Looking Forward (Chapter 1)

Title                 : Looking Forward (Chapter 1)

Author             : Claraapr / @claraKHB

Rating             : PG – 15

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Oh Sehun

Kang Ha Na (OC)

Kim Jong In

Seo Na Ri

Other Cast       : Kang Hye Bin (OC)

Byun Baek Hyun

LF

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

Dan aku telah kembali

Membawa sisa kenangan di masa lalu

Kuharap kau mengingatku

— Oh Sehun —

 

(Author POV)

Seoul, 12 Oktober 2012

6.30 am KST

Gerimis pagi hari di kota Seoul memang terasa kurang bersahabat bagi beberapa orang yang tengah melakukan kesibukannya masing-masing. Termasuk Kang Ha Na, seorang murid dari Seoul High School. Sekolah menengah atas yang dipandang baik oleh masyarakat Seoul dan beberapa orang dari daerah berbeda. Gadis dengan rambut sedikit ikal berwarna cokelat sepunggung itu sedang menunggu bus yang akan membawanya ke daerah terdekat dari sekolahnya.

“Kenapa tidak ada satu pun bis yang kearah sekolahku, sih? Haah bisa telat aku!” gumam gadis tersebut kesal.

“Seoul High School?” sahut seseorang bersuara tenang disebelahnya tanpa ia sadari.

“Ah, ne. Dan kau?”

“Baru hari ini akan menjadi salah satu bagian darinya, Seoul High School. Entahlah, mengapa begitu banyak yang mengidolakan sekolah itu. Payah.” Ucapnya dengan tenang dan ekspresi wajah yang datar sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana seragam sekolahnya. Sampai setedik kemudian ia telah menyenderkan tubuhnya pada sebuah tiang di halte bis tersebut.

“Kau sok tahu!” spontan gadis yang merasa almamater beserta sekolahnya itu direndahkan dihadapannya, membalas dengan jawaban yang ketus.

“Apapun itu. Aku tidak peduli.” Ya, pria itu, pria yang memiliki penampilan sederhana namun bisa terbilang cukup keren karena dia tergolong seorang ulzzang. Oh Sehun namanya.

Sebuah bus yang dinanti-nantikan pun muncul. Dan dengan segera kedua insan beserta beberapa orang yang hendak menuju ke arah yang sama naik kedalam bus tersebut mengingat cuaca sedang tidak baik.

—– skip —–

Sebuah bus berwarna putih dengan corak kuning berhenti di pemberhentian sekitar sekolah yang begitu difavoritkan hampir seluruh remaja di Seoul. Seoul High School.

“Neo!” sahut yeoja yang bernama Kang Ha Na itu pada namja yang tadi bersamanya sejak dari halte bus.

“Hmm?”

“Kau kelas berapa, huh?”

“Hmm?”

“Ah, y..ya! Aku bicara padamu! Kau anggap apa, huh?” lenguh yeoja tersebut.

“Bukan seperti itu caranya, pabbo! Apa sekolah ini tidak mengajarkan sopan santun pada murid-muridnya? Ckckck kacau.” Gumam Sehun sambil tersenyum meremehkan.

“Aissh. Lupakan saja.” Sedetik kemudian yeoja bernama Kang Ha Na itu pun berlalu dari hadapan Sehun setelah sebelumnya menghentakkan kakinya kesal.

 

(Ha Na POV)

Apa-apaan ini? Biasanya hari kamis selalu jadi hari favoritku. Tapi ini apa? Sial sial sial! Haah, awas saja kalau bertemu lagi biar kutinju dia!

‘Bugh!’

Sial. Apa lagi sekarang?

“Ya! Apa kau tidak melihat jalan, huh?” bentakku asal tanpa melihat siapa yang bertabrakan denganku saat ini.

“Mianhae. Tapi sepertinya kau yang tidak melihat jalannya…” suara itu? Sepertinya aku mengenalnya?

