Monalisa (Chapter 3)

Title : Monalisa (Part3)

Author : FebrinaFR (@RFebrinaFitri)

Genre : Romance, family and I don’t know 😀

Rating : T

Length : Chaptered~

Cast : -Monalisa (OC)

-Kim Jongin (KAI)

-Oh Sehun

Nb :        Ini FF perdana saya^^ dan milik saya. mohon jangan  bash, kalo mau kritik boleh, tapi baik-       baik ya 😀 Semua castnya milik Tuhan, kecuali kkamjong , He is mine ! Typo tersebar dimana-      mana,  Alurnya abstrak, dan maaf jika sudut pandangnya kebanyakan dari si OC karena          dia peran utamanya, biarpun ini FF gaje tetap RCL yaaa^^

Monalisa

 

PART 3

 

Monalisa POV

Aku dan keluarga Lee Harabeoji sedang menikmati makan malam tetapi hanya aku, Harabeoji dan Hyori ahjumma yang sudah berada di meja makan. BoA ahjumma sedang ada urusan sehingga dia tidak bisa ikut makan malam dirumah,sedangkan Jongin dan Sehun mereka belum turun.

Panjang umur, dua orang itu hadir. Tetapi mereka saling mengejar seperti sedang berlomba.

“Ahaha, aku menang lagi Sehun-ah”Ucap Jongin yang telah sampai duluan di Meja Makan, terlihat dia tersenyum sembari tertawa lepas.

“Nde nde, aku kalah lagi” jawab Sehun yang kemudian duduk di sampingku.

“Hha, lain kali kau harus mempercepat larimu Sehun-ah” Jongin kembali tertawa. Aku terus memperhatikannya. Ini pertama kalinya aku melihat dia tertawa dan aku tahu ketika dia tertawa dia terlihat tampan. Ah, bukan. Maksudku, dia memang tampan tapi ketika dia tertawa seperti ini dia benar-benar terlihat lebih tampan. Dia yang tertawa tapi kenapa aku yang merasa lebih bahagia?

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Dia sadar sedari tadi aku memperhatikannya, aku jadi malu.

“Monalisa, bagaimana hari pertamamu di Kampus, apakah menyenangkan?” Tanya Lee Harabeoji.

“Sangat menyenangkan Harabeoji” Aku tersenyum kepada Harabeoji dan begitu pula sebaliknya

“Tentu saja menyenangkan, Kuliah Gratis, makan gratis, tempat tinggal gratis, uang saku pun gratis” Cerca Hyori Ahjumma.

“Hyori, tolong jaga sikapmu !” balas Lee Harabeoji yang tidak kalah keras.

“Apa abeoji? Semua yang kukatakan itu benarkan? Seandainya dia mau membantu para pelayan disini, semuanya akan jauh lebih baik!” Hyori Ahjumma memberikan tatapan tajam kepadaku.

“Eomma cukup ! Sikap eomma terlalu kekanakan, ini yang membuat appa tidak betah bersama eomma dan memutuskan untuk meninggalkan eomma!!” Sehun menggebrak meja makan dan membuat semua orang kaget dengan tindakannya termasuk eommanya, Hyori ahjumma. Sehun pergi meninggalkan meja makan dengan sangat kesal.

“Oh Sehun! Beraninya kau! Aku ini Eommamu! Oh Sehun dengarkan aku !” teriak hyori ahjumma tetapi tidak didengarkan oleh Sehun.

“Harabeoji, ahjumma maafkan aku..”

“Diam kau! Kau puas telah membuat anakku sendiri bahkan berani membentakku?! Dasar yeoja tidak tahu diri !” aku sudah tidak kuat, aku ingin menangis sekarang. Aku benar-benar sudah menghancurkan keluarga ini. Halmeoni, aku membutuhkanmu sekarang..

Hyori Ahjumma juga pergi meninggalkan meja makan, dan hanya tinggal aku, Harabeoji dan Jongin. Tidak ada yang berbicara sekarang. Aku merasa sangat tidak enak kepada Harabeoji.

“Monalisa, Harabeoji harap kau tidak memikirkan apa yang dikatakan Hyori tadi” Harabeoji menatapku sembari tersenyum.

