Finally, It’s You (Chapter 4)

Finnaly, It’s You(I do Love You sequel) chapter 4

 

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

 

You, who shine me brightly in the morning. You are always like the sunshine. Like a great big tree, always comfortingly positioned next to me

 

+++

 

Lee Jihyun’s POV

“Jihyunnie!” Aku menoleh ke arah asal suara, mengalihkan pandangan dari komputer di meja kerjaku. Ternyata Jang Mari, guru Inggris di sekolah ini. Aku menatapnya yang sedang berjalan cepat ke arahku dengan heboh. “Waeyo, Mari-ya?” tanyaku padanya.

“Kau tahu, murid kelasmu itu Oh Sehun!!” Aku menatapnya bingung sambil mengangguk-angguk, apa lagi yang ia lakukan saat ini, jinjja. “Apa dia melakukan sesuatu lagi? Apa dia bolos kelasmu, Mari? Atau dia terlambat lagi?” tanyaku dengan penasaran, tetapi Mari menggeleng dengan wajah berseri-seri.

“Justru itu! Untuk pertama kalinya, dia mengerjakan PR Inggris yang kuberikan, bahkan dia duduk dengan tenang saat pelajaranku. Untuk pertama kalinya, Jihyunnie!!” seru Mari dengan histeris, membuat para seongsaenim lain ikut tertarik dengan pembicaraan kami..

“Jinjja? Kupikir dia berubah hanya di jam pelajaranku. Seminggu ini dia menjadi benar-benar baik, entah apa yang mengubahnya.” balas Kim seongsaenim, guru Sejarah. Setelah itu, banyak guru yang ikut menimpali dengan menyetujui ucapan Kim seongsaenim. “Dan dia juga tak pernah bolos seminggu ini, bahkan dia datang tepat waktu, tidak seperti biasanya. Lee seongsaenim, kenapa dia bisa berubah seperti itu???” Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Kurasa, dia tahu apa yang terbaik untuknya..”

+++

Oh Sehun’s POV

Aku menatap yeoja yang sedang asyik berjalan menuju kantin sambil mengobrol dengan seongsaenim lain itu. Lee Jihyun. Dia selalu tertawa setiap saat, entah apa yang membuatnya bahagia. Tapi itu juga baik. Memberikan semangat untuk orang lain dengan senyuman, itu sangat baik. Karena dia memberikan semangat untukku juga.

Seketika tanganku sibuk memencet tombol di ponselku, seketika aku ingin menelponnya. Meski dia berada di bawahku –lantai 1– aku ingin menelponnya. “Oh, Sehun-ah..” ucapnya saat mengangkat panggilan dariku, membuatku tersenyum. Suasananya benar-benar gaduh di kantin, selalu sama di setiap istirahat.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku padanya. “Ah, aku sedang  berada di kantin. Ajussi, tolong berikan aku secangkir susu coklat.” balasnya sambil memesan minuman di kantin. “Kau sudah besar, kenapa begitu kekanakan? Minumlah kopi, sehingga kau terlihat lebih dewasa.”

“Kenapa aku tak boleh minum susu? Kenapa aku harus minum kopi? Kopi itu pahit, tahu!” ucapnya lagi dengan suaranya yang sangat khas. Dari seberang sana aku dapat mendengar dia mengucapkan terima kasih pada ajussi penjual minuman itu. “Tapi sebenarnya, kenapa kau menelponku?” tanyanya lagi.

“Ah, anio. Hanya ingin mengganggu makan siangmu.” ucapku, membuatnya menggerutu sendiri. “Ah, apa kau tahu?” ucapnya tiba-tiba dengan sangat keras, membuatku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. “Aigoo, jangan berbicara dengan keras seperti itu!” gerutuku padanya.

