POWER series – Time Control

POWER series – Time Control

 

Title : POWER

Sub-title : Time Control

Author : Ira Puspaningtyas a.k.a Lee Seungra [@pushy_puspa]

Genre : fantasy, romance, sci-fi

Rating : PG-15

Length : series

Main casts :

  • Huang Zitao
  • Park Nichan (2013)
  • Park Nichan (1912)
  • Park Chanyeol

Suport casts :

  • Kim Joonmyeon
  • Do Kyungsoo
  • Kim Jongdae

Summary :

I ever loved you for long time ago, and I bet I’ll love you for now and forever

–Zitao Huang

Disclaimer : Don’t take any (and all of) part from my ff, don’t cop-pas without my permission, it’s mine―forevermore.

A/N :

Anyeong readers-deul!! Ini adalah fanfic genre fantasy author yang pertama, biasanya sih sad-romance. Berhubung ada yang request ke facebook dan author nggak mau ngecewain dia, makanya author nyoba-nyoba genre fantasy. Dan juga berkat dia author malah kepikiran bikin fanfic series, jadi nanti bakalan ada yang main cast-nya member exo yang lain, so.. keep waithing ?! RCL juseyo~


 

 

Semuanya berubah saat Huang Zitao mengetahui sejatinya. Ia menjadi lebih arogan, dia berubah drastis. Sekarang ia lebih mengandalkan pada waktu, ia terlalu dibuai hal itu. Dia sering sekali menggunakan kekuatannya, Time Control.

Kekuatan itu bermula saat ayahnya memaksanya menggunakan jam tangan di acara pertemuannya dengan calon tunangannya. Dia berani bersumpah, jarum jam itu berputar ke arah barat. Dan begitu sesuatu dalam dirinya mengeluarkan perintah ─yang waktu itu tak ia mengerti, semuanya diam tak bergeming. Waktu berhenti sejenak, seolah hanya menyisakan dirinya sendiri di bumi. Semua hal berhenti, termasuk jarum jam Calvin Klein yang melingkar erat di tangannya.

Kesempatan bagus, tentu saja. Ia pergi dari restoran mewah dengan gelas indah berisikan wine dan semua nuansa klasik yang melekat. Ia melarikan diri dari acara itu, pergi entah ke mana. Tapi setidaknya ia bisa pergi kala itu.

Dan sekarang, pemuda asal China yang sekarang menetap di Korea itu tengah duduk termenung di sebuah bangku café yang lumayan ramai. Selintas, ada ide konyol bersemayam di pikirannya. Mungkin sedikit hening lebih baik.

Seringai menghiasi wajah tampannya, diliriknya sebentar jam dinding yang tergantung rapi di tembok café itu. Berhenti. Semuanya terasa seperti patung lilin, terkecuali dia sendiri. Bau roti bun yang baru masak dan keluar dari panggangan menyerusuk paksa ke hidung Zitao. Aroma manis yang menggodanya, ia suka itu.

Dihampirinya seorang pelayan manis dengan setelan seragam rapi, dan bisa dilihat dari name tag-nya pemuda itu bernama Kim Joonmyeon. Tampan, manis, hanya saja sedikit pendek, pikir Zitao. Diambilnya tanpa izin roti bun yang ada pada nampan yang sedang ia genggam. Zitao menggigitnya sedikit, rasanya manis, enak, sesuai ekspektasinya.

“Terima kasih, Kim-Joon-myeon?” ujar Zitao mengeja nama pemuda tampan itu.

Lalu kaki jenjangnya menghampiri barista yang berdiri memegangi secangkir espresso yang masih mengepulkan asap.

“Hey Kyungsoo, apa kabar?” sapa Zitao pada barista itu.

Zitao tahu siapa barista itu, Do Kyungsoo. Mereka sering bertegur sapa.

Zitao juga mengambil alih espresso dari tangan mungil Kyungsoo. Kriminal? Perampokan? Benar. Tapi siapa yang peduli?

Zitao masih sibuk dengan espresso dan roti bun yang di-klaim sebagai sarapannya pagi itu, ia mengintip dunia luar dari jendela. Tenang, tidak bising seperti biasanya. Lalu mata sipit-nya bergulir ke arah kalender yang ada di café itu. Niat awalnya adalah mencari tahu hari apa, dan taggal berapa. Tapi, suatu ide konyol datang begitu saja.

Jika aku bisa bermain dengan arloji, kenapa tidak dicoba bermain dengan kalender?

Seringaian muncul di bibir tipis pemuda itu, diletakkannya makanan yang ia klaim dengan sebutan sarapan itu di atas meja pelanggan terdekat. Kakinya melangkah pasti mendekati kalender itu. Ia memantapkan pandang pada tanggal hari ini.

June 24th 2013

Salah satu dalam dirinya memerintah, dan dalam kejapan matanya ia berharap dengan sangat. Begitu kelopak mata itu terbuka sempurna.

Selamat datang di tahun 1912, Huang Zitao, batinnya saat ia merasakan perbedaan di ruang lingkupnya.

Tak ada barista dengan mata bundar, tak ada pelayan dengan name tag Kim Joonmyeon, tak ada espresso dan roti bun-nya. Ini tahun 1912. Entah apa yang membuatnya memilih tahun itu, ini hanya dipilih secara random. Tapi keadaan masih sama, masih teselimuti beku waktu.

Zitao tersenyum. Satu kerjapan mata, dan semuanya me-normal. Tapi hanya pada tahun 1912 saja, tahun 2013 masih terasa kaku. Semua berjalan seperti semestinya tanpa ada yang sadar ada anggota baru di antara mereka.

Keadaannya masih tenang, karena ini seratus-satu tahun yang lalu. Zitao menghirup dalam-dalam udara segar yang menyapanya.

Selamat berpetualang, Huang Zitao, batinnya─lagi.

Ia melangkah menyusuri pagi berembun tahun 1912 ini, ia masih mengagumi daerah ini. Padahal ini sama, ini masih di Seoul. Tapi ini berbeda, ini jauh lebih indah.

Tiba-tiba gerimis mengguyur pagi yang damai itu. Sejenak Zitao menikmatinya, tapi tidak setelah ia mengingat ada ponsel di sakunya. Cepat-cepat ia berlari ke arah halte, setelah itu menge-check ponselnya. Dan bodohnya, ia lupa tahun berapa ia berada saat ini. Tentu saja tak ada sinyal untuk ponsel-nya. Seberkas senyum muncul dari bibirnya, senyum pahit. Ia benci jika harus kehilangan ponsel-nya dengan cara seperti ini.

ia menduduki bangku halte itu, sambil matanya menatapi air hujan yang jatuh perlahan.

Ini damai, pikirnya.

Lalu seorang gadis dengan perawakan mungil berlari menuju halte itu. Ia berteduh, duduk di samping Zitao. Awalnya Zitao enggan merespon, tapi entah kenapa ia malah menolehkan wajahnya. Dan ajaibnya, Tuhan memberi pengganti untuk ponsel-nya yang  tak bisa dioperasikan itu. Seorang gadis cantik berparas menawan dengan surai coklat yang membingkai wajahnya. Sempurna. Gadis itu sempurna di mata Zitao.

