Kill Me (Chapter 1)

Title : Kill Me (Chapter 1)

Author : Bit (@Novita_Milla)

Genre : Romance, Angst, Sad

Length : Two shoot

Cast : Shin Heejung, Chen, Suho, Chanyeol, Kai

Kill Me

 

Author’s side

“Sejak kapan dia seperti ini?” Tanya seorang pemuda tampan meneguk secangkir Vanila Latte—jenis kopi favoritnya. Dia berdiri di depan balkon apartemen yang mengarah pada pusat Dongdaemun. Tampak silau karena banyaknya lampu kendaraan. “Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia sangat menyebalkan.”

Pemuda yang duduk di sofa panjang, tepat berada di belakang pria Vanilla Latte merilekskan tubuhnya. Ia mendengus, “Dia punya banyak kepribadian.” Pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia mengarahkan pandangannya pada objek yang sama dengan pemuda Vanila Latte. “Dan sekarang, dia punya kepribadian baru lagi. Belakangan ini.”

Pemuda Vanila Latte memiringkan wajahnya pada lelaki di belakangnya. “Bagaimana kau tahu?”

“Itu tak penting. Yang terpenting, dia akan datang ke Korea besok pagi.” Pemuda itu menengadahkan kepalanya ke atas sambil terus merapatkan jaket kulitnya. “Akan banyak pembisnis yang datang menyambutnya. Suho hyung pasti akan datang. Huh, dia tak akan melewatkan saat penting bertemu dengan ‘3 Milyar Won’.”

Pemuda Vanila Latte terus meneguk kopinya. Pandangannya masih terfokus pada Dongdaemun yang tenggelam di tengah-tengah kabut malam.

Geurae, bagaimana denganmu? Kau akan pergi?”

Pemuda Vanila Latte menyunggingkan senyum miringnya sembari berkata, “Kita lihat besok.”

 

***

 

Seorang pemuda berkulit kecokelatan memberikan dokumen kepada wanita di samping kursinya. “Komisaris Kwon menyetujui rencana pembangunan Sunflower cabang Korea. Bisa dipastikan besok Anda dapat bertemu dengannya setelah makan siang.”

“Baiklah.” Jawab seorang wanita yang tengah duduk di kursi pesawat dengan santai. “Bagaimana dengan investor China? Apa dia sudah menindaklanjuti?”

“Belum. Tetapi, dia berencana akan menemui Anda besok malam.”

“Hmm, baiklah. Aku bisa mengandalkanmu.” Dia bergumam lalu mengambil iPad—melihat bursa efek Korea. Pandangan matanya terus terfokus pada layar iPadnya sambil melihat perkembangan saham perusahaan-perusahaan penting di Korea, “Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, Jongin-ah.” Gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyum miringnya.

“Geundae, apa yang terjadi pada Anda? Bukankah Anda selalu menghindari Korea selama ini?”

Perempuan itu mehentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap layar iPad-nya dengan pandangan kosong sembari tersenyum samar.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Bukankah kau tahu maksudku?”

“Anda berniat menghancurkan Korea?”

“Benarkah? Apa aku terlihat menginginkan hal itu? Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Mengenai CE ̶̶ ̶ “

Perempuan itu tersenyum mencela memotong perkataan pemuda disampingnya. Ia tertawa garing, “Aku bahkan sudah lupa dengannya.” Ujarnya menatap mata pemuda itu lurus-lurus.

Pemuda yang dipanggil Jongin itu bergidik.

“Tidurlah.” Ujar perempuan itu lembut, “Pikirkan saja apa yang ada di depan mata.” Lanjutnya sambil meletakkan kembali iPad tersebut kedalam tas miliknya.

Dalam hati, Jongin mengerti maksud ucapan atasannya. Hanya saja ia sedikit bimbang mengenai sikapnya kali ini. Apa mungkin atasannya berniat mengakhiri semuanya?

 

***

 

“Tak tahu diri.” Gerutu seorang perempuan di sofa ruang kerjanya.