“Nde Harabeoji, aku mengerti kenapa Ahjumma bersikap seperti itu. aku permisi ke kamar Harabeoji”

Aku berjalan dengan lesu ke kamarku, namun aku melihat Sehun yang sedang sendirian di halaman. Karena merasa bersalah kepadanya aku menghampirinya.

Aku duduk di sampingnya, “Sehun-ah, maafkan aku semua ini salahku. Seandainya aku tidak hadir didalam keluargamu pasti semuanya akan baik-baik saja”

Sehun tersenyum tipis, matanya terlihat berkaca-kaca “Aniyo, ini bukan salahmu.”

“Mianhe, aku telah membuatmu sedih” Ujarku

Sehun menggeleng pelan. “Lalu kenapa kau menangis?” tanyaku

“Aku tidak menangis, aku hanya merindukan Appaku” jawabnya nanar. Sehun melanjutkan “Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya pun aku tidak tahu”

“Apa kau tidak pernah mencoba menemuinya?” aku tahu apa yang terjadi antara Eomma dan Appa Sehun, orang tuanya sudah berpisah ketika Sehun berumur 15 tahun.

Sehun tersenyum getir “Aku masih belum bisa memafkannya. Dia meninggalkan eomma dan aku begitu saja. Dia bahkan tidak pernah menemuiku dan eomma” Sehun mulai menahan isakannya.

“Aku juga merindukkan eomma dan appaku. Dari kecil bahkan aku tidak pernah melihat mereka, bagaimana sifat mereka, bagaimana cara bicara mereka, apakah mirip denganku aku tidak tahu. Aku hanya melihat mereka dari foto. Selama ini yang ada di mataku hanya Halmeoni. Tapi aku selalu bahagia aku juga tidak pernah mengeluh apalagi menangis” Ucapku tegar. Sehun memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.

“Bolehkah aku memelukmu? Saat ini aku butuh pelukan” Tanya Sehun yang masih menatapku.

“Tentu saja, kita kan teman”

Sehun langsung memelukku dengan erat dapat kurasakan air matanya menetes di pundakku. “Selagi kau masih punya kesempatan, temui Appamu. Aku yakin dia juga merindukanmu. Bagaimanapun juga kau kan Oh Sehun, putranya” aku mengusap punggung Sehun mencoba menenangkannya.

“Gomawo Monalisa, aku merasa jauh lebih baik sekarang” Sehun  melepas pelukannya, terlihat lebih baik sekarang.

“Cheonmanayo, Sehun-ah. Aku senang jika bisa membantumu” Jawabku.

Sehun beranjak dari duduknya “Aku ke kamar duluan ya, apa kau tidak mau masuk? Disini dingin?” Tanya Sehun.

Aku tersenyum tipis, “Kau saja duluan, aku masih ingin disini”

Sehun mengangguk mengerti dan berjalan masuk ke dalam rumah.

“Ternyata orang yang terlihat kuat didalamnya sangat rapuh” Ucapku pada diri sendiri.

Kutatap bintang-bintang di langit, eomma appa, bogoshipoe..

“Apa yang kau lakukan?” seseorang telah berada di belakangku, kualihkan pandanganku kepada sosok tersebut,

“Eoh??”

 

Jongin POV

Aku terhentak ketika melihat kemarahan Hyori Ahjumma kepada Monalisa. Ahjumma ku ini memang orang yang pemarah, tapi aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Terutama objek kemarahannya adalah Monalisa, aku memang masih kesal padanya, tapi kukira dia tidak pernah berbuat kesalahan kepada Hyori ahjumma, dia juga yeoja yang sopan ketika berada di Rumah ini. aissshhh, kenapa aku memujinya begini???

Sekarang hanya aku dan Harabeoji yang ada di meja makan, aku memutuskan untuk ke kamar. Lagipula malam ini selera makanku juga sudah buruk. Aku terhenti ketika melihat sebuah pemandangan tidak enak di depan mataku. Sehun sedang memeluk Monalisa? ada apa dengan mereka? apa mereka berpacaran? Lalu kenapa jantungku menjadi seperti ini?.Kupegangi dadaku dan aku dapat merasakan bahwa jantungku  tidak beraturan dan semua pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dipikiranku.

Aku masih memperhatikan mereka, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sehun melepas pelukannya dan dia meninggalkan Monalisa.