Merasa ada sepasang mata yang memperhatikan, gadis itu menoleh. Diberikannya senyum terbaik pada orang asing yang berpakaian sedikit aneh untuk masa-nya. Skinny jeans dipadu dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya tak terpasang, aneh untuk tahun itu.

Hampir saja Zitao lupa cara bernapas, ia bingung dan terpesona.

“Ehm,” gadis itu berdeham.

Dalam sekejap Zitao bangun dari lamunannya. Gadis di sampingnya itu kelewat cantik. Biji matanya yang bulat, bibir tipisnya yang merona, kulit putih saljunya yang mulus tanpa cacat. Andaikan Zitao masih berumur lima tahun, ia pasti akan menyebut gadis itu seorang bidadari.

Gadis itu tersenyum lagi, ia tak tahu efek senyumannya pada Zitao.

“Park Nichan imnida,” ujarnya.

“Zitao, Huang Zitao” balas Zitao yang belum sepenuhnya menguasai dirinya sendiri.

Gadis itu tersenyum lagi. Zitao melontarkan sumpah serapah pada gadis yang hampir membuatnya kehilangan jantungnya.

“Kau..” kata gadis itu menggantung.

Zitao hanya menaikkan alis matanya, ia masih belum menangkap raut curiga dari gadis itu.

“Sedikit aneh,” lanjut gadis itu dengan suara yang lebih lirih.

Mata bundarnya mengamati penampilan Zitao dari atas hingga bawah, tapi ia juga tak bisa memungkiri jika lelaki asing itu tampan. Bahkan sangat tampan, menurutnya.

Zitao tak tahu apa yang harus ia katakan, hingga suatu pernyataan terlintas begitu saja.

“Aku pelancong dari negeri sebelah,” ujar Zitao.

Ia harus merubah cara bicaranya untuk masa-nya saat ini. Harus terdengar se-natural mungkin.

Gadis itu tersenyum. Gadis itu terlihat selalu tersenyum. Tapi ia mulai percaya pada Zitao.

Hujan yang mengguyur bumi itu berhenti, sejenak mengalihkan mata mereka yang sedang bertemu pandang.

“Aku harus pergi, anyeong!” ujar gadis itu sambil beranjak dari duduknya.

Zitao tersenyum, tapi ada satu yang mengganjal hatinya. Gadis itu seolah menorehkan bekas tak terhapuskan, gadis asing itu patut ia tuduh atas pencurian hati dan ia sumpah serapahi karena telah membuat seorang Huang Zitao jatuh cinta pada pandangan pertama. Dulu ia mengutuk kata itu,tapi sekarang ia jatuh pada lubang tak berdasar yang pernah ia kutuk.

Zitao mengikuti langkah kecil gadis itu, ada hal dalam dirinya yang mendorong kakinya untuk mengikuti gadis itu. Zitao tersenyum, gadis itu pergi ke sebuah kedai makan. Zitao menunggu di depan kedai itu, ia tak punya uang yang berlaku di masa itu untuk melahap makanan di dalam sana. Lagipula, gadis itu pasti bukan datang untuk makan. Ini sudah kelewat jauh dari jam makan pagi.

Zitao dengan sabar menunggu gadis itu keluar sambil bersiul-siul dan menendangi kerikil kecil yang ada di bawah pohon besar yang sekarang menjadi sandarannya. Ia tak peduli pada tatapan orang-orang padanya. Ia tak peduli jika dikatai orang asing yang aneh. Dia memang aneh, untuk masa 1912 ini. Ia juga sesekali mengutak-atik ponsel-nya sekedar untuk memotret suasana. Tapi hal itu justru membuat orang-orang menjaga jarak darinya. Mungkin mereka mengira itu adalah benda yang dapat melontarkan mesiu.

Tak terasa matahari mulai berlabuh ke barat, sebentar lagi terbenam. Zitao masih menunggu gadis bernama Park Nichan tadi. Ia tak lagi memainkan ponsel-nya karena low-bat.

Seorang gadis keluar dari pintu yang sedari tadi Zitao pandangi, ia melewati Zitao begitu saja. Mungkin ia tak melihatnya, karena jika melihat Zitao pasti gadis itu tersenyum lagi, dan membuat Zitao merah padam lagi. Hah, Zitao benar-benar mencuigai motif dari senyuman itu. Ia ingin mendapatkan senyuman itu terus-menerus.

Zitao mengikuti ke mana pun langkah kaki itu. Ia sempat melihat gadis itu menegur beberapa orang, menyapa anak-anak, memetik bunga liar, dan lainnya. Ia tak tahu bahwa Tuhan telah membuat maha karya sehebat ini.

Hingga akhirnya ia memungut bunga dandelion yang masih berwarna kuning di depan alas kakinya. Gadis itu baru membuangnya. Zitao tersenyum menatap bunga itu.

Pandangannya beralih pada kaki kecil yang ada di bawahnya, ia menggulirkan matanya mengikuti garis tubuh orang yang berdiri di depannya. Ia hampir memekik jika saja ia bisa, namun ia hanya membulatkan matanya. Seorang gadis yang tadi mengaku bernama Park Nichan berdiri di hadapannya, masih dengan senyumnya.

“Zitao-ssi?” ujarnya.

Nde,” balas Zitao.

“Kau mengikutiku?” tanya gadis itu lagi.

Zitao hanya tersenyum menimpali pertanyaan itu. Tentu saja ia mengikuti gadis itu.

Wae?” tambah gadis itu.

Zitao memerlukan beberapa menit untuk memikirkan alasannya, dan gadis itu masih memiliki kepercayaan padanya.

“Sudah kubilang, aku pelancong dari negeri sebelah. Aku dari China,” jelas Zitao.

Gadis itu mengerutkan keningnya, lalu berujar.

“Apa hubungannya denganku?”

“Kau orang pertama yang aku kenal di sini, dan aku kehilangan harta bendaku,” dalih Zitao.

“Penyamun?” tanya gadis itu.

“Ya, seperti itu” timpal Zitao.

Mereka bertahan dalam diam, bunga dandelion itu pun masih betah dalam genggaman Zitao.

“Lalu kau akan tinggal di mana?” gadis itu memecah keheningan.

“Tidak tahu,” balas Zitao sambil menggelengkan kepalanya.

Gadis itu mengulangi hal yang ia lakukan di halte tadi pagi. Ia megamati penampilan Zitao dari ujung ke ujung. Dan pandangan itu berhenti pada hal paling menarik, wajah Zitao.

Wajah berparas tampan dengan mata sipit dan garis hitam di bawah matanya, lelaki itu tak terlihat jahat.

“Kalau oppa-ku mengizinkan, kau bisa tinggal di rumah kami,” tawar gadis itu.

Zhan de ma?” ujar Zitao.

Ia lupa akan aksen China-nya. Gadis itu memicingkan matanya, itu kata yang asing bagi telinganya.

“Ah, jinjjayo?” ulang Zitao.

Gadis itu mengangguk.

Petualangan yang mengasyikkan, Zitao, batinnya.

Gadis itu berjalan mendahului Zitao. Zitao masih tersenyum mendengar apa yang barusan gadis itu katakan. Itu berarti ia dapat melihat wajah cantik itu setiap hari.

“Nona Park, kau menjatuhkan bungamu!” ujar Zitao menyusul langkah gadis itu.

