Love Sign (Chapter 10)

Tittle : Love Sign

Author : Shane (@shaneleeps)

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

Dan, maaf untuk keterlambatannya.

Love Sign posutaa

__________________________

Mata kelam itu menunjukkan sebuah perasaan gelisah tak henti. Menatapnya kelamaan bisa menyebabkan efek luar biasa; merasakan apa yang ia rasakan. Tangannya masih menggenggam pada lengan gadis yang—matanya tak henti menatap, ia bahkan tak memperdulikkan genggamannya yang semakin mengeras.

“Kai…” ucap Yoojun, nadanya lemah.

“Yoojun ikut denganku,” katanya, mencoba untuk menstabilkan nadanya. Kai baru akan menarik lengan Yoojun lebih lagi ketika balasan Sehun sendiri membuatnya tangannya berhenti menarik. Balasan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan Kai.

Sehun menatapnya dingin. “Dia denganku.”

“Kau tak bisa ikut campur, Oh Sehun!”

“Ya, betul. Tapi coba kau pikir ulang, aku sendiri sudah terlalu banyak tercampur dalam urusan kalian berdua.” Sehun mendengus. “Bahkan pada awalnya aku memang ada disana.”

“Itu hanya gurauanmu semata, kan? Jangan main-main denganku.” Kai berteriak.

“—apa yang kalian bicarakan?”

Satu pertanyaan yang membuat kedua kepala pemuda itu refleks menoleh pada sumber suaranya. Justru yang mengeluarkan pertanyaan barusan hanya menatap mereka berdua dengan tatapan tak mengerti, mengharapkan jawaban. Tapi benar, Yoojun sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan kedua pemuda itu. Alih-alih tidak mengerti, Yoojun malah meratapi lengannya yang digenggam cukup keras.

“Kita memang harus membicarakan ini bertiga,” sahut Sehun, matanya menatap Kai lurus yang langsung dibalas anggukan oleh Kai sendiri.

Kaki-kaki itu melangkah dengan Sehun yang memimpin didepan. Ya, Sehun yang mencoba keras untuk tidak menggulirkan bola matanya. Yang mencoba untuk menatap lurus kedepan dan fokus terhadap perihal yang akan ia sampaikan kepada Yoojun.

Dan juga Kai.

Namun Kai bahkan tak memperdulikan sahabatnya dan terpaku pada tangannya. Mata dan hatinya lebih terfokus pada tangannya yang sedang menggenggam tangan Yoojun. Ada sensasi yang tak bisa ia ungkapkan saat tangannya menyentuh Yoojun.

“Kai, mau sampai kapan? Kasihan dia.”

Kai menatap Sehun lama sampai akhirnya ia melepaskan genggamannya. Malu juga—pemuda itu cepat-cepat berdeham, niatannya untuk merubah suasana yang tiba-tiba menjadi canggung. Kai, lalu bersuara lagi, meminta gilirannya untuk berbicara. Namun Sehun buru-buru memotongnya, ia juga meminta untuk giliran pertama.

“Aku tahu, perlakuanku kali ini cukup untuk dijadikan alasanmu untuk memukulku. Tapi, Kai, biarkan aku menjelaskan beberapa hal.” Sehun menatap Kai, lalu sampailah pada Yoojun. “Setelah lulus dari SMA ini, aku takkan bisa bersama-sama kalian lagi. Bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa menjejakkan kakiku di Korea untuk kesekian kalinya. Aku tak tahu.

“Perjanjianku dengan pria itulah yang membuat ini semua menjadi rumit. Waktu bebasku mulai habis, berganti dengan sebuah waktu yang akan kuhabiskan sebagai pembuktianku untuk berbakti pada orang tua.” Ia mendesah. “Setelah lulus, aku akan pergi ke Inggris, melanjutkan sekolahku dan meneruskan perusahaan ayahku.” Sehun mengadahkan kepala. Mendadak teringat wajah ayahnya waktu itu.

“Menikah dengan orang yang dipilihkan pria itu, tentu saja.” Sehun melanjutkan, nadanya sedingin es.

“Sehun-ah…” Yoojun menatapnya tak percaya. “Tapi… kenapa?”

Kai ikut menatap Sehun saat itu juga.

Sehun mendengus, menahan tawa. Ia bahkan tak bisa menjelaskan pertanyaan tersebut jika ditanya-tanya masalah ini. Ayahnya sudah men-setting Sehun agar ia menjawabnya sebijaksana mungkin. Tapi apa boleh buat? Sehun sendiri sudah tak ada ide dengan jawaban-jawaban yang terdengar bijaksana.

