A Lot Of Love, In Every Silence (Chapter 1)

Untitled Tittle : A Lot Of Love, In Every Silence (Part 1)

Author : phyokyo

Length : Two-Shoot

Rating : PG

Genre : Romance, Angst.

Cast : Do Kyungsoo, Hwang Naeri (OC).

Note : Waspadalah dengan bahasa yang tak jelas dan tidak dapat dipahami.

 

Disclaimer :

Everythingbelongs only toAllah, includingmyreasoningin makingthisfiction.

 

Summary :

 

Tersirat beberapa makna dibalik diamnya seseorang.

Namun ketika kau menyadarinya, bukan hanya beberapa makna,

Tapi puluhan makna yang tersembunyi didalamnya.

 

###

 

Aku menyukaimu.

.

I like all of you very much…

 

Bolehkah aku jujur?Kau adalah lelaki yang terbaik dimataku saat ini.

Tak perlu ku rincikan seberapa banyak kata ‘baik’ itu melekat di dirimu.Yang aku lihat dan aku tahu, hanya kau yang selalu terlihat baik dalam hal apapun.

Kau mungkin menganggapku hanya gadis biasa yang tak perlu dikagumi atau bahkan tak perlu dikenal.

Aku memang bukan gadis yang menarik.Aku juga bukan gadis cerdas dan berprestasisepertimu.

Aku hanya aku.

Aku yang memperhatikanmu dari jauh, aku yang mengagumimu, dan aku yang menyukaimu…

.

Aku, hanyalah setitik debu kecil bila dibandingkan denganmu.

