A Long Summer With 6+1 (Chapter 13)

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 13)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

 97558360 (1)

============================================

 

“Darimana saja?” tanya sesosok gelap yang membelakangi Suho dan Haerin yang baru masuk kedalam apartemen dalam keadaan seperti sedang mabuk. Suara itu terdengar berat dan parau. Tetapi Suho tahu bahwa itu bukanlah suara Chanyeol. Suho pun meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu.

Sosok itu tidak bergerak sama sekali, Suho masih bisa melihat samar-samar bayangan hitam itu membalikkan tubuhnya.

Suho membulatkan matanya ketika melihat sosok tinggi dan pucat Sehun. Mata dingin milik maknae itu menatap kaku kearah Suho dan Haerin. Matanya semakin terlihat marah ketika melihat Haerin yang tertidur di bahu Suho, dengan tenang.

Suho tidak sempat menjawab Sehun, karena Sehun dengan sedikit kasar menarik tangan Haerin dari dekapan Suho dan menariknya kedalam pelukannya. Membuat Haerin terkesiap pelan dan membuka matanya. Suho yang tersentak melihat Haerin yang sudah berpindah tangan akhirnya balik menatap Sehun dengan tak kalah garang. Sang leader dan maknae itu bertatapan dengan amarah yang terpancar dari mata masing-masing.

Sehun duluan yang akhirnya memutus koneksi empat mata mereka, tangannya masih mendekap Haerin yang setengah tertidur di tangan kanannya, membawanya untuk masuk kedalam kamarnya.

Sebelum Sehun membuka pintu, ia berbalik untuk menatap Suho.

“Jika aku menemukan ia dalam kondisi seperti ini lagi, tanpa sepengetahuanku kalian pergi. Kau sungguh akan habis, hyung. Dan aku tidak peduli,” ujar Sehun dengan nada datar, tetapi terdengar mematikan.

“Aku serius.” Tambahnya sebelum akhirnya membanting pin-tu kamarnya.

Suho berdiri di ruang tengah dengan tatapan tidak percaya atas apa yang diucapkan oleh Sehun. Maknae durhaka itu semakin menjadi-jadi kelakuannya. Dan Suho merasakan seperti hartanya direbut, harta paling berharga miliknya.

Lelaki itu pun menendang salah satu kaki kursi yang berada di dekatnya, menyalurkan segala kekesannya dengan meninju tembok di belakangnya.

Akhirnya ia terduduk diatas sofa, menangkup seluruh wajah sempurnanya di dalam kedua tangannya. Merasa sedikit depresi.

Dia akhirnya tahu bahwa Sehun tidak main-main dengan sikapnya selama ini kepada Haerin.

==========================

Sehun menuntun Haerin kearah kasur. Sehun sempat berhenti diantara sofa dan kasur. Masalahnya Sehun tidak tega untuk membiarkan gadis ini tidur di sofa lagi.

Lelaki itu menghela napas, karena Haerin sepertinya sudah tidak bisa menyeimbangkan bobotnya sendiri, akhirnya dengan wajah yang memerah, Sehun mengangkat tubuh mungil gadis itu lalu menempatkan Haerin dengan hati-hati diatas kasur.

Haerin pun secara langsung bergelut kearah samping, sehingga Sehun bisa melihat wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Tatapan Sehun yang dingin seperti es mulai mencair, digantikan dengan tatapan sayu dan merasa iba.

Dengan perlahan tangan kanan Sehun bergerak untuk mengelus rambut halus Haerin. Elusan itu turun ke pipi Haerin, membuat Sehun dengan gemas mencubit pipinya dengan lembut. Sehun bisa merasakan dadanya memanas dan jantungnya berdegup kencang. Sehun tiba-tiba merasa ingin menangis. Sesungguhnya jika Haerin tahu bagaimana khawatir dirinya saat Suho mengajak Haerin pergi diam-diam. Bagaimana depresi dirinya saat menyadari bahwa malam itu tidak ada lagi objek yang biasanya ia dapati tertidur pulas di sofa. Bagaimana hampanya karena tidak ada objek yang bisa ia perhatikan secara intens pada malam itu.

Bagaimana dirinya menahan diri untuk tidak mencium bibir kecil milik Haerin. Bagaimana dirinya berusaha untuk menahan segala hasrat untuk menunjukkan perasaannya kepada Haerin. Bagaimana keras usahanya untuk mendapatkan perhatian gadis itu walaupun ia tahu ia tidak seharusnya bersikap terlalu dingin.

