Hello Precious! (Chapter 3)

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#3 Nice to Meet You

Title : Hello Precious!

Subtitle : Nice to Meet You

Author : Sugarplum

Genre : Romance, Drama, Fluff, Sad

Rating : T

Length : Chaptered

Main Cast :

  • Ahreum (T-ara),
  • Kai (Exo-k),
  • Suho (Exo-k),
  • Krystal (f(x)),
  • Naeun (A-pink)

Support Cast :

  • Other Exo-k member
  • Son Naeun, Woohyun as Ahreum’s bestfriend
  • Sehun as Krystal’s cousin
  • Shindong as Ahreum’s Appa
  • Kangin as Kai’s Appa
  • Sayumi as Kai’s Umma
  • Jung Yunho

coverrhpre__ (3)

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

“Sikap Soojung sudah kelewat batas, Hun.”lanjut pemuda bermata bulat itu.

                “Maksudmu?”

                “Sebelum liburan kemarin, Ahreum sempat menjadi bahan gunjingan sekolah kita, karena Soojung sudah mempermalukannya di depan umum. Menyangkut masalah Ahreum yang sudah tak memiliki eomma.. dan dia hanyalah anak seorang sopir dan pelayan.”

 

                Deg

                “Eomma?” Sekejap Sehun merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia juga tak memiliki ibu seperti Ahreum. Bahkan ayah. Yang ia panggil ayah selama ini hanya tangan kanan tuan Jung. Si manajer Oh. D.o yang tahu perubahan raut muka Sehun memilih untuk diam. Membiarkan pemuda dengan dua kepribadian itu mencerna kata-katanya tadi.

 

3rd

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

.

 

Ahreum berlari menghindari percakapan dua pemuda tadi. Sudah cukup. Ia tak ingin membahas masalah Krystal. Awalnya ia tak apa walaupun Krystal bertindak semena-mena, namun saat menyangkut masalah orang tuanya—ibu Ahreum yang sudah meninggal dan juga ayahnya—di depan umum sungguh menyakiti hati gadis manis itu.

Brak

Tepat di belokan koridor Ahreum menabrak seorang namja yang tengah membawa beberapa tumpukan kertas dan buku-buku. Alhasil, semua barang itu berjatuhan.

“Maaf.”ucap namja itu sambil mengulurkan tangannya. Melihat malah Ahreum sendiri yang jatuh akibat ulahnya. Berlari tanpa melihat ke depan.

“Eoh? Ah, mianhae. Harusnya aku yang minta maaf.” Ahreum berkata sambil menerima uluran tangan pemuda di depannya. Tak lupa ia membungkuk maaf. “Ah, barang-barangmu.”histeris Ahreum lalu mulai mengumpulkan satu per satu lembaran kertas serta buku-buku tadi.

Gomawo.”ujar pemuda itu begitu semua buku dan kertas itu kembali ke tangannya.

Cheonmaneyo.”balas Ahreum sambil menatap pemuda di depannya. Matanya langsung membulat kaget. Sama dengan pemuda di depannya.

“Kau.. pelayan di rumah Sehun, bukan?”tanya lelaki itu.

Nde sunbaenim.”jawab Ahreum begitu melihat tanda di seragam lelaki itu. Tak lupa ia juga membaca name tagnya. Kim Joon Myun.

 

“Aku Suho.”lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Ahreum imnida.” Ahreum membalasnya cepat. Ia tahu Suho, lelaki yang kemarin datang ke kamar Sehun. Suho melihat tanda di seragam Ahreum.

“Bukankah kau murid kelas 10? Kenapa bisa sampai di koridor kelas 11?”tanya Suho. Ahreum yang bingung langsung melihat sekelilingnya. Benar. Itu koridor kelas 11, dan tampak asing di matanya.

“Ah aku ..” gadis itu menggaruk rambutnya sambil tersenyum malu. Suho tertawa melihat itu. “Sepertinya aku tersesat sunbaenim.”lanjut pelan Ahreum menundukkan kepalanya. Suho tersenyum geli. Gadis yang unik. Pikir pemuda dengan senyum malaikat itu.

 

Suho lantas melihat jam tangannya. Sudah hampir waktu masuk kelas lagi.

