Detention (Chapter 3)

Title : Detention Chapter 3

Author : Bublebit (@Novita_Milla)

Genre : Romance, Comedy, Friendship, School life

Cast : Yoon Yisun, Kim Jongin, Oh Sehun, Jung Soojung (Krystal f(x)), Park Chanyeol, No Minwoo (Boyfriend), Do Kyungsoo, Huang Zi Tao, Suho, Tiffany Hwang (SNSD), Choi Siwon (SJ)

.

.

Author’s side

BRAKKKK

Jongin menutup pintu dengan kasar. Ia meninggalkan Yisun yang mematung tak percaya pada kelakuan seorang Kim Jongin yang dikenal sarkartis namun mempesona karena keitemannya dan kegantengannya (?). “Egois. Mana mungkin lelaki seperti dia punya banyak penggemar. Yang ada para penggemarnya itu semua buta!” Sungut Yisun kesal.

“Dia memang bisa berlaku sangat kasar ketika sedang kesal. Dan sekarang ini pun dia sangat kesal. Karena melihatku, mungkin…..” Sahut sebuah suara dari belakang piano hitam yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuh kecilnya.

Yisun mematung mendapati suara seseorang yang biasanya hanya ia dengar dari kejauhan atapun di saat upacara.

“O-O-Oh….Oh Sehun?” Yisun terbata. Tak percaya seorang Oh Sehun berada di ruang musik yang biasanya ia tempati sendiri.

“Kau mengenal Jongin?” Tanya Sehun beranjak dari lantai di samping piano.

“Kami berteman.” Jawab Yisun masih tak dapat mengontrol sikapnya.

“Begitukah?” Tanya Sehun lagi sambil mencondongkan tubuh kecil atletisnya ke arah Yisun yang sekarang tertunduk. Sedangkan Yisun terus mengalihkan pandangannya dari Sehun yang mencoba membuat kontak mata dengannya.

“Eo, tentu saja.” Ujarnya gugup. Untuk kedua kalinya Yoon Yisun berbicara dengan Oh Sehun dengan sangat gugup. Untuk pertama kalinya juga dia tak bisa menghindar dari Sehun.

Sehun menegakkan tubuhnya kembali. Ia lumayan kesal dengan sikap Yisun kali ini.

“Kau masih ingat perjanjian kita bukan?” Tanya Sehun setelah ia duduk di salah satu kursi diseberang kursi yang ditempati Yisun. Ia mengambil buku yang tadinya tergeletak di kursi tadi.

“Eoh, tentu saja. Wae irrae?”

“Kau tidak lupa janji nanti malam kan?”

“Eoh. Pukul 7 kan? Tentu saja aku masih ingat.”

“Baiklah. Jangan sampai terlambat!” Perintah Sehun sembari berjalan keluar ruangan. Tanpa say ‘goodbye’ ataupun ‘aku pergi dulu’. Ya karena itu bukanlah gaya Oh Sehun yang Yisun kenal.

“Dasar tukang perintah. Nappeun nom!” Rutuk Yisun pada diri sendiri setelah Sehun benar-benar meninggalkan ruangan.

.

***

.

Chanyeol dan Minwoo rupanya belum pulang sedari tadi. Padahal matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Ternyata mereka sibuk menjalani detensi dari Choi saem, guru agama paling ganteng, tampan, sholeh, dan random sejagat kpop.

Mereka sibuk mendengarkan ceramah dari Choi Siwon saem dari pukul 3 sore, hampir 3 jam mereka duduk dalam diam dan merenungi dosa apa saja yang telah mereka buat.

“Kalian masih sangat muda, anak-anak. Berbuatlah kebaikan antara sesama manusia. Sesungguhnya, kita harus saling tolong-menolong kepada sesama. Terbarkanlah kebaikan mulai dari sekarang.” Terang Pak Haji Siwon dengan kewibawaannya.

“Pak, jadi kalo ulangan saya boleh ngasih contekan dong ke Kyungsoo?” Tanya Tao. Rupanya disana juga terdapat dua mahkluk paling random sejagat kpop, Kyungsoo dan Tao. Mereka berdua dihukum karena ketauan ngupil saat pelajaran menanak nasi Kim Ryeowook seonsaengnim. Tanpa mereka sadari sebiji upil telah melayang ke dalam puding buatan Namjoo dan Pilsook yang akan dicicipi Kim saem. Alhasil, Kim saem kejang-kejang, muntah darah, lalu divonis jadi kakek-kakek yadong (?). Nista banget pokoknya T^T

“Yang Bapak maksudkan bukan seperti itu. Tolong-menolong boleh, asalkan masih berada di jalan yang benar.” Jelas Pak Haji Siwon tersenyum haru. Dalam hati Kyungsoo bingung pada masalah alias topik yang dibicarakan. Tadi—2 jam yag lalu ngebahas upil, 1 jam yang lalu ngebahas Sistar 19 yang lagi comeback, dan saat ini ngebahas tolong-menolong. Ini guru beneran guru kaga sih?

