Werewolf (Chapter 2)

WEREWOLF [CHAPTER 2]

Title : Werewolf [Chapter 2]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre             : Fantasy, Tragedy, Action *just a little*, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : General

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan (another cast will come out soon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Hai semuanya! Hehe akhirnya setelah beberapa lama bisa juga lanjutin chapter duanya J fiuhh.. Hmm kira-kira ada yang nungguin gak yah? Oya, kalimat yang miring itu pikiran si tokoh, jadi jangan bingung yaa. Hmm aku sempet bingung mau bikin alur yang gimana lagi >.< Kalo kurang greget, maaf ya, namanya juga masih amatir 😀 tapi aku harap feelnya dapet. Oke deh langsung aja ya, habis baca langsung komen atau like! Happy reading! J

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

___

“Aku peka terhadap rasa takut. Sekali lagi kuingatkan, kau harus berhati-hati. Bahaya bisa menangkapmu kapan saja.”

___

 

9.25 PM

Gadis itu.. Apakah ia terluka? Aku tidak membunuhnya ‘kan?

Lelaki ini memutuskan untuk mengikuti gadis itu dan ibunya, hanya sekedar memastikan keadaan gadis yang hampir dilukainya. Ia lebih memilih bersembunyi dalam kegelapan malam dengan bentuk manusianya. Ia tidak ingin mengambil resiko jika gadis itu menyadari kehadirannya.

Jalanan yang tampak sunyi menambah kesan seram, walaupun suara deru kendaraan di pusat kota masih terdengar. Angin dingin berembus pelan, tetapi masih bisa meninggalkan rasa dingin pada kulit. Pepohonan seolah memandang gadis itu dan ibunya di tengah keremangan. Dan lelaki ini baru menyadari sesuatu. Ini jalan menuju rumah besarnya.

“Ibu.” Suara gadis itu terdengar nyaris seperti bisikan, tetapi lelaki ini bisa mendengarnya dari jarak yang terbilang cukup jauh.

Wanita paruh baya itu menoleh, “Kau sudah baikan?”

Gadis itu mengangguk pelan, seakan tak ada energi lagi yang tersisa dalam tubuhnya. Hal itu membuat lelaki ini semakin merasa bersalah karena kejadian itu. Ia berjalan sepelan mungkin untuk mengurangi jarak dengan kedua orang itu. Lalu, ia menajamkan penglihatannya dan memfokuskan pandangan pada wajah gadis itu.

Manis, batinnya. Entah kenapa, kata itulah yang pertama kali terpikir olehnya. Sebuah senyum tipis terlukis di bibir lelaki ini. Ia maju beberapa langkah dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar, tepat di pinggir jalan. Ia sengaja mengambil resiko itu untuk mengetahui apa yang tengah kedua orang itu perbincangkan.

“Ibu, apa ibu tidak merasa aneh dengan pelanggan terakhir tadi?” Gadis itu kini mengerutkan keningnya. Rambutnya yang tergerai diterpa angin malam, sehingga wajah gadis itu sedikit tertutupi beberapa helai rambut hitamnya.

Ibu gadis itu diam beberapa saat sebelum menjawab. Lelaki ini menyimpulkan bahwa wanita paruh baya itu sedang memikirkan sesuatu. Wanita itu menghela napas, “Mungkin ia memang sedang sakit.”

Lelaki ini tertegun. Memang, ia sedang sakit. Ia sedang menderita penyakit yang aneh, yang akan ia derita untuk seumur hidupnya. Penyakit yang tak memiliki obat. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan cara apapun. Dalam artian lain, penyakit ini sudah seperti bagian lain dirinya yang kadang bisa membuatnya terlalu liar.

“Begitu ya.” Lagi, gadis itu hanya menjawab dengan pelan. Lelaki ini menghela napas. Sialnya, helaan napasnya terdengar terlalu keras di tengah sunyinya malam.

Gadis itu menoleh ke belakang, menatap jalan yang tampak menyeramkan dengan hanya penerangan berasal dari lampu jalan yang sudah jauh di belakangnya. Matanya tampak menyusuri tiap sisi jalan, dengan rasa takut yang terlihat dari raut wajahnya. Gadis itu berhenti berjalan.

