Way To Get Yours (Chapter 1)

Way to Get Yours (Chapter 1)

 

Title     : Way to Get Yours (Chapter 1)

Genre : Romance, Friendship, School Life

Length : Chapter

Rank    : Teen, General

Cast     : Lee Jihyun|Park Yoonhee|Kim Jongin|Oh Sehun

Author : Han Minra aka RahmTalks

way

 

=== WAY TO GET YOURS===

 

 

Sahabat, tempat berbagi suka dan duka, susah dan senang akan dilalui bersama-sama. Itulah semboyan yang berlaku bagi Park Yoonhee dan Lee Jihyun. Keduanya bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Mereka sangat dekat, saling mengerti, dan saling menyayangi satu sama lain. Perbedaan yang sangat mencolok bukanlah hal yang dapat menghalangi persahabatan mereka.

Park Yoonhee bisa dibilang adalah gadis terpopuler di Seoul High School tempatnya bersekolah kini. Dia benar-benar membuat iri semua gadis karena hidupnya yang sempurna. Sangat rendah hati, wajah cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang berkilau, tubuhnya tinggi dan langsing, orang tuanya kaya raya, otaknya yang encer yang membuat dirinya sering menjadi juara kelas, serta mempunyai namjachingu yang juga merupakan namja terpopuler di sekolah, Kim Jongin. Sungguh membuat gadis-gadis lain iri bukan?

Berbeda dengan Park Yoonhee, Lee Jihyun adalah gadis yang sederhana. Ia sudah tak mempunyai keluarga selain kakaknya, Lee Aeri. Ia cukup cantik dan manis, kulitnya memang putih namun agak kusam, rambutnya selalu diikat kebelakang, selain itu dia juga tak pernah sekalipun mendapat gelar sebagai juara kelas. Dengan perbedaan yang cukup jauh itu, tak jarang teman-teman mereka mencemooh Jihyun yang dikira hanya menumpang ketenaran pada Yoonhee. Namun bagaimanapun juga, Yoonhee akan tetap berada di pihak Jihyun meskipun tak jarang teman-temannya menghasutnya agar menjauhi Jihyun.

“Hei! Kau sedang melihat siapa?” Yoonhee datang menghampiri Jihyun yang duduk di tepi lapangan basket tempat kelas 3-B dan 3-D melakukan pertandingan.

“Eh? Aku? Tentu saja sedang melihat pertandingan basket. Kau pikir aku sedang apa? Tidur?” Jihyun menjawab datar.

“Melihat pertandingannya atau pemainnya?” goda Yoonhee.

“Tentu saja pertandingannya!”

“Matamu tak bisa mengelabuhiku Jihyun. Kau sedang memperhatikan…. Em…. Sehun?”

 

===

 

Jihyun’s POV

“Matamu tak bisa mengelabuhiku Jihyun. Kau sedang memperhatikan…. Em…. Sehun?”

Mwo? Jadi dia berfikir seperti itu? Harus kujawab apa? Aku sudah tertangkap basah sedang mengamati salah satu pemain basket itu. Tapi bukan Sehun yang kuperhatikan namun Kim Jongin atau Kai.

Ya, aku memang menyukainya sejak bersekolah disini apalagi pada tahun pertama kami sekelas. Dan kalian pasti juga tahu betapa sakitnya saat mengetahui Yoonhee sahabatku sendiri menjadi yeojachingunya Kai. Namun aku bisa apa? Protes? Pada siapa? Ini bukan salah Yoonhee ataupun Kai. Karena sudah pasti Kai lebih memilih Yoonhee yang lebih memiliki tipe muka laku keras daripada aku yang notabenya tidak pernah dilirik oleh namja sekalipun, selain itu Yoonhee… ah, aku malas membahasnya, jika aku mengingatnya sama saja aku mengejek diriku sendiri. Bayangkan saja, aku dan Yoonhee… bagaikan langit dan ujung samudra. Namun meskipun begitu aku sangat berterimakasih padanya karena mau bersahabat denganku, di dunia ini dialah yang paling kusayangi setelah kakakku.

“Jihyun-ah!” Yoonhee melambai-lambaikan tangannya persis di depan mukaku.

“Ah, iya?”

“Nah kan, kau sedang melamunkan siapa? Kau melihat Sehun kan? Atau Chanyeol? Atau bahkan Luhan?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Aniya.” Jawabku sesantai mungkin.

“Jadi bukan mereka ya? Lalu siapa?”

Ting!

Rasanya ada dentingan berbunyi  di dadaku. Perasaan tersentak dan kaget.

“Eh… Emm….” aku menunduk menggaruk-garuk bangku ini.

