About Law and Love (Chapter 2)

Title
About Law and Love

Author
Voldamin-chan

Length
Chaptered

Rating
PG-17

Genre
Romance, Politic and Little Bit Comedy

Main Cast
Kim Taeyeon

Xi Luhan

 

Other Cast
EXO and Girls’ Generation

SM Town Family

Disclaimer
This story inspired by American TV Show but the storyline might changed due to author wild imagination. Just check it out^^

Backsound
Pink – True Love

Girls’ Generation – Romantic St.

 

Author Note

Don’t forget to RCL, don’t bash and enjoy the story.

Poster - About Law and Love (2nd Case) 2

 

-About Law and Love-

 

Tiada hari tanpa keramaian dan kesibukan, hal yang umum semacam ini terjadi hampir setiap hari di East Law Firm, salah satu lembaga hukum yang cukup populer di Korea Selatan. Dan hari ini juga tak luput dari keramaian itu. Conference Room yang terletak di lantai 2 terdengar riuh oleh beberapa orang yang saling bersahut-sahutan di dalam sana. Tepat di depan pintu ruangan ini, seorang namja yang sedang mengenakan earphone ditelinganya terlihat sedang asik mengintip sekaligus menguping apa yang terjadi di dalam sana. Kegaduhan di dalam ruangan ini membuatnya penasaran apa yang sebenarnya sedang mereka ributkan. Namja ini mengeleng-gelengkan kepalanya sendiri mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam sana.

“Ckckck… 100 juta won?! Ada-ada saja mereka ini.” ujar namja itu pada dirinya sendiri.

 

“Jong-In, aku butuh Taeyeon sekarang.” Tanpa namja itu sadari, Tiffany, pimpinan tertinggi East Law Firm ini sudah berdiri di belakangnya. Jong In melihat wanita itu sedang sibuk dengan handphone di tangannya.

 

“Maaf noona, kau tahu? Sekarang bosku sedang sibuk menangani kasus mediasi dari pengadilan kemarin. Seperti yang kau lihat di dalam sana.” Jawab Jong In yang masih belum beranjak dari pintu Conference Room ini.

 

“Baiklah. Kalau begitu tolong kau katakan pada Taeyeon, aku mencarinya.”

 

“Pasti, noona!” balas Jong-in tak luput dengan senyuman dan acungan jempol khasnya, namun sayang Tiffany sudah tidak ada di hadapannya lagi. Wanita itu sudah berjalan menjauh dari tempat Jong In berdiri sekarang.

 

“Sssstt! Jong In!” Jong In merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia melihat ke arah kanan dan kirinya tapi tak ada seorang pun yang terlihat punya urusan dengannya, hanya terlihat karyawan yang berlalu-lalang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

 

“Jong In!” sekali lagi suara itu memanggilnya. Ah, ternyata suara itu berasal dari lantai satu. Segera Jong-in menengok ke bawah, melihat siapa yang sibuk memanggilnya sedari tadi.

 

“Ah, Bos! Ada apa noona? Kau sudah selesai dengan urusanmu hari ini?” Ternyata Taeyeon, bosnya yang sedari tadi mencoba memanggilnya dari ujung tangga lantai 1 ini.

 

“Kemarilah~ Cepat!” Taeyeon mengayun-ayunkan tangan kanannya, menyuruh asistennya itu untuk segera turun kebawah. Efek otomatis dari seorang bawahan kepada atasannya, Jong In segera melesat menuruni tangga, menuruti perintah bosnya.

 

Segera setelah Jong In sampai di hadapannya, Taeyeon langsung menyeretnya ke balik tangga tadi. Memastikan tak ada seorangpun yang akan menguping pembicaraan mereka berdua.

 

“Jong In, kau tahu kan aku tidak akan pernah menyuruhmu melakukan hal-hal yang merugikan atau ilegal sekalipun.” Taeyeon mulai menjelaskan maksudnya sambil mengamit lengan Jong In yang dari tadi sudah berada di sampingnya.

 

“Yap, aku tahu itu.” Jong In meng-iya-kan pernyataan Taeyeon sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Dan, sekarang aku bukan menyuruhmu. Ingat bukan menyuruhmu, tapi hanya menyarankanmu untuk menggunakan salah satu koneksi teman game online-mu di Kepolisian Seoul sebaik mungkin. Ya demi bosmu ini, bagaimana?” bujuk Taeyeon pada asistennya.

 

“Dan noona sudah banyak menyarankanku soal ini. Ya aku ingat, bukan menyuruhku tetapi menyarankanku, iya kan bos?” Jong In langsung menyeringai begitu tahu maksud bosnya ini.

 

“Yap! Satu dari beberapa saranku. Kau memang Jong In-ku yang pintar.” Taeyeon mencubit pipi asistennya dengan gemas dan sedikit memuji Jong In yang memang tahu apapun yang diinginkannya.

 

“Oke, ini adalah nomor polisi dari mobil Kim Hee Chul, aktor dari Galaxy Entertainment itu. Cari semua informasi tentangnya, soal mobilnya, soal kecelakaan malam itu, soal skandalnya, apapun yang bisa kau temukan soal Kim Hee Chul.” Taeyeon menjelaskan dengan singkat apa yang harus asistennya itu lakukan sambil menunjukkan secarik kertas berisi nomor polisi milik aktor bernama Kim Hee Chul tadi.

 

“Ada apa dengan kasus dari Galaxy itu? Kenapa noona mencari nomor polisi mobil aktor ini?” tanya Jong In penasaran dengan perkembangan kasus aktor yang cukup terkenal itu.

