I Was Poor, Problem (Chapter 1)

Glitter_Texture_04_by_Mifti_Stock

Author : Mingi Kumiko

Main Cast :

– Shim Jung Hee

– Kim Jong In (Kai)

Support Cast :

– Shim Young Dae

– Oh Se Hoon

– Shim Joon Hee

– Park Chan Yeol

– Byun Baek Hyun

Genre: Romace, family, friendship, and school life.

Rating: PG-15 (part depan mungkin naik) 

“Junghee, kerjakan PRku ya!” pinta seorang temanku sambil melempar halus bukunya yang masih terlihat kosong karena ia sama sekali belum mengerjakan PRnya.

“Oke!” jawabku dengan riang gembira.

Ya, kalian tidak salah paham, dengan sangat riang gembira. Kenapa aku bisa riang gembira? Karena setelah mengerjakan PR ini aku akan mendapatkan uang. Semua kelas tahu tentang pekerjaan sambilanku ini. Itu sebabnya aku sangat senang jika ada orang kaya namun pemalas, karena aku bisa menawarkan jasa mengerjakan PR mereka.

Walaupun pekerjaan ini bisa dibilang murahan, tapi biarlah tak ada yang mempermasalahkan ini, bahkan hampir semua temanku senang dengan pekerjaan anehku. Kalian tahu kenapa aku melakukan ini? Tentu saja untuk menambah uang jajan.

Ayahku seorang penjaga kantin di sekolah ini, kadang saat istirahat aku membantunya. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, sangatlah khayal apabila penghasilan ayahku bisa mencukupi semua kebutuhanku dan kedua adikku. Jujur saja, ayah tidak pernah tahu dengan apa yang aku lakukan selama ini. Tapi kalau sampai ayahkuku tahu, hmmm… aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, mungkin ayah akan menghajarku habis-habisan.

“Baekhyun! Ini PRmu sudah kukerjakan!” teriakku sampai melemparkan buku ke arahnya. Baekhyun pun menghampiriku. Ia mengambil dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.

“Segini cukup kan?” tanyanya sambil menyerahkan 5 lembar uang kertas.

“Sangat cukup, gomawo!” kataku sambil membungkukkan badan kegirangan.

Ne, chonmaneyo..” balasnya.

Hahaha, enak kan menjadi sepertiku, hanya bermodalkan otak cerdas dan waktu sekitar 10 menit untuk mendapatkan uang!

Aku masuk sekolah favorit ini karena beasiswa. Tidak mudah untuk mendapatkan itu, aku harus belajar keras untuk mendapatkan beasiswa. Bagiku ini sangat sulit. Tentu saja, saat fajar aku membantu ayah untuk menyiapkan bahan-bahan untuk berdagang, pagi hari aku harus sekolah dengan berjalan kaki padahal jarak rumahku dengan sekolahku sangat jauh. Siang saat pulang, aku mengantarkan orderan koran, malamnya mengajari adik-adikku pelajaran yang kira-kira mereka tidak bisa agar mereka mempunyai takdir baik sepertiku. Dan waktu tidurku pun hanya empat jam sehari.

“Sudah dapat berapa won hari ini?” celoteh seorang namja di belakangku.

“Sekitar 15.000 won, kenapa?” balasku dengan tatapan sinis.

“Cih! Dasar orang kampung, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang banyak!” cibir lelaki itu yang membuatku ingin menonjok dan menjepitkan jemuran pakaian di bibir tebalnya agar ia menutup mulutnya itu.

Aku berusaha sabar dan mencari sebuah kalimat yang bisa membuat hatinya tertusuk, tapi apa ya? Aha, aku punya ide!

“Jika iya, kenapa? Ada masalah? Hidup-hidup siapa? Apa kau ikut mengurusiku, memberiku makan, dan membiayai sekolahku? Tidak kan? Kau hanya perlu diam dengan apa yang aku lakukan, toh ini tidak akan berpengaruh dalam hidupmu kan? Apa kau takut harta orang tuamu akan tersaingi olehku dengan pekerjaanku ini?” semprotku tanpa koma dan berhasil membuatnya kaku. Kena kau, Kim Jong In!

