Werewolf (Chapter 1)

WEREWOLF [CHAPTER 1]

Title : Werewolf [Chapter 1]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre             : Fantasy, Thriller, Action *just a little*, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : General

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan (another cast will come out soon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Gomawo buat kalian yang ternyata nungguin lanjutan FF ini J Di chapter ini baru beberapa cast yang muncul. Trus di bagian yang ini menggunakan sudut pandang penulis, jadinya castnya pada diceritain gitu hehe.. Oya, kalo kalian nemu kalimat yang miring, itu maksudnya pikiran si tokoh. At last, butuh banget saran dan komen nih! Soalnya, aku terbilang masih baru dalam dunia perFFan, jadi kalo nemu kata-kata atau kalimat yang aneh maaf banget, maklum masih SMP ^^ Okeh daripada banyak omong, langsung aja enjoy the story!

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

___

How if in your body there’s another side of you? And just love will make you slowly change..

___

 

“Silahkan dinikmati!”

Senyum cerah itu menghias bibir seorang gadis cantik berbalut sweater ungu dengan rok hijau tua selutut. Siapapun yang dilayaninya tanpa sadar tersihir karena keramahannya. Selain itu, gadis itulah yang menjadi daya tarik utama restoran itu. Bagaimana tidak? Wajah cantik dan imut yang terpahat sempurna serta senyum ramahnya yang bisa menghipnotis pelanggan, akan menarik lebih banyak pelanggan lagi tiap harinya.

Kini, zaman telah berubah. Modernisasi semakin terlihat jelas di kota ini. Berbagai usaha menjamur di pinggiran jalan, seakan tak mau kalah dengan zaman. Pembangunan di berbagai lahan dilakukan demi menambah daya tarik kota. Bangunan bobrok yang semakin mundur, jauh dari keramaian kota, akhirnya menghilang tanpa bekas. Segala kenangan lama ikut menghilang bersamanya. Seoul, kota yang penuh gedung-gedung tinggi di sana-sini.

Berbeda dengan restoran tua di sudut kota yang jauh dari keramaian ini. Bangunan itu tetap berdiri kokoh hanya dengan renovasi di beberapa sisinya. Papan nama yang terlihat lebih tua dibanding bagian manapun di restoran ini, dibiarkan seperti sedia kala selama papan nama itu tidak jatuh mengenai pelanggan yang datang. Kesan tradisional restoran ini, akhirnya, mampu menarik pelanggan. Karena itulah, perlu dipekerjakan beberapa orang yang dapat mempertahankan jalannya restoran bobrok ini, sekaligus mempertahankan keberadaan restoran ini di tengah modernisasi.

“Terimakasih sudah datang, Tuan! Sampai jumpa!” ucap gadis itu dengan penuh semangat. Ia melambaikan tangannya sambil menyunggingkan senyum.

“Hyejin-ah, apa kau tidak lelah? Beristirahatlah dulu, biar ibu yang menggantikanmu.”

Lee Hyejin. Seorang pekerja tetap di restoran ramen itu. Tinggi badannya yang tidak terlalu tinggi dengan wajah imutnya membuat gadis itu tampak seperti anak kecil yang kelewat umur. Walaupun ia terbilang masih muda, 18 tahun. Sang pemilik restoran tidak rela jika harus memecatnya karena masalah sepele. Jadilah, gadis itu resmi untuk bekerja tetap sejak matahari muncul di langit sampai matahari itu menghilang.

Ia tidak keberatan sama sekali dengan keputusan pemilik restoran. Terlebih karena ibunya turut bekerja di sana sebelumnya. Dengan gaji yang cukup, mereka berdua berusaha menghidupi diri. Apapun yang dikerjakannya di restoran itu, ia lakukan dengan senang hati. Sama seperti ibunya.