Bagaimana cemburu membabi buta di hatinya.

“Jangan tinggali aku seperti itu lagi…” bisik Sehun lembut di depan telinga gadis itu.

Tepat satu butir air mata jatuh ke pipinya.

Cepat-cepat Sehun menghapus air mata itu, ia tersadar dari pikiran-pikiran anehnya. Lalu ia menghela napas, bisa merasakan tenggorokannya yang terasa serak. Dengan sedikit terseok-seok, ia berjalan menjauhi gadis itu. Mengambil selimut biru langitnya, lalu merebahkan dirinya diatas sofa.

Diam-diam Sehun masih memerhatikan Haerin yang tertidur pulas dan masih terbalut jaket dan celana jins. Sehun menahan napasnya saat gadis itu bergerak untuk membelakanginya. Sehun akhirnya mendengus, lalu membalikkan tubuhnya untuk membelakangi gadis itu juga. Lalu mencoba untuk tidur.

========================

Keesokan harinya, semua dibingungkan dengan sang leader dan maknae yang saling berdiam sama sekali. Kalau yang berdiam hanya yang bersangkutan, mungkin member yang lainnya tak akan khawatir. Tetapi member yang tak tahu apa-apa pun ikut didiami.

Bahkan Suho dan Sehun hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan member lain seperlunya saja. Haerin dan Jihwa juga jadi bingung. Tapi mereka berdua juga tidak terlalu peduli, karena pasti sebentar lagi mereka akan berbaikan.

Tetapi mereka salah.                        

Sampai sore menjelang malam pun, tak ada dari mereka yang berinisiatif untuk berbicara satu sama lain. Suho bahkan tak berniat untuk menatap sekilas pun kearah Sehun, begitu juga sebaliknya.

Haerin berniat untuk menanyakan apa yang terjadi kepada Suho saat kebetulan Haerin berjalan kerah dapur dan Suho sedang meminum sebotol air mineral. Tetapi belum sempat Haerin bertanya, Suho hanya membalikkan badannya dan tersenyum simpul kearah Haerin lalu berjalan melaluinya.

Haerin langsung merasa pissed off. Padahal baru semalam mereka menghabiskan waktu bersama. Tetapi secepat itukah Suho mengacuhkannya? Gadis itu memerhatikan punggung Suho yang semakin menjauh, lalu mencibir. Tetapi Haerin tidak semudah itu menyerah. Ia harus mencari cara agar Suho mau menceritakan masalah apa yang sedang terjadi. Haerin terlalu takut jika harus menanyakan masalah ini pada Sehun, takutnya Sehun bukannya menjawab, tetapi gadis itu akan dilempar dari balkon.

Gadis itu menggaruk kepalanya yang benar gatal. Merasa peduli tapi ia berusaha untuk tidak peduli. Akhirnya ia hanya membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Lalu menjatuhkan tubuh kecilnya ke sofa, membuat yang lainnya sedikit terlompat.

Member lain termasuk Jihwa memandang gadis itu dengan pandangan aneh. Sempat mengira bahwa Haerin juga tertular oleh sifat jutek yang sedang merambah di diri Suho dan Sehun. Namun Haerin tidak memperdulikannya, ia malah melipat kedua tangannya di depan dadanya, semakin menolak untuk berbicara ketika yang lain menanyakan ada apa dengannya.

Sebenarnya tidak ada alasan yang tepat untuk Haerin menjadi kesal seperti itu. Tetapi karena sedari tadi tidak ada satu-pun pertanyaannya dijawab oleh Suho, ia menjadi dongkol sendiri.

Lihat saja, pokoknya aku tidak akan berbicara denganmu lagi, Suho oppa! gumam Haerin dalam hati dengan keyakinan yang kuat.

Sementara Sehun sedari tadi hanya bermain playstation bersama Kai. Sehun yang cepat bosan dengan teganya meninggalkan Kai bermain sendirian karena Kai sudah mengalahkannya bertanding. Namun karena Kai memohon, Sehun pun mau melanjutkan permainannya.

Haerin berdiri dari sofa, hendak menuju kamar mandi. Jihwa yang sedang bermain dengan ponselnya pun menengok sekilas kearah gadis kecil itu. Sebuah senyuman licik terpampang jelas di wajahnya. Dengan perlahan ia menjulurkan salah satu kaki kanannya dan menyaksikan gadis kecil itu jatuh terjerembab.

