Kill Me (Chapter 2)

Title : Kill Me (Chapter 2)

Author : Bit (@Novita_Milla)

Genre : Romance, Angst, Sad

Length : Two shoot

Cast : Shin Heejung, Chen, Suho, Chanyeol, Kai, Donghyun (Boyfriend)

Kill Me

 

Author’s side

Pemuda itu melepas genggaman tangannya pada lengan kiri Heejung. Sebaliknya ia malah menyentuh kedua sisi wajah cantik Heejung dengan cepat dan kasar.

CHU

Pemuda itu mencium bibir Heejung dalam-dalam. Ia mengeratkan pertautan bibirnya dengan bibir manis merah muda milik Heejung.

Heejung meronta. Ia berusaha melepaskan bibir pemuda itu dari bibirnya.

“Hmph…hmphh… J-jong… d-dae… hmph.. le-pas—“

Heejung terus berusaha menjauhkan tubuh pemuda yang bernama Jongdae itu darinya. Kali ini ia sudah tak kuasa membendung air mata yang sudah berusaha keluar dari kedua mata belo turunan ibunya.

Jongdae melepaskan ciumannya.

PLAK

Heejung menampar pipi Jongdae hingga timbul warna merah di tempat itu. Heejung berjalan cepat meninggalkan Jongdae yang tengah membeku ditempatnya. Heejung berlari sambil menangis tertahan. Air matanya tumpah setelah 11 tahun tak ia gunakan.

Namun, siapa yang tahu disana terdapat seseorang yang tanpa sengaja melihat kejadian itu.

***

Heejung meringkuk di kursi kemudi. Pikirannya kalut, ia tak kuat. Heejung menangis dalam diam. Jongin—sekertaris dan pendengar baiknya tak kunjung datang. Padahal dirinya sudah menelepon pemuda itu 15 menit yang lalu.

Heejung kembali menggosok kedua matanya. Kali ini penampilannya benar-benar kacau, dress hitamnya kucel, rambut pirangnya berantakan, dan kini dapat dipastikan bahwa matanya bengkak karena menangis. Untuk pertama kalinya, ia melakukan hal ini dalam kehidupannya sebagai Shin Heejung yang baru.

Heejung keluar dari Aston Martin—mobil kesayangannya—tanpa menggunakan alas kaki. Sepatu high hells keluaran Pearce ia bawa satu-satu di kedua tangannya. Heejung berjalan menaiki tangga disamping mobilnya terparkir. Diujung kanan tangga yang lumayan lebar itu, terdapatlah gang kecil yang sangat Heejung kenali. Ia mengukir senyum kecutnya di sudut bibir.

Perlahan Heejung memasuki gang kecil—bukan gang namun sebuah celah antara dua rumah yang berjarak tak lebih dari setengah meter. Heejung memakai jaket kulitnya saat ia sudah sampai di ujungnya. Suhu tengah malam akhir Maret rupanya masih terasa dingin.

Heejung berjalan mengendap-endap—seperti maling yang tak ingin ada satu orangpun yang melihat keberadaannya. Heejung mendelik dari pagar rumah yang terbuat dari tembok.

“Shin Heejung, kau benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin dia masih tinggal di rumah jelek ini?” Cela Heejung pada dirinya sendiri.

Heejung lantas hendak kembali ke mobilnya, memastikan bahwa Jongin sudah datang.

Langkah Heejung terhenti. Kaget. Seorang pemuda yang ia kenal duduk di atas bamper mobilnya. Dia menyilangkan kaki kanannya—bertumpu pada kaki kirinya, ia juga menyilangkan kedua tangannya tumpang tindih di dadanya. Ia menatap Sungai Han yang tenang dari sisi timur Hanam.

“Kurang ajar.” Umpat Heejung. Ia dapat melihat pemuda itu mengalihkan pandangannya pada dirinya. Pemuda itu tertawa tertahan—entah itu menertawai penampilan atau sikap Heejung.

Heejung mengernyitkan dahinya. Ia melihat sosok Suho meletakkan cup coffe di atas bemper Aston Martinnya. Setelah Heejung memastikan bahwa Suho benar-benar menumpahkan sedikit kopi ke bempernya, Heejung kini menuruni tangga dengan cepat.