Sudah 2 jam ia terkurung bersama para pembisnis tukang pamer di acara penyambutan kedatangannya di Korea. Setelah  8 tahun ia meninggalkan tanah air tentunya.

TOK TOK

“Direktur Eksekutif Kim dari Sunflower sudah sampai, CEO Shin.” Ujar Jongin sopan.

“Persilakan dia masuk.” Jawab perempuan yang dipanggil CEO Shin oleh Jongin. Perempuan itu beranjak dari duduknya untuk menyambut orang itu.

“CEO Shin Heejung-ssi! Senang bertemu dengan Anda kembali.” Ujar pemuda tampan yang sangat dikenali Heejung sebagai temannya ketika SMA. Pemuda yang lebih tinggi dari Heejung itu mengulurkan tangan kanannya. Heejung menyambutnya sambil mempersilahkan Suho duduk.

“Shin Heejung… Hmm, maksudku sajangnim, ada perlu apa Anda memintaku kemari?” Suho bertanya sopan.

Heejung menegakkan kepalanya. Ia tampak meneguk ludahnya sendiri, “Aku mungkin akan memerlukan bantuanmu.”

“Untuk apa? Kenapa kau memerlukan bantuanku?” Tanya Suho tajam. Tampak raut khawatir di wajah malaikatnya.

“Kita sudah lama saling mengenal, Suho-ssi. Apakah aku harus menjelaskan lagi hal yang sudah kita bicarakan sebelumnya?” Heejung menyeringai licik. Ekspresinya saat ini seperti orang kesetanan.

Shin Heejung, apa yang sedang kau rencanakan?’ Tanya Suho dalam hati.

“Mengenai Daegu?”

Heejung tersenyum mencela. Ia kemudian beranjak dari kursi kerjanya. Ia melangkahkan kakinya menuju kaca pembatas antara gedung megah ini dengan kawasan Apgeujeong-dong. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada sambil melihat aktivitas di luar sana.

“CEO Shin Heejung!!” Suho beteriak. Saat ini emosinya sudah sampai di ubun-ubun. ‘Ada apa dengan anak ini?’ batin Suho geram.

“Aku memerlukanmu. Kau berjanji akan membantuku saat itu.” Tanya Heejung masih menghadap ke arah yang sama dengan Suho. Bedanya, Suho bisa melihat Apgeujeong-dong dan Heejung yang membelakanginya. “Kau masih hutang 1 bantuan untukku.”

Suho menghirup napasnya panjang, berharap ia bisa mengontrol emosi. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah merasa segeram ini pada Shin Heejung. Kecuali pada masa lalu.

“Aku tau.” Suho mendekati tempat Heejung berdiri. Ia berhenti tepat di sampingnya. “Kadang aku berpikir mengapa kau mau menerima kenyataan itu.” Suho menghentikan kalimatnya sebentar lalu menatap Heejung yang menatap tempat diluar sana tanpa ragu. “Jadi, ini maksudnya?”

Suho melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Heejung dengan cepat. Kali ini ia benar-benar marah. Setelah ia tau bahwa yang ia takutkan akan segera terjadi. Tentunya dengan tangannya sendiri.

Suho menaiki Acura whitenya yang mengkilap diterpa matahari senja di Apgeujeong-dong. Suho melajukan mobilnya dengan kencang—tak menghiraukan para pengguna jalan yang telah mengucapkan ribuan sumpah serapah untuknya.

Geudae nune boyeotjyo neomsil
Georineun seulpeun nae nunmuri
Ajig gaseume chago nama han eobsi
Dubore heureugo itjyo”

 

Lagu Showers of Tears dari Bae Chi Gi feat. Ailee mengalun indah dari ponsel Suho. Ditengah-tengah perjalanan kemarahannya bagaimana ada orang yang dengan berani menelponnya, pikir Suho. Ia mengambil pensel yang ia taruh di kantong celananya.

“Cih.. untuk apa dia menelepon?” Suho bertanya pada dirinya sendiri. Ia sangat malas untuk mengangkat telepon yang ditujukan untuknya itu.