“Tidak, untukmu saja”

Mereka melalui jalan yang tak seberapa jauh, beberapa menit saja mereka sudah sampai. Bangunan yang cukup layak untuk orang-orang di masa itu.

Gadis itu memasuki rumah tanpa salam, itu sudah wajar. Zitao menunggu sampai gadis itu memanggilnya, tidak sopan jika ia mengikuti cara gadis itu.

“Zitao-ssi kajja!” ajaknya.

Zitao mengikuti interupsi gadis itu. Ia memasuki rumah itu sambil mengudarakan salam.

Anyeong!

Lalu seorang lelaki tampan dengan postur tubuh tinggi kekar menyambutnya dengan senyuman manis, rambut coklat caramel-nya jatuh indah di paras tampannya. Zitao bersumpah akan menggilai lelaki itu jika saja ia seorang gadis.

Nuguseyo?” suara beratnya pas untuk lelaki setampan itu.

“Huang Zitao imnida

“Huang?” ujar pemuda itu.

Zitao hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sekali.

Wo jiaou Park Chanyeol,” lanjutnya.

Sejenak pikiran Zitao melayang, bagaimana bisa pemuda itu berbahasa China di tahun 1912?

“Aku sering bekerja pada orang asing,” jelasnya.

Itu sedikit membuat hati Zitao lega. Hampir saja ia berpikir kalau pemuda itu juga berasal dari tahun 2013.

Oppa, dia kehilangan seluruh harta bendanya. Boleh dia tinggal bersama kita?” sela gadis itu.

“Penyamun itu memang sering berkeliaran akhir-akhir ini. Untuk apa kau ke Korea, omong-omong?” tukas pemuda bernama Chanyeol itu.

“Hanya seorang pelancong,” balas Zitao dengan nada biasanya.

“Begitu ya? Baiklah, tapi kau tidak keberatan jika harus berbagi kamar denganku kan?”

“Tentu,” jawab Zitao singkat.

Pemuda tampan itu terus memamerkan senyumannya, Zitao akan meyakini bahwa pemuda itu adalah model atau aktor jika ia berada di tahun 2013.

Oppa sudah makan?” tanya Nichan tiba-tiba.

“Belum, aku menunggumu,” jawab Chanyeol pada Nichan.

“Baiklah, kalian tunggu saja. Aku akan memasak dulu,” ucap Nichan sambil menanggalkan jaket yang ia pakai.

Chanyeol mengajak Zitao pergi ke ruang tengah. Park Chanyeol, ia sama sekali tak melepaskan senyumnya. Zitao heran, apakah keluarga ini memang dididik untuk selalu tersenyum?

“Oh ya, apa kau punya kenalan di Korea?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Ada, kau dan adikmu saja,” jawab Zitao.

Dia mungkin memiliki banyak kenalan di Korea, dia bahkan mengenal barista langganannya dan pelayan café yang ia curi roti bun-nya, tapi ini adalah Korea tahun 1912 dan dia belum dilahirkan.

“Jadi kau sendirian di sini?” ujar Chanyeol, raut wajahnya terlihat lebih serius.

“Seperti apa China?” timpal Chanyeol dengan raut yang ambisius.

Lelaki ini sulit ditebak, pikir Zitao.

“China, ya seperti itulah. Aku tak akan meninggalkannya jika aku tak nyaman,” jawab Zitao dengan ekspresi yang ia buat-buat.

“Kau benar,”

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Nichan yangtiba-tiba muncul dari belakang mereka sambil memegangi nampan berisikan tiga piring teobokki.

“Pembicaraan antara pria dengan pria,” canda Chanyeol.

“Haish, kau ini selal seperti itu. Zitao-ssi..” ujar Nichan sambil menyodorkan sepiring teobokki pada Zitao.

Nde, gomawo” jawab Zitao sambil menundukkan kepalanya.

“Hey, kau ini sopan sekali. Anggap saja kita adalah keluarga,” sela Chanyeol yang sedang melahap makanannya.

Zitao hanya tersenyum menimpali kata-kata itu, Nichan menggelengkan kepalanya lemah.

Suasana saat makan malam ataupun setelahnya terasa hening, sebelum Chanyeol menarik Zitao ke halaman belakang.

“Nichan, kau tidur!” suruh Chanyeol dari kejauhan.

Nde oppa,” jawab Nichan lirih.

Chanyeol mendudukan Zitao di bangku panjang yang ada di belakang rumah. Suasana yang sangat pas untuk mengagumi rasi-rasi bintang di langit. Zitao bersumpah jika rasi yang ia lihat adalah rasi orion, jika ia tak salah mengingat. Sama seperti Zitao, Chanyeol juga memperhatikan ke arah langit dan bahkan matanya berbinar-binar.

“Biduk,” kata Chanyeol.

Nde?” tanya Zitao.

“Iya, kau lihat rasi itu? Itu rasi biduk,” ujar Chanyeol menunjuk-nunjuk sebuah rasi.

Zitao mengumpat dalam hatinya, karena rasi itu adalah rasi biduk dan bukan orion. Zitao yakin orang-orang di masa ini akan sangat pandai mengetahui rasi, karena mungkin tahun ini belum ada penemu kompas.

“Kenapa?” tanya Chanyeol pada Zitao yang membeku menatapi rasi itu.

“Kupikir itu orion,” jawabnya.

“Kupikir orang China akan lebih lihai mengenali rasi,” ejek Chanyeol.

Memang orang China itu lebih lihai dan teliti, bahkan semua hal pasti akan disangkut pautkan dengan feng zhui. Tapi Huang Zitao adalah manusia masa depan yang terjangkit virus pemalas. Ia tak yakin bisa mengalahkan Park Chanyeol di sekolah jika saja Park Chanyeol itu hidup di masa yang sama dengannya.

“Aku bukan pengingat yang baik,” jawab Zitao sambil menggaruk tengkuknya.

“Tapi sepertinya kau pemuda yang baik-baik,” ujar Chanyeol.

Ditatapinya secara intens penampilan Zitao dari atas sampai bawah.

“Kau tampan,” komentar Chanyeol.

“Terima kasih,”

“Apa kau menyukai adikku?” tambah Chanyeol.

Zitao benar-benar tak habis pikir, orang ini─Park Chanyeol─ benar-benar tahu segalanya.

“Eungh? A-aku..”

“Ah lupakan, ayo kita tidur!” ajak Chanyeol yang berdiri mendahului Zitao.

Padahal Zitao sempat berharap jika Chanyeol merestui perasaannya. Dan Zitao juga tak tahu apakah pembicaraannya tadi bermutu atau tidak.

Zitao mengikuti langkah Chanyeol sampai pada sebuah bilik kecil yang terdapat dua bungkusan kain di atas tikar yang terlihat seperti alas tidur. Dan Zitao yakin bahwa bungkusan kain itu adalah benda yang di-klaim sebagai bantal.

Kajja,” ajak Chanyeol pada Zitao.

Zitao hanya mengikuti apa yang Chanyeol katakan. Rasa-rasanya Zitao memang harus mensyukuri tahun di mana ia hidup. Karena sekarang ini ia harus tidur di lantai beralaskan tikar tipis tanpa selimut yang menghangatkannya.