“A..ah. Sunbae? Jong In sunbae? Mi..mianhae. aku tidak sengaja.” Ucapku tertunduk. Ya, Tuhan… apa boleh aku sembunyikan wajahku saat ini? Tapi mau ditaruh dimana? Malu setengah mati.

“Lain kali hati-hati.”

“Ba..baik sunbae. Sekali lagi, mianhae.” Gugup. Itulah yang saat ini kurasakan, hingga bernafas dengan benar pun… aku lupa caranya. Seperti ada yang bergemuruh di dalam sana, debaran jantung yang tak karuan. Tidak salah lagi, aku jatuh cinta padanya. Aku yakin aku mencintainya, sunbaeku, Kim Jong In.

 

***Looking Forward***

 

(Author POV)

‘Kriiing!”

Sebuah bel berdering begitu hebatnya hingga terdengar sampai ke seluruh penjuru sekolah, tidak terkecuali taman belakang sekolah.

“Yeoppoyo~” lirih seorang namja yang baru datang setelah bel istirahat berbunyi.

“Nghh…” yeoja yang sedang terlelap di kursi taman itu pun melenguh setelah merasakan ada sentuhan dihidungnya sampai terbangun.

“Pemalas.” Namja bernama Oh Sehun itu pun seketika gelagapan karena tiba-tiba yeoja yang disebutnya sebagai yeoja yang cantik itu terbangun. Namun dengan sigap ia kembali bersikap seperti biasanya, dingin.

“Ya! Apa yang kau lakukan disini, huh?” hardik Ha Na dengan death glare nya.

“Pertama kau sudah berlaku tidak sopan kepadaku, dan sekarang? Kau membentakku seperti itu? Kesan pertamaku terhadapmu? Buruk.”

“Memang kau pikir apa? Aku tidak pernah mengharapkan penilaianmu. Terserah kau mau berkata apa. Lebih baik kau pergi dari sini!”

“Payah. Berapa lama kau disini? Kau pasti membolos kan? Dan lagi, taman ini bukan hanya milikmu, kan? Jadi aku bebas berada ditempat ini sesukaku.”

“Neo jinjja! Biar aku saja yang pergi dari tempat ini.” Kembali yeoja bernama Kang Ha Na itu pun menghentakkan kakinya ke tanah untuk yang kedua kalinya pada Sehun sebelum berlalu dari hadapan namja tampan tersebut.

Baru beberapa langkah Ha Na berlalu dari hadapan Sehun, tiba-tiba namja tersebut mengeluarkan suara beratnya seraya berkata,

“Dan itu…”

Ha Na yang merasa kesal hanya mendengus sebal dan perlahan membalikkan badannya kearah Sehun dan menatap namja itu seakan berkata, ‘ada apa lagi?’.

“Cairan bening itu yang menganak sungai di wajahmu…” ucap Sehun sambil menunjuk wajah Ha Na.

“Aku tidak menangis! Apa maksudmu?” tanya Ha Na sambil mengusap matanya yang terasa kering ditangannya.

“Bukan, bukan itu… tapi itu..” kali ini Sehun menyentuh bagian pinggir bibirnya untuk memberi petunjuk pada Ha Na. dan barulah Ha Na mengerti maksud Sehun.

“Kyaaa!” jerit Ha Na dan setelahnya segera berlari menjauh menuju toilet untuk membersihkan wajahnya.

 

(Ha Na POV)

“Makhluk apa sebenarnya dia itu? Menyebalkan!” gumamku sambil membersihkan wajahku dengan air yang mengucur dari keran.

Tapi sepertinya aku sedikit asing dengan toilet ini? Apa baru dibangun ya? Kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?

Tiba-tiba beberapa siswa masuk kedalam toilet ini. SISWA? Laki-laki? Ya! Apa-apaan mereka ini? Bisa-bisanya masuk ke toilet perempuan?

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” bentakku mantap.

