Sunset

Title: Sunset

Cast: Sehun

Genre: sad romance, songfic, friendship

Rating: G

Lenght: Oneshot

Author: bluehigh (@blue_high17)

sunset

Note: read this with listening JKT48-Ponytail to Shushu

Disclaimer: This if songfic, that idea is from me and inspiration from JKT48 Ponytail to Shushu

 

-Sunset-

 

 

Lebih cepat dari hari di kalender

 Aku pun menyingsingkan lengan baju

 Matahari pun mulai terasa dekat

“Sehun-ah bangun,” kata eomma sambil membangunkanku. Membuka tirai kamarku. Sinar matahari masuk menerobos jendela, membuat mataku silau

“Hmm, eomma, nanti dulu aku masih mengantuk” ucapku setengah sadar. Kataku sambil menarik selimutku untuk menutupi mataku yang merasa silau oleh cahaya matahari.

“Ia sudah keluar rumah, tadi eomma lihat ia sedang jalan menuju kesini, kau tak mau membuatnya menunggu lama kan?” mendengar itu aku langsung bangun dari ranjangku dan mengambil handuk lalu bergegas mandi.

Aku menuruni tangga, eomma, appa, dan dia sedang duduk di meja makan menungguku, aku hanya tersenyum dan memasang wajah innocent khasku akan keterlambatanku, semua tak mempermasalahkannya, karena itu sudah kebiasaanku, menjadi paling terakhir di meja makan, lalu menarik kursi disebelah appa, dan duduk tanpa rasa berdosa.

“Annyeong” sapaku pada penghuni meja makan, appa hanya mengangguk. Lalu ia melanjutkan kegiatan paginya, membaca koran.

“Annnyeong Sehun-ah” jawabnya dan eomma.

“Ayo makan, baru kalian berangkat sekolah”

“Ne, ahjumma” jawabnya sopan lalu memakan makanannya dengan pelan, ingin sekali aku menertawainya, ia tak makan seperti biasanya, yaitu makan dengan lahap, tak perduli siapa didepannya, sekalipun itu superstar sekolah. Sekaliapun ditanya, ia hanya mengatakan kau siapa? Ratu Inggris? Kaisar Jepang? Jika ia aku baru mau makan dengan anggun dihadapanmu! Tetapi  jika ia makan bersama orang yang lebih tua maka ia makan dengan tenang dan sopan. 180 derajat berbeda.

=Flashback-

Laut yang biru di tepi pantai itu

 Ingin jumpa denganmu, bertelanjang kaki, bermain air

“Ayo Sehun-ah, cepat, ayo kita kejar ombaknya” katanya riang sepatu sneakers birunya ia tenteng.

“ne tunggu” aku melepas sneakersku abu abuku, dan mengejarnya.

Dia terus berlari dengan cerianya, aku berlari mengejarnya. Ia mempercepat larinya. Rambutnya yang dikuncirnya bertebangan, tetapi tidak menghalangi pandangannya kepada sunset yang indah. Lalu ia menengok kearahku dengan senyum manisnya, senyum yang paling manis dari semua senyum yang diberikannya kepadaku.

Poniiteru (terus melambai) dihembus angin

 Kamu pun berlari (aku pun berlari) di atas pasir

 Poniiteru (terus melambai) kau pun menoleh

 Dengan senyumanmu (senyuman musim panas dimulai)

“HAHAHA” tawanya, lalu ia menghempaskan tubuhnya di pasir, aku hanya mengikutinya, berbaring disampingnya. Ia terengah engah, terlalu cepat berlari, apa lagi ia berlari dari bagian utara pantai sampai selatan pantai. Aku tersenyum melihatnya. Lalu ia menunjuk sunset dan memfotonya dengan camera kesayangannya.

“Nan michyeoseo? huh?” tanyaku padanya. Tapi ia tak mengubris pertanyaanku.

“Lihat Sehun-ah sunsetnya sangat bagus, sayangnya tertutup awan yang menghiasi langit hari ini” katanya sambil menunjuk langit, aku hanya mengangguk membenarkan perkataannya.

 

=flasback end-

“Sehun-ah, kau sudah selesai makan kan? Kajja kita berangkat sekolah, nanti kita terlambat” katanya membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne” jawabku terperangah.

Kami pergi menuju sekolah, kami berteman dari kami kecil,banyak orang yang tahu akan hal itu, dari playgroup sampai SMA keberuntungan selalu menyertaiku, aku selalu satu sekolah dan sekelas, bahkan ia duduk didepanku, aku Oh Sehun, seseorang anggota tim basket dan anggota Club dance, sedangkat ia seseorang yeoja yang manis dan tomboy dari club fotografi dan Geografi. 2  club yang sangat berhubungan bukan?