“Tapi ini penting! Tahukah kau? Para seongsaenim sudah menyadari perubahan pada dirimu. Bahkan mereka menanyakan padaku ‘Apa kau tahu kenapa dia berubah, Jihyunnie?’. Aigoo jinjja, pertanyaan yang benar-benar tak masuk akal.” Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Lalu kenapa kau tak katakan yang sebenarnya?” balasku, membuatnya terdiam sesaat. Kutebak, dia pasti sedang terdiam dengan wajah bingung. “Kalau ada yang bertanya seperti itu lagi, jawablah ‘Karena Sehun sudah memiliki sebuah alasan untuk pergi ke sekolah, yaitu Lee Jihyun.’.” ucapku tanpa ragu sedikitpun. Apa yang kuucapkan itu benar. Saat terakhir kali dia bilang ingin menjadi temanku, dia sudah menjadi alasan atas banyak hal dalam hidupku. Salah satunya, alasanku untuk tersenyum kembali.

“Maksudmu..?” ucapnya terbata-bata, membuatku tersenyum. “Jangan berpikiran yang macam-macam!” Aku tertawa kecil saat selesai mengatakan itu.

Justru aku yang berpikir macam-macam…

+++

Lee Jihyun’s POV

Aku menatap namja yang kini sedang tertidur nyenyak di tempat tidurku dengan kaget. Bahkan saat aku tak ada di rumah, dengan seenaknya dia tertidur di tempat kekuasaanku. Aigoo, namja ini selalu berhasil membuatku geleng-geleng kepala. Kadang aku merindukan saat-saat dia bertindak cool di depanku dulu..

“YA! Dasar gila! Bangun sekarang juga!” teriakku sambil menarik selimutku yang menyelimuti tubuhnya. Dia menggeliat di kasurku, membuat seprai yang baru saja kuganti menjadi berantakan. Kalau saja dia bukan temanku sejak kecil, aku sudah membakarnya hidup-hidup bersama kasurku. “Oh, neo wasseo.” ucapnya sesaat setelah membuka matanya, dengan santai tanpa rasa bersalah. “Kau ini benar-benar gila! Ini bukan kamarmu, aku sudah mengatakannya berkali-kali!” seruku dengan kesal, tapi dia hanya tertawa  kecil.

“Sebentar lagi ini menjadi tempatku juga, tinggal menunggu waktu.” Aku sibuk mencerna kata-katanya, tak mengerti. “Pertunangan kita.. tidak lama lagi, kan?” Ah, itu maksudnya. Pertunangan ini.. apa harus kurayakan dengan bahagia? Maksudku, apa pertunangan ini benar-benar karena aku masih memiliki rasa sayang padanya? Sebagai seorang yeoja?

“Baekkie-ya.. pertunangan itu, apakah sesuatu yang bisa terjadi meski tanpa berpacaran sebelumnya?” ucapku dengan pelan, membuat Baekhyun terdiam. Selama Luhan pergi sampai saat ini, hubungan kami tak lebih dari sekadar teman. Tidakkah aneh, kalau kami langsung bertunangan? Bayi yang berumur 5 tahun saat baru dilahirkan, tidak aneh?

“Lalu, maukah kau menjadi pacarku?” Aku menatapnya, tertegun. Tapi dia hanya tersenyum tenang. “Kalau kau mengatakan seperti itu, bukankah kita hanya perlu berpacaran saat ini?” Berpacaran.. apakah semudah itu?? Saat ini bukan masa remaja lagi, bukan saatnya bermain-main lagi. Aku, tak ingin bermain-main lagi..

“Sudahlah, tak usah dipikirkan.” ucapnya sambil membelai rambutku. “Bagaimana kalau kita pergi? Adikku akan berulang tahun sebentar lagi, maukah kau menemaniku membelikan hadiah untuknya?” Berulang tahun? Aku berulang tahun seminggu lagi.Jangan lupa berikan aku hadiah, Lee Jihyun! Aku mau sesuatu yang berwarna biru, jangan lupa!

“Baiklah. Ada seseorang yang akan berulang tahun sebentar lagi, seseorang yang kukenal. Ayo membeli hadiah bersama-sama, Baekkie!”

