A Long Summer With 6+1 (Chapter 12)

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 12)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

97558360 (1)

A/N: Listen to Greyson Chance – Sunshine and City Lights. Surely you’ll get more feeling! XD

====================

“Luhan gege, kau yakin kau tidak ingin menginap dulu sehari disini?” tanya Suho saat Luhan kembali memasukkan barang-barangnya kedalam tas ransel yang ia bawa. Namun lelaki berambut cokelat muda itu hanya mengangguk mantap sambil tersenyum. Luhan hanya tidak ingin membuat banyak kerepotan dirumah ini, ditambah dengan adanya dua gadis muda disitu.

Anniyo, gwaechanha—tidak, tidak apa-apa, kok. Kurasa kalian juga harus memfokuskan diri kalian kepada dua gadis itu. Untung saja, ya, kalian sedang tidak ada jadwal akhir-akhir ini,” jawab Luhan panjang lebar. Suho hanya mengangguk mengerti.

Gege ada jadwal apalagi setelah ini?” tanya Suho lagi, Luhan pun menghela napas, mungkin merasa lelah karena banyaknya jadwal panggung atau wawancara yang mesti mereka datangi.

Luhan berdiam sebentar, berpikir, “Ah, ya, setelah ini kami akan menjemput Xiumin dan Chen. Setelah itu… kami kembali ke Cina untuk menghadiri sesi wawancara di salah satu stasiun TV disana,”

Suho menepuk pundak Luhan dengan sikap menenangkan, bermaksud untuk membuat Luhan sedikit melupakan rasa lelahnya. Bagaimanapun juga Suho tidak ingin Luhan jatuh sakit atau apa.

Luhan pun mengangkat tasnya, tersenyum kepada Suho, tangan kanannya diletakkan di bahu Suho. Sekarang mereka jadi memegang bahu yang lainnya masing-masing. Luhan mendekatkan bibirnya kearah telinga Suho, berbisik sesuatu kepadanya.

Suho pun membelalakkan kedua matanya.

=======================

Annyeong, Luhan gege!—sampai jumpa, kak Luhan!” kata Sehun seraya mengantarkan Luhan dan Kris sampai ke pintu depan. Kris sudah biasa saat dirinya sudah dicuekki oleh pasangan HunHan tersebut. Karena memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi kedekatan mereka berdua.

Bye, Kris ge!” seru Chanyeol, D.O, dan Baekhyun berbarengan dan melambaikan tangan mereka serempak. Suho selaku ketua grup EXO-K yang menempati rumah pun berpesan agar Luhan dan Kris berhati-hati dalam perjalanan mereka. Bahkan Suho sempat menawarkan diri untuk mengantarkan mereka ke apartemen EXO-M tetapi sekali lagi dua pria Cina itu menolak halus.

Haerin dan Jihwa melambaikan tangan canggung saat Luhan dan Kris menatap mereka seraya mengangkat tangannya, menandakan bahwa mereka akan segera pergi.

Luhan dan Kris pun membalikkan tubuh mereka, ternyata di depan lift sudah ada manajer mereka yang menunggu. Suho dan yang lainnya bahkan sempat menyapa manajer itu.

Setelah kedua pria Cina itu menghilang dibalik lift, semua orang yang ada di depan pintu langsung menghela napas lega. Sehun sebenarnya masih sedikit kecewa karena Luhan hanya mengunjunginya sebentar.

Tetapi diam-diam Suho masih mencerna maksud dari apa yang dibisikkan oleh Luhan tadi sore. Apa ia benar-benar harus melakukan itu sebelum terlambat?

Suho melirik orang yang dibicarakan oleh Luhan, kemudian berpikir cara apa yang harus ia gunakan untuk berbicara dengan orang itu. Takut-takut kalau ia salah bicara, ia akan semakin dijauhi oleh gadis itu. Tentu saja ia tidak mau hal itu terjadi. Tapi yang jadi masalah, apa yang harus ia katakan padanya?

Member yang lain pun beringsut memasukki apartemen kembali, ada yang sekadar menjatuhkan diri di sofa lalu bangkit lagi, ada yang lebih memilih untuk mencuci muka, atau menyikat gigi sebelum tidur.

“Boleh kutidur, hyung?” tanya Baekhyun yang sedari tadi menutup mulutnya dari menguap lebar. Diikuti dengan anggukkan D.O yang menyetujui perkataan Baekhyun dan Chanyeol dan Kai yang berada disitu pun juga ikut menatap penuh harap kearah Suho.

“Tak kusangka aku bisa selelah ini,” kata D.O seraya memijit pelan dahinya, Kai pun yang berada di sebelah D.O hanya terkekeh geli.

“Tentu saja, daritadi kau dan Haerin kan hanya mencuci sejuta piring-piring kotor yang menggunung bekas kami makan bersama Luhan dan Kris gege,” ujar Kai, berniat bercanda.