Ibarat sebuah kerajaan, kau pangeran, sedangkan aku hanya gadis kampung yang jelek dan kumuh.Yang menatapmu dari balik semak-semak sambil sesekali menorehkan garis demi garis wajah tenangmu pada tanah lempung yang kotor.

~~~

Aku menyukai dua hal.

I like drawing and I like sleeping.

I like drawing.

Aku suka berimajinasi. Dan menggambar telah menjadi salah satu lahanku untuk menuangkan segala imajinasi yang akan terus berkembang dikepalaku, saat aku melihatmu. Dan dengan menggambar, imajinasi ku akan menjadi kenyataan!

Yah, kenyataan pada sebuah kertas putih dan sederhana yang kumiliki, sebuah gambar dua dimensi yang hanya bisa kau tatap dan kau sentuh permukaan halusnya dengan jari telunjukmu, dan saat kau mengangkat jari telunjukmu didepan matamu, sebuah noda hitam telah melingkar ditengahnya.

I like sleeping.

Apalagi yang bisa dilakukan seorang pengkhayal sepertiku selain menggambar?Yah, tidur. Satu aktivitas yang tidak memerlukan tenaga—bahkan kau merasa tenagamu akan pulih setelahnya—tidak memerlukan biaya dan tidak memerlukan bantuan. Saat gambarku bahkan tak mampu mewakili semua imajinasiku, aku akan dengan mudahnya tertidur. Mengembangkan segala imajinasi yang telah aku tuangkan pada selembar kertas dan membuatnya hidup dibawah alam sadarku.

Aku memang menyukai aktivitas itu, sejak kecil.Tak pelak kata ‘pemalas’ bahkan sering terdengar ditelingaku dan membuat hatiku sedikit tergores karenanya. Tak apa, karena hanya dengan itu aku bisa berada didekatmu, semauku.

Seberapa banyak yang mereka tahu tentang apa yang aku lakukan saat aku tertidur?

Aku, bisa mendengar apapun yang kalian katakan saat aku tertidur. Baik itu yang menyangkut diriku, atau orang lain.

Siapa yang bilang aku tidur pulas dengan sebuah nafas berat yang tertahan ditenggorokan (dengkuran) atau dengan mulut yang terbuka dan air liur yang siap tumpah?

‘Hey, kau tahu? Hwang Naeri, sang putri tidur, sedang terlelap dengan pulasnya..’ bisik mereka. Hanya sebuah senyuman yang tersungging dibalik beberapa helaian rambut yang menutupi wajahku.

Namun, dari dua aktivitas tersebut, hanya satu yang selalu menjadi titik pacuku dalam berimajinasi.Satu titik yang bahkan selalu memenuhi kertas gambar dan menjadi bayangan utama yang muncul saat aku memejamkan mata.

Yah, itu kau…

Do Kyungsoo.

~OoO~

Should I tell you that I love you?

Do you know how I feel when I look at you everyday?

If you stay by my side, I don’t want anything else

Will you just please stay by my side?

(Soyou – Should I Confess)

 

Langit biru cerah dengan awannya yang seputih salju perlahan mulai menghilang tergantikan dengan awan hitam nan gelap yang siap menumpahkan ribuan tetesan-tetesan air dimuka bumi. Suara petir bersahutan selalu menjadi  teman setia si awan hitam.

Dan saat ini, aku diantara mereka semua.

Sedikit perasaan kecewa muncul saat aku mendengar kabar,

‘Kyungsoo menyukai yeoja lain.’

Kyungsoo, namja yang ku sukai sejak 3 tahun yang lalu.Yang tatapannya selalu membuatku tenang dan bahagia sekaligus berdebar disaat yang bersamaan.Tapi kini, tatapan matanya hanya menatap pada satu objek. Lee Ji Eun. Yeoja cantik, berprestasi dan memiliki suara indah yang selalu menjadi incaran para namja.

Aku memperhatikan Kyungsoo yang kini tengah berbicara berdua dengan Ji Eun. Entah apa yang mereka bicarakan, namun jelas saat ini aku dapat melihat tawa dan semburat malu diantara keduanya.

Hanya rasa sesak, kecewa dan kesal yang ada saat—selalu saja—tak sengaja aku menatap mereka yang lagi-lagi terlihat dekat dimataku.Aku menyandarkan kepalaku pada meja dan kembali melanjutkan sketsa-sketsa kotor yang sengaja kubuat untuk mewakili perasaan ku saat ini.

Kyungsoo, kenapa kau tak pernah tahu kalau aku menyukaimu?Kenapa kau menyukainya?Kenapa bukan aku?

Hanya kata-kata egois yang keluar saat aku berusaha menahan rasa kecewaku.Semuanya kuluapkan pada selembar kertas polos yang kini menjadi sasaran kekecewaanku.Setitik air mata menetes membasahi sketsa kotorku.Aku memejamkan mataku mencoba melupakan sesuatu yang kulihat tadi.