“Yakin kau tidak sedang melihat satu diantara mereka atau bahkan menyukainya? Baiklah jika kau belum mau bercerita sekarang. Kalau kau sudah siap pastikan aku adalah orang pertama yang tahu ya… Aku akan membantumu.” Katanya dengan senyuman yang terlampau cantik menurutku.

“Pasti.”

“Jihyun-ah… Pertandingan sudah selesai.” Aku mengikuti arah pandangnya.

“Kai! Nanti sore jangan lupa untuk datang ke club basket.” Kata Sehun dari kejauhan namun terdengar sampai tempat kami duduk.

“Ne. Tapi sebelumnya aku akan ke rumahmu dulu.” Jawab Kai tidak kalah keras.

“Arraseo.” Kemudian Sehun berlalu sementara Kai… Seperti biasa, selalu menghampiri kami, tepatnya Yoonhee. Dia mengacak sedikit rambut Yoonhee.

“Sudah lama disini?”

“Barusan, sekitar 10 menit yang lalu. Aku hanya mengisi waktu sambil menunggu bel masuk.”

“Jadi niatanmu bukan untuk melihatku bermain ya?”

“Itu alasan nomor tiga.”

“Yang nomor dua?”

“Menemani Jihyun.”

“Oh… Annyeong Jihyun.” Sapa Kai. Apa-apaan ini, sedari tadi aku duduk di sebelah Yoonhee dia baru menyadari keberadaanku? Apa sebegitu jauhnyakah perbedaan antara sosokku dengan Yoonhee? Dan lagi, pemandangan ini…. Uh! Selalu saja dadaku sakit jika melihat hal semacam ini. Lebih baik aku pergi.

“Aku ke kelas dulu. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Youngra.” Kataku berbohong.

“Kenapa buru-buru? Nanti saja kita ke kelas bersama.” Yoonhee mencegahku.

Mwo? Dan kau menyuruhku untuk duduk menikmati adegan romantis kalian? Kau sahabat terbaikku Yoonhee, jadi jangan biarkan aku membencimu karena hal semacam ini. Jujur, saat melihatmu sedang bersama Kai aku jadi sedikit kesal denganmu meskipun itu tidak akan berlangsung lama.

“Mianhae, ini sangat penting.”

 

===

 

Tidak biasanya Yoonhee keluar kelas lebih dulu saat pulang sekolah. Apalagi dia tadi buru-buru sekali mengemasi peralatannya. Apa dia sedang ada urusan? Nah itu dia Yoonhee, jalannya cepat sekali. Akan kuikuti dia, aku sangat penasaran hal apa yang ia sembunyikan dariku karena kami tidak biasanya kami saling menyembunyikan sesuatu. Kecuali tentang perasaanku pada Kai tentunya, mana mungkin aku merusak persahabatan kami.

“Jihyun!” Youngra menepuk pundakku.

“Ne?”

“Kau jadi pinjam buku catatanku tidak?”

“Jadi-jadi.” Kataku penuh semangat karena aku benar-benar buta akan Fisika.

“Sebentar, kuambil dulu.” Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga Youngra menemukan bukunya sementara Yoonhee semakin menjauh.

Setelah beberapa menit,

“Nah ini dia. Kembalikan besok ya.” Aigoo… Buku itu ada di dalam tasnya tapi dia menghabiskan waktu yang lama untuk menemukannya bagaikan perjalanan mencari kitab suci ke barat. Jika dia bukan si empunya buku ini sudah kutendang sampai luar gerbang.

“Aish! Aku kehilangan jejaknya!” gerutuku.

Namun jika dilihat dari arahnya, kalau tidak salah dia menuju ke atap sekolah. Tempat favorit kami di sekolah karena luas, sepi, bersih, dan settingnya bagus seperti di film-film Jepang itu tuh. Baik, akan kucoba kesana siapa tahu tebakanku benar.

Belum sempat aku sampai di atap secara sempurna, aku disambut dengan pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat.

Kai dan Yoonhee duduk bersebelahan di tepi atap gedung ini. Mereka hanya mengobrol dan tertawa tak jelas. Kemudian hening menyelimuti mereka, aku bosan dan sedih jadi aku berniat turun. Namun tindakanku tak jadi kurealisasikan begitu ekor mataku melihat kepala mereka tiba-tiba saling berhadapan. Kai menyentuh dagu Yoonhee dan…. menciumnya? Mereka tak terlalu lama berada di posisi itu karena beberapa detik setelahnya Kai malah memperdalam ciumannya kepada Yoonhee. Ia menekan tengkuk Yoonhee dan Yoonhee memegang pipi kanan Kai.