+++

Byun Baekhyun’s POV

“Baekkie-ya.. pertunangan itu, apakah sesuatu yang bisa terjadi meski tanpa berpacaran sebelumnya?”

Kata-kata itu masih saja terngiang-ngiang di kepalaku. Wajahnya saat mengatakan itu, membuatku tak bisa untuk melupakannya. Saat itu, dia benar-benar serius. Pertunangan, memang bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan untuk bermain-main. Pertunangan bahkan pernikahan adalah suatu hal yang harus didasarkan pada perasaan. Aku tahu.

Tapi, perasaannya padaku, tahukah aku? Meski aku selalu memaksakan diriku untuk berpikir dia menyukaiku, dia masih menyukaiku, tapi siapa yang tahu? Apa dia masih menyukaiku atau tidak, tahukah aku? Bahkan dalam hatiku yang paling dalam, selalu timbul perasaan itu. Apa terlalu egois, memaksanya untuk menyukaiku? Apa aku keterlaluan?

“Baekkie-ya, bagaimana dengan yang ini?? Cocok sekali dengan apa yang kau katakan mengenai adikmu, kan?” Suara Jihyun menyadarkanku dari lamunan menyedihkan itu. Aku melihatnya sedang memegang sebuah jaket berwarna hitam dengan corak seperti cipratan cat berwarna biru. “Kau bilang adikmu tinggi, putih, berbadan tegap, wajahnya tampan mirip dengan boyband-boyband di luar sana, kan? Kalau dia memakai ini, pasti dia akan terlihat sangat tampan!” Aku hanya tersenyum mendengarnya, membayangkan adikku memakai jaket ini. Pasti sangat keren sampai-sampai semua yeoja tersihir oleh ketampanannya, hehe..

“Baiklah, aku akan membeli jaket ini. Katamu kau juga mau membelikan muridmu hadiah?” ucapku sambil mengambil jaket itu. “Ah iya, aku sudah memutuskan untuk membelikannya jaket ini juga, yang berwarna biru dengan corak hitam. Keren, kan??” ucapnya dengan wajah berbinar-binar, sambil memegang jaket yang sama denganku.

“Menurutku lebih keren yang berwarna hitam. Ah, mungkin muridmu itu tak setampan adikku..” Dia menatapku dengan wajah merenung. “Dia putih, tinggi, tak banyak omong, dan sangat tampan. Dia bilang padaku untuk membelikannya sesuatu yang berwarna biru. Tapi, Baekkie-ya, kenapa adikmu itu dan muridku, sama-sama putih, tinggi, dan tampan? Apa saat ini sudah banyak namja tinggi dan tampan di dunia ini?”

“Kurasa kau hanya melebih-lebihkan ketampanannya. Tapi adikku memang benar-benar tampan, kurasa dia memiliki banyak fans di sekolahnya. Tapi dia sudah menyukai seseorang, aku juga tak tahu siapa yeoja itu. Tapi ini yang pertama, benar-benar yang pertama!” ucapku sambil mengambil jaket di tangan Jihyun, lalu membawanya menuju kasir.

“Jinjja? Wah, kalau begitu adikmu sudah besar. Tapi, dia sudah kelas 3 SMA kan? Kenapa dia baru pertama kali menyukai seseorang? Kurasa itu tak mungkin..” Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. “Yah, bisa kubilang dia spesies langka di dunia ini. Tapi ini benar-benar yang pertama. Tak ada hal tentangnya yang tak kuketahui. Kubilang, aku orang terdekatnya.”

“Tapi, selama ini aku tak pernah bertemu dengannya. Aku penasaran bagaimanakah adik yang selalu kau banggakan itu.” Aigoo, kalau saja Jihyun tahu betapa keras kepalanya dia. “Dia tak suka bertemu dengan orang lain, lagipula, aku takut kau akan jatuh cinta padanya begitu mengetahui betapa tampannya dia.” Mendengarnya, Jihyun memukul bahuku pelan.

