Finally, It’s You (Chapter 2)

Finnaly, It’s You (I do Love You sequel) chapter 2

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

 

Lee Jihyun’s POV

“Yah, seperti yang kuduga  sebelumnya.. Menjadi guru adalah sesuatu yang menyenangkan, Baekkie.”ucapku pada namja yang tak dapat dibilang tinggi yang sedang tiduran dengan santai di tempat tidurku. Dasar, namja itu semakin menjadi-jadi di rumahku.

“Yaah, tentu saja menyenangkan. Ini kan baru permulaan. Mungkin para muridmu masih segan menunjukkan betapa ganasnya mereka padamu, Hyun. Tapi, ini kan sudah 2 minggu. Masa kamu tidak menemukan satu saja kesulitan?” Kini Baekhyun mengorek-ngorek laci mejaku.

“Yaaah, teman baikmu yang satu ini kan tak pernah menganggap sesuatu sebagai kesulitan. Harusnya kamu yang sudah mengenalku selama berpuluh-puluh tahun mengetahuinya. Dasar!” Aku sedang menyusun materi pelajaran etika-ku yang akan benar-benar dimulai minggu depan. Minggu-minggu sebelumnya hanya perkenalan dan basa basi saja.

“Sudahlah, tak usah sok bijak di depanku. Aku sudah tahu seluk beluk dirimu, jadi jangan mentang-mentang jadi guru etika kamu langsung berlebihan seperti ini, Hyun.” Aku memajukan bibirku mendengar ledekannya. Yah, memang 70% perkataannya merupakan kenyataan..

“Dan kau bukan teman baikku saat ini, kau calon tunanganku.” Ah, aku bahkan lupa kita pernah membicarakan soal tunangan. Karena bahkan sejak aku masih kecil, eommaku dan eomma Baekhyun suka bercanda mengatakan mereka akan menjodohkan kami berdua. Dan entah bagaimana ceritanya ternyata mereka tak bercanda.

“Darimana ada sebutan ‘calon tunangan’ Baekkie-ya? Sudahlah, kau mulai berlebihan. Terlebih dengan menganggap rumah ini sebagai rumahmu, bahkan kasurku sudah terjajah olehmu saat ini.” ucapku padanya yang masih tergeletak seperti tak bertulang di kasurku, dia hanya nyengir mendengar ucapanku.

Drrtt…drrtt… Tiba-tiba ponsel Baekhyun bergetar, sebuah pesan masuk. “Dari Sena.” ucap Baekhyun singkat, tapi membuatku berseri-seri. “Apa yang ia katakan?” tanyaku pada Baekhyun yang sedang membaca pesan itu dengan serius. Selama ini Baekhyun dan Sena masih berhubungan baik, denganku juga. Tapi, kurasa dia merasa canggung saat berkomunikasi denganku. Mungkin dia merasa bersalah, meski aku tak pernah menyalahkannya.

“Dia bilang dia akan segera kembali ke Korea. Dia bilang dia merindukanku, dan juga kamu tentunya. Saat dia kembali nanti, dia akan menghubungiku dan kita bertiga dapat bertemu.” Aku menghela nafas lega, akhirnya dia kembali setelah 4 tahun. Kupikir dia menghindariku, membuatku merasa tak enak. “Kurasa… dia masih menyukaimu.” ucapku, membuat Baekkie langsung memukul kepalaku pelan.

“Sudah kubilang jangan khawatir. Dia sudah mengatakan padaku bahwa dia sudah tak menyukaiku. Jangan terlalu memikirkannya jinjja!” Aku tahu. Tapi tetap saja, mungkinkah semudah itu untuk melupakan seseorang? “Hanya saja.. Sena, kurasa dia orang yang paling mirip denganku. Dia kehilangan orang yang paling dicintainya di hari yang sama denganku. Dan saat ini aku belum dapat melupakannya, mungkinkah dia sudah melupakanmu?” Dia langsung memelukku setelah aku selesai mengucapkan segalanya. Berada di pelukan Baekhyun, aku selalu merasa nyaman..

“Di sini, kau punya aku. Harusnya kau juga mengatakan, di sana, Sena juga punya seseorang yang selalu melindunginya, seperti yang kulakukan padamu saat ini.” Aku mengangguk, mengerti. “Gomawo, Baekkie-ya.” ucapku tulus. “Sejak dulu, kau adalah sahabat terbaikku. Apa yang kau lakukan selama ini, selalu melindungiku seperti ini, meski alasannya karena kejadian itu, aku tetap berterima kasih padamu.”

