Finding You

Title: Finding You

Author: @afnfsy

Casts: EXO-K’s Suho, You

Length: One-shot

Genre: Romance, angst

Rating: Teen

 findingyou

Recommended song while reading this story is One Republic – If I Lose Myself. Ah and this story was already published in my personal blog at http://kyungj.wordpress.com/

 

=====================================

Suho berlari tak tentu arah. Kali ini ia berserah sepenuhnya kepada kedua kakinya kemana akan membawanya. Ia tidak memperdulikan puluhan orang yang berkali-kali ia tabrak, tatapan sinis orang-orang yang menatapnya penuh rasa terganggu. Suho tidak peduli. Ia hanya yakin ketika ia menghentikan kedua kakinya, seluruhnya akan menghilang.

Ia masih tetap berlari, ia sama sekali tidak mengindahkan ponselnya yang terus bergetar dari kantung celananya. Ia rela jika manajernya akan memarahinya habis-habisan sehabis ini. Tapi tolong, jangan hentikan ia saat ini.

Suho masih bisa membayangkan bagaimana mimpi itu tiba-tiba membangunkan dirinya dari tidur tidak nyenyaknya. Ia masih bisa merasakan bagaimana dirinya hampir kehabisan suaranya karena teriakkan yang ia buat, dan penyebabnya adalah tidak lain dari mimpi buruknya sendiri.

Lelaki itu tidak mengcomplain dirinya sendiri ketika kedua kaki jenjangnya masih berlari dan kini memasukki daerah perbatasan. Suho ingat benar tempat ini, tanpa menghabiskan waktu, ia segera melompat kedalam bus daerah setempat yang pintunya terbuka di depannya.

Sang supir bis tidak berkata apa-apa saat melihat keadaan Suho yang nyaris kacau—wajah penuh peluh, nafas ngos-ngosan, dan rambut yang sedikit berantakan. Penumpang bis yang kebanyakan adalah lansia terlihat begitu kaget saat melihat Suho.

Sepertinya mereka berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan anak muda ini.

Memang, memang ada yang tidak beres. Dan secepatnya Suho harus menyelesaikannya.

Wajah malaikat tanpa cela milik Suho pun memandang orang-orang di sekitarnya dengan pandangan penuh rasa menyesal karena mungkin kedatangannya telah membuat penumpang lain kaget. Ia pun menggerakan kedua kakinya yang kini terasa pegal dan terhuyung-huyung kearah kursi yang kosong di belakang.

Tubuhnya pun dibanting ke sandaran kursi yang keras. Suho benar-benar tidak sempat memikirikan rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Ia pun membuang pandangannya kearah jendela di sebelah kanannya, membiarkan kedua matanya melihat pemandangan padang rumput yang merentang luas, memerhatikan pohon-pohon pinus yang semakin lama semakin memenuhi pandangannya.

Dan semakin lama membawa seluruh kenangan buruk itu kembali kedalam pikiran Suho. Suho pun memijit dahinya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Kedua matanya terpejam seperti orang frustasi. Tiba-tiba ia merasa menyesal karena sudah setengah jalan untuk pergi ke tempat itu.

Namun, ia harus menyelesaikan semuanya.

———————————————————————-

Bus berhenti tepat di depan sebuah pondok yang terbuat dari kayu. Pondok itu berada di tengah hutan pinus. Suho memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya karena udara hutan yang terasa dingin. Lansia-lansia yang turun dari bus tersebut pun berjalan berbondong-bondong memasukki pondok, meninggalkan Suho yang masih mematung di depan.

Suho mengalihkan pandangannya keatas langit, melihat cahaya matahari yang berusaha menembus diantara dedaunan pohon pinus yang tinggi. Bisa dibilang langit cerah sekarang, tapi kabut yang lambat laun menutupi cahaya matahari tidak menghasilkan apa-apa.

Tiba-tiba Suho menolehkan kepalanya kesebelah kirinya—seperti melihat sesuatu yang janggal. Ketika ‘sesuatu’ itu seperti mengitarinya, Suho menjadi takut sendiri; seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak seharusnya berdia diri disini.

Lelaki itu langsung terhenyak, alam bawah sadarnya kembali menyuruhnya untuk berlari.