Ini saat yang tepat untuk aku berbicara kepadanya.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku to the point. Dia mendongakkan kepalanya dan melihatku.

“Eoh??” tanyanya dengan ekspresi polos yang menurutku itu ekspresi orang bodoh.

Kenapa yeoja ini selalu mengeluarkan Ekspresi innocent seperti ini sih? Tanyaku dalam hati.

“Kenapa kau berpelukkan dengan Sehun?” tanyaku lagi dan dia menatapku.

“Kenapa kau selalu kasar?” dia balik bertanya.

Aku mendesah kesal “Aku sedang bertanya kepadamu, jangan membalikkan pertanyaan!”

“Kau selalu kasar padaku, padahal aku tidak pernah kasar kepadamu, aku juga tidak pernah berbuat kesalahan padamu” ujarnyanya dengan nada polos.

Kutatapinya dengan kesal, aku sudah geram padanya, “Apa kau bilang? Kau tidak pernah berbuat kesalahan padaku?” Ulangku dengan nada kesal.

Dia kembali menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Kau lupa kejadian di Jeju?!” Bentakku. Yeoja ini selalu membuatku jengkel.

“Tapi aku kan sudah meminta maaf”

Aku tidak menjawabnya, saat ini ada berbagai macam perasaan yang bercampur dihatiku.

“Seandainya kau mau membagi senyummu padaku seperti kepada Sehun pasti semuanya akan menjadi indah” Monalisa tersenyum padaku, aku tidak mengerti apa maksud perkataannya. Aku baru sadar dia memilikki senyum yang sangat manis dan tulus, ada banyak orang yang pura-pura tersenyum. Tapi bukan untuknya. Dia berbeda. Kim Jongin, sadarlah !.  aku menggelengkan kepalaku dan Monalisa menatapku dengan tatapan bingung.

“Ada apa denganmu?” tanyanya.

“Bukan urusanmu. Dan tolong jauhi Oh Sehun. Aku tidak suka melihatnya berteman denganmu” aku pergi meninggalkannya dengan perasaan aneh yang masih meliputi hatiku.

***

Author POV

Monalisa sedang bercengkrama asik dengan Sehun di dalam perjalanan menuju Universitas, sekarang mereka jauh lebih akrab dan Sehun menjadi lebih banyak bicara kepada Monalisa.

“Sehun-ah, Kenapa Jongin selalu kasar kepada semua orang? dia juga selalu berbicara dengan volume sangat keras” Tanya Monalisa kepada Sehun.

Sehun tertawa mendengar pertanyaan Monalisa, “Dari luar dia memang terlihat kasar, tapi didalam dia sangat lembut”

Monalisa mengerucutkan bibirnya “Dia selalu kasar padaku. Padahal aku hanya tidak sengaja merusak lukisannya”

Tuukk..

Sehun menjitak kepala Monalisa dan Monalisa hanya dapat meringis kesakitan.

“Kenapa memukul kepalaku?” Monalisa mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat ulah Sehun.

“Jongin itu sangat mencintai Lukisannya, jelas saja dia marah padamu. Untung saja kau tidak mendapat pukulan olehnya.” Jelas Sehun

“Mwo? Apakah dia akan sekasar itu?” Tanya Monalisa dengan tatapan tidak percaya.

Sehun mengangukkan kepalanya, “Dia pernah melakukan hal itu kepada salah seorang pelayan dirumah kami. Pelayan itu tidak sengaja menumpahkan susu di atas Lukisan Jongin yang membuat Jongin marah. Jongin memukul pelayan tersebut dan memarahinya, pelayan tersebut mengundurkan diri dari Rumah kami.” Jelas Sehun panjang lebar.

“Tentunya dia tidak akan memukul seorang yeoja”

“Pelayan  itu seorang yeoja” Jawab Sehun singkat.

Monalisa membulatkan matanya dan menatap Sehun, “Dia memukul seorang yeoja? Keterlaluan sekali!”

“Tapi dia tidak memukulmu”

Monalisa terdiam mendengar pernyataan Sehun, dia masih menunggu Sehun melanjutkan ucapannya.

“Ketika di penginapan, dia terlihat sangat marah. Bahkan beberapa barang milik penginapan menjadi korban. Aku Tanya ada apa dengannya, dan dia menjelaskan bahwa lukisannya rusak karena seorang yeoja ceroboh” Sehun tertawa pelan.

