ini, yang kuduga menjadi tujuan mereka berdua. Setelah beberapa menit, kulihat kaca spionku kembali. BINGO!!! Mereka menuju kesini. Kemarahan dalam diriku kembali muncul melihatnya bisa tetap akrab dengan temannya sementara aku sengsara dengan segala pikiran tentangnya

“Na ra-ya, kau yang mengajarkan padaku tentang semua ini. Dan akan kukembalikan padamu. Meskipun bukan secara langsung tapi kau akan tahu bahwa ini semua karenamu. Permainan ini kau yang mulai, bukan aku. Aku tidak butuh kau untuk membalas rasa sakit hatiku, cukup temanmu saja. Aku hanya menerapkan pelajaran yang kauberikan padaku kepada temanmu itu. Pelajaran tentang ‘bermain’ dengan cinta dihadapanmu. Biar nanti temanmu saja yang menceritakan betapa sakit hatinya seperti sakit yang kau berikan padaku. Na ra-ya.” Ucapku sambil menatap kaca spion yang menampilkan sosoknya yang semakin mendekat dengan amarah yang membakar diriku. Saat mereka tinggal beberapa meter dibelakangku, aku segera menggas mobilku meninggalkan tempat itu, sebelum na ra menyadari kehadiranku. “kita lihat sampai kapan kau bisa berakrab ria dengan temanmu. Huh!!!” aku menyeringai.

 

To be continued

Sekian dulu ya chingudeul, hehe. semoga ceritanya tetap seru yah. maaf klo masih banyak typo dimana-mana. Jangan lupa comment, mohon saran dan pendapatnya. Gumawo chingu.

 

48 pemikiran pada “I Find what Love is in You (Chapter 8)

  1. daebak thor,
    I like your ff

    eh?
    chapter 9 nya kok kagak bisa dibuka ya?
    boleh minta linknya kgak thor? soalnya penasaran banget ni

  2. Ff keren bnget eoni :):) dan oh mie god kai ya jangan berprasangka buruk gttu ke nara kalo udh tau dia mutusin oppa pasti nyesel deh #ngomongapaansih:)
    Next chapter yah eoni daebak hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s