“Chanyeol-ssi, dimana orang tua kalian?” tanya Zitao tiba-tiba.

Ini bahkan tidak sopan untuk orang yang baru Chanyeol kenal.

“Mereka pergi, mereka menitipkan Nichan padaku. Mereka bukan orang tuaku, aku anak pungut,” jelas Chanyeol tanpa membuka katupan matanya.

Zitao tak menyangka, dibalik wajah tampan dan senyuman cerianya Chanyeol memiliki cerita seperih itu.

“Ah, mianhae Chanyeol-ssi,” tambah Zitao cepat-cepat.

Gwechana. Hey, kenapa kau memanggilku se-formal itu?” balas Chanyeol, kali ini ia membuka matanya, dan menoleh ke arah Zitao.

Zitao hanya mengangkat alisnya, ia bahan tak tahu maksud dari ucapan Chanyeol.

“Panggil saja Chanyeol-ah, atau Yeol, atau mungkin kau mau memanggilku Hyung,” lanjut Chanyeol.

Zitao tersenyum.

Nde Hyung,” ujarnya.

“Baiklah, sekarang mari tidur,”

Zitao mengerjapkan matanya, badannya serasa remuk karena tidur beralaskan tikar. Ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya, ia tak biasanya bangun sesiang ini. Mungkin jika ia menemukan kasur empuk dan selimut hangat, ia akan bangun pagi karena cukup tidur.

“Zitao, irona!” teriak suara berat dari luar bilik kamar.

Zitao menyipitkan matanya, lalu sekejap ia ingat akan pemuda tampan itu. Ia bangun dan keluar. Saat ia menyibak tirai penutup kamar itu, pemuda tampan lengkap dengan senyumannya memenuhi pandangannya.

Hyung,” panggil Zitao.

Nde, ini bajuku kau pakai dulu. Cepat mandi!” ujarnya santai lalu pergi meninggalkan Zitao.

Rumah ini sepi, pemuda itu pergi dan Nichan tidak ada. Zitao juga tak tahu letak kamar mandi di rumah ini. Atau bahkan ia harus mandi di sungai, astaga ini bukan hal baik.

Zitao masih mematung sambil mengamati pakaian yang Chanyeol berikan, celana selutut dan kaos warna abu-abu. Zitao yakin dengan apapun ia akan terlihat tampan, tapi di mana letak kamar mandi?

Dan suara langkah berat itu semakin memekakkan telinganya.

“Aku lupa bilang, kamar mandinya di ujung sana,” ujar Chanyeol sembari menunjukkan arah.

Seulas senyum muncul dari bibir tipis Zitao.

“Setelah ini kau ikut aku ya,” ajak Chanyeol.

Zitao mengangguk.

“Tapi, di mana Nichan?” tanya Zitao saat Chanyeol membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi.

“Dia sudah pergi bekerja, beginilah kehidupan kami,” balas Chanyeol lalu pergi lagi.

Entah apa yang Chanyeol lakukan di luar sana, yang Zitao tahu hanyalah ia harus mematuhi peraturan tuan rumah.

Zitao berjalan menuju intruksi Chanyeol, ia melihat sebuah bilik kecil yang mungkin adalah kamar mandi yang Chanyeol maksudkan. Dan benar saja, di dalamnya ada sebuah gerabah berukuran cukup besar dan berisi air penuh, dan juga sebuah sumur yang digali cukup dangkal tapi airnya sangat jernih. Zitao mengagumi betapa miskinnya polusi di masa ini.

Zitao keluar dari rumah itu dan menemukan Chanyeol yang sedang menyirami bunga dengan telaten meskipun bunga itu masih berujud kuncup. Zitao bersumpah─lagi─, jika ia seorang wanita ia pasti akan mengemis di depan Chanyeol untuk menjadi kekasihnya, sayangnya Zitao adalah seorang lelaki dan terlebih Zitao masih waras untuk tidak melakukan hal itu.

Hyung,” panggil Zitao.

“Kau sudah selesai? Ayo ikut aku!” ajak Chanyeol sambil meletakkan wadah air yang tadinya ia gunakan untuk menyiram tanaman.

“Kemana?” tanya Zitao sambil mengulum senyumnya.

“Bekerja, kau tak keberatan kan jika harus berkebun?” balas Chanyeol.

“Tidak, kajja!

Zitao dan Chanyeol melewati rute jalan yang bisa dibilang cukup jauh, hampir sepadan dengan rute kedai makanan tempat Nichan bekerja. Di jalanan, Zitao tak mengherankan ada banyak gadis yang menyapa Chanyeol. Ia pun tak memungkiri bahwa Chanyeol punya berbagai macam pesona. Dan mungkin mata gadis-gadis itu tak hanya tertuju pada satu objek yaitu Chanyeol, mata gadis-gadis itu pun bergulir pada sosok tampan di sebelah Chanyeol, Huang Zitao. Siapa yang tak mengakui bahwa seorang Huang Zitao adalah lelaki tampan?

Sebenarnya Zitao  risih dengan tatapan itu, tapi Chanyeol membuatnya lebih tenang. Lelaki jangkung itu malah membalas setiap sapaan yang ditujukan kepadanya. Dan Zitao tak bisa mengalihkan pandang dari senyum lelaki itu, ia benar-benar aneh.

Seharusnya ia menjadi sombong atas parasnya, batin Zitao.

Dan lepas dari semua itu Zitao juga mengingat perubahan sikap manusia dari waktu ke waktu, semakin lama semakin individualis.

Lalu mereka sampai ke sebuah kebun, kebun mawar. Tempat indah yang ditumbuhi berbagai macam mawar dengan berbagai warna dan daya tarik yang sangat tinggi. Padahal hampir saja Zitao berpikir bahwa ia akan diajak membantu Chanyeol untuk merapikan kebun orang kaya, tapi ini jauh lebih baik. Zitao suka bau yang menguar itu, Zitao suka gradasi tiap warna mahkota mawar itu. Dan ia juga menemukan jawaban kenapa Chanyeol begitu telaten menyirami tanamannya, karena memang dibutuhkan orang dengan ketelatenan tingkat tinggi untuk bekerja di tempat seperti ini.

“Kau tak keberatan?” tanya Chanyeol yang mendului Zitao memasuki kebun itu.

“Tentu tidak,” jawab Zitao antusias.

Hanya orang yang alergi dengan mawar-lah yang akan menolak pekerjaan ini.

Chanyeol menyodorkan sebuah pemotong yang terlihat asing di mata Zitao. Namun semua itu ia tepis atas dasar tahun, sekarang ia berada di tahun 1912. Zitao menerimanya dan memperhatikan bagaimana Chanyeol memotong tangkai-tangkai bunga mawar itu.

“Ingat, pisahkan setiap warna dan bunga yang kuncup dan yang rekah!” ujar Chanyeol.

Arraeseo,” balas Zitao.

Mereka melakukannya dengan baik dan cekatan. Tapi Zitao tak melihat pegawai yang lain.

“Di mana yang lain?” tanya Zitao.

“Siapa?” balas Chanyeol.

“Pemetik bunga yang lain,” lanjut Zitao tanpa menghentikan pemotongannya.