“Diam kau, Shim Jung Hee!” pekiknya.

“Kau yang menghinaku dulu, seharusnya kau juga menerima jika kuhina balik, paham?” kataku sambil menyundul dahinya dengan dua jariku dan memberikan tatapan remeh padanya.

“Kau…” katanya geram, sepertinya ia sangat kesal dengan perkataanku barusan. Tapi apa peduliku? Tidak penting sekali.

Lelaki barusan itu Kim Jong In, tapi lebih familiar dipanggil Kai, entah dari mana nama itu berasal, sama sekali tidak nyambung dengan nama aslinya. Lelaki yang kepintarannya hampir setara denganku. Dia adalah saingan beratku untuk merebut gelar juara umum. Tapi tentu saja dia tidak melakukan apa yang aku lakukan juga.

Dia ditakdirkan menjadi anak keluarga berkecukupan, bukan berkecukupan lagi sih, tapi sangat berkecukupan. Sifatnya sangat sombong, tapi sangat banyak gadis yang memuja-mujanya. Bahkan menurut penglihatanku, hanya aku yang berani melakukan penghinaan seperti tadi padanya. Aku hebat ‘kan?

Bel istirahat pun berbunyi, aku segera berlari menuju kantin untuk membantu ayah. Saat sampai di stan ayah, aku melihat stan itu sangat ramai. Kurasa bukan karena banyaknya pembeli. Tapi apa? Aku tidak tahu.

“Paman ini bagaimana sih?! Lihat lah bajuku jadi kotor begini!” teriak seorang lelaki yang terdengar membentak sangat kasar dan tidak tahu sopan santun. Aku menyelinap masuk melewati kerumunan menuju stan ayah. Kulihat ayah yang tertunduk sambil membawa sebuah piring bersisa makanan yang bisa dibilang berantakan berdiri di depan seorang lelaki dengan wajah penuh emosi.

“Ada apa?” tanyaku pada seorang murid paling depan.

“Ayahmu tidak sengaja menumpahkan makanan pada piringnya di baju Kai.” jelas murid itu.

“Jadi yang di mengomeli ayahku dengan kasar tadi itu Kai?” tanyaku dan dibalas anggukan oleh murid itu.

Aku pun segera menuju tempat insiden itu terjadi. “Berhenti memarahi ayah!” teriakku penuh emosi.

“Kau gadis kampung, jangan campuri urusanku!” balas Kai.

“Tentu saja aku harus ikut campur dia ayahku, sebagai anak aku tidak terima ayah dihina lelaki tidak punya aturan sepertimu!” kataku.

“Apa kau bilang?” tanyanya dengan tatapan tajam.

“Sudahlah, kalau tidak mau bayar jangan membuat alasan bahwa ayahku melakukan kesalahan.” ocehku membalas tatapan tajamnya.

“Lalu bagaimana urusan bajuku ini?” tanyanya sambil menunjuk bajunya.

“Huh! Apa kau tidak tahu bagaimana caranya mencuci, atau kau tidak punya pembantu untuk mencucikan bajumu, katanya orang kaya, tapi baju dengan sedikit noda saja mengeluhnya minta ampun! Sekarang ini jaman maju, tempat laundry and dry cleaning sedah berjejer dimana-mana.” ujarku panjang lebar dan penuh hinaan yang membuat Kai geram.

“Sudah sana pergi!” usirku,aku membalikkan badannya lalu mendorong pundaknya agar cepat pergi.

“Junghee, jangan terlalu kasar padanya, apa ayah mengajarimu berkata kasar seperti itu?” tanya ayah menenangkan emosiku yang masih belum stabil.