Tiba-tiba sebuah butiran bening menggelincir begitu saja di pipiku. Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Aku sedih, kecewa, kesal, dan… marah. Aku benar-benar marah sekarang. Sudah sangat lama aku menahan perasaan ini dan baru kurasakan ini benar-benar sakit. Berkali-kali lipat lebih sakit daripada saat kabar mereka berpacaran sampai di telingaku. Kuakui dia memang lebih dalam segala hal. Tapi… Hanya karena dia lebih cantik dan populer, dia bisa mendapatkan segalanya? Jika hanya itu syaratnya, aku juga bisa!

Tak tahan lagi berlama-lama melihat mereka aku langsung turun ke bawah dan berlari sekencang yang kubisa. Tuhan, kenapa tangis ini tak kunjung reda? Inikah klimaks dari kehidupan cintaku yang amat menyedihkan?

Aku mempercepat lariku dan tikungan menuju pagar depan sudah terlihat.

BRUG

“Aww!” aku mundur beberapa langkah.

“Mm… Mianhae.” kata namja yang kutabrak. Suara ini, aku mengenalnya. Sehun? Aku menunduk berusaha menyembunyikan tangis.

“Gwaenchana? Kenapa menangis?” Sia-sia. Tentu saja ia tahu aku terisak. Aku segera menghapus air mata menjijikkan ini.

“Gwaenchana. Kau belum pulang?” tanyaku.

“Aku mencari Kai, apa kau melihatnya?” Cih! Kenapa nama itu lagi?!

“Ani. Aku tak tahu. Emm… aku permisi dulu.” Aku melangkah melewatinya, tanpa kuduga ia menarik tanganku.

“Eh, tunggu!”

“Apa Kai sedang bersama Yoonhee?”

“Sudah kubilang aku tak tahu. Permisi.” Aku segera pergi karena tak  mau berlama-lama mendengar nama mereka disebut-sebut.

“Hati-hati Jihyun-ssi!” teriaknya.

Aku menoleh, darimana ia tahu namaku? Haha, tentu saja, semua orang sudah pasti mengenalku gara-gara aku sahabat Yoonhee atau parasit bagi Yoonhee –itu yang mereka pikirkan. Menyebalkan bukan?

 

===

 

“Kau yakin akan melakukan hal ini Jihyun?” Tanyaku kepada diri sendiri.

Aku menutup mata untuk beberapa saat. Sudah kuputuskan, ini jalan yang kupilih.

PRAK

Aku membanting celengan ayamku dan dari dalamnya berhamburan uang yang cukup banyak. Tidak hanya ini saja, aku masih mempunyai 4 celengan sapi dan singa yang sudah penuh. Untung saja eomma melatihku untuk menabung sejak kelas satu SD dan sejak dulu uang sakuku selalu lebih banyak.

Aku sama sekali tak pernah memikirkan hal ini. Selama ini aku menjadi gadis abnormal yang tidak pernah mementingkan penampilan dan selalu tampil acak-acakan, menurutku itu bagus karena memang itulah aku. Tapi mulai hari ini kurasa itu semua salah besar. Aku sudah dewasa sekarang, aku ingin tampil cantik. Cantik? Kurasa aku sudah gila, bahkan kata itu tak pernah masuk dalam kamusku. Mungkin perasaan cinta sekaligus sakit yang dibangun oleh Kai serta rasa kecewa dan marahku kepada Yoonhee lah yang membuatku jadi begini.

TOK TOK TOK

“Jihyun-ah… Kau sedang apa? Boleh aku masuk?” itu suara eonniku.

“Masuk saja.” Kataku sambil menata uang.

“Astaga! Kau memecahkan celenganmu?! Semua?! Untuk apa?”

“Eonni, bantu aku ya. Besok temani aku ke salon.”

“Untuk?”

“Aku ingin merubah penampilanku.” Aeri eonni menatapku agak lama dan memegang daguku, menolehkannya ke kanan dan ke kiri, “Apa yang akan kau ubah?”

“Semuanya.”

“Lebih baik kau gunakan uang itu untuk membantu biaya sekolahmu. Jangan melakukan hal yang tidak penting seperti itu.”

“Tapi eonni, aku benar-benar ingin merubah penampilanku. Aku ingin memperbaiki rambutku, kulitku, kukuku, ah…. Pokoknya aku ingin terlihat cantik. Aku sudah dewasa eon, aku ingin meninggalkan image kekanakan dan semrawut ini.”

“Jihyun ingatlah, hidup kita sulit, untuk makan saja susah, jadi jangan menghambur hamburkan uang. Sekarang yang terpenting adalah sekolahmu. Kau bisa melakukan itu semua setelah kau bekerja sendiri dan mendapat uang.”