Bahkan yang bersangkutan hanya tersenyum riang melihat beberapa tetes kopi mengucur dari cupnya. Suho beranjak dari duduknya, hendak menyambut Heejung yang bersusah payah menuruni tangga dengan high hells 7 cm-nya.

BRUK

Satu cup Chochocino mendarat tepat pada dress hitam milik Shin Heejung.

“Maaf. Aku benar-benar sengaja!” Suho mengangkat kedua tangannya, seperti petarung yang kalah perang. Sesudahnya, Suho memasuki kursi kemudi Aston Martin Heejung.

Heejung terpaku di tempat. Ia tak percaya atas perbuatan pemuda berwajah malaikat itu.

“Hey, kau menghalangi jalan Shin Heejung-ssi!!” Ujar Suho berusaha menahan tawa. “Kau bisa masuk ke mobil jika sudah selesai berdiri mematung.”

Heejung menatap Suho geram. Heejung menatap Suho dari kaca mobil miliknya, “Keluar dari mobilku!” Heejung berkata tegas.

“Shireo. Kau mau menyetir sendiri? Tuan Putri sepertimu tak pantas menyetir sendiri di tengah malam musim semi. Apalagi penampilanmu—aku tak yakin kau bisa mengendarai mobil dengan baik.”

Heejung memutuskan untuk berjalan. Terus berjalan menjauhi mobilnya. Sungguh, saat ini Heejung seperti perempuan gila. Ditambah ia kembali melepas high hells sialan itu. Heejung juga tak mengindahkan panggilan Suho.

SRETT

Suho menarik pergelangan tangan Heejung ke atas mobil. Benar, Suho memang menarik Heejung ke mobil. Tapi permasalahannya, Suho menindih Heejung di atas bemper mobil. Dimana Suho mengunci pergerakan Heejung dengan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Heejung. Parahnya, Suho mengunci mulut Heejung yang bersiap mengucapkan sumpah serapah padanya dengan bibirnya.

Kali ini Heejung benar-benar skakmat. Heejung ingin melepaskan pertautan mereka. Namun apa daya tubuh Heejung tidak berada disaat paling fit. Bukan ciuman panas sebenarnya, namun hanyalah kecupan panjang yang menyiksa.

“Kau tahu kan bagaimana akibat membangunkan serigala tidur?”

Heejung mendesis pelan, “Sampai kapan kau akan memelihara sifat burukmu? Sudah berapa orang yang kau cium semenjak aku tak ada? Atau mungkin kau sudah merasakan bibir merah muda Kim Donghyun?”

Suho tertawa kecil, “Walaupun kami sering berperang, tapi aku masih normal.” Suho menarik tubuhnya bangun dari tubuh ramping Heejung.

“Setelah kau pergi, aku bisa lebih mengendalikan emosiku.” Suho kembali melihat Sungai Han dan mendudukkan dirinya di atas bemper dengan pose yang sama seperti sebelumnya. “Donghyun sekarang menjadi psikolog. Kau pasti mengetahuinya bukan? Aku secara pribadi memintanya menanganiku.” Suho menundukkan kepalanya. Heejung lantas bangun dari atas bemper dan mengikuti Suho duduk. Heejung menyimak semua ucapan Suho dengan mulut tertutup—walaupun terlihat mengacuhkan Suho. Namun, begitulah adanya Shin Heejung, tampak acuh di luar tapi sebenarnya ia sangat perhatian. Cenderung ingin tahu segalanya malahan.

“Terakhir yang kuingat, aku hampir tidur dengan seorang primadona SMA kita, Yoo Ara. Teman sekelas kita di tingkat akhir. Itu…. karena aku mabuk. Aku dengan percaya diri memasuki apartemen Ara untuk memutuskan hubungan. Tapi kau tahu apa yang kulihat? Aku melihatmu sebagai Ara.

“Jika saja lelaki sialan itu tak menghentikanku. Mungkin aku sudah punya anak darinya.” Jelas Suho menatap Heejung dari atas ke bawah.

“Cih.. Ayo antar aku pulang.”

Heejung berjalan menuju pintu mobil. Ia memutuskan duduk di samping kursi kemudi karena ia sedang tidak mood menyetir. Selain itu, hanya ada 2 kursi di mobilnya—kursi kemudi dan kursi penumpang di sebelahnya.