 

“Entahlah lah, aku juga tidak tahu. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kasus ini. Kemarin aku menemui kedua trainee itu, anak-anak ini bilang mereka hanya iseng menodong seorang yeoja di dalam mobil itu karena mobil itu yang lebih dulu menabrak mobil mereka.” Jawab Taeyeon dengan mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat kecelakaan itu.

 

“Yeoja?! Wah wah wah, apa ini artinya ada skandal baru bagi aktor sepopuler Kim Hee Chul?”

 

“Bisa jadi, tapi sebelum ada bukti aku tidak bisa memastikannya. Baiklah, lalu bagaimana suasana Conference Room sekarang? Tadi aku sudah membaca semua file Joon Myun.”

 

“Sesuai dengan pesan noona, mereka sudah berkumpul disana. Hmm~ karena suasana masih panas di dalam sana sepertinya noona tidak bisa pulang cepat hari ini. Juga ada pesan dari Tiffany-noona yang selalu mencarimu.” jelas Jong In.

 

“Sempurna! Hari pertamaku benar-benar super sibuk. Aigoo~ aku merindukan masa-masa bebasku.” Taeyeon menghela napasnya dengan berat. Memang sudah menjadi resiko seorang mediator populer yang selalu punya banyak pekerjaan. Bukannya sombong, tapi memang inilah kenyataannya.

 

“Kau benar Jong In, ide terlambat kemarin benar-benar membuatku susah. Memang tidak ada hadiah ceramah panjang lebar, hanya saja Joon Myun memberiku waktu 2 hari untuk menyelesaikan kasus gilanya kali ini. Aigoo~” sambung Taeyeon.

 

“Wow! Terobosan baru dari Joon Myun hyung. Well, aku yakin hyung pasti tahu noona bisa menyelesaikannya dengan cepat. Buktinya hyung lebih mempercayakan kasusnya pada noona daripada mediator yang lain kan?” Jong In berusaha menyemangati bosnya yang sedikit terlihat lesu di hari pertamanya. Yah, sebagai asisten yang baik Jong In juga punya beberapa tugas tidak resmi seperti ini. Pandai-pandainya Jong In mengembalikan mood bosnya.

 

“Ya positifnya bisa begitu atau buruknya dia masih punya dendam pada oppa-ku yang sudah merebut kekasihnya. Ah, sudahlah! Aku harus secepatnya membereskan masalah gila ini di Conference Room. Fighting!” ucap Taeyeon pada dirinya sendiri. Begitulah, sekali lagi Jong In memang asisten multi fungsi seperti sekarang ini.

 

“Oh iya, Sandwich Girl-mu datang, dia ada di lobi sekarang. Sepertinya dia membawa banyak barang, mungkin kau bisa mencoba cara lain dengan sedikit membantunya… Jong.. Ya! Ck, dasar anak kecil! Tahu yeoja-nya datang, dia langsung main kabur.” Taeyeon hanya tertawa geli melihat Jong In yang langsung lari ke arah lobi sambil senyum-senyum sendiri.

 

“Oke, aku terima tantanganmu Tuan Hakim yang terhormat. Fiuh~” Sambil mengambil napas panjang Taeyeon bergegas menuju lantai 2, tempat dimana dia harus bergulat dengan kasus ‘gila’ yang diberikan oleh Pengadilan Pusat kemarin.

 

 

Yesterday Afternoon

“Ya?! Apa aku tidak salah dengar, Tuan Hakim? Kau bercanda kan?” seru Taeyeon tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Sedikit terlambat dari waktu yang ditentukan, Taeyeon sudah sampai di ruangan kerja pemilik pengadilan ini. Ah, lebih tepatnya orang yang lebih berkuasa di pengadilan Seoul ini, Kim Joon Myun.

 

“Telingamu masih sehat, Kim Taeyeon. Aku ini hakim bukan seorang komedian dan aku tidak suka bercanda soal pekerjaanku.” tukas Joon Myun yang sedang duduk di area kerjanya, membuka beberapa lembaran kertas yang bisa di pastikan itu adalah tumpukan kasus yang sedang ia tangani. Yah, seorang hakim bernama Kim Joon Myun ini memang gila kerja dan juga sedikit kaku, tetapi setidaknya karisma dan kejeniusannya sebagai seorang hakim memang tidak diragukan lagi. Mungkin kesamaan karakter antara Joon Myun dengan Tiffany, yang sama-sama gila kerja ini, membuat mereka sempat dekat. Entahlah, itu hanya hipotesa dangkal Taeyeon saja.

 

“Oh, ayolah tuan hakim yang terhormat. Kau hanya memberiku waktu 2 hari untuk kasus gila ini? Orang dewasa mana yang berpikiran sempit seperti ini? Hanya karena rencana romantis lamaran pada kekasihnya gagal dan cincin mereka hilang, mereka meminta ganti rugi 100 juta won?! Haha, ini gila.” Taeyeon  membaca berkas kasus yang diberikan oleh Joon Myun pagi ini dengan ekspresi tak percaya.

 

“Kau ini bukan mediator amatiran lagi, Kim Taeyeon. Banyak kasus yang lebih berat dan lebih gila daripada ini yang sudah kau telan mentah-mentah. Dan lihat, sekarang kau sudah menjadi mediator ternama di Seoul.” Sang hakim masih betah sibuk dengan berkas-berkas yang ada ditangannya, tanpa melihat reaksi Taeyeon di depannya yang sibuk membolak-balik dokumen kasus ‘gila’ yang mereka bicarakan.