Suho berlari menelusuri jalanan setapak yang hampir tidak kelihatan karena sudah tertutup oleh rumput-rumput liar, kedua kakinya berlari membawanya keatas bukit. Suho sempat berhenti sebelum dirinya benar-benar meraih atas bukit, beberapa pohon pinus memang menghalangi pandangannya, tetapi tidak menghalangi kenangan yang tiba-tiba kembali menyeruak di pikiran Suho.

Tidak mungkin, pikir Suho saat ia berhasil menanjak ke puncak bukit. Disitu masih bukit yang sama—tebing yang sama.

Perlahan Suho mengatur napasnya yang sedari tadi tidak teratur, ia berjalan menuju ujung tebing tersebut. Membuat pemandangan dibawah tebing perlahan-lahan mulai terlihat. Hutan pinus yang ditutupi kabut tipis dan angin yang menerpa tangan kosongnya. Dan ia merasakan… kain?

Ia menoleh kesampingnya, jantung lelaki itu nyaris saja jatuh ke lambungnya saat mendapat sesosok wanita tengah menatap lurus kearah depan.

“K… kau?” tanya Suho gelagapan. Jari telunjuknya bergerak gemetaran kearah gadis yang sekarang malah menggerakan kepalanya dan tersenyum lembut kepada Suho. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

Suho tertawa ragu-ragu, berkali-kali mencubit pergelangan tangannya sendiri sembari masih menatap gadis itu dengan lekat—ia benar-benar yakin bahwa ini adalah ilusinya saja. Tidak mungkin, it’s just no way.

Oppa,” panggil gadis itu pelan, ia pun menghela napas—bukan, ia hanya meniup udara yang berada di depannya.

“Kau masih tidak percaya, bukan? Sejak acara kemah berakhir… sampai sekarang?” tanya gadis itu yang membuat Suho semakin tersentak. Memang, Suho masih tidak percaya, sampai saat inipun, ia masih tidak mempercayainya.

Suho yakin—benar-benar yakin ini hanya ilusinya, dan kalaupun saat ini tubuhnya tidak benar-benar berada disini, ini semua hanya mimpi.

Seperti membaca pikiran Suho yang mulai acak-adul, gadis itu tersenyum lagi seraya mengalihkan pandangannya kembali kebawah tebing. “Tidak, oppa. Kau harus percaya, kau tidak bisa—“

“Tidak! Kau belum… tidak, tidak mungkin! Kau tahu aku hampir gila menunggumu! Kau… kau… tidak!” potong lelaki itu hampir seperti menuntut, sekarang Suho jatuh bersimpuh di pinggir tebing, air mata yang sedari tadi ia tahan sejak bertemu gadis itu akhirnya tumpah begitu saja.

Air mata yang keluar kali ini lebih deras daripada air mata yang selalu ia keluarkan ketika ia menangis di dalam apartemennya, ketika ia jutaan kali meyakini dirinya sendiri bahwa gadis ini pasti akan kembali berada di depan pintu apartemennya, membawakannya makan siang yang paling disukainya. Tetapi sudah berbulan-bulan gadis itu tidak datang, dan Suho tetap berusaha untuk positive thinking—tetapi seharusnya ia tahu bahwa itu takkan ada gunanya.

Oppa… tidak… kau harus melepasku,” ujar gadis itu seraya ikut bersimpuh dan mengelus rambut Suho dengan lembut, berusaha menenangkan Suho yang masih menangis. “Jebal, oppa, buat aku tenang…”

Suho meringis merasakan rasa sakit di dadanya, “No… you know it’s not as easy as you think,” jawab Suho dengan susah payah mengangkat kepalanya untuk menatap wajah cantik yang selalu dirindukan oleh Suho di depannya. Gadis itu lagi-lagi tersenyum—ia memang berniat untuk tidak membuat Suho semakin khawatir.

“Hmm, kurasa waktuku sudah habis. Oppa, aku pergi dulu, ne? Jaga dirimu! Kau tahu, kan, aku selalu mencintaimu? Jangan khawatir!” gadis itu tiba-tiba berdiri dan melenggang kearah ujung tebing, gaun putihnya tersibak angin dengan lembut, membuat Suho membelalakkan kedua matanya.

Andwae! Stay here, please,” pintanya seraya mencoba meraih kaki gadis itu, tetapi ia tidak bisa. Gadis itu berbalik untuk menghadap Suho, masih dengan senyuman manisnya.

“Aku ingin kau percaya, oppa… Aku mencintaimu…” bisik gadis itu yang hanya bisa didengar oleh Suho. Suho pun terhenyak saat mendengar gadis itu berbisik, ia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya pada sosok hampir sempurna yang selalu berada dalam pikirannya setiap waktu.