“Yeoboseyo?” Suho akhirnya mengangkat telepon itu setelah sang penelepon melakukan panggilan telepon selama 4 kali. Yang artinya, Suho harus mendengar lagu galau yang dinyanyikan Ailee untuknya itu.

“….”

“APAAAA??? Kenapa kau tak mengabariku dari tadi???” Suho kembali berteriak marah. Ia membanting setir berbalik ke Gangnam.

Suho melajukan mobil dengan cepat, namun kali ini sikapnya masih dapat ditelorir. Pasalnya, saat ini Suho ngebut safer. Apalagi jalanan tak ramai seperti biasanya.

“Apalagi ini??” Suho mengacak rambutnya frustasi. Jalanan kini macet total. Padahal ini kawasan Gangnam utara.

Suho keluar dari mobil lalu berjalan ke depan melihat ada apakah gerangan yang membuat mobilnya tak bisa berkutik. Suho menemukan truk besar pengangkut barang bertengger manis di ujungnya.

“Ahjussi..” Suho menepuk pundak seorang lelaki berjas lengkap yang juga turun dari mobil. “Kapan polisi itu akan meninggalkan tempat ini?”

Pemuda yang dipanggil ‘ahjussi’ itu menoleh ke arah Suho. Sedangkan yang bertanya sibuk mencari sesuatu di ponselnya. Pemuda itu tampak memperhatikan garis wajah Suho. Kemudian dia berdeham pelan, “Tanyakan saja pada mereka!” Jawab pemuda itu ketus. Kemudian ia memakai kacamata hitamnya. Pemuda itu membalikkan badan lalu berjalan ke belakang menjauhi Suho.

“Cih..” Suho menatap punggung pemuda tadi tak percaya. ‘Dari belakang seperti kakek-kakek tua. Dari depan terlihat seperti pemuda berandalan.’

Suho berjalan ke arah kecelakaan yang mana melibatkan polisi, truk besar pengangkut barang, dan taksi. “Chogi, bisakah Anda menggeser truk dan taksi ini? Mereka menghalangi jalan kami.” Ujar Suho sesopan mungkin.

“Maaf, Anda bisa menunggu sebentar. Penyelidikan belum berakhir.” Jawab seorang polisi yang masih muda.

“Apa?” Tanya Suho tak percaya. Rasanya hari ini sungguh berat untuknya.

Suho memutuskan untuk menghindar dari kerumunan lalu menelepon sekertarisnya, “Aku tak bisa datang. Kecelakaan lalu lintas menghalangi mobilku. Katakan pada Manager Nam untuk menggantikanku.”

TUT~

 

***

 

Malam di Lotte World Hotel, Jamsil-dong, Songpa-gu, Seoul, Hotel termewah yang penuh para pembisnis kalangan atas. Momen ini berkaitan erat dengan kedatangan Shin Heejung—CEO besar.

“Kau tahu, pemuda yang duduk sendirian itu adalah pewaris tunggal dari Yeokdaewon. Museum Yeokdaewon yang dibangun oleh Menteri Luar Negeri 30 tahun silam. Pemuda itu adalah cucunya.” Ujar seorang gadis berambut coklat tak lebih panjang sebahu.

“Iya.. dulu dia kuliah di Paris dan tinggal bersama orangtuanya disana. Kemudian, dia kembali ke Korea untuk berbisnis.” Sahut seorang gadis yang memakai contact lens biru muda.

“Walaupun masih muda, usahanya sudah menembus pasar Australia. Dalam hitungan bulan saja, dia akan menguasai pasar Eropa dan menjadi pangeran paling kaya di Korea.” Ujar gadis berambut cokelat itu bangga.

Sedangkan yang dibicarakan hanya tersenyum samar. Dari awal dia mendengar percakapan kedua gadis kuliahan itu, ia tak kuasa menahan tawa. Dalam hati ia bertanya, ‘Sejak kapan aku menjadi terkenal? Hah, Song Jongki, pamormu sekarang sudah mulai turun. Hahaha

“Oh iya.. siapa namanya? Aku lupa.” Kata gadis berambut pendek sambil menggaruk kepalanya.