 

Ia merasakan kehadiranku.

Gadis itu memejamkan matanya sejenak, kemudian ia memanggil ibunya. “Ibu, berhenti.” Ia masih memandang jalanan di belakangnya tanpa melihat apakah ibunya mendengarkan.

“Ada yang mengikuti kita.”

Wanita paruh baya itu ikut memandang ke kegelapan di belakangnya. Matanya menunjukkan bahwa ia takut, tetapi ia berhasil menyembunyikannya. Wanita itu merangkul pundak gadis itu, “Hanya perasaanmu, sayang. Kau terlalu ketakutan. Tidak orang lain selain kita yang melewati jalan ini.”

Lelaki ini memaksakan matanya untuk melihat lebih jelas lagi. Ia bisa melihat wajah sempurna yang penuh rasa takut itu tetap memandang kekosongan di belakangnya. Gadis itu membiarkan ibunya menuntun dirinya kembali berjalan.

 

Perasaannya lumayan tajam.

Lelaki ini memutuskan untuk mengikuti mereka, meskipun ia tahu betul jalan ini. Ia tahu, ada sesuatu yang penting yang dimiliki gadis itu. Instingnya memang tidak pernah salah, tetapi kali ini ia tidak ingin dugaannya salah. Bukankah ia selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya?

Angin kembali berembus pelan diantara pepohonan. Bunyi gesekan dedaunan dan angin tak membuat lelaki ini terusik sedikitpun, meskipun ia bisa merasakan dingin yang menusuk tubuhnya. Dengan terpaksa, ia mengubah wujudnya. Membiarkan beberapa bulu menyelimuti kedua tangan dan kakinya. Sementara matanya ia paksakan untuk tidak berubah.

Kali ini, ia hanya mengandalkan pendengaran dan memanjat pohon dengan gesit tanpa suara.

___

Hyejin POV

9.50 PM

 

Langit malam tidak berbintang. Hanya cahaya bulan yang menerangi malam. Kota ini seakan tak pernah beristirahat. Suara dentum musik dan deru kendaraan masih sedikit terdengar dari rumahku, walaupun jarak yang terlampau jauh. Kota ini bahkan tidak mengubah kebiasaan penduduknya, sementara gedung-gedung tinggi tampak semakin ramai menghiasi pusat kota.

Aku menutup jendela kamar dan menguncinya. Walaupun begitu, angin malam seperti memaksa masuk ke dalam kamar, membuat suhu menjadi dingin. Ibu sudah berbaring di atas kasur tipisnya, tersenyum padaku. Ia tidak akan pernah tidur sebelum aku juga berbaring di kasur di sampingnya.

Tubuh yang seakan seperti habis dipukuli memaksaku untuk segera merebahkan diri. Tetapi, aku masih belum mengantuk. Aku ingin menikmati tiap hembusan angin dan mendengarkan musik alam mengalun dengan merdu. Tidak ada hal lain yang bisa membuatku merasa tenang selain itu. Sayangnya, kali ini aku harus mengalah. Aku beranjak dari kursi dekat jendela, lalu membiarkan tubuhku mengambil alih. Rasa nyaman langsung membuatku ingin menutup mata.

“Ibu.”

Bisa kulihat dari sudut mataku, ibu menoleh dengan wajah lelahnya, “Ada apa?”

Aku menghembuskan napas panjang sebelum kembali bertanya dan berusaha untuk tetap memandangi langit-langit kamar. “Apa ibu pernah melihat sesuatu yang tidak masuk akal?”

Ibu tidak menjawab. Aku tahu ia sedang memikirkan sesuatu. Ia hanya ingin menyembunyikannya rapat-rapat dariku. Ibu akhirnya mendesah pelan sambil mengangguk tanpa berkata sedikitpun.

“Ibu tidak pernah menceritakannya.”

“Benarkah?” Suaranya terdengar seperti gumaman. Ia seperti berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia pernah menceritakan hal itu padaku, yang sama sekali tak pernah ia ceritakan.