Aku memarkirkan motorku di pojok tempat parkiran sekolah, kami turun dan berjalan dan menuju kelas, baru kami menaruh tas, bel berbunyi dan Jung seosangnim masuk,

Jung seosangnim guru muda yang disiplin. Ia selalu berjalan menuju kelas sebelum bel, 1 detik sebelum masuk ia sudah sampai depan kelas. Seperti sekarang, baru beberapa detik yang lalu bel ia sudah sampai didepan kelas. Gaya bajunya rapih, tetapi rambutnya seperti seorang sastrawan.

“Anyeong haseo, hari ini, buatlah cerita tentang kebudayaan negara kita, 3 halaman saja, sebelum kelas saya selesai harus sudah selesai” kata Jung seosangnim tegas. Ia mengangguk mengerti dan memakai kacamata minusnya, aku menendang kursinya. Ia mendecak kesal dan menengok kebelakang tempatku berada,

“hehe” aku hanya tertawa kecil.

“Wae Sehun-ah?” tanyanya heran dengan wajah perpaduan polos, bingung dan manis. Ia sangat lucu, dengan kacamata kotak besar, dan rambutnya dikuncir manis. Aku hanya menggeleng kecil. Lalu ia menghadap kedepan, dan melanjutkan narasinya.

Mentari sinari ruang kelas

Hawa tepat tuk terbuai lamunan

Melihat kamu yang duduk di depanku

Membuat rasa sakit timbul di dada

“sehun-ah, narasimu sudah? Kau punya ide lain?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Tambahkan saja tentang makanan, tarian, tempat,” jawabku asal, ia langsung merebut punyaku,

Walau ku suka namun tak terucapkan

Hanya pada sosokmu ku impikan perasaanku

Apakah dia tahu aku menyukaiku? Tentu saja tidak, aku tak akan pernah menyatakan perasaanku padanya, akan aku pendam selalu perasaanku ini.

“Kau sudah 3 halaman Sehun-ah, kau hebat” pujinya, aku bingung kapan aku mengerjakannya, mungkin saat aku melamunkannya.

Poniiteru (membuatku sedih) di dalam mimpi

 Seluruh dirimu (seluruh diriku) ingin miliki

 Poniiteru (membuatku sedih) cinta tak terbalas

 Mata pun bertemu (saat ini kita sebatas teman)

Tentu saja tidak, kami hanya sebatas teman, tidak lebih. Aku tahu itu, ia tak pernah menganggapku lebih, sebatas teman, sahabat, tidak lebih, takkan pernah lebih dari itu. Takkan lebih dari itu

SELAMANYA.

“Sehun-ah, nanti temani aku kepantai lagi ya?”

“Untuk apa?”

“Aku ingin memfoto sunset lagi”

“Memangnya yang kemarin kenapa?”

“Kurang terasa sunsetnya, lagipula kemarin sudah kubilang, sunsetnya tertutup awan”

“Hmm?” aku menimbang nimbang ajakannya, jika aku terima aku semakin lama dengannya.

“yayaya?” sekarang ia beragyeo dengan lucu.

“Baiklah”

“Gomawoyeo Sehun-ah” aku yakin pasti ia tadi mau memelukku, sama seperti biasanya jika aku mengabulkan permintaannya.

“Sudah sana lanjutkan lagi narasimu, aku ingin mengumpulkan punyaku” kataku lalu berdiri dan menghampiri Jung seosangnim dan menyerahkan narasiku. Lalu aku kembali dan berencana untuk tidur, pelajaran Jung menghabiskan 3 jam pelajaran, dan 1 jam pelajaran itu 40 menit, masih ada 30 menit lagi sebelum Kang seosangnim masuk. Baru saja aku tidur beberapa menit.

“Sehun-ah, Sehun-ah” kata sedikit berteriak, membangunkanku dari tidur.

“Kau mengganggu waktu tidurku pabbo” aku sedikit membentaknya. Ekspresinya langsung berubah. Ia menundukkan kepalanya dalam dalam, air mukanya berganti sedih dan ketakutan.

“Mi… mianhae Sehun-ah, aku hanya ingin bertanya” katanya dengan sedikit takut. Tak berani menatap mukaku

“Apa? Mianhae tadi aku membentakmu”

“Apakah kau sudah mengerjakan tugas geografi yang diberikan oleh Kang Seosangnim?” tanyanya ceria. Aku mencoba mengingat ngingat apakah aku sudah mengerjakannya?”

“Oh ya aku belum mianhae, memangnya kau juga belum mengerjakannya?“ kataku padanya

“Anii… Aku sudah, kau mau menyalinnya? Kau tahu Kang seosangnim tidak segan segan menghukummu dengan menggandakan soalnya menjadi 2 kali lipat, kau tak lupakan?” katanya sambil mencari buku geografinya, ketika ia menemukannya ia langsung menyerahkan bukunya. Aku membuka tasku dan mengambil buku geografi. Lalu menyalin tulisannya yang sangat rapih. Ketika selesai aku mengembalikannya.

