Monalisa (Part 2)

pink_paint_textureTitle : Monalisa (Part 2)

Author : FebrinaFR (@RFebrinaFitri)

Genre : Romance, family and I don’t know 😀

Rating : T

Length : MultiChapter

Cast : -Monalisa (OC)

-Kim Jongin

-Oh Sehun

-Nd Others

Nb :        Ini FF perdana saya^^ dan milik saya. mohon jangan  bash, kalo mau kritik boleh, tapi baik-       baik ya 😀 Semua castnya milik Tuhan, kecuali kkamjong , He is mine ! ^^ Typo tersebar dmana-mana,  Alurnya abstrak, dan maaf jika sudut pandanya kebanyakan dari si OC karena               dia peran utamanya, biarpun ini FF gaje tetap RCL yaaa^^

Part 2

Kini aku telah berada di Ibu Kota, Seoul. Seperti dugaanku seoul adalah kota yang megah. Banyak gedung-gedung pencakar langit dan juga yang paling terkenal adalah industri hiburannya. Sepanjang perjalanan menuju kediaman Lee Harabeoji aku melihat banyak sekali poster-poster yang menampilkan gamba-gambar para hallyu star. Aku tidak mengenal banyak, aku hanya tahu TVXQ, Super Junior, dan aku lupa.

“Apa kau menyukai seoul?” Tanya Lee Harabeoji yang kini duduk di sampingku.

“Kota ini benar-benar berbeda dengan Jeju Harabeoji” aku tersenyum menatap kagum Kota Seoul.

“Tapi, kau tetap harus berhati-hati disini. Banyak penjahat yang tersebar di Seoul”

“Arrayo, harabeoji”

Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya aku sampai di rumah Harabeoji. Dan benar saja, Lee Harabeoji memiliki Rumah yang sangat besar. Dia benar-benar keluarga berada. Berbeda dengan rumahku di Jeju.

“Silahkan masuk Monalisa” Lee Harabeoji memperlakukanku seperti seorang nona muda.

“Jangan seperti itu Harabeoji. Inikan rumah Harabeoji” aku malu jika diperlakukan seperti itu, pipiku merah sekarang.

“Tolong bawakan tasnya ke kamar yang sudah saya siapkan” Lee Harabeoji memerintah beberapa pelayannya.

Memasuki rumah Lee Harabeoji, suasana Klasik sangat terasa. Ornamen batu-batuan granit. Cat tembok berwarna coklat muda dan tua benar-benar mendukung rumah mewah ini.

“Aboeji, akhirnya abeoji pulang juga” sebuah suara menyambut kedatangan kami.

“Kenalkan ini Monalisa, dia cucu dari temanku.” Lee Harabeoji memperkenalkanku kepada seorang ahjuma yang tadi menyambut kami.

“Annyeong haseyo, Monalisa Imnida” aku berlutut kepada Ahjumma tersebut.

“Annyeong haseyo, panggil saja aku boA  ahjumma. Senang berkenalan denganmu” Sapanya ramah.

Kelihatannya dia ahjumma yang baik, dia sangat cantik.

“BoA, mulai sekarang dia akan tinggal di sini.” Aku berharap boA ahjumma tidak marah mengetahui aku akan tinggal di sini.

“Aku senang sekali aboeji. Setidaknya akan ada perempuan lain di rumah ini.” BoA ahjumma tersenyum kepadaku.

“Kamsahamnida ahjumma” aku membalas senyumannya.

“Anggaplah ini seperti rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan oke” BoA ahjumma memberikan wink kepadaku. Aku mulai bisa beradaptasi dengannya.

“Pelayan, tolong antarkan Monalisa ke kamarnya” seorang pelayan wanita datang menghampiri kami.

“Harabeoji istirahat dulu, kau juga.” Aku mengangguk mendengar perintah Harabeoji.

Aku berjalan mengikuti pelayan wanita, menaiki tangga, dan berbelok ke kanan. Melewati sebuah Jembatan penghubung yang membagi dua ruangan. Sampai di depan pintu berwarna putih.

“Ini kamarmu, Nona. Saya permisi dulu”

“Kamsahamnida”

Kubuka pintu berwarna putih tersebut, dan terlihat sebuah ruangan yang lebih luas dari kamar tidurku sebelumnya. Cat kamar berwarna biru dan putih sangat berbeda dengan warna cat diluar. Ada sebuah meja belajar kecil. Ranjang tidur yang terlihat sangat nyaman dengan bed cover bermotif buah apel. Lucu sekali. Dan juga kamar mandi yang berada di dalam kamar. Kamar ini benar-benar indah.

Kubaringkan diriku di ranjang, perjalanan ke Seoul membuatku lelah. Tanpa menunggu lama, aku sudah terbang kealam mimpi.

“Monalisa??” seseorang mengetuk pintu kamar’ku’

Mendengar Namaku di panggil, aku segera bangun dan menbukakannya, ternyata BoA ahjumma.

“Ahjumma, ada apa? mianhe, tadi aku tertidur”

“Ahjumma tahu, lihat air liurnya masih menempel” BoA ahjumma menunjuk sudut bibirku.

“Mwo??” aku segera mengelap sudut bibirku dengan jari.

“Hahaha, ahjumma hanya bercanda. Cepat mandi, ini sudah sore. Sebentar lagi waktunya makan malam, dan Harabeoji akan memperkenalkan mu pada anggota keluarga yang lain” BoA ahjumma tertawa melihat tingkahku tadi, ternyata aku dikerjai.