“Biarlah, lelaki tidak punya sopan santun seperti dia memang pantas di perlakukan seperti itu.” Jawabku.

***

 – Kai POV – 

Sialan! Aku dipermalukan oleh gadis norak seperti dia. Mau ditaruh mana mukaku ini?

“Kai!” panggil seseorang sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.

“Masuklah!” aku mempersilahkannya.

Annyong…” sapanya sambil celingukan menengok kanan-kiri.

“Ada apa, Sehun-ah?” tanyaku sambil tetap terfokus pada layar laptopku.

“Wah, wah.. yang tadi siang mengalami sebuah penghinaan besar!” sindir Sehun.

“Diam kau! Jangan bahas hal memalukan itu.”

“Lalu setelah apa yang ia lakukan padamu, apa yang akan kau lakukan?”

“Tentu saja membalasnya!”

“Kurasa jangan.”

“Kenapa?”

“Aku kasian padanya, dia kan dari keluarga susah, apa kau tega menambah beban hidupnya?”

“Karena dia dari keluarga susah, seharusnya dia tidak boleh mengatakan hal yang macam-macam pada keluarga berada sepertiku!”

“Itu lah keunikannya, siapa lagi gadis yang berani melakukan hal seperti itu padamu kalau bukan dia.”

“Aku tahu itu.”

Sehun pun berpamitan pulang setelah meminjam beberapa koleksi komikku. Aku mengantarnya sampai depan pagar. Setelah ia keluar aku pun duduk santai di depan rumah.

Pletak!

Tiba-tiba saja sebuah koran mendarat di kepalaku.

Aku penasaran siapa orang bodoh yang sukses dengan indahnya mendaratkan koran ini di kepalaku. Aku berlari kecil menuju pagar lalu melempar kan balik koran itu pada seorang loper koran. Ya! Kena. Loper itu menghentikan kayuhan sepedanya lalu mengahampiriku.

“Hey! Apa maksudnya kau melempar koran ini kembali, ini untuk dibaca!” omel loper yang wajahnya tertutup topi itu, sehingga aku cukup sulit untuk melihat wajahnya.

“Itu salahmu, kenapa melempar koran tidak hati-hati hingga kena kepalaku!” balasku sambil membuka topi yang menutupi wajahnya.

“KAU?!” teriakku kaget setelah tahu loper koran bodoh itu adalah Junghee. Gadis yang tadi terlibat konflik denganku.

“Kenapa ekspresimu lebay sekali sih, tidak pernah melihat loper koran secantik aku atau bagaimana?” tanyanya.

“Tunggu aku terkena hipermetropi dulu baru kau kubilang cantik!” sahutku.

Euh, ya sudah, berikan koran itu pada ayahmu, jangan kau buat melempar seseorang lagi. Tak ada gunanya aku berdebat denganmu!” tuturnya dan langsung mengayuh pedal sepedanya.

Jadi selama ini yang menjadi loper koran yang sering diceritakan dan dipuji-puji papa sangat bekerja keras, baik hati, ceria, ramah, dan pintar adalah gadis gila itu? Cih! Kukira gadis yang sering diceritakan papa itu akan menjadi gadis idamanku, tapi mulai saat ini, kucabut omonganku itu!

 

***

– Jung Hee POV –

Hari menjelang malam dan aku baru datang dari agen koran. Lelahnya hari ini dan aku pun langsung membaringkan tubuhku di kasur.

“Capeknya…” desisku sambil menggembungkan pipi.

Tiba-tiba saja aku teringat kejadian tadi siang ketika mengantarkan koran pada pelanggan-pelangganku. Jadi selama ini anak yang sering diceritakan dan dipuji-puji oleh Woohyun ahjussi, yang beliau bilang sangat tampan, ceria, ramah, dan pintar adalah lelaki kasar itu?! Cih! Kukira lelaki yang sering diceritakan Woohyun ahjussi itu akan menjadi lelaki idamanku. Tapi mulai hari ini, kucabut omonganku itu!