“Apa aku harus menunggu selama itu?! Di antara teman-temanku hanya aku satu-satunya yang tidak cantik, hanya aku yang berkulit kusam, hanya aku yang berambut kusut. Kau enak bisa bilang begitu karena kau memang benar-benar cantik seperti eomma. Aku sudah muak dengan ini semua!”

“Kecantikan seseorang bukan dilihat dari wajahnya, tetapi hatinya. Dan lihat dirimu! Kau cantik Jihyun-ah.”

“Kau tidak pernah berada di posisiku jadi kau tidak pernah tau bagaimana perasaanku!”

“Aku memang tidak tahu, tapi aku mencoba untuk memahamimu karena sejak eomma dan appa meninggal aku bertanggung jawab sepenuhnya atas kau.”

“Lalu kenapa kau tak pernah membuatku bahagia?!”

“Pelankan nada bicaramu Jihyun! Kau sangat tidak sopan!”

“Untuk apa aku berbicara sopan kepada orang yang hanya memberi harapan palsu. Kau bilang akan selalu menjagaku dan membuatku bahagia. Tapi mana buktinya? Selama ini kau tidak pernah memberiku apa-apa!”

“Jaga bicaramu Jihyun! Baik, terserah apa maumu! Lakukan sesukamu aku tidak akan melarang bahkan mencampuri urusanmu!” Kemudian ia keluar kamarku.

“Lihat saja nanti! Akan kubuktikan bahwa aku bisa mendapatkan kebahagiaan dengan caraku sendiri.”

Aku menutup pintu dengan kasar begitu eonniku keluar. Kami memang sering bertengkar, namun kali inilah pertengkaran terhebat kami. Aku sangat kesal padanya.

 

===

 

Next Day

Perutku lapar sekali, menyesal aku tidak memakan sarapan. Aku bukan tipe orang yang mudah melupakan suatu kejadian, aku masih kesal dengan eonniku karena kejadian tadi malam. Jadi daripada emosiku naik lagi lebih baik aku sedikit menjauhinya dulu.

“Kenapa dari tadi kau diam saja?” tanya Yoonhee.

Nah, datang satu lagi. Dialah satu-satunya orang yang membuatku tidak terlihat sama sekali diantara kalangan para namja. Dialah penyebab utama sampai aku mati-matian melakukan ini semua.

“Halooo…. Jihyun…”

“Wae?” Jawabku malas.

“Akhir-akhir ini kau sering melamun, kau sedang ada masalah?”

“Aniya.”

“Lalu?”

“Sedang malas saja.”

“Sudahlah, tak usah berbohong. Sahabat itu tempat berbagi suka dan duka. Jika yang satu sedang membutuhkan sudah seharusnya yang satunya lagi membantu. Iya kan?”

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Ternyata itu masih berlaku untukmu? Tidak sadarkah kau jika selama ini kau selalu mendapatkan bagian ‘suka’ dan aku harus menelan ‘duka’ ??

“Sudah kubilang aku tak apa-apa. Aku hanya sedang malas.” Jengkel sekali aku menanggapinya. Kemudian aku keluar untuk mengantisipasi kalau-kalau aku benar-benar meledak di dalam.

Aku berjalan-jalan di koridor sekolah, dan tepat berada sepuluh meter di hadapanku kulihat Kai berjalan ke arahku. Jika sudah melihatnya, orang-orang di sekitarnya jadi terlihat blur dimataku. Berlebihan memang, tapi memang itu yang kualami. Omo! Apa aku benar-benar gila? Dia sudah membuat hatiku hancur namun mengapa aku tetap menyukainya? Kau memang hebat, Kim Jongin.

Nah, dia semakin mendekat ke arahku. Aku berusaha mencari objek lain untuk kupandang agar tidak ketahuan kalau sedang gelagapan melihatnya. Ternyata dia berhenti tepat di depanku. Ya Tuhan! Bantu aku, aku semakin gugup dan mungkin saja mukaku sudah merah di depannya. Dia tersenyum di hadapanku. OMO! Aku tak mau mati sekarang, jantungku serasa mau lepas melihat itu. Dia benar-benar tampan.

“Annyeong Jihyun…” Aku terbelalak, dia memanggil namaku! Eh, tumben sekali. Biasanya juga langsung melewatiku.

“Hai Yoonhee… Sedang apa kalian di depan perpustakaan? Tidak masuk sekalian?” Lanjutnya. Oh, jadi satu-satunya alasan dia berhenti di depanku, tersenyum di hadapanku, dan memanggil namaku karena ada Yoonhee? Seharusnya aku tak terlalu berharap dia akan melihatku. Dan lagi, untuk apa bocah ini mengikutiku?