Sesuatu yang membuat dadaku sesak dan hatiku sakit.Sesuatu yang merupakan penyakit hati yang selalu ada pada setiap manusia yang sedang jatuh cinta.Yah, aku cemburu..

Tak apa jika aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan..

Tak apa jika aku hanya bisa memendam rasa sukaku dalam diamku..

Tak apa jika aku hanya bisa menyukaimu hingga bertahun-tahun lamanya..

Tak apa jika semua harapanku padamu hanyalah harapan kosong..

Tapi..aku tidak bisa mengatakan ‘Tak apa’ saat tatapanmu beralih pada gadis lain..

Sebisa mungkin, aku akan berusaha mengatakan ‘Tak apa’ jika itu membuatmu bahagia..

~OoO~

Aku berusaha terlihat setenang mungkin saat berpapasan denganmu, Kyungsoo.Kau tahu?Rasanya sangat sulit bagiku untuk tetap terlihat ‘baik-baik’ saja dihadapanmu.Menahan gugup didepanmu lebih sulit ketimbang aku harus menahan gugup untuk berdiri diatas panggung komedi.Ditambah, setelah kabar itu, aku melihat secara langsung kau dan Ji Eun yang terlihat sangat akrab.Bukankah itu cukup menjadi bukti yang nyata?

.

Aku menyandarkan kepalaku diatas meja, sekedar memejamkan mata mungkin akan membuatku lebih rileks setelah 2 jam lamanya berkutat dengan angka-angka yang mampu membuatku muak dalam waktu 30 menit saja.

Lamat-lamat aku dapat mendengar langkah seseorang yang sedang menghampiri Jun Hee—teman sebangkuku—yang masih saja menatap buku penuh angka sialan itu.

‘Jun Hee-ya, ayo kita ke kantin! Aku lapar~~’

‘Ya tunggu sebentar. Hey, kau tahu apa yang mereka bicarakan? Sejak tadi pagi, mereka aneh sekali.Berbicara dengan mata yang hampir keluar, tsk. Naeri-ya! Aku ke kantin dulu eoh? Bye~’

Aku menganggukkan kepalaku sesaat dan kembali membaringkan kepalaku dimeja.

‘Hey Jun Hee-ya, apa kau tidak tahu? Beberapa hari yang lalu, Kyungsoo dan Ji Eun terlihat pulang bersama.Dan sejak tadi pagi, mereka berasumsi kalau Kyungsoo dan Ji Eun telah berpacaran!’

….

Satu tusukan tepat mengenai paru-paru dan jantungku.Sesak.

Aku mengangkat kepalaku dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.Daerah sekitar mataku bahkan terasa panas saat ini.

Aku menatap Kyungsoo—objek yang saat ini menjadi bahan perbincangan seluruh warga kelas—yang sedari tadi hanya tertawa lepas sambil berbincang bersama Kai dan Kris.Tak ada sedikit pun raut kesal atau marah—seperti yang kuharapkan—mengenai kabar miring tentang dirinya dan Ji Eun.

Semua terlihat biasa seolah tak ada kabar mengerikan yang baru saja menjadi trending topics hari ini.Mungkin hanya aku, yang menganggap itu mengerikan.

Sudahkah..Kyungsoo tahu tentang kabar ini?

***

Aku baru saja keluar dari gerbang sekolah yang telah sepi sejak 30 menit yang lalu.Hari ini, aku sengaja menyempatkan diri untuk mampir ke atap gedung sekolah sepulang sekolah tadi.Tempat favoritku sejak pertama aku diterima disekolah ini.Tak banyak yang kulakukan, hanya duduk dengan sebuah sketch book dan pensil ditangan, menyandarkan kepala dan memejamkan mataku sesaat.Menikmati hembusan angin sore yang meniup halus rambut wavy ku.Ia—hembusan angin—seolah menjadi energy khusus bagi otak ku.

Saat imajinasiku terkumpul, tangan iniakan dengan mudahnya membuat sketsa-sketsa tak jelas tentang seseorang. Seseorang yang bayangannya selalu memenuhi otakku sepanjang hari, selama 3 tahun lamanya.

.

Aku menghentikan langkahku sesaat lantas menatap langit. Gelap, dan hanya meninggalkan semburat cahaya oranye yang semakin samar.

Hari menjelang malam, dan langit mulai mendung.

Perlahan tapi pasti, langit mulai meneteskan air hujannya pada bumi.Membuat debu disekitar jalanan terlihat meninggalkan bundaran-bundaran gelap karena tetesan air.Hujan semakin deras, namun entah kenapa, rasanya kakiku berat sekali untuk melangkah.

.

Tepuk tangan yang riuh menjadi pengiring berakhirnya penampilan Kyungsoo dan Ji Eun tadi siang. Aku pun ikut bertepuk tangan dengan semangat menyerukan nama Kyungsoo dan Ji Eun sambil tersenyum dengan bangga menatap mereka yang berhasil memberikan penampilan yang terbaik.

Munafik.