Noona, apa jawaban dari soal ini?” teriak adik pertamaku, Shim Joon Hee. Aku pun segera bangun dari kasurku dan bergegas menghampirinya.

“Mana soal yang sulit?” tanyaku.

“Yang ini!” jawab Joonhee sambil menunjuk soal yang dimaksud.

Aigo.. noona sudah mengajarimu berkali-kalai, kenapa masih saja tidak bisa?” Keluhku sambil mengacak-acak rambutku.

“Ayolah, noona… Aku benar-benar tidak bisa.” rajuknya dengan memasang wajah memelas.

“Baiklah…”

Setelah beberapa langkah yang aku ajarkan padanya, tiba-tiba saja aku teringat jika PR Chanyeol dan Minseok yang mereka titipkan belum kukerjakan. Astaga… kenapa aku bisa lupa?!

“Joonhee, kau kerjakan sendiri ya, noona ada urusan.” kataku dan langsung menuju kamar.

Sesampainya di kamar aku mengacak-acak isi tasku mencari dimana PR mereka. Setelah ketemu aku pun membuka buku mereka. Soal yang siap membuat kepalaku pusing pun sudah terlihat.

30 menit berlalu, akhirnya PR mereka selesai juga, tapi PRku sendiri belum kukerjakan. Haduh… tapi aku sudah sangat ngantuk, mataku saja tinggal 5 watt. Ya sudahlah, bukannya aku sudah biasa dengan keadaan terkantuk-kantuk? Lebih baik aku kerjakan juga PR ini, aku tidak mau dikalahkan Jongin itu hanya karena aku lupa mengerjakan satu PR.

 

*** 

Keesokan harinya..

 – Kai POV –

Akhirnya, aku menemukan ide juga untuk membalas perlakuan gadis gila itu padaku. Aku akan memberitahu pada ayahnya pekerjaan apa yang selama ini ia lakukan. Aku jamin ayah Junghee akan marah besar ketika mengetahui apa yang Junghee lakukan selama ini, hahaha~

Setelah bel istirahat berbunyi, aku pun segera menuju stan milik ayah Junghee. Aku menerobas semua gerombolan dengan seenaknya. Tentu saja karena aku ingin memberi tahu ayahnya sebelum Junghee datang ke stan untuk membantu beliau.

“Jongin-ah, ada apa ke mari? Kau ingin meminta ganti rugi untuk masalah kemarin? Maaf, aku belum bisa menggantinya.” ujar Youngdae ahjussi. Sok tau sekali sih? Padahal aku belum berkata satu patah kata pun.

“Tidak, ahjussi, aku hanya ingin minta maaf atas kejadian kemarin, tak sepantasnya aku bicara kasar terhadap ahjussi.” kataku penuh dusta. Tentu saja tujuanku ke mari bukan untuk itu.

“Tidak apa-apa, manusiawi jika kau marah dan berkata kasar.”

Ahjussi, aku ingin memberi tahumu sesuatu.” kataku memulai mengatakan hal yang dari awal ingin  kusampaikan.

“Bicara saja.” Youngdae ahjussi mempersilahkan.

“Maaf ahjussi, mungkin kau akan kaget, tapi aku memberi tahukan ini demi kebaikan Junghee.”

“Kebaikan Junghee? Apa?” tanya Youngjae ahjussi dengan wajah penasaran.

Ahjussi tahu pekerjaan apa yang selama ini Junghee lakukan?”

“Dia loper koran ‘kan?”

“Selain itu?”

“Kurasa hanya itu.”

Ahjussi tidak tau kalau selama ini Junghee sering mengerjakan PR teman-temannya dan meminta imbalan uang?” tanyaku.

“APA?! Kau serius?” tanya Youngjae ahjussi heran sambil menelan ludahnya pertanda kaget dan hanya kubalas dengan anggukan kecil.