“Tapi, mendengar ceritamu mengenai hubungan adikmu dengan eomma dan appa, seketika aku berpikir, ternyata banyak yah orang-orang yang memiliki hubungan buruk dengan orangtua mereka sendiri. Berapa banyakkah orang yang mengetahui rasa kesepian itu  di dunia ini?” Aku menatapnya tak mengerti. “Kau tahu, muridku yang kubicarakan itu?”

“Yang ingin kau tolong itu?” Dia mengangguk. “Kini aku mengerti, seberapa menyakitkannya itu hidup kesepian, aku bahkan tak dapat membayangkannya. Seorang yang masih berumur 18 tahun seperti dia, bahkan memiliki pengalaman yang lebih menyedihkan dariku. Mendengar ceritanya, membuatku merasa malu. Selama ini aku menangisi hidupku, segala kesedihan itu, sebenarnya untuk apa? Bahkan dia lebih menyedihkan dariku, tapi dia tak terlihat rapuh. Saat dia menangis, dia terlihat benar-benar memesona. Air mata yang ia keluarkan, membuktikan betapa tegarnya dia. Tapi yang selama ini aku keluarkan, membuktikan seberapa memalukannya aku.”

Aku tak begitu mengerti apa yang ia katakan. Tapi dari ekspresinya mengatakan itu, itu pasti punya arti yang sangat dalam untuknya. “Baekkie-ya, ingatkah kau? Saat itu, kami berempat datang ke mall ini, merayakan hubunganmu dengan Sena. Saat itu kita makan di restoran ini.” Aku bahkan tak sadar mall ini membawa kenangan untuknya. Aku lupa. Dan kini kita bahkan sudah berada di depan restoran sushi yang tak berubah sejak bertahun-tahun lalu.

“Ah, mianhae. Aku lupa tempat ini tempat terlarang untuk kita. Ayo kita segera pulang.” ucapku sambil menarik tangan Jihyun, seketika merasa bersalah melihat mata Jihyun yang sudah berkaca-kaca. Tapi dia menahan lenganku, sambil tersenyum. Meski air mata sudah ada di pelupuk matanya, dia masih tersenyum terpaku pada sebuah meja yang selalu kami duduki.

“Aku ingin makan di sini, aku mohon.” Jika sudah seperti ini, tak ada yang dapat kulakukan. Dalam hati aku menyesali kebodohanku sendiri. Padahal aku tak pernah mengajaknya ke tempat kenangan kami sejak saat itu. “Mejanya sudah diduduki orang, Baekkie..” ucap Jihyun dengan kecewa sambil menghapus air matanya yang jatuh. Aku melihat seorang yeoja yang duduk sendirian di meja itu, dalam hati berpikir, sopankah kalau aku memintanya pindah tempat?

Tapi belum sempat aku melakukan itu, dia menengok ke arah kami. Dan dia menatap kami dengan mata hampir keluar dari tempatnya, sama dengan ekspresi Jihyun saat ini. “Se…Sena-ya.”

+++

Lee Sena’s POV

Aku masih menatap kedua orang yang kini sudah duduk di depanku dengan tak percaya. Hari ini, saat aku baru saja mendarat ke Korea setelah sekian lama, aku merindukan tempat ini. Tak terpikir dapat bertemu dengannya. Dan aku terus memerhatikan Jihyun yang menatap kosong kursi di depannya, yang tak terisi oleh siapapun. Wajahnya terlihat menahan tangis. Aku mengerti apa yang dirasakannya.

“Bagaimana kabarmu, Jihyun-ah?” tanyaku pada akhirnya, tapi dia tampaknya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Lalu mataku tertuju pada namja yang duduk di sebelahnya, yang kini sedang menatapku. Terasa asing, wajahnya, matanya, rambutnya, kini terasa asing. Sudah 4 tahun berlalu, aku harus sadar tak ada yang sama lagi.