“Sudah kubilang, jangan bicarakan kejadian itu lagi! Benar-benar tak ada hubungannya dengan itu!” Aku menatap namja di depanku dengan takut. Menyeramkan.. Dia selalu seperti ini setiap kali aku mengatakan hal ‘itu’. Memang seharusnya aku tak menyangkut pautkannya..

“Jadi cepat ceritakan! Aku bahkan sampai merelakan waktu istirahatku untuk menemuimu. Sekarang pekerjaanku lagi sibuk-sibuknya, kau tahu?” Aku menatap Baekhyun yang sekarang sudah tersenyum kekanakan kembali. Baekhyun memang pandai mengontrol dirinya, kadang aku harus mempelajari itu darinya.

“Huuh, araso! Kau tahu, mereka mengatakan aku mirip anak SMP, padahal aku kan nggak pendek-pendek banget. Justru aku yang kaget begitu melihat murid-muridku yang ternyata hampir semuanya lebih tinggi dariku.” Dan aku mendelik mendengar Baekhyun tertawa kecil.

“Dan ada satu orang murid.” ucapku begitu mengingat kejadian kemarin. “Tapi dia bukan kesulitan. Dia hanya seseorang yang sangat ingin kuusahakan untuk berubah. Dan aku benar-benar berharap dia dapat menyadari segalanya secara perlahan-lahan dengan apa yang aku ajarkan nanti.” ucapku dengan pandangan menerawang.

Aku sudah banyak bertemu dengan orang-orang yang bertumbuh dari keluarga yang kurang harmonis, tapi kali ini berbeda. Dia sedih, tertekan, tapi dia bersembunyi di balik kepura-puraannya. Menganggap dirinya sendiri tak perlu siapapun, membangun tembok dengan semua orang.

Ada berbagai macam tipe anak yang muncul dari keluarga tidak harmonis. Dan menurutku, tipe seperti dialah yang paling menyedihkan. Seperti Oh Sehun…

+++

Oh Sehun’s POV

Hari Senin di SMA Hanyoung,

“Jadi, bagaimana ulangan Sejarah tadi? Kalian semua bisa mengerjakannya dengan baik?” Aku menatap yeoja yang sedang tersenyum ceria itu dari kursiku yang berada di pojok kanan belakang. Yeoja itu tampaknya disukai oleh murid-murid di kelasku. Tak biasanya mereka semua tampak segar dan bersemangat di pelajaran terakhir. Apalagi hari ini hari Senin.

“Susah sekali, saem. Aku rasa nilaiku akan merah. Aissh, jinjja. Padahal aku belajar sampai jam 10 malam.” gerutu seorang yeoja yang tak kuketahui namanya. Aku benar-benar sulit dalam mengingat nama, bahkan nama teman sekelasku pun, hanya 10 orang yang kuhafal baik-baik.

“Perkataan itu sama seperti kutukan,apa yang kau katakan akan terjadi pada dirimu sendiri.” balas Jihyun dengan bijaknya. Eh? Aku mengingat namanya? Padahal dia baru satu kali memperkenalkan dirinya. Sungguh, nama guru-guru yang kuingat pun sedikit. Mereka yang sudah mengetahui kelambatanku menghafal nama orang pun dengan sendirinya selalu mengatakan namanya sebelum berbicara padaku, seperti ‘Ya, Oh Sehun! Saya Park Taejun seongsaenim. Bagaimana nilai-nilaimu? Apakah meningkat?’

“Araso. Karena kalian semua stress hari ini, bagaimana kalau kita lanjutkan saja sesi tanya jawab yang sempat terhenti beberapa minggu lalu? Aku akan menceritakan hidupku semasa kecil, dalam hal apapun.” ucap Jihyun lagi. Dan semua murid langsung heboh memberi usulan. Haah, kurasa aku tahu kenapa dia benar-benar disukai. Yah, faktor pertama pasti karena wajahnya yang enak dilihat dan tidak membosankan.

“Saem, apa kau punya pacar?” celetuk seorang namja yang duduk di depan dengan kencang. Aku bahkan dapat mendengarnya. “Ah, eobseo.” jawabnya sambil tersenyum. Dan aku dapat mendengar suara desahan nafas lega dari para namja. Jinjja, itu berlebihan!