Setelah BoA ahjumma pergi, aku segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diriku.  Kubuka lemari pakaian dan kulihat ada banyak sekali baju. Tapi ini bukan bajuku. Harabeoji pasti sudah mempersiapkan ini. dia sangat baik. Karena terlalu banyak aku bingung ingin memakai yang mana. Akhirnya kuputuskan untuk memakai sebuah dress simple berwarna pink muda. Kemudian kusisir rambutku yang basah. Sebenarnya rambutku tidak sepenuhnya keriting, ini terlihat bagus. Rambutku basah saat ini jadi bisa sedikit lurus.

“Monalisa??” seseorang membuka pintu kamarku, ternyata BoA ahjumma lagi. Aku tersenyum melihatnya.

“Wah, yeoppoda.” Puji BoA ahjumma melihatku yang sudah rapi.

“Ahjumma orang kedua yang mengatakannya setelah Harabeoji.” Aku tersenyum malu.

“Kalau begitu ahjumma akan sering-sering mengatakannya. Ayo, Harabeoji sudah menunggu kita di meja makan”. Aku mengangguk mengikuti BoA Ahjumma.

Di Meja makan ternyata sudah ada harabeoji dan dua orang yang tidak aku kenal, satu namja, dan aku yakin dia pasti cucu Harabeoji dan satu lagi seorang ahjumma yang lain. Aku berjalan bersama BoA ahjumma disampingku. Perlahan mereka menyadari kedatangan kami.

“Ternyata dress itu cocok untukmu, kau terlihat cantik sekali.” Lee Harabeoji kembali memujiku, hari ini dua orang memujiku, aku ingin terbang sekarang.

“Terima Kasih, Haraboeji”

“Benarkan kataku, kau cantik” bisik BoA ahjumma disampingku.

Aku hanya tersenyum malu.

“Kenalkan, ini Lee Hyori. Anak pertama Haraboeji” kulihat seorang ahjumma cantik, tapi dia terlihat tidak senang dengan kehadiranku.

“Annyeong Ahjumma” Hyori ahjumma tidak mendengarkanku bahkan dia juga tidak tersenyum

“Dia memang seperti itu” lanjut Lee Harabeoji sesaat mendapat tatapan sinis dari Hyori  ahjumma tapi Harabeoji tidak memperdulikannya.

“Dan perkenalkan ini cucu Harabeoji, Oh Sehun” aku akan memperkenalkan diriku sebelum ku tahu dia adalah Sehun, Sehun yang tempo hari menjadi temanku. Aku tidak menyangka ternyata dia cucu Lee Haraboeji. Bukan hanya aku yang kaget, aku dapat melihat Sehun juga kaget ketika melihatku yang tiba-tiba ada disampingnya.

“Annyeong, senang bertemu lagi denganmu” aku mencoba tersenyum santai walaupun sulit dan sedang berusaha menyembunyikan rasa kagetku.

“Kalian sudah saling mengenal sebelumnya??” sontak pertanyaan Harabeoji membuat Hyori Ahjumma menatapku.  Aku diam, aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kami bertemu ketika di Jeju, dia menjadi temanku dan menemaniku berjalan-jalan di sana. Dia mengetahui pulau Jeju lebih dariku” Jelas Oh Sehun

Terima Kasih Oh Sehun, kau menyelamatkanku. Aku bernapas lega sekarang.

“Ohh, begitu. Bagus jika kalian sudah saling mengenal kalian bisa cepat menjadi akrab” tambah BoA ahjumma.

“Kalau begitu lebih baik kau tidak ikut Aboeji ke Jeju” Ujar Hyori Ahjumma tiba-tiba.

“Eomma..”

Ternyata Hyori ahjumma, Eommanya Sehun.

“Tidak usah didengar ucapannya, lebih baik kau makan” utung ada Harabeoji yang mendinginkan hatiku. Jika tidak ada pasti sudah panas sekarang.

“Sehun,  Jongin oddie?” Tanya Harabeoji, kurasa itu cucu Harabeoji yang lain.

“Dia sedang ada urusan katanya, tapi tadi aku sudah menghubunginya untuk segera pulang”

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Aku mengambil Nasi dan Lauknya, makanan ini begitu lezat. aku makan dengan lahap tapi tidak berantakkan.

“Jelas sekali tidak pernah makan seenak ini di Rumahmu” aku menghentikan makanku, perkataan Hyori ahjumma benar-benar menusuk.

Sehun POV

“Hyori, hentikan !!” Harabeoji membentak eomma. Aku tidak kuat melihat eomma di bentak Harabeoji. Tapi, memang eomma yang selalu mencari masalah.

Saat ini Monalisa berada di rumahku, aku tidak tahu sedekat apa hubungannya dengan Harabeoji sehingga harabeoji mengajaknya ke Seoul. Yang aku tahu dia adalah cucu dari teman SMA Harabeoji tidak lebih. Kehadiran Monalisa kelihatannya tidak membuat eomma senang. Tapi, jujur entah kenapa aku senang dia hadir di rumahku.

Kulihat Monalisa sepertinya tegang melihat respon eomma terhadapnya, eomma memang sudah keterlaluan.

Monalisa POV

“Oh Sehun, untuk apa kau memintaku kembali dengan cepat??” Ujar seseorang bersuara bass

Ketegangan melunak, dua orang menyelamatkan aku hari ini.

“Bukan aku yang meminta, tapi Harabeoji” Sehun masih berkutit dengan makanannya tanpa menoleh ke orang yang bertanya.

“Ohh, ada apa Harabeoji??”

“Jongin-an, kenalkan, ini cucu dari teman Harabeoji, Monalisa”

Aku membalikkan badanku dan O_O

Jongin POV

“Neo????”