“Ya sudah, kuharap ahjussi bisa menasehatinya agar dia menjadi gadis yang lebih baik.” kataku dan langsung bergegas pergi dari stan milik ayahnya Junghee.

Ya! Kena kau Shim Jung Hee, itu lah akibatnya karena sudah berani membuat masalah dengan seorang Kim Jong In, kau pikir susah apa untuk membalas dendam padamu? Itu semudah membalikkan telapak tangan!

 

– Jung Hee POV –

Aku sampai di stan ayah, seperti biasa aku membantunya berjualan. Tapi sepertinya ada yang aneh, kenapa ayah menyambutku dengan tatapan sadis dan seperti ingin membunuh? Ada apa sebenarnya?

“Junghee! Apa benar kau selalu mengerjakan PR temanmu dan meminta upah pada mereka?” tanya ayah dengan tegasnya.

Ah! Mati aku, kenapa bisa sampai ketauan? Aku harus cari alasan agar ayah tidak terlalu percaya dan memikirkan hal itu.

“Ayah dapat berita dari mana?” tanyaku penasaran.

“Temanmu, Jongin.”

Eh? Jongin, maksudnya Kai? Huh, sialan! Berani-beraninya dia memberi tahu hal itu pada ayah. Awas kau, Kim Jong In!

“Apaan sih, aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu!” aku membela diri sendiri dengan kebohongan besar.

“Lalu bagaimana bisa Jongin memberi tahuku kalau dia tidak melihatnya sendiri?”

“Ah, ayah seperti tidak tahu saja Jongin kan suka mengada-ada, dia marah karena tadi aku tidak mengajarinya pelajaran yang belum ia bisa. Ayolah ayah, percaya pada anakmu sendiri!” ujarku dan lagi-lagi berbohong. Tapi tak apa lah, itu kan demi ayah, aku tidak mau jika ayah sampai kepikiran dengan tingkahku terus.

“Yang benar?”

“Tentu saja, mana mungkin aku bohong!”

“Baiklah, ayah percaya. Dasar Jongin, kenapa dia bisa memfitnah anak ayah yang hebat ini seenaknya?” Ayah yang percaya cerita karanganku. Hahaha~ leganya akhirnya ayah tidak percaya dengan omongan Jongin itu.

Aku beranjak menuju kelas, aku mencari di mana keberadaan Jongin, aku ingin melabraknya dan memberi pelajaran padanya.

Setelah sampai di kelas kulihat Jongin yang sedang duduk-duduk santai dengan headphone yang menutupi kedua telinganya. Aku menghampirinya lalu mendorong bahu besarnya itu.

Ia sontak menatap ke arahku dan melepaskan headphone-nya itu. Ia lalu berdiri sambil menatapku. Jujur aku sangat tidak suka jika ditatap seperti itu.

“Apa maumu?” tanyanya.

“Seharusnya aku yang bertanya apa maumu, pesek! Kenapa kau memberitahu ayah tentang apa yang aku lakukan selama ini?!” tukasku sambil memukul dadanya.

“Itu karena penghinaanmu kemarin, siapa suruh macam-macam denganku?” jawabnya sambil bertolak pinggang.

“Hey! Kau tahu kan jika pengahasilan ayah tidak seberapa? Kau pasti juga tahu kalau itu tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhanku. Kau harusnya sedikit berbaik hati dengan tidak memberi tahu hal itu, jika aku tidak melakukan hal itu bagaimana caranya agar aku bisa mencukupi kebutuhanku?

“Percuma saja kau punya harta berlimpah jika rasa iba sedikit pun tak kau miliki! Kurasa ada lebih dari seribu cara untuk balas dendam, kenapa kau malah memilih cara yang sangat berbahaya, aku hanya menghinamu, seharusnya kau balas dengan hal yang sewajarnya, dasar Kim Jong In, PAYAH!” ujarku panjang lebar sambil berusaha membendung air mata. Malu sekali kalau aku sampai ketahuan menangis.