“Bagaimana kabarmu, Baekkie?”ucapku pada akhirnya. “Aku.. baik-baik saja, bagaimana denganmu? Sudah lama berlalu, kau tampak berubah, Sena-ya.” Aku tersenyum mendengarnya. Bukan hanya berubah, aku seakan menjadi orang lain. “Aku terlihat lebih dewasa saat ini, benar kan?” tanyaku berusaha bercanda padanya. Ingin sekali aku mengatakan padanya, ‘Aku berubah agar kau dapat menyukaiku lagi, karena selama ini aku tetap menyukaimu’.

“Iya, kau terlihat lebih elegan. Dan pakaianmu, sudah tak kekanak-kanakan lagi.” Aku tersenyum mendengarnya. “Sena-ya, aku merindukanmu.” Aku menoleh ke arah Jihyun, yang kini menatapku sambil memaksakan senyum. “Maafkan aku, disaat kita bertemu kembali, bersikap seperti ini. Hanya saja, berada di sini tanpanya, ini tak mudah..”

“Gwenchana, aku mengerti.” ucapku, tak tega melihat wajahnya yang terlihat sangat menyedihkan saat ini. Saat Luhan pergi, aku bahkan tak dapat menemuinya untuk mengucapkan maaf dan selamat tinggal. Dia benar-benar mengurung diri di kamarnya, selama seminggu tak makan dan minum apapun. “Lulu, apa yang kau lakukan sekarang? Saat ini Sena sudah kembali, kau.. dapatkah kau kembali?”

Mendengarnya, kurasa air mata hampir jatuh dari mataku juga. Apalagi saat melihat Baekhyun memeluk Jihyun, ingin rasanya aku berlari dari sini. Aku tak akan pernah merebut Baekhyun lagi, tapi.. perasaan itu tetap tak dapat hilang kan? Saat orang yang kau suka memeluk orang lain, meski itu sahabat terbaikmu yang sedang menangis, tetap terasa meyakitkan..

“Anio, gwenchana, Baekkie. Tak perlu seperti ini.” ucap Jihyun dengan suara sengau, lalu melepaskan pelukan Baekhyun yang masih terlihat khawatir. “Apa kau mau pulang sekarang?” tanya Baekhyun khawatir, tapi Jihyun hanya menggeleng. “Bagaimana dengan Sena? Aku benar-benar tidak apa-apa. Mianhae, tadi aku kehilangan kontrol. Hanya saja, tempat ini membawa kenangan..” Bagiku, tempat ini juga tempat yang penuh kenangan. Saat berada di sini, kenangan itu seakan-akan kembali lagi padaku. Aku mengerti. Aku sangat mengerti.

“Lalu, maukah kau pulang bersamaku? Sudah lama kita tak bertemu, pulanglah bersamaku, Jihyunnie!”

+++

Lee Jihyun’s POV

“Mianhae, sebenarnya mengantarmu pulang hanyalah sebuah alasan..” Aku menatap Sena yang kini sedang membawa mobilnya. “Melihat orang itu, berada di tempat itu, kenangan-kenangan itu, membuatku mengingat semuanya. Sama denganmu, aku ingin kabur dari tempat itu.” ucapnya sambil menatapku sesaat, lalu kembali fokus pada mobil di depannya.

“Baekkie bilang, kau sudah tak menyukainya lagi.” ucapku, mengingat ucapan Baekkie beberapa saat lalu. “Ah, itu. Kau ini benar-benar bodoh! Mana mungkin aku mengatakan aku masih menyukainya, itu hanya akan membuat hubungan kami semakin canggung. Lagipula, suka atau tidak, sudah tak ada kemungkinan lagi aku dapat bersama dia, kan? Maka itu sama saja.”

“Aku jadi merasa bersalah padamu..” ucapku. “Anio, tak perlu merasa bersalah. Sejak awal aku yang sudah merebut dia darimu, kan? Dia sangat menyukaimu, sangat khawatir padamu, bagaimana mungkin aku menyalahkanmu kalau dia tak menyukaiku.”