Apa mataku tidak salah lihat? Yeoja ceroboh itu ada di depan mataku. Ah, aku tidak mungkin salah, Aku masih dapat mengenalinya dengan jelas, wajah sok polos yang telah menghancurkan karya seniku. Tidak mungkin aku melupakannya.

“Annyeong”  sapanya sambil tersenyum kepadaku.

Cih, kelihatan sekali itu hanya senyum palsu. Terlihat mengerikan. Aku tidak membalas sapaan sok akrab itu, aku masih memandanginya dengan tajam. Kurasa dia mengerti maksud tatapanku.

“Jongin, apa kau sudah kenal dengannya?”

Aahhh, eomma menggangguku saja, padahal aku sedang mencoba menggertaknya.

“Nde eomma. waktu itu dia menghancurkan lukisanku ketika di Jeju” aku mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh tekanan dan tatapan mematikan kuarahkan pada yeoja itu.

“Mwo???” sesuai tebakanku respon semua orang kaget dengan pernyataanku. Hei, itu memang kenyataannya kan. Semua orang menatapku dengan tatapan bertanya kecuali yeoja itu. dia pastinya malu saat ini. kulihat dia hanya menatap kosong piring di depannya.

“Dia yeoja ceroboh yang sudah merusak karya indahku. Seharusnya dia menggantinya, tapi malah kabur begitu saja. Dasar tidak bertanggung jawab”

Semua tatapan beralih ke yeoja itu.

“Aniyo, sebenarnya tidak seperti itu. Aku tidak sengaja menabrak kanvas lukisnya. Ketika aku membereskannya dia menyuruhku pergi” yeoja ini angkat bicara.

“Ya sudah, gwenchana Jongin-ah. Monalisa tidak sengaja melakukannya”

Aku tidak salah dengar? Harabeoji membelanya dan bukan membelaku.

“Benar apa kata Harabeoji jongin, lagipula kau kan bisa membuatnya lagi. Eomma yakin kau bisa membuat yang lebih baik dari lukisanmu sebelumnya.”

“Aaahhh, eommaaa” aku berlari meninggalkan mereka.

Bahkan eomma juga membelanya dari pada aku. Apa yang dia buat kepada keluargaku. Sehun juga tidak membelaku. Yak ! semuanya sudah tidak peduli lagi padaku.

Kudobrak pintu kamarku, yeoja itu sangat membuatku kesal malam ini. Dia berhasil menghilangkan nafsu makanku. Tapi tunggu saja, aku masih belum membalas perbuatannya padaku.

Di Ruang Makan

Monalisa POV

Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya. wae?? Wae?? Wae???. Aku tahu dia masih marah gara-gara lukisan itu, terlihat jelas tadi.

“Sudahlah, tidak usah dipikrkan. Jongin memang seperti itu” BoA ahjumma yang notabene nya eomma namja tadi tersenyum kepadaku. Eommanya baik kenapa anaknya seperti itu?

“Sudah kuduga, dia pasti akan membawa sial keluarga ini!” cerca Hyori ahjumma kepadaku yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lee Harabeoji.

Aku hanya bisa menunduk mendengar makian darinya.

“Eonni, tolong jangan seperti anak kecil begitu” ujar BoA Ahjumma

“Ah, sudahlah. Aku sudah tidak berselera” Hyori Ahjumma meninggalkan meja makan dengan dentingan dari sendok makan yang sebelumnya telah dia banting.

Keadaan kini menjadi hening. Hanya bunyi dari sendok dan garpu yang saling beradu ketika kami makan.

Harabeoji mencoba menetralkan suasana, “Monalisa, mulai besok kau sudah bisa kuliah di Universitas yang sama dengan Sehun dan Jongin”

Sesaat aku menghentikan kegiatan makanku mendengar pernyataan Harabeoji barusan. Pernyataan dari Harabeoji semakin jelas menggariskan nasib hidupku. Satu sekolah dengan namja kasar itu.

“Sehun, mulai besok kau mau kan berangkat sekolah dengan Monalisa?” Tanya Harabeoji kepada Namja disampingku, Oh Sehun.

Sehun menatap kaget Harabeoji, sepertinya dia keberatan

“Aniyo Harabeoji, tidak usah. Aku bisa pergi sendiri naik Bus” Ujarku tidak mau merepotkan.

“Kau baru pertama kali kesini, bagaimana jika tersesat?”

“Tapi Harabeoji, aku sudah sangat bersyukur Harabeoji mau membiayai sekolahku, aku tidak mau merepotkan Harabeoji lagi” Ucapku memohon. Jika aku bisa aegyo akan aku lakukan, sayangnya aku tidak bisa.

“Bukan Harabeoji yang akan mengantarmu, tapi aku. Jadi harabeoji tidak akan merasa repot”. Ujar Sehun.

Skakmat, benar juga katanya. Aku salah bicara lagi. Sekarang aku tidak punya alasan untuk menolak.

Harabeoji dan BoA ahjumma terkekeh pelan mendengar pernyataan Sehun. Wajahku pasti merah sekarang.

“Aku sudah siap, aku akan kekamar. Permisi Harabeoji, ahjumma dan Monalisa”

Sehun beranjak meninggalkan meja makan dengan tenang, berbeda dengan Ibunya. Hei, ini pertama kalinya dia memanggil namaku.

“Aku juga sudah siap. Kamsahamnida untuk makan malam hari ini Harabeoji dan BoA ahjumma, kalian benar-benar hangat. Aku permisi dulu” aku membungkuk 90 derajat kepada mereka.