Ja! Cepat kembali ke kelasmu sana. Sebentar lagi masuk.” Suho mengacak poni Ahreum lalu mulai berjalan meninggalkan gadis itu. kembali ke ruang Osis. Ahreum terdiam sambil memegangi rambut depannya itu.

Sebenarnya Suho masih ingin bicara banyak dengan gadis itu, sayangnya pekerjaannya di Osis tak bisa ditinggalkan begitu saja. Ahreum yang masih bingung langsung melirik jam tangannya.

“Aa~h, sunbaenim aneh sekali. Waktu istirahat kan masih lama.”gumam Ahreum.

 

Gadis itu lantas meninggalkan koridor kelas 11. Ia berjalan sendirian menuju tempat favoritnya setelah atap gedung kelas 10, halaman belakang sekolah. Biasanya siswa yang lain hanya bersantai di taman, padahal setelah melewati taman, di belakang sekolah ada sebuah bukit yang pemandangannya cukup indah.

“Ah, sudah lama sekali aku tidak kemari.”ujar Ahreum lalu mulai bersandar di bawah pohon apel favoritnya. Beberapa pohon memang tumbuh besar di sana. Seperti pohon maple, apricot dan pohon ek tua di sebelah pohon apel itu.

Tuk

“Ahh!”

 

Gadis itu menjerit pelan. Ahreum mengelus dahinya. Ia melihat sebuah apel jatuh tepat di pangkuannya. Ya, walaupun mengenai dahinya tadi. Segera ia mendongak.

 

Deg

Matanya bertemu dengan orbs kelam milik seorang lelaki yang sepertinya ia pernah bertemu. ‘Itu Kai yang bersama nona Soojung tadi?’pikirnya. Tampak Kai sedang menikmati apelnya di atas pohon yang tingginya sedang itu.

“Yah! Apa yang kau lakukan? Seenaknya saja melempar apel ke dahiku!”omel Ahreum sambil berdiri dan mengacung-acungkan buah apel tadi.

“Aku hanya berbagi, apel ini enak.”jawab Kai santai. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.

 

Bruk

Kai turun tepat di depan Ahreum, membuat gadis itu harus mundur selangkah hingga punggungnya menabrak lembut pohon apel itu.

“Ta-tapi tidak usah melempar seperti itu kan juga bisa..”balas Ahreum sedikit gugup. Kai yang mengetahui gelagat gadis di depannya ini langsung memamerkan smirknya. Ahreum bertambah gugup. Pasalnya jarak keduanya tak bisa dibilang jauh. Dekat.

“Maaf.”ujar Kai tetap dengan senyumnya. “Mengenai dahimu ya? Hmm..” Ia memperhatikan dahi Ahreum lalu menyingkirkan poninya. Sedikit merah memang. “Pasti sakit.”lanjutnya lalu mengelusnya dengan ibu jari.

 

Deg

                Deg

Ahreum yang diperlakukan seperti itu hanya mampu menahan napasnya. Memandangi Kai yang sepertinya serius dengan dahinya. ‘Sudah tidak terlalu sakit, kurasa. Tapi.. bukankah dia seharusnya sedang bersama nona Soojung?’batin Ahreum. Kai yang merasa diperhatikan balik memandang Ahreum, gadis yang lebih pendek darinya.

“Jangan memandangiku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta padaku, nona..”goda Kai. Buru-buru Ahreum mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Tidak! Dasar ge-er!”balas Ahreum cepat. “Siapa juga akan yang jatuh cinta padamu..”lanjut Ahreum pelan.

“Kau bilang apa?” Kai semakin mendekatkan wajahnya.

“Tidak ada..”cicit Ahreum.

“Kau bilang tak akan jatuh cinta padaku, hmm?”goda Kai semakin menjadi-jadi. Oh, sepertinya jiwa kelinci berdasi Kai mulai bangkit.

“Ne. Lagipula satu sekolah juga tahu kau akan bertunangan dengan Jung Krystal, bukan?” Ahreum mencoba bersikap biasa. Dan baru kali ini ia memanggil Krystal tanpa embel-embel ‘nona’.

“Jadi.. Kalau aku tidak bertunangan dengan Krystal, kau akan jatuh cinta padaku? Begitu?”

“Eh?”kaget Ahreum. Ia tidak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan pemuda di depannya kini. Ia hanya menatap Kai dengan tatapan polosnya. Kai tersenyum melihat ekspresi itu.

