Tell Me Where It Hurts (Chapter 3)

Title            : tell me where it hurts (chapter 3)

Author       : dindin

Genre         : romance, friendship, sad, school life

Rating        : general

Length       : chapter

Cast            :

  • Lee hyun seok (OC)
  • Wu Yi Fan/ Kris
  • Xi Luhan
  • Park Seo Ri (OC)
  • Nam Seol gi (OC)

A.N             : balik lagi sama ff abal-abalkuuu. Jangan lupa comment ya Happy reading  J

Summary   :  aku masih bisa bahagia seperti sekarang. Setidaknya arti kata bahagia yang hanya ada dalam kamus hidupku.

 

—-____—-

Angin sepoi-sepoi berhembus dengan lembut. Cuaca kali ini sedikit mendung namun tidak menutup kemungkinan akan kembali cerah seperti sebelumnya. Burung-burung bernyanyi mengikuti suasana hatiku saat ini. Itu sedikit membuatku rileks. Dan aku baru sadar, jika aku membolos pada jam pelajaran matematika. Biarlah. Aku sudah cukup muak hari ini. Sampai ada seseorang yang menepuk pundakku . aku ingin langsung memarahinya karena mengganggu waktu bersantai ku tapi saat aku berbalik kata-kata yang telah aku siapkan untuk memarahinya hilang tak berbekas.

“k-kau!”

—–_____—–

 

“k-kau” kataku. refleks aku menunjuk wajahnya dengan telunjukku. Orang dihadapanku hanya sedikit tersentak dengan lengkingan suaraku yang bisa dibilang lumayan memekakan telinga. Namun raut mukanya tak berubah, tetap tajam dan..tampan.

“b-bagaimana kau bisa berada di sini?” kataku cepat. Kulihat dia sedikit berfikir. Karena alisnya bertautan dan membuat sedikit kerutan di dahinya.

“mulai sekarang aku menjadi pelatih tim basket di sekolah ini hyun seok-ssi” balasnya tenang. Mungkin ia menyadari bahwa sedari tadi telunjuk tanganku belum berpindah tempat dari depan wajahnya. Jadi perlahan-lahan dia menurunkan tanganku. Kemudian ia tersenyum. Sangat manis. Sangat. Sungguh.

“senang bertemu lagi denganmu hyun seok-ssi. Aku tak percaya kita akan bertemu lagi di tempat dan dengan cara seperti ini” sahutnya setengah bercanda. Lagi-lagi ia mengeluarkan jurus andalanya. Ya tersenyum dengan sangat manis.sangat. selanjutnya ia mulai terkekeh pelan dan sedikit menahan tawanya. Mungkin ia menertawakan ekspresiku yang bisa disebut freak.

 

aku mulai menyadari jika sedikit demi sedikit ruang kosong di hatiku mulai terisi dengan sesuatu yang baru. Dia bukan luhan. Tapi kris.

 

Di perjalanan menuju kelas

 

pelatih basket.pelatih basket.pelatih basket . hanya itu kata yang terpikir oleh ku saat ini. Lorong panjang nan sepi ini seakan-akan menjadi jalanan sebuah festival yang meriah di mataku saat memikirkan kejadian tadi. bertemu dengan kris saat mood ku sedang sangat buruk sangat menguntungkan. Selain merubah moodku yang tadinya sangat menampakan wajah –tidak ingin diganggu- menjadi sedikit berseri.  Gumpalan tomat di pipiku seakan-akan mencuat dari tempat asalnya. Apakah aku harus masuk klub basket? Oh itu ide yang sangat konyol. Sebesar itukah pengaruh kris dalam hidupku? Secepat inikah rasanya jatuh cinta? Apakah ini sudah bisa disebut jatuh cinta? Oh ayolah.. aku bukan anak sd lagi yang masih percaya dengan yah kau tahu.. cinta monyet. Belum lagi aku baru mengenalnya hmm iya kira-kira emm 2 hari. Apa ini bisa disebut cinta?

 

Brukk

 

Seketika lengan mulusku mencium lantai yang kasar. Badanku terdorong kebelakang dengan cukup keras tadi. Aww ini benar-benar perih. Aku tak bisa menahan erangan yang keluar dari mulutku. Sungguh ini benar-benar sakit. Apalagi saat cairan kental berwarna merah gelap itu mengalir  dengan cukup deras. Dan meninggalkan luka sobekan yang cukup lebar.bukanya aku cengeng mengatakan ini semua tapi ini memang benar-benar sakit. lantai yang kasar, dan sedikit pecah rasanya seperti menusuk kulitku, ah! Rasanya aku ingin menangis tapi aku tak bisa! Menyebalkan! kenapa orang-orang di sekolah ini begitu merepotkan. Kubersihkan sisa-siasa pasir yang menempel di sekitar lukaku sambil meniupnya perlahan.