Nyatanya setelah itu, aku meninggalkan aula dan berlari menuju kamar kecil. Terlalu sulit rasanya untuk menahan kristal bening yang sudah menumpuk dipelupuk mataku ini. Aku tak ingin Kristal bening ini jatuh disaat seperti ini.

Saat ia terlihat bahagia dengan keberhasilannya.

Kenapa aku harus tahu kalau kau menyukainya?

Tuhan… Kenapa kau membiarkan telinga ini mendengar apa yang mereka katakan saat itu?

Kenapa tak kau jadikan aku tuli saat itu juga?

Aku ingin tetap bisa menyukainya, walaupun tak selangkah pun kemajuan yang kudapatkan

 Aku ingin tetap bisa menatapnya dari kejauhan tanpa harus takut kalau-kalau seseorang tak suka dengan apa yang kulakukan.

Pernyataan dan pertanyaan tanpa jawaban yang tak akan ada habisnya. Tak mampu mengurangi rasa sesak didada seberapa banyak pun kulontarkan.Bukan tetesan, tapi aliran air mata yang terus mengalir dipipiku.Tak ayal rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin untuk meringankan rasa sesak didadaku yang tak kunjung mereda.

Kyungsoo… Bagaimana aku bisa menahan ini sendirian?

~.~

Dinginnya serbuan tetesan air hujan menyentuh kulitku.Membuatku harus mendekap kedua tanganku untuk menahan dinginnya udara yang menyergap tubuh kuyup ku ini.Aku menunduk, menatap seragam dan sepatuku yang basah.Pandanganku mulai kabur tertutup butiran-butiran air hujan yang menumpuk pada kelopak mataku.Sebuah aliran yang terasa hangat mengalir dipipiku.

Teringat suara Kyungsoo yang memanggilku saat ia meminta ku untuk membantunya untuk menginstall sebuah game. Hanya sekali.Tapi itu terasa ribuan kali menyenangkan dari apapun.Sungguh, aku berharap itu dapat terulang kembali.

Tuhan, berikan aku kesempatan untuk dapat berada didekatnya, sekali lagi… Setelah itu, kau boleh meneruskan takdir yang telah kau tuliskan untuk Kyungsoo, apapun itu..aku yakin dan aku harap, itu adalah yang terbaik untuk Kyungsoo…

Aku menatap kedua ujung sepatuku.Sepatu yang kini sudah penuh dengan air kubangan sepanjang jalan.Senyuman kecil tiba-tiba saja terukir dibibirku.Lagi-lagi teringat saat Kyungsoo menghampiriku dan kemudian duduk disebelahku.Tanpa kata.Hanya keheningan semata.Ia membaca buku yang ia pegang untuk beberapa saat, kemudian ia meninggalkanku. Menurutku, itu adalah momen terindah yang harus kurekam dalam memori indah dihidupku.Kau boleh mengatakan itu berlebihan.

Sepasang sepatu hitam—yang sama basahnya denganku—berhenti tepat didepanku, menghentikan langkah kakiku untuk terus berjalan. Tepat bersamaan dengan itu, tetesan air hujan disekitarku tak lagi membasahi tubuhku.Seseorang tengah menggenggam tungkai payung biru cerahnya dengan erat.Aku menyibakkan poniku yang basah kuyup untuk dapat melihat dengan jelas siapa pemiliki payung ini.

“Kyungsoo…” Tenggorokanku tercekat seketika sesaat setelah aku mengucapkan nama itu.

Aku memejamkan mataku lagi, berusaha meyakinkan hati dan fikiranku kalau ini bukan kenyataan.Ini hanya mimpi. Kurasa seseorang telah menemukanku dalam keadaan tak sadarkan diri…

Aku kembali menatap kedua ujung sepatuku.Tak berani menatap makhluk ilusi yang saat ini berdiri tepat dihadapanku.

“Naeri-ssi… Hujan sangat deras, sebaiknya kau pulang dan beristirahat dirumah. Kau akan sakit jika kau tidak segera berteduh..“Mataku kembali terpejam setelah mendengar ucapan kalimat terakhirnya.Nafasku terasa sesak sehingga aku harus menghirup nafasku panjang. Aku masih tak dapat meyakinkan dengan apa yang kudengar saat ini.

Kyungsoo meraih tangankulantas menuntunnya untuk memegang tungkai payung yang ia bawa. Aku menggenggam erat tungkai payung yang Kyungsoo berikan padaku. Kulihat Kyungsoo membuka payung lainnya yang ia bawa. Ia membungkuk sesaat lantas berlalu meninggalkanku dengan payung biru tua miliknya.

Aku hanya bisa menatap tas punggung Kyungsoo yang perlahan mulai menghilang terhalangi oleh derasnya air hujan yang turun.

Aku menundukkan kepalaku. Setetes kristal bening menetes dan jatuh bersama dengan ribuan tetesan air hujan lainnya.

Kenapa… Kenapa sekarang aku terlihat seperti gadis yang terlalu banyak berharap?

~OoO~

Forget about all the memories
All the times that we spent together