 

“Akan ku buat kau jatuh cinta padaku, kalau begitu..”ujar Kai berbisik tepat di telinga Ahreum. Gadis itu membulatkan matanya. Lelaki itu pun mulai mendekatkan wajahnya hingga membuat Ahreum menutup mata. Sejenak Kai diam. Entah mengapa jantungnya sedikit berdegup kencang di dekat gadis ini. Ia memandangi wajah Ahreum.

Mata bulat yang terpejam karena takut. Pipi yang sedikit chubby, hidung mancung dan bibir dengan warna merah jambu. Seluruhnya, gadis di depannya itu benar-benar cantik. Natural. Tak bisa dilewatkan begitu saja, bukan? Tangan yang ia gunakan untuk mengelus dahi Ahreum tadi ia angkat untuk membelai pipi chubby Ahreum. Namun, ia hanya mengepalkan tangannya di udara begitu saja. ‘Ini salah,’batinnya.

Orbs kelam milik Kai menurunkan pandangannya pada name tag di seragam Ahreum. Membaca nama gadis itu.

 

“Hei. Lee Ahreum, sampai kapan kau mau disitu. Bel masuk sudah berbunyi.”

 

Kai mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut. Ahreum sontak membuka matanya. Melihat sosok Kai yang terlihat menjauh. Ia merasa malu karena dengan mudahnya ditipu Kai begitu saja.

“Dasar!”

“Apa?”

“Kau menyebalkan!!”teriak Ahreum menyusul Kai untuk meninggalkan tempat tersebut. Lagi pula, si pemuda itu kan baru pindah. Kenapa bisa tahu tempat seperti ini di sekolahan.

“Aku? Hei, jangan-jangan kau berpikir aku akan menciummu ya tadi?” Kai kembali menggoda Ahreum sampai pipi gadis itu merona merah. Malu.

“Ti-tidak!”

“Ah, lalu kenapa kau menutup matamu tadi nona Lee Ahreum??”

“A-aku—aku.. eumm itu..” Ahreum kesulitan menjawab saking gugupnya.

“Dasar, kelinci mesum.”ujar Kai.

“Yah! Kau benar-benar menyebalkan!!”

 

Gadis itu langsung berlari. Meninggalkan Kai yang terkekeh melihat tingkahnya tersebut.

 

Ketika Ahreum kembali ke kelasnya, hanya ruangan kosong yang ia dapati. Tinggal tas dan beberapa barang milik teman-temannya. Gadis itu mengumpat kecil mengingat sekarang adalah jam pelajaran seni suara. Tentu saja kelas mereka pindah di ruang musik. Ahreum segera mengambil bukunya dan langsung menuju ruang dimana siswa kelas 10-7 berada.

Songsaenim, maaf aku terlambat.”ujar Ahreum begitu dirinya masuk ke ruang seni. Tapak Guru Shim menyunggingkan senyumnya.

“Nah, baiklah sebagai pembukaan pelajaran kita kali ini, Lee Ahreum kau mainkan piano itu dan aku yang akan memainkan benda ini.” Guru Shim Changmin—guru musik sekaligus wali kelas 10-7—berkata sambil menunjuk cello yang berada di depannya. Mata Ahreum membulat sempurna.

“Aku?”

“Iya, Lee Ahreum cepat mainkan grand piano itu.”titah Changmin.

 

Ahreum tampak ragu, namun ia tetap berjalan menuju grand piano hitam tersebut. Tampak di depannya terdapat lembaran not balok, petunjuk lagu apa yang harus ia mainkan. “Thousand years milik Christina Perri?”tanya Ahreum pada Changmin. Gadis itu mencoba menawar. Changmin mengangguk dan membuat hitungan untuk memulai.

Duet keduanya hampir sama seperti dua orang anggota the piano guys, John Schmidt dan Bourne Vivaldi. Semua siswa kelas 10-7 mendengarkan duet itu dengan sepenuh hati. Mata mereka bergantian tertuju pada Ahreum maupun guru Shim Changmin. Sehun tak menyangka kalau Ahreum bisa memainkan grand piano semahir itu. Ia juga suka dengan piano.

Begitu selesai, semua murid kelas itu memberi tepuk tangan untuk duet yang memukau siang ini. Dan Ahreum pun dipersilakan duduk oleh guru Shim.