Hyejin menggeleng dan tetap tersenyum, kemudian langsung melayani pelanggan yang baru datang. Ibunya menghampirinya dan memberi isyarat pada gadis itu untuk duduk di dekat meja pesanan. Wanita paruh baya itu tidak ingin melihat anak semata wayangnya jatuh sakit karena kelelahan.

“Kalau sore, pelanggan berkurang. Syukurlah..” Hyejin menyeka keringat di pelipisnya dengan sapu tangan. Karena lelah, ia sengaja menopang kepalanya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya sibuk memainkan tempat sumpit dihadapannya.

“Kau enak, aku yang kelelahan. Sejak pagi, berada di ruangan yang panas itu membuatku hampir pingsan.” sahut seorang lelaki yang bersimbah peluh. Ia menenggak segelas air mineral yang disodorkan Hyejin. “Hei, kau sudah mendapatkan buku yang kau cari?”

Mata gadis itu berbinar menatap lelaki di hadapannya. Seketika wajah lelah yang menghias wajahnya terganti dengan senyum, “Kemarin aku menemukannya di halaman. Aku beruntung ada seseorang yang membuang buku berharga itu di sana.”

“Maksudmu buku cerita anak-anak itu? Astaga, kau ini ‘kan sudah 17 tahun! Masih membaca buku bergambar manusia serigala?” Mau tak mau, lelaki berwajah lugu itu tertawa.

“YA! Kyungsoo! Aku memerlukan buku seperti itu untuk cerita yang kubuat! Hanya untuk bukti nyata cerita, mengerti?”

Lelaki bernama Kyungsoo itu hanya mengangguk sekenanya dan kembali menenggak air mineral. Ia sudah hapal jawaban apa yang akan dilontarkan gadis itu. Hanya seputar cerita yang dibuatnya, tidak lebih. Ia pun tak habis pikir apa yang membuat Hyejin begitu terobsesi dengan cerita khayalan semacam itu. Cerita anak-anak, menurutnya.

Begitu Hyejin ingin protes dengan sikap Kyungsoo, lelaki itu sudah kembali masuk ke ruangan panas yang disebutkannya, atau dapur, setelah tersadar ada pesanan dari pelanggan terakhir yang baru datang. Ia mendesah panjang sebelum mengerjakan tugasnya. Hyejin hanya bisa tersenyum jahil melihat tingkah lelaki itu.

Selama seminggu bekerja di tempat ini, ia baru menyempatkan diri untuk mengamati bagian dalam restoran. Langit-langitnya terlihat rapuh, seakan-akan dapat ambruk kapan saja jika tidak dilakukan renovasi. Beberapa sudut di bagian pinggir langit-langit, terdapat sarang laba-laba yang membuktikan bahwa restoran ini benar-benar tua. Bahkan ada beberapa bekas terbakar di dinding sebelah kiri bangunan, begitu juga di bagian dekat pintu masuk.

 

Banyak sekali yang terjadi di restoran ini. Mungkin semuanya punya kisahnya masing-masing.

 

Hyejin membayangkan berbagai peristiwa yang bisa menyebabkan bekas terbakar itu. Khayalannya yang selalu di luar pikiran masuk akal selalu bisa membuatnya merasa betah tenggelam dengan pemikirannya. Baginya, sesuatu yang menarik itu pasti harus dipikirkan dengan khayalan. Kalau tidak, ia tidak akan bisa menyelesaikan apa yang baru-baru ini ia tulis. Cerita tentang manusia serigala yang dibahas oleh Kyungsoo, bisa dibilang begitu. Walaupun nantinya ia takkan tahu apakah ceritanya akan punya akhir.

“Jangan melamun. Antar ini ke meja orang itu.” Suara Kyungsoo menghamburkan pikirannya. Hyejin mengangguk, lalu membawa nampan yang di atasnya terdapat semangkuk ramen.

Gadis itu meletakkan ramen itu dengan hati-hati di hadapan lelaki itu, kemudian membungkuk, “Silahkan dinikmati!”