Atau memaksa agar terdengar bijaksana.

Sehun tersenyum getir. “Karena itu sudah diluar kuasaku, Yoojun-ah. Hidupku memang sebuah permainan. Tapi bukanlah permainan yang dimainkan tanpa aturan—permainanku ini mempunyai aturan tersendiri.”

Kai kini mengerti semua hal-hal yang diucapkan Sehun; hidupnya adalah sebuah permainan. Tapi bukan permainan yang bebas, melainkan sebuah permainan yang terikat dengan sekelibat aturan, yang bahkan pemainnya sendiri mau tak mau harus terjebak dalam aturannya. Hingga mencapai finish, semua itu harus dilalui.

Dulu, Kai selalu menganggap bahwa prinsip Sehun itu keren. Terkadang merasakan panasnya rasa iri yang muncul tiba-tiba saat Sehun menyelesaikan sebuah masalah dengan kalem, bahkan tanpa helaan napas mengeluh. Pribadi Sehun yang dingin dan menganggap semuanya bisa ia tangani. Tapi sekarang terkuak sudah apa-apa yang berada dibalik sifat keren itu.

Sehun terlibat aturan yang kuat.

“Aku tidak tahu kalau kau serumit itu,” papar Kai akhirnya. Kai masih menatapnya dalam-dalam sampai ia melihat sudut bibir Sehun yang tertarik, melekukkan sebuah senyuman pahit.

“Karena kalau kau tahu, kau pasti akan berbelas kasihan. Aku tidak suka belas kasihan orang lain walaupun aku butuh.” Sehun menjelaskan. “Makanya, kalau aku sudah lebih hebat dari ayahku, aku akan mengasihani dia sampai mati—ayahku itu makhluk menyedihkan yang nggak bisa move on.”

Kai dan Yoojun sontak tertawa. Kata-kata move on—yang menurut mereka—hanya tertuju pada remaja-remaja yang tak bisa melupakan mantan kekasih mereka. Dan menggunakan dua kata itu pada seorang yang sudah mempunyai anak yang telah dewasa, rasanya lucu juga.

“Dan, kenapa aku bilang kalau aku bisa saja mencampuri urusan kalian? Itu karena aku diam-diam meperhatikanmu, Yoojun.” ucap Sehun lagi. “Aku memperhatikanmu dengan detail. Yah, aku tak ingin Kai kecewa padamu.”

“…lalu?” Yoojun akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Kupikir jawabannya lebih baik kusimpan sendiri. Aku yakin kau akan setuju.”

Dan, dengan satu gerakan, Yoojun sudah berada dalam pelukan Sehun. Gadis itu terdiam saking terkejutnya—tahu akan hal itu, Sehun melepaskannya kembali. “Dan sayang sekali kamu harus kurelakan pada pemuda disana. Jujur saja, aku sedikit tak rela.”

Beda lagi dengan Kai yang merasakan sesuatu bergejolak dalam dirinya. Kadang hasratnya untuk menonjok Sehun ingin sekali ia turuti. Tapi tidak, ia masih ingin menggunakan mulutnya pada Sehun, mengingat semua penjelasan Sehun berlatar-belakangkan hal-hal yang tak terduga.

Baru saja ingin melangkahkan kakinya, Sehun memanggil nama lengkap Kai keras-keras. Mengatakan sifat-sifat Yoojun yang katanya, ia teliti sendiri selama mengenal Yoojun. Kai menggeleng tak habis pikir, padahal ia baru saja ingin menarik kerah Sehun saat itu. Tapi tiba-tiba Sehun berkata lagi, “Yah, meski begitu, kupikir Kai orang yang tepat untuk menjagamu.”

“Kau menyuruhku untuk menjaga Yoojun padahal kau sendiri baru saja memeluknya?” Kata-kata Kai meluncur dingin begitu saja.

“Tenang, kawan. Dia belum ada yang memiliki, kan?”

Kai tertohok mendengarnya. Ucapan itu seakan menghantamnya bagaikan sebuah kapak yang diayunkan dengan cepat kearahnya. Yah, Sehun ahli dalam menyindir. Bahkan meskipun hanya satu kata, kata-kata itu bisa dengan tepat menunjukkan maksud yang sebenarnya.

Benar-benar, pikir Kai.

“Kenapa aku baru tahu sekarang?” tanya Kai. Niatannya ingin mengalihkan pembicaraan.