D.O pun hanya mendelik kearah Kai, “Sudah tahu begitu kenapa kau tidak membantu kami? Kau malah asyik bercanda dengan Luhan gege,”

Suho pun akhirnya melerai mereka dengan cara menahan dada masing-masing yang sudah membusung satu sama lain, “Sudah-sudah, jika ada yang ingin tidur duluan, silahkan,” ucap Suho, akhir dari perseteruan yang terjadi.

Yang lainnya pun mengangguk dan berjalan kearah kamar masing-masing tak terkecuali Sehun yang matanya sudah memerah karena sedari tadi ia menahan rasa kantuk yang menyerang dirinya. Namun dikarenakan Luhan dan Kris yang datang tiba-tiba akhirnya ia pun terpaksa menahan kantuknya itu.

Sehun dan member yang lainnya termasuk Jihwa yang sedari tadi tidak banyak berbicara pun berjalan kearah kamar masing-masing. Sedangkan Haerin masih berduduk sila diatas sofa, dengan tenang masih membaca sebuah buku.

Sehun pun membuka pintu kamarnya, merasa ada yang salah atau ada yang kurang. Ia pun membalikkan tubuhnya dan melihat Haerin yang masih berada di sofa. Sehun pun memanggil gadis itu dengan cara menjetikkan ibu jari dan jari tengahnya secara bersamaan yang berhasil membuat gadis itu menoleh kearah Sehun.

Haerin pun mengerti mengapa Sehun memanggilnya, dengan pelan ia pun menggelengkan kepalanya samar, menandakan bahwa ia akan pergi tidur nanti. Dan Sehun tak perlu khawatir.

Sehun pun akhirnya mengangguk pelan sementara tangannya menutup pintu tanpa bersuara.

Jaljjayo,” bisik Sehun tepat saat pintu kamarnya sudah tertutup. Yang tentu saja tidak akan bisa didengar oleh orang itu dan Sehun hanya mengepalkan kedua tangannya dan meninju dinding dengan pelan. Merasa begitu bodoh mengapa ia tidak berani mengucapkan kata-kata itu tepat didepan wajah orang tersebut.

========================

Beberapa saat setelah Sehun menutup pintu kamarnya, Haerin ternyata masih membaca bukunya dengan giat. Beberapa kali ia mengubah posisi membacanya agar lebih nyaman. Ia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Terdapat segelas teh manis hangat yang diletakkan di meja sebelah sofa.

Tak jarang juga Haerin tiba-tiba terkesiap saat membaca bagian cerita yang membuatnya merasa tegang. Ia benar-benar tidak sadar bahwa ada seseorang yang memerhatikannya dari jauh. Ya… tidak jauh-jauh amat sebenarnya. Ia hanya memerhatikan gadis itu dari kursi di meja makan.

Suho.

Lelaki itu berusaha menahan tawanya yang hampir lepas saat Haerin tak sengaja nyaris saja jungkir balik. Gadis itu benar-benar tidak bisa diam saat membaca rupanya. Namun yang membuat Suho bingung, disaat gadis itu banyak bergerak, mengapa gadis itu tidak pernah menyadari kehadirannya yang sedari tadi berada tepat didepannya?

Suho pun akhirnya berjalan sedikit mengendap-endap kearah belakang sofa, sebenarnya ia berniat untuk mengagetkan gadis itu. Tetapi entah kenapa ia malah mengurungkan niatnya itu. Beruntung bagi Suho karena saat ini posisi Haerin sedang menunduk membaca bukunya, sehingga ia tidak menyadari bahwa Suho sedang berjalan mendekatinya.

Setelah merasa aman, Suho pun menumpukan lututnya lalu menopang dagunya dengan telapak tangannya, sedangkan tangannya ditumpukan di punggung sofa. Menunggu gadis itu berbalik lalu menatapnya.

Tetapi apa yang diharapkan Suho tak kunjung terjadi, setelah hampir sepuluh menit pun Haerin bahkan tidak sempat melihat kearah Suho. Bahkan lelaki itu sempat berpikir bahwa gadis itu tertidur atau apa, sehingga secara sengaja Suho meniup rambut halus Haerin dan membuat gadis itu bergidik.

Akhirnya gadis itu menengok kearah belakangnya. Haerin mendapati Suho yang tersenyum jahil tepat didepan wajahnya, membuat gadis itu secara sontak nyaris mendorong tubuhnya sendiri kebelakang. Ia bisa saja jatuh terjeblak jika saja Suho tidak langsung menarik tangannya dengan cepat, lalu menarik tangan gadis itu agar kembali seimbang.

Omona… Kau nyaris membuatku jantungan!” omel Haerin saat Suho melompat keatas sofa agar bisa duduk disebelah gadis itu. Suho tidak mengindahkan kata-kata gadis itu, tetapi ia hanya membalasnya dengan senyuman jahil seperti tadi, membuat Haerin memandangnya dengan pandangan aneh dan heran.