“Aku tak punya banyak uang untuk mengaji mereka,” jawab Chanyeol yang memunggungi Zitao.

“Ini kebunmu?” tanya Zitao sembari menghentikan hal yang tadinya ia lakukan.

“Bukan, ini warisan milik Nichan. Orang tuanya cukup kaya untuk memiliki sepetak kebun,” balas Chanyeol santai.

“Bukankah sama saja ini milikmu?”

“Aku bukan anak mereka” jawab Chanyeol dengan wajah tenang miliknya.

Zitao bingung harus bagaimana bertingkah di depan orang macam Chanyeol, dia terlalu naif. Zitao hanya meneruskan yang ia lakukan.

“Kau dapat berapa tangkai?” tanya Chanyeol.

“Sembilanpuluh delapan,” balas Chanyeol.

“Petik dua lagi!” utus Chanyeol.

Zitao hanya menuruti kata-kata itu dan berjalan mengikuti langkah yang Chanyeol berjalan.

Lalu mereka bertemu dengan seorang lelaki yang tak kalah tampan dari Chanyeol.

“Jongdae, ini bunganya” ujara Chanyeol.

“Oh, nde” balasnya mengambil alih mawar-mawar itu dari tangan Chanyeol dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Terima kasih Yeol,” ujarnya lalu pergi.

Zitao berpikir, apakah orang tampan hanya berurusan  dengan orang tampan dan cantik seperti Nichan?

“Bagaimana jika kembali ke kebun? Kita belum menyirami atau bahkan memotong daun kering” ucap Chanyeol.

Zitao hanya tersenyum menimpalinya.

Mereka berdua kembali ke kebun mawar, Chanyeol sibuk menyirami mawar-mawar kuncup dan Zitao memotongi daun-daun kering.

“Hei, Zitao! Apa kau menyukai adikku?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

Seketika Zitao terhenyak, ia bingung harus berbicara apa.

“Jika iya tak apa, karena sepertinya kau namja yang baik” lanjut Chanyeol.

“Apakah boleh jika seperti itu?” tanya Zitao ragu-ragu.

Chanyeol berbalik dan tersenyum pada Zitao,

“Asalkan kau berjanji bisa membuatnya bahagia denganmu,” ujar Chanyeol.

“Kau yakin?”

“Tentu, dan jangan ingkari janji antara lelaki!”

Zitao mengangguk mantap, jika hanya itu ia yakin akan bisa melakukannya karena memang ia juga merasakan cinta pada diri Nichan.

“Jangan melamunkannya, cepat bekerja!” hardik Chanyeol yang kembali meneruskan pekerjaannya.

Mereka berdua terus bekerja hingga matahari hampir tergelincir, dan tanpa merasakan peluh sedikit pun. Bekerja di kebun mawar malah seperti hiburan yang menyenangkan bagi Zitao, ia terus memotongi dahan-dahan kering.

“Kau tidak lelah?” tanya Chanyeol yang berjalan ke tepi kebun dan duduk di tanah.

Zitao membuang sampahnya dan menghampiri lelaki itu. Tapi ada yang aneh, lelaki itu memegang setangkai mawar berwarna peach di tangan kanannya.

“Untuk siapa?” tanya Zitao yang duduk di sebelah Chanyeol.

Lelaki itu masih menatap ke arah langit barat, mengagumi eksotika langit senja.

“Untukmu,” jawabnya.

“Maksudnya untuk kau berikan pada Nichan,” ucap Chanyeol cepat-cepat, takut kalau-kalau Zitao mengiranya tidak normal.

Chanyeol menglurkan tangan panjangnya, Zitao menerima bunga itu dengan ragu.

“Apa tidak ada lelaki di luar sana yang juga mencintai Nichan?” tanya Zitao.

“Banyak, tapi terlalu pengecut” jawab Chanyeol yang kembali menatapi langit barat.

“Tapi aku hanyalah orang baru dikenal,” kata Zitao.

“Tak masalah jika kau benar-benar mencintai Nichan, terlebih jika Nichan juga mencintaimu,” jawab Chanyeol santai.

Lalu suara langkah yang lirih semakin menggema di telinga mereka, dan seorang gadis tengah berdiri di belakang mereka.

“Nichan? Neo? Baiklah, aku yang akan memasak, aku pulang. Anyeong!” ucap Chanyeol cepat-cepat dan meninggalkan Zitao bersama adiknya yang masih bingung.

Sesungguhnya bukan hanya Nichan yang bingung, tapi Zitao juga. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi situasi, bahkan ia juga sangat tidak tahu jika ditanya tentang bunga yang ada di tangannya. Chanyeol bilang itu untuk Nichan, tapi bagaimana cara memberikannya?

Lalu dengan senyum yang tak ia lepaskan, Nichan duduk di sebelah Zitao.

Oppa memang seperti itu,” ucap Nichan memecah belenggu.

Nde,” balas Zitao.

Dan entah kenapa Zitao merasa ia lebih dekat dengan Chanyeol dibandingkan Nichan, padahal Zitao mengenal Nichan lebih dulu─walau hanya beberapa jam lebih awal.

Gadis itu memandang jauh keah kebun mawar, angin-angin kecil memainkan anak rambutnya yang lemas. Wajah tenang da gurat cantiknya semakin membuat kine jantung Zitao tak karuan.

“Zitao-ssi,” panggil Nichan tanpa melepas pandang dari mawar-mawar di kebun itu.

Nde?” tanya Zitao.

“Ah, anni,” balasnya lagi sambil memamerkan senyum manisnya.

Kenapa gadis ini? Sebentar-sebentar tersenyum, apa dia mau membuatku kehilangan jantungku?, batin Zitao.

Zitao hanya diam dan menatapi paras cantik gadis yang duduk di sebelahnya, sedangkan pandanga mata Nichan sekarang teralih pada bunga mawar yang ada dalam genggaman Zitao.

“Ah, iya. Ini untukmu Nichan-ssi,” ujar Zitao sambil menyodorkan mawar itu.

Nichan tersenyum lagi dan menanggapi pemberian Zitao.

“Kau tak harus memberiku mawar seperti ini Zitao-ssi, aku bisa memetiknya sendiri,” ujar Nichan.

Zitao menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak terasa gatal.

“Aku hanya..” ucap Zitao menggantung.

Zitao tak pernah seperti ini sebelumnya, sekarang ia yakin bahwa memang ada yang salah dengan gadis ini.

The blame is on you, pikir Zitao saat ia tak bisa lagi meneruskan kata-katanya.

“Bagaimana jika kita pulang saja?” tanya Nichan.

Nde, pasti Chanyeol sudah menunggu”

Lalu mereka berjalan ke rumah milik Chanyeol dan Nichan, Zitao masih tak tahu apa yang harus ia ungkapkan pada gadis di sampingnya. Dan Nichan tak tahu bagaimana bis amenguasai hatinya, ini terlalu jauh melampaui hal yang ia pikirkan. Seharusnya yang ada di sisi-nya dan berjalan berdampingan dengannya adalah Chanyeol, oppa-nya. Tapi tidak, yang ada di sisi-nya dan berjalan berdampingan denganya sekarang ini adalah Zitao, orang asing yang baru kemarin ia kenal. Tapi, ya sudahlah.