Apakah kejadian itu begitu semenakutkannya?

 

“Ibu hampir melupakan kejadian itu, Hyejin. Tetapi, ternyata, ibu memang tidak pernah bisa melupakannya.” Ibu menghela napas. “Kejadian itu sudah lama sekali, ketika ibu berumur 10 tahun.”

Aku menatap ibu tak percaya. Bukankah kejadian yang menyeramkan bisa menimbulkan trauma bagi anak semuda itu? Seharusnya, sekarang ibu masih memiliki trauma itu. Tapi sepertinya tidak ada yang membuatnya takut.

“Saat itu, ibu yang berumur 10 tahun sedang makan ramen di restoran tempat kita bekerja. Ibu pergi ke sana dengan nenekmu. Restoran ramen itu memang sangat terkenal dan selalu ramai, terutama pada malam hari. Ibu bahkan memakan dua porsi besar ramen.” Ibu tertawa renyah. Kemudian ia menghentikan tawanya dan seketika pandangan matanya teduh.

“Lalu, beberapa pelanggan tiba-tiba memandang ke luar restoran. Karena itu, ibu dan nenekmu juga memandang ke arah luar. Saat itu juga, ibu benar-benar menyesal karena sudah mengikuti arah pandangan pelanggan lain. Nenekmu sepertinya juga sama, karena setelah itu dia berkata: ‘Cepat habiskan ramenmu dan kita pulang.’ Tanpa pikir panjang ibu langsung memakan ramen yang tersisa, lalu keluar restoran.” Tiba-tiba ibu menghentikan ceritanya cukup lama, sehingga membuatku tak sabaran. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi setelah itu.

Aku menatap mata ibu dalam-dalam, “Apa yang ibu lihat?”

Untuk yang kesekian kalinya ibu menghela napas, kemudian beralih menatapku. “Itu adalah kesalahan besar, Hyejin. Mimpi buruk. Ibu bahkan tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari.” Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya. “Kau benar-benar ingin tahu?”

Segera saja aku mengangguk. Ibu kembali memandangi langit-langit kamar, seolah semua yang ada di pikirannya sekarang, bisa ia lihat di sana. “Lima orang lelaki yang terkenal sebagai berandalan sedang mengeroyok seorang lelaki muda. Ibu benar-benar ketakutan, tetapi ibu masih bisa melihat betapa menyedihkan keadaan lelaki muda itu. Ibu berpikir, tidak lama lagi lelaki itu akan tewas. Tetapi, tepat saat itu, lelaki yang sudah memar di sana-sini itu berubah. Gigi-giginya menajam dan tubuhnya menjadi lebih tegap dan kekar. Tubuhnya dengan cepat diselimuti sesuatu yang berwarna keabu-abuan, dan ibu langsung tahu kalau itu adalah bulu. Saat itu, ibu bisa mendengar dengan jelas suara geraman hewan. Kau bisa membayangkan ‘kan betapa mengerikannya pemandangan itu?”

 

Taring…dan geraman hewan? Menarik.

 

“Lelaki itu langsung menghajar lima berandalan yang mengeroyoknya?” tanyaku.

Ibu mengangguk pelan tanpa menatapku. “Lima berandalan itu langsung pulih dari keterkejutan mereka dan kembali menyerang lelaki itu. Tetapi, sepertinya sia-sia. Mereka, satu-persatu, dilempar sembarangan oleh lelaki yang sudah berubah itu. Ibu tidak ingin tahu apa yang terjadi pada mereka. Yang ibu lihat setelah itu, lelaki yang berubah menjadi makhluk mengerikan tadi jatuh berlutut. Napasnya terdengar terengah-engah. Ibu langsung bersembunyi di balik punggung nenekmu. Bukan hanya kami yang melihat kejadian itu, Hyejin. Pelanggan lain dan beberapa orang juga berkerumun untuk menonton kejadian itu. Orang-orang itu mungkin menyesal karena sudah menonton kejadian itu dengan antusias karena kami langsung bergidik ngeri saat iris mata dan wajah kiri lelaki itu berubah.”