 

“Oke, Kim Taeyeon-ssi. Tolong kau segera singkirkan kasus ini dari pengadilanku, masih banyak kasus lain yang lebih penting daripada kasus ‘gila’ ini menungguku. Kau hanya punya waktu 2 hari dan maaf aku harus segera menghadiri sidang sore ini, jadi kau bisa meninggalkan tempat kerjaku sekarang.” Perintah Kim Joon Myun.

 

“Haha… Maaf tuan hakim sepertinya kau suka bercanda. Ayolah, ada 3 terdakwa dan penggugat meminta ganti rugi 100 juta won. Dua hari sepertinya tidak cukup untuk membereskan kasus ini kan?” jelas Taeyeon.

 

“Baiklah, bagaimana kalau besok pagi jam 9? Ah, atau malam ini bisa kau selesaikan sekaligus, hmm?” Kim Joon Myun menutup dokumen terakhir yang ia baca dan beralih menatap tegas seorang mediator di depannya. Jangan salah, meskipun dia ini tampan dan punya wajah setenang malaikat tetapi dibalik itu kata-kata yang keluar dari mulut seorang Kim Joon Myun sangat menusuk dan membuat lawan bicaranya hanya bisa diam tak berkutik.

 

“Oh, tidak.” Gumam Taeyeon. Sepertinya terlambat memang hal buruk kalau kau berurusan dengan hakim tinggi pengadilan Seoul ini. Hargailah waktu maka kau akan terbebas dari teror Kim Joon Myun, sepertinya teori ini harus dihafal kembali oleh Kim Taeyeon.

 

“Segera selesaikan kasusku atau kau mau masuk tahanan karena terlambat datang sekaligus secara tidak langsung menghina pengadilan dan mengacaukan semua jadwalku siang ini. Ya, aku bisa melakukan itu dan tolong kau hargai waktuku, Taeyeon-ssi. Oke, kalau begitu kita bertemu 2 hari lagi.” Setelah menumpuk dan merapikan beberapa berkas yang sempat ia baca, hakim Seoul ini mengambil jas dan sebuah tas kerja dari atas meja, bergegas melanjutkan jadwal sidang yang sedang padat hari ini.

 

“Kau dan Tiffany memang sama saja. Sama-sama keras kepala, Ck.” Guman Taeyeon saat Joon Myun akan meninggalkan ruangannya.

 

“Terima kasih atas pujiannya, Taeyeon-ssi. Kau bisa meninggalkan ruanganku sekarang.” Joon Myun sekilas tersenyum kecut sebelum menghilang dari balik pintu ruangannya sendiri. Sepertinya tidak sengaja volume Taeyeon agak keras tadi, mungkin Joon Myun sedikit mendengar apa yang ia lontarkan tadi, Aigoo~ Well, Taeyeon hanya bisa menghela napas. Hari pertamanya kembali adalah hari yang super sibuk.

 

-About Law and Love-

 

DING~ DING~ DING~

Jam besar di ruangan utama lantai 2 ini berdentang agak keras. Suaranya mengisi seluruh ruangan East Law Firm yang kini sudah tidak terlihat lagi aktifitas karyawan, hanya terlihat segelintir cleaning service dan penjaga gedung yang masih menjalankan tugasnya. Jam besar ini sudah menunjukkan angka 8 malam. 5 jam yang sangat melelahkan bagi Taeyeon, apalagi menghadapi kasus cukup unik tadi siang. Kasus yang menggelikan tetapi cukup membuat Taeyeon harus memeras otaknya.

Singkat cerita mediasi kali ini berkaitan dengan sepasang kekasih yang merasa dirugikan oleh 3 orang sewaan untuk acara surprise romantis mereka berdua, kehilangan cincin yang katanya sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Alhasil 3 orang terdakwa diminta ganti rugi sebesar 100 juta won. Yah, pada akhirnya hanya berujung pada masalah dua orang itu sendiri yang sedikit melebih-lebihkan perkara ini. Well, setidaknya besok Taeyeon sudah bisa sedikit bernapas lega untuk memutuskan kedua pihak sepakat tidak berurusan lagi dengan pengadilan. Dengan kata lain, kasus ini bisa dicabut dari pengadilan sesuai titah Joon Myun.

Sambil menenteng beberapa dokumen, Taeyeon berjalan malas ke ruang kerjanya di lantai 3 ini. Ruang kerjanya masih terlihat terang, sepertinya asistennya itu masih belum pulang. Ia membuka pintu ruangannya pelan-pelan, disana terlihat Jong In sedang sibuk berkutat dengan komputernya. Pasti dia sedang asik bermain dengan game online kesayangannya. Yap, bosnya ini sudah tahu bagaimana kebiasan asistennya itu. Taeyeon tersenyum nakal melihat Jong In yang tidak sadar akan kehadirannya disana dan terlintas ide mengerjai asistennya ini. Taeyeon berjalan mengendap-endap dibelakang Jong In dan sedikit membuat rambutnya berantakan. Setidaknya penampakan wajahnya sekarang sedikit mirip tokoh horor Sadako.

“Jong In~~~ Kim Jong In~~~ Huuu~~~” suara parau Taeyeon yang dibuat-buat terdengar dari belakang Jong In. Namun, tak ada reaksi apapun dari namja itu.

“Jong In~a~~~” kali ini Taeyeon berjalan ke arah Jong In ala vampir china.

“Bos, aku bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti dengan cara seperti itu.” Ternyata usaha Taeyeon mengerjai asistennya ini gagal. Dia malah tidak menghiraukan bosnya, terlalu asik dengan game di depannya.

“Ck, payah! Kau sedang main apa sih, Jong In? Serius sekali.” Taeyeon mendekati Jong In, penasaran game seperti apa yang membuat Jong In tak berkutik dari tempatnya.

