A Long Summer With 6+1 (Chapter 11)

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 11)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

97558360

====================

Kedua gadis yang masih saling diam itu menolehkan wajahnya kearah pintu, mata mereka membelalak saat mereka menemukan dua orang pria dengan perawakan yang sangat kontras.

Pria yang berteriak tadi—memiliki wajah yang bisa dibilang sangat cantik, rambutnya yang berwarna cokelat muda membuat dirinya terlihat mungil, ia mengenakan jaket berwarna biru langit, celana panjang merah kotak-kotak dan sepatu berwarna merah. Lelaki itu membawa beberapa kantung belanja yang sepertinya merupakan oleh-oleh, dan tas ransel dengan gantungan kunci berbentuk rusa. Suaranya yang ringan dan wajah yang benar-benar imut membuat Haerin sempat mengira bahwa ia adalah seorang perempuan.

Sedangkan pria yang satunya… oh, dia benar-benar tinggi. Ia hanya mengenakan kemeja berwarna biru lembut dengan celana jins biasa. Rambutnya pirang dan tatapannya sama dinginnya dengan Sehun. Dan wajahnya benar-benar tampan. Kedua gadis itu langsung saja membayangkan pangeran dengan kuda putihnya. Bahkan saat lelaki itu berjalan mendekati Suho, Haerin dan Jihwa harus mendongakkan wajah mereka agar bisa melihat lelaki itu dengan jelas.

Haerin terlihat terkejut saat lelaki yang berwajah polos dan imut itu berlari kecil mendekati Sehun. Bahkan Sehun yang tadi sangat dingin dalam sekejap terlihat sangat bahagia saat lelaki imut itu ingin memeluknya.

“Sehun-ah,” panggil lelaki itu dengan suaranya yang ringan daan terdengar merdu. Sehun pun beranjak dari sofa dan langsung membalas pelukan lelaki itu.

“Luhan gege,“ sahut Sehun sambil cekikikan kecil.

Lelaki yang bernama Luhan itu lalu melepaskan pelukannya dan beralih memandang Haerin dan Jihwa yang menatapnya juga. Masing-masing dengan tatapan yang berbeda. Haerin menatap Luhan dengan bingung dan seakan hilang, sementara Jihwa menatap Luhan seperti sedang melihat artis dunia.

“Inikah kedua gadis yang pernah kau ceritakan padaku, Suho-ya?” tanya Luhan sembari menatap Suho sekilas lalu berbalik menatap kedua gadis didepannya. Suho hanya mengangguk pelan lalu menghela napas, merasa lega karena Luhan datang di waktu yang benar-benar tepat.

“Yo, Kris hyung!” sapa Chanyeol seraya melayang tos kearah lelaki jangkung dan super tinggi yang bernama Kris itu, Kris pun langsung membalas tos dari Chanyeol. Tak heran mereka berdua sekarang terlihat seperti tiang berjalan karena mereka mempunyai tinggi yang tidak terlalu berbeda.

Annyeong, Luhan ibnida,” sapa Luhan dengan aksen Korea yang terdengar aneh pada kedua gadis itu seraya melambaikan tangannya. Haerin dan Jihwa pun membalasnya seraya menundukkan kepala mereka berdua. Karena tidak ada yang menyebutkan namanya masing-masing, Sehun langsung ambil alih.

Sehun menegakkan tubuhnya, “Yang berkaus hitam itu namanya Kim Jihwa—“ Sehun sedikit mendelik kearah gadis itu saat menyebutkan namanya—“dan yang kecil itu, bernama Choi Haerin. Jihwa berbeda dua tahun dari Haerin. Jihwa berumur tujuh belas sementara Haerin berumur lima belas tahun…” Sehun menyudahi perkenalan gadis-gadis itu. Jihwa pun mengangguk sembari tersenyum menawan sedangkan Haerin tersenyum tipis dan masih tidak berani menatap Luhan secara langsung.