“Apakah warna iris matanya merah terang?” Ibu langsung menoleh padaku dan mengerutkan kening seolah bertanya darimana aku tahu hal itu.

“Ya. Ia, lalu, memandang kedua telapak tangannya yang berlumuran darah dengan tatapan ngeri. Walaupun ia sudah berubah, ekspresinya tetap sama. Ia ketakutan. Jari telunjuknya berdarah saat menyentuh gigi depannya yang sudah menjadi taring. Ibu benar-benar ingin menangis melihat itu, Hyejin. Kemudian, tanpa diduga, lelaki itu menangkap pandangan mata ibu. Ibu langsung menarik-narik sweater nenekmu dengan pelan, lalu mengatakan pada nenekmu bahwa mata lelaki itu berubah. Mungkin lelaki itu mendengarnya, karena ia langsung menutup mata kirinya dengan tangan. Setelah itu, ia langsung berlari menjauh.” Suara ibu terdengar bergetar karena takut. Aku bisa mengerti dengan apa yang ibu rasakan.

Aku terdiam. Kejadian itu memang mengerikan. Mendengar cerita ibu saja sudah cukup untuk membuatku bergidik ngeri. Aku menyadari satu hal dari cerita itu. Ada satu kesamaan tentang perubahan yang terjadi pada lelaki itu. Mata. Warna iris matanya merah terang, seperti yang kulihat di tempat pencucian restoran. Meskipun lelaki dalam cerita ibu hanya mengalami perubahan pada mata kirinya, tetap saja hal itu membuatku semakin ketakutan.

 

Apakah lelaki muda dalam cerita ibu dan siluet lelaki yang kulihat tadi adalah lelaki yang sama? Apa itu mungkin?

Ibu sudah tertidur lelap di sampingku, meninggalkanku yang masih bergelut dengan pikiranku sendiri.

___

11.15 PM

Lelaki ini membiarkan kaki kanannya menendang jendela besar kamarnya dengan kasar. Ia sudah tidak peduli lagi dengan rasa nyeri yang diakibatkan hal itu. Lelaki itu melangkah masuk lewat jendela itu dengan terhuyung-huyung. Setelah berhasil berdiri di lantai kamarnya, ia langsung ambruk.

“Apa yang terjadi?” gumamnya. Lagi-lagi suaranya terdengar parau. Ia merasa yakin kalau tubuhnya tidak pernah kekurangan energi seperti sekarang ini.

Ia sudah bersusah payah mengerahkan seluruh tenaganya untuk memanjat pohon besar yang memang dekat dengan kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki ini bahkan tidak akan terlalu lelah jika terpaksa harus memanjat pohon yang lebih tinggi lagi, tetapi rupanya tidak untuk hari ini. Tubuhnya serasa habis dikeroyok oleh belasan orang. Tenaganya seakan menguap, meninggalkan tubuhnya. Dan napasnya mulai tidak beraturan seolah ia ingin menghirup seluruh oksigen yang bisa didapatkannya.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah kelelahan seperti ini. Ia seperti seorang manusia yang tak berdaya. Kekuatan yang biasanya bisa ia gunakan secara maksimal, sedari tadi hanya malah membuatnya kehabisan tenaga. Lelaki ini tidak bisa memikirkan kemungkinan apapun yang bisa membuatnya setidakberdaya ini.

Seolah tahu apa yang dipikirkan lelaki ini, seseorang menyahut, “Kehabisan tenaga, hm?”

Lelaki ini mendongak dan mendapati seseorang bersandar di dinding dekat rak penuh buku di bagian kanan kamar. Lelaki ini tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berani-beraninya memasuki kamarnya tanpa izin. Kegelapan malam ditambah dengan cahaya yang minim dalam kamarnya membuatnya pasrah.

“Siapa kau?!” bentaknya.

“Teman lama. Kau tidak bisa mengenali suaraku?”

Lelaki ini bisa mendengar tawa mengejek dari dalam kegelapan. Ia memaksakan diri untuk berdiri, walaupun kakinya masih bergetar menahan berat tubuhnya. Tangannya berhasil meraba dinding yang ada di sebelah kirinya, sehingga ia memutuskan untuk merapat ke dinding itu. Yang ia tahu, suara itu milik seorang lelaki dan memang terdengar familiar.