Oppa… kenapa kau belum tidur?” tanya Haerin pelan dan sedikit memundurkan wajahnya karena menurutnya wajah Suho dengan senyum mautnya itu makin lama semakin menyeramkan.

Suho hanya menggeleng, “Aku belum mengantuk. Plus… apakah kau… merasa ingin… jalan-jalan? Yah, kau tahu… hang out atau semacamnya…?” Suho memandang Haerin yang juga memandangnya dengan pandangan bingung.

Haerin pun akhirnya sudah bisa mencerna maksud dari perkataan Suho terhadapnya, ia pun berpikir sebentar, “Hmm… aku… memang ingin sekali jalan-jalan dengan kalian… tetapi kurasa kalian terlalu lelah atau bahkan… malas, mungkin?” gadis itu memainkan ujung kover buku dengan jari-jari kecilnya, merasa melantur.

Suho pun hanya mengangguk, lalu lelaki itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, mencari-cari kalimat yang pas untuk diucapkan selanjutnya.

“Kalau begitu… bagaimana kalau kita… jalan-jalan? Kau dan aku… kita berdua saja…?”

Haerin membulatkan matanya, “Malam ini?”

======================

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah berpakaian lengkap. Mereka berdua berjalan sedikit mengendap-endap seperti pencuri yang tidak ingin tertangkap basah. Suho pun menyuruh Haerin untuk membawa sepatu mereka sementara Suho mencari kunci serep di tempat gantungan kunci. Haerin sempat membandingkan ukuran sepatunya dengan ukuran sepatu Suho, ukuran sepatu mereka yang sangat kontras pun sedikit membuat gadis itu kecil hati.

Suho dan Haerin memang sudah sepakat untuk memakai sepatu mereka diluar saja daripada membuat keributan kecil di dalam rumah yang pada akhirnya akan membangunkan kerbau-kerbau yang sudah tertidur pulas.

Setelah Suho mendapatkan kunci serep, Suho memberi isyarat kepada Haerin untuk keluar duluan, Haerin pun segera mengangguk dan mengibrit pelan keluar kamar, sedangkan Suho melihat ke sekelilingnya lagi, memastikan keadaan masih aman, sebelum akhirnya ia keluar dan menutup pintu dengan perlahan.

Saat Suho sedang mengunci pintu kamar apartemen mereka dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Haerin pun memakai sepatu kedsnya ke kakinya yang kecil. Suho pun sedikit mengerinyitkan dahinya saat suara kunci bergerak didalam knop pintu membuat suara kecil.

Haerin yang sudah selesai memakai sepatunya itupun memberikan sepasang sepatu keds milik Suho kepada pemiliknya. Suho segera menerimanya dan memakai sepatunya dengan cepat, kemudian menjejalkan kunci serep itu kedalam kantung celananya.

Suho dan Haerin sempat bertatapan sebentar sebelum akhirnya mereka berdua tertawa dan berlari kecil kearah lift.

====================

Ia berdiri disitu, di tempat dimana gadis itu tadinya duduk. Mereka pikir ia sudah tidur, tapi sebenarnya tidak. Ia mendengar semuanya.

Ia pun mengepalkan kedua tangannya, menahan tinjunya agar tidak melayang sembarangan kearah vas bunga yang berada di depannya. Menahan amarahnya untuk keluar, menahan tenggorokannya agar tidak berteriak. Menahan dirinya agar tidak mengamuk. Rahangnya mengeras menahan emosi, matanya menatap dingin kearah buku yang tadi sempat dibaca oleh gadis itu.

Setelah akhirnya ia kembali ke kamarnya, ia menatap nanar kearah sofa-bed dimana biasanya gadis itu tertidur. Dimana biasanya ia akan mencuri kesempatan untuk mengelus rambut gadis itu disaat ia tertidur, memerhatikan bentuk wajah gadis itu dengan teliti. Dimana ia hampir saja mencuri sesuatu yang berharga bagi gadis itu, karena Sehun benar-benar tidak tahan melihat bibir ranum yang melengkung seperti kerang dan berwarna pink itu. Hasrat yang kuat untuk memeluk gadis itu saat Jihwa memarahinya, keinginan kuat untuk melindunginya.

Dan akhirnya ia sadar, cepat atau lambat ia tidak bisa menahan segala gejolak aneh pada dirinya saat ia melihat gadis itu berada disekitarnya.

Dengan cepat ia pun membenamkan wajahnya diantara bantal-bantal, berusaha untuk tidur. Tetapi yang ia lakukan adalah menggeram tertahan.