***

Heejung bersama Jongin memasuki gedung perusahaan yang terletak di jantung Kota Seoul. Heejung memutuskan untuk menemui investor China. Segera setelah ia mendengar dari mulut Jongin bahwa investor China itu akan memutuskan tidak akan melakukan kerjasama dalam bentuk apapun dengan perusahaan Heejung.

“Maaf, atasan kami sedang tidak ada di tempat. Beliau baru saja pergi keluar.” Jelas salah satu pegawai wanita yang Heejung yakini sebagai sekertaris pribadi orang itu.

“Kapan Beliau kembali?” Tanya Jongin sopan.

“Entahlah. Beliau tak memberitahu saya.”

“Dia pergi kemana?” Heejung bertanya tak sabaran.

“Ke Dongdaemun. Di Dep—“

Heejung tak memperhatikan ucapan sang sekertaris. Fokusnya ia alihkan pada Jongin lalu berkata, “Aku akan menemui orang itu. Kau kembalilah ke perusahaan. Biar aku yang menangani sendiri!” Titah Heejung tegas pada Jongin. Terlihat sekali raut cemas menghiasi wajah cantiknya.

Heejung lalu melajukan mobilnya ke kawasan Dongdaemun tak sabaran. Ia yakin investor China itu sedang mempermainkan dirinya. Awalnya ia berpikir kalo investor itu tak suka menampakkan diriny di depan umum dan orang-orang penting.

***

Heejung sudah sampai di ‘One Spring Day’—nama restoran itu. Restoran Keluarga.

Tak perlu waktu cukup banyak untuk menemukan investor itu. Iya yakin, sangat yakin kalau orang itu pasti dia. Heejung bergegas ke bangku yang terletak di samping jendela besar yang menghadap ke jalan raya.

“Kau..” Heejung menyentuh bahu sang pemuda berambut hitam itu. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu?”

Sang pemuda menengok ke arah Heejung. Ia tersenyum dan menyingkirkan tanga Heejung yang masih berada di bahunya. Ia menggenggam tangan Heejung pelan dan penuh kasih. Menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.

“Kau menemukanku? Bagaimana bisa? Padahal aku sudah menyuruh sekertarisku berbohong.” Ujar sang pemuda sambil meneguk Vanilla Latte miliknya.

“Untuk apa kau datang ke tempat ini? Kau selalu berharap aku akan datang?” Balas Heejung yang sudah terduduk dan melepaskan tangan Jongdae kasar.

“Sooyoung-ssi!” Jongdae memanggil salah seorang pelayan. “Vanilla Latte satu lagi!” Ujarnya ramah.

“Kau masih suka minum kopi itu?” Heejung bertanya sengit.

Minum kopi adalah kebiasaan buruk Jongdae. Dari dulu ia selalu menyukai minuman jenis itu, meskipun ia tahu akibat terburuk untuk kesehatannya.

“Tentu. Vanilla Latte mengingatkanku padamu. Ah, sudah datang…” Ujarnya riang. “Ini untukmu.”

“Aku sudah tak—“

“Minumlah untuk terakhir kalinya.” Pinta Jongdae sambil menunjukkan senyum tiga jarinya. Lalu, Jongdae menyerahkan se-cup Vanilla Latte pada Heejung.

Sunyi.

Heejung tak kunjung meminum Vanilla Latte itu. Ia hanya diam dan memandang ke arah lain. Mencoba menemuka objek yang lebih menarik ketimbang pemuda di sebelahnya.

“Kenapa datang?” Tanya Jongdae hati-hati. Sangat lembut.

Heejung menatap wajah Jongdae penuh amarah. Ia tak menjawab. Ia enggan menjawab pertanyaan Jongdae. Ia terlalu marah untuk berbicara dan hatinya terlalu sakit untuk menangis.

Sedeti kemudian, Heejung memeluk Jongdae erat. Ia menangis. “Kenapa kau selalu berlagak kuat, hah? Kenapa kau selalu tersenyum?”

Heejung semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongdae—semakin terisak. “Kenapa kau selalu begini di hadapanku?” Heejung eralih memukul punggung Jongdae pelan. Ia menyesal datang kembali ke Korea jika keadaannya seperti ini. Ia benci hal seperti ini harus menimpa hidupnya.