Forget about all the memories
The lingering feelings, love and everything in your heart

(2AM – Erase All Our Memories)

 

Aku bersyukur karna hari ini aku tidak harus datang ke sekolah.

Ya, hari ini libur. Dan aku berharap tak akan pernah bertemu dengan Kyungsoo lagi. Aku tak ingin terus berlarut-larut dalam kehidupanku yang menyedihkan.Sudah saatnya aku melupakan Kyungsoo dan membiarkannya berbahagia dengan Ji Eun.

Aku pun juga berharap untuk diriku sendiri agar aku bisa melupakan Kyungsoo dan melanjutkan hidupku dengan tenang dan penuh kebahagiaan sebagaimana mestinya.

Ehm, mulutku terasa aneh setelah mengucapkan hal tadi. Itu bukan cara bicara ku biasanya. Haha..

Hidup itu untuk dinikmati, bukan untuk ditangisi.

Bukankah begitu?

Masalah ataupun kepahitan yang muncul disetiap kehidupan kita hanyalah cobaan yang Tuhan berikan agar kita semakin kuat untuk menjalani kehidupan nantinya.

Apa aku terlihat seperti gadis yang sok tegar?

Tapi, bolehkah aku bertemu dengan Kyungsoo sekali lagi?Aku hanya ingin mengembalikan payung miliknya ini.Bagaimana bisa aku melupakannya kalau satu benda miliknya ini masih ada padaku?

.

Hari ini, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi taman kecil yang tak jauh dari rumahku. Tempatku bermain semasa kanak-kanak. Hmm ya, aku merindukan tempat ini, sungguh.. Padahal sepertinya belum sebulan yang lalu aku mengunjungi taman ini. Tapi entahlah, rasanya kakiku ingin melangkah ke suatu tempat dengan udara yang segar, seperti ditaman ini.

Dan seperti biasa, hal pertama yang kulakukan ketika sampai ditaman adalah duduk disamping pohon pinus besar dan membuat sketsa-sketsa tentang apapun yang kulihat.

Angin semilir meniup rambutku, menutup pandanganku pada anak-anak yang sedang asyik bermain bola dilapangan taman. Semua terlihat cerah dan bahagia, senyum maupun tawa menghiasi wajah pengunjung taman hari ini. Dan aku pun ikut merasa bahagia karna hari ini matahari dan langit telah kembali bertugas dengan baik seperti hari-hari biasanya. Langit yang cerah dan matahari yang bersinar, namun sinarnya tak membuat siapapun silau akan cahayanya. Teduh, dan memberikan efek nyaman bagi siapapun.

Aku menatap sebuah pohon pinus besar yang berdiri dengan kokoh disampingku ini. Disebagian kulit batangnya terdapat beberapa ukiran-ukiran yang kutahu itu adalah nama-nama beberapa pasangan yang berkunjung ke taman ini dan sekedar mengabadikan nama mereka pada bagian kulit batang pohon pinus ini. Jujur, aku tak pernah memperhatikan isi dari ukiran-ukiran itu. Padahal lebih dari 10 tahun aku mengenal tempat ini dan bahkan duduk dibangku taman ini. Dan sekarang aku merasa penasaran untuk mengetahui nama-nama itu semua.

Aku bangkit dari tempatku dudukku dan mulai menelusuri batang pohon ini dengan jari telunjukku. Ada yang hanya menulis tanggal jadi, inisial bahkan nama panggilan mereka.

N&N..

“Naeri dan Naeri? Hahaha..”

Saranghae Kai Oppa..~

“Kata-kata yang tak terucap?Maybe..”

~Yeoja tembam & Namja kumal~

“Yeoja tembam dan namja kumal?”Aku terkekeh pelan menatap ukiran didepanku ini. Semuanya nampak indah, dan kuharap kisah percintaan mereka dapat terus bahagia sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tidak seperti aku.Bolehkah aku tertawa lagi?Hahaha…~

Aku menatap langit berwarna biru muda cerah yang sangat indah saat ini. Rasanya kalau ini bukan taman umum, aku ingin sekali merebahkan tubuhku dirumput hijau ini sambil menatap langit dan sesekali memejamkan mata untuk menikmati angin yang berhembus dan juga untuk menyegarkan otak ku kembali.

Tapi kurasa, sebaiknya aku cukup berjalan-jalan sambil menikmati udara yang segar dari pohon-pohon ditaman ini.

Aku melangkahkan kakiku pada jalan setapak ditaman.Udara yang sejuk dan pepohonannya yang rindang sangat membuatku nyaman. Berjalan-jalan disekitar taman ternyata mampu membuat hatiku tenang. Sebuah bola menggelinding tepat melewati ujung sepatuku.

“Noona!Bisa tolong kami untuk mengambilkan bola itu?” seorang anak laki-laki memanggilku dan memintaku untuk mengambil bolanya yang memang berhenti menggelinding tak jauh dariku.