====================

Oppa, kita akan kemana?” tanya Haerin yang sedari tadi hanya berjalan kaki dengan Suho menelusuri jalanan kota Seoul yang masih ramai padahal sudah selarut ini. Suho tidak menjawab karena ia masih sibuk memperhatikan setiap sudut kota yang terang, lampu-lampu yang menyala terang, pohon-pohon kecil di pinggir jalan yang rindang, dan toko-toko yang masih belum berniat untuk mematikan lampunya.

Sebenarnya Haerin juga tidak keberatan jika hanya berjalan kaki seperti ini. Setelah hampir sebulan menginap di apartemen EXO-K, ia memang jarang keluar untuk sekadar jalan-jalan atau menghirup udara musim panas yang hangat.

Mereka tidak menyadari bahwa kedua kakinya membawa mereka ke pusat perbelanjaan Myeongdong, memang sebenarnya distrik ini tidak terlalu jauh dari apartemen mereka. Haerin dan Suho behenti di depan salah satu kedai minuman.

“Mau minum?” tanya Suho seraya menunjuk kearah kedai kecil di depannya. Haerin pun langsung mengangguk karena memang sudah merasa haus. Di kedai kecil tersebut terdapat poster dari salah satu minuman yang terkenal disana. Yah, Haerin memang menyukai bubble tea, tetapi entah kenapa sepertinya kedai ini yang lebih ramai pengunjungnya daripada kedai-kedai minuman yang lainnya.

Suho pun langsung menarik tangan Haerin dan berjalan kearah salah satu meja dengan dua kursi yang kosong. Lelaki itu tadi sempat membetulkan topinya—takut-takut ada yang mengenalinya sebagai Suho EXO-K—tetapi sebenarnya ia lebih takut ketika para penggemar mengenalinya, bukan dialah yang seharusnya diserang, tetapi gadis di sebelahnya ini.

Sebenarnya bisa saja Suho mencari alasan dengan bilang bahwa gadis itu adalah sepupunya. Tetapi, yang namanya para penggemar tidak akan sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakannya. Bisa-bisa ia ketahuan membual. Suho terlalu serius berpikir sehingga Haerin seperti melihat ada benang kusut diatas kepala Suho.

Dengan perlahan Haerin mengangkat tangannya kearah bahu Suho. Suho memerhatikan saat jari-jari kecil itu bergerak untuk mengambil sesuatu yang berada di bahu kirinya. Saat Haerin menarik tangannya, ia sudah memegang sehelai benang berwarna abu-abu di jaket hijau Suho. Ternyata benang kusut itu bukan hanya ada diatas kepala Suho, di jaketnya pun ada.

“Ada benang,” ujar Haerin nyaris tanpa suara, dan tanpa menatap Suho. Gadis itu hanya meluruskan benang yang yang melilit itu lalu membuangnya sembarang. Tepat disaat itu pelayan kedai pun datang dan memberikan dua buah daftar menu.

Suho masih terpana, ia masih bisa merasakan tangan kecil Haerin meraba bahunya pelan tadi. Namun ia disadarkan oleh daftar menu yang tiba-tiba sudah berada di depan matanya. Ia pun mengangkat wajahnya untuk melihat kearah pelayan yang sudah pergi kembali itu, lalu menatap Haerin yang terlihat bingung saat melihat menu. Suho berusaha kuat untuk menyangkal perasaan aneh yang mulai menggerogoti dirinya itu. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa panas.

Haerin mengarahkan tatapan matanya kearah Suho yang masih menatapnya juga. Gadis itu terlihat bingung dan langsung melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah mulus Suho. Lelaki itu pun langsung tersadar dari lamunannya.

Haerin hanya nyengir, “Oppa lucu sekali,” katanya sambil menggoyang-goyangkan daftar menu di tangannya, lalu ia kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada menu.

Suho pun menundukkan kepalanya, pertama kalinya ia merasa malu di depan gadis ini. Ia yakin sekali bahwa wajahnya pasti merah saat ini.

Oppa, kau mau pesan apa? Kurasa aku akan pesan mini okonomiyaki saja…,” kata Haerin sambil bergumam pelan. Ternyata ia masih sedikit bingung dengan minuman yang akan dipesannya. Tetapi ia langsung ingat dengan maskot utama kedai ini. Bubble tea.

“Oh, ya. Ah… aku sama sepertimu saja,” kata Suho seraya meletakkan daftar menu itu di sebelahnya. Ia tersenyum kepada gadis itu sementara Haerin tidak melihatnya sama sekali tetapi hanya mengangguk.

Lelaki dengan senyum terindah sejagat raya itupun mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan. Tak lama kemudian pelayan itu datang sambil membawa secarik buku notes kecil dan sebuah pulpen.