Jongdae menghentikan kelakuan brutal Heejung dengan paksa. Ia juga melepaskan tubuh Heejung dari pelukannya—dengan paksa juga. Ia menangkupkan kepala Heejung dengan kedua tangannya. Ia menghapus air mata yang keluar dari sepasang kelopak mata cantik gadis itu.

“Karenamu Shin Heejung-ah.” Gummanya. “Cepat atau lambat aku tak bisa melakukan hal yang sama untukmu. Jadi kau nikmati saja semuanya, ok?”

“Kau mau aku menikmati segalanya? Ketika hatiku sakit me—“

Jongdae menghentikan ucapan Heejung paksa. Ia menjejalkan bibirnya tepat di bibir merah muda Shin Heejung. Sangat lembut. Bahkan terlalu lembut jika disebut paksaan.

Jongdae sangat tahu bahwa Heejung menderita karenanya. Ia berharap, ia masih diberi kesempatan untuk bertindak egois kali ini. “Jongdae-ah….” Gumam Heejung setelah mereka melepaskan ciuman masing-masing.

“Hmm?”

“Maukah kau menemaniku? Malam ini saja.” Pinta Heejung sambil memegangi lengan kekar Jongdae erat. Heejung tak mau menderita, menyedihkan, dan selalu dikasihani. Ia tak mau mengulang kenangan pahit semasa kecil.

Heejung kecil berjalan di bawah hujan lebat. Tidak mengangis ataupun tertawa—datar. Ibunya meninggalkannya di pasar seorang diri.

Ia ingat betul bagaimana Ibunya mengatakan kebohongan besar untuknya. “Ibu akan segera kembali..” Bahkan kata ‘kembali’ lebih lama dari bayangannya saat itu.

***

Heejung mengukir senyum bahagianya. Untuk pertama kalinya Jongdae melihat senyuman cantik Shin Heejung. “Heejung-ah!” Panggil Jongdae lembut. “Kau ingat? Pertama kali aku melihat senyuman cantikmu ketika kelulusan SMP.” Jongdae kembali melemparkan senyuman hangat untuk kesekian kalinya pada Heejung.

“Ketika kakek datang. Ketika dia mengaku sebagai walimu.” Jongdae tersenyum manis—lagi. “Sudah sangat lama.”

“Hentikan!” Heejung menggigit bibirnya. Ia mengambil posisi duduk di sofa di belakangnya. Tatapannya kosong. Di satu sisi matanya mengarah pada Kota Seoul dari kamar hotel VVIP-nya.

“Aku benci diriku. Aku membenci diriku sendiri.” Ujar Heejung bergetar—menahan tangis. “Ibuku meninggalkanku karena pria brengsek pembunuh ayahku. Di semester awal kelas 10, kakak tiriku hampir memperkosaku ketika kami tak sengaja bertemu di Gwangju. Pemabuk—sama seperti ayahnya.

“Kupikir dia masih tinggal di Nam-gu. Tak tahunya dia kuliah juga sekolah di Hannyoung. Ia memperalatku. Menyuruhku tinggal di apartemennya hanya untuk menjadi budaknya. Anehnya, kami justru sangat akrab. Tinggal bersama sejak aku memutuskan untuk keluar dari rumahmu.”

“Jadi itu alasannya? Kenapa aku tak—“

“Kau tahu. Kau mengenalnya.”

Heejung bangkit dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Heejung tak mau ditinggal dalam keadaan menyedihkan. Setidaknya, orang yang akan meninggalkannya jauh lebih menyedihkan dan lebih menderita daripadanya.

Heejung menggosok gigi—kegiatan pentingnya sebelum tidur. Berganti piyama dan mengoleskan pelembab sebelum tidur. Mematikan lampu kamar. Huh, dia siap tertidur lelap malam ini.

“Heejung-ah..” Jongdae membuka pintu kamar Heejung.

Tiba-tiba, Jongdae melompat ke tempat tidur Heejung. Ia mengambil posisi tidur di sebelah Heejung. Yang bersangkutan menoleh ke arah Jongdae yang balik menatapnya. “Apa?”

“Suho, ‘kan? Kakak tiri yang jatuh cinta padamu.” Selidik Jongdae. Bukannya bertanya serius, Jongdae bertanya seperti orang yang sedang bercanda.