“Whoa~ keren… Aish, awas Jong In dia mengejarmu dari belakang!” sekarang Taeyeon juga malah tertarik dengan permainan Jong In, meskipun cuma sebagai komentator berisik di belakang Jong In.

“Ssstt~ Fokus pada hal yang salah kau akan terbunuh, noona.” jawab Jong In mendengar bosnya ikut berkomentar soal permainannya ini.

“Eiii~ iya iya iya… Kau memang lebih ahli soal hal ini, Jong In. Oh, iya bagaimana perkembangan bukti soal Kim Hee Chul?”

“Ah~ itu… maaf belum ada, noona.” Sejenak Jong In menghentikan permainannya.

“Tidak apa-apa, kita bisa menunggu besok. Kalau begitu kau bisa pulang sekarang, Jong In. ” Taeyeon merebahkan diri di sofa panjang di samping meja kerjanya.

“Lalu bagaimana kasus Joon Myun-hyung tadi? Beres?”

Perfect, besok cukup penegasan kesepakatan lagi dan lusa aku bisa menuntaskan janjiku dengan Joon Myun. Hah~ setidaknya aku bisa bernapas sedikit, Jong In.”

“Baiklah, aku pulang dulu. Noona sendiri?” Jong In segera mematikan komputernya dan membereskan beberapa dokumen yang masih tercecer di meja Taeyeon.

“5 menit lagi aku pulang, kau duluan saja.” Jawab Taeyeon yang masih berbaring di sofa panjangnya.

“Sampai jumpa besok, bos.” Jong In berjalan meninggalkan ruangan bosnya. Taeyeon hanya membalas dengan senyuman dan lambaian sebelah tangannya dengan malas. Ia masih ingin menikmati sofa empuknya sebentar saja.

Chiyu~ pip~ pip~ pip~ ♪

 

Chiyu~ Chiyu~ pip~ ♪

 

Chiyu~ pip~ pip~ pip~ ♪

Taeyeon merogoh saku kanan celananya. “Lulu Deer Calling”. Nama itu terpampang di layar handphone Taeyeon. Ya, Lulu adalah julukan yang diberikan Taeyeon pada mantan suaminya, Luhan.

“Hmm? Ini sudah malam,Lulu.” Jawab Taeyeon segera setelah mengangkat panggilan tadi.

Ya, memang.” Balas Luhan dari seberang sana.

“Kau sudah pulang?”

Belum, kau sendiri?

“Tebak saja. Kira-kira aku sedang dimana sekarang.”

Well, pasti masih tiduran di kantor. Kebiasaanmu kalau kau sedang banyak kasus, aku tahu dari Joon Myun. Oh, iya tadi pengacara dua trainee itu datang mengajukan banding untuk keringanan masa tahanan mereka.” Jelas Luhan.

“Hah? Masa tahanan? Kenapa? Kasus ini belum sampai di pengadilan dan klienku juga belum cukup bukti untuk bisa menahan kedua trainee itu jadi mereka juga masih punya harapan untuk bisa bebas kan?” Mendengar berita terbaru dari Luhan ini Taeyeon langsung bangkit dari sofa. Sedikit kurang yakin kebenaran yang ia dengar sekarang.

Pihak jaksa Seoul menawarkan 3 tahun masa tahanan dan mereka menyetujuinya. That’s good deal, Taeyeon. Lagipula dua trainee itu bukan klienmu kan?

“Lalu hidup kedua bocah itu akan berakhir dengan penjara?! Iya aku tahu mereka bukan klienku. Tetapi aku ini seorang mediator bukan pengacara, Lu. Selama semua bisa diselesaikan di jalan tengah, kenapa tidak?”

Masalah ini sudah sampai di pengadilan. Hukum dan undang-undang juga sudah mengatakan kalau senjata mereka…

“Undang-undang?! Astaga Luhan, tolong jangan seperti appa. Kalian berdua seperti mengagungkan benda itu. Seakan aturan itu keramat dan diatas segalanya. Asal kau tahu, diatas benda itu masih ada keadilan, Lu. Justice is above everything! Selama kita bisa menemukan keadilan dan kebenaran dengan bukti yang kuat, mereka berdua masih punya harapan masa depan.” Seru Taeyeon, memotong penjelasan Luhan.

Lalu? Siapa yang akan memutuskan mereka benar atau tidak? Kau? Ayolah,Tae. 3 tahun sudah cukup sebagai putusan yang paling adil.

“Adil?! Untuk siapa? Sudahlah, aku lelah Lu.”

Pip~

Taeyeon secara sepihak memutus pembicaraannya dengan Luhan. Ya beginilah, mereka berdua kadang seperti air dan minyak, kadang juga bisa setenang aliran sungai. Entahlah, hubungan yang kompleks.

“HAH~ Kepalaku semakin pusing!” Taeyeon bangkit dari sofanya dan segera membereskan beberapa barang bawaannya. Dipakainya jas tebal yang ia pakai pagi ini dan menyambar tas kerja yang sedari tadi bertengger di ujung sofa.

Berjalan keluar dari ruang kerja, menuruni tangga lantai 3, dan melewati pigura besar yang memamerkan foto pendiri lembaga hukum ini. Rasanya sudah lama sekali Taeyeon tidak melihat ayahnya ini. Meskipun mereka berdua sering tidak sepaham dan sering beradu mulut, dia adalah ayah kandung Taeyeon yang sudah pernah membesarkan dan mendidiknya sampai seperti sekarang ini. Kalau sudah begini, Taeyeon pasti merindukan oppa-nya yang selalu mendukungnya seolah dia pengganti peran ayah bagi Taeyeon dan Jongdae. Kim Jaejoong, oppa yang selalu jadi tempat curhat adiknya ini dan sayang sekali ia juga sudah tidak bisa menemani Taeyeon lagi. Tidak ada lagi teman curhat yang bisa diandalkan.