Annyeong haseyo, Anda ingin pesan apa?” tanya pelayan wanita itu sembari tersenyum ramah. Tetapi Haerin bisa melihat bahwa senyum keramahannya itu hanya ditujukkan untuk Suho, sementara saat pelayan itu menatap kearahnya, ia hanya bersikap biasa. Hal itu membuat Haerin memajukan bibir kecilnya. Haerin pun akhirnya membiarkan Suho yang menyebutkan pesanannya, dan Haerin tidak mengelak saat Suho asal menyebutkan minuman untuknya.

Haerin melihat pelayan itu yang sedang menuliskan pesanan mereka, wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum kepada Suho. Tahu saja kalau Suho itu sangat tampan.

Disaat pelayan itu sudah kembali ke asalnya, Haerin menatap Suho. Bibirnya masih dimajukan seperti tadi, membuat Suho yang melihatnya jadi sangat ingin menariknya. Tetapi hal itu Suho pendam karena ia tak tahan untuk tidak tertawa melihat tampang kocak milik Haerin.

“Kau kenapa?” tanya Suho setengah tertawa, yang membuat Haerin semakin cemberut.

Haerin pun mendengus kesal, “Kenapa pelayan itu hanya tersenyum kepadamu? Bahkan saat ia melihat kearahku ia malah bersikap biasa saja,”

Suho pun terkekeh mendengar jawaban Haerin.

“Jadi kau cemburu?” Gadis itu pun langsung menatap Suho dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya yang tadinya maju lima senti itu sekarang menjadi berbentuk O bulat.

“Cemburu? Yang benar saja!” Haerin pun melipat kedua tangannya di dadanya. Suho hanya tertawa melihat tingkah lucu Haerin. Lelaki itu pada akhirnya memajukan tubuhnya dan meraih hidung kecil Haerin, mencubit pelan hidung itu membuat sang empunya meringis dengan suara yang aneh.

YAAA!!!” pekik Haerin sambil memukul-mukul punggung tangan Suho, Suho langsung saja melepas cubitannya, meninggalkan bekas kemerahan di hidung gadis itu. Dan sekarang Haerin pun menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah tomat. Dan Suho jadi ikut-ikutan menunduk.

Suasana mendadak canggung, Suho berkali-kali menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal karena bingung. Sementara Haerin hanya bermain-main dengan kukunya. Suho tidak tahu apa yang sedang Haerin pikirkan, begitu pun sebaliknya. Mereka jadi menebak-nebak apa isi pikiran masing-masing.

Oppa,” Haerin memulai, masih bermain dengan kukunya.

Suho mengangkat wajahnya, “Hm?” sambil menatap lawan bicaranya dengan bingung.

Haerin pun meregangkan kuku-kukunya, lalu mengetuk-ngetuk meja dengan kukunya itu, sambil berpikir. “Kau… mengenal kakakku?” tanya gadis itu dengan nada yang sedikit penasaran.

“Eh?” Suho balik bertanya. Haerin hanya menatapnya dengan pandangan bertanya. “Aku… tidak begitu mengenalnya. Manajer hyung bilang bahwa kami hanya disuruh untuk menjaga dua anak perempuan dengan sifat yang berbeda. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti saat manajer hyung bilang seperti itu… tetapi sekarang aku tahu,” jawabnya panjang lebar.

“Intinya aku tidak begitu mengenal kakakmu, mungkin manajer hyung yang mengenal kakakmu itu,” Suho menambahkan.

Haerin menatap Suho dengan intens, masih berharap Suho akan mengeluarkan sepatah kata lagi. Tapi ternyata tidak, ia pun memundurkan tubuhnya hingga menyender di kursi lalu mengangguk mengerti.

“Kau sendiri…” Suho memikirkan kata apa lagi yang harus ia ucapkan, “sudah menghabiskan—eh maksudku, membaca berapa buku dalam seumur hidupmu?”

Pertanyaan yang sukses membuat Haerin menaikkan salah satu alisnya, “Aku tidak menghitungnya,” jawabnya singkat dan pelan. Suho pun tersenyum melihat respon gadis itu yang sangat polos.

Suho melihat kearah konter kasir, menyadari bahwa pesanan mereka mungkin belum jadi, lelaki itupun mencari cara agar bisa memecahkan keheningan yang canggung diantara mere-ka berdua.

“Bagaimana… kalau kita bermain truth or truth?” tanya Suho setengah takut kalau tiba-tiba gadis itu akan menolak. Tetapi bagi Suho itu adalah permainan yang cukup menyenangkan, maksudnya ia bisa saja mempelajari diri Haerin lebih jauh.

Tanpa dare? Pikir Haerin dalam hati. Dengan cepat gadis itu mengangguk semangat, “Kau duluan,” kata Haerin.

Suho berpikir apa saja hal-hal yang mungkin pernah ia lakukan—atau yang memalukan sekalipun.

“Aku… masih menyimpan boneka kesayanganku waktu kecil,” ujar Suho setengah berbisik malu-malu, tetapi Haerin hanya meresponnya dengan tersenyum geli.