“Hiihh… kau ini perempuan kan? Sedang apa disini? Ini toilet laki-laki.” Ucap seorang namja dengan tatapan seolah-olah sedang melihat sesuatu yang mengerikan.

“Mwo? Toilet apa?” aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Toilet apa?

“Kau lagi?” kyaaa… namja itu, lagi-lagi…

“J..Jong In sunbae? Apa yang kau lakukan disini?” suaraku serak. Tenggorokanku seakan tercekat kuat.

“Kau yang sedang apa disini? Emm, maaf aku tidak tahu namamu. Ini toilet laki-laki.” Kakiku bergetar hebat. Jangan-jangan aku yang salah masuk toilet? Kalau memang benar begitu…

“Kemari, biar kutunjukkan.” Kini Jong In sunbae sedang menarik lenganku dan membawaku keluar toilet seraya menunjuk kearah papan yang bertuliskan.. emm, TOILET PRIA. O-mo-na! ini mimpi buruk!

“M..mianhae. jeongmal mianhae.” Ucapku tertunduk dan langsung berjalan dengan langkah terburu-buru menjauhi toilet sialan itu kearah kelas. Yaah… hari ini benar-benar mimpi buruk yang terburuk.

Haah… hari ini merupakan hari keberuntungan yang tidak aku inginkan. Lebih tepatnya sial. Dan ini kurasa ini ada hubungannya dengan bocah tengik itu, siapa? Ahh, aku tidak peduli.

“Haha, memalukan ya? Astaga ternyata kau yadong juga ya?” sahut namja menyebalkan itu.

“Huh? Memangnya kenapa?”

“Haha aniyo. Sehun imnida.” Ucapnya lantang sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

“Lalu?”

“Lalu kau harus membalas uluran tanganku ini, nona!” kini kulihat raut wajahnya mulai sebal.

“Huh, shireo!” hardikku seketika dan meninggalkan dirinya yang masih mematung dengan tangan yang terulur.

 

(Sehun POV)

“Huh, shireo!” dia pergi? Lagi dan lagi. Sudahlah, ini bukan akhir, bukan? Mata milikmu yang kunanti-nantikan selama delapan tahun ini. Aniyo, bukan hanya black pearl eyes itu, tapi pemiliknya, kau.

“Oh-Se-hun?” nugu? Siapa yang memanggilku barusan?

“Nuguya?” tanyaku heran.

“Kau lupa? Aku Na Ri, Seo Na Ri.” Ucapnya sambil tersenyum kearahku.

“Na-Ri? Nuguya? Mian, aku benar-benar tidak mengingatmu.”

“Ya! Aku ini temanmu saat kita masih sama-sama ingusan, pabbo!” dan satu jitakan darinya mampu membuatku meringis kesakitan.

“Mwo? Seo.. Ya! Kau yang selalu melempariku dengan bola itu kan? Ahh! Jinjja. Untuk hal itu aku tidak akan pernah melupakannya, Seo Nappeun!”

“Ya! Ya! Neo micheosseo? Siapa yang kau maksud Seo Nappeun itu, huh? Kau tidak bisa melihatku dengan jelas? Aku sudah bermetamorfosis sekarang.” Jelasnya dengan berpose girly. Yeah, memang sih dia jauh lebih feminine sekarang. Sungguh jauh berbeda dari delapan tahun yang lalu.

—– Flashback —–

“Ya! Sehun-ah, si cengeng. Kemarilah, ayo kita bermain sepak bola bersama.” Gadis itu, Na Ri, selalu saja mengajakku bermain sepak bola. Padahal dia tahu dengan jelas melalui cerita dari teman-temanku yang lain bahwa aku tidak dapat bermain permainan itu.

“Shireo! Aku sedang tidak ingin bermain hari ini.”

“Hahaha… Arraseo. Kau? Tidak bisa bermain, kan? Mengakulah!” Jinjja. Biar saja, aku tidak peduli.