Hmm… Mungkin bukan hanya Taeyeon yang masih betah tinggal di kantor yang sudah sepi ini. Buktinya ia bisa melihat ruangan Direktur Utama East Law Firm masih terbuka dengan cahaya lampu yang menerangi ruangan itu. Yeoja ini berjalan mendekati ruangan direktur.

“Wow, sepertinya ada jadwal kencan malam ini?” Ternyata Tiffany masih belum beranjak dari tempat kerjanya. Ia terlihat sedang sibuk membenarkan make up wajahnya sambil duduk di sofa panjang tak jauh dari Taeyeon.

“Hmm, Ada janji dengan tuan Choi, direktur CJ Group yang pernah aku ceritakan.” Kali ini Tiffany sedikit membenarkan pakaiannya.

“Untuk membicarakan kembali kerjasama CJ Group dengan perusahaan kita.” Lanjut Tiffany. “Oh iya, Park Jung Soo menelponku hari ini. Aku pikir kau sudah membereskan masalah ini, ternyata Galaxy Entertainment tetap dengan pendirian mereka. Tak ada lagi perpanjangan kontrak dengan kita. Jadi, kau menemui mereka tanpa sepengetahuanku?”

“Ya, aku dapat informasi tentang kecelakaan itu dan hanya ingin mendengar dari mereka langsung. Jadi, kemungkinan dua trainee itu bisa bebas dan kita bisa punya bukti kuat tentang Kim Hee Chul. Lalu…”

“Taeyeon, dua bocah itu bukan klien kita. Astaga, aku meminta bantuanmu untuk membereskan masalah perusahaan dan sekarang malah aku yang harus membereskan masalah baru yang kau buat?”

“Ops, maaf. Aku hanya seorang mediator dan aku tidak mau seseorang dirugikan untuk kepentingan perusahaan kita sendiri.” Balas Taeyeon yang masih berdiri di depan pintu ruang Direktur ini.

“Katakan saja, aku yang kau benci atau pengacara pada umumnya yang kau benci? Atau mungkin kenyataan aku menikah dengan oppa kesayanganmu, yang kau benci? Asal kau tahu, Jaejoong oppa adalah orang yang sangat kusayangi. Kau memang tidak pernah bisa berpikir dewasa Kim Taeyeon.” Tiffany sudah siap untuk meninggalkan ruangannya beserta jas dan tas yang ia sampirkan di lengan kirinya. Ia berjalan melewati Taeyeon yang masih mematung di tempatnya.

“Tunggu!” Taeyeon menarik bahu Tiffany dan sekarang mereka berdua saling berhadapan, menatap satu sama lain.

“Ayahku pendiri perusahaan ini adalah seorang pengacara, Jaejoong oppa dan Jongdae juga seorang pengacara, mantan suamiku seorang jaksa, dan aku dulunya juga pernah menjadi pengacara. Kalau aku memang benar-benar benci dengan status pengacara, kalau aku memang membenci pekerjaan mereka, aku juga tidak akan menjadi seorang mediator dan bekerja di perusahaan hukum seperti ini.” Tiffany tidak berkata apapun mendengar semua penuturan Taeyeon yang tepat berada di depannya sekarang. Empat mata itu saling intens bertemu.

“Tentang kau menikah dengan oppa? Ya,aku memang membencinya. Kupikir sahabatku bahagia denganmu, sampai aku melihat kekasih sahabatku bersama dengan oppa-ku sendiri. Semua pengorbanan Joon Myun terlihat seperti sampah. Aku tidak habis pikir tentang semua itu. Jadi, aku membencimu. Ya, lebih sederhananya seperti itu.” Setelah puas meluapkan semua emosinya di depan Tiffany, Taeyeon berjalan menjauh meninggalkan direkturnya itu. Tiffany tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya diam melihat adik iparnya yang sudah menghilang dari ujung tangga gedung ini.

 

-About Law and Love-

 

Pagi hari yang cerah. Café ini pun sudah ramai dipenuhi dengan para tamu yang ingin menikmati sarapan paginya. Café ini memang dikenal dengan menu sederhana untuk orang kantoran yang super sibuk dan yang pasti bukan jenis fast food. Tempat rekomendasi dari Jong Dae. Dan sekarang mereka berdua juga menjadi salah satu pengunjung café ini.

Noona, ini hanya soal hitam dan putih. Semua sudah sangat jelas kan?” ujar Jong Dae yang masih sibuk menyuapi Yoon Hee yang ada di pangkuannya sekarang.

“Tidak pernah ada hitam dan putih yang mutlak, Jongdae~a.” balas Taeyeon sambil tersenyum kearah keponakannya yang terlihat imut dengan muffler panda di kepalanya. Hmm… entah kenapa ia sangat familiar dengan muffler itu.

“Hanya karena aktor itu bersama dengan seorang wanita di mobilnya, bukan berarti itu tindakan kriminal. Dua bocah itu yang menodong aktor itu dengan senjata tajam. Itu yang jadi topik utamanya, Taeyeon noona. Apa ini ada hubungannya dengan mediasimu? Bukannya noona hanya perlu membuat Galaxy Entertainment itu kerjasama kembali dengan kita? Kenapa sekarang masalah kecelakaan itu yang noona bahas?” tutur Jongdae.

“Lalu apa mereka bohong soal melihat seorang wanita sendirian di dalam mobil? Mereka bilang tidak tahu kalau ada aktor itu di dalam mobil karena mereka yakin hanya seorang wanita sendirian disana. Ini semua terdengar aneh dan janggal, Jongdae~a.” Sekali lagi Taeyeon meminta pendapat adiknya ini sambil menyeruput segelas Americano favoritnya.