Dan perjalanan pulang itu hanya mereka isi dengan kediam-diaman, tak satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan selain Zitao yang berkali-kali menghela napas beratnya.

“Oh, kalian sudah sampai?!” pekik Chanyeol ketika adik perempuannya dan Zitao memasuki rumah.

Zitao tersenyum dan Nichan pun begitu, itu suatu hal indah yang terjadi pada hidup Chanyeol. Melihat adiknya itu tersenyum adalah anugerah terindah yang Tuhan pernah berikan padanya, dan siapa pun yang ada di samping adiknya ia akan bahagia jika adiknya itu bahagia. Ia pernah berjanji pada orang tuanya  Nichan bahwa ia akan menjaga dan membuat Nichan bahagia, itu saja.

“Makanlah!” ujar Chanyeol yang mulai beranjak pergi dari ruang tengah.

“Kau tidak makan Hyung?” tanya Zitao.

“Tidak, aku sudah makan tadi sebelum kalian datang. Makanlah!” balas Chanyeol lalu berjalan pergi.

“Makanlah Zitao-ssi!” ajak Nichan.

Seperti kemarin, makan malam itu terasa dingin. Mereka hanya makan malam, hanya seperti itu─tanpa ada satu kata pun mengudara. Bahkan Nichan terkesan sedang melamunkan sesuatu.

Belum sampai makanannya habis, Nichan menyela.

“Maaf Zitao-ssi aku harus bicara dengan Chanyeol oppa  sebentar. Taruh saja semua ini di dapur saat kau sudah selesai,” kata Nichan.

Zitao hanya mengangguk, lalu Nichan sepertinya menuju halaman belakang. Ada banyak hal yang memutari pikiran Zitao kala itu, tapi mungkin ini hanya sekedar urusan keluarga yang tak menyangkut pautkan dirinya. Semoga saja begitu.

Nichan berdiri di ambang pintu belakang, ia menatap wajah oppa-nya yang terihat sangat damai. Ia bahkan sangat mengagumi wajah damai itu.

Oppa,” panggilnya lirih.

Seulas senyum dari lelaki yang duduk di bangku belakang rumah itu menghiasi penglihatannya, setiap hari ia selalu melihat senyum dari bibir itu.

“Mana Zitao?” tanya Chanyeol.

“Dia belum selesai makan,” jawab Nichan yang bergerak mengambil tempat di sebelah Chanyeol.

“Kenapa kau meninggalkannya? Seharusnya kautemani,” ujar Chanyeol.

“Tidak, aku ingin di sini bersamamu,” kata Nichan.

“Nichan..”

“Tidak Oppa, kenapa kau seperti ini? Kenapa kau memaksaku seperti ini? Kau selalu memaksaku dekat dengan namja lain, dan sekarang Zitao. Apa maksudmu Oppa?” sanggah Nichan.

“Karena ini salah, Nichan. Seharusnya kita tidak seperti ini,” ucap Chanyeol lirih agar Zitao tak mendengarnya.

Ibu jari Chanyeol dengan lihai menghapus air mata yang menganak sungai di pipi Nichan. Ia tak mau membuat adiknya menangis, tapi mau tak mau memang ini yang harusnya mereka lakukan.

“Zitao namja yang baik, bahkan kau percaya itu makanya kau mengajaknya pulang,” ujar Chanyeol.

“Tapi bukan ini maksudku,” kata Nichan sambil menggeleng pelan.

Lalu Nichan pergi meninggalkan Chanyeol sendirian bertemankan kunang-kunang yang berterbangan liar di udara. Sudur hati Chanyeol memang sakit, tapi Tuhan menciptakannya sebagai manusia yang bijak. Ia tak seharusnya menangis untuk ini, karena menurutnya initak harus terjadi, ia selalu mengabaikan perasaannya. Ia terlampau egois untuk perasaannya sendiri. Tapi bukankah ia lelaki yang berani berkorban?

Zitao yang baru saja berganti pakaian dengan pakaian yang Chanyeol sudah siapkan berjalan menuju halaman belakang, dan tiba-tiba keheranan dengan Nichan yang tergesa-gesa memasuki kamarnya. Seklebat pemikiran buruk memenuhi otaknya, apakah Chanyeol membuatnya seperti ini?

Zitao makin memantapkan langkahnya menemui Chanyeol.

“Ada apa dengan Nichan?” tanya Zitao yang menemukan sosok yang ia cari sedang duduk di bangku panjang belakang rumah.

“Nichan? Entahlah,” balas Chanyeol.

Mungkin ini masalah keluarga, dan mungkin juga tak ada sangkut pautnya dengan Zitao.

“Apa kau tak mengantuk? Di sini sangat dingin,” ujar Chanyeol yang beranjak berdiri dan meraih lengan Zitao.

Zitao hanya mengikuti tarikan Chanyeol pada leengannya. Bisa saja ia menolak dengan dalih melihat bintang di halaman belakang, tapi Chanyeol sepertinya membutuhkannya─meski Chanyeol tak mengatakannya pada Zitao.

Mereka memasuki kamar Chanyeol. Merebahkan diri masing-masing di tempat tidur, dan membiarkan keheningan mengalir melewati mereka. Chanyeol tak tahu harus memulai dari mana, dan Zitao bingung harus berbuat apa.

“Zitao,” panggil Chanyeol.

Nde?”

“Aku tahu kau menyukai adikku, tapi jangan salah artikan setiap senyuman adikku. Dia memang selalu tersenyum pada siapa pun, bahkan saat ia merasa sakit,” kata Chanyeol panjang lebar.

Zitao tertohok seketika juga.

Bukannya tadi Chanyeol menyuuhku memberikan bunga mawar pada Nichan? Kenapa sekarang dia berbicara seperti ini? Dasar plin plan!, umpat Zitao.

“Maaf, bukan maksudku sepeti itu. Memang dia belum menyukaimu, tapi cobalah untuk membuatnya bisa menyukaimu!” tambah Chanyeol.

Chanyeol menolehkan wajahnya, mengamati ekspresi bingung dari Zitao. Ada sedikit keberanian di benaknya, dan mungkin harus ia katakan sekarang juga.

“Aku mencintai Nichan, bukan seperti seorang oppa pada yeosaeng-nya. Begitupun sebaliknya. Kami saling tahu dan aku tak mau memilikinya sebagai kekasih dan bahkan istriku, dia tetap adikku. Itu terlarang,” keberanian itu terucapkan.

Zitao menatap heran pada Chanyeol. Ia tak menyangka bahwa keluarga Chanyeol akan serumit ini, dan juga pada kenyataan bahwa Nichan yang mencintai oppa-nya. Harapannya hampir hancur jika saja Zitao tak mengingat betapa besar usaha Chanyeol mendekatkannya dengan Nichan, mulai dari setangkai mawar, meningalkannya berdua di kebun mawar, berjalan berdampingan, dan makan malam. Bahkan Zitao juga membayangkan perasaan Chanyeol yang sebenarnya mencintai Nichan, pasti sakit sekali mengorbankan perasannya sendiri demi mengubah takdir.

“K-kau?” kata Zitao terbata.

“Iya, aku tahu ini perasaan terlarang. Makanya aku ingin Nichan bahagia denganmu, kau mau kan?” tawar Chanyeol.