Senyum puas pun langsung mengembang di wajah cantik Jihwa. Ia pun menarik kaki jenjangnya kembali, lalu bermain lagi dengan ponselnya sementara Haerin masih terdiam di lantai, berusaha menahan air matanya. Haerin bisa mendengar member EXO-K yang memanggil namanya dengan nada khawatir. Tetapi ia hanya—sekali lagi—tidak peduli.

Dengan lemas ia mengangkat tubuhnya perlahan. Ia tidak memperdulikan lututnya yang sekarang membiru membentur lantai. Ia tidak memperdulikan air mata yang sekarang telah sukses jatuh ke pipinya yang merah.

Ia hanya tidak tahan dengan Jihwa yang terus mempermalukannya. Maupun itu di depan dirinya sendiri ataupun di depan para member EXO-K.

Saat Haerin sudah sukses berdiri dengan kaki kanannya yang sedikit terhuyung, Chanyeol langsung mendekap gadis itu untuk menenangkannya. Baekhyun pun menyuruh Haerin untuk duduk di sebelahnya demikian pula D.O yang langsung menyiapkan kompres kecil untuk mengompres memar di kaki Haerin yang sebesar kepalan tangannya sendiri. Sementara Kai berjalan kearah Jihwa dan mengangkat tangan kanannya.

Tamparan itu sebenarnya akan mendarat di pipi mulus Jihwa kalau saja Suho tidak langsung menahan lengan Kai. Kai pun terlihat bingung saat Suho mencegahnya untuk menampar gadis kurang ajar yang satu ini. Tetapi Suho hanya menepuk pundak Kai pelan untuk menenangkan amarah Kai yang sudah naik ke ubun-ubun.

Kai menatap sinis kearah Jihwa dengan tatapan, beruntung Suho hyung mencegahku. Namun Jihwa hanya membalasnya dengan senyum licik. Sehun yang melihat hal itu benar-benar tidak bisa menahan amarahnya, namun yang ia lakukan adalah mengepalkan tangannya sendiri. Membiarkan kuku-kukunya tenggelam dan menggores telapak tangannya.

Saat Sehun membuka tangannya, ia tidak heran saat melihat luka cakaran yang berada di telapak tangannya. Dia tidak mempunyai daya apapun untuk menampar Jihwa, ataupun sekadar memarahinya. Dirinya sudah terlalu lelah.

Terlalu lelah dengan kenyataan bahwa Haerin terlihat lebih nyaman dengan Chanyeol atau yang lainnya.

Tetapi bukan dirinya.

=========================

Hyung! Kenapa kau malah menahanku saat aku ingin menampar gadis sombong itu?!” tanya Kai setengah frustasi karena merasa tangannya sudah gatal ingin segera menampar Jihwa.

Chanyeol, Baekhyun, dan D.O pun mengangguk setuju.

“Iya! Kenapa kau malah mencegahnya, hyung?” tanya Baekhyun meminta penjelasan dari Suho. Namun orang  yang diajak bicara hanya diam menatap pemandangan di luar jendela kamarnya. Diam seperti patung. Sama seperti Sehun yang masih merasa marah, kecewa, cemburu bercampur menjadi satu.

Setelah beberapa lama, akhirnya Suho membalikkan tubuhnya, menatap Sehun sebelum akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang semakin menggunung padahal ia sendiri sedang memikirkan jawaban yang logis.

“Kita masih harus mencari alasannya,” jawab Suho sedikit datar.

Semua orang yang berada di kamar Suho mendesah, kecuali Sehun yang masih duduk di sebelah kasur Suho tanpa bergerak sedikitpun kecuali bernapas. “Ah, tidak semua hal perlu ada alasannya, hyung!” ucap D.O meniru kata-kata yang pernah diucapkan oleh Sehun. Sang pemilik kalimat pun hanya memandang D.O sekilas, lalu kembali ke posisi semula.

Suho menggeleng perlahan, “Tidak-tidak, maksudku… kenapa Jihwa membenci Haerin… pasti ada alasannya, kan? Menurutku kalau benar Jihwa membenci Haerin tanpa alasan… yah, mungkin memang dia yang aneh,” Suho menyudahinya dengan mengangkat bahu bidangnya.

Sehun menatap Suho dengan tajam, sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ingin rasanya ia keluar dari kamar ini lalu menampar gadis itu dengan tangannya sendiri.

Masalah selesai.

Namun kembali ke realita, dari apa yang dikatakan oleh Suho, gadis itu memang tidak berhak disalahkan sebelum yang lainnya mengetahui apa masalah gadis itu sendiri. Tetapi menunggu adalah satu-satunya hal yang membuat Sehun cepat muak. Tetapi—lagi—jika ia main tampar, dan ternyata alasan gadis itu cukup logis. Bisa-bisa ia yang disalahkan balik atas kekerasan anak di bawah umur.