“Ya! Kau mau kemana?” panggilnya, namun aku masih tidak memperdulikannya. Untuk apa?

‘Bukk!’

Sebuah bola yang dilemparkan dengan kekutan yang kencang pastinya, telah mendarat sempurna di belakang kepalaku.

“Ck,” aku hanya dapat berdecak kesal. Dan hanya berlalu pula dari hadapannya. Lelah, sangat lelah dengan perlakuannya selama ini padaku. Untung saja besok aku akan pergi ke .London, jadi… Goodbye, Seo Na Ri

“Ya! Kenapa kau meninggalkanku? Aku tidak punya teman saat ini. Ya! Sehun, Oh Sehun! #%^!&%&@#!@$” haah, aku sudah tidak dapat mendengar suaranya yang berisik itu. Aku tidak peduli.

“Ehm, besok aku akan ke London untuk waktu yang tidak dapat diprediksi. Kira-kira disana ada taman seindah ini tidak ya?” gumamku ketika melewati taman dekat rumah.

“Eh, nuguya? Sepertinya sedang kerepotan?”

Aku pun segera berlari kearah seorang gadis yang terlihat sedang memunguti beberapa kertas yang berserakan di tanah.

“Biar kubantu.” Ucapku dan dia hanya melihat heran kearahku.

“Gomawo~” Matanya indah sekali. Manik mata yang seperti black pearl itu menatapku begitu lekat. Membuat seusuatu di dalam dadaku bergemuruh kencang. Ah, apa-apaan ini?

“Igeo~” sahutku memecah keheningan diantara kami.

“Ne, gomawo. Jeongmal gomawo.” Balasnya sambil berdiri dan hendak berlalu dari hadapanku.

“Chankammanyo~ siapa namamu?” dan dia tidak menoleh ke arahku. Hanya suara lirihnya yang dapat kudengar.

“Ha Na~” dan diapun pergi meninggalkanku yang masih menatap punggungnya menjauh dari pandangan mataku dengan lekat.

“Ha Na? Yeppeoyo~” sebuah senyuman pun terukir di wajahku. Pertemuan awal yang tidak akan pernah aku lupakan.

Tiba-tiba saja aku merasa tidak ingin pindah ke London. Ah, eottokhae? Apa aku harus bicara pada appa? Tapi… ah, andwae! Aku sudah berjanji pada appa dan pada diriku sendiri, dan aku tidak mungkin mengecewakan appa. Aku harus pergi ke London. Jika memang suatu saat aku dapat bertemu kembali dengannya, aku yakin Tuhan memang menetapkannya untukku. Biarlah waktu yang membawaku dan dirinya bersama.

—– Flashback End —–

 

***Looking Forward***

 

(Ha Na POV)

“Ah, sebentar lagi pelajaran Lee Sonsaengnim. Pasti mem-bo-san-kan. Haah~” gerutuku yang sesaat kemudian menyadari ada sebuah tas yang cukup asing di sebelahku.

“Eoh? Tas siapa ini? Hye Bin-ah! Igeo?” tanyaku pada Hye Bin yang sedang membaca buku bersam Baek Hyun di bangku depanku sambil mengangkat tas yang ada di sebelahku ini.

“Itu punya anak baru, Sehun.” Jawabnya singkat.

“Oh..” dan aku hanya dapat ber-oh ria tanpa menyadari bahwa…

“Eh, nugu?” tanyaku sekali lagi, kali ini sambil menepuk pundak Ha Na.

“Sehun, Oh Sehun.” Hye Bin menoleh dengan malas dan menjawab pertanyaanku dengan sedikit terpaksa.

“M..mwo? Bocah tengik itu? Lagi?” Ini benar-benar mimpi buruk. O-mo-na.

‘Kriiing!’

Haah, eottokhae? Jam pelajaran akan dimulai. Aku tidak mau dan tidak pernah sudi duduk disebelahnya. Shireoooo!