“Aku pernah menginap di perpustakaan kota selama dua hari,” balas Haerin. Kedua bola mata Suho melebar, mulutnya setengah terbuka.

“Kau…” Suho menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, tak heran gadis yang satu ini sangat maniak buku. Haerin pun membalasnya dengan nyengir.

Suho berpikir lagi, “Aku pernah menonton salah satu koleksi film yadong milik Kai,” kali ini pengakuannya diucapkan dengan cara berbisik, sehingga Haerin harus memajukan tubuhnya sedikit untuk mendengarnya lebih jelas.

Setelah mendengar pernyataan Suho dengan jelas, kali ini mata Haerin yang melebar, wajahnya memerah seketika. Ia tak menyangka lelaki sebijaksana Suho ternyata bisa menonton film semacam itu. Lalu Haerin teringat saat Chanyeol mengatai Kai dengan sebutan pervert. Mungkin kalau Kai, Haerin masih bisa memaklumi, tetapi Suho?

Suho langsung menutup mulut Haerin yang ingin memekik tertahan, “Jangan beritahu siapa-siapa! Termasuk Kai!” bisik Suho keras, wajahnya terlihat khawatir. Haerin pun mengangguk mengerti dan menunjuk ke telapak tangan Suho yang masih menutupi mulutnya.

Suho pun langsung melepaskan tangannya, “Giliranmu,”

“Sebenarnya aku penasaran kepada…”

Dua piring mini okonomiyaki yang beraroma sedap menyeruak memasukki hidung Haerin dan Suho. Pernyataan Haerin pun terpotong. Pelayan wanita yang sebelumnya mencatat pesanan mereka kembali sambil meletakkan pesanan mereka dan dua gelas bubble tea rasa taro dan cokelat.

Haerin langsung menyambut makanan miliknya dengan semangat, sementara pelayan wanita itu hanya memandangnya dengan pandangan sedikit sarkastik. Lalu beralih memandang Suho sambil tersenyum, “Silahkan dinikmati,” ucapnya, menatap Suho.

Suho hanya menyahutinya dengan tersenyum manis, sementara pelayan itu berjalan melalui mereka. Haerin berpikir mungkin sehabis ini pelayan itu akan bercerita kepada pelayan-pelayan yang lain bahwa ia baru saja bertemu dengan pangeran di kehidupan nyata.

“Kau… tidak keberatan, kan, kalau aku memesankanmu bubble tea rasa taro?” tanya Suho sambil mengambil sebilah pisau untuk memotong mini okonomiyaki miliknya. Haerin menggeleng dengan mengunyah potongan okonomiyaki yang berada di mulutnya. Suho mengangguk dan melanjutkan makannya.

Mereka melanjutkan memakan makanan mereka sampai habis, tak ada satupun kata-kata yang keluar saat itu. Dan saat mereka sudah selesai pun, tak ada salah satu dari mereka yang berniat untuk melanjutkan permainan jujur-jujuran yang tadi.

Setelah membayar makanan mereka, mereka pun berjalan keluar dari distrik Myeongdong. Mereka berdua bermaksud untuk melihat-lihat keadaan kota. Suho maupun Haerin tidak keberatan untuk jalan kaki, karena menurut mereka itu hanya akan menghabiskan waktu dan mereka jadinya tidak sempat melihat pemandangan kota Seoul di malam hari.

Mereka terlihat persis sekali pasangan yang baru jadi, Haerin tidak lagi bersikap canggung seperti sebelumnya. Sikapnya kali ini lebih terlihat berani walaupun sesekali Suho masih bingung dengan sikap gadis itu yang kembali seperti biasa, polos dan lugu.

Suho sebenarnya merasa senang karena gadis itu tidak lagi sepenuhnya bersikap tertutup kepadanya. Haerin sudah bisa tertawa terbahak saat mendengar lelucon garing Suho, bahkan Haerin tidak malu untuk menertawai dirinya sendiri saat ia hampir saja jatuh tersandung batu. Suho merasa puas karena menurutnya, aku yang membuatnya seperti itu.

Beberapa kali Suho berniat untuk meraih tangan kecil gadis itu, tetapi entah kenapa, seakan gadis itu mengetahuinya, tangan kecilnya selalu bergerak seperti menghindar saat tangan Suho sudah hampir meraihnya. Seperti sekarang, Suho mencoba lagi untuk menggenggam tangan Haerin, namun tiba-tiba Haerin memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya.

Kedua pasang kaki mereka ternyata membawa mereka kedepan menara Namsan Seoul Tower. Haerin mengangkat wajahnya untuk melihat sampai keujung tinggi menara tersebut. Suho hanya menghela napas mengingat kapan terakhir kali dirinya pergi kesitu. Ah ya, dua tahun yang lalu sepertinya.