“Kemampuan bermain piano mu semakin bagus Lee Ahreum.”komentar Changmin yang ternyata juga mendengarkan dengan baik.

Gamshahamnida sonsaeng.”balas Ahreum.

Gadis itu pun mengambil tempat duduk di sebelah Naeun dan Woohyun serta Sehun. Changmin pun mulai memberikan materinya untuk pertemuan kali ini.

“Kau dari mana saja bisa telat begitu?”tanya Naeun berbisik. Ahreum jadi kembali memngingat kejadian memalukan tadi bersama Kai.

“Nanti ku ceritakan.”jawab Ahreum malas.

 

“Baiklah, untuk 2 minggu kedepan kalian harus berpasangan dalam bermain piano. Kalau semester satu dulu kalian solo maka sekarang kalian harus bisa berduet dalam memainkan benda itu.”jelas Changmin sambil menunjuk grand piano hitam yang dimainkan Ahreum tadi.

Beberapa murid mulai heboh mencari pasangan untuk test tersebut. Changmin menghela napas berat. Selalu saja kelas ini ribut. “Diam.”ujar Changmin. “Siapa pasangannya aku yang menentukan. Tidak usah ribut, kalian ini.”lanjutnya.

“Tapi guru, kalau guru yang memilihkan bagaimana bisa kami menjalin chemistry?”tanya si ketua kelas, Lee Taemin.

“Ya, maka dari itu, sebenarnya hal itulah yang menjadi tujuanku membuat test seperti ini. Agar kalian lebih akrab, tidak memilih-milih teman dalam bergaul.”jawab Changmin.

Maka begitu mendengar penjelasan Changmin, kelas menjadi seperti semula. Tak ada lagi yang ribut mencari pasangan untuk test tersebut.

“Permainan piano mu tadi bagus sekali.”ujar Sehun. Lelaki itu kini mendekati Ahreum yang tidak ikut murid lain bergantian bermain grand piano.

Gomawo.”balas Ahreum. “Dari kecil aku begitu menyukai benda itu, sih.”

“Benarkah? Aku juga menyukai piano sejak aku kecil dulu.” Sehun menambahi.

“Lagu apa yang sering kau mainkan? Kalau aku suka—”

 

“Beethoven.”ujar keduanya bersamaan. Keduanya saling pandang, lalu tertawa.

==========

HELLO PRECIOUS!

========

 

“Bagaimana hari pertama masuk ke sekolah?”tanya Shindong begitu Ahreum selesai menyiapkan semua makan malam di meja.

“Cukup menyenangkan dan.. menyebalkan.”ujar Ahreum. Pertanyaan ayahnya kembali lagi-lagi mengingatkannya dengan kejadian bersama lelaki ber-orbs kelam tadi. Membuatnya ingin segera mengunyah secara brutal jajangmyun di depannya. Seandainya jajangmyun itu Kai.

“Menyebalkan?”heran Shindong.

“Ah, sudahlah appa. Jangan tanyakan hal itu.”rengek Ahreum sambil memanyunkan bibirnya. Shindong tersenyum. Sepertinya gadis kecilnya dulu sudah beranjak dewasa, kini.

“Baiklah, baiklah. Kajja, kita makan sebelum ini dingin.”ajak Shindong.

 

Ahreum mengangguk dan mulai menyumpit jajangmyun di mangkuknya. Setelah makan malam, Shindong langsung menyuruh Ahreum belajar dan mengambil alih pekerjaan mencuci piring.

“Iya, aku akan belajar appa. Terimakasih sudah mengambil alih tugas rumahku.” Ahreum memeluk Shindong sebentar sebelum masuk ke kamarnya.

 

Rumah Ahreum dan Shindong yang tidak terlalu besar hanya memiliki tiga buah kamar. Kamar Shindong, Ahreum dan satu lagi kamar tamu yang digunakan untuk menyimpan barang-barang lainnya, jarang dipakai. Ahreum duduk di meja belajarnya yang berhadapan langsung dengan jendela. Letak kamarnya yang agak tinggi membuatnya dapat melihat bintang dari jendela kaca yang cukup besar itu.