Lelaki itu mendongak dan menatap Hyejin datar. Tak ada sedikitpun keramahan tampak di wajah sempurnanya. Manik matanya seakan sedang menelusuri apa yang dipikirkan Hyejin mengenai dirinya. Bibirnya yang terihat kemerahan terkatup rapat. Air mukanya jelas menunjukkan ketegasan. Dan kedua mata itu kini menatap Hyejin dengan tajam.

Hyejin merasa aneh dengan tatapan itu.

“Ada yang ingin Anda katakan, Tuan?” Hyejin mencoba menyimpulkan tatapan lelaki itu. Sayangnya, lelaki itu hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan tanpa menatap Hyejin. Ia mengambil sumpit, lalu mulai menyantap pesanannya, sementara Hyejin pergi meninggalkan lelaki itu dengan wajah bingung.

“Apa yang orang itu minta? Pasti sesuatu yang aneh sampai membuat wajahmu kusut begitu.” Kyungsoo langsung menyimpulkan tanpa menunggu jawaban Hyejin. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum seakan tidak ada hal yang mengganggu pikirannya. Untungnya, Kyungsoo tak bertanya lebih lanjut mengenai lelaki yang baru saja dilayaninya.

Hyejin menangkap ibunya yang sedang memandangnya penuh arti, seakan tahu sesuatu. Tetapi, raut wajah serius ibunya cepat hilang terganti dengan senyum hangat miliknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, batin gadis itu. Mungkin itulah yang ia coba tegaskan bagi dirinya, karena sebagian dirinya yang lebih logis mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan lelaki itu. Lelaki itu memang tidak mencurigakan, tetapi ada yang membuatnya terlihat.. sedikit berbeda.

 

Apa karena tatapan tajam itu? Aku merasa ada yang tidak benar dengannya.

 

Sekali lagi, Hyejin memandang punggung lelaki itu. Postur tubuhnya sangat sempurna bagi seorang model, sayangnya, cara berpakaiannya yang membuatnya seperti berandalan. Ia mengenakan jins yang sudah sobek di bagian pergelangan kaki kanan dan tubuhnya dibalut dengan kaus berwarna coklat yang terlihat kotor. Buktinya, terdapat bercak kecoklatan di beberapa bagian kausnya. Selain itu, ada bekas luka gores cukup panjang di kedua tangannya, yang membuat Hyejin menyimpulkan bahwa lelaki itu memang berandalan. Tetapi, hal yang tidak wajar adalah lelaki itu tidak mengenakan mantel maupun sweater sebagai penghangat tubuh di cuaca yang cukup dingin ini. Ia ingin cepat mati rupanya.

Saat Hyejin baru saja duduk di bangkunya, mendadak lelaki itu menimbulkan keberisikan. Lelaki itu dengan cepat berdiri dengan tubuh yang bergetar. Ia tampak kesakitan dan terus mengusap dadanya dengan kasar. Kemudian, lelaki itu berlari keluar restoran dengan terburu-buru dan terhuyung-huyung. Hyejin yang berniat mengejar lelaki itu, terhenti. Ia tidak melihat sosok lelaki itu lagi. Entah dengan cara apa, lelaki jangkung itu sudah menghilang dari jarak pandang, tanpa meninggalkan jejak.

“Hyejin-ah, kau tidak perlu mengejarnya. Ia sudah meninggalkan uang di sini.” Ibu Hyejin mengambil uang itu, lalu menunjukkannya pada Hyejin. Sama seperti ibunya, Hyejin tertegun. Ibunya membawa uang itu ke tempat penyimpanan uang tanpa berkomentar apapun.

Hyejin berjalan ke meja tempat lelaki itu duduk. Tak ada yang aneh dengan ramen yang dimakannya. Bahkan ramen itu seperti tidak dimakan. Agak berantakan memang, tetapi sepertinya lelaki itu hanya mengaduk ramen itu berulang-ulang dan berpura-pura sedang melahapnya. Tetapi, untuk apa?