“Tapi kau mencintainya, Hyung!”

“Tapi seharusnya tidak begitu kan?”

Ada sesuatu dalam diri Zitao yang ingin meledak, ia geram dengan sikap Chanyeol yang berusaha mengalah ini. Tapi di sisi lain dalam hatinya, ia juga mencintai Nichan.

Mereka terdiam dalam beberapa saat. Zitao mencerna hal apa yang Chanyeol lakukan, ia mengorbankan perasaannya asalkan Nichan bahagia─dan itu darus tanpa dirinya. Lalu apakah salahnya mengalah untuk cinta seorang yang dicintai?

“Kalian bukan saudara kandung kan?” tanya Zitao tiba-tiba.

“Tapi tetap saja mereka menitipkan Nichan padaku untuk kujaga,” balas Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Zitao.

“Hanya untuk kau jaga, Park Chanyeol!” kata Zitao.

Chanyeol menolehkan wajahnya lagi pada Zitao saat mendengar nama lengkapnya dipanggil.

“Mereka memintamu menjaganya, tanpa memperdulikan statusmu sebagai apa!” pernyataan Zitao membuat Chanyeol berpikir sejenak.

“Kau masih bisa menjaganya sebagai kekasihmu! Dan suatu saat nanti sebagai istrimu!” lanjut Zitao.

“Cukup Zitao!”

“Jika kau mengalah demi hal itu aku juga bisa memberika alasan untukku membiarkamu bersama Nichan, alasannya karena Nichan juga mencintaimu! Bukankah kau sendiri yang mengatakannya? Ha?!” timpal Zitao.

Cara berbicaranya cukup tidak sopan untuk ukuran seorang yang menumpang. Lalu Zitao bangit dari posisi tidurnya, diikuti Chanyeol dengan tatapan tajamnya.

“Zitao! Aku hanya perlu kau membuatnya melupakanku! bukan untuk omonganmu itu!” tukas Chanyeol.

“Dan kau pikir aku bisa hidup bersama orang yangtak mencintaiku?!” ujar Zitao.

Chanyeol terhenyak, bagaimana pun dia adalah cinta Nichan dan Chanyeol tak akan membiarkan Nichan hidup bersama orang yang tak Nichan cintai meski orang itu mencintai Nichan.

“Kau ini bukan oppa-nya, dan kau juga tidak mau menyebut kebun mawar itu sebagai warisanmu. Bukankah jika begitu kau juga seharusnya tak menyebut Nichan sebagai yeosaeng-mu?”

Memang benar apa yang Zitao katakan, tapi apakah semuanya akan baik-baik saja?, pikir Chanyeol.

“Kenapa kalian berisik sekali? Cepat pergi tidur!” pekik suara Nichan dari kamar sebelah.

“Tidurlah Zitao, akan kupikirkan nanti!” ujar Chanyeol yang kembali pada posisi tidurnya, namun sekarang ia membelakangi Zitao.

Zitao hanya bisa menghela napas panjang, ia memang tak seharusnya mengatakan itu tapi ia juga tak mau mencintai gadis yang sebenarnya tak mencintainya. Lagipula apa yang akan dibanggakan dari merebut kebahagiaan orang lain.

“Selamat tidur, Park Chanyeol” ujar Zitao.

Bahkan sapaan Hyung sudah mulai asing di telinga Chanyeol. Zitao memulai tidurnya dengan tenang, meski ia juga masih tak bisa memahami bagaimana ia dengan mudah jatuh cinta pada Nichan dan sekarang dengan mudah mengetahui kenyataan pahit itu.

“Zitao, maafkan aku.” ucap Chanyeol.

Tapi sayang, yang ia panggil telah menuju dunia senyapnya. Chanyeol hanya bisa emandangi wajah tampan Zitao yang sedang tidur. Dan kini Chanyeol semakin yakin bahwa Zitao adalah orang yang baik, bahkan dia mau memberikan cintanya. Tapi pada awalnya Chanyeol tak bermaksud seperti ini, dia hanya ingin mengatakan agar Zitao bisa membuat adiknya melupakannya. Dia percaya bahwa Zitao itu orang baik, dan ternyata benar. Tapi Chanyeol tak menyangka bahwa Zitao adalah orang yangterlampau baik untuk permasalahan ini. Dalam benaknya, Chanyeol juga ingin memiliki Nichan tapi semua itu ia tepis saat ia mengingat betapa ia sangat menyayangi Nichan sebagai adiknya selama bertahun-tahun. Dan bagaimanapun juga Chanyeol bukanlah dewa, dia hayalah manusia yang juga bisa merasakan cinta.

“Bagaimana Park Chanyeol? Maukah kau mencintai dan menjaga Nichan sebagai kekasihmu?” tanya Zitaodalam katupan matanya.

Benar, ia hanya berpura-pura tidur. Bagaimana ia bisa tidur kala pemikiran-pemikiran yang merumitkan menyesaki otaknya.

“Zitao,”

“Kumohon, aku hanya ingin melihat Nichan bahagia. Dan seperti yang kau katakan, bahagianya hanya denganmu” tambah Zitao.

“Aku tidak yakin jika harus melakukan ini,”

“Ayolah, kau ini cukup dewasa untuk memahami permasalahan semacam ini!”

“Panggil aku Hyung!” jawaban terakhir dari Chanyeol sebelum ia menutup kelopak matanya dan mencoba tidur.

Bagi Zitao itu adalah jawaban ’iya’. Zitao tertidur dalam rekah senyumnya, meski tak bisa berbohong jika ia benar-benar sakit. Tapi, mungkin ini lebih baik.

Pagi hari Zitao sengaja bangun mendahului Chanyeol, ia ingin menemui Nichan.

“Nichan-ssi,” panggil Zitao.

Nde, wae?” jawab Nichan.

Sepertinya memang benar jika ada yang terjadi tadi malam─selain pertengkarannya dengan Chanyeol. Dapat dilihat dai cara Nichan menatap Zitao, tatapan itu berubah. Mungkin karena Nichan tahu bagaimana perasaan Zitao padanya, dan Nichan juga tahu apa yang Chanyeol rencanakan untuknya.

“Bukan untuk menyatakan perasaanku,” ujar Zitao saat pandangan Nichan tertuju pada bunga carnation yang ada ditangannya.

Bunga carnation, adalah bunga yang tumbuh di halam rumah yaang Chanyeol rawat dengan telaten. Sekarang bunga itu rekah, dan dengan teganya Zitao memetik bunga itu.

Nichan menaikkan alisnya, ia benar-benar bingung dengan Zitao. Yang ia ingat Zitao adalah namja yang kemarin bangun paling siang, dan hari ini ia bahkan bangun mendahului Chanyeol. Zitao adalah namja yang menyukainya, dan hari ini ia bilang bahwa ia tak menyatakan perasaannya. Jadi sperti apa seorang Huang Zitao?

“Ini untuk Chanyeol,” tambah Zitao.

Oppa?” ulang Nichan.

Zitao mengangguk mantap.

“Bisa kau ikut aku ke kebun mawar?” tanya Zitao.

“Untuk apa?”

“Hal yang harus kita luruskan,” jawab Zitao mantap.

“Apa?”