“Karena kau nggak pernah tanya,” balas Sehun, kalem.

“Sepertinya kau salah,” Kai menyahut. “Itu karena kau merahasiakannya.”

Sehun menyipitkan matanya. Benar, sih, pikirnya. Dia kira Kai tidak sepeka itu. Maksudnya, Kai tak akan peduli dengannya yang sering mengalihkan pembicaraan—malahan kadang Kai terlihat tidak sadar kalau sedang dialihkan. Kai yang agak serampangan itu ternyata memperhatikan gerak-geriknya. Hebat.

“Hei, hei!” teriak Yoojun. Awalnya ia merasa terharu melihat dua sahabat itu berangkul dan tertawa. Membicarakan masa lalu mereka—yang bahkan Yoojun tidak mengerti satupun. Lama-kelamaan, Yoojun bosan juga. Ia jadi transparan tak terlihat begini.

Diabaikan pula.

Sehun mendengus, teriakan Yoojun lebih melengking daripada biasanya. “Urusanku sudah selesai, kok. Sekarang tinggal urusan kalian yang belum selesai.”

“Makasih, kawan.” Kai berjalan menjauh, menghampiri Yoojun.

Sehun hanya membalasnya dengan anggukan santai. Diam-diam menatap kedua muda-mudi itu dengan penuh arti. Begitupula dengan kilatan kelegaan dari matanya. Dengan itu ia melangkah perlahan, meninggalkan atap gedung. Meninggalkan kedua muda-mudi itu. Tidak, Sehun tidak cemburu ataupun marah apalagi kesal. Sehun bahkan sempat senyum-senyum sendiri seketika tangannya mengenggam knop pintu kelas reguler yang kelewat dingin.

Erangnya kasar, dengan dengusan khasnya. Bibirnya terangkat, membentuk lekukan seringaian nakal.

“Tidak sopan mendengus seperti itu, kau tahu.”

“Tentu saja.”

Sehun melangkah lagi, menuruni tangga hingga dekat dengan subjek yang berada didekatnya. “Aku penasaran, seperti apa rupamu kalau sedang tersenyum…”

Tch,” Hyesung mendengus lagi. “Kenapa? Apa pedulimu?”

Alih-alih menjawab, Sehun malah melangkah lagi, menuruni anak tangga dengan santai. Sesekali ia melirik gadis itu. Sadar akan jarak mereka yang makin dekat hingga posisinya tepat bersebelahan dengan Hyesung, gadis yang barusan mengajukan pertanyaan.

“Hm, mungkin itu terakhir kalinya aku melihatmu.”

“Kau bercanda?” Hyesung menahan napasnya.

“Aku… sudah lama tak bercanda. Tapi terserah kau juga, sih.” Dengan itu Sehun melangkah lagi. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap Hyesung. “Aku sarankan jangan pergi ke Atap.”

Sehun, lalu meninggalkan Hyesung yang masih mencerna perkataannya kata demi kata. Pertama, Hyesung tahu kalau Yoojun dan Kai pasti ada disana dan ia memutuskan untuk membalikkan tujuannya. Kedua, Hyesung tahu apa maksud perkataan Sehun sebelumnya. Tapi terakhir? Itu terlalu tidak masuk akal baginya. Toh, ia yakin Sehun takkan mati sekarang. Wajahnya cerah tadi. Sehun takkan meninggalkan Seoul dan Korea Selatan, pikirnya.

.

.

.

Lima belas menit berlalu tanpa adanya satu kata pun. Tepat setelah Sehun menutup pintu atap, lima belas menit yang lalu, Yoojun dan Kai belum berbicara sama sekali. Kai masih sibuk dalam pikirannya sendiri, memikirkan cara yang tepat untuk mengatakan—yang terberat adalah ini sudah lama tak dilakukannya.

“Kenapa kau menghindariku?” tanya Kai to the point, sukses membuat gerakan tangan Yoojun terhenti. Kai berjalan perlahan. “Apa kau sudah menyerah?”

“Tidak.”

“Kau… tak suka lagi pada—”

Yoojun bersuara lagi, “Mungkin didunia ini ada wanita yang rela menunggu jawaban cintanya selama apapun. Mungkin ada wanita yang bersabar melihat apa yang dicintainya tak sama sekali merasakan yang ia rasakan. Mungkin ada… tapi sepertinya, itu bukan aku.”