Langkah kaki lawan bicaranya bergema dalam kamarnya. Lelaki ini tidak takut sama sekali, ia hanya perlu waspada jika saja orang itu membahayakan dirinya. Lalu, langkah kaki itu berhenti beberapa meter darinya. “Tentunya kau masih ingat dengan seorang Wu Fan yang selalu membantumu dulu, benar ‘kan?”

 

Oh, dia, ya. Wu Yi Fan yang berpura-pura sebagai temanku.

Lelaki ini mendengus, “Membantu, ya. Tidak juga.” Ia berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah sebelum melanjutkan perkataannya. “Untuk apa kau kemari?”

Lelaki yang akrab dipanggil Wu Fan itu melangkah lagi dan akhirnya memunculkan sosoknya dari kegelapan. Tubuhnya yang tegap dan proporsional menjulang tinggi di hadapan lelaki ini. Rambut kecokelatannya yang sengaja dibiarkan berantakan tampak cocok dengan bentuk wajahnya yang tirus. Ia mengenakan pakaian santai, kaos tipis warna putih dengan jins biru gelap, membuatnya semakin terlihat menawan.

Wu Fan tersenyum simpul, tetapi masih terlihat ekspresi angkuh dari wajahnya yang terpahat sempurna. Matanya yang menatap tajam lelaki di hadapannya seolah berkilat di dalam kegelapan yang masih menyelimuti mereka. Wu Fan berdiri di hadapan lelaki ini dengan tenang, mengabaikan tatapan benci yang ditujukan padanya.

“Sudah kubilang, aku hanya ingin membantu.” Ia memandang leher lelaki di hadapannya sampai mengerutkan kening. “Di mana kalungmu?”

 

Kalung? Apa maksudnya? Aku selalu memakai kalungku.

Lelaki ini langsung meraba lehernya, tetapi nihil. Ia tidak bisa merasakan kalung itu melingkari lehernya. Rasa panik langsung menjalari tubuhnya. Keningnya langsung berkeringat. Otaknya terpaksa harus bekerja lebih keras lagi untuk berpikir. Tiba-tiba saja ia hilang keseimbangan dan hampir ambruk jika saja Wu Fan tidak menopang tubuhnya.

“Kau menghilangkannya? Wajar saja jika kondisimu seperti ini.” Wu Fan membantu lelaki ini duduk di ranjangnya, lalu kembali berdiri dengan angkuh. “Sebaiknya cepat cari kalungmu kalau kau tak ingin mati perlahan. Tenagamu akan terkuras habis, cepat atau lambat.”

Lelaki ini terbelalak. Ia memandang Wu Fan sebentar, lalu menjambak rambutnya sendiri. Ia tahu apa yang akan menimpanya nanti jika kalung itu tidak ditemukan. Setengah kekuatannya berada pada kalung itu. Begitu pula nyawanya. Kalung itu sudah seperti bagian dari dirinya dan merupakan pengatur perubahan dirinya.

Wu Fan yang sudah bersandar di dinding di hadapan lelaki ini, menghela napas dan mengangkat bahu, “Kalau ternyata kalung itu sudah disentuh oleh manusia murni    

“Aku tahu.” potongnya.

Tidak perlu diberitahukan lagi, lelaki ini masih ingat perkataan Wu Fan belasan tahun yang lalu ketika ia memberikan kalung itu padanya.

 

“Jika kalung seorang manusia serigala disentuh oleh manusia murni secara sengaja maupun tidak sengaja, maka manusia serigala yang memiliki kalung itu harus membersihkan noda manusia murni dari kalungnya dengan darah yang berasal dari jantung manusia murni itu. Dengan kata lain, manusia murni yang sudah menyentuh kalung itu harus menerima kematiannya yang tragis.”

Ucapan Wu Fan mengenai kalung itu sudah melekat di otaknya. Walaupun terbilang kejam, semua manusia serigala harus melakukan hal sadis itu. Seumur hidupnya, lelaki ini belum pernah membunuh orang lain, bahkan mencabut jantung manusia dari tubuhnya. Ia hanya mengambil jantung hewan yang menjadi mangsanya ketika ia lapar.

