Finally, It’s You (Chapter 3)

Finnaly, It’s You(I do Love You sequel) chapter 3

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

Oh Sehuns POV

Aku memasuki apartemenku dengan perlahan. Yeoja itu selalu membuatku lelah,  tapi justru itu yang aneh. Sejak kapan aku peduli kepada orang lain selain diriku sendiri? Kenapa aku bahkan berlelah-lelah menghiburnya dan mengantarnya pulang?

“Sehun-ahh!!” Aku menoleh ke arah suara yang muncul dari ruang tamu, tak biasanya ada tamu yang datang malam-malam begini. Orang itu sedang asyik merebahkan badannya di sofaku, hyungku.. “Kemana saja kau pergi? Aku menunggumu berjam-jam, dasar kau ini! Jangan terlalu sering bermain, araso?!” Aku tersenyum mendengar ocehannya. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang dekat denganku, meski dia bukan saudara kandungku.

“Adikmu ini habis menyelamatkan nyawa seseorang, hyung.” jawabku singkat, membuatnya terkekeh. “Siapakah itu? Nyawa yang telah kau selamatkan?” tanyanya sambil bangun dari kegiatan tidurnya. Dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, menyuruhku duduk. Aku menurutinya, sudah lama semenjak aku bertemu dengannya. Banyak yang ingin kita bicarakan bersama.

“Seorang yeoja yang.. cantik.” jawabku lagi sambil tersenyum, membuat hyung tertawa dengan keras. Wajar saja, aku bukan seorang playboy yang mengatakan semua yeoja cantik. Tapi, saem itu, Lee Jihyun memang cantik.

“Apakah adikku sedang jatuh cinta?” tanyanya dengan wajah usil, aku langsung menggeleng dengan pasti. Dia menatapku curiga, tapi aku tak berbohong. Aku tak jatuh cinta pada siapapun. “Lalu kenapa kau mengatakan kalau dia cantik?”

“Dia cantik, kenapa harus ada alasan?” jawabku datar, hyung selalu bertanya yang aneh-aneh. Apa aneh kalau seorang namja mengatakan seorang yeoja cantik? “Pasti ada alasannya! Kamu bukan orang yang tiba-tiba mengatakan begitu. Bahkan bagimu SNSD tidak cantik, kan?” Aku mengangguk bingung, lantas apa hubungannya SNSD dengan Lee Jihyun?

“Ya! Cepat beritahu alasannya! Kenapa di matamu dia cantik?! Adikku bersikap aneh seperti ini, aku harus tahu kalau kamu jatuh cinta! Itu berita heboh, kau tahu?!” ucapnya lagi sambil menggelitiku, membuat aku terjatuh dari sofa. Jinjja, dia selalu menjadi sangat menyebalkan disaat dia penasaran.

“Araso, araso!” Dan seketika dia berhenti menggelitiku. Huh, aku benar-benar menyerah dengannya. Dia kini sedang menatapku dengan mata berbinar, menunggu jawabanku. Kadang-kadang hyung-ku bersikap seperti anak kecil.

“Saat dia tersenyum, dia terlihat manis. Saat dia berbicara denganku, dia terlihat cantik. Saat dia menangis, dia terlihat lucu. Saat dia memasak, dia terlihat seperti semakin cantik. Entahlah. Mungkin karena masakannya benar-benar enak.” ucapku meracau tak jelas, aku hanya mengatakan segala hal yang kuingat tentang Jihyun (dan kurasa aku mengingat semua hal).

“Kau benar-benar jatuh cinta dengannya, yah..” ucap hyung sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku langsung menggeleng. “Masih mau mengelak? Sehun-ah, sejak kapan kau menerima masakan dari orang lain selain eomma kandungmu? Bahkan kau tak memakan masakan eomma-ku.” Aku terdiam mendengarnya.

“Yah, dia benar-benar sudah berjuang memasak untukku, akan sangat keterlaluan kalau aku menolaknya, kan?” ucapku mencari-cari alasan. Hyung hanya bisa tersenyum. “Lalu, apa dia juga menyukaimu?” Aku menatap hyung dengan kesal.