Haerin pun beralih menatap Suho dengan tatapan penuh harap agar ia dibolehkan pergi keatas. Suho yang melihat puppy eyes milik Haerin tidak bisa mengelak, ia pun dengan sengaja dan mengambil kesempatan dalam kesempitan, ia menggandeng tangan kanan Haerin untuk naik keatas menara.

Suho tersenyum karena dirinya berhasil menggenggam tangan Haerin, walaupun hanya gandengan biasa. Ternyata tangan Haerin benar-benar kecil dan terasa hangat, sangat nyaman berada di genggaman tangan Suho.

Jantung Suho berdegup kencang, wajahnya menjadi sedikit memerah saat dalam perjalanan keatas, di dalam lift, Haerin mendekatkan tubuhnya ke Suho karena ramainya orang-orang yang berada dalam lift. Sekarang posisi Haerin berada di depan Suho, tangannya masih menggenggam tangan Suho, dan tangan Suho sedikit melingkar di bahu Haerin, sehingga mereka terlihat seperti ‘hampir’ pelukan.

Pada saat lift sudah berada di lantai paling atas, ramainya dan rusuhnya orang-orang yang ingin cepat-cepat turun dari lift membuat Haerin semakin terhimpit di pelukan Suho. Suho merasakan kehangatan yang menjalar keseluruh tubuhnya seperti sengatan listrik. Kepala Haerin kali ini berada di atas dada Suho, sehingga Haerin bisa merasakan degup jantung Suho yang berdetak cepat. Wajah Haerin saat itu juga langsung memerah dan ia cepat-cepat menjauhkan wajahnya dan menarik tangan Suho untuk segera keluar dari lift.

Dan saat itu, Haerin dan Suho merasakan angin malam yang sejuk menerpa kulit wajah dan hidung mereka. Angin malam yang membuat poni di dahi Haerin menjadi sedikit berantakkan, membuat Suho yang melihat itu segera merapikannya.

Haerin memerhatikan dada Suho yang hanya berjarak kurang dari lima senti di depan wajahnya. Haerin bisa merasakan wajahnya memanas, sementara aroma khas milik Suho mulai menyeruak masuk ke hidungnya, membuat gadis itu diam-diam menikmati aroma antara cologne bayi dan wangi khas anak laki-laki.

Suho tersenyum saat melihat poni Haerin yang sudah kembali seperti biasa, wajahnya kembali mengeluarkan semburat berwarna pink lembut di kedua pipinya.

Oppa, ayo kita kesana,” ajak Haerin memecah keheningan, gadis itu pun lagi-lagi menarik tangan Suho untuk mengikutinya. Haerin berjalan mendekati tumpukkan gembok-gembok dengan berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna yang menggantung memadati seluruh sisi pagar pembatas. Haerin sampai mengira bahwa takkan ada lagi celah untuk menggantung gembok disitu.

Sementara Suho hanya berkeliling seraya memerhatikan beberapa tulisan di gembok yang menarik perhatiannya. Ia kerap tersenyum terharu saat melihat ada gembok yang bertuliskan salah satu lirik lagu milik EXO. Suho pun mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Haerin yang seharusnya berada di sebelahnya. Namun lelaki itu mengerutkan dahinya saat ia tidak melihat gadis itu disebelahnya. Suho menghela napas lalu berjalan hampir ke sekeliling teras menara untuk mencari Haerin. Beruntung Haerin ditemukan tepat di salah satu sisi pagar, sedang melihat pemandangan dibawahnya dengan pandangan kagum dan polos seperti biasa.

Suho beranjak untuk mendekati Haerin dengan berlari kecil, saat ia sudah berada di sebelah gadis itu, ia mengikuti arah pandangan gadis itu yang tertuju pada timbunan pepohonan di bawah menara. Sungai Han pun mengintip kecil-kecil di sela-sela pepohonan yang lebat. Lampu-lampu yang berasal dari gedung-gedung tinggi di sekitar menara pun terlihat sangat indah di malam hari. Suho seringkali tidak mempercayai omongan teman-temannya yang bilang bahwa kota Seoul di malam hari terlihat lebih indah jika dilihat dari atas menara Namsan, Suho berpikir bahwa mungkin akan sama saja seperti yang ia lihat dari balkon apartemennya. Namun ternyata ia salah.

Suho mengakui bahwa pemandangan ini benar-benar indah, semakin indah karena ia bersama orang yang disukainya saat ini.

Apa? ‘Disukai’? tanya Suho dalam hati.

Suho kembali melirik gadis di sebelahnya, Haerin masih saja tersenyum sambil melihat pemandangan di bawahnya. Bahkan mungkin ia tidak menyadari Suho yang berada di sebelahnya. Lelaki itu memerhatikan seluruh lekukan yang berada pada gadis itu. Dahinya yang tertutup poni, matanya yang selalu berbinar, hidungnya yang kecil mencuat, pipinya yang sedikit tembam, bibir kecilnya yang merah, dan tubuhnya yang mungil. Suho membayangkan tubuh mungil itu berada di pelukannya, memberikan kehangatan dan kenyamanan.