“Wow, super sekali.” Komentar Minwoo memberi applause.

“Kok gue semacem duplikatnya bang Super Sekali ya?”

“Bagus dong, Pak. Berarti ada mahkluk yang masih bijak di saat demam kpop merajai anak tangga SMA Momo.” Tao nyahut.

“Sejak kapan lo perhatian sama kpop? Lo kan dari China! Mana boleh lo ikutan ngomong kpop?” Kyungsoo berkata sinis. Kyungsoo sudah tak tahan berada disana. Apalagi nanti malem Kyungsoo musti perform sama kembarannya dari Indonesia.

“Ihh.. lo kok gitu sama gue sekarang? Cuktao deh cuktao.”

“Ihhh.. kalian cucok deh. Ngikut dong!” Minwoo nimbrung.

Pak Haji Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya—pusing melihat ke tiga anak didiknya berlaku cucok. Sesekali beliau membenarkan letak kacamata minusnya yang mengkilap diterpa cahaya matahari sore musim semi. “Sepertinya ceramah yang saya sampaikan belum benar-benar masuk ke dalam pikiran dan kalbu kalian.” Pak Siwon mengambil secarik kertas dari saku jasnya. “Kalian bertiga! Do Kyungsoo, No Minwoo, dan Huang Zi Tao!!! Kalian harus mengikuti acara ini. Agar pikiran dan kalbu kalian benar-benar terbuka, kalian harus mengikuti kegiatan ini!”

JRENG JRENG~~

Pak Siwon mmperlihatkan isi dari secarik kertas tadi. Lalu ketiga manusia tersebut dengan ogah-ogahan menerima perintah dari Pak Siwon.

“Eh, Pak Siwon! Kok Chanyeol ga Anda suruh ngikut acara itu?” Tanya Minwoo kepo.

“Lihatlah, dia sedari tadi memperhatikan semua ceramah saya. Dia juga tak banyak omong seperti kalian. Murid semacam dia harus kalian contoh!”

“Grr~”

Iya. Chanyeol memang cenderung diam sedari tadi, namun diam yang sebenarnya karena dia sedang tertidur pulas dengan menggunakan kacamata hitam.

.

***

.

“AARRGH!!! Kenapa kalian dari tadi ngikutin gue mulu?” Jongin berdecak frustasi. Sungguh, ia menyesal tak datang ke ruangan Hwang saem kamis lalu. Padahal ia sudah sangat hafal semua materi yang diberikan Yisun. Semuanya—mulai dari jenis soal sampai vocabulary.

Dan rasa penyesalannya tak sampai disitu. Kini ia harus mengikuti kegiatan sosial di sebelah utara Kota Dong-gu (sebelah timur Yellow Sea). Mungkin akan menyenangkan jika kegiatan itu berada di ruang tertutup di saat musim semi kali ini. Sebaliknya, yang terjadi adalah—kegiatan sosial ini benar-benar menguras tenaga. Jongin harus membantu pekerjaan petani Dong-gu utara. Mulai dari bercocok tanam, mengangkat batu, mengganti genting, sampai mencangkul di ladang. /ciee bangKai jadi kuli ciee/ lmao

Parahnya, Jongin ke Dong-gu tidak sendirian. Ia bersama murid lain yang terlalu nakal ataukah rusuh—sebab, sudah diberi detensi, namun keadaan para murid lebih parah ketimbang sebelum diberi detensi.

“Yahh, Jongin Oppa kok jutek banget sih sama Pilsook.”

Pilsook dan Namjoo—gadis yang baru-baru ini mengklaim dirinya masing-masing sebagai Jongin Biased mengikuti Jongin kemanapun ia pergi. Mulai dari ladang wortel sampai kamar mandi (?).

“Ok, listen! Kalian mending kerja ketimbang ngikutin gue dari tadi. Emangnya kalian mau kalo lo pada di marahin Hwang saem, Choi saem, sama tuh bocah?” Tanya Jongin pada kedua mahkluk tersebut. Sedangkan yang bersangkutan berusaha mengangguk dengan imut.