“Hyung! Aku tak menyukainya! Jangan bicarakan dia lagi!” omelku padanya. Dia hanya terkekeh. “Sehun-ah, jangan sampai kamu menyesal. Kalau kamu suka padanya, kamu harus memperlihatkan perasaanmu. Bagaimana kalau ada namja lain yang merebutnya? Mungkin hari ini dia milikmu, bisa saja keesokan hari dia sudah menjadi milik orang lain.” Aku menatap hyung dengan bingung. Kenapa hyung bisa bicara dengan bijak secara tiba-tiba?

“Oh ya! Sehun-ah, hyungmu akan bertunangan, kau tahu? Kamu harus menemuinya, dia sangat cantik, senyumnya sangat manis. Tapi jangan sampai menyukainya! Sukai saja yeoja yang memasak untukmu itu, hehe..”

+++

Lee Jihyuns POV

Taman sekolah adalah tempat favoritku di sekolah. Saat istirahat, para murid duduk-duduk di taman untuk refreshing. Saat ini pulang sekolah, jadi taman ini sudah sepi. Aku duduk di salah satu bangkunya, melihat-lihat pemandangan. Bunga-bunga yang sangat indah, berwarna-warni. Rasanya bunga-bunga itu sangat bahagia, membuat orang lain yang melihatnya bahagia.

Ya, Xi Luhan! Seandainya kamu masih ada, mungkin kita dapat melihat taman ini bersama-sama. Seandainya kamu masih ada, mungkin saat ini kita masih dapat tertawa bersama, mungkin kamu akan berlari dari tempat kerjamu untuk menemuiku, mengatakan kalau kamu merindukanku dan ingin melihatku. Kamu pasti akan menceritakan padaku segalanya, berbicara tanpa henti, mungkin kamu akan melihatku penuh cinta seperti terakhir kali. Seandainya..

TUK! Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang keras menepuk kepalaku. Sakit. Dan betapa kagetnya aku, ternyata itu Sehun dan tangannya yang usil. Aku menatapnya dengan kesal. “Ya! Sakit, tahu! Dasar, benar-benar tak sopan dengan seongsaenim-mu sendiri!” omelku padanya, dia hanya tersenyum lalu duduk di sebelahku.

“Itu sihir, tahu!” balasnya, membuatku bingung. “Itu sihir untuk menghentikan segala kesedihan dan air mata.” Aku terdiam menatapnya, apa tadi aku kelihatan sedih? Apa tadi aku kelihatan ingin menangis?

“Apa.. aku kelihatan seperti ingin menangis tadi?” tanyaku padanya. Dia menatapku lurus. “Kau menatap bunga-bunga itu sambil tersenyum bahagia, kau terlihat bahagia.” ucapnya serius, membuatku semakin bingung. “Kenapa kau bilang aku sedih?” tanyaku lagi.

“Karena kamu terlihat bahagia, aku tahu betapa sedihnya kamu..” Aku menatapnya dengan dahi berkerut. “Ya! Jelaskan maksudmu! Kenapa kau selalu berbicara berbelit-belit dan susah dimengerti? Jinjja..” gerutuku dengan penasaran.

“Aku.. orang yang paling tahu tentang apa kesedihan itu.” Aku menatapnya yang sedang tersenyum santai tanpa beban, tertegun. Bahkan kata-katanya saat ini sulit dimengerti, tapi ada satu hal yang aku tahu : anak ini sudah mengalami kesedihan yang bahkan membuatnya tak ingin menangis lagi. Apa yang sebenarnya dialaminya? Betapa banyak kesedihan dan air mata yang sudah dilaluinya? Aku benar-benar perlu mencari tahu..

“Ya, Oh Sehun! Bagaimana kalau kita bertukar cerita?” ucapku secara tiba-tiba, membuatnya menatapku bingung. “Aku bercerita padamu tentang masa laluku yang tak dapat kulupakan, kau juga bercerita padaku.” Dia menatapku lurus, lalu berdiri.

“Bagaimana kalau aku tak mau?” ucapnya sambil berjalan pergi, tapi aku menariknya. Aku ingin mengetahui ceritanya, aku juga butuh teman berbicara saat ini. “Setidaknya dengarkan ceritaku, jebal..” ucapku pelan, membuatnya kembali duduk.