“Lihat, ia bahkan tidak memakan ramen itu. Pelanggan macam apa dia?” Kyungsoo akhirnya mengutarakan apa yang ingin diutarakan gadis itu. Tetapi, ada yang aneh.

“Tidak, laki-laki itu memakannya.” Hyejin melihat lebih teliti pada ramen itu, “Ia hanya memakan dagingnya saja.”

Kyungsoo yang sudah sibuk merapikan meja, tidak mengomentari apa yang dikatakan Hyejin. Ia membuang tisu bekas dan beberapa sampah lainnya yang ada di meja itu, ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.

“Hei, lihat ini.” Ia menyodorkan benda itu pada Hyejin yang masih sibuk mengaduk-aduk ramen lelaki jangkung itu. “Bukankah ini kalung? Bentuknya aneh.”

Hyejin mengambil kalung itu dari tangan Kyungsoo dan memandangi benda itu cukup lama. Ia berusaha menerka bentuk liontin kalung itu. Kalung ini seperti kalung pada umumnya, tetapi yang membedakannya dengan kalung lain, yaitu bentuk liontinnnya. Liontinnya berukuran tidak terlalu besar dan terbuat dari kayu pahatan yang mengilap, serta memiliki bagian lancip pada masing-masing kedua ujungnya. Dan Hyejin semakin yakin akan bentuk liontin ini.

 

Aku tahu bentuk ini.

 

“Memang. Liontin yang tidak wajar dipasangkan pada sebuah kalung.” Hyejin beralih menatap Kyungsoo yang tampak kebingungan.

 

“Ini kepala serigala.”

___

 

Seperti biasa, setelah restoran ini tutup, para pekerjanya tidak diperbolehkan pulang begitu saja. Itulah yang kadang membuat Hyejin sedikit sebal. Ia malah harus mencuci banyak mangkuk kotor yang menumpuk di tempat pencucian. Ibunya kedapatan tugas untuk menyapu lantai restoran, sedangkan Kyungsoo kembali masuk ke dapur untuk mengecek bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ramen keesokan harinya.

Beruntung untuk mereka berdua. Jika saja tugas yang diberikan pemilik restoran ini dapat dilakukan secara bergantian, Hyejin tidak akan bersungut-sungut seperti ini. Ditambah, tempat pencucian yang terletak di belakang restoran, dekat dengan sebuah pohon besar dan dibatasi dengan tembok pembatas yang cukup tinggi, membuat Hyejin harus menarik napas panjang sebelum melakukan tugas terakhirnya. Ya, ia harus mengurung rasa takutnya.

Hyejin bersenandung pelan, berusaha untuk memfokuskan diri pada kegiatan mencucinya sekaligus mengurangi rasa takutnya yang masih saja ada di benaknya. Seminggu datang ke tempat ini tidak bisa juga membuat dirinya terbiasa dengan suasana senyap, ditambah dengan penerangan yang seadanya. Itu sebabnya ia selalu mengeluh pada ibunya dalam perjalanan pulang, tetapi ibunya hanya tertawa dan mengatakan bahwa itu hanya perasaannya saja yang dibuat-buat. Mana bisa perasaan takut itu dibuat-buat, pikirnya.

 

TUKK.

 

Hyejin meringis. Ia, lalu, meletakkan mangkuk yang sedang dicucinya dan mengambil sebuah batu kerikil dekat tumpukan mangkuk bersih. Batu itu mengenai pundak kirinya. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi permukaan yang tajam membuat pundaknya masih terasa nyeri. Ia mengamati kerikil itu lebih dulu sebelum mendongak ke arah tembok pembatas.

 

Ada yang melemparku.