Jinjja?—benarkah? Yang ini masih berumur lima belas tahun?” tanya Luhan tidak percaya seraya menunjuk tepat kearah Haerin, Sehun pun mengangguk dan Luhan pun langsung tersenyum pada Haerin.

Aigoo, neomu kyeopta!” ucap Luhan sambil menyenggol hidung Haerin pelan, lalu lelaki itu menatap Jihwa, “Kau harus menjaganya! Kau harus mengajarinya hal-hal tentang wanita atau semacamnya itu! Arrachi—ok?” ujar Luhan sambil tersenyum lebar kearah Jihwa. Membuat Jihwa sempat melirik sekilas kearah Haerin lalu membalas senyuman Luhan.

“Hehe, arrasseo, oppa,” jawabnya, nyengir. Padahal dalam hatinya sendiri, sungguh ia tidak sudi menjaga gadis kecil manja dan merepotkan itu. Sehun pun menatap Jihwa dengan pandangan sarkastik, seakan-akan tahu bahwa Jihwa sebenarnya berbohong, lagi.

Sehun pun mengalihkan pandangannya, enggan menatap Jihwa lebih lama. “Luhan gege, tumben kau datang kesini tan-pa memberitahu kami sebelumnya,”

Luhan pun hanya tertawa kecil sambil mengibaskan tangan-nya diudara, “Aku sebenarnya ingin memberikan kejutan kepada kalian semua! Oh, ya, kenapa kalian semua berwajah tegang?” tanya Luhan, melihat kearah satu-persatu wajah demi wajah yang berada disekitarnya. Jangan tanya bagaimana wajah Kris—ia memang seperti itu wajahnya.

“Ah, anniyo, hyung. Kami hanya kaget dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka,” jawab Baekhyun berusaha menutupi masalah yang sebenarnya terjadi sambil meringis kecil. Luhan dan Kris pun mengangguk mengerti.

Kris pun menjatuhkan beberapa kantung belanja di lantai, “Oh, jadi kami membuat kalian semua kaget, ya?” tanyanya tersenyum jahil. “Ini ada oleh-oleh untuk kalian semua!”

Begitu mendengar kata ‘oleh-oleh’, D.O dan Chanyeol lang-sung beringsut mendekati sang leader dari grup besar EXO itu. Keduanya langsung sibuk membuka satu persatu kantung itu untuk memastikan bahwa ada label bertuliskan nama mereka disitu.

Dalam waktu sebentar saja sepertinya para member EXO-K yang lainnya benar-benar tidak bisa mengindahkan banyaknya oleh-oleh yang ternyata dibeli oleh Luhan dan Kris dari Cina. D.O dan Suho bahkan sempat bersyukur karena selain kedua member EXO-M itu membeli pakaian atau barang yang lain, mereka juga membelikan beberapa makanan-makanan ringan dan bahan-bahan mentah. Pokoknya persis seperti orang yang baru dari pulang kampung.

“Ah! Aku sampai lupa! Yeojadeul, aku juga punya oleh-oleh untuk kalian!” seru Luhan yang kemudian langsung merogoh tas ranselnya untuk mengambil sesuatu, kemudian tangan kecilnya mengeluarkan plastik putih berukuran lumayan.

Luhan pun membuka plastik itu, senyum masih mengembang di wajah imutnya. Tak lama kemudian ia sudah mengeluarkan sesuatu yang sedikit terlihat asing dimata Jihwa dan Haerin.

Jihwa pun menerima benda pertama yang diberikan oleh Luhan, gadis itu memerhatikan benda yang sudah berada di tangannya itu, perlahan senyumannya mengembang. Senyuman yang tulus.

Kamsahabnida, oppa,” ujar Jihwa masih tersenyum seraya memandangi buku catatan kecil dengan motif yang bisa dibilang tidak biasa. Jihwa sendiri bingung untuk mendeskripsi-kannya. Perpaduan antara corak khas Cina dan corak modern yang membuat Jihwa langsung terpesona. Luhan pun hanya membalasnya dengan cengiran lebar.