Sepertinya mereka terlalu lama menunggu jawabanku karena tak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya kalau aku sedang jengkel pada Yoonhee dan Yoonhee juga tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang menguntitku.

“Aku dan Kai mau ke perpustakaan. Kalian hanya berdiri disini atau ikut dengan kami?” tanya Sehun yang baru kusadari keberadaannya.

“Kami juga mau ke perpustakaan. Iya kan Jihyun?” Yoonhee menggandeng tanganku yang sungguh ingin sekali kusingkirkan tangan ini sekarang juga.

“Kajja. Mumpung istirahatnya masih agak lama.” Ajak Kai.

 

===

 

Yoonhee’s POV

Di perpustakaan tidak banyak percakapan diantara kami. Pikiranku serasa terganggu, ada apa dengan Jihyun? Bahkan ocehan Kai dan Sehun pun tidak ada yang kupedulikan.

TEET

Ini dia bunyi yang kutunggu. Entah mengapa hari ini aku sedang tidak mood dengan perpustakaan. Aku berjalan di belakang Jihyun yang sejak tadi pagi berubah menjadi yeoja yang tidak seru. Kemudian Kai menepuk pundakku dan membisikkan sesuatu.

“Nanti pulang denganku lagi ya.”

“Tapi aku sedang ingin bersama Jihyun.”

“Oh, baiklah. Hati-hati.” Dia mengacak rambutku sedikit.

Ketika bel pulang sekolah Jihyun buru-buru keluar. Entah perasaanku saja atau dia sedang menghindariku hari ini? Tapi kenapa?

“Jihyun-ah…”

Dia tidak menyahut dan berjalan lebih cepat. Aku mengejarnya dan menarik tangannya.

“Mau pulang bersamaku?”

“Tidak usah. Aku sudah terlalu sering merepotkanmu.”

“Aniya. Kau sama sekali tidak merepotkanku.”

“Sudahlah. Aku sedang buru-buru. Sampai ketemu besok.”

Dia berlari keluar gerbang dan mencegat taksi. Tidak biasanya dia naik taksi. Hari ini dia benar-benar aneh.

 

===

 

Jihyun’s POV

Cih! Anak itu selalu saja ingin mencampuri urusanku.

Taksiku berhenti di depan sebuah salon kecantikan. Aku berjanji pada diriku sendiri, mulai hari ini aku harus berusaha untuk berubah. Aku yakin aku bisa. Akan kubuktikan pada eonniku kalau dia salah, akan kubuktikan pada Yoonhee kalau aku juga bisa seperti dia, dan akan kubuktikan pada Kai kalau aku pantas untuk dilihat olehnya dan dicintainya.

Aku pulang sampai sore, padahal baru selesai melakukan perawatan tetapi badanku terasa tidak enak dan lemas. Nah, itu dia, aku ingat aku belum memakan apapun sejak tadi pagi. Jadi kuputuskan untuk makan dulu di restoran terdekat, mumpung uangku sedang banyak.

Sambil menunggu pesanan yang terasa sangat lama aku hanya duduk dan meletakkan kepalaku di atas meja sambil memegangi perut dan kepalaku. Jika lapar, kadang kepalaku terasa pusing dan kali ini bukan main-main pusingnya.

“Jihyun?” Suara seorang namja mengagetkanku, aku mendongak.

“Ternyata benar kau. Kau kenapa?”

Disaat seperti ini kenapa malah dia yang datang? Kenapa bukan Kai saja?

“Gwaenchana. Aku hanya pusing karena lelah dan perutku sangat lapar.”

“Kau belum pulang sejak tadi? Kemana saja kau?” Sehun duduk di depanku sepertinya penasaran.

“Aku ada urusan tadi dan belum sempat pulang.”

“Oh.”

“Dan kau? Kau sering kemari ya?”

“Ani. Aku hanya sekedar mampir. Nah, itu pesananmu sudah datang. Aku pulang dulu.”

Setelah dia berlalu aku segera menyantap pesananku.

UHUK UHUK

Tiba-tiba aku tersedak. Aku baru sadar, kenapa aku bisa seakrab itu dengan Sehun? Padahal seingatku kami hanya satu kali bercakap dan itupun saat kami tidak sengaja bertabrakan. Hanya itu saja.  Ah, molla. Memang apa peduliku? Eh, tapi dia ramah juga ya.