Langit dan bintang-bintang menjelang musim panas. Ahreum membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam masuk ke ruangan itu melalui jendela tersebut. Korden bermotif bunga kecil-kecil yang menghiasi jendelanya bergerak mengikuti hembusan angin. Gadis itu mengeluarkan buku pelajarannya tadi. Ia teringat bagaimana dengan mudahnya Sehun mengerjakan soal matematika tadi. Ia jadi merasa sangat bodoh.

“Padahal hanya soal seperti itu, dasar otak kecil.”gumamnya sambil mengetuk-ngetukkan pensil ke kepalanya.

 

Gadis itu membuka laci meja belajarnya. Mengambil sebuah buku berwarna cokelat dan hitam, ada gambar teddy bear di depannya dan tulisan Ahreum’s Notebook. Bisa dibilang itu buku diary milik gadis manis tersebut. Hampir setengah isi dari buku itu penuh dengan tulisan Ahreum. Ia menulisnya sejak sekolah menengah pertama di Mokpo. Desa kecil pinggir laut di Korea Selatan. Sampai akhirnya Shindong membawanya ke Seoul.

“Aku ingin sekali bertemu dengan eomma. Bahkan aku tak tahu seperti apa wajah eomma ku, appa tak pernah mau bercerita tentang itu.”ujar Ahreum sambil melihat bintang.

 

Ia pun mulai menulis kembali di buku tersebut. Sesekali ia bersenandung lalu kembali melihat bintang dan menulis lagi. Sampai ia rasa ia sudah lelah, dan memilih menutup jendela, korden lalu beranjak tidur.

“Selamat malam.”

 

.

Hello Precious!

.

 

Hyung!”

 

Dengan seenak hati Kai menyelonong masuk ke kamar Suho. Sambil membawa PSP di tangannya ia masuk dan langsung merebahkan diri di kasur kamar Suho. Suho tampak gusar dengan kelakuan adiknya, tapi ia hanya menghela napas.

“Ada apa?”tanya Suho. Pemuda dengan senyum malaikat itu tengah sibuk dengan notebooknya. Selalu ada saja tugas dari kelas maupun Osis yang ia kerjakan.

“Kau tahu hyung, tadi aku bertemu dengan gadis yang aneh.”jelas Kai sambil tertawa mengingat kejadian dimana ia menggoda Ahreum.

“Gadis? Ku kira kau tak akan tertarik dengan gadis lain selain putri bangsawan Jung.”balas Suho. Kai langsung melemparkan bantal ke arah Suho.

“Sigh! Jangan memulai hyung.”kesal Kai.

“Aku juga bertemu gadis yang unik tadi.” Suho ikut-ikutan bercerita.

“Hmm.”balas Kai mulai serius dengan game di PSPnya. “Oh iya, itu proposal apa yang sedang kau kerjakan?”tanya Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar PSP ditangannya.

“Ini proposal untuk acara libur musim panas sekolah kita.”jawab Suho. Kai tampak penasaran.

Pemuda itu langsung mem-pause permainannya.

“Acara musim panas? Bukankah tahun-tahun sebelumnya hanya mengadakan festival?”

“Iya, kau tidak tahu kalau sekolah kita menggadakan acara di Jeju?”jelas Suho.

“Jeju?”tanya Kai lagi. Suho mengangguk.

“Seperti acara summer camp, tapi sebenarnya hanya mendukung salah satu murid yang mengikuti lomba surfing. Entahlah, Kris mengajukan acara yang aneh-aneh tahun ini.”komentar Suho.

“Begitu. Pesertanya?”

“Jelas seluruh siswa lah Kai, kau pikir hanya kelas unggulan saja yang akan ikut.”jawab Suho. Pemuda itu menutup program yang ia gunakan untuk mengerjakan proposal. Tanda bahwa proposalnya sudah selesai. Kai mengangguk. “Asal kau tahu, acara summer camp itu didominasi oleh kelas D.”lanjut Suho.

“Cih! Kelas D, pasti tidak menarik.” Kai kembali tiduran dan melanjutkan game nya.

“Lihat saja seminggu lagi.”ujar Suho. Pemuda itu keluar dari kamarnya sambil membawa notebook tadi. Sepertinya ia akan melaporkan proposal itu kepada ayahnya. Pemilik SMA Hanlim.

 

.

Hello Precious!

.

 

 

Kabar sudah disetujuinya acara summer camp sudah menyebar di seluruh sekolahan. Para murid kelas kualifikasi D mulai sibuk menyambut acara tersebut. Tak terkecuali di kelas Ahreum.