“Lalu, kau pasti pernah punya pacar kan?” kini seorang yeoja yang kuketahui namanya Hong Sena, dia benar-benar tak pernah berhenti menggangu hidupku. “Kemana namja itu? Seperti apa orangnya?” tanyanya lagi setelah Jihyun mengangguk.

“Dia tampan, lucu, dan dia selalu bersikap seperti anak 10 tahun.” Jihyun menjawabnya dengan mata menerawang, dan dia tersenyum sendiri. Dia pasti benar-benar menyukai namja itu. “Kalau kalian melihatnya pun, pasti kalian akan tergila-gila padanya. Dan betapa beruntungnya aku bisa disukai namja sepertinya. Sayang aku baru menyadarinya sekarang..”

“Lalu kemana dia sekarang, saem??” tanya para yeoja yang kelihatan sangat tertarik mendengar kata ‘tampan’. Dan sekarang bibir Jihyun yang tadinya melengkung menjadi lurus lagi, matanya kembali menerawang jauh. “Pergi. Ke tempat yang tak sangat jauh.” Eodi? Namja itu?

“Hoksi… namja itu, sudah tak ada lagi di dunia ini?” Entah siapa namja yang bertanya seperti itu, tapi yang kulihat, wajah Jihyun terlihat sedih sekarang, tapi dia memaksakan senyumnya dan mengangguk.

“Yap. Bereskan barang kalian, sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi.” serunya sambil menepukkan kedua tangannya. Aku tahu dia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan, bel pulang sekolah masih 15 menit lagi. Tapi tak ada yang menyahut, mereka cukup pintar untuk menyadari bahwa mereka sudah mengorek luka terdalam seongsaenimnya itu.

+++

Lee Jihyun’s POV

Mengingat yang tak ingin diingat kembali ternyata bukan ide yang baik. Rasanya ada yang mengganjal di hatiku. Tiba-tiba membicarakan namja yang pergi untuk selamanya tepat di depan mataku itu kembali setelah bertahun-tahun menyembunyikannya di hatiku yang paling dalam.

Aku duduk di kursi taman di taman SMA Hanyoung yang benar-benar indah dan nyaman. Dan aku memejamkan mataku, berusaha tak memikirkannya lagi. Tapi wajah namja itu malah muncul dan semakin menjadi-jadi saja hadir di kepalaku. Namja itu, Xi Luhan.. Dan perlahan air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Dan akupun tak peduli lagi, aku benar-benar menangis hari ini.

Tuk. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon, mengenai kepalaku. Ternyata sebuah kertas kecil yang sudah diremas. Aku menengok keatas, melihat siapakah mahluk gaib yang melemparkan kertas itu. Ternyata Oh Sehun, dan dia menatapku datar, dan tiba-tiba dia melemparkan puluhan kertas yang sudah diremas-remas lagi. Aku terus menatapnya tanpa memedulikan hujan kertas itu, dan dia menuliskan sesuatu di kertas kecil lalu meremas-remasnya. Ah, ternyata kertas itu bukan hanya sebuah kertas. Aku membukanya satu per satu.

Dan kata-kata pertama yang kubaca di kertas pertama membuatku melotot sejadi-jadinya. ‘Ya, Lee Jihyun!’ Jinjja, dia menuliskannya seakan-akan aku adalah temannya. Dan aku membuka kertas-kertas berikutnya. Dan setelah aku mengurutkan pesan-pesan darinya, aku tertegun.

‘Ya, Lee Jihyun! Kau menangis? Wae? Kau benar-benar tak terlihat cantik saat kau menangis. Sebaiknya kau tak menangis. Jihyun, neo babo-ya! Tak ada masalah yang dapat diselesaikan dengan menangis. Uljima..’ Aku merasa sedikit tersentuh dengan perkataannya. Dan tangisku berhenti seketika. Aku kembali mendongak ke atas pohon mencari sosoknya. Dia masih duduk dengan nyaman di atas sana, memerhatikanku masih dengan wajah datarnya.

“Oh Sehun, apa yang kau  lakukan disana??” tanyaku setengah berteriak kepadanya. Ini sudah larut malam dan dia masih asyik duduk-duduk di atas pohon. “Aku? Setidaknya aku tidak menangis seperti orang bodoh di sini.” ucapnya dengan nada datar, wajahnya menatapku dengan tatapan meremehkan. Aku terdiam, tak berniat mengomelinya. Aku sendiri merasa aku seperti orang bodoh saat ini.