***

Author POV

Di Kamar, Jongin sedang berkutat dengan kanvas di depannya. Warna demi warna dia goreskan di kanvas yang semula putih. Tangannya kini penuh dengan warna warni cat. Tapi dia tidak pernah peduli, asalkan dia bisa melukis.

Seseorang membuka pintu Kamar Jongin, tetapi tak membuatnya mengalihkan pandangan dari Kanvas di depannya.

“Jongin-ah, apa kau tidak lapar??” Tanya sehun yang sedang duduk di ranjang tidur Jongin.

“Aku sedang mengisi perutku sekarang” Jawab Jongin yang masih fokus pada Lukisannya.

“Kalau begitu aku bilang saja pada Harabeoji dan eomma mu agar tidak membelikanmu makan, cukup membelikanmu cat, kuas, dan kanvas kau sudah bisa kenyang” Ledek Sehun

“Jangan ganggu aku, Sehun-ah. Aku sedang berkonsentrasi sekarang. Lebih baik kau keluar.” Kali ini Jongin menatap lawan bicaranya yang tidak lain adalah sepupunya, Oh Sehun.

“Mengenai Monalisa-“ belum sempat Sehun menyelesaikan kata-katanya sudah keburu di potong oleh Jongin.

“Siapa Monalisa?? Lukisan Da Vinci??” Tanya Jongin.

Sehun menghembuskan nafas, “Yeoja yang tadi berdebat denganmu. Kau bahkan belum tahu namanya tapi, kalian terlihat akrab” Sehun mengambil komik Conan di meja di belajar Jongin.

“Akrab?? Cih, bahkan aku sangat membencinya.” Jawab Jongin neda nada kesal mendengar pernyataan Sehun.

“Kau harus mencoba berteman dengannya, dia yeoja yang baik”

“Apa kau mulai menyukainya?” Tanya Jongin dengan ekspresi curiga.

“Ani, kami hanya berteman. Dia pernah bekerja sebagai pelayan Café di Jeju.” Jawab sehun santai menanggapi ekspresi curiga Jongin.

“Ohh, seorang pelayan ya. Kembali ke kamarmu sana. Aku mengantuk” usir Jongin.

“Kau pikir aku bodoh, jam segini bukan waktumu tidur.” Jawab Sehun yang masih asik membaca komik di Ranjang tidur Jongin.

“Besok aku harus kuliah, jadi aku mau tidur lebih awal” Jongin mulai mengemasi kuas-kuas dan cat yang berserakkan di kamarnya.

Mendengar ucapan Jongin, Sehun berlari keluar kamar Jongin, bahkan dia tidak meletakkan kembali komik yang dia baca.

“Ada apa dengan anak itu??” Tanya Jongin pada diri sendiri.

Setelah Sehun keluar dari kamarnya, Jongin kembali melanjutkan Lukisannya, ternyata dia berbohong kepada Sehun.

“Pelayan ya?? Ini menambah nilaiku” Ucap Jongin Diikuti smirk di bibirnya.

***

Pagi ini kediaman keluarga Lee Harabeoji di sibukkan oleh kegiatan masing-masing, ada yang sibuk berangkat ke Kantor, ada yang memasak sarapan, membersihkan kebun, dan ada yang tengah sibuk berangkat kuliah. Begitu pula Monalisa.

Ini adalah hari pertama dia kuliah, segala perlengkapan kuliahnya telah disiapkan oleh Lee harabeoji. Di kamar, Monalisa tengah sibuk memilih baju apa yang cocok dia gunakan. Akhirnya dia memutuskan untuk memakai baju berlengan panjang berwarna pink dan celana pendek berwarna putih rambutnya dibiarkan terurai. Dia terlihat manis.

Keluar dari kamarnya, Monalisa segera berlari ke meja makan untuk sarapan tetapi di tengah jalan tiba-tiba..

Bruukkk

Monalisa menabrak seseorang. Dia mendongakkan kepalanya dan ternyata yang dia tabrak adalah Jongin, Namja galak, pemarah, dan kasar.

“Kau? Kenapa ada disini??” Tanya Jongin yang kaget melihat Monalisa masih berada di rumahnya.

“Mulai kemarin sore aku tinggal disini.” Jawab Monalisa dengan enteng.

“Mwo??? Siapa yang memperbolehkanmu tinggal disini?” Tanya Jongin yang mulai kasar

“Lee Harabeoji” setelah menjawab pertanyaan Jongin Monalisa meninggalkannya, dia tidak mau membuat keributan di pagi hari.

“Mwo? Yak ! tunggu !!” Jongin mengejar Monalisa dan meminta penjelasan darinya.

Monalisa kini telah sampai di Meja makan, dan terlihat disana sudah ada BoA Ahjumma dan Sehun yang sedang menikmati sarapan.

“Selamat Pagi Ahjumma, selamat pagi Sehun”. Sapa ramah Monalisa.

Dia mengambil tempat duduk di samping BoA Ahjumma.

“Selamat pagi. Kau mau selai rasa apa, biar Ahjumma ambilkan” Tawar BoA Ahjumma.

“Tidak Usah Ahjumma, biar aku sendiri yang mengambilnya” Monalisa mengambil sepotong Roti dan mengoleskan Selai coklat di atasnya.

“Eomma, kenapa yeoja itu tinggal disini?? Waeyo eomma??” Tanya Jongin yang membuat 3 pasang mata mengarah kepadanya.

“Wae? Kau tidak suka? jika begitu, kau harus protes pada Harabeoji” Ledek BoA kepada putra semata wayangnya itu.

Mendengar itu, Jongin diam. Ia tahu, keputusan Harabeoji nya tidak bisa diganggu gugat.