“Dan kau, si kecil…” Luhan pun kembali merogoh sesuatu dari tas ranselnya, “Ini dia,”

Haerin menggeser tempat duduknya untuk menerima benda yang diserahkan oleh Luhan. Buku sketsa yang terbuat dari kertas cokelat, lengkap dengan pensilnya.

Luhan memerhatikan Haerin yang langsung terpana dengan buku sketsa yang ia terima darinya, membuat dirinya sendiri geli. “Kudengar kau suka menggambar…” kata Luhan pelan yang sukses membuat Haerin mengangkat wajahnya menatap Luhan.

N… ne?” Haerin langsung gelagapan, ia merasa bahwa dirinya tidak pernah memberitahu siapa-siapa tentang kegemarannya menggambar. Gadis itu langsung penasaran, apakah eommanya yang berada di rumah itu memberitahu pria Cina ini?

Haerin bermaksud untuk menggeleng, bukan mengelak, tetapi untuk merendah diri, tetapi Luhan memotongnya, “Aku dengar dari Sehun,” kata Luhan cepat dan langsung memandang Sehun.

Sehun yang mendengar Luhan membocorkan kata-katanya pun tidak segan mendorong kepala Luhan pelan. Mata Sehun bertatapan dengan mata Haerin selama sekejap sebelum akhirnya ia berdeham untuk menahan malu, menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.

Haerin pun ikut menunduk juga karena malu, tetapi tidak ada yang menyadarinya sampai akhirnya Luhan kembali membu-at suara.

“Tetapi sayang sekali kami harus pulang malam ini,” ujar Luhan dengan tampang sedih. Kris pun mengangguk untuk mengiyakan. “Kami harus mengunjungi member EXO-M yang lain. Kalian tahu, kan, Xiumin dan Chen masih berada di Seoul selama beberapa bulan ini,” tambah Kris.

Mata Suho membulat, “Ne? Mereka bahkan tidak memberitahuku!”

“Mungkin mereka akan takut jika kau menyuruh mereka untuk tidur disini nantinya. Mereka mau tidur dimana?” canda D.O. Suho pun hanya mendelik.

Haerin diam saja memerhatikan orang-orang di depannya yang saling sibuk berbicara satu sama lain. Bahkan Jihwa saja sudah bisa mengobrol akrab dengan Kris. Mata Haerin memerhatikan barang-barang yang tercecer di lantai ruang tengah dengan teliti, menyadari ada sesuatu yang ganjal, gadis itu beringsut mendekati Luhan.

Luhan yang sadar bahwa Haerin sedang merangkak mendekatinya hanya bisa memundurkan tubuhnya sedikit. Tidak menyangka bahwa gadis sekecil ini sudah bisa agresif juga. Namun nyatanya Haerin tidak melihat Luhan, tangannya yang kecil pun meraih sesuatu yang terdapat di depan kaki lelaki itu.

“Kumbang?” tanya Haerin dengan mimik polos seraya menaruh kumbang kecil itu di telapak tangannya. Tiba-tiba satu ruangan itu kembali tegang, masing-masing berwajah batu dan diam, terlebih Baekhyun yang terlihat pucat pasi. Haerin mengangkat wajahnya, menyadari semua pasang mata sedang memerhatikannya hati-hati. Dengan tiba-tiba Haerin pun medekatkan kumbang yang berada di telapak tangannya itu ke wajah Luhan, sorot matanya mengatakan, Lihat ini!

Haerin masih saja keukeuh agar Luhan melihat apa yang berada di tangannya, tetapi Luhan hanya bisa memandang lurus kearah kumbang hitam menjijikan yang berada tepat di depan matanya. Luhan membayangkan kalau kumbang itu sebentar lagi akan melompat ke wajah mulusnya.