“Jinjja, kau benar-benar selalu ingin tahu masalah orang lain.” ucapnya dengan wajah datar seperti biasa, aku tak menanggapi ucapannya. Aku tahu aku benar-benar ingin tahu, tapi itu memang sudah pekerjaanku, kan? Untuk memahami dan membantu muridku, itu pekerjaan seorang guru.

“Dulu, ada seorang namja yang paling menyayangiku..lebih dari apapun. Saat melihatku, dia lupa segalanya. Baginya, hanya aku. Meski beribu-ribu yeoja mengantri untuknya, dia hanya melihatku. Dia memperhatikanku lebih dari siapapun, tapi mataku terlalu buta untuk menyadarinya.” Aku menghela nafas pelan, aku tahu dia mendengarkanku.

“Bagiku dia hanya teman, ada satu namja yang kucintai, tapi namja itu punya seorang pacar, teman baikku. Karena itu aku menggunakan namja yang mencintai itu untuk melupakan namja yang kucintai. Aku bilang aku mencoba untuk menyukainya, aku berbohong padanya. Aku tak mencoba menyukainya, aku hanya ingin dia menyembuhkan lukaku. Tapi dengan bahagianya dia tak menanyakan apapun padaku, dia sibuk memikirkan cara untuk membuatku bahagia setiap hari. Sampai suatu saat dia tahu..”

“Tapi dia tak pernah membenciku, bahkan dia memelukku dan mengatakan ‘jangan menangis’ saat dia tahu segalanya. Dia masih menjadi namja yang paling menyayangiku lebih dari apapun. Sampai aku sadar kalau aku menyayanginya, dan aku berlari mengejarnya. Saat itu dia ada di seberang jalan, menunduk sedih. Aku memanggilnya, dan saat dia melihatku, dia melupakan segalanya. Melupakan kalau dia sedang ada di seberang jalan, dia berlari ke arahku. Dia lupa kalau bisa saja ada kendaraan yang sedang berjalan. Sampai akhirnya dia pergi untuk selamanya.” Aku menerawang jauh, mengingat Luhan selalu membuatku tercekik.

“Dia, namja itu.. bahkan disaat terakhirnya, dia masih tersenyum dengan sayang kepadaku. Bahkan di detik terakhirnya, aku tetap menjadi segalanya bagi dia. Seandainya saja aku menyadarinya dari dulu, dia tak akan pergi. Mungkin saat ini aku masih bisa melihat bunga-bunga ini bersamanya.”

“Seandainya dia masih ada di sini saat ini, akankah kau akan sadar betapa kamu menyayanginya?” Aku menatap Sehun, tertegun. Dia hanya menatapku datar.“Kamu benar.. Mungkin kalau dia tidak pergi, aku masih tak menganggapnya penting.” gumamku sambil menunduk. Aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu..

“Aku.. semenjak dia pergi, rasanya aku dihantui dengan rasa bersalah. Karena aku, dia tertabrak mobil. Jika saja saat itu aku tidak datang, dia tak mungkin meninggal, kan? Itu semua karena aku..” Dia hanya terdiam, sama denganku. Memikirkan masa lalu yang tak ingin dikenang memang selalu menyedihkan.

“Kajja!” Tiba-tiba Sehun berdiri sambil menarik tanganku. Aku menatapnya bingung. “Kau mau mengajakku kemana?” tanyaku padanya. Dia menatapku yang masih duduk dengan wajah sedikit lebih cerah dari biasanya.

“Tentu saja ke tempat namja itu!” Aku menatapnya dengan wajah semakin bingung. “Maksudmu.. ke rumahnya?” tanyaku, membuatnya melongo. “Jinjja, kau benar-benar bodoh! Tentu saja ke makamnya! Tempatnya tidak jauh dari Seoul, kan?”

Ke… makamnya?

+++

Oh Sehuns POV

Aku menatap yeoja yang sedang terduduk di samping makam itu, mengamati setiap gerakannya. Sudah 30 menit sejak kita datang ke sini, dia hanya terduduk tanpa melakukan apapun. Hanya menatap makam itu dengan mata menerawang. Aku memahami perasaannya, mengingat masa lalu tak selalu menyenangkan. Kenangan-kenangan indah akan bertebaran dalam otak kita, kenangan-kenangan terindah bersama orang yang sudah pergi untuk selamanya.