“Eoh, sedang apa disini? Kau mengikutiku, ya?” itu, dia datang.

“Cih. Kau itu yang mengikutiku.  Ini kelasku dan ini bangkuku. Arra?” ucapku dengan nada sinis. Ya, bagiku dia itu hama.

“Oh, berarti kita teman sebangku? Ah, aku Oh Sehun. Siapa namamu?” dari caranya bertanya padaku, aku sepertinya tidak asing.

“Ha Na, Kang Ha Na. Duduklah, aku lelah melihatmu berdiri seperti itu.”

“Ne, gomawo~” Ya! Kenapa dia punya mata yang membuatnya terlihat tampan dan imut dalam waktu yang bersamaan? Hiih… aku saja tidak memiliknya. Dia sebagai namja membuatku sedikit iri.

“Apa yang kau lihat?”

“Mwo? Aniyo.” Aish. Jinjja, baru beberapa detik yang lalu kulihat dia dengan ekspresi yang begitu baik. Kenapa dia jadi dingin seperti ini sekarang?

Baru setengah jam berlalu aku sudah merasa mengantuk. Ini benar-benar hal membosankan selama aku bersekolah di tempat ini. Sepertinya tidur sebentar tidak apa-apa.

Kuletakkan kepalaku diatas meja dengan buku paket Sejarah yang kugunakan untuk menutupi wajahku. Baru saja aku hendak menutup mata…

“Ya! Kau tidur saat pelajaran?” suara berisik itu terdengar kembali berbisik kearahku.

“Aish. Tidak bisakah kau diam? Jangan ganggu aku. Arrachi?”

“Aniyo~ mana boleh seperti itu?”

“Kang Ha Na dan sebelahnya. Apa yang sedang kalian bicarakan? Perhatikan depan. Jangan bicara sendiri!” Lee sonsaengnim dengan sempurnanya memarahi kami berdua. Dan itu ulah siapa? Jelas. Ulah Oh Sehun yang tampan itu.

AAARRGH! Menyebalkan!

‘Kriiiing!’

“Kau mau kemana?” apa lagi ini?

“Oh Sehun. Tidak bisakah kau tidak menggangguku? Aku lelah.” Ucapku dengan lesu.

Langkah demi langkah terhitung sejak aku meninggalkan namja itu dengan heran, mungkin?

***Looking Forward***

 

Kulangkahkan kakiku menuju lapangan basket. Tidak, aku bukan sedang ingin bermain basket. Tapi satu alas an yang membawaku datang ke tempat ini, Jong In sunbae.

“Harus berapa kali aku katakana padamu? Kau tidak akan pernah merebut perhatian Jong In dariku. Mengerti?” Yeoja itu lagi. Kenapa sih dia sangat berambisi untuk memiliki sunbae?

“Ya~ memangnya Jong In sunbae itu punyamu? Kau bukan pacarnya bukan? Diam saja.”

“Huh, beraninya kau. Jinjja. Lihat saja, cepat atau lambat dia pasti akan membalas perasaanku. Dan kau? Ucapkan selamat tinggal, pada harapanmu untuk memilikinya.”

“Memangnya aku peduli pada ucapanmu? Cih.”

“Seo Na Ri! Ada apa ini?” itu, Jong In sunbae datang dan bertanya pada gadis nappeun itu.

“Ah aniyo, oppa. Kau pasti lelah bukan? Ini kubawakan air minum untukmu.” Ucap Na Ri dengan mengeluarkan jurus aegyonya.

“Jogiyo, aku juga membawakan ini untukmu.” Selaku saat kulihat Jong In hendak meminum air yang diberikan Na Ri untuknya.

“Apa ini? Dan kau… nuguya?” Deg! Omona… setidaknya ucapkan terimakasih terlebih dahulu akan lebih baik rasanya.

“Ah, igeo~ ini sushi buatanku, sunbae. Dan aku Kang Ha Na siswi kelas…”

“Kau yang tadi kan?” eoh? Apa maksudnya dengan ‘yang tadi’?