“Mungkin acara summer camp ini bukan acara kelas, tapi acara klub.”ujar Taemin yang tengah berdiri di depan kelas.

“Tapi, tidak semua murid kelas D ikut klub seni.”timpal salah satu murid.

“Iya aku tahu. Lalu apa sebaiknya kita juga menampilkan sesuatu untuk acara finalnya?”tanya Taemin.

 

“Boleh.”

 

“Ya aku setuju.”

 

“Baiklah. Yang memiliki usul langsung saja bicarakan padaku.”lanjut Taemin.

 

Seisi kelas mulai gaduh memikirkan apa yang akan mereka tampilkan di acara final summer camp. Ahreum pun juga ikut memikirkan hal itu.

“Reum-a kau mau mengajukan usul?”tanya Naeun.

“Aku rasa aku bergabung dengan klub musik untuk acara itu jadi~”

“Kau tak bisa ikut penampilan kelas?”tanya Naeun. Lebih tepatnya menebak. Ahreum mengangguk.

“Ahh jinjja..”Naeun menghela napas.

“Kenapa? Bukankah kau selalu ada tugas jurnalistik?”

“Bukan. Kali ini aku tidak akan ikut tugas itu karena ingin tampil bersama yang lain di acara final.”jawab Naeun.

“Hey. Ahreum, Naeun chagi!”Woohyun yang baru masuk kelas bersama Sehun langsung berteriak memanggil dua gadis itu.

“Ada apa?”tanya Ahreum dan Naeun. Woohyun dan Sehun pun langsung duduk di bangku masing-masing. Tapi bangku tersebut dihadapkan ke bangku dimana Ahreum dan Naeun duduk berdua.

“Aku tadi rapat klub Scout. Di acara summer camp nanti akan ada penjelajahan lho.”jelas Woohyun.

“Iya. Aku tadi menemani Woohyun menghadap ketua klub itu.”Sehun menambahi.

“Sepertinya kegiatan ini akan menyenangkan.”ujar Woohyun lagi.

“Aku benci klub Scout.”komentar Naeun.

 

                Kring Kring

 

Bel istirahat berbunyi. (Ini kapan masuknya? Wekwek—author) Ahreum langsung pamitan pada teman-temannya untuk ke ruang klub musik. Ia mendapat diberitahu kemarin kalau klub musik akan berkumpul.

Annyeong.”sapa Ahreum.

 

Tampak semua anggota klub musik sudah datang. Begitu datang Ahreum langsung dipanggil oleh sang ketua, Byun Baekhyun.

“Lee Ahreum!”panggil pemuda itu. Ahreum berjalan mendekat.

“Iya oppa?”tanya Ahreum. Ia memang sudah akrab dengan pemuda tersebut.

“Kau kebagian menyanyikan lagu ini.” Baekhyun menyerahkan selembar kertas pada Ahreum. Kertas yang sudah pasti bertuliskan sebuah lagu dan not baloknya.

“Thousand Years-nya Christina Perri?”tanya Ahreum tak percaya. Bukankah lagu ini adalah favoritnya.

“Iya, betul sekali. Kau suka lagu itu bukan? Klub kita dipakai sebagai pengiring di drama musikal untuk summer camp.”

“Drama musikal? Pemerannya?”

“Iya, Romeo dan Juliet versi vampire. Tentu kau tau Edward Cullen dan Bella Swan di film Twilight kan?  Klub teater yang memerankan.”jawab Baekhyun. Ahreum hanya bisa ber-oh-ria. “Oh iya, Chanyeol akan mengiringimu dengan gitar, tapi kau juga butuh pemain piano.”lanjut Baekhyun.

“Kan ada kau, oppa.”cetus Ahreum.

“Kali ini aku akan berduet dengan kelas lain, Reum-a, jadi aku tak bisa.”

“Apa tak ada temanmu yang bisa bermain piano?”tanya Chanyeol.

“Eumm, ah! Ada!”

“Baiklah, berlatihlah untuk minggu depan.” Baekhyun mengacak rambut Ahreum. Ia menggerai rambutnya begitu saja hari ini. Pemuda itu langsung membagikan lembaran-lembaran pada anggota lainnya.

Arra. Jadi kapan bisa berlatih oppa?”tanya Ahreum pada Chanyeol.