 

===

 

“Jihyun, kemana saja kau?” Pertanyaan Aeri eonni tidak enak didengar sama sekali. Terkesan menuduh dan mengintimidasi.

“Aku ada urusan.” Kataku berlalu mengacuhkannya.

“Jadi kau benar-benar melakukannya?” Baru saja aku membangun mood yang baik di restoran tadi, namun sepertinya percuma karena baru satu menit aku berada di dalam rumah ini hatiku sudah dongkol kembali.

“Jihyun! Aku berbicara padamu!” Aku berbalik karena sudah tidak tahan.

“Kali ini jangan urusi urusanku!”

“Tapi aku kakakmu. Aku yang mengurusmu.”

“Kau sama sekali tidak mendukungku. Jadi untuk urusan ini biarkan aku melakukannya sendirian. Lebih baik kau mengurusi urusanmu sendiri yaitu mencari uang untuk makan dan sekolahku. Hanya itu kan tugasmu.”

“Mengapa kau jadi berubah begini?!” tanyanya dengan nada yang terdengar menyebalkan. Aku berbalik lagi dan melanjutkan langkah ke kamarku.

Setelah mandi aku duduk di tepi ranjang, mengelus elus kulitku yang habis di-spa tadi.

TOK TOK

“Jihyun-ah makan dulu. Seharian kau belum makan kan?”

“Aku tidak lapar, aku sudah makan tadi.”

“Jinjja? Ayolah, makan sedikit saja.”

Aku tidak menyahut dan melanjutkan aktivitas terbaruku, memandangi diriku di cermin.

“Jihyun…”

Aku masih tidak menyahut. Ia hanya memanggil namaku tiga kali dan setelah itu tak ada suara lagi. Mungkin dia menyerah. Baguslah, salah sendiri tidak percaya kalau aku sudah makan.

Malam ini aku nyaris tidak bisa tidur, kejadian seharian ini berputar kembali di otakku menemani mataku yang sama sekali tak bisa tertutup. Hari ini seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Dia masih saja membuatku sakit hati seperti hari-hari sebelumnya.

Ah, tentu saja ada yang spesial karena hari ini aku melakukan kegiatan bak seorang yeoja seutuhnya yang punya uang jajan lebih. Memang tidak terlalu terlihat sih karena baru pertama kali dan kulitku masih biasa-biasa saja dari segi warna, tapi saat dipegang rasanya sangat halus. Sayang ya, yang melihat pertama kali bukan Kai tetapi Sehun. Ck, anak itu sok baik sekali mau mengobrol denganku.

Eh, ngomong-ngomong tentang Aeri eonni… Tidak enak juga jika terus beradu argumen dengannya. Tapi salah sendiri, dia kan yang memulai! Aku hanya ingin melakukan keinginanku, itu saja. Toh juga tak merugikan dia. Iya kan? Emm… tapi besok akan kucoba bersikap agak tenang didepannya, begini-begini juga aku kan dongsaengnya. Aku tidak mau dikutuk menjadi jangkrik karena durhaka kepadanya.

 

===

 

Next Morning

Aku duduk di meja makan menunggu sarapan. Semoga pagi ini dia tidak mengoceh lagi supaya niatku untuk bersikap manis dapat terwujud.

“Pagi Jihyun-ah… Ini sarapannya.” Di meja hanya tersedia empat lembar roti tawar dan dua buah telur goreng untuk kami berdua. Aku mengernyitkan dahi. “Bosan eonni, setiap pagi hanya makan ini-ini saja.”

“Jika sehari makan nasi tiga kali, seminggu menjelang akhir bulan kita bisa kelaparan.”

“Tapi gajimu cukup banyak kan.”

“Aku harus menabung.”

Aku diam dan mengerucutkan bibir. Lebih baik aku mengalah daripada beradu mulut lagi dengan eonni yang sudah pasti tak akan berujung.

“Arraseo.” Aku hanya mengambil telur goreng saja, memakannya dengan sangat kilat dan bergegas keluar. Sepertinya dia ngomel lagi, tapi entah apa yang dikatakan terdengar samar di telingaku.

“Aku berangkat.”

 

===

 

Author’s POV

Sudah tiga minggu ini rutinitas ke salon menjadi kegiatan kegemaran Jihyun. Selama itu ia makin menjauhi Yoonhee dan memilih untuk duduk di sebelah Youngra daripada Yoonhee. Dan selama itu pula rasa kesal dan amarah pada Yoonhee semakin bertambah besar.

Jihyun menatap dirinya di kamar di depan cermin seperti biasanya. “Lihat kau sekarang. Kau sudah jauh lebih cantik daripada saat itu. Tinggal beberapa sentuhan lagi kau pasti bisa menandingi Yoonhee bahkan melebihinya.”