Dengan itu, Yoojun berlari keluar tanpa membiarkan pintunya tertutup kembali. Kakinya membawanya pergi entah kemana—yang terpenting adalah membawa dirinya pergi sejauh mungkin dari atap itu. Dan disaat yang sama, Hyesung melihat Yoojun berlari. Gadis itu menggelengkan kepalanya geli sembari menatap kearah pintu atap yang terbuka.

Disana ada Kai yang menatap arah berlari Yoojun dengan tatapan kosong.

“Drama macam apa ini…” katanya, menghela napas. Hyesung baru tahu kalau Yoojun adalah seorang gadis yang suka berlari ketika seorang pemuda sedang bicara padanya. Setahu Hyesung, Yoojun tidak begini.

Dan, baru saja memikirkan perilaku Yoojun tadi, gadis itu cepat-cepat melangkah mundur karena mendadak ada Kai yang berlari dihadapannya.

“Maaf!” teriak Kai tanpa menengok kebelakang.

Hyesung kali ini bukan hanya menghela napasnya, tetapi juga ia menggelengkan kepalanya tanpa berhenti melihat Kai yang berlari seraya mengejar Yoojun. Menimang-nimang apakah ia harus memaafkan Kai atau tidak. Hyesung mengingat lagi apa saja perihal baik yang sudah Kai lakukan padanya: tidak ada.

Jadi, Hyesung tidak memaafkan Kai dan sebagai pembalasannya, ia tidak menghampiri dua sejoli itu. Hyesung kembali ke Kelasnya.

“Ya, Yoojun-ah!” teriak Kai masih berlari mengejar Yoojun. Koridor kelas reguler yang sepi mempermudahnya untuk berlari. Namun ia tak bisa keras-keras mengeluarkan suaranya—ia tak mau berurusan dengan guru ataupun sejenisnya. “Park Yoojun, dengarkan aku dulu!”

Baru saja ingin mempercepat gerakan kakinya, Kai menangkap satu nama yang terpampang jelas didekat pintu. Sebuah palang berwarna hijau dengan tulisan “Ruang Kepala Sekolah” lengkap dengan tanda bintang. Shit, umpatnya dalam hati. Apa yang harus ia lakukan kalau kepala sekolah melihatnya berkeliaran di Kelar reguler dan mengabaikan pelajarannya? Dengan pemikiran seperti itu, Kai berlari lebih kencang mengejar Yoojun.

“Yoojun-ah,” katanya. Tangan Kai berhasil meraih lengan Yoojun—seketika gadis itu berhenti berlari. Kai perlahan menariknya dan membuat langkah Yoojun mundur. “Istirahat dulu. Memangnya kau nggak capek berlari, hm?”

“…”

Kai menatap Yoojun. “Dengar…”

Namun Tuhan berkehendak lain, pintu dari ruang kepala sekolah yang sebelumnya tertutup, sekarang perlahan terbuka dan menampilkan seorang pemuda yang sangat Kai kenal. Ya, Oh Sehun lah yang sedang membuka pintu tersebut.

“Kai?”

“—Kai?!” sahut suara lain dari dalam. Tak lain dan tak bukan adalah sang kepala sekolah. Pria paruh baya itu berjalan kearah pintu, menatap Kai tak percaya. Lalu matanya bergulir melirik tanda pengenal yang tersemat pada almamater Yoojun. Disana tertulis jelas nama lengkap Yoojun dengan hangul. “Park Yoojun?”

“Oh Sehun?” kali ini giliran Yoojun yang bersuara.

“Oke, hentikan memanggil nama. Apa yang sedang kalian lakukan disini? Kalian seharusnya berada dikelas masing-masing dan—”

Seakan mengerti, Sehun langsung menarik lengan pamannya dan membuatnya menghindar dari pintu. Kau memikirkan apa yang kupikirkan? Tanya Kai dalam hati yang langsung dibalas anggukan dari Sehun. Kai mengarahkan ibu jarinya pada Sehun. Temannya yang satu itu memang luar biasa.

Kai, lalu menarik lengan Yoojun. Menuntunnya untuk masuk kedalam ruang kepala sekolah. Setelah memastikan Yoojun sudah masuk ruangan, Kai cepat-cepat menutup pintunya dan menguncinya. Dalam hati meminta maaf sebesar-besarnya pada paman Sehun. Hal ini pun tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.

“Beberapa orang butuh tempat untuk menyelesaikan masalahnya,” sahut Sehun cepat.

Tak mengindahkan perkataan Sehun, Sang kepala sekolah membalas, “Ta-tapi itu ruanganku. Kau—”

“Paman, apa kau nggak pernah muda?”

Skakmat.