“Terserah, aku selalu ada di ruang musik saat istirahat dan pulang sekolah.”jawab Chanyeol. Ahreum mengangguk.

“Nanti akan aku tanyakan dulu pada temanku ya.”

Ahreum membungkuk sebagai tanda pamitan. Ia pun keluar dari ruang musik. Menyandarkah punggungnya di pintu sambil melihat kertas yang dibawanya.

“Sehun.”gumamnya sambil menghela napas.

 

Ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas. Ahreum baru menyadari kalau ia membawa bekal makan hari ini. Suasana kelas cukup sepi, hanya ada beberapa pengurus kelas termasuk Taemin yang terlihat sibuk. Begitu ia sudah mengambil bekalnya, ia pun pergi ke bukit di belakang sekolah. Tempat yang menurutnya dapat menenangkan.

Ahreum kembali duduk di tempatnya kemarin. Di bawah pohon apel. Ia menengok ke atas. Tidak ada lelaki yang melemparinya dengan apel  kemarin. Ia menghela nadas lega. Berarti hari ini benar-benar hari tenang untuknya. Ia pun membuka kotak makannya, terlihat nasi, telur dadar dan kimchi. Ia tersenyum mengingat Shindong yang tadi bangun pagi-pagi untuk membuatkannya ini. Apa lagi ada taburan rumput laut kering berbentuk tulisan “Hwaiting!” di nasinya.

“Whoaa, appa, neomu gomawo.”ucapnya lalu mulai memakan bekalnya itu. Sesekali dia bersenandung lagu yang akan ia nyanyikan nanti.

“Kelihatannya bekalmu enak, nona.”ucap sebuah suara yang mendadak membuat Ahreum menghentikan makannya. Ia menoleh ke samping kanannya dan seketika matanya membulat. Lelaki kemarin.

“Memang.” Ahreum kembali memasukkan gulungan telur dadar ke dalam mulutnya.

 

Pemuda bernama Kai itu mendekat. Dengan satu apel di tangannya, ia duduk di sebelah Ahreum.

“Yak! Mau apa kau?”tanya Ahreum sinis.

“Hei-_- ini sekolah ayahku, suka-suka aku mau melakukan apa. Termasuk duduk di tempat ini, di sini.”jawab Kai. Seketika Ahreum diam. Benar, ia memang anak pemilik sekolah ini.

“Iya, benar, maaf.”ucapnya pelan.

 

Gadis itu menyuap pelan nasinya, terdiam dengan sumpit yang masih di bibirnya. Gerakan mengunyahnya pun melambat. Kai tersenyum melihat itu.

 

Tuk

“Jangan melamun!”kata Kai sambil mengetuk kepala gadis itu dengan apel yang baru ia keluarkan dari saku jasnya.

“Aih.”ringis Ahreum mengusap kepalanya. Kai meletakkan apel itu di pangkuan Ahreum.

“Besok kau harus membawa dua bekal untuk mengganti apel ini, dan apel sebelumnya.”ujar Kai yang lebih terdengar sebagai perintah. Ahreum langsung meletakkan sumpitnya. Memandang sinis ke arah Kai.

“Yak! Mana bisa be—mphhff…”

“Sudah ku bilang hmm, aku kan anak pemilik sekolah ini..”dengan tiba-tiba Kai menjejalkan kimchi ke mulut Ahreum yang protes tadi. “Enak juga kimchi ini.”komentar Kai. Ternyata pemuda ini mengambil sumpit yang diletakkan Ahreum untuk mencicipi bekal gadis tersebut.

“Dasar menyebalkan!”ujar Ahreum setelah kimchi yang dijejalkan secara paksa itu tertelan.

 

“Aku tidak sebenyebalkan itu kurasa.”cuek Kai. Kini pemuda itu sudah menikmati apel miliknya. Salah satu apel setelah apel yg ia bawa ia berikan pada gadis di sampingnya sekarang.

“Menyebalkan! Bukankah seharusnya kau berada di kantin dengan para fansmu serta nona Soojung itu.”balas Ahreum. Ia kembali menghabiskan bekalnya.

“Nona Soojung?”heran Kai. “Kau siapanya Krystal, huh?”tanya Kai yg terdengar begitu menusuk di telinga Ahreum.

“A-aku..”

 

-ToBeContinued-

28 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s