“Lalu maksud ucapanmu?” Tanya Monalisa yang masih belum mengerti.

“Dia masih bisa menahan tindakannya kepadamu, padahal kalian baru bertemu sedangkan kepada pelayan itu, pelayan yang setiap hari ia temui dan pelayan yang selalu melayaninya dia berani berbuat seperti itu”

“Ah, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!” Monalisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Kau mengerti tetapi seolah-olah tidak mengerti”

Sehun memarkirkan Mobilnya di Halaman kampus dan mereka bersama keluar dari mobil.

“Apa kau pernah melihat Lukisan Jongin yang lain?” Tanya Sehun yang berjalan di samping Monalisa.

“Tidak pernah, lukisannya yang pernah kulihat dengan jelas hanya yang di Busan” jawab Monalisa.

“Lihatlah di Ruang gallery, disana banyak lukisan hasil karya Jongin” ujar Sehun

Di lain tempat ada yang sedang memandangi Sehun dan Monalisa..

“Yeoja baru itu, berani sekali dia mendekati Oh Sehun” Ujar seorang yeoja berambut bob.

“Mereka seperti berpacaran” Jawab yeoja lainnya.

“Kita beri pelajaran Kepada Yeoja itu”

Yeoja berambut bob pergi diikuti dua temannya di belakang.

***

Monalisa POV

Aku dan Soo Eun sedang berada di kantin. Aku sedang menyalin catatan milik Soo Eun dan Soo Eun sedang asik menyantap makanannya.

“Monalisa? kau tahu, aku sudah mendapat Nomor handphone Chanyeol” Ucap Soo Eun dengan nada gembira.

“Jinjja? Chukkae, pantas saja kau terlihat senang hari ini” jawabku ikut senang.

“Of course, semalam aku mengirim pesan kepadanya, dan dan dia membalas pesanku. Aku senang sekali. Ini seperti mimpi” Soo Eun menepuk-nepuk kedua pipinya. Dia lucu sekali.

“Ini bukan mimpi. berdo’alah semoga kalian bisa berkencan” jawabku sambil menghentikan tangan Soo Eun yang memukul pipinya sendiri.

Soo Eun mengangguk dan tersenyum senang, aku juga ikut tersenyum.

 

Jongin POV

Kutatapi Monalisa yang sedang tersenyum bersama Hwang Soo Eun, aku tidak tahu apa yang membuatku terus menatapnya, hanya saja aku sangat senang melihat senyum itu, dan juga tatapan matanya yang ceria. Sejak semalam dia masih berkeliaran di otakku.

“Kau sedang melihat apa?” Tanya Chanyeol yang mengagetkanku.

Kualihkan pandanganku dari Monalisa dan menatap chanyeol, “Aku sedang melihatmu sekarang”.

Chanyeol mendengus kesal, “Aiisshh, kau ini” aku terkekeh mendengar jawaban Chanyeol yang kesal.

 

***

Author POV

Jam kuliah telah usai, Sehun terihat sangat terburu-buru. Dia sedang mencari Monalisa. Sehun berlari menuju Ruang kelas Monalisa dan mendapati Monalisa sedang berada disana.

“Monalisa..” Sapa Sehun yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu.

“Sehun-ah” Jawab Monalisa sembari mengambil tasnya.

“Mianhe, aku ada urusan dengan seorang Dosen, jadi kau harus menunggu di parkiran, tidak apa kan?” Tanya Sehun yang berjalan menghampiri Monalisa.

“Gwenchana, aku akan menunggu disana” jawab Monalisa sambil tersenyum.

“Aku tidak akan lama” Sehun meninggalkan Monalisa yang masih berada di ruang kelasnya.

 

Monalisa POV

Aku sedang menunggu Sehun, dia bilang dia ada urusan dengan salah seorang dosen. Universitas mulai sepi hingga hanya aku dan beberapa yeoja yang berada disini. Salah seorang dari yeoja-yeoja itu menghampiriku, yeoja berambut bob dengan penampilan yang sangat modis.

“Apakah kau yang bernama Monalisa?” Tanya yeoja tersebut kepadaku.