Sang kepala sekolah tidak bisa berkata apa-apa.

“Nah, mari kita lanjutkan pembicaraan serius kita di Kantin dan abaikan kedua orang itu.” Sehun terseyum puas. Pemuda itu tak langsung berjalan—bermaksud untuk mendahulukan pamannya. Kalau boleh jujur, Sehun ingin sekali tertawa. Well, ini perama kalinya Sehun merasa pamannya yang sedikit keras kepala itu takluk padanya.

“Y-ya, baiklah,” kata Paman seraya berjalan.

Sedangkan didalam ruang kepala sekolah, Kai dan Yoojun sedang saling menatap menuntun penjelasan. Alih-alih menuntut penjelasan, ia malah merasa bersalah karena tak menjawab pertanyaan Kai sewaktu di Atap tadi. Kenapa kau menghindariku? Apa kau sudah menyerah? Apa kau tak suka lagi padaku? Oh, Kai, bukankah harusnya kau tahu jawabannya, pikir Yoojun.

“Dengarkan aku,” kata Kai. Nadanya perlahan melembut. “Maafkan aku karena selalu membuatmu menunggu. Maafkan aku karena selalu membuatmu bertanya-tanya akan perasaanku ini. Maafkan aku…”

“Maaf…”

Perlahan kakinya berjalan, menggapai subjek yang tengah berdiri terpaku dihadapannya. Kai memeluknya erat. Lalu ia berkata lagi, “Sepertinya, aku melakukannya karena aku menyukaimu.”

Napas Yoojun tertahan seiring mendengarkan semua perkataan yang terlontar dari mulut kai barusan. Sepersekian detik kemudian ia merasa ada yang salah dengan telinganya dan mulai mundur, menjauh dari pelukan Kai. Gadis itu kali ini menatap Kai dengan penuh tanda tanya—apakah yang ia dengarkan barusan itu nyata atau sekedar fiksi?

Yoojun akhirnya mengeluarkan suaranya. “A-apa?”

“Aku menyukaimu.”

“…kau serius?”

“Aku serius menyukaimu, Park Yoojun.” Kai terkekeh. Suara gadis itu sudah berubah yang tadinya terdengar dingin dan tak peduli—sama sekali bukan seorang Yoojun—sekarang sudah kembali seperti semula. Perlahan Kai melangkah maju mendekatinya, meraih tangan Yoojun dan menggengamnya. “Bagaimana denganmu?”

Alih-alih menjawab, Yoojun malah bergumam tak jelas. Gadis itu masih pada dunianya—bahkan tak memperhatikan pertanyaan Kai. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Katakanlah, gadis itu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk semua ini dan pada akhirnya ia mendapatkannya. Pun, hanya sebuah kalimat yang ia dapat. Bukan lah sebuah tindakan atau apa.

Dan, baru saja ingin memeluk Yoojun untuk yang kedua kalinya. Pintu didekat mereka sudah berbunyi tak karuan; ada seseorang yang menggedor-gedor pintunya dari luar. Ya, Kai tahu siapa yang melakukan itu. Kalau saja ia tidak ingat bahwa orang tersebut adalah paman dari Sehun, ia pasti sudah meneriakinya untuk diam.

“Hey, kalian sudah disana selama lima belas menit! Apa yang kalian lakukan?!” teriak kepala sekolah memecah keheningan.

Sehun, yang sedang berdiri menyandar dinding tak sama sekali ingin tahu apa yang sedang dilakukan pamannya. Tetapi ia cukup bersyukur perihal ruang kepala sekolah ini terletak agak jauh dari ruang guru. Setidaknya pamannya itu takkan membuatnya malu karena tingkahnya yang kekanakan.

Pintu akhirnya terbuka, menampilkan dua sejoli yang tangannya masih menggengam satu sama lain. Kai hanya cengar-cengir tanpa rasa bersalah sedangkan Yoojun sudah ingin saja menutupi wajahnya karena ia yakin wajahnya merah padam.

“Lihat ini, pasangan yang baru keluar dari ruang kepala sekolah,” papar Sehun, akhirnya. Kepalanya menggeleng seiring dengan keluarnya dua muda-mudi itu.

Mendengar hal itu, Kai dan Yoojun langsung melepaskan tangan masing-masing.

“Paman, maaf, tapi tadi keadaannya darurat,” kata Kai, meminta maaf.