Sehun memundurkan wajahnya. Di bawah umur? Bahkan gadis itu saja hanya berbeda setahun dengannya. Apakah itu masih bisa dibilang ‘di bawah umur’? Secara tidak langsung, Sehun berdebat dengan pikirannya sendiri. Sementara suara Suho dan yang lainnya hanya terdengar samar-samar karena ia lebih memfokuskan suara di otaknya.

Pikirannya saling berperang satu sama lain. ia tidak merasakan saat Kai berkali-kali meninju sikunya.

Ya! Sehun-ah!” kali ini Kai mencubit lengan Sehun sedikit keras, membuat Sehun mendesis sambil sedikit meringis. Kai tersenyum puas karena sudah membuat Sehun akhirnya menoleh kearahnya. Kai berkata bahwa sedari tadi Sehun hanya melamun durja.

“Apa, sih?” tanya Sehun merasa terganggu dan masih bisa merasakan rasa nyeri yang terpusat di bagian bawah lengan kirinya sehabis dicubit oleh Kai. Kai hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Sehun dikarenakan ia sudah menghabiskan waktu terlalu lama bahkan hanya untuk menyahut panggilannya.

Sehun mengerutkan alisnya saat Kai malah mengacuhkan pertanyaannya. Tetapi Sehun yang dasarnya memang sudah tidak peduli lagi dengan apapun yang berada di sekitarnya, malah berdiri dari ruangan itu.

Dan tanpa memperdulikan orang-orang yang memanggilnya, bahkan Suho yang sudah hampir membentak dirinya, Sehun langsung mengangkat kakinya keluar dari kamar Suho.

=======================

Sehun membuka pintu kamarnya dengan kasar, menyebabkan Haerin yang sedang duduk bersila di sebelah kopernya. Dengan tergesa-gesa gadis itu segera menyembunyikan buku hariannya dibawah tasnya. Sehun melihat kearah sepasang mata bengkak dan sembab pada gadis itu.

Melihat Sehun yang memandangnya dengan tatapan tajam dan kelihatannya—sedang marah besar, Haerin kembali menitikkan air matanya lagi. Kali ini ia menyembunyikan wajah kecilnya di tangkupan kedua tangannya. Haerin merasa malu, malu karena ia sudah jatuh terjerembab di depan banyak orang, dan malu karena ia lagi-lagi menangis di depan Sehun.

Sehun kembali menatap gadis yang menangis di depannya dengan sayu. Hatinya terasa sakit saat melihat punggung kecil itu bergerak naik turun seiring dengan tangisnya yang sesenggukan. Dengan langkah lebar ia mendatangi Haerin, mengangkat punggung gadis itu untuk mendekat kearahnya.

Dan mendekapnya kedalam pelukan Oh Sehun yang hangat, tidak dingin seperti matanya yang selalu menatap gadis itu dengan sorot dingin layaknya es.

Sehun membawa gadis itu lebih erat kedalam pelukannya, Sehun bisa mencium wangi cologne bayi saat ia meletakkan dagunya diatas bahu Haerin. Ia menoleh untuk menghirup aroma shampoo stroberi yang selalu gadis itu gunakan. Tanpa disadari Haerin—bahkan Sehun sekalipun, Sehun ikut menangis di pelukan Haerin. Sehun tidak mengerti setiap kali hyungnya berkata bahwa hati mereka sakit, tetapi Sehun merasa bahwa seluruh tubuhnya ikut hancur. Dan melihat gadis itu menangis, tidak membuat dirinya pulih seperti biasa.

“Aku tidak mengerti…” gumam Sehun di sebelah telinga Haerin agar gadis itu bisa mendengarnya dengan jelas disela-sela tangisannya. Suaranya terdengar serak dan basah, seperti ada yang menggumpal di tenggorokannya. Haerin menghentikan tangisannya, tetapi tidak menghentikan air mata yang masih turun ke pipinya yang memerah.

Entah kenapa Haerin malah mengeratkan pelukannya dengan Sehun, membenamkan wajahnya ke bahu bidang milik Sehun yang sudah basah dengan air matanya. Haerin ingin mendengar Sehun berbicara lagi kepadanya, apapun. Kata apapun akan Haerin terima, tak peduli itu cacian atau makian.