“Ya sudah, kalo gitu paikting (?) ya Jongin Oppa!!”

‘Dasar cewek centil’ Gerutu Jongin dalam hati.

Kini Jongin sibuk mengangkat batu bersama rekannya—Kyungsoo, Tao, Minwoo, Chanyeol, dan Sehun. Oh Sehun? Murid jenius, sopan, dan beretika. Sangat mustahil bukan namja itu mengikuti kegiatan sosial sebagai pengganti detensi khusus.

“Jongin-ah, lo pantes banget jadi kuli batu.” Akhirnya Tao angkat bicara setelah acara angkat-mengangkat batu batu selesai.

“Diem lo!” Sungut Jongin ga nyante.

Mana mungkin Jongin bisa tenang—berpura-pura tak ada yang terjadi setelah ia bertemu bahkan menghabiskan waktu paginya dengan orang yang selama ini ia berusaha menghindarinya. Bahkan setelah dua tahun lamanya.

Jongin memutuskan untuk pergi dari tempat itu—rumah salah satu pekerja batu. Ia ingin menenangkan pikirannya barang lima menit. Ia berharap bisa menemukan tempat yang tenang untuk menampung dirinya sendiri. Berharap ia bisa mengontrol emosinya. Tentunya agar semua orang tak mencurigai kelakuannya.

Jongin berhenti berjalan ketika ia mendengar gemericik sungai mengalun tak jauh dari tempatnya berdiri. Seketika kenangan pahitnya dua tahun lalu melintas di pikirannya. Kenangan itu berputar terus di kepalanya.

Jongin tertawa mengejek dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya terlalu bodoh. Terlalu bodoh untuk sekedar percaya pada sahabat lamanya—hmm, mantan sahabat lebih tepatnya.

“Hey!” Seseorang menepuk pundak Jongin dari belakang. Lantas rangkaian kenangan yang berputar di kepalanya berhenti seketika. Digantikan oleh pemandangan bocah berusia 18 tahun, cantik, dan menyilaukan mata.

“Apa? Kau mengikutiku?”

“Kau tidak lapar? Kau tak mau makan jatah makan siangmu?”

“Kenapa kau perhatian sekali padaku? Kau menyukaiku? Kau jatuh cinta padaku?” Balas Jongin bersemangat.

“Untuk apa aku menyukaimu? Beri aku alasan kenapa aku harus menyukaimu?”

“Aku punya bibir yang tebal. Setiap gadis normal pasti ingin berciuman denganku.”

“Cih.. Sudah berapa gadis yang menginginkan bibir tebalmu itu?”

Jongin tampak berpikir. Ia menggunakan jari-jari tangannya—tampak menghitung berapakah gadis yang sudah bercuiuman dengannya. Namun Jongin menghentikan kegiatan menghitungnya yang bisa dilihat ia telah menunjukkan 8 jari yang terbuka. “Sstt, Penyu Tidur! Kenapa kau ingin tahu berapa banyak gadis yang telah berciuman denganku? Apa kau ingin tahu kau berada di urutan ke berapa jika kita berciuman? Hmm, mungkin kita bisa mengaturnya!”

Penyu Tidur alias Yoon Yisun mulai naik darah. Berkebalikan dengan Jongin yang terkikir geli dalam hati. Menyembunyikan kesenangannya menggoda gadis yang lebih pendek darinya.

“Apa? ‘Penyu Tidur’? Berciuman denganmu?” Tanya Yisun tak percaya.

Jongin menundukkan kepalanya ke arah kepala Yisun. Kedua tangan Jongin dilipat di depan dadanya, sedangkan kepalanya mencoba menatap mata Yisun dari dekat. Sebaliknya, Yisun tampak kaget atas apa yang dilakukan Jongin. Ia mencoba menghindar dengan menundukkan kepalanya ke bawah—mencari objek lain yang ia harap lebih menarik kali ini.

“Yoon Yisun lambat tertidur di ranjang milik Kim Jongin.” Yisun kembali terkaget mendengar ucapan pelan Jongin tepat di telinganya. Darahnya sempat berdesir pelan dan perutnya seperti digelitik benda aneh.

Yisun mendongakkan kepalanya, antara kaget dan tak percaya. Tepat saat itu mereka menatap satu sama lain. Tepat di pusat mata masing-masing.

Lumayan lama.