Kemudian secara refleks Haerin melempar kumbang itu dari tangannya saat tiba-tiba satu ruangan itu menjerit seperti anak perempuan. Kris dan Chanyeol yang notabenenya adalah tiang berjalan bahkan sudah berlari pontang-panting. Luhan yang sedari tadi masih syok hanya bisa mematung. Baekhyun bahkan sudah hampir pingsan. Hanya Suho yang masih waras dan tenang di ruangan itu. Jihwa yang sedari tadi berada dibelakang Haerin sudah menghilang entah kemana.

Gadis dengan kumbang yang sudah pergi entah kemana itu hanya memandang bingung kearah orang-orang yang sedang bersembunyi ketakutan. Bahkan ada yang bersembunyi di dapur saking paranoidnya.

Suho menahan tawa saat melihat Haerin yang masih berkutat untuk mencari kumbang yang lepas itu. Perlahan Suho berjalan mendekati Haerin, bermaksud untuk menahannya agar tidak usah mencari binatang kecil itu sejak seluruh orang di rumah ini sangat takut dengan serangga apapun.

“Haerin-ah, mereka semua takut dengan kumbang,” kata Suho lembut yang sukses membuat Haerin mengangkat kepalanya dan langsung menatap Suho dengan matanya yang kelewat polos itu.

Oppadeul… takut dengan kumbang?” tanyanya seraya menahan tawa. Suho mengangguk, dan Haerin yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya.

Haerin tertawa renyah, “Kau pasti bercanda, oppa!”

Suho tersenyum melihat Haerin yang sedang tertawa, entah mengapa ia merasa ada angin sejuk yang menerpa hatinya. Tangan Suho pun bergerak untuk mengelus rambut Haerin dengan lembut, “Kuharap aku—maksudku kami, bisa melihat kau tertawa seperti itu di hari-hari berikutnya,”

Gadis itu pun menghentikan tawanya, tetapi masih tersenyum, ia merasa bahwa Suho adalah lelaki yang terlalu baik dan bijaksana. Ia suka melihat cara Suho merawat member yang lain, dan saat memperlakukannya seperti adik kandung. Tetapi dari hati Haerin yang paling dalam… ia masih merasa penasaran kepada satu orang.

Tiba-tiba saja member EXO yang lain sudah mengitari mereka berdua, Haerin dan Suho mengangkat wajahnya bersamaan. Haerin hanya bisa nyengir saat melihat wajah Luhan dan Baekhyun yang sedang menatapnya dengan tatapan seram. Namun ketika ia melihat tatapan Kris yang lebih menyeramkan lagi, Haerin langsung saja menunduk ketakutan.

“Lihat, dia takut pada Kris hyung,” kata Sehun, yang tentu saja dengan intonasi yang datar seperti biasa. Haerin hanya bisa mencibir sambil menunduk saat mendengar hal itu.

Ya! Kau! Cepat kau singkirkan makhluk menjijikan itu dari sini!” seru Jihwa yang ternyata berasal dari balik sofa.

Haerin menghela napas, “Kumbang itu ada disebelahmu, eonni,” sahut Haerin agar bisa didengar oleh Jihwa. Suho pun menahan tawa karena candaan Haerin.

Terdengar suara sentakkan dari mulut Jihwa, “Ap… KYAAA!!!” pekik Jihwa tiba-tiba. Ia pun bahkan segera melompat keatas sofa saking terkejutnya. Jihwa pun sempat menatap orang-orang yang juga menatapnya dengan tatapan aneh. Hening.

Haerin pun tertawa terbahak-bahak. Kali ini membuat Jihwa langsung menatap sadis kearahnya. Namun Haerin dan lainnya tidak menyadari karena para member EXO pun juga terperangah melihat Haerin yang biasanya selalu berdiam diri, bisa tertawa segeli itu.

=================to be continued================

14 pemikiran pada “A Long Summer With 6+1 (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s