Sampai ia sadar bahwa gadis itu sudah melompat dari ujung tebing tersebut…

ANDWAE!!!” jerit Suho putus asa. Tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk menggapai gadis itu kini mengepal seperti mencari-cari jejak gadis itu, tetapi nihil.

Suho masih mengeluarkan air matanya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Menurutnya ini adalah salah satu dari mimpi buruknya yang terlalu banyak berefek sampai ke dunia nyata. Tetapi kemudian ia menyadari bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

Suho mengambil setangkai bunga yang berada di ujung tebing itu, bunga itu berdiri tegak—seperti menantang pemandangan di bawah tebing—seperti tidak takut bahwa suatu saat nantinya ia bisa saja terlepas dari akarnya.

Tetapi entah kenapa, Suho tersenyum. Tidak seharusnya. Dan seharusnya, ia percaya.

PROLOG

Oppa! Lihat! Pemandangannya bagus sekali!” pekik seorang gadis seraya menarik pelan tangan lelaki yang tengah menikmati udara diatas tebing. Suho tidak menolak ketika gadis itu menariknya untuk mendekat kearah ujung tebing, menjatuhkan tas ransel besarnya yang berisi perlengkapan kemah keatas tanah.

Suho menyetujui bahwa pemandangan hutan memang terlihat sangat indah ketika dilihat dari atas tebing seperti ini. “Ya, chagiya, hati-hati!” perintah Suho ketika gadis itu berlari-lari di ujung tebing tanpa rasa takut sedikitpun. Tetapi melihat gadisnya hanya tertawa kecil menanggapinya membuat rasa khawatir Suho sedikit surut. Gadis itu memang gadis pemberani—tetapi takut dengan seekor belalang.

Suho pun berbalik untuk mengambil tas gadis itu yang diletakkan asal di tanah seraya ingin mengambil beberapa bahan untuk membuat tenda.

Saat itu Suho masih mendengar gadisnya cekikikan sampai akhirnya ia mendengar gadis itu sedikit merintih saat suara seperti bebatuan yang retak, Suho menaikkan salah satu alisnya karena setelah itu ia masih mendengar gadis itu kembali cekikikan.

Oppa! Lihat apa yang aku temukan!” seru gadis itu seperti memegang sesuatu dalam kedua tangannya, sementara Suho menolehkan kepalanya untuk melihat gadis itu dan benda yang ia pegang.

“Ini kan… tung… KYAAA!!!” tubuh mungil gadis itu seperti terlempar kebawah diikuti dengan bebatuan-bebatuan kecil yang berjatuhan. Suho membeku di tempatnya sementara gadis itu tak lagi berada di depannya. Tebing itu retak, tak kuat menahan bobot gadis itu.

CHAGIYA!!!” jerit Suho sambil mengangkat sebelah tangannya untuk menarik gadis itu kembali keatas—ke pelukannya. Tetapi naas, apapun yang ia lakukan tidak akan pernah bisa merubah keadaan. Suho jatuh terduduk dengan api unggun yang mulai menyala di belakangnya.

Lelaki itu masih terdiam, berusaha mencerna. Kejadian itu terjadi benar-benar cepat, tanpa hitungan menit. Suho pun meremas rambutnya dengan kedua tangannya kasar, kemudian menjerit putus asa. Ia merangkak ke ujung tebing dengan hati-hati, melihat kebawah tebing yang bahkan bagian bawahnya saja sudah tidak terlihat.

No way…” Suho menangis tertahan.

Tidak, ia tidak bisa menahan tangisannya kali ini. Ia masih yakin ini hanyalah mimpinya, besok siang gadis itu pasti akan datang ke apartemennya. Pasti.

Ia pun tertawa pelan, meyakini dirinya sendiri. Perlahan ia bangkit dan berjalan kearah tenda. Berkali-kali—atau bahkan ratusan kali meyakini bahwa gadis itu pasti akan datang.

Tetapi jika Suho tahu yang sebenarnya.

===========================================end=============================================

 

 

 

 

 

8 pemikiran pada “Finding You

  1. God. How can you–this–aaaaaah tisu mana tisuuuu T^T
    Ah suho terjebak dalam rasa bersalah dan nggak rela. Kasihan. T_T anyway, aku suka cara menulismu~ simpel dan nggak bertele-tele. Keep writing so you can improve and be better~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s