Jongin berjalan meninggalkan Ruang Makan.

“Jongin-ah, kau tidak sarapan dulu?” Tanya Sehun

“Aku sudah kenyang” jawab Jongin yang sedang Bad Mood.

“Oh iya, aku lupa. Kau kan hanya Butuh cat dan kanvas. Jadi jika tidak makanpun kau tidak akan lapar” ledek Sehun kepada Jongin.

Mendengar itu, Jongin hanya dapat menatap kesal Sehun, dan berlalu meninggalkan Ruang Makan.

“Lihat sifat sepupumu itu Sehun, sifatnya masih seperti anak kecil” ujar BoA diikuti tawa oleh Sehun.

“Nde, ahjumma.”

***

Monalisa telah berada di dalam Mobil Sehun dan dalam perjalanan menuju Seoul University. Keduanya  diam seribu bahasa. Sehun yang sedang mengendarai Mobil menatap focus jalanan di depannya, sedangkan Monalisa sedang asik menatap kagum jalanan Seoul.

“Kenapa kau menggunakan baju seperti itu?” Ucap sehun yang menyadarkan Monalisa dari kegiatannya.

“Kau selalu menanyakan hal yang tidak penting.”

“Mwo?”  Sehun beralih menatap Monalisa dengan tatapan bertanya.

Monalisa berdecak pelan, “Ketika kita pertama kali bertemu, kau bertanya kenapa rambutku keriting, dan sekarang kau bertanya kenapa aku menggunakan baju ini. apakah itu termasuk sifat bawaanmu juga ketika Lahir?” jelas Monalisa diikuti tawa kecil dari mulutnya.

Sehun menarik nafasnya dalam, “Saat ini cuaca sedang panas, tapi kau malah menggunakan baju berlengan panjang.” Jawab Sehun ringan.

“Tapi aku kan memakai hotpans” jawab Monalisa.

“Kau ini cerewet sekali” ucap Sehun menatap Monalisa dengan kesal.

“Jika tidak begitu, kau tidak akan bicara Sehun-ah” Monalisa tersenyum tulus kepada orang disampingnya itu.

Melihat senyum Monalisa, sesaat Sehun merasa ada sesuatu yang membuat jantungnya tidak teratur. Tapi kemudian dia kembali menyadarkan dirinya kepada jalanan yang kini ada di depannya.

***

Seoul International University

Sehun POV

Aku tidak tahu perasaan apa tadi, aku merasa seperti deg deg gan dan sangat bahagia melihat senyum Monalisa. ah, ini aneh.

Aku berjalan memasuki kampus, dan monalisa sedang berjalan di belakangku. Dia terlihat sangat excited ketika sampai disini.

“Sehun-ah, tolong antarkan aku ke ruang rector.” Monalisa yang semula berada di belakangku kini sudah berada di hadapanku.

“Nde, kajja” ucapku padanya, kulihat dia mengikuti di belakang.

Aku mengantarkannya ke Ruang Rector. Dari ruang rector, kulihat seseorang yang kukenal. Ah itu Luhan Hyung, aku harus menagih janjinya.

“Monalisa, kau masuk saja dulu. Setelah siap, kau tunggu disini. Aku ada urusan dengan seseorang.” Ucapku yang msasih mengamati Luhan Hyung agar tidak kehilangannya.

“Nde” jawab Monalisa, dia pun segera masuk ke Ruang Rector. Setelah dia masuk. Aku segera berlari menemui Luhan Hyung.

“Hyuuuungg!” teriakku ketika sudah dekat dengannya.

“Sehun-ah, ada apa??” Tanya Luhan Hyung, aisshh, sepertinya dia Lupa.

“Yak!. Apa kau lupa janjimu padaku?” Kupandangi Luhan Hyung dengan kesal.

Dia berusaha mengingat janjinya padaku, dia lupa sungguhan.

“Ahhh, nde nde, aku ingat” aku tersenyum senang karena akhirnya dia mengingatnya. Ku ulurkan tanganku ke hadapannya.

“Tapi aku tidak membawanya” jawab nya dengan Polos.

“Hyuuunnggg !!! Neo, jinjjayo!!”  mendapati kekesalanku dia hanya tertawa. Ah, Luhan Hyung memang seperti itu. dia bukan tipe pria pemarah, terutama kepadaku. seandainya aku seorang yeoja, aku pasti sudah jatuh cinta padanya.

“Mianhe, Sehun-ah. Besok aku bawa” Dia mengeluarkan puppy eyesnya.

“Ya sudahlah, besok jangan sampai lupa lagi.” Ucapku yang masih kesal kepadanya.

“Nde, kajja ke kantin ! aku laparrr!” ajak Luhan Hyung yang sedikit merengek kepadaku.

“Mianheyo Hyung, aku tadi sedang menemani temanku, dan aku sudah meninggalkannya. Mianhe Hyung” Aku teringat kepada Monalisa yang aku tinggalkan di Ruang Rector. Aku tidak mungkin membiarkannya berkeliling kampus sendirian, bagaimana jika dia tersesat?

“Chingu? Nugu Sehun-ah?” Tanya Luhan Hyung.

“Dia anak baru Hyung, jadi tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri” .

“yeoja eoh?” .

“Nde Hyung”.

“Ohh, arraseo” Ucap Luhan Hyung sembari tersenyum, syukurlah dia tidak kesal kepadaku.

“Hyung, mianhe. Aku harus segera menemuinya, dia pasti sudah menungguku” ucapku buru-buru, aku  segera berlari menuju Ruang Rector. Ada apa denganmu Oh Sehun? Kenapa ketika memikirkan Monalisa Jantungku menjadi aneh.