Aku mengangguk dan tersenyum, “Nde, ada apa?”

“Tadi Sehun memintaku untuk menyampaikan hal ini, dia bilang dia menunggumu di Ruang kelasnya” ujar Yeoja itu.

“Benarkah? Tapi tadi dia memintaku untuk menunggu disini” Jawabku sedikit bingung.

“Tapi tadi dia berkata seperti itu, kau tidak mau membuatnya menunggukan? Mari aku antar” Ujar yeoja itu.

Aku hanya tersenyum dan mengikuti yeoja itu dari belakang. Kenapa Sehun tidak menemuiku di parkiran saja.

“Astaga, aku meninggalkan Lipstickku di toilet. Bagaimana ini?” Ucap yeoja itu tiba-tiba.

“Maukah kau mengambilkannya? Selagi aku memanggil Oh Sehun?” Tanya yeoja itu dengan tatapan memohon padaku. Tentu saja aku tidak keberatan untuk membantunya.

“Aku akan mengambilkan lipstickmu” Aku berjalan menuju Toilet wanita.

Sesampainya disana, aku segera mencari di mana lipstick milik yeoja tadi. Aku mencari di wastafel dan juga aku telah memeriksa setiap toilet, tapi aku tidak menemukannya. Mungkin sudah di ambil mahasiswi lain. Pikirku.

Aku memutuskan untuk keluar dan mengatakan kepada yeoja itu bahwa aku tidak menemukan lipsticknya. Namun, ketika aku hendak membuka pintu toilet, pintunya macet, pintunya tidak bisa terbuka. Aku terus mencoba menariknya, tapi tetap tidak bisa.

“Tolong, tolong aku !” teriakku dari dalam toilet. Aku masih mencoba mendobrak-dobrak pitunya.

“Aku mohon tolong aku ! siapapun di luar tolong aku !!” aku kembali teriak, berharap ada yang mendengarkanku.

Ceklek..

Seseorang membuka pintu toilet, dia menyelamatkan aku. Aku mendongakkan kepalaku dan yang menolongku ternyata, Jongin..

Jongin POV

Biarpun jam kuliah telah usai, aku masih tetap berada di Galeri Seni. Aku sedang menyelesaikan sebuah Lukisanku. Hari ini aku merasa sangat senang sehingga aku merasa dapat inspirasi lukisan. Meskipun aku tidak tahu hal apa yang membuatku senang.

Ternyata sudah cukup lama aku melukis, dan lukisanku belum sepenuhnya selesai. Aku memutusknan untuk melanjutkannya lain waktu. Kukemasi barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas ranselku.

Aku berjalan menuju parkiran,ketika aku melewati Toilet yeoja, aku seperti mendengar suara seseorang berteriak meminta tolong dari dalam toilet.

Aku memberanikan diri untuk memeriksanya, dan benar saja ternyata ada seseorang yang terkurung di dalam toilet, pintu toilet terkunci, jelas saja orang itu tidak bisa keluar .

Aku mencoba membuka kuncinya dan

Ceklek.. berhasil !

Seorang yeoja yang terkurung di dalam toilet itu terlihat ketakutan, dan ketika dia menatapku, ternyata Yeoja itu, Monalisa !

“Gomawo, neomu neomu gomawo, kau sudah menyelamatkanku” Ucapnya dan membungkuk beberapa kali. Wajahnya sedikit berkeringat. Dia pasti sangat takut tadi.

“Apa yang kau lakukan di toilet, bukankah jam pulang sudah dari tadi?” tanyaku, jujur saja perasaanku sangat tidak enak melihat keadaannya saat ini, seandainya aku tidak membuka pintunya, pasti dia akan terkurung.

“Aku menunggu Sehun, dan kemudian seorang yeoja memintaku untuk mengambilkan lipsticknya di Toilet, aku akan menolong yeoja itu, tapi kemudian pintunya terkunci”

Kenapa mendengarnya mengatakan bahwa dia sedang menunggu Sehun mebuat perasaanku tidak enak, apa aku cemburu?  Batinku.

“Sekali lagi Terima Kasih” dia kembali membungkuk.

“Hanya kebetulan” Ucapku cuek dan meninggalkannya.