 

Apa orang yang menabrakku tidak punya mata! Hey lorong ini punya lebar yang cukup luas! Yah walaupun memang tidak mempunyai penerangan yang cukup sih. Tapi walau begitu manusia masih bisa melihat dengan baik kok. Kenapa ia tak menyingkir sedikitpun! Benar-benar menye—

 

Tunggu dulu. Luhan? Bukankah itu luhan? Orang yang menabrakku hingga seperti ini? Orang yang telah mngkhianatiku 2 tahun yang lalu? Orang yang membuatku tak mempunyai semangat hidup seceria dulu? Orang yang sayang sekali sangat aku rindukan? Orang yang jahat namun masih sangat kusayangi? Benarkah itu kau? Xi Luhan?

 

“apa kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. Walaupun aku tak tahu itu hanya acting atau bukan tapi aku cukup tersentuh dengan pertanyaan itu. Setidaknya sampai aku kembali teringat pada kejadian 2 tahun yang lalu. Aku sangat marah. Ya marah dan kecewa. merasa sangat bodoh tentu saja. Dengan mudahnya luhan mengkhianatiku dan meninggalkanku begitu saja. Tapi jauh di lubuk hatiku aku benar-benar masih  sangat menyayanginya.  Entah berapa kali aku mencoba untuk melupakan sosok luhan sepenuhnya. Kau tahu usahaku sia-sia. Aku tak tahu kenapa tapi aku selalu teringat kenangan-kenanganku bersama luhan. Ya… cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Luhan. Kekasih pertamaku. Cinta pertamaku.

 

“aku tak apa” akhirnya dengan  perasaan yang masih berkecamuk di dalam hatiku. Aku berhasil mengatakan 1 kalimat itu dengan susah payah.

Sesegera mungkin aku berjalan menjauhinya. Untuk sekedar menenangkan hatiku yang entah kenapa merasa campur aduk antara marah, kecewa, senang maupun,takut semuanya bercampur menjadi satu. Ku fokuskan pengelihatanku pada jalanan di lorong ini.  Namun baru beberapa langkah aku berjalan. Kurasakan genggaman hangat di lenganku- yang tidak terluka- memaksaku untuk berhenti  berjalan.

 

“aku tahu kau masih marah. Tapi setidaknya izinkan aku untuk mengobati lukamu” katanya. Raut muka luhan menunjukkan ke-khawatiran yang sangat berlebihan, dengan alis yang saling bertautan dan sorot matanya yang perlahan menjadi sendu saat melihat lukaku. Membuatku merasa aneh dan sedikit risih. mengingat aku bukan lagi.. yah kau tahu..yeojachingunya.

Sebelum aku sempat menolak, luhan segera menarik pergelangan tanganku dan menariknya secara sepihak. Genggaman tangan ini lagi. akhirnya setelah sekian lama aku bisa merasakanya lagi. walaupun dalam keadaan yang tak sama. Tetap hangat seperti 2 tahun yang lalu. Tetap membuatku nyaman dan tak berubah sama sekali.

 

Aku hanya bisa memperhatikan bagian belakang tubuhnya. Tengkuk yang selalu terlihat sama. Tegas dan menyiratkan kehangatan. Punggung yang lebar dan tegap, bahkan harum tubuhnya tidak berubah dari dulu. Mint. Kesukaanku, ternyata ia tak pernah berubah. Tapi apakah perasaanya telah berubah? Kami berjalan seperti pasangan yang sedang bergandengan tangan. Setidaknya itu yang ada dipikiranku saat ini. Karena para yeoja pengagum luhan yang notabene sunbae baru di sekolaku. Di hari pertama masuk sekolah-Langsung-menggandeng-tangan-seorang-yeoja-yang-sangat-biasa.   bisa kalian bayangkan bagaimana tatapan para yeoja-yeoja itu. Sinis,tajam dan mengintimidasi. Bahkan ada yang hampir menangis. entah apa yang akan mereka lakukan padaku besok. Huh benar-benar merepotkan.