 

Karena penerangan hanya bersumber dari tempatnya sekarang berdiri, jarak pandangnya terbatas. Ia tak bisa melihat apapun di atas sana. Tetapi, entah karena apa, ia merasa yakin ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari dalam kegelapan. Ia hanya yakin, bukan percaya. Akhirnya, Hyejin memutuskan untuk mengabaikan pikirannya yang kalut itu dan menarik napas panjang sebelum melanjutkan pekerjaannya.

 

SRUUKK.

 

Gadis itu terkejut dan hampir terjengkang. Sekarang lebih banyak batu kerikil serta gumpalan tanah basah yang hampir saja mengenainya. Ia memandang kerikil itu dengan ngeri sambil merapat ke dinding di belakangnya. Dugaannya benar. Ada sesuatu di atas sana, yang sedang berjalan atau berdiri di atas tembok pembatas. Karena pergerakan sesuatu itulah, kerikil serta tanah basah berjatuhan tepat ke arah tempat pencucian ini. Hyejin tidak berani mendekat ke wastafel yang sekarang sudah penuh dengan tanah.

“Siapa di sana?” Hyejin menjaga suaranya agar tetap terdengar keras.

 

Tidak ada yang menjawab. Hanya bunyi gesekan alas kaki dengan tanah.

 

“Aku tahu ada seseorang di sana! Hei, jawablah!” Kali ini, Hyejin memberanikan diri untuk mendekati wastafel. Ia mendongak dan berusaha melihat apa yang ada di atas sana.

Lalu, matanya menangkap sebuah titik cahaya berwarna merah. Cahaya itu begitu kecil, sehingga Hyejin harus memaksakan matanya untuk bekerja lebih keras lagi. Dan sekarang, Hyejin terbelalak karena cahaya itu ada dua dan tepat menatapnya.

 

“..men..jauh..lah..”

 

Hyejin tersentak. Ia sekarang benar-benar diliputi rasa takut yang memerangkap seluruh tubuhnya. Suara itu serak dan lemah, tapi Hyejin bisa merasakan aura yang tidak aman dari suaranya. Terdengar seperti peringatan untuknya. Setelah suara itu, sesuatu di sana mengeluarkan suara yang akan menjadi mimpi buruk gadis itu.

 

Suara geraman marah hewan yang disusul dengan suara lolongan panjang.

 

Gadis itu bergidik ngeri mendengar lolongan itu. Tubuhnya gemetar ketakutan. Keningnya penuh dengan keringat. Ia ingin sekali berlari menuju bagian dalam restoran dan memaksa ibunya untuk segera pulang, tetapi ia tidak bisa. Kakinya seakan tertempel di lantai keramik ini, tak bisa digerakkan. Jantungnya berdegup kencang, yang membuat Hyejin takut jantung itu akan berhenti berdegup kapan saja.

Tidak, ia tidak bisa diam saja di sini.

Secepat keterkejutannya, sesuatu itu menoleh ke arahnya. Hyejin bisa melihat siluet seorang lelaki dengan pakaian kumal warna hitam, sedang berjongkok di pinggir tembok pembatas. Gadis itu tidak bisa melihat keseluruhan bentuk tubuh sosok itu, kegelapan malam seolah menyembunyikan apa yang seharusnya ia lihat sekarang. Mata merah menyala itu seolah-olah menyerap segala energi dalam tubuh Hyejin, sehingga gadis itu terhuyung-huyung ke belakang dan tubuhnya menabrak dinding di belakangnya.

Setelah itu, samar ia melihat siluet lelaki itu sedang mendongakkan kepalanya menghadap bulan purnama, lalu melolong keras.

Kesadarannya menurun, dan semuanya menjadi gelap.

___

[To be Continued]

 

 

Gimana? Aneh atau cara penulisannya kurang bagus? Tapi penasaran gak? Semoga ada yang nungguin kelanjutannya ya, hehe.. Oya maaf juga kalo kependekan J Silahkan like atau komen! ^^

51 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s