Ketika aku sampai di depan Ruang Rector, Monalisa sudah selesai berbicara dengan rector dan sesuai perintahku dia sedang menungguku disana.

“Mianhe, aku membuatmu menunggu” ujarku ketika sampai di hadapannya.

“Gwenchana, aku juga tidak keberatan menunggumu disini” Ucapnya sembari menatapku. Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku.

“Mau ke Kantin?” tanyaku, aku bingung ingin berbicara apa dengannya.

Dia tidak menjawab, melainkan menatap wajahku. Tolong berhenti menatapku. Itu membuat jantungku tidak teratur.

“Tentu saja !” jawabnya dengan semangat. Aku tersenyum melihat tingkahnya, dia yeoja yang sangat ceria. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya.

***

Jongin POV

Pagi ini mood ku sudah benar-benar buruk karena yeoja bernama Monalisa itu. Tiba-tiba dia hadir di dalam keluargaku. Hey tunggu, bukankah ini yang aku mau? Jika dia tinggal satu rumah denganku aku akan lebih mudah membalas perbuatannya tempo hari, yayaya. Tapi tetap saja, eomma, Sehun dan Harabeoji semuanya memihak pada yeoja itu.

Aku mendumel sepanjang perjalanan ke Kampus. Ku harap hari-hariku di Kampus menjadi lebih baik.

“Hy Bro!” seseorang menepuk pundakku, kualihkan pandanganku dan ternyata itu Chanyeol.

Aku hanya menatapnya dingin.

“Ada apa? kenapa auramu buruk sekali?” Tanya Chanyeol menyadari tatapan tajam yang aku berikan padanya.

“Seseorang menghancurkan moodku pagi ini”. Kualihkan pandanganku dari chanyeol kepada beberapa Mahasiswa yang berlalu lalang di hadapanku.

“Cup,cup,cup. Lupakan saja. dan Lihatlah yeoja-yeoja itu” Chanyeol menunjuk beberapa Orang yeoja yang sedang berkumpul.

Chanyeol menebar Wink kepada yeoja-yeoja itu dan sontak mendapat teriakan histeris. Cih, itu sangat menjijikkan.

Aku pergi meninggalkan chanyeol yang sedang tebar pesona itu. selama ini aku tidak perduli terhadap seorang wanita, jadi maaf saja jika dia mengajakku untuk melakukan hal semacam itu karena aku sama sekali tidak tertarik.

“Yak! Kau kenapa meninggalkanku?” Tanya Chanyeol yang sudah berada di sampingku.

“Kulihat kau sedang sibuk”.

“Ish, kau ini !”Ujar Chanyeol kesal kepadaku.

***

Monalisa POV

Aku sedang berjalan menuju Kantin bersama Sehun. Aku heran, sekarang dia menjadi lebih-lebih pendiam kepadaku. Bahkan dia tidak mau menatapku. Sifat dari lahir sepertinya.

“Sehun, kau mengambil jurusan apa?” tanyaku, berharap dia akan berkata lebih banyak.

“Bisnis, dan kau?”  setidaknya dia bertanya balik.

“Seni. Kenapa kau mengambil bisnis, bukankah itu sulit? Ohyaya, otakku sangat berbeda dengan otak orang jenius sepertimu”

“Itu perintah Harabeoji. Dan kau sendiri?”

“Seni adalah hal yang indah. Aku tidak terlalu suka belajar dengan serius jadi aku mengambil seni”

Aku melihat seorang yeoja membawa beberapa tumpuk buku, terlihat bahwa dia kesulitan. Aku putuskan untuk membantunya

“Bolehkah ku bantu membawakannya?” Yeoja tersebut kaget mengetahui aku yang notabenenya orang asing tiba-tiba menawarkan diri untuk membantunya.

“Apa tidak merepotkan?” jawab yeoja itu malu-malu.

“Tentu saja tidak” Ku ambil sebagian buku dari tangannya.

“Akan diletakkan dimana buku-buku ini?” .

“Hmm, di Perpustakaan”. Aku mengangguk mengerti.

Aku berjalan kearah Sehun, “Sehun, aku akan mengantarkan Buku-buku ini ke perpustakaan dulu. Jadi mianhe, kau harus ke Kantin sendirian. Gwenchanayo?” ucapku pada Sehun sambil menunjukkan 5 buah buku ditanganku.

“Gwenchana” Jawabnya dan kubalas dengan ‘gomawo’ sedikit berbisik.

Aku menghampiri yeoja tadi,

“Kau jalan duluan, aku belum tahu dimana letak perpustakaan”.

Aku mengikuti Yeoja itu dari belakang, ketika menuju Perpustakaan aku melewati banyak ruangan. Universitas ini begitu besar ada banyak ruangan di dalamnya.

“Jadi kau Mahasiswi baru ya?”

“Nde, Monalisa imnida” aku membungkuk kepadanya.

“Perkenalkan aku Hwang Soo Eun imnida. Senang bertemu denganmu” dia balas membungkuk padaku. Sepertinya sekarang aku mendapatkan seorang teman baru.

Setelah sampai di perpustakaan, aku melihat buku-buku yng berhubungan dengan seni. Aku menyukai seni terutama di Seni Musik. Ada banyak buku yang berhubungan dengan Musik.

“Gomawo kau sudah membantuku”. Ujar Soo Eun, dia tidak terlihat malu-malu lagi.

“Cheonmanayo, aku senang kau tidak malu-malu lagi” ucapku jujur.