Aku merasa aneh dengan diriku, bukankah aku membencinya, tapi kenapa sekarang aku menjadi peduli padanya…

Sehun POV

Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan dosen, aku segera menemui Monalisa di Parkiran. Tapi dia tidak ada disana. Aku mencari di seluruh tempat parkiran dan hasilnya nihil. Aku mencoba mencarinya di dalam kampus, dan aku menemukannya.

“Monalisa, kau dari mana?”

Aku melihat ada yang aneh dari keadannya, dia sedikit berkeringat dan terlihat ketakutan.

“Gwenchanayo?” tanyaku kepadanya.

“Gwenchana. Tadi aku tidak sengaja terkurung di toilet” jawabnya.

“Syukurlah sekarang kau baik-baik saja” Jawabku lega. Aku senang dia tidak apa-apa. Tapi dia masih terlihat ketakutan.

“Sudahlah, yang penting sekarang kau tidak apa-apa” Lanjutku. Kami berjalan berdampingan menuju tempat parkir.

***

Author POV

Monalisa terlihat lebih baik sekarang. Dia sedang menikmati udara di halaman Rumah keluarga Lee Harabeoji. Sebelum suara seseorang mengagetkannya.

“Kau sedang bersantai-santai kan?” Tanya Hyori dengan nada tajam seperti biasanya.

Menyadari keberadaan Hyori, Monalisa beranjak dari dudknya dan menghampiri Hyori.

“Nde, Ahjumma..” jawab Monalisa sedikit menunduk.

“Ahjumma? Apa kau lupa aku memintamu untuk memanggilku Nyonya, terkecuali jika Abeoji dan yang lainnya ada di Rumah” Jelas Hyori ahjumma.

“Nde, nyonya..” Ujar Monalisa.

“Sekarang aku mau kau membersihkan Kolam Renang, karena aku ingin berenang” perintah Hyori.

“Mianhe, ahjumma. Bolehkah aku meminjam Monalisa? dan masalah Kolam Renang, ada banyak pelayan di Rumah ini yang bersedia melakukan perintahmu itu ahjumma” Jongin tiba-tiba berada di belakang mereka dan membuat Hyori dan juga monalisa kaget akan keberadaannya.

Mendengar pernyataan Jongin, Hyori pergi meninggalkan mereka dengan mulut yang berkomat-kamit alias mendumel.

“Kenapa kau diam saja, cepat buatkan aku minuman !” Perintah Jongin yang melihat Monalisa sedang cengo menatapnya.

“Mwo? “ Jawab Monalisa yang masih kurang nalar.

“Buatkan aku minuman !” Ulang Jongin.

“Minuman apa?” Tanya Monalisa bingung.

“Apa saja, yang penting enak. Kau kan pernah bekerja sebagai pelayan, seharusnya kau tahu minuman apa yang enak. Dan berhentilah memasang ekspresi bodoh seperti itu”

Monalisa mengerucutkan bibirnya, karena perkataan Jongin.

“Sudah cepatlah ! aku tunggu di Lantai tiga” Jongin menaiki tangga ke atas, sementara Monalisa berjalan menuju dapur.

“Minuman apa yang harus aku buat? Jika aku salah buat, nanti dia mengomel lagi. Tapi hari ini dia menyelamatkanku dua kali, aku berhutang padanya. Hmm, aku buatkan Orange Jus saja.” Ujar Monalisa pada diri sendiri.

Monalisa membawa segelas Orange Jus ke lantai tiga, sesampainya di depan Ruang Lukis Jongin, Monalisa mengetuk pintunya dan mendapat jawaban dari Jongin.

Dibukanya pintu Ruangan itu, dan dilihatnya Jongin sedang menyapukan Kuas dengan Cat berwarna merah di atas kanvas.

“Letakkan saja di Meja” perintah Jongin.

Monalisa meletakkan Orange jus itu di atas meja, dan dia melihat apa yang sedang dilukis Jongin.

Bukan sebuah Gambar, melainkan hanya perpaduan-perpaduan warna-warna cat dan beberapa Bidang-bidang tak beraturan.

“Apakah itu bisa disebut sebuah lukisan” Bisik Monalisa pada diri sendiri.

Tanpa disadarinya, ternyata Jongin mendengarnya, “Yak ! ini namanya Lukisan abstrak ! hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nilai lukisan ini, dan orang itu tentu saja bukan kau !” Cerca Jongin sambil menunjuk-nunjukkan kuasnya di depan wajah Monalisa.