Lelaki ini sedikit ragu. Ia tidak sanggup jika harus melakukannya.

“Kita tidak mengenal belas kasihan, Chanyeol. Matikan saja perasaan itu dari tubuhmu, lalu bunuhlah. Lakukan apa yang harus kau lakukan.” Wu Fan bisa membaca keraguan lelaki ini.

Lelaki itu melangkah ke arah pintu kamar. Kemudian, langkahnya terhenti. Wu Fan menghela napas dan menoleh ke arah lelaki yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan pandangan kosong. “Dan satu hal lagi.”

“Aku tidak akan segan untuk membunuh manusia yang menyentuh kalungmu. Kalau kau tidak bisa mencabut jantung seorang manusia, aku akan melakukannya untukmu dengan senang hati.” Setelah mengatakan hal itu, lelaki jangkung itu membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Dibiarkannya pintu kamar menutup dengan keras.

Chanyeol membiarkan dirinya termenung dalam kegelapan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu kembali menjambak rambutnya. Ia tahu, ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak akan pernah bisa, walaupun Wu Fan memaksanya dengan cara apapun.

Ia ingin berteriak. Ia ingin membunuh sebagian dirinya yang bukan manusia. Bukan kehidupan kejam seperti ini yang diinginkannya.

“Aku harus membunuh gadis itu?”

___

Normal POV

Langit tampak berawan. Sejak pagi, mentari hanya memancarkan sedikit sinarnya pada bumi. Suhu udara yang semakin menusuk kulit, memaksa setiap manusia yang berada di luar harus mengenakan pakaian hangat. Kecuali, mereka ingin terserang flu akibat kedinginan. Bahkan Hyejin mengenakan kaus lengan panjang warna biru muda yang dilapis lagi dengan sweater. Hujan deras dapat dipastikan akan mengguyur Seoul hari ini. Tetapi, Hyejin tidak peduli.

Gadis itu selalu pura-pura sibuk saat ibunya maupun Kyungsoo memanggilnya untuk beristirahat sejenak. Telinganya seakan disumbat dengan kapas, walaupun ia masih bisa mendengar teriakan Kyungsoo dari arah dapur.

Hyejin tahu sikapnya ini sedikit berlebihan. Tetapi, ia harus melakukannya supaya pikirannya tidak bercabang-cabang. Hyejin merasa ada yang mengawasi tiap gerak-geriknya selama seminggu ini. Saat perjalanan menuju restoran, di restoran, sampai pulang dari bangunan itupun Hyejin seperti diawasi. Semenjak kejadian itu.

Setiap kali ia terbayang dengan kejadian seminggu lalu itu, bulu kuduknya berdiri. Kengerian itu masih terasa hingga kini. Ibunya berulangkali mengatakan padanya bahwa hari itu ia mungkin kelelahan, sehingga otaknya mulai memikirkan hal-hal yang aneh. Termasuk halusinasi. Tapi, siluet itu begitu nyata. Cahaya merah terang itupun nyata. Mana mungkin halusinasi?

“Hyejin, tolong buang sampah ini. Hati-hati, ada pisau patah di dalamnya.” Kyungsoo menyerahkan kantong plastik hitam yang terlihat cukup berat. Hyejin mengurungkan niatnya untuk protes dan hanya mengangguk.

Sebelum keluar, gadis itu menarik napas dalam-dalam. Ia harus menahan dinginnya udara luar. Hyejin mempercepat langkahnya menuju tempat sampah besar di samping restoran. Dua telapak tangannya memerah karena harus memegang erat kantong plastik berisi sampah itu. Gadis itu berulangkali memaki Kyungsoo yang seharusnya membuang sampah ini sendiri.

Hyejin berhenti di depan tempat sampah besar itu sambil terengah-engah. Dalam hati, Hyejin ingin menarik telinga lelaki malas itu. Laki-laki macam apa dia, batinnya.