Sedangkan kepala sekolah hanya menggelengkan kepalanya. Yah, benar, ia juga pernah muda. Tapi menggunakan ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah cinta kedengengarannya aneh juga. Tanpa berkata apa-apa, sang kepala sekolah masuk kembali kedalam ruangannya dan menutup pintunya rapat-rapat. Seakan tak menginjinkan siapapun masuk kedalam.

“Kita berurusan dengan kepala sekolah…” gumam Yoojun. Takut, tentu saja.

“Tenang, pria paruh baya itu nggak akan melakukan apa-apa padamu,” ujar Sehun. Pemuda itu akhirnya beranjak dari posisinya. “Tapi mungkin dia akan melakukan sesuatu pada Kai.”

Kai mendesah pelan. Ditilik dari perkataan Sehun barusan memang ada beberapa persen kebenaran disana. Mungkin dia akan diajak berbicara empat mata atau mungkin berbicara empat mata ditambah webcam dari ibunya. Mengingat pria paruh baya yang Sehun maksud itu orangnya sedikit nekat. Mungkin saja… mungkin.

“Aku akan kembali ke Kelas,” kata Yoojun.

“Aku antar,” balas Kai cepat, yang lantas membuat Yoojun terkejut namun ia menyetujuinya.

Tak mau kalah, Sehun ikut membalas. “Nah, aku akan tetap disini.”

Setelah pamit pada Sehun, Yoojun dan Kai berjalan bersampingan menuju kelas Yoojun. Raut wajah keduanya nampak lebih ceria daripada sebelumnya. Yah, siapa yang tidak bahagia jika cintanya berbalas? Siapa yang tidak bahagia kalau pada akhirnya cintanya menemukan jawaban yang pasti?

“Aku bahagia,” kata Yoojun. “Walaupun tempat kejadian perkaranya cukup unik, menurutku.”

Kai yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan. Kai bahkan tak ingat kalau ia menyatakan perasaannya pada Yoojun di Ruang kepala sekolah. Itupun ia mendapatkan bantuan dari Sehun. Yah, perlu diulang, ruang kepala sekolah.

“Ayo kita kencan.”

“Ya?” lagi-lagi Yoojun dibuat kaget.

Kai mengacak-acak rambut Yoojun. Kali ini suara kaget Yoojun saja sudah membuat hatinya tak karuan. Ia tak mengerti lagi akan apa yang ia rasakan nanti kalau Yoojun menyanyikan lagu cinta didepannya.

Mungkin ia sudah semaput.

“Ayo kita kencan, tapi kali ini kita benar-benar kencan.”

TBC

I FINALLY FINISHED THIS CHAPTER. Saya… nggak merasa ini bakal benar-benar seperti yang saya (atau readers) harapkan. Tapi saya udah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan chapter—katakanlah—yang paling paling (?). Dan, ya, ada beberapa perubahan dalam penulisan pada chapter ini.

Tell me, harus berapa kata maaf yang saya ucapkan untuk permohonan maaf atas keterlambatan yang sangat terlambat ini? Maaf, benar-benar minta maaf *bow*

Oh, iya. Mengingat harus menunggu selama kurang-lebih satu bulan untuk postingan FFnya, saya saranin buat contact lewat twitter atau YM. Twitternya nggak harus difollow kok. Kalian mention buat nanya FF aja saya udah seneng /heh /ditendang. Nanti saya bisa kasih link untuk chapter selanjutnya (bagi yang ingin cepat-cepat baca). Tapi tetap harus komen kalau chapter tersebut sudah dipost di EXOFF :>

Makasih udah baca Love Sign dari chapter 1 sampai chapter 10 ini. I was so happy I could die *tears of joy*

Hint: 1 chapter terakhir.

 

Iklan

59 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 10)

  1. mian baru koment ;). author ini ff dilanjut gaakk? aku udh nunggu lama loh… ;). jujur ini ff keren bgt.. n sayang banget kalo gadilanjut T_T

  2. author, ini mana lanjutannyaa? huhuhu T_T
    kau membuatku hidup penasaran thor u,u
    btw, uname twitter author apa? nanti aku follow deh~ *kalo dikasih, hehe

  3. mian baru comment…….baru baca sekarang…..

    FF ini blm ada lanjutan ya????
    menurutku sih ending d sini juga nggak apa”…..tpi pengen tau lanjutannya juga…….
    penasaran sma kisah dua sejoli kai dan yunjoo…..pengen tau kehidupan sehun selanjutnya……

    awalnya sempet mikir klo sehun bakal sama hyeseung…….apalagi dgn sifat mereka yg agak mirip gitu…..tpi kyknya nggak kejadian dech…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s