“Entahlah aku tak tahu. Sepupuku yang pernah berbicara langsung dengannya saja tak tahu namanya, apalagi aku.” Balas gadis bercontact lens lesu.

“Eh bentar, kalo ga salah sepupuku pernah bilang kalau nama marganya ‘Kim’.” Ujar gadis contact lens sumringah.

Pemuda yang disimpulkan bermarga ‘Kim’ tadi menoleh ke arah kedua gadis yang sekarang gantian sibuk meneguk wine-nya masing-masing. Namun, topik pembicaraan mereka sudah berganti menjadi ‘Cewek Gila Kerja’.

“Tuh kan dia dateng.” Gadis bercontact lens menatap kedatangan seorang gadis atau mungkin seorang nyonya besar?

Pemuda ‘Kim’ itu melihat seseorang yang ditunjuk gadis itu. Seketika tubuhnya menegang untuk sementara. Semua panca inderanya hanya terpusat pada satu objek saja.

“’Cewek Gila Kerja’” Gadis berambut cekelat pendek mengernyit mencela.

Kedua gadis itu terfokus melihat kedatangan seorang perempuan white-blonde hair yang mengenakan mini dress hitam elegan dengan high hells warna senada.

“Pearce, Ulzzang, White-Blonde, 3 Billion Won!!!!!!” Kedua gadis itu berteriak antara girang dan sebal. Keduannya lalu meneguk habis satu gelas wine bersama-sama—membagi rasa iri antara satu sama lain.

Tak hanya kedua gadis itu yang iri dan terpukau melihat seorang gadis muda berpenampilan mahal. Cantik. Para pembisnis, investor, komisaris dan orang penting lainnya menyambut kedatangan orang paling berpengaruh di Asia saat ini—Shin Heejung.

Pemuda ‘Kim’ meraih ponselnya lalu mengetik beberapa karakter huruf lalu mengirimnya. Pandangannya kini terfokus pada objek paling menarik di hotel ini. Dirinya sekarang membaringkan tubuhnya santai pada sandaran sofa mahal nan mewah itu. Bersantai sambil berpikir keras.

“Chen!!!” Sapa suara berat yang cukup keras milik seorang pemuda bertubuh tinggi tegap. Pemuda itu berjalan kearah Pemuda ‘Kim’ yang dipanggil Chen oleh pemuda jangkung berambut kriwil tersebut (?).

“Kau sudah melihatnya kan?” Tanya Chen pada pemuda yang telah duduk didepannya saat ini.

“Tentu.”

“Apa kita bisa mengandalkannya?”

Pemuda yang ditanya tersenyum menggelitik, “Kita akan mendapat banyak keuntungan. Bahkan, kita yang akan mengendalikannya.”

Chen mengangguk. Pandangannya masih terfokus pada objek perempuan  white-blonde yang sekarang tengah berbincang-bincang dengan para orang penting. Sesekali matanya menengok kedua gadis kuliahan yang sedang mengobrol dengan dua orang pemuda.

“Kali ini kau bisa memakaiku untuk berbicara dengan sekertaris pribadinya.” Lanjut pemuda tinggi itu sambil mengikikuti arah pandangan Chen.

“Baguslah.” Sahut Chen singkat lalu menatap pemuda itu lagi, “Kupikir dia tak akan mau menemuiku.”

Pemuda tinggi kini beranjak dari sofa empuknya—berniat meninggalkan Chen. “Chanyeol-ah, aku pulang naik mobilmu!” Chen menyerahkan kuncinya.

Chanyeol mengerutkan dahinya bimbang, “Lupakan! Jangan harap aku mau memakai motor besarmu!! Jika kau ingin pulang, pulanglah naik taksi atau telepon sopir pribadimu!!” Chanyeol berkata dengan keras, “Atau kau bisa tidur di hotel ini dulu jika kau ingin menumpang mobilku!” Kini Chanyeol benar-benar meninggalkan Chen sendirian. Menghilang bersama lautan pembisnis.