“Annyeong, Lulu..” Satu kalimat pertama yang dia ucapkan, dengan suara pelan dan tercekat. “Aku..merindukanmu.” Setetes air mata jatuh ke pipinya, aku yang sedang berdiri di seberangnya dapat melihat dengan jelas bagaimana ia menahan tangis sedari tadi.

“Selama ini tak pernah mengunjungimu, mianhae.. Itu semua karena aku benar-benar merindukanmu. Karena aku merindukanmu, aku mengingat segala hal yang kau katakan padaku. Kau bilang padaku untuk selalu ceria, jangan menangis. Bagaimana aku tak menangis saat ini?” Air matanya keluar semakin deras. Aku menatapnya, aku tahu benar perasaan itu.

“Aku menangis, Lulu. Mianhae, aku tak dapat menetapi janjiku. Lain kali, aku pasti takkan menangis lagi.” ucapnya sambil menyeka air matanya. Setelah itu, tak ada yang dikatakannya lagi. Aku pun ikut duduk di sebelah makam namja itu, kurasa sudah saatnya aku bercerita.

“Maukah kau menemaniku?” ucapku pada akhirnya, membuat ia mengalihkan pandangan padaku dengan pandangan bertanya. “Aku.. ingin menemui seseorang.”

+++

Lee Jihyuns POV

Aku hanya terdiam menatap namja yang kini sedang duduk termenung di sebelahku. Saat ini kami berada di sebuah pantai yang terletak di pinggiran kota Seoul, entah apa namanya. Sejak pertama kami sampai di pantai ini, ada perubahan ekspresi pada Sehun. Sebuah aura menyedihkan membuatku tak berani membuat suara sekecil apapun.

“Ditinggalkan dan dilupakan..” Pada akhirnya dia mengucapkan sebuah kalimat dengan lirih, masih dengan mata menatap lurus ke arah pantai yang berombak itu. “Menyakitkan.” Seketika aku teringat sebuah pepatah ‘sebuah kata dapat mengartikan segalanya’, kini aku mengerti artinya. Saat dia mengatakan satu kata itu, aku dapat memahami perasaannya. Tanpa penjelasan panjang lebar, membuatku dapat mengerti bahwa kepedihan yang di alaminya sungguh luar biasa.

“Eomma-ku meninggal saat aku berusia 8 tahun..” ucapnya membuka cerita, wajahnya terlihat sedih. Menceritakan masa lalu yang menyedihkan itu bukan sesuatu yang mudah. “Sejak saat itu, semua orang-orang terdekatku meninggalkanku. Appa-ku menikah lagi, melupakan dia memiliki aku. Baginya hanya ada yeoja itu dan hyung.” Aku sudah mengetahui ceritanya. Mengenai buruknya hubungan Sehun dan appa-nya, itu sudah menjadi rahasia umum.

“Saat aku menangis dan ketakutan sendirian pun, semua orang terus berjalan bahkan tanpa menoleh kepadaku. Sampai akhirnya air mata itu berhenti dengan sendirinya, bahkan saat aku ingin menangis, tak ada air mata yang tersisa.” Aku tertegun menatapnya yang sedang tersenyum pedih. “Maka itu aku harus tegar! Aku harus mandiri! Itulah yang ada dalam pikiranku saat itu, maka itu sejak SMP aku sudah tinggal sendiri. Bahkan appa tak pernah menelponku untuk menanyakan kabarku. Hanya hyung yang tetap memedulikanku.”

“Kau.. apa kau dekat dengan hyung-mu?” Kalimat pertama yang kuucapkan sejak kami berada di pantai ini. Dia mengangguk pelan.“Kau tentu tak tahu perasaan itu. Saat kau terduduk sendirian, ketakutan, kesepian. Lalu ada seorang yang menjulurkan tangannya sambil tersenyum, tentu kau tak tahu perasaan itu.”