“Haha, aku sesungguhnya bukan orang pemalu, hanya saja tadi aku kaget dengan sikapmu”

“Iya, aku mengerti. Tindakanku tadi memang mengagetkan. Haha” Aku tertawa pelan bersama Soo Eun

“Setidaknya sekarang kita bisa lebih akrab” lanjutku. Soo Eun mengangguk dan tersenyum.

“Ku kira juga sepertinya kita cocok. Aku menyukai sifatmu” Ujarnya.

“Aku juga. Ehm, apa kau tau dimana Fakultas Seni?” aku telah berpisah dengan Sehun jadi hanya soo Eun yang aku harapkan.

“Kau masuk Fakultas Seni?” Tanya Soo Eun yang antusias dengan pertanyaanku.

Aku mengangguk mantap.

“Wah, kita sama.” Ucap Soo Eun

“Jinjjayo? Kebetulan sekali. Kita benar-benar cocok” aku tertawa pelan.

“Nde, kelas dimulai 30 menit lagi. Jadi maukah kau temani aku ke Kantin” Soo Eun memperhatikan jam di tangannya dan kemudian memohon kepadaku.

“Tentu saja ! kajja !” kurangkul tangannya dan kami berjalan bersama menuju kantin.

***

“Annyeong haseyo, naneun Monalisa Park imnida” aku memperkenalkan diriku di hadapan para mahasiswa. Ada banyak pasang mata yang memperhatikanku sekarang. Salah satunya dapat kukenali, itu Soo Eun. Aku tersenyum kepadanya dan dia juga sebaliknya. Ku alihkan tatapanku kepada mahasiswa lain, aku menangkap sesosok orang yang aku kenal, itu Jongin. Dia satu ruangan denganku. Dan sekarang sedang menatapku. Kualihkan pandanganku darinya, berpura-pura tidak melihatnya.

“Silahkan duduk di tempat yang kosong” ujar Songsaenim.

Aku segera menuju ke tempat duduk Soo Eun, karena disampingnya kosong. Dan juga tempat duduknya jauh dari tempat duduk Jongin.

Ku keluarkan buku catatan dari dalam tasku dan tanpa sengaja mataku bertatapan dengan Jongin. Dia masih menatapku dan menyadari aku membalas tatapannya dia segera mengalihkan pandangannya ke Songsaenim.

Jongin POV

Yeoja itu, kenapa dia selalu memberikan kejutan kepadaku. Seperti sekarang, dia masuk ke jurusan yang sama denganku. Kutatap tajam matanya seperti yang biasa aku lakukan kepada Yeoja itu. Dia terlihat akrab dengan yeoja bernama Hwang Soo Eun, tapi tetap saja, itu tidak mengurangi naitku untuk membalasnya. Ketika kelas selesai, lihat saja.

Skip>>

Aku sedang memesan segelas Milkshake ketika melihat yeoja bernama Monalisa dan temannnya sedang bercanda gurau menuju kantin. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membalasnya. Aku masih memperhatikan gerak-gerik yeoja itu, dan ketika temannya pergi untuk memesan makanan disaat inilah aku beraksi.

Aku berjalan kearahnya dengan membawa segelas Milkshake coklat dan akan menumpahkannya ke baju yeoja itu seperti ketika dia menumpahkan cat-cat itu ke lukisanku.

Ketika aku hampir sampai, seseorang mengambil Milkshake ku.

“Yak!” bentakku kesal

Chanyeol mengambil Milkshake itu dan meminumnya.

“Kenapa kau minum?!” bentakku kesal kepada Playboy gagal ini.

“Kau membelinya untuk diminumkan? Begitu pula yang aku lakukan” jawabnya enteng. Dia bahkan tidak merasa bersalah.

“Chanyeooollll!!” geramku padanya, dan semua orang yang ada di Kantin menatapku. Aku tidak memperdulikannya. Yang pasti gara-gara Chanyeol rencanaku gagal.

Kau selamat kali ini, batinku ketika menatap Monalisa. aku pergi dengan kesal meninggalkan Kantin. Chanyeol mengikutiku dan masih dengan santainya menyedot Milkshake ku.

Monalisa POV

“Chanyeooollll!!” kulihat Jongin sedang mendumel dengan temannya yang bertubuh tinggi itu. Dia terlihat kesal. Dia kemudian menatapku dan kubalas tatapannya. Kemudian dia pergi dari Kantin, sepertinya dia kesal karena minumannya di minum oleh temannya tadi.

“Kau sedang memperhatikannya?” Tanya Soo Eun dengan nampan di tangannya.

“Ehh, Siapa?” tanyaku yang tidak mengerti maksud ucapannya.

“Kim Jongin, kulihat kau sedang memperhatikannya”  Soo Eun memberikan segelas orange Jus padaku. Aku hanya memesan Orange Jus dan Soo Eun memesan Orange Jus dan Ramyeon.

“Aku hanya heran kenapa dia suka sekali marah-marah” jawabku sambil menyeruput Orange Jus yang ada dihadapanku.

“Dia memang seperti itu. Dia orang yang emosional, biarpun begitu tetap saja banyak Yeoja yang menyukainya” Ucap Soo Eun yang sedang menikmati Ramyeonnya.

“Tentu saja dia seperti itu, banyak yeoja menyukainya. Bukankah itu malah membuatnya semakin besar kepala” Jawabku.

Soo Eun menggelengkan kepalanya, “Ani, dia tidak seperti itu. biarpun banyak yang menyukainya, dia tidak pernah ambil pusing. Dia selalu cuek kepada Yeoja-yeoja itu” Jelas Soo Eun.