“Caramu mengatakan sangat berlebihan.” cibir Kai.

“Memang kau bisa melakukan apa yang aku lakukan? Kau lemah Kim Jong In, hanya berpangku tangan kepada orang tuamu, sementara aku, berusaha untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Jadi kuharap kau bisa menutup mulutmu itu!”

“Apa kau bilang, aku lemah? Aku bisa melakukan apa yang kau lakukan tahu!”

“Oh ya?”

“Kau mau bukti? Baiklah, nanti siang dan besok aku akan menginap ke rumahmu, lalu aku akan mengerjakan semua pekerjaanmu!” pekiknya sok yakin.

“Jangan terlalu mengada-ada, Kim Jong In!”

“Aku akan buktikan kalau aku bukan lelaki lemah, ingat itu Shim Jung Hee!” katanya sambil menyundul dahiku dengan kedua jarinya seperti apa yang beberapa waktu lalu aku lakukan.

“Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan itu!”

“Apa peduliku, aku tidak mau tahu pokoknya aku akan menginap di rumahmu untuk semalam dan melakukan semua pekerjaan yang kau lakukan!” katanya lagi.

Huh! Sial, apa yang ia lakukan, menginap di rumahku? Andwae~ aku tidak yakin jika ayah akan megizinkan. Dasar Kim Jong In, lelaki aneh.

Bel pulang berbunyi aku langsung membereskan buku-buku yang berserakan di mejaku dan berlari keluar kelas, tapi tiba-tiba saja ada yang menarikku.

“Kai, apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya.

“Seperti yang kukatakana tadi, aku akan menginap di rumahmu.”

Andwae, kau tidak boleh menginap di rumahku, paham?”

“Apa pun yang kau katakan, aku akan tetap ke rumahmu, ingat itu!” katanya bersi keras. Aku pun hanya bisa pasrah.

Setelah kuizinkan dia menginap ke rumahku kami pun segera pulang. Kami menuju rumah tentu saja dengan berjalan kaki, karena aku akan langsung pergi ke agen koran untuk mengantar koran-koran yang sudah di pesan.

“Apa masih jauh?” tanya Kai tiba-tiba.

“Kenapa, kau lelah?” aku balik bertanya. Tapi Kai hanya diam saja.

Terlihat sekali jika dia kelelahan, lihat saja keringat yang mengucur di sekitar dahinya. Kasihan..

“Sudah sampai…” kataku.

Aku pun segera membuka kemeja seragamku untuk berganti pakaian. Aku menggunakan pakaian double, jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kai yang melihat tingkahku ini hanya bisa menganga.

“Kenapa?” tanyaku. “Apa ini yang kau lakukan setiap harinya?” tanya Kai dan aku hanya mengangguk.

Aku mengambil koran bagianku lalu segera mengambil sepedaku yang memang sengaja aku titipkan di sana.

“Aku saja!” kata Kai.

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

“Maksudnya, biar aku yang mengantar koran ke para langgananmu. Hari ini bukan jadwalnya kau mengantar ke rumahku ‘kan?” kata Kai dan langsung menaiki sepeda yang harusnya aku naiki.

“Tidak perlu repot-repot.” kataku sungkan dan berusaha menggapai sepedaku. Tapi tak direspon apa-apa oleh Kai ia malah langsung mengayuh sepedaku.

“Kau duduk manis saja!” teriak Kai dari kejauhan.

Huh! Apa benar dia melakukan pekerjaan yang harusnya aku lakukan dengan baik? Kenapa dia memaksa sekali, padahal kan aku tidak bermaksud seperti itu.

Sudah 3 jam aku menunggunya di sini, tapi kenapa dia belum datang juga? Ah iya, ini kan memang belum waktunya untuk mengakhiri pekerjaan. Tapi aku juga bosan jika harus terus menunggunya. Lebih baik aku belajar saja.