“Oh Sehun, apa kau sudah selesai berbicara?” tanyaku, membuatnya menatapku heran. “Berarti ini saatnya aku untuk mengatakan apa yang kupikirkan.” ucapku lagi sambil menatapnya lurus. “Aku..tentu tak tahu perasaan itu. Tapi, teman-teman yang kumiliki sejak kecil, saat aku terjatuh, mereka juga menjulurkan tangannya sambil tersenyum. Kurasa itu perasaan bahagia yang serupa, benar kan?” ucapku sambil menatapnya lurus. Apa yang ingin kukatakan padanya harus tersampaikan, sehingga dia dapat mengerti.

“Tapi bagiku, seorang appa tak mungkin meninggalkan anaknya sendirian. Aku  memang tak mengalami apa yang terjadi padamu, tapi aku mengerti perasaan seorang appa. Appa tak pernah puas denganku, biarpun nilaiku baik, dia selalu berkata ‘bagiku itu belum cukup.’ Tapi saat aku tak ada, dia menceritakan pada teman-temannya betapa bangganya ia denganku. Saat eomma memarahiku, appa hanya terdiam. Tapi di belakangku, dia berkata pada eomma untuk tidak menyakitiku. Di malam hari saat aku sudah tertidur, appa datang ke kamarku hanya untuk melihatku. Kurasa, semua appa di dunia memiliki cinta yang sangat besar pada anaknya..”

“Kalau begitu, apa aku bukan anak kandungnya?” Aku menatapnya dengan bodoh. Apa dia tak mengerti maksudku? Lalu tiba-tiba dia tertawa kecil, entah apa yang ditertawakan. Dan secara tak terduga, dia menaruh kepalanya di pundakku. Bahkan aku tak dapat mengatakan apapun saking kagetnya. Seorang Oh Sehun dapat melakukan hal seperti ini..

“Hangatnyaa ~” Aku mengerutkan keningku mendengar gumamam anehnya. “Apanya yang hangat? Cuacanya sangat dingin tahu! Sebentar lagi natal akan tiba, semakin hari udara semakin membekukan.” ucapku padanya, lagi-lagi membuatnya tertawa kecil. Apa sih yang dia tertawakan??

“Cuaca sangat dingin, tapi kehangatanmu.. aku dapat merasakannya. Mempunyai keluarga bahagia, itukah yang membuatmu memiliki kehangatan ini? Aku.. sangat dingin.” Aku terdiam mendengarnya, apalagi saat aku merasakan pundakku basah. Dia menangis. “Kehangatanmu sudah menggelitiki hatiku. Aku menangis bukan karena sedih, aku bahagia. Berada di sisimu, membuatku merasakan perasaan memiliki sebuah keluarga. Aku bahagia.” Meski aku tak mengerti apa yang ia maksud, aku tersenyum.

“Saat kau tertidur di depan apartemenku hanya untuk mengembalikan buku yang tertinggal, lalu menghabiskan seluruh uangmu untukku, bahkan memasak untukku. Kehangatan itu, membuatku terbiasa. Perasaan memiliki seorang eomma, aku ingin merasakannya terus.” Aku tertegun menatapnya.

“Lalu, dapatkah kau percaya padaku? Untuk terus memberikan kehangatan itu padamu?” ucapku secara tiba-tiba, tapi aku sungguh-sungguh. Bahkan jika semua orang meninggalkannya, aku ingin menjadi seseorang yang tinggal di sisinya. Maka itu kini aku mengulurkan tanganku.

“Kalau kau mau, aku bisa menjadi orang kedua yang menjulurkan tanganku padamu sambil tersenyum. Sehun-ah, ayo kita berteman!”

+++

BERSAMBUNG

Sinopsis chapter selanjutnya :

“Eomma itu.. sebenarnya seseorang seperti apa?”

“Ya! Apa kau bahkan melupakan wajah eomma-mu?”

“Sudah belasan tahun berlalu, yang ada dalam ingatanku hanyalah suaranya, senyumnya, dan belaiannya. Tapi, kurasa eomma mirip denganmu!”

“Denganku??”

“Ne! Seseorang yang cantik dan selalu tersenyum. Akan sangat baik kalau eomma memiliki wajah sepertimu..”

“Ya! Eomma-mu akan marah kalau dia tahu kau membanding-bandingkannya denganku. Dia pasti sangat cantik, maka itu kau bisa jadi setampan ini.”

“Anio, eomma takkan marah padaku.”

“Wae?”

“Karena eomma pasti tahu aku menyukaimu..”

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s