“Kalau semua permasalahan ini tentang wanita, mungkin saja Kim Hee Chul ingin menutupi skandal barunya. Dari pada harus berhadapan dengan wacana media soal skandalnya dengan banyak wanita, lebih baik berhadapan dengan hakim kan? Lagipula sudah jelas dua orang trainee itu yang terlihat bersalah.” Jelas Jongdae.

“Yah, bisa saja sih. Ngomong-ngomong soal wanita, kapan mantan istrimu akan datang?” kali ini Taeyeon yang mendapat giliran memangku keponakannya dan Jongdae yang tetap bertugas menyuapi. Ia benar-benar penasaran dengan muffler yang dipakai keponakannya ini.

“Jinri masih istriku, noona. Dia masih sibuk dengan proyeknya di GwangJu, malam ini Jinri pulang. Untuk kencan dengan Yoon Hee-ku, iya kan Yoon Hee?” gadis kecil itu berulang kali tertawa kecil mendengar ayahnya menyebut nama Jinri.

“Kupikir kau tidak suka ketika ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya, seperti Jinri sekarang.”

“Ya, memang. Untuk itu aku berhenti dari pekerjaanku sekarang dan fokus pada Yoon Hee. Karena Yoon Hee-ku akan segera mengenal ayahnya ini.” Sesekali Jongdae mengusap bibir putrinya yang terlihat sedikit belepotan oleh makanannya.

“Baguslah, setidaknya keponakanku bisa mengenal salah satu orang tuanya. Good Job, Kim Jongdae. Iya kan, Yoon Hee?” Ujar Taeyeon sambil menepuk-nepuk bahu adiknya ini.

“Hei~ noona datang menemuiku bukan untuk mengomentari rumah tanggaku kan? Apa ini juga salah satu kerjaan seorang mediator?” Jongdae sedikit merasa ucapan kakaknya ini terdengar menyindirnya sekarang.

“Eii~ aku hanya penasaran dengan nasib keponakanku saja kok. Ya, seorang mediator sepertiku juga bisa tertarik pada hal-hal janggal semacam ini juga. Hahaha…” jawab Taeyeon. Memang ia sengaja menanyakan hal yang paling sensitif bagi Jongdae dan hanya ingin melihat reaksinya saja. Syukurlah, tidak terjadi hal aneh diantara mereka meskipun kadang peran mereka berdua terlihat berbalik, antara Jongdae dan Jinri.

“Permisi, ini pesanan anda nona.” Seorang pelayan café datang memotong obrolan seru Taeyeon.

“Ah, iya. Terima ka… TAO?! Jadi, sekarang kau kerja disini?” Kejutan bagi Taeyeon, tetangga imutnya itu ternyata sudah berganti pekerjaan lain lagi dan sekarang dia ada di depan Taeyeon mengantarkan pesanannya.

“Ah, Taeyeon-noona! Hehe… iya sekarang ini profesiku. Oh iya, ini pesananmu noona. Maaf aku masih ada pekerjaan yang lain dan selamat menikmati.” Dengan sedikit cengengesan, Tao bersikap layaknya seorang pegawai café yang bertugas melayani para pelanggannya. Kejutan juga buat Tao, ia bisa bertemu dengan noona sexy-nya di tempat kerjanya yang baru ini.

“Ah, ada yang lupa! Terima kasih sudah menjadi pelanggan kami.” Salam terakhir dari sang pelayan Tao sambil melayangkan senyuman dan kedipan mata ke arah Taeyeon.

“Apa muffler Yoon Hee itu diberi namja tadi?” Pertanyaan Taeyeon hanya dibalas dengan anggukan oleh Jongdae karena namja itu masih membersihkan sisa makanan yang sedikit berceceran di baju Yoon Hee.

“Katanya ini bonus karena aku datang paling awal disini dan jadi pelanggan pertama yang dilayani namja itu. Sepertinya dia baru disini, noona kenal dengan namja tadi?” lanjut Jongdae.

“Ya, dia tetangga sebelah apartemenku. Pantas saja, aku merasa pernah melihat muffler yang dipakai Yoon Hee. Ternyata itu milik Tao. Hmm, jadi sekarang ini profesinya yang baru. Ckckck, dasar panda aneh.” Sedikit informasi dari Taeyeon untuk dongsaeng-nya.

Keroro annyeong ~ ♪

 

Keroro annyeong ~♫

 

“Hmm, iya Jong In?” Taeyeon langsung menjawab panggilan dari asistennya itu.

Bos, aku sudah dapat informasi soal kecelakaan itu pagi tadi. Wow, ini sangat fantastis! Noona pasti akan sangat terkesan dengan ini. File-nya sudah aku kirim ke emailmu, bos. Dokumen fisiknya sudah aku siapkan di meja.” Penjelasan Jong In terdengar dari telepon yang di genggam Taeyeon sekarang.

“Daebak! Good job, Jong In! Oh iya, mau aku bawakan sandwich pagi? Kebetulan aku sedang sarapan dengan Jongdae sekarang.”

Oh, tidak perlu repot bos. Kalau soal sandwich, aku sudah dapat jatah tiap hari disini. Hehe…” ujar Jong In

“Ops, aku lupa soal sandwich girl-mu~ Oke tunggu aku di kantor, aku segera meluncur kesana sekarang. Bye~” setelah memutus pembicaraan dengan asistennya, Taeyeon mengemasi barang bawaannya untuk segera membereskan masalah perusahaannya ini.