“Kau tahu banyak hal tentangnya, apa kau menyukainya Soo Eun ah?” Soo Eun menatapku tajam dengan Ramyeon yang masih dimulutnya.

“Seluruh Kampus juga tahu. Lagipula, aku sudah menyukai seseorang”  Soo Eun menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Aku tersenyum melihat tingkahnya “Nugu?”

Soo Eun mulai gugup dan wajahnya memerah, “Dia namja yang sangat tinggi”

“Apa namja itu yang tadi bersama Jongin?” tanyaku spontan. Ketika Soo Eun menyebutkan kata tinggi, namja itulah yang terlintas diotakku.

“Nde, tapi sayangnya di playboy. Sangat tidak mungkin jika aku bisa berkencan dengannya”

“Apa yang kau sukai darinya?” tanyaku pada Soo Eun yang mulai tidak semangat.

“Aku senang ketika melihatnya senang juga, dan aku sedih ketika melihatnya sedih juga” jawab Soo Eun.

“Apa kau tidak pernah jatuh cinta?” lanjutnya

Jatuh cinta? Tahu rasanya seperti apa saja aku tidak tahu.

“Ani. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Bagaimana rasanya?” tanyaku yang penasaran mungkin saja suatu saat nanti aku dapat merasakannya.

“Simpel saja, kau akan merasa bahagia” Soo Eun tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang dia pikirkan.

“Aku selalu bahagia, apa aku sudah jatuh cinta?” tanyaku.

“Jatuh cinta itu seperti ini” Soo Eun mendekatkan dirinya padaku. Wajah kami saling berhadapan sekarang, Dia menatapku tajam dan tangannya menyentuh dadaku.

“Apa yang kau rasakan?” tanyanya

“Aku tidak merasakan apa-apa. Hanya saja kau membuatku takut”. Ujarku sedikit bergidik.

Soo Eun melepaskan tangannya, “Tentu saja kau tidak merasakan apa-apa. Aku kan Yeoja. Jika Namja yang melakukannya jantungmu akan berdetak sangat keras dan kau akan berkeringat” aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Suatu saat aku akan merasakannya, tapi mungkin sedikit berbeda.”

***

Author POV

Monalisa menutup telepon, dia baru saja menghubungi halmeoninya di Jeju. Dia sudah sangat merindukan Halmeoninya itu.

Hyori yang melihat Monalisa habis menghubungi Halmeoninya merasa tidak senang dan segera menemui Monalisa.

“Kau pikir biaya telepon itu murah?” bentak Hyori.

Monalisa yang kaget melihat Hyori tiba-tiba membentaknya hanya diam.

“Menelpon ke luar Kota, biayanya pasti mahal” Lanjut Hyori. Hyori menatap Monalisa dengan penuh kebencian.

“Maafkan aku Ahjumma, tapi-“ belum sempat Monalisa menyelesaikan kalimatnya, Hyori memotongnya.

“Ahjumma? Kau pikir aku ini bibimu? Panggil aku nyonya” Perintah Hyori.

“Baiklah, Nyo..nya”

Saat ini Lee Harabeoji dan BoA ahjumma sedang pergi ke Luar sehingga tidak ada yang dapat menyelamatkan Monalisa dari serangan Hyori.

“Kulihat tadi Lantai tiga sangat kotor. Jadi aku mau kau bersihkan lantai tiga sampai bersih seluruhnya!” Parintah Hyori.

“Baiklah, nyonya” Monalisa yang merasa sangat berhutang budi kepada keluarga lee Harabeoji tidak bisa menolak perintah Hyori, karena baginya keluarga Lee Harabeoji sudah sangat baik padanya.

“Dan awas jika masih kotor!” Lanjut Hyori kembali membentak.

Monalisa pergi ke Lantai tiga, sampai di sana dilihatnya keadaan Lantai tiga. Memang sedikit berdebu. Monalisa mulai membersihkannya.

Setelah dirasa semuanya telah bersih, ada satu ruangan yang dia belum bersihkan. Sebuah ruangan yang terletak di dekat balkon.

Monalisa membuka Ruangan itu dan kaget melihat Jongin yang berada di sana.

Monalisa POV

Benarkah yang aku lihat ini? batinku. Kim Jongin sedang asik menggoreskan warna demi warna di atas kanvas, dia tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya

Jongin terlihat sangat serius. Dia tidak memikirkan tangannya yang telah kotor karena cat bahkan beberapa noda cat terlihat mengotori bajunya.

Yang di pandanginya hanya kanvas di depan matanya. Dia terlihat berbeda. Tatapan matanya ketika melihat kanvas sangat berbeda dengan tatapan yang biasa dia berikan kepada setiap orang. Tatapan tajamnya seperti lumpuh ketika melihat benda berwarna putih itu.

Sekarang aku tahu kenapa lukisan yang dia buat hasilnya menakjubkan. Saat dia melukis dia terlihat sangat…

Tidak, tidak, tidak, apa yang aku pikirkan? Batinku. Kututup pintu ruangan itu. Dan berjalan menuju kamar.

Tubuhku sangat lelah, lantai tiga bukanlah sempit itu tempat yang luas. Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur sambil mengingat kejadian tadi. Kim Jongin, Namja galak, kasar dan pemarah. Tapi kenapa tadi itu dia sangat berbeda. Bayangan Kim Jongin yang sedang melukis masih bergentayangan di pikiranku, aku tersenyum ketika membayangkan hal itu.Apa ini yang namanya jatuh cinta??

TBC.. ^^

Yess, part 2 nya selesaiiii, biarpun gaje tetap RCL yaaa…

Iklan

27 pemikiran pada “Monalisa (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s