Jongin menyeringai. Entah itu seringaian nakal atau seringaian setan. “Kau yang pertama.” Ujarnya pelan sambil melenggang kembali ke tempat semula—di rumah Kepala Desa yang bersedia menampung mereka untuk tinggal.

Yisun mencerna ucapan Jongin lama. Ia tak mengerti maksud dari kata yang pertama. Apakah ia terlalu bodoh untuk menyadari apa yang terjadi?

“YAA KIM JONGIN!!!!! BERANINYA KAU!!!!!!!”

Jongin tersenyum penuh kemenangan. Kali ini ia sukses membuat orang semacam Yoon Yisun kesal setengah mati. Yisun terus-terusan memutar otaknya—berpikir keras, berharap dapat mengingat sesuatu. Siang sampai sore ia terus berpikir mengenai ‘hal itu’. Sampai-sampai ia dimarahi Hwang saem yang melihatnya hampir menggosongkan ikan teri buatannya sendiri.

.

***

.

“Malam yang indah.” Ujar sebuah suara yang entah bagaimana bisa berada di samping Jongin saat ini. Ia mengikuti arah pandangan Jongin yang tertuju pada bulan sabit yang dikelilingi beberapa lapis awan putih yang tak terlihat.

Mereka berada di teras depan rumah tradisional Korea milik kepala desa. Teras depan yang biasanya digunakan untuk makan bersama keluarga.

“Tidak juga.” Gumam Jongin menanggapi. Ia menoleh sebentar ke arah gadis itu. Jongin tersenyum kecut ketika gadis yang ia tahu sebagai teman sekelas sekaligus orang yang selalu berada di dekat Sehun. ‘Pacar baru mungkin’, batin Jongin berspekulasi.

Jongin sangat tahu karakter orang seperti Jung Soojung—nama gadis itu. Gadis pintar, berkelas, dan sangat cantik dari golongan atas yang sungguh egois. Apalagi jika sudah menyangkut laki-laki. Pasangan di masa depan untuk dijadikan kunci meraih uang.

“Untuk apa kau kesini? Tempat ini bahkan tak cukup pantas untuk orang secantik dirimu.” Sindir Jongin halus.

Soojung tersenyum kecil. Ia bisa membedakan mana pujian dan mana celaan. “Bukankah kegiatan sosial ini terbuka untuk semua murid SMA Momo? Apakah aku harus kena detensi dulu agar bisa mengikuti kegiatan ini?”

“Kupikir kau kemari karena ingin mengekori orang itu.”

“Nugu? Ahh.. maksudmu Oh Sehun? Memangnya kenapa?”

Jongin tak menjawab. Dia terlalu malas untuk menanggapi pertanyaan Soojung yang lama-lama membuatnya bosan. “Kupikir kau pacarnya.”

“Apa?” Soojung tertawa renyah, “Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu? Kami berteman. Lagi pula aku kemari karena mendapat perintah dari kepala sekolah agar memantau kegiatan disini.”

Jongin mengerutkan dahinya. ‘Bukankah ada Hwang saem dan Choi saem, untuk apa Kepala Sekolah Lee Sooman menyuruh anak ini?’ Batin Jongin bertanya-tanya.

“Karena aku petinggi MPS. Aku wakilnya dan Sehun ketuanya.” Terang Soojung seolah mampu menjawab pertanyaan Jongin.

Setelahnya Jongin memilih untuk diam. Ia tak ingin terlibat pembicaraan lebih panjang tentang apapun dengan Soojung.

Hening.

Jongin tetap memilih untuk diam melihat malam awal musim semi. Sesungguhnya, Jongin tak menyukai Soojung—ia benci dengan gadis munafik dan naif sepertinya. Apalagi kesan liciknya sungguh kentara jelas dari raut wajahnya.

“Geurae, jangan menganggap hubungan kami lebih dari itu. Walaupun di sekolah telah tersebar gosip miring yang kelewat aneh.”

‘Nah, mulai kan! Ni anak percaya diri banget. Orang gue cuma berspekulasi doang. Lo pikir gue tahu kalo ada gosip kalian pacaran. Jangan ngarep gue kepengen tahu!’

Soojung meraih tangan kiri milik Jongin. Sang empunya mendelik heran.

“Jongin-ah.” Soojung menatap Jongin lekat-lekat, “Bagaimana jika kau menjadi pacarku saja?”

.

TBC

.

Keep calm and wait next chapter!! Comment+Like are very welcome! :]

With Love, Bublebit (@Novita_Milla) n_n

Iklan

2 pemikiran pada “Detention (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s