“Jongdae, aku harus ke kantor sekarang. Oh iya, biar aku yang mentraktirmu kali ini, hadiah kecil buat keponakanku. Annyeong~”

Noona, jangan lupa besok siang ada pembacaan wasiat Jaejoong-oppa. Jangan sampai terlambat, noona!” Secepat kilat Taeyeon sudah menghilang dari hadapan Jongdae dan mungkin saja dia tidak mendengar pesan dongsaeng-nya.

Aigoo~ dasar bibi Yoon Hee yang merepotkan. Kuharap noona tidak menghindar lagi kali ini.” Komentar Jongdae setelah noona-nya tak tampak lagi di pelupuk matanya.

 

-About Law and Love-

 

‘Jung Soo, Park Office’ papan nama mewah itu terpajang di pintu kaca ruangan yang cukup besar ini. Dua orang wanita baru saja keluar bersamaan dari ruangan CEO Galaxy Entertainment itu. Ruangan ini disekat dengan pintu-pintu kaca yang menampilkan kesan mewah, rapi dan teratur. Wajar saja, Galaxy Entertainment adalah salah satu agensi talent terbesar di Seoul. Tidak heran melihat isi gedung yang begitu teratur dan mewah seperti ini. Kini dua wanita itu berjalan berdampingan menuju pintu lift tak jauh dari ruangan tadi dan terlihat sedang sibuk membicarakan sesuatu.

“Katakan padaku, sebenarnya apa yang sudah membuat mereka dengan drastis kembali ke jajaran saham East Law Firm? Bukannya kemarin mereka dengan sangat jelas dan yakin tidak ingin memperpanjang kerjasama dengan perusahaan kita? Ya! Kim Taeyeon!”

“Ck, aku hanya melakukan tugasku dengan baik dan Tiffany tolong jangan teriak-teriak disini. Kau mau mempermalukan stafmu sendiri?”

“Tapi bagaimana bisa?” tanya Tiffany sekali lagi.

“Oke, kalau kau memang penasaran. Ini silahkan lihat sendiri.” Taeyeon menyodorkan sebuah amplop besar berisi beberapa foto yang ia dapat dari Jong In pagi ini. Sebuah kejutan besar yang sangat ampuh.

“Astaga! Hah? Ini?” wajah Tiffany terlihat tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ia sedikit membekap mulutnya sendiri, antara kaget dan ingin tertawa.

“Tidak ada seorang wanita satupun di dalam mobil itu. Tapi wanita yang dilihat oleh dua bocah itu adalah Kim Hee Chul sendiri. Well, aktor itu mabuk berat setelah pesta kostum dengan teman-temannya tanpa sepengetahuan direkturnya. Lebih tepatnya, sang aktor punya hobi aneh yang bisa menjatuhkan image-nya di kalangan media. Lebih berat daripada skandal dengan wanita sungguhan bagi Galaxy Entertainment.” Ujar Taeyeon.

Ting~ pintu lift sudah terbuka. Dua wanita itu segera masuk kedalam lift sebelum pintu lift tertutup kembali. Tiffany masih melihat foto-foto itu dengan sedikit tertawa kecil dan Taeyeon melihat direkturnya itu dengan tatapan aneh. Dengan ini, kasus Galaxy Entertainment selesai sekaligus mengembalikan partner kerja East Law Firm.

 

-About Law and Love-

 

Ting~♫ Tong~ ♪

Tak ada yang bereaksi ketika namja ini menekan tombol apartemen. Apa pemiliknya masih belum datang? Mungkin ia harus menekan tombol ini sekali lagi, hanya untuk meyakinkan apakah penghuninya benar-benar tidak ada di dalam.

Ting~♫ Tong~ ♪

Sekali lagi bel apartemen Taeyeon berbunyi. Luhan masih bertahan berdiri di depan pintu itu dan sekali lagi ia berusaha memanggil keluar Taeyeon dari dalam sana.

Ting~♫ Tong~ ♪

Cklek~

Secara otomatis senyuman Luhan mengembang dengan sendirinya ketika pintu apartemen ini terbuka dan benar sang pemilik kamar ini ternyata bersembunyi di dalam, masih mengenakan dress tidurnya dengan tambahan jaket tebal yang menutupi bagian atas tubuh yeoja ini.

“Hai~” sapa Taeyeon dengan senyuman cantiknya.

Ia melihat namja yang sangat ia kenal ini, ia memakai jaket baseball berwarna kuning dengan topi rajutan di kepalanya. Menambah kesan muda bagi wajah Luhan yang memang baby face ini. Yeoja ini memutuskan untuk keluar dari balik pintu dan hadir di hadapan Luhan sekarang.

“Hei~ Ah iya, orang dari Galaxy itu datang dan memaksaku mencabut semua tuduhan pada bocah trainee tadi sore dan sekaligus membebaskan mereka berdua saat itu juga. Jadi, apa yang sudah kau lakukan sampai mereka berubah drastis seperti itu?” Luhan membuka percakapan mereka berdua.

Kini Luhan dan Taeyeon sama-sama bersandar di dinding luar apartemen Taeyeon. Taeyeon yang merapatkan jaketnya dengan tangan menutupi bagian depan tubuhnya dan Luhan dengan kedua tangannya yang ia masukkan di sela kantong jaketnya.

“Hmm, kadang-kadang orang melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Ujar Taeyeon menanggapi penuturan Luhan tadi.

“Haha… tidak semuanya seperti itu, sampai kau melakukannya hari ini. Oh ya, kau tidak seharusnya tinggal sendirian di apartemen sepi seperti ini kan?”

Well, aku suka kedamaian. Bukan masalah besar.” Balas Taeyeon sambil mengangkat kedua bahunya.