“Nanti saja,”

Lalu mereka berdua berjalan menuju kebun mawar, tapi sekarang ini tak seperti kemarin senja. Pagi ini Zitao tak berjalan berdampingan denga Nichan, ia memilih berjalan mendahului Nichan. Ia takut jika tak bisa merelakan Nichan untuk Chanyeol, seorang lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.

Saat mereka sampai, Zitao mengajak Nichan duduk di pinggiran kebun sambil menatap ke langit timur. Mungkin setengah jam lagi matahari akan menampakkan ujudnya dari balik selimut hangatnya.

“Nichan-ssi, aku tahu bahwa kau mencintai Chanyeol,” ungkap Zitao.

Nichan hanya bisa mengulum rasa penasarannya terhadap semua ini, Zitao adalah orang yang belum ada dua hari dikenal oleh Chanyeol tapi ia sudah tahu bagaimana itu Chanyeol.

“Dan kalian bukan saudara,” terus Zitao.

“Maksudmu?”

“Chanyeol bilang, dia hanya anak pungut. Makanya dia tak mau menyebut kebun ini sebagai warisannya, dia bilang ini warisan milikmu. Tapi tetap saja dia menganggapmu sebagai adiknya, dan dia merasa cinta seperti itu tak seharusnya ia miliki,” terang Zitao.

Nichan masih membeku di tempatnya.

“Ini, pulang dan temui dia!” ujar Zitao sambil menyerahkan bunga carnation itu pada Nichan.

Terlihat jelas sudut mata Nichan, ada beberapa berkas material basah menyesak di sana.

“Zitao, bukankah kau?” pertanyaan itu menggantung.

“Iya, aku akan mencoba apa yang selama ini Chanyeol Hyung lakukan,” balasnya tenang.

Nichan berdiri sambil menatap lekat Zitao.

“Setelah ini aku akan pergi, jadi pulanglah!”

Nichan tak bias menahan air matanya, ia berlari pulang sambil menangis. Dan Zitao memandang kosong bayangannya yang mulai memudar. Zitao beranjak, ia mendekat kearah kebun bunga.

“Aku memang harus pulang,” ujarnya sendiri sambil memetik setangkai bunga mawar berwarna peach.

Entah kenapa, sejak Chanyeol memberinya bunga berwarna peach ia jadi menyukai warna itu. Zitao memang harus pulang, dan biarlah ia mencuri setangkai mawar dari kebun ini sebagai kenang-kenangan.

Lalu dalam sekejap Zitao memejamkan matanya, ia kembali ke tempat awalnya. Tahun 2013 yang lengkap dengan pelayan bernama Kim Joonmyeon dan si Barista Do Kyungsoo.

Suatu simpul senyum merekah dari bibir Zitao, ia berjalan menghampiri meja yang masih menyimpan roti bun dan espresso-nya. Ia menyesap sedikit espresso itu.

“Mungkin aku sudah terlalu lama pergi,” pikirnya kala merasa espresso sudah dingin.

Lalu ia berjalan keluar setelah merusak CCTV café itu, setidaknya perpisahan dengan Nichan masih bias membuatnya memiliki akal.

Dan entah kenapa, secara tak disengaja mata Zitao teralih pada sosok dengan seragam sekolah yang masih membeku tanpa kehilangan paras cantiknya. Mata itu terpaku pada satu objek  selama bermenit-menit. Lalu manic mata Zitao bergulir pada name tag gadis itu, Park Nichan. Sekarang Zitao harus benar-benar mempercayai tentang reinkarnasi.

Sejenak ilusi tentang yeoja bernama Park Nichan itu kembali menyesaki pikirannya.

Apakah boleh jika aku menganggapnya adalah Nichan yang dulu?, pikir Zitao.

Ia berjalan mendekat, sekilas diperhatikannya wajah cantik itu. Bibir rona delima, mata ber-iris hazel, kulit putih salju. Gadis ini memang mirip Nichan yang baru Zitao tinggalkan.

Zitao mendekat, semakin menghapuskan jarak mereka. Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibir manis yeoja itu. Singkat, sekedar salam kenal dari Zitao.

Mianhae,” ujar Zitao setelah melepas ciumannya.

Zitao menunduk sekejap, dan menemukan setangkai mawar berwarna peach berada dalam genggaman tangannya.  Lalu diberikannya mawar itu pada yeoja di depannya. Ia tak berpikir panjang apa reaksi yang gadis itu lakukan jika tahu apa yang ia lakukan.

“Namaku Huang Zitao,” ucap Zitao sebelum pergi meninggalkannya dan membuat waktu kembali berjalan seperti semula.

 

Saat semuanya berjalan seperti semula, gadis itu terkaget atas bunga mawar yang ada di tangannya. Dan ujung telunjuk kanannya meyentuh pelan bibirnya, ia merasa ada yang baru saja menyentuh bibir itu. Ia segela berbalik arah, namun hanya mendapati seorang lelaki tegap yang berjalan menjauhinya.

 

 

“Zitao, kali ini kau harus bersikap sopan. Mereka yang akan dating kemari, jadi kau tak bisa pergi!” kata ayah Zitao.

Zitao sedang berada di ruang makan bersama ayah dan ibunya, hari ini akan ada makan malam bersama antara keluarganya dan keluarga calon tunangannya.

Huang Zitao yang sekarang ini lebih mematuhi orang tuanya, ia akan menyetujui perjodohan ini. Dia masih bisa belajar untuk mencintai gadis yang ditunangkan dengannya, ia belajar dari Nichan dan Chanyeol yang saling mencintai karena saling terbiasa. Mereka terbiasa hidup bersama, dan terlebih dalam status kakak dan adik.

Ada suara geraman mobil di luar sana.

Selamat belajar Huang Zitao, batinnya.

Dan beberapa saat kemudian, sepasang suami istri berjalan menuju ke arah mereka dan bersalaman hangat dengan orang tuanya. Keluarga Park, ia hanya baru tahu siapa mereka dan untuk wajah mereka Zitao juga baru tahu karena seringnya ia kabur di saat-saat pertemuan mereka dulu.

Zitao berdiri dan member salam. Lalu seorang gadis berjalan pelan memasuki ruangan itu. Ia menunduk dengan rambut ikal hitam panjang, dan dress berwarna peach dan motif bunga mawar membalut tubuh rampingnya.

Zitao masih belum siap, tapi ini suatu keharusan.

Zitao memandang wajah gadis itu.

“Park Nichan imnida,” kata gadis it dengan suara lembutnya.

Zitao tak bisa mempercayai telinganya, tapi ia percaya akan matanya. Dia gadis yang ia cium dan ia beri bunga di jalanan, reinkarnasi cintanya. Dan setelah itu Zitao hanya memandangi kesempurnaan lekuk wajah maha karya Tuhan, dan telinganya hanya menangkap suara ibunya yang memuji-muji gadis itu.

Dia memang ditakdirkan untukmu, Zitao.

 

FINISH-

What about my first fantasy fanfiction? for the reader(s), thank to much for reading and (maybe) like this ff. Comment are very welcome. And off-course thank to much-much-much for the admin who want to publish this ff. And, if you wanna request a drabble ff, you can call me at my facebook (Puspa Irra). Bye..

35 pemikiran pada “POWER series – Time Control

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s