Sehun menarik napas, “Aku… tidak tahan melihatmu seperti ini. Kau hanya membuatku sakit hati,” ujar Sehun sembari menarik napas dengan hidungnya yang sudah dipenuhi ingus itu. Haerin terdiam mendengar kata-kata Sehun yang terdengar begitu tulus.

“Aku… tak bisa menahan diriku saat melihatmu tidur. Aku sangat marah saat aku tahu kau pergi berdua saja di tengah malam dengan Suho hyung. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menarik dirimu kedalam pelukanku saat melihatmu seperti orang mabuk—yang padahal kau hanya terlalu mengantuk dalam rangkulan Suho hyung…”

“Kau tahu?” tanya Sehun melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Haerin untuk menatap wajahnya. Haerin memandang Sehun dengan pandangan nanar. Matanya semakin sembab dan membengkak. Rasanya gadis itu ingin menangis lagi ketika melihat pipi Sehun yang basah karena air matanya sendiri.

“Aku cemburu,” Sehun berbisik dan memajukan wajahnya sedikit. Haerin berusaha untuk mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Sehun dan sedetik kemudian ia terhenyak. Tangan Haerin meremas lengan Sehun dengan kuat. Seolah Sehun bisa membaca pikiran Haerin yang bertanya pada dirinya sendiri. Kau cemburu dengan apa.

“Dengan apapun. Saat Chanyeol hyung memelukmu, dan bagaimana kau tidak menolak untuk dipeluk olehnya. Tetapi mengapa kau menolak ketika aku memelukmu? Kenapa kau malah kabur? Kenapa kau lebih akrab dengan D.O hyung atau Baekhyun hyung? Dan kau kelihatannya nyaman sekali saat bersama Suho hyung. Kenapa tidak bisa denganku? Kau ketakutan setiap kali aku mendekat kearahmu, seolah aku adalah monster?” ujar Sehun dan diakhiri dengan pertanyaan. Haerin tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya.

Sehun menghela napas berat, membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi kemudian menutup mulutnya kembali.

“Aku jatuh cinta padamu,” seiring dengan air mata Haerin yang ikut jatuh. Sehun menatap Haerin penuh makna, makna yang dalam. Tatapannya benar-benar nanar, tidak dingin seperti tatapan yang biasanya, tatapannya seperti mencari-cari jawaban di mata Haerin. Sementara Haerin mencari kebenaran dalam mata Sehun.

Tetapi Haerin menggeleng pelan, cengkeraman tangannya pada lengan Sehun mengendur. Tangannya itu ia gunakan untuk menghapus air mata di pipi Sehun yang memerah me-nggunakan ibu jarinya dengan lembut. Tatapan nanarnya di-gantikan dengan tatapan sayu.

Dengan ragu-ragu, Haerin mengangkat kedua tangannya lalu melingkarkannya di kedua bahu Sehun, menarik lelaki itu kedalam pelukannya. Tangan Sehun yang masih tadi sempat diturunkan ke sisi tubuhnya sekarang ia lingkarkan di punggung kecil Haerin, menariknya untuk mendekat.

Keduanya berpelukan dalam posisi sedikit canggung, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Sehun sedikit mengangkat tubuh Haerin supaya lebih dalam pelukan mereka, Sehun mendekatkan wajahnya ke bahu Haerin, bibirnya didekatkan kearah telinga gadis itu.

“Jangan takut kepadaku. Aku hanya ingin melindungimu,” bisik Sehun diakhiri dengan kecupan lembut di dahi Haerin.

Haerin pun mengangguk lemah, setelah itu ia menunduk karena wajahnya memerah. Senyum manis pun terukir di wajah porselen Sehun. Sehun bahkan berpikir bahwa Haerin lah yang berhasil melelehkan es yang selama ini bersarang dalam tubuhnya. Gadis itu telah melelehkan es yang selama ini membekukan hatinya.

Padahal gadis itu tidak melakukan apa-apa kecuali merasa ketakutan pada Sehun. Namun setidaknya Sehun percaya bahwa cepat atau lambat gadis itu akan menyesuaikan dirinya.

Dan yang lebih menyenangkan, mungkin gadis itu akan lebih mudah untuk membuka diri kepadanya.

Sehun kembali memeluk gadis itu, tetapi kali ini lebih terasa hangat dan nyaman dari sebelumnya. “Ayo kita istirahat,” ajak Sehun sedikit bergumam, tersenyum kecil.

============to be continued==============

Iklan

34 pemikiran pada “A Long Summer With 6+1 (Chapter 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s