Aku berjalan menghampiri bola itu lantas aku sedikit membungkukkan badanku untuk meraihnya.Namun, sebuah tangan telah meraihnya lebih dulu.

“Jwiseonghamnida..”Ucap seorang namja berkulit putih dan bertubuh sedang dihadapanku ini.Aku hanya membungkuk pelan dan tersenyum pada namja itu. Namja itu lantas melemparkan bola yang ia pegang tadi—kearah anak-anak yang bermain bola. Aku hanya menatap bola yang ditangkap anak-anak itu dari kejauhan.

“Gamsahamnida Hyung! Noona!”Aku hanya menunduk dan tersenyum kecil lantas kembali melangkahkan kakiku menyusuri jalan ditaman ini.Dan namja tadi kembali melanjutkan jogging paginya.

Deg

Nafasku tercekat dan jantungku seketika berdegup dengan cepat saat aku mengangkat pandanganku dan mendapati seseorang yang sangat kukenal berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang laki-laki bertubuh sedang yang memiliki alis tebal dan bibir yang kissable. Ia mengenakan t-shirt abu-abu dan jaket merah yang sudah tak asing lagi bagiku. Di tangannya, ia menggenggam sebuah buku catatan coklat berukuran sedang.

Kyungsoo…?

 

Hanya deru nafas dan angin semilir yang terdengar.Waktu serasa dihentikan.Dan semuanya, sunyi.

Kemana perginya orang-orang?Apakah ini hanya khayalanku?

Aku memejamkan mataku sesaat untuk memastikan bahwa semua ini benar adanya.

Suara ramainya pengunjung taman kembali terdengar, namun makhluk itu tetap ada. Makhluk yang dinamakan manusia, ia memiliki kulit putih dan alis yang tebal serta mata bulatnya yang terlihat tenang.

Itu memang Kyungsoo.

Aku tak perlu memejamkan mataku untuk kedua kalinya karna memang ini nyata.

Aku berusaha mengontrol diriku sebaik mungkin agar tak terlihat gugup didepan Kyungsoo. Aku menarik nafasku panjang dan.. “Ah!” Tiba-tiba saja aku teringat dengan payung milik Kyungsoo. Aku membuka restleting tas kanvasku dan merogohnya untuk mengambil payung milik Kyungsoo. Dengan sedikit keberanian yang kumiliki, aku memberanikan diri melangkahkan kakiku untuk mendekat kearah dimana Kyungsoo berdiri.

Hanya lima langkah, namun itu terasa sangat dekat sekali. Jujur, saat ini aku tidak mampu menahan rasa gugup ku yang sangat berlebihan ini.

Aku menyodorkan payung itu pada Kyungsoo dengan sangat hati-hati, layaknya benda berharga.

“Terima kasih atas pinjaman payungmu, Kyungsoo-ssi…” Aku membungkuk sesaat.Kyungsoo menerima payung itu dan tetap dengan ekspresi tenangnya. Sama seperti sebelumnya, Kyungsoo berlalu meninggalkanku dalam diamnya..

Lagi-lagi aku hanya dapat melihat punggungnya yang berjalan menjauhiku. Kulihat ditangannya ia tengah menggenggam sebuah buku catatan berukuran sedang dengan sampul kulit coklat didepannya. Aku pernah melihat buku itu sebelumnya, namun aku tak dapat memastikan apa isi dari buku itu.

Aku memutar tubuhku membelakangi arah perginya Kyungsoo dan kembali melanjutkan perjalananku.Dan entah kenapa, rasanya jadi tidak senyaman saat aku berjalan 5 menit yang lalu.Menyebalkan.

~.~

Sudah 10 menit aku berjalan-jalan sejak bertemu dengan Kyungsoo tadi. Dan seperti yang kalian tahu, jalan-jalan pagiku yang seharusnya membuatku senang dan tenang, sekarang..jadi sebuah perjalanan buruk. Sepanjang jalan aku menggerutu meratapi nasibku yang menyedihkan.Menyukai seseorang namun tak berani untuk mendekatinya.Ya ya ya, aku memang bodoh.

Sudahlah, aku ingin pulang dan tidur.

……

Lagi-lagi wajah Kyungsoo terlintas lagi dalam bayanganku.Aku menghela nafasku panjang. Rasanya perjalanan dari taman ke rumah ku ini terasa sangat jauuuh sekali. Aku menyusuri trotoar yang sepi sambil sesekali menendang daun-daun yang berguguran didepan kakiku, menghilangkan rasa kesal tentunya.Dan untungnya, trotoar sedang dalam keadaan sepi saat ini.

.

“NAERI-YA!AWAS!!”Seseorang berteriak memanggil namaku dengan keras.

“eo?”

CKIIIT!

BRUK!!

…………

To Be Continued

Don’t be silent readers.

Kritik dan saran diterima ^^

Iklan

48 pemikiran pada “A Lot Of Love, In Every Silence (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s