“Gomawo” kataku sambil menyodorkan bukunya.

“Cheomnayeo” balasnya sambil tersenyum. Lalu mengeluarkan buku paket geografi.

-Sunset-

 

“Sehun-ah, itu sunsetnya indah sekali, 100 kali lebih indah dari yang kemarin” katanya sambil menunjuk langit tempat matahari terbenam.

“Tentu saja pabbo,” di mengerucutkan bibirnya, cemberut, tidak suka atas panggilanku kepadanya. Aku hanya tertawa kecil melihat ekspresinya, tuhan ciptaan didepanmu ini memiliki beragam ekspresi yang sangat indah, semoga selamanya seperti ini.

“Aish, lihat itu Sehun-ah, disana putih dan tersentuh warnabiru sedikit, lalu yang sana orange, kuning dan merah” katanya menunjuk langit di belakang kami lalu menunjuk sunset kembali.

Langit putih bercampur biru diangkasa luas telah terhias warna merah lembayung, bercampur warna kuning jeruk dan orange dengan gumpalan-gumpalan awan yang tergantung disejumlah sudutnya. Berjejal memayungi laut dengan warna airnya yang biru perak kegelapan. Berkumpul dan seperti teronggok ke atas.

Rambut panjangmu yang terkuncir, ikat polcadot shushu

 Ikatan cinta itu takkan bisa ku tangkap

 Jika ku sentuh akan menghilang ilusi ini

Secara tiba tiba ia berlari meninggalkanku, berlari menuju selatan pantai ini, aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. Rambut panjangnya ia ikat kuda dengan ikat rambut yang kuberikan padanya, dengan motif polkadot putih biru, warna kesukaannya. Sepatu flatnya ia tenteng ditangan.

Menyusuri pantai, ombak pantai melebur perlahan, membawa butir butir pasir kecoklatan menjadi bersih terbasuh air laut. Masuk kembali ke Samudra luas tanpa rasa bersalah. Ia tersenyum kepada pantai. Bagai menyuarakan sapaannya kepada pantai yang paling ia sukai ini.

Sesekali ia mendekati ombak pantai. Lalu berlari menjauhinya, seakan mengejek. Childish. Itu salah satu kepribadiannya. Kalau kau baru pertama kali mengenalnya kau tak percaya bahwa ia seseorang yang ramah, ceria, childish.

Poniiteru (janganlah kau lepas) tetaplah begitu

 Seperti dirimu (seperti diriku) kita berlari

 Poniiteru (janganlah kau lepas) sampai kapanpun

 Tetaplah menjadi (si gadis ceria selamanya)

 

Aku mengejarnya sambil tertawa lepas. Ia ikut tertawa melihat tingkahku. Ia mengataiku Childish. Memang ia berkata tidak dengan suara, tapi dari gerakan mulutnya aku tahu ia mengatakan apa.

Dan dia ingin melepas ikatan rambutnya, langsung kuurungkan niatnya dengan memegang tangannya, lalu ia melihat kearahku aku hanya menggelengkan tanganku. Ia hanya mengangguk mengerti dan duduk dihamparan pasir, memejamkan matanya dan menghirum dalam dalam udara pantai, lalu mengambil camera yang tergantung di lehernya lalu membuka matanya dan membidik sunset beberapa kali, selesai itu ia kembali meletakkan cameranya dan menutup matanya. Aku mengambil handphoneku dan memfotonya secara sembunyi.

“Bercintalah kalian, kalahkan cerita romantis Romeo dan Juliet, ungguli semua kisah kisah teromantisyang terlahir didunia ini dengan kisah kalian” teriakku.

“Kau benar Sehun-ah, khajja kita pulang, aku tak mau kita dimarahi” katanya sambil berdiri. Lalu berlari meninggalkan diriku, dengan rambut yang dikuncir kuda dan dress biru yang tersapu angin. Rasa hangat menjalar ditubuhku melihatnya. Sampai kapanpun aku akan mengagumi ciptaan tuhan yang indah ini.

-END-

Gimana bagus enggak? Kalau nggak, mian

Khamsahammida yeorobun! For read my fanfiction

Please give a comment, dont be a silent readers please!

Iklan

16 pemikiran pada “Sunset

  1. Gantung nih!
    Sehun belum nyatain perasaannya
    kalau dah di nyatain kan tambah kece , apalagi DAG DIG DUG DER-nya nanti di terima apa gak
    But for all ok!
    Fighting buat karya2 yang kece2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s