Bullets Through My Heart (And Daggers Through Your Soul)

Bullets Through My Heart (And Daggers Through Your Soul)
Kim Jongin (EXO), Kim Raena (OC); romance, fluff, angst; PG-13; 1221 words (ficlet)
written by leesungra
note: this is, well, made for this prompt. don’t expect too much, please.

after the darkness passes
none of this will have happened
it’s not you who will become short-lived
dear, just live your life as how it used to be
even if i won’t be there to look after you,
my love will protect you

—–

Jongin, dengan rambut acak-acakan, mata sayu oleh beban kantuk dan setengah badan tertimbun dalam selimut kusut, masih bisa tersenyum pada Raena setelah mencium pipi gadis itu cepat dan berkata, “This is the day I’ll die, right?”

Raena menggeleng kuat, “No. Not yet.” sanggahnya, perlahan menundukkan kepala ketika melihat senyum Jongin berubah menjadi tatapan tajam. Raena tahu apa yang akan dikatakan Jongin setelah ini, selalu sama. Selalu memilih menyerahkan diri (atau nyawa, istilah lain dari Jongin), supaya Raena bisa pergi, katanya. Bahwa Raena tidak bisa menunda-nunda lagi, tenggat waktu yang diberikan padanya habis hari ini –pilihannya hanya dua; hari ini Jongin mati, atau keduanya yang mati. Bagi Jongin, lebih baik ia membiarkan Raena menghabisinya daripada ada orang lain yang menodongkan senjata api berpeluru kaliber 9mm ke arah jantungnya.

“Sudah berapa kali kita membicarakan ini, Rae?” Jongin menghembuskan napas kasar, nyata-nyata sedang berusaha mengatur emosinya. “This is your duty as Lune and we can do nothing about that. It’s alright for me to be killed by my dearest Lune, rather than having some random dude with his Glock upon me and its bullets darting through my chest.

“Tapi…” gadis itu mencoba mengangkat wajah, menunggu Jongin menyela bicaranya. Laki-laki itu hanya diam, memandangnya dengan ekspresi seolah menunggu gadis itu kembali membuka mulut–yang lalu dilakukan Raena, “We can just, like, run away. To live our happily-ever-after fairytale. To get out of this mess, forgetting these tangled problems…” isakannya makin menjadi saat jemari Jongin menyentuh pipinya, menyusut air mata yang terus-menerus mengalir dari sudut matanya. “Kita bisa pergi ke negara lain, mengganti identitas, kemudian memulai hidup dari awal. I will be Lune no more, dan…”

How?” sela Jongin pelan, “Bagaimana kita bisa kabur? Mengganti identitas, katamu? Dalam waktu sesempit ini? It won’t work, Rae. Bahkan kalau kita melakukannya sejak berbulan-bulan yang lalu, atau bertahun-tahun yang lalu, aku pesimis rencana itu akan berhasil. Kau sendiri yang mengatakan padaku kalau komplotanmu bisa melacak target mereka meski situasinya bisa dibilang hampir mustahil. Bagaimana denganmu yang anggota komplotan itu sendiri? Mencari posisi anggota yang membelot pasti jauh lebih mudah bagi mereka, kan?”

Raena tidak menjawab.

Jongin beranjak dari tempat tidur tanpa suara. Ia menghampiri lemari kecil yang terisi barang-barang Raena, membuka laci terbawah dan pelan-pelan menarik handgun yang terbungkus case kulit. Tidak terlalu berat, membuat Jongin merasa agak miris karena benda kecil itulah yang sebentar lagi akan menghabisinya. Diletakkannya bungkusan itu di pangkuan Raena setelah ia memaksanya duduk di tepi ranjang, sebelah lengan merayapi bahu Raena yang terbuka sebelum merangkulnya erat. Ia memperhatikan Raena membuka sarung pembungkus mesin pembunuh skala kecil itu, dengan hati-hati menumpahkan isinya di atas gaun tidur yang ia pakai. Ketika mata Raena beralih padanya, Jongin menaikkan sebelah alis, “Apa?”

“Kenapa kau memilih mati daripada melarikan diri, bahkan meski kau sudah tahu orang yang akan membunuhmu hanya gadis sepertiku?”

A little girl who knows how to operate a handgun and still manages to stole my heart, maksudmu,” Raena tak percaya Jongin masih bisa terkekeh di situasi seperti ini, lebih-lebih menyelipkan rayuan dalam kalimatnya. “Pretty much because i have no other option, right? Bukankah pilihan yang ada hanya aku mati atau kita berdua mati? The first one is so-very-much better. I don’t want to see you die. This…” Jongin perlahan menangkupkan kedua tangannya di pipi Raena, menarik gadis itu mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan, “This is what I can do for the love of my life. Aku tidak bisa menjanjikanmu hidup bahagia selamanya, so the least thing I can do for you is giving you my life. Dalam arti sebenarnya. Dan lagi, sepertinya mati lebih baik daripada hidup dengan menanggung beban mengurus perusahaan dan sebagainya, atau berurusan dengan pembunuh bayaran yang lain. That’s too much stress to me, I can handle it no more.