Setelah sekian lama memandangi buku yang sangat membosankan karena semua isinya sudah kubaca ini, dari kejauhan aku melihat seseorang bersepeda dan mengayuh dengan kecepatan tinggi.

“Junghee…” panggilnya dari kejauhan, aku pun langsung berdiri dan menghampirinya.

“Bagaimana tadi?” tanyaku sambil memberi tatapan tidak yakin padanya.

“Kau menghinaku? Tentu saja aku melakukannya dengan baik

Ne, aku percaya. Sepertinya kau lelah, kita pulang saja!”

Kajja!” ujarnya bersemangat.

Kami pulang dengan berjalan kaki lagi. Kuperhatikan sedari tadi Kai yang sibuk meregangkan ototnya.

“Capek ya? Jalannya agak lambat saja, aku ikuti kau, kok!” ujarku.

“Hmmm, jujur iya. Tapi ini pengalaman yang menarik. Aku suka!” seru Kai dan kemudian merangkulku sambil berjalan.

Akhirnya kami sampai juga di rumah. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam sambil langsung membuka pintu untuk masuk. Ayah yang sedari tadi duduk di ruang tamu terheran-heran dengan adanya Kai di rumah ini.

“Junghee, kenapa Jongin bisa ke mari?” tanya ayah.

“Ya, ahjussi, aku mau menginap di rumah ini, boleh ‘kan?” sambar Kai tanpa rasa sungkan sedikitpun.

“Menginap? Tidak salah, apa kau akan betah tidur di rumah kami yang kecil ini?” tanya ayah tidak yakin.

Omona~ aku bukan lah orang yang suka pilih-pilih tempat tidur.” kata Kai.

“Kalau begitu, kau tidur sekamar dengan Joonhee saja ya.”

“Joonhee itu siapa?” bisik Kai langsung ke telingaku.

Namdongsaeng-ku.” jawabku dan Kai hanya mengangguk tanda mengerti.

TBC…

>> Preview next chapter <<

“Jangan bohong, kau pasti tidak betah kan di sini?”

“Kai, turunkan aku!”

“Tidak, kau tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran dengan keadaan seperti ini.”

“Kerjakan PR kami ya! Karena Junghee tidak masuk dan kepintaranmu nomor dua setelah Junghee. Kami minta bantuanmu.”

“Tapi kan ini demi kebaikanmu juga, kau ini manusia, bukannya mesin atau robot jadi perlu istirahat, jangan bekerja terus!”

.

.

Maaf kalau ada typo atau alur yang kurang jelas. Ini sudah berusaha seteliti mungkin, lho! Hehehe… Terima kasih sudah membaca ^^

61 pemikiran pada “I Was Poor, Problem (Chapter 1)

  1. Keren 🙂 plot yg langka dan unik menurutku 🙂 lain kali typo diatasi lagi ya.. dan aku saranin ke kamu gunain paragraf yg rata kanan kiri aja supaya tambah rapih 😉 syg kan kalo ceritanya bagus nmn paragrafnya krg rapih hehe^^ kalo typo mah gakmasalah 😉 kan khilaf. Aku jg sering kok°^° Oh iya. Ini mereka SMA apa SMp? Klo dr sifat mereka yg masih childish bgt gitu mnrtaku cocok nya SMP deh 🙂 dan kurasa perubahan sifat Kai terlalu cepat ^^ oh iya next ya! Ktunggu loh;)

  2. Dan ini
    gue nemu and baca ff yg menurut gue
    memang bener” menarik dan HARUS DIBACA DAN DIKASIH KOMEN

    ya Like, Kai
    Ribut mulu lama” Terbentuk Kata SARANGHAE

  3. Apa Kai betah tinggal dirumah kumuh??
    Aku tidak yakin dia kuat, kkk..
    Ehh, Kai kok cepet banget ya berubahnya??
    Tapi nggak apa juga sihh, itu terserah author..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s