@ School

“Jihyun-ah, besok aku dan teman-teman mau pergi ke villa. Lumayan kan libur tiga hari daripada hanya di rumah. Kau mau ikut kan?” tawar Yoonhee.

“Aku sibuk Yoon.” Jawabnya singkat.

“Umm… Baiklah, tapi kapan-kapan kau mau kan?”

Jihyun hanya mengangguk sekali dengan gayanya yang malas-malasan.

 

===

 

Yoonhee’s POV

Ada apa dengan Jihyun? Akhir-akhir ini dia seperti menghindariku padahal kami tidak ada masalah. Apalagi dia sampai pindah tempat duduk. Kuajak pergi kesana kemari, jalan-jalan, kutawari pulang bersama, dia menolak. Nada bicaranya pun terdengar malas jika berbicara denganku. Ini perasaanku saja atau bagaimana? Aku tidak habis pikir dengan perubahan sikapnya yang sangat drastis. Apa karena itu?

Tapi kupikir pikir akhir-akhir ini dia makin terlihat cantik saja, sangat cantik malah. Rambutnya yang biasa diikat kuncir kuda sekarang dibiarkan terurai panjang dan terlihat berbeda. Dan lagi, saat aku menyentuh kulitnya terasa lebih halus dan segar. Apa dia sengaja mengubah penampilannya? Melakukan perawatan mungkin. Untuk apa? Apa karena itu? Ah… lagi-lagi aku berfikiran yang tidak-tidak. Biarlah waktu yang menentukan, nanti juga aku tahu sendiri.

Aku tersentak kaget saat seseorang menepuk pundakku dari belakang. Bagaimana tidak kaget, aku sendirian di taman sekolah dan ini sudah hampir gelap.

“Kau! Kau kira aku tidak punya jantung, huh?”

“Hahaha… Mianhae. Kenapa belum pulang?”

“Kau sendiri kenapa?”

“Yah, malah balik bertanya.” Kai duduk di sampingku.

“Aku tadi ada ekstra futsal, dan dari sana aku melihat seorang gadis dengan rambut panjang duduk di bangku taman ini. Aku hanya memastikan kalau itu bukan hantu.”

“Ya! Memang ada hantu seimut ini?” kataku sebal.

“Ada, buktinya kau ada. Hahahaha.”

“Aish! Menyebalkan.” Aku melipat tanganku.

“Kau ada masalah?”

Aku ragu, apakah aku harus bercerita kepada Kai? Andwae andwae andwae, mana mungkin aku bercerita pada Kai jika Jihyun menyukainya sedangkan itu hanya tebakan randomku. Tapi tebakan ini juga bukan tanpa alasan. Aku tahu bagaimana Jihyun sering salah tingkah saat berhadapan dengan Kai. Aku tahu ia sering curi-curi pandang pada Kai saat bermain di lapangan. Aku tahu kalau ia kadang gelagapan menjawab sapaan Kai barang satu atau dua patah kata saja. Aku tahu bagaimana caranya menatap Kai yang berbeda dengan caranya menatap namja lain. Ini hanya perasaanku saja atau memang benar aku tak tahu. Aku butuh pencerahan akan hal ini. Kejanggalan ini kuketahui sejak kami kelas tiga. Apa dia sudah lama memendam rasa itu? Ah, mudah-mudahan tebakan ini salah besar. Mudah-mudahan.

“Hey! Ceritakan saja padaku.” Katanya tidak sabar menanti jawabanku.

“Sebentar lagi musim gugur. Aku hanya ingin menikmati bunga-bunga dan pohon di taman ini sebelum semua daunnya gugur dan terbawa angin.” Cermin, aku butuh cermin. Apa ekspresiku sangat meyakinkan? Dia bahkan langsung percaya dan tidak bertanya-tanya lagi.

“Pulang yuk, sudah sore. Kuantar ya?”

“Aku bawa mobil sendiri.”

“Kuikuti dari belakang.”

“Kau pikir aku anak kecil yang sedang latihan mengemudi? Aku bisa pulang sendiri, lagipula rumah kita kan berlawanan arah.”

“Ya sudah, sampai di parkiran saja.”

Di tempat parkir hanya ada mobilku dan mobil Kai. Benar-benar sepi. Kai mengikutiku sampai ke depan mobilku padahal jarak mobil kami cukup jauh.

“Wae?”

“Aku tidak bisa menebak apa yang kau pikirkan, dan selalu saja begini. Kau memang berbeda dari yeoja-yeoja lain.” Kemudian dia mengelus pipiku singkat singkat dan mengacak sedikit rambutku. Padahal ini bukan pertama kalinya ia melakukan itu tapi tetap saja aku merasa malu. Eh, jadi dia tahu kalau tadi aku berbohong? Hebat.