Wajah Raena memucat, “What kind of ridiculous reason is that?!” teriaknya, “The hell, Jongin? Why are you giving me such answer? Dan kau tidak bersalah! You have nothing to do with my boss, it’s something between him and your father. Nonsense. This whole thing of killing you… it speaks fucking nonsense to me.” isakan lagi, “You don’t deserve to be killed, Jongin…”

Please,” nada suara Jongin berubah memohon, sepasang mata sayu beriris cokelat gelap menatap Raena yang masih ragu-ragu dengan senjata api di tangannya. “Please, Rae. Don’t hesitate anymore, just… take my heart away, and I’ll be okay. You’ll be okay. Just pretend nothing had happened between us.

H-how can I?” bila lengan laki-laki itu tidak tengah merengkuhnya, Raena pasti sudah merosot dari tepian kasur. Kakinya lemas, gemetaran bukan main–lucu, karena seharusnya bukan ia yang ketakutan setengah mati. Tapi memikirkan ia harus berpura-pura Jongin tidak pernah ada dalam hidupnya seperti yang ia lakukan pada korban-korbannya yang lain… tidak, itu sama saja mati baginya.

Ia membiarkan Jongin menggamit pergelangan tangannya dan menariknya hingga berdiri, memposisikannya di dekat dinding sebelum berjalan ke seberang ruangan dan berdiri diam, masih dengan senyum tipis bermain di ujung-ujung bibir laki-laki itu.

Jongin masih bisa tersenyum saat Raena sudah sekarat.

Close your eyes. Sebelumnya, arahkan senjatamu ke sini,” Jongin menepuk tempat jantungnya berada, ringan tanpa beban. “I’ll stand still and close mine, too, don’t worry. Make it fast, won’t you? Aku tahu kau tidak akan meleset, Lune.”

“Jangan memanggilku dengan nama itu.”

Jongin tertawa pelan, “Aku tidak akan memakai nama itu untuk memanggilmu kalau kau berhenti menangis.”

Raena mengatupkan rahang dan perlahan mengangkat tangannya, mengarahkan moncong pistol di tangannya ke dada Jongin, membidik ke titik yang ia tahu pasti akan membunuh Jongin dalam sekejap.

Baby, don’t cry, please. I love you.

Satu letusan kecil pistol yang ditarik pelatuknya dan tubuh Jongin telah tersungkur, diam tanpa ada tanda-tanda kehidupan lagi. Tidak ada erangan–timah panas yang dibidikkan Raena tepat mengenai jantung laki-laki itu di tempat vital dan membunuhnya nyaris seketika.

Napas Raena tersengal, genggamannya pada handgun melonggar hingga benda itu jatuh dan menimbulkan bunyi kelontang keras dari plastik dan besi yang bersentuhan dengan lantai. Bercak crimson yang mewarnai bagian depan gaun tidurnya sewarna dengan darah yang mengalir deras dari dada kiri Jongin, yang menodai selimut dan pelan-pelan menggenang di lantai. Dengan mata terpejam dan senyum tipis terulas di wajah, orang mungkin akan mengira Jongin tengah tertidur daripada baru saja ditembak mati oleh gadis yang terduduk lemas di sebelahnya.

—–

Hi, dear,” seorang perempuan bermantel hitam pekat berkata pada foto yang tertempel dalam pigura yang disandarkan di depan nisan. Sementara ia perlahan mendudukkan badan, sebelah tangannya merogoh saku mantel dengan terburu-buru “I miss you, like, really, really, really much. I think I’ve gone crazy thanks to you; hari ini aku kabur dari kumpulan orang-orang kejam itu. They’re hunting me, I know, and I think I don’t have that much time to be spent by talking to your photo like a lunatic, so…

Ia menarik sebelah tangannya dari saku bersama sebuah belati pendek. Mata belati memantulkan sinar lampu penerangan yang sedikit redup, tapi ia tak kesulitan menemukan jejak denyut nadinya dalam kegelapan. Ditariknya napas panjang sebelum menempelkan sisi belati di pergelangan tangannya, sedikit bergidik ketika dingin logam menyentuh kulitnya. “Let’s meet again. I hate being trapped here without your presence to cherish my day.

This is the end, dear.

end.

end note: um, halo. Uh, this is my first (ever) attempt on writing something with character death in it (my last ficlet only triggers to/mentions character death without actually picturing it), so… please be kind enough to bear with the plot and my lame description. ^^;;;
dan kalau bingung, I’ll try to answer and explain anything I could. Thanks for reading! 🙂

Iklan

77 pemikiran pada “Bullets Through My Heart (And Daggers Through Your Soul)

  1. well kalao saia d’posisi Raena juga bakalan ngikut mati sama kkamjong gimana mau idup kalo love of ma life udah ngga ada plus no support from any other human being ckckckckk

Tinggalkan Balasan ke ciciparamidha Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s