“Ne? Maksud sunbae?”

“Kau yang tadi menabrakku dan masuk ke toilet pria, kan?” Aish. Dia ternyata masih ingat? Haah eottokhae?

“Ah itu.. n..ne, ne sunbae. Jeongmal mianhae.” Ucapku sambil membungkukkan badanku berulang kali.

“Lain kali hati-hati. Aku tidak suka dengan anak yang ceroboh seperti itu. Jika bertemu lagi denganku, jangan lakukan hal-hal bodoh. Dan ini, aku tidak suka makan sushi. Mianhae, kau boleh membawanya kembali.

“Ah, ne. Mianhae, sunbaenim. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi jika bertemu denganmu.”

“Baiklah. Sekarang pergilah!” suaranya memang halus, tapi ada makna yang tersirat dari ucapannya. Dia mengusirku. Mungkinkah dia tidak menyukaiku? Aku masih terdiam ketika suara yeoja itu membuyarkan lamunanku.

“Ya! Kau tidak dengar? Sekarang pergilah, Kang Ha Na!” lihat saja nanti kau, Seo Nappeun!

Hahh, bukan suatu masalah, ‘kan? Aku tetap tersenyum setulus mungkin dan mulai beranjak dari tempatku saat ini dan meninggalkan mereka dengan hati sedikit kecewa.

 

(Sehun POV)

Tidak salah lagi, dia Kang Ha Na. Ha Na yang dulu membuatku terkesan padanya meski hanya beberapa menit melihat wajahnya dan mendengar suarannya.

“Kang Ha Na… masih ingatkah kau padaku?” gumamku pelan sambil menidurkan diriku diatas rumput hijau yang segar di taman belakang sekolah.

“Sehun-ssi? Kau disini?” sebuah suara tiba-tiba mengejutkanku dan memaksa mataku untuk terbuka kembali dan melawan silaunya cahaya matahari.

“Baek Hyun? Ah, ne. ini tempat yang baik untuk menyendiri. Kau sendiri? Sedang apa disini?”

“Hanya melihat-lihat. Mungkin tempat ini cocok untuk dijadikan lokasi Dancing Night bulan depan.”

“Jinjja? Ada acara seperti itu?”

“Ne, aku ketua panitia tahun ini. Kau mau ikut berpartisipasi, Sehun-ssi?”

“Tapi aku anak baru disini, aku tidak punya teman yang bisa kuajak latihan bersama.”

“Ehm, akan kuusahakan secepatnya untuk masalah itu. Kau tenang saja.” Ucapnya sambil menepuk pundakku.

“Gomawo, Baek Hyun-ssi. Siapa pemenang tahun lalu?”

“Itu? Ehm, tentu saja dance machine sekolah ini Kai.”

“Pasti dia sangat lihai.”

“Tapi aku rasa dia masih kalah dengan sang ratu dansa.”

“Nugu?”

“Tentu saja Ha Na. siapa yang tidak mengetahui hal ini? Ah, ya. Kecuali Kai. Dia memang tidak terlalu mempedulikan kehebatannya di bidang tari. Dia hanya tertarik dengan basket. Sampai-sampai Ha Na yang adalah partnernya dulu tidak pernah digubrisnya saat latihan maupun saat kondisi yang lain.” Ujarnya panjang lebar.

“Ha Na? dia bisa menari?”

“Ne.”

Dia, gadis itu. Aku tidak pernah menyangka dia seperti ini sekarang, membuatku err… semakin menyukainya.

“Ada apa sebut-sebut namaku?” Ha Na?

—– To Be Continue —–

Iklan

18 pemikiran pada “Looking Forward (Chapter 1)

  1. rada bingung..katanya dulu hana partner jongin..tp knp jongin g knal? Ceritanya pdhl bagus..cuma rada ngebingungin..mungkin mesti baca lanjutannya..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s