“Maksudku bukan begitu. Maksudku aku bisa menyewakan apartemen baru untukmu. Yah, mungkin seperti tempat kita dulu?” Bujuk Luhan.

“Ah, tidak, tidak. Aku sangat menyukai apartemen ini.” Sergah Taeyeon.

“Sungguh?” tanya Luhan sekali lagi.

“Ya sungguh, aku juga punya tetangga yang lucu di sebelah sana.” Taeyeon menunjuk ke seberang pintu apartemennya, Luhan pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh Taeyeon.

Kebetulan Tao baru saja datang dan sedikit melambaikan tangannya kearah Taeyeon sebelum bocah panda itu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Taeyeon pun membalasnya dengan lambaian tangan dan tak lupa juga senyuman ramahnya. Luhan juga melihat sekilas seorang namja yang disebut Taeyeon sebagai tetangganya itu. Ya, sempat beberapa kali Luhan melihat namja itu selama ia ada di apartemen Taeyeon.

“Hmm, kalau begitu boleh aku masuk?” pinta Luhan.

“Maaf aku sedang bersama seseorang di dalam. Jadi…” Taeyeon sedikit ragu menolak Luhan seperti ini.

Namja? Ah, maaf aku sudah mengganggumu. Ini memang bukan tempatku.”

“Jadi… Ya, mungkin lain kali. Lain kali aku akan buatkan kopi untukmu dan kita bisa ngobrol lagi.” bujuk Taeyeon, merasa bersalah sudah menolak Luhan yang sudah jauh-jauh datang mengunjunginya seperti ini.

Deal. Baiklah, aku pulang sekarang. Tidurlah yang nyenyak.” Luhan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Taeyeon.

“Kau juga hati-hati di jalan, Lu.”

“Ah, Luhan!” panggil Taeyeon, masih ada yang belum ia sampaikan.

“Hmm?” Luhan terhenti dan menoleh ke arah Taeyeon yang memanggilnya.

Appa dan Jaejoong-oppa sangat menyukaimu. Menurut mereka kau adalah orang yang hebat dan sangat baik, mungkin sedikit terlalu baik untukku.” Ungkap Taeyeon, mengenang dua orang yang sangat berarti baginya.

“Haha~ mungkin setengahnya benar. Bye~” Luhan perlahan berjalan menjauhi posisi Taeyeon sekarang.

“Bye~” ucap Taeyeon, membalas salam perpisahan dari Luhan malam ini. Ia melihat punggung Luhan sudah tidak terlihat lagi, menghilang di balik pintu lift tak jauh dari Taeyeon berdiri sekarang.

Taeyeon kembali masuk ke dalam apartemennya setelah memastikan Luhan sudah pulang. Tidak lupa juga menyetel kunci apartemennya dengan benar, mencegah kriminalitas lain mendatangi Taeyeon.

“Oke sampai mana kita tadi? Oh iya, soal Jongdae! Haha, anak itu memang sedikit lebih dewasa dariku, oppa. Setidaknya dia dan Jinri masih baik-baik saja, tidak sepertiku dan Luhan. Keponakan oppa, Yoon Hee juga sekarang semakin cantik saja.” Taeyeon kembali duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu yang kecil ini. Ia melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi.

“Hmm… soal appa, kalau dipikir-pikir lagi aku memang sangat mirip dengannya. Sama-sama tidak mau mengalah dan juga punya prinsip yang kuat. Appa percaya dengan hukum-hukum yang tertulis itu, mutlak dan selalu benar. Sedangkan, aku percaya bahwa hukum itu dibuat oleh manusia dan manusia seringkali salah.”

Mata Taeyeon mulai berkaca-kaca melihat abu kakaknya yang terbungkus rapi oleh sebuah guci berwarna abu-abu dan terukir nama ‘Kim Jae Joong’ di atasnya. Ia melihat guci itu tak bergerak sama sekali di atas meja kayu ini. Dia sudah benar-benar tidak ada disini lagi.

“Jaejoong-oppa, kau tahu aku sangat merindukanmu. Sekarang tidak ada lagi yang bisa mendengarkan keluh-kesahku. Maafkan dongsaeng-mu yang suka memaksa dan menyusahkanmu. Maafkan adikmu yang keras kepala ini. Maafkan aku oppa, aku sangat merindukanmu.”

Taeyeon merebahkan dirinya di atas sofa panjang ini. Kedua tangannya ia telungkupkan di atas wajahnya. Hanya sedikit air mata yang tersisa disana. Luhan memang benar, apartemen ini terasa sepi. Tidak mudah bagi Taeyeon kehilangan keluarganya untuk yang kedua kali. Hari pertamanya memang sedikit berat hari ini. Ia perlu istirahat sekarang karena besok pasti akan ada kasus yang lebih berat lagi menunggunya.

-About Law and Love-

~to be continued~

 

Hiyaaa~ maafkan saya~ caci makilah saya~ tidak bisa menepati janji para readers… Huwee~ terlena dengan Wolf kemaren~ abis terlena jadi kena musibah kriminalitas beneran kemaren deh, akhirnya bener-bener lupa ama dua FF tagihan readers… maafkan daku~ semoga ini bisa menghibur gundah gulana para readers T^T… tapi jangan lupa kasih komen ya~ puas puasin marahin author hina satu ini ya T^T gomenasai~ hontou ni gomen~ m(_ _)m

 

15 pemikiran pada “About Law and Love (Chapter 2)

  1. Tdk semudah itu marahin author. Anda sdh bkrja keras. Kalo panjang bgni mah puas bacanya. Oke ditunggu nextnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s