“Kau tahu, Sena-ya? Awalnya, aku pikir aku dapat hidup seperti di film-film. Kupikir aku akan terus mencintainya seumur hidup meski dia sudah tak ada di dunia lagi. Tapi, aku salah. Menyakitkan, terus berpikir untuk tak melupakannya. Tapi memaksa diriku untuk melupakannya, itu lebih menyiksa bagiku.” ucapku sambil menatap lurus ke depan.

“Kalau begitu kita sama..” Aku menoleh, menatap Sena yang kini juga sedang menatapku sambil tersenyum sedih. “Kurasa, tak ada wanita di dunia ini yang ingin ditinggalkan. Saat Baekkie meninggalkanku, itu sangat menyakitkan. Kadang aku berpikir, apa yang terjadi padamu lebih menyenangkan daripadaku. Saat Luhan pergi, dia masih mencintaimu. Tapi aku, dia bahkan tak pernah menyukaiku. Suatu saat aku pasti akan bertemu dengannnya lagi, sejauh apapun aku bersembunyi darinya. Saat dia muncul di depanku lagi, segala kenangan yang sudah kulupakan pasti akan kembali lagi. Tapi kau, kau takkan bertemu dengannya lagi.” Aku tertegun.

“Menghindari Baekhyun sampai pergi ke luar negeri, aku merasa bodoh. Aku sendiri masih ingin tertawa pada diriku sendiri, bahkan saat ini. Setelah menjalani hidup bodoh selama 4 tahun, semuanya tetap kembali seperti semula saat aku menemuinya. Dan aku sadar, sejak awal aku tak pernah berhenti menyukainya. Rasanya seperti, dunia terus berjalan saat hanya aku sendiri yang berhenti di tempat yang sama.”

“Saat dia pergi, kurasa hal yang sama terjadi padaku. Semua orang berjalan terus sedangkan aku hanya terduduk diam sambil menangis. Dan saat aku tersadar, semuanya sudah berubah. Manusia, bumi ini, semuanya sudah berubah dan aku tak pernah menyadarinya..” ucapku sambil tersenyum pedih. Kurasa, semua wanita pernah merasakannya. Perasaan ditinggalkan dan dilupakan, sedang yang bisa dilakukan hanyalah menangis tak dapat melupakan.

“Aku sudah mengunjungi makamnya..” ucapku pelan, tapi aku tahu Sena kini memandangku dengan sedikit kaget. “Jinjja? Kupikir sampai detik ini pun kau tak berani untuk pergi ke makamnya, mengingat apa yang terjadi padamu saat dia pergi.” Aku menyetujui ucapannya. Kalau tak ada Sehun, sampai kapanpun aku tak akan berani pergi ke makamnya. Itu membuatku harus mengakui ketidak-adaannya di dunia ini lagi dan aku tak ingin mengakuinya.

“Ternyata Baekhyun sudah benar-benar berusaha membuatmu melupakannya, yah. Syukurlah, aku benar-benar khawatir saat di Amerika, tapi aku tak berani untuk menelponmu.” ucap Sena lagi, membuatku mengerutkan kening. “Bukan Baekkie yang membawaku pergi ke makamnya..” ucapku, membuat Sena kini menatapku lagi dengan kaget.

“Kau.. pergi sendiri?” tanyanya dengan suara yang terdengar sedikit menyeramkan. “Melihat apa yang kau lakukan barusan, itu bukan tanda-tanda seseorang yang sudah melupakan orang yang telah pergi kan? Bagaimana mungkin??”

“Aku pergi dengan muridku, ani.. temanku.” ucapku dengan tulus. “Siapa orang itu?” tanya-nya seakan meng-interogasi tersangka pembunuhan. “Orang yang menyadarkanku kalau aku bukan satu-satunya orang yang menderita karena masa lalu sendirian.”

“Saat ini, dia salah satu orang penting dalam hidupku. Karena dia temanku..”

+++

Bersambung

 

Iklan

12 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s