“Pantas saja terlihat berantakkan” Ucap Monalisa yang masih memperhatikan Lukisan Jongin.

“Kau ini mengambil jurusan Seni tapi kau sama sekali tidak mengerti tentang Seni !” Ujar Jongin dengan keras.

“Aku mencintai Seni Musik, bukan Seni Lukis” jawab Monalisa

“Tapi keduanya sama-sama Seni” jawab Jongin tidak mau kalah.

“Ah sudahlah, tidak ada yang kau butuhkan lagi kan. Aku akan pergi” Ujar Monalisa berjalan menuju Pintu.

“Aku juga bosan melihat wajahmu” Ujar Jongin kembali melanjutkan pekerjaannya.

Monalisa tidak menggubris perkataan Jongin dia hanya berjalan melaluinya.

 

***

Monalisa POV

Setelah makan malam, aku kembali ke kamarku dan membuka-buka buku catatan. Sesekali aku membayangkan apa yang terjadi tadi siang, aku berbicara dengan Jongin, meskipun dia masih bersikap kasar, entah kenapa itu tetap membuatku senang. Ada hal yang berbeda ketika aku berbicara padanya. Aku kembali membaca buku catatanku, tapi semua yang aku baca tidak dapat ditangkap otakku dengan baik. Apa aku jatuh cinta pada Jongin? Tidak. Aku baru beberapa hari mengenalnya  bahkan selama ini hubungan dia terhadapku tidak pernah baik. Aku memutuskan untuk tidur dari pada terus memikirkan hal ini.

 

Jongin POV

Dia yeoja yang manis, meskipun terkadang oon. Dan tampang bodohnya ingin membuatku tertawa. Aku bahkan belum membalas perbuatannya waktu itu, kenapa aku malah merasa seperti ini padanya. Kemana semua perasaan benci yang dulu aku punya? kenapa menjadi aneh seperti ini. ku hempaskan diriku di atas kasur.

Author POV

Sehun memasuki kamar Jongin terlihat dia sedang senang malam ini, Jongin menegakkan badannya dan menatap Sehun dengan tatapan bingung.

“Ada apa denganmu Sehun-ah?” Tanya Jongin yang menyadari ada keanehan pada diri Sehun.

“Jongin, menurutmu Monalisa bagaimana?” Tanya Sehun yang duduk di samping Jongin.

“Hmmm, menurutku dia yeoja ceroboh, dan sedikit telmi. Tetapi dia selalu ceria, biarpun aku selalu kasar padanya” Jawab Jongin.

Sehun memperhatikan Jongin, bagaimana ia menggambarkan Monalisa.

“Apa kau tidak menyukainya?” Tanya Sehun terus memandangi Jongin.

Jongin menatap Sehun, “Tentu saja, tidak” jawab Jongin, ada sedikit keraguan di hatinya ketika menjawabnya.

“Jeongmal? Kau tidak berbohong kan?” Tanya Sehun menyelidik.

Jongin mengalihkan pandangannya dari Sehun, dia sedikit bingung dengan perasaannya, mungkin dia mulai sedikit menyukai Monalisa tapi dia terlalu gengsi mengatakannya.

“Ani, aku tidak menyukainya. Aku masih kesal padanya” Ujar Jongin.

“Huuhhh, syukurlah. Karena aku menyukainya..” Jawab Sehun Diikuti senyuman di bibirnya.

 

Tbc..

Biarpun gaje, tetap tinggalkan jejak yaaa.. ^^gamsa

 

Iklan

14 pemikiran pada “Monalisa (Chapter 3)

  1. kyaakk..ni ff keren amat,bru bca chap 3,udh dibuat penasaran gaje gni) ya ampun jongin,klw qm suka’ ungkapin dong entr kburu drebut sehun lg! Kai dsni sadis amat,dingin,cuek mirip ky karakter asliny kai..ni author daebak bgt bikinnya•lanjut chap 4~horee

  2. hyori ahjumma galak bgt sama monalisa..untung ada jongin yg nolongin..tp gmn perasaan jongin nanti y kalo sehun semakin dkt sama monalisa..makin seruu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s