Tiba-tiba Suho secara refleks menepis tangannya di depan wajahnya untuk menghilangkan pikirannya itu. Haerin sampai menoleh kearah Suho karena Suho menggerakan tangannya tiba-tiba.

Oppa, lihat. Indah, ya?” tanya Haerin seraya menunjuk kearah pepohonan yang berada dibawahnya sambil tersenyum senang. Suho mengikuti arah yang ditunjuk Haerin, lalu mengangguk setuju.

Tetapi wajahmu lebih indah daripada pemandangan disini, sahut Suho dalam hati. Suho benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya yang terus terpaku pada wajah kekanakkan Haerin. Dengan tidak sengaja Suho pun mengelus punggung Haerin, gadis itu terlihat seperti tidak menyadarinya. Begitu sadar Suho langsung menarik tangannya dan berharap dia tidak menyadarinya.

Tapi ternyata dia menyadarinya, “Tadi itu apa?” tanyanya polos sambil menoleh kearah punggungnya, “Kau… menepukku?”

Suho langsung gelagapan, tangannya yang  ia tarik ternyata masih berada tidak jauh dari punggung Haerin, “Ah, ya, tadi ada… serangga, makanya aku langsung menepuknya supaya serangga itu pergi. Iya, begitu,” Suho terkekeh canggung.

Haerin hanya menatap Suho polos, lalu menoleh kearah punggungnya lagi, “Oh, ada serangga, ya,” Haerin pun menatap Suho sambil tersenyum kecil. Suho pun mendengus lega, ia pun menaruh kedua tangannya untuk bersandar di pagar, menemani Haerin yang masih menikmati pemandangan, tetapi kali ini bukan pemandangan lagi yang Suho ingin lihat.

Melainkan objek yang berada di sebelahnya ini.

======================

Suho dan Haerin memutuskan untuk kembali ke apartemen saat jam sudah menunjukkan pukul 00.30 KST. Saat turun dari menara Namsan, ternyata Haerin sudah kehilangan setengah kesadaran dan keseimbangannya. Jadi Suho harus berjalan sambil memapahnya, takut-takut kalau gadis itu lepas dari tangannya, gadis itu akan jatuh terjerembab ke depan.

Suho akhirnya berjalan kearah stasiun kereta MRT untuk mengantar mereka berdua pulang. Karena percuma saja jalan kaki, bisa-bisa Suho harus menggendong gadis itu sampai ke rumah. Sebenarnya Suho tidak begitu keberatan tetapi ia merasa ada yang janggal maka dari itu ia lebih memilih untuk menaikki MRT.

Lelaki itu masih saja menuntun Haerin yang kedua matanya sudah hampir menutup saat menuruni tangga stasiun. Karena takut gadis itu akan jatuh terguling-guling di tangga, Suho menarik pinggang Haerin untuk lebih dekat dengannya. Lalu Suho kembali merasakan sengatan aneh saat ia memeluk pinggang Haerin. Tetapi Suho hanya tersenyum, ia tidak peduli dengan kata-kata yang berada di otaknya, ia sudah percaya dengan kata hatinya sendiri.

Kereta yang akan mengantar mereka pulang pun sudah sampai, Suho merasa beruntung karena kereta tengah malam tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa mendapatkan dua tempat duduk yang bersebelahan.

Haerin duduk di sebelah Suho, kepalanya perlahan-lahan menunduk karena mengantuk. Beberapa menit setelah kereta berjalan, Haerin sukses tertidur, masih dengan posisi menunduk.

Suho yang melihat itu pun tahu bahwa gadis itu tertidur. Dengan lembut ia membawa kepala Haerin untuk disandarkan di pundaknya. Tangan kanannya yang memegang kepala Haerin perlahan bergerak mengelus rambut halus kecoklatan milik gadis itu. Jantung Suho semakin berdebar saat Haerin membenarkan posisi tidurnya sehingga Suho bisa menurunkan tangannya, mendekap gadis lebih erat kearahnya. Merasakan dengkuran halus milik Haerin yang terasa di dadanya. Suho memerhatikan wajah polos Haerin yang tertidur, ia benar-benar terlihat seperti bayi yang sedang tidur di pelukan ibunya. Wajahnya benar-benar tenang dan gadis itu tidur dengan nyenyaknya.

Suho tersenyum, membiarkan tangannya mendekap Haerin lebih dalam ke pelukannya. Sekali lagi mengelus rambut Haerin dengan lembut.

Dan Suho benar-benar yakin bahwa ia jatuh cinta dengan gadis ini.

===========to be continued===========

26 pemikiran pada “A Long Summer With 6+1 (Chapter 12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s