“Ini sudah malam, kau tak mau pulang??” tanyaku lagi, dan tiba-tiba dia melompat turun. Dia benar-benar melompat. Sekali lagi, dia MELOMPAT dari atas pohon. Aku menatapnya takjub. “Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri, ini sudah malam.” ucapnya sambil berjalan menjauh. Aku pun mengejarnya, aku takkan membiarkan muridku pulang sendirian di malam hari seperti ini.

“Ya, Oh Sehun! Aku akan mengantarmu pulang.” ucapku setelah berada di sebelahnya, dan dia menatapku dengan ekspresi tak percaya. “Kau pikir aku anak SD?” ucapnya masih dengan ekspresi yang sama.

“Tapi kau muridku. Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi padamu di perjalanan pulang nanti? Aku takkan merasa nyaman begitu sampai di rumah jika aku tak mengantarkan muridku pulang sampai di gerbang rumahnya.” Dan dia tertawa kecil meremehkanku. “Kau bawa kendaraan?” tanyanya padaku, membuatku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya. Dan dia kembali berjalan, aku mengikutinya.

“Sudahlah. Lebih baik pikirkan dirimu sendiri.” ucapnya menolak tawaranku. Tapi aku tak peduli, aku terus mengikutinya. Biarpun apartemen tempatnya tinggal dekat dengan sekolah, tak menutup kemungkinan akan ada sesuatu yang terjadi padanya. Dan dia pun diam saja saat aku terus mengikutinya sampai tepat di gerbang apartemennya.

“Sebaiknya kau pulang sekarang juga. Apa jangan-jangan kamu memang sengaja ingin masuk ke apartemenku?” ucapnya padaku. Aku memajukan bibirku, menatapnya sebal. Tapi kali ini aku menurut. “Araso, kalau begitu sampai bertemu besok pagi. Annyeong!” ucapku sambil membalikkan badan, dan betapa kagetnya aku saat aku melihat ada motor tepat di depanku, berjalan dengan cepat dan menatapku dengan panik. Aku sempat mendengar sang pengemudi berteriak padaku, tapi aku dengan pasrah memejamkan mataku. Aku siap terluka dimana saja, tapi tetap saja aku berharap lukanya tak terlalu parah, dan tak menyakitkan. Tapi yang kurasakan malah sangat nyaman, apa aku bahkan sudah pergi ke surga?

“Dasar babo! Bagaimana bisa kau hanya memejamkan mata seperti itu saat nyawamu bisa saja melayang beberapa saat lagi.” Aku membuka mataku mendengar teriakan seseorang. Ternyata ada Oh Sehun dengan wajahnya yang terlihat marah, sangat dekat dengan wajahku. Dan aku masih hidup dengan selamat. Dan pengendara motor itu pun sudah menghilang entah kemana. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, hanya terdiam menatapnya lurus.

“Tunggu sebentar, jangan berani kemana-mana. Aish, jinjja.” gerutunya kesal sambil berlari ke dalam. Dan beberapa saat kemudian dia keluar membawa motor yang sangat keren berwarna merah, dan dia memberikanku sebuah helm. Aku memakainya, dan aku menurutinya saat dia menyuruhku naik ke atas motor. Aku benar-benar masih shock saat ini.

Tiba-tiba dia menarik tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya. “Jangan lepaskan, atau kau akan celaka!” ucapnya dengan nada galak, aku hanya menurutinya. Mensyukuri saat ini aku tak dapat melihat wajahnya, tentunya akan benar-benar menakutkan. Tunggu, kenapa… aku jadi takut kepada muridku sendiri??

Dalam perjalanan pulang, otakku memutar peristiwa di taman tadi sampai kejadian memejamkan mata. Aku menjadi mengerti apa yang terjadi. Dan di atas motor dengan , aku tersenyum. Ternyata setiap orang memang memiliki sisi baik dalam diri mereka. Bahkan seorang Oh Sehun yang orang lain pikir benar-benar tak dapat diandalkan pun mempunyai sisi baik dalam dirinya. Yang perlu kita lakukan untuk menemukan sifat baik itu hanya menunggu dan mempercayai orang itu.

+++

And this is what people call ‘the beginning of love’..

And this is what it feels, like there’s a butterfly in

So this is..love (?)

 

Iklan

8 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 2)

  1. Baru baca part 2 aja udeh bkin penasaran. Apalagi ada bias gue si sehun. Kekeke~
    Bagus kok. Trus berkarya thor \(´▽`)/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s