“Cih.. dasar bocah!”

Chen beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lift. Sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan, ia sempat bertemu mata dengan gadis bermarga Shin itu. Sepersekian detik Chen memberikan senyum tampannya lalu melangkah memasuki lift.

“Kau sudah berbicara dengan  investor China yang akan berkerjasama dengan kita?” Shin Heejung berbicara dengan Jongin setelah acara penyambutan dirinya di Korea sekaligus acara ulang tahun Sunflower Hotel. Mereka memutuskan untuk meninggalkan pesta setelah acara selesai.

“Tadi, saya bertemu dengan asistennya. Dia mengatakan bahwa investor China tersebut sudah menunggu Anda disana cukup lama. Hingga ia memutuskan untuk meninggalkan tempat.” Jelas Jongin ketika mereka berada di lift.

“Astaga. Lalu apa yang kau bicarakan dengan asistennya?”

“Investor itu sudah menyetujui kerjasama. Anda bisa bertemu secepatnya dengan orang itu.”

“Baiklah. Kau bisa pulang sekarang. Aku masih ada urusan.” Heejung berpisah dengan Jongin di lobby hotel yang sudah sangat sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Heejung menunggu Jongin beserta mobilnya keluar dari gerbang hotel. Cukup lama sampai mobil Jongin sudah benar-benar tak terlihat. Heejung berniat kembali ke lantai 18—tempat acara tadi berlangsung. Namun, seseorang menginterupsi jalannya.

Pemuda itu berada tepat di depan Heejung setelah ia membalikkan badannya. Ia tahu siapa orang ini. Dan orang ini adalah salah satu alasan ia menghindari Korea.

Rahang Heejung mengeras, ia yakin ia akan lemah lagi setelah bertemu dengan orang ini. Berbeda dengan pemuda di depannya, ia menyunggingkan senyum khasnya.

“Pink, akhirnya aku menemukanmu.” Ujar pemuda itu lembut. Tak hentinya ia memperlihatkan senyum manisnya.

“Kau mencariku?”

Heejung bergetar. Sebisa mungkin ia mengontrol suaranya senormal mungkin.

“Sepertinya begitu.”

“Untuk apa kau mencariku?”

“Untuk melihat tempatmu bersembunyi. Karena ketika aku mencarimu, aku akan menemukanmu. Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali.”

“Hentikan! Berhentilah berbuat bodoh! Jangan mencariku lagi!” Heejung membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.

“Wae?” Pemuda itu mengejar Heejung yang saat ini sudah berada di luar hotel. Ia menahan langkah Heejung dengan memegang lengan tangan kirinya.

Tubuh Heejung kembali menegang. Membeku. Ia berhenti berlari tanpa melihat wajah pemuda itu.

“Aku dingin, egois, dan jahat.” Gumamnya. “Biarkan aku pergi.”

Heejung melepas genggaman tangan pemuda itu dari tangannya. “Lepaskan!” Heejung berteriak keras. Ia mendongakkan kepalanya pada pemuda itu—agar dia dapat melihat bagaimana dirinya sedang berusaha menahan tangis.

Pemuda itu melepas genggaman tangannya pada lengan kiri Heejung. Sebaliknya ia malah menyentuh kedua sisi wajah cantik Heejung dengan cepat dan kasar.

CHU

 

TBC

 

a/n:  Sekedar info, that girl on the fanfict’s poster is Hello Venus’s Alice =D

Mohon Comment+Like-nya ya! Kritik dan saran sangat berarti bagi author.

With Love, Bit (@Novita_Milla) n_n

Iklan

7 pemikiran pada “Kill Me (Chapter 1)

  1. Mianhe thor…
    Baru bisa komen sekarang soalnya baru baca sih hehehe…
    Ak suka banget sama nih cerita,alurnya bagus…
    Ya udah deh ak mau baca kelanjutannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s