Gadis itu mengangkat kantong plastik berisi sampah itu sekuat tenaga. Namun, kecerobohannya membuatnya menjatuhkan kantong plastik itu. Seluruh aspal tempatnya berpijak dipenuhi dengan berbagai sayur busuk yang tercecer. Begitu pula dengan patahan pisau yang dikatakan Kyungsoo.

“AAKH!” Hyejin terkejut melihat luka sayatan di telapak tangan kanannya. Darah mulai mengalir keluar seperti cairan yang tumpah dari wadahnya.

Hyejin jatuh terduduk. Ia hanya bisa menatap telapak tangannya itu dengan ngeri. Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya seperti menghilang di udara. Rasa takut seakan menelannya bulat-bulat.

Tiba-tiba, seseorang mengangkat tangan Hyejin yang terluka dengan hati-hati. Hyejin yang masih ketakutan langsung berdiri dan memandang orang di hadapannya itu dengan bingung.

“Apa   

“Lukanya tidak dalam.” Lelaki itu tampak berkonsentrasi dengan apa yang tengah dilakukannya. Ia mengelap luka gadis itu dengan sapu tangannya. Lelaki itu tersenyum, “Lain kali hati-hati. Sebaiknya, kau dengarkan apa yang dikatakan temanmu.”

Hyejin terkesiap. Darimana orang ini tahu?

Ia memandang lelaki di hadapannya tak percaya. Bentuk wajahnya benar-benar sempurna. Bahkan tatanan rambutnya yang berantakan itu malah membuatnya terlihat tampan. Tetapi, ada satu yang membuatnya tampak seperti orang jahat. Dibalik matanya yang berwarna abu-abu itu, Hyejin bisa melihat tatapan tajam yang langsung mengarah padanya.

 

Dia..bukankah..?

“Kau.. Kau laki-laki yang   ?” Hyejin bertanya dengan suara bergetar.

“Menurutmu begitu, ya? Apa aku terlihat seperti siluet laki-laki yang kau lihat malam itu?” Hyejin bergidik. Gadis itu bahkan belum menyelesaikan kata-katanya. Lelaki itu malah tersenyum meremehkan.

Kemudian, lelaki itu menatap Hyejin datar. Ia, lalu, maju beberapa langkah mendekati Hyejin. Gadis itu mau tak mau juga harus mundur beberapa langkah untuk menambah jarak di antara mereka. Hyejin ketakutan ketika menatap kedua mata yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Hyejin simpulkan. Mata itu terlihat mengerikan.

Lelaki itu tersenyum saat melihat Hyejin yang sudah terpojok, tapi bagi Hyejin, senyum itu terlihat menakutkan. Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Hyejin, kemudian berbisik. “Aku peka terhadap rasa takut. Sekali lagi kuingatkan, kau harus berhati-hati. Bahaya bisa menangkapmu kapan saja.”

Hyejin memejamkan matanya. Ia tidak ingin berhalusinasi lagi. Ia harus menghentikan otaknya yang terus menghasilkan halusinasi ini. Tetapi, Hyejin tidak bisa menyangkal kalau lelaki di hadapannya ini hanyalah sebuah halusinasi. Gadis itu bisa merasakan hembusan napas hangat lelaki itu di telinganya. Tangan lelaki itu juga terasa hangat ketika ia mengelap lukanya. Lelaki itu bukan bagian dari halusinasi.

Ketika membuka mata, Hyejin masih mendapati lelaki itu berdiri di hadapannya. Lelaki itu menyeringai, membuat Hyejin kembali mundur.

“Kusarankan kau menahan rasa takutmu, Nona Lee Hyejin.”

 

 

[To be Continued]

 

Penasaran? Kalo iya, berarti aku harus lanjutin ceritanya sampai selesai hehe.. Sekali lagi, silahkan kasih komen, saran maupun kritik yaa. Butuh banget! Gomawoo~

49 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 2)

  1. Author!!! Aku telat bgt baru tau ada ff ini, sumpah seru banget!!! Dr awal nyangka Yifan yg jd cowoknya, taunya Ceyeee😂😂😂
    Izin baca sampe part selanjut2nya yaaah.
    Penulisannya bagus, sukaaa. Keep writing!😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s