Heejung mendengus. Seolah Jongdae mendapat jawaban dari pertanyaannya, Jongdae membaringkan badannya. Matanya ia biarkan menatap ke atas—entah itu cicak atau apapun itu. “Bagaimana jika waktunya tak lama lagi? Apa kau akan tetap mencintaiku? Sama seperti dulu?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Kim Jongdae. Heejung menggeser badannya mendekati Jongdae. Ia memegangi lengan Jongdae. Meletakkan kepalanya di bahu Jongdae.

“Berikan aku alasan untuk tetap mencintaimu.”

“Alasan macam apa?” Tanya Jongdae tetap menatap langit-langit kamar tidur.

“Seperti ini……“

***

“Shin Heejung, kau benar! Kau melakukan dengan benar!”

Berkali-kali Heejung meyakinkan dirinya sendiri. Sudah sekitar ke-100 kalinya Heejung menatap dirinya dalam cermin kamar mandi. Mengatakan semuanya tepat pada tempatnya.

Pagi ini ia tak memasak. Ia terlalu cemas pada pria tampan yang masih terlelap di ranjangnya saat ini.

Setelah Heejung menghabiskan malam bersama Jongdae—Jongin menelepon. Jongin mengatakan bahwa Jongdae akan segera menemui waktunya. “Tenanglah..” Ujarnya pada diri sendiri, lagi.

Heejung beranjak dari kamar mandi. Dia sudah bersiap berangkat kerja.

***

7 Years Later

“Aku tak bisa.” Ujar Heejung lemah. “Aku benci diriku sendiri. Aku ingin mati.. A-a-aku..”

Heejung menutup mulutnya dengan tangannya. Ia hancur. Ia tak bisa menerima kenyataan ini. Ia terlalu takut ditinggal pergi. Sama seperti Ibunya meninggalkannya di pasar ketika umurnya masih 10 tahun.

“Heejung-ah.” Seorang pemuda berjas lengkap menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia menyandarkan punggungnya di kursi empuk di depan Heejung. “Pikirkan Kibum. Dia masih sangat kecil!”

“Kim Donghyun! Jongdae sudah mati. Cepat atau lambat, aku juga akan mengikutinya.” Sahut Heejung kembali lemah. “Kau tahu kan, aku phobia terhadap anak-anak. Dan bersama Kibum selalu membuatku semakin lemah. Tak lama lagi aku akan menyusul Jongdae.”

Heejung menggigit bibirnya. Ia bukanlah ibu yang baik. Dia bukanlah wanita yang sesungguhnya. Kibum akan menginjak usia 6 tahun. Selama itu ia bersama Kibum—membesarkannya seorang diri. Dan seiring berjalannya waktu, phobianya bukannya sembuh tapi justru semakin parah. Dokternya mengatakan bahwa tekanan darah Heejung sudah tak normal. Hemoglobinnya tak mampu mengikat Oksigen dengan baik. Sudah sangat parah.

Heejung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah amplop berwarna cokelat pudar ia berikan pada Donghyun. “Besarkan dia!”

THE END

a/n:  Bagaimana readers? Ini kali pertamanya author bawa fanfict genre angst sad gini.

Hmm, author mungkin bakal bikin lanjutan dari fanfict ini. Bukan sequel sih. Mungkin bakal author post di personal wordpress punya author di: http://novitafantasy.wordpress.com/. But, that’s just maybe..

And the last, mohon Comment+Like-nya ya! Kritik dan saran sangat berarti bagi author.

With Love, Bit (@Novita_Milla) n_n

12 pemikiran pada “Kill Me (Chapter 2)

  1. Yang bikin bingung Kibum itu anak siapa?._. bukannya pas Jongdae sama Heejung diatas tempat tidur, Heejung ngebunuh Jongdae? trus kapan bikinnya? atau Kibum anak Suho? Dan motifnya Heejung ngebunuh Jongdae itu apa? karna dia belum siap ditinggal lagi kah? aduh aduh bingung (?_?) but overall keren! Suho jadi pemabuk, nggak cocok sama muka lol._. kutunggu sequelnya yaa! xD

  2. waaa…walaupun jongdae oppa tidak jadi main cast,tapi kalau ceritanya seperti ini aku jadi sedih..
    daripada jongdae oppa dibunuh mending aku rawat aja..#plak
    mian agak nggk nymbung sama ceritanya..
    but overall DAEbak…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s