 

RUANG KESEHATAN

 

Aku hanya menatap kosong ruangan ini. Ya. Ruang kesehatan. Ruangan yang di dominasi oleh warna putih ini terasa sangat asing buatku. Aku benci warna putih. Warna putih hanya mengingatkanku tentang hari itu. Dimana luhan mengkhianatiku. Di mana salju bertebaran disekitarku. Di mana orang-orang tengah bahagia bermain salju sementara aku hanya bisa merenung dan tersenyum kecut saat luhan meninggalkanku. Sendirian. Di malam natal. Tak ada kado. Tak ada ucapan selamat natal dari mulut manisnya. Tak ada kehangatan dari sebuah keluarga. Tak ada pohon natal. Tak ada kata cinta lagi dari luhan. Ya. Hanya meminum cokelat panas sambil mendengarkan lagu-lagu dari maroon 5 hingga tengah malam sudah cukup untukku. Setidaknya aku tidak perlu termenung memikirkan luhan hingga pagi hari dan membuat mahakarya berupa lingkaran mata panda pada wajahku. aku masih bisa bahagia seperti sekarang. Setidaknya arti kata bahagia yang hanya ada dalam kamus hidupku.

 

“coba kulihat lukamu hyun seok-ah” kata luhan membuyarkan lamunanku. Aku hanya menatapnya sesaat kemudian segera mengalihkan pandanganku darinya. Dan menunjukan lenganku yang terluka

“maaf”  apa aku tak salah dengar? Luhan meminta maaf padaku? walaupun sangat lirih namun aku tetap bisa mendengarnya. Jantungku berdenyut saat luhan mengatakanya. Terdengar tulus dan merasa bersalah.

“untuk apa?” kataku mencoba setenang mungkin. Walaupun wajahku terlihat datar namun sebenarnya aku terlalu gugup untuk menghadapi situasi seperti ini.

“untuk semuanya. Meninggalkanmu,melukaimu, aku sangat bodoh ya?” sekali lagi. kau membuatku bimbang luhan. Aku sangat tidak suka situasi seperti ini. Aku sudah terlalu sakit untuk mengenang itu semua. Bahkan aku akan sangat senang jika kau melupakanya luhan. Batinku

Luhan mulai mengobati lukaku dengan cara yang sangat lembut. Mulai dari membersihkan sisa-sisa darahku yang mulai agak mongering, meneteskan obat merah dan kemudian membalutnya dengan perban kecil. Yah walaupun hasilnya tidak sebagus suster di rumah sakit, ini sudah membuatku gugup. Kau tahu saat membersihkan lukaku tadi wajah luhan dan wajahku sangat dekat bahkan aku dapat merasakan deru nafasnya yang teratur.

“luhan-ssi” kataku pelan. Untuk saat ini aku harus memberanikan diriku. Luhan mendongak pelan. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku sekarang. Bola matanya yang bulat, hidungnya yang kecil dan bibrnya yang tipis. Terpampang sempurna di depan wajahku. Membuatku menelan ludah berulang kali. Aku segera menyingkirkan tangan luhan dari lenganku perlahan. Dan kembali membuat jarak antara kami berdua

“itu sudah berlalu, luhan-ssi. Sudah sepantasnya kita lupakan itu semua” kataku pelan namun terdengar tegas. Luhan semakin menundukan kepalanya. Kemudian kembali menatapku sendu

“tapi, apakah kita bisa mencobanya sekali lagi?” tanyanya yang sontak membuatku terkejut. Aku tak menyangka ia akan berbuat sejauh itu. Yang aku perkirakan ia hanya meminta maaf dan melupakan semuanya. Luhan kau membuatku benar-benar frustasi sekarang.

 

Di saat aku tengah sibuk mencerna perkataan luhan barusan, seseorang membuka pintu ruang kesehatan dengan cepat. Dan membuatku mengalihkan perhatianku sejenak dari wajah tampan luhan.

 

“maaf apa kalian punya obat nyeri otot dan minyak kayu pu..tih” sudah kuduga. Hari ini adalah hari ter-awkward dalam hidupku. Ya pasti dapat kalian tebak siapa itu. Kris.

“hyun seok-ssi”

“kris-ssi”

“dia, siapa?”

“ah..dia..”

 

TBC

Iklan

15 pemikiran pada “Tell Me Where It Hurts (Chapter 3)

  1. Hyunseok masih bimbang ya? Aduh plih yang pasti sja,jgn sma yg dlu”.. Hehehe author pnjangin dkit critax oke. Next part jgn lma” ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s