100 Ducks (Chapter 14)

Tittle       : 100 Ducks

Part  14  :  “Hangover”

Lenght   : Chaptered

Rating    : T

Genre    : School, Comedy and Romance

Author  : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : D.O EXO-K (Do Kyung Soo)

                     Song Hye Ji (You)

                     Kris EXO-M (Kris Wu)

                     Yoona SNSD

(Hiks…Hiks…satu part lagi FF ini tamat. Makasih buat semua reader yang udah mau baca. Apalagi buat yang udah komen dan jadi teman di twitter. Jeongmal…jeongmal…gamsahaeyo. ^^ Mohon maaf kalau sedihnya di part ini kurang dapet feelnya *bow*. Mohon Kritik dan sarannya.)

PART  14

part 14

‘Hangover’

“Mulai besok dan seterusnya kamu gak usah jemput aku lagi. Dan anggap kita gak saling kenal.” D.O berkata dingin dan pergi meninggalkan Hyeji.

Air mata Hyeji jatuh tanpa di sadarinya. Ia menjatuhkan bunga yang di berikan D.O dan mengejarnya.

“Kenapa?.” Teriak Hyeji yang memberhentikan langkah D.O.

Dengan perasaan takut Hyeji menyentuh pundak D.O yang membelakanginya.

“Aku ada salah apa?. Apa…, apa aku salah pakai baju?. Atau…, atau kamu gak suka aku pakai baju kayak gini?. Kamu malu ya di liatin orang, jalan sama aku yang pakai baju kayak gini?. Aku bisa pulang dulu kok ganti baju. Kamu mau nungguin kan?. Kasi waktu aku 15 menit bisa kan?.” Hyeji terus saja bicara dengan raut wajah antara bingung dan sedih.

“Kenapa gak jawab?. Gak bisa ya?. Kalau gitu 10 menit aja deh. Bisa?. Kalau gak 5 menit aja deh, aku beli baju lain aja di sekitaran sini. Boleh kan?.” Hyeji terus mengoceh pada punggung D.O.

“Boleh?.” Tanyanya lagi. Lalu tiba-tiba D.O berbalik dan tersenyum pada Hyeji.

“Hah?. Bisa?. Bolehkan?.” Tergambar senyuman tulus di wajah Hyeji. Matanya berbinar-binar menatap D.O.

“Apa gunanya nanya pendapat aku?. Dan, baru saja semenit yang lalu aku bilang anggap kita gak saling kenal. Kamu lupa?. Kalau begitu biar aku perjelas sekali lagi. Mulai dari detik ini kamu gak perlu lagi bekerja di tempat aku. Dan mulai detik ini juga, aku mau kita gak saling kenal.” Kata D.O yang berusaha menahan emosinya.

“AKU SALAH APA?. AKU GAK NGERTI!!.” Teriak Hyeji menghentikan langkah D.O yang baru saja berjalan selangkah meninggalkannya.

D.O menarik napas panjang. Setelah berusaha menata raut wajahnya, ia berbalik dan menatap wajah Hyeji.

“Kamu gak ada salah apa-apa. Cuma aku saja yang sudah salah mengambil langkah. Dan…, aku rasa dengan tidak saling kenal, kita tidak akan saling tersakiti.”

D.O membungkuk dalam dan pergi dari hadapan Hyeji.

Selang beberapa saat D.O pergi akhirnya Kris mendapati Hyeji yang berdiri diam seperti patung.

“Kamu kenapa?.” Tanya Kris yang khawatir melihat Hyeji.

Hyeji berbalik dan menatap Kris dengan tatapan tajam. Matanya sudah merah dan di genangi banyak air.

“Senang?. Pertama ciuman dan sekarang menghancurkan hubungan aku sama Kyung Soo. Kamu puas?. Mau buat apa lagi sekarang?. Mau tanya jawaban aku lagi?. Kamu perlu tau hal ini dengan jelas. Aku gak akan pernah jatuh cinta sama laki-laki kayak kamu. Dan kamu tahu?. Andai hanya ada anjing dan kamu di dunia ini?. Aku lebih baik hidup dengan anjing sampai aku mati. Karena dia akan selalu setia dan tidak akan pernah menyakiti perasaan aku.”

Batin Kris terpukul mendengar perkataan Hyeji. Namun ia tidak ingin terlihat lemah di hadapannya.

“Jika di dunia ini hanya ada aku, kamu dan anjing. Dan kamu lebih memilih anjing dari pada aku. Maka aku akan selalu mengawasimu setiap saat dari kejauhan. Aku ingin menjagamu, takut-takut suatu saat anjing itu akan menerkammu.”

Kata-kata Kris begitu dalam, penuh dengan makna. Ia tidak dapat menatap wajah Hyeji yang begitu marah dengannya. Ia berbalik dan meninggalkan Hyeji dengan perasaan campur aduk.

***

Tidak terbayangkan, hari yang bahagia menjadi hari yang paling buruk bagi Hyeji, D.O dan Kris.