“Hati-hati ya.”

Sore hari yang indah, lukisan berwarna oranye dengan jelas terlukis di langit senja. Jalan begitu lengang jadi aku menyetir dengan santai. Sebuah objek, manik mataku tiba-tiba terfokus pada satu objek yang sangat kukenal, Jihyun. Sedang apa dia di depan sebuah tempat perawatan kecantikan? Aku hendak menghampirinya namun ia terlanjur naik taksi, janggal. Menurutku sangat janggal. Seorang jihyun selama ini kukenal sebagai yeoja yang paling anti dengan yang namanya perawatan kecantikan dan lain lain. Lalu kenapa barusan ia keluar dari sana? Apa ini ada hubungannya dengan penampilannya yang berubah? Tentu saja, terlihat jelas kalau dia sering melakukan perawatan akhir-akhir ini.

“Permisi, bisakah saya bertanya apa yang dilakukan orang yang baru keluar tadi?” kuputuskan untuk bertanya pada pegawai salon yang kebetulan adalah salon langganan eommaku.

“Maksud anda Jihyun-ssi?”

“Benar.”

“Oh, dia tadi melakukan perawatan rambut dan kuku.”

“Apa dia sering kesini?”

“Sejak tiga minggu yang lalu ia rutin kesini setiap hari.”

Dugaanku benar, nilai seratus untukku yang suka asal tebak. Jadi ia sengaja untuk merubah penampilannya. Padahal perekonomian keluarganya tidak begitu jelas karena orang tuanya tiada. Tapi ia sampai bisa membayar biaya perawatan yang tak murah itu. Tiap hari pula. Ah… Aku semakin penasaran menunggu apa tindakan selanjutnya dan apa tujuan sebenarnya.

 

===

 

Jihyun’s POV

Tiga hari berlalu, sementara kau pergi bersenang-senang ke villa, aku sibuk menata ulang penampilan baruku dan mulai hari ini juga aku siap untuk bersaing denganmu, Yoonhee.

Aku sengaja berkeliaran di koridor sekolah yang dekat dengan kelasnya Kai. Barangkali saja dia melihatku yang kini sudah berkali-kali lipat lebih cantik. Nah, nah itu dia. Mata kami bertemu untuk beberapa saat, tapi… Dia sama sekali tidak menyapaku bahkan tersenyum pun tidak. Ck! Menyebalkan! Aku kembali ke kelas dengan perasaan dongkol sedongkol dongkolnya.

Istirahat kedua aku sama sekali tidak bergairah untuk bergerak dari bangkuku, sangat berlawanan saat istirahat pertama tadi.

Sekarang apa lagi? Namja itu malah menghampiri Yoonhee dan dengan tidak ada rasa malu-malunya mereka bergurau di kelas.

“Mana Jihyun? Dia tidak masuk?” samar kudengar kalimat itu dari bibir Kai. Yoonhee menunjuk ke arahku dan aku langsung pura-pura membaca buku. Sial! Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Kai. Tunggu! Jadi sedari tadi ia tidak mengenaliku? Kalau begini berarti aku salah mengambil langkah, harusnya aku tetap di sisi Yoonhee dan tidak menghindarinya agar dia bisa melihat aku yang sekarang.

 

 

===To be Continued===

 

Fanfic ini pernah dipost di blog lain, jadi jika menemukan kesamaan bukan bentuk penjiplakan.

Please leave your comment.

Khamsahamnida 🙂

Iklan

47 pemikiran pada “Way To Get Yours (Chapter 1)

  1. Ya ampunnn!! Kalauu aku jadi yoonhae pasti tandatanya besar di otakku ngelihat sahabat sendiri berubah drastis dan mau nusuk dari belakang….. #curhatsemenit
    DITUNGGU KELANJUTANNYA, THOR!^^=
    Have a nice day!^^//

  2. Keren keren keren. Si jihyun ngapain sihh ngerubah penampilannya?? Sayang bangett. Kesell. Tapi kalo jadi jihyun juga tertekan juga sihhh. Kasian dianya

  3. astaga….nyeremin banget…jihyun terlalu terobsesi sama kai sampai lupa sama sahabat, kakaknya bahkan kondisi keuangan keluarganyaa…enak banget y dia nyuruh aeri eonni untuk nyari uang….knp jg dia g bersyukur sama penampilannya….
    aku greget bgt sama jihyun…aku aja yg jelek g terobsesi jd cantik…huhuhu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s