@Cherry Park

Orang-orang berlalu-lalang di hadapan D.O yang duduk di sebuah bangku. Ia menatap langit-langit, seakan-akan waktu berhenti saat itu. Batin D.O penuh dengan tanda tanya. Banyak hal yang tidak seperti dugaannya terjadi.

Grrt…grtt…, hp milik D.O bergetar. Terlihat di layar Hyeji menelponnya. Ia hanya menatap dan tidak mengangkatnya. Lalu, ia membuka belakang hpnya dan mencopot kartunya, lalu mematahkannya.

“Apa dengan begitu dapat melupakannya?.” Sebuah suara laki-laki mengejutkannya. Eunhyuk menghampiri D.O dan duduk di sampingnya.

“Yang aku khawatirkan ternyata terjadi.” Kata Eunhyuk menatap ke depan melihat orang-orang yang sedang bersepeda.

“Dari tadi aku mengikutinya. Aku takut hari ini tidak seperti yang di bayangkannya.”

“Aku tidak ingin mendengar ocehanmu. Sebaiknya kau pergi sekarang.” Ketus D.O.

“Ternyata kamu lebih keras kepala dari pada Hyeji. Selalu tidak pernah mau mengalah. Kamu tidak peduli kalau orang lain terluka. Sayangnya, kamu tidak dapat melihat, baik itu dengan mata maupun dengan hatimu, seberapa keras dia berubah demi kamu.”

Eunhyuk berdiri dan bersiap pergi. Setelah berjalan dua langkah ia berhenti dan berkata, “Tentang kau yang menyukainya, aku mohon, jangan menyerah.”

***

Setelah Kris pergi meninggalkannya, Hyeji berjalan tanpa arah. Hidungnya mulai memerah. Berkali-kali ia menatap langit dan menggigit bibirnya, berusaha untuk menahan air matanya.

Tidak terasa ia telah berjalan cukup jauh. Ia duduk di dalam sebuah rumah penguin di sebuah taman tempat anak-anak bermain pasir.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, mohon tunggu beberapa saat atau silahkan tinggalkan pesan.” Suara operator terdengar saat Hyeji mencoba menelpon D.O untuk kesekian kalinya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak…” Suara itu terdengar lagi.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak…”

“Nomor yang anda tuju sedang tidak…”

“Nomor yang anda tuju sedang tidak…”

Hyeji lalu membanting handphonenya dan menangis sampai terisak-isak. Ia tidak peduli suaranya di dengar oleh orang lain.

Sementara Kris, masih berada di dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari Gangnam Land. Seluruh wajahnya memerah. Kedua tangannya bergetar, hingga ia tidak mampu untuk menyetir mobilnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Emosinya terlalu besar dan tidak dapat terluapkan, baik itu dengan menangis ataupun marah.

***

@Nenek Jin’s House

Da Ye menunggu Hyeji di depan rumahnya dengan harap-harap cemas. Sore telah berganti menjadi malam. Batang hidung Hyeji belum terlihat juga.

“Jam segini belum pulang. Pasti Hyeji dan Kyung Soo uda jadian, dan sekarang lagi first date. Masuk aja ah…” Gumam Da Ye. Baru selangkah ingin masuk, Da Ye melihat wajah Hyeji.

“HYEJI!….” Teriak Da Ye yang langsung menghampiri Hyeji.

“Muka kamu kenapa?.” Da Ye terkejut melihat Hyeji yang wajahnya sangat merah dan matanya sembab.

“Kenapa?.” Tanya Da Ye lagi. Hyeji memberi isyarat pada Da Ye dengan tangannya untuk tidak bertanya padanya.

“Kenapa?. Kamu kenapa Hyeji?.” Da Ye sangat khawatir.

“Eonni…” Hyeji langsung memeluk Da Ye dan menangis di dalam pelukannya. Dua jam ia menangis tanpa berhenti, karena kelelahan akhirnya sampai tertidur.Da Ye membawa Hyeji perlahan menuju rumahnya.

***

@Hyeji’s House

Keesokan paginya, Hyeji berusaha untuk biasa saja. Walaupun berkali-kali ibunya bertanya padanya apakah ia baik-baik saja. Malah, ibunya menyuruhnya untuk tidak pergi kesekolah hari ini, karena wajahnya masih merah dan matanya sembab akibat begitu banyak menangis.

Hyeji menuju kebelakang rumahnya untuk mengambil sepedanya.

“Mulai dari detik ini kamu gak perlu lagi bekerja di tempat aku.” Kata-kata dari D.O kemarin terlintas di pikirannya.

Aneh rasanya ia bangun cepat, namun tidak menjemput D.O. Dan yang lebih aneh lagi, ia menggunakan seragam wanita dengan rambut panjang tergerai, padahal semula ia melalukan itu demi D.O.

***

@Namsan Hakkyo

Mobil milik D.O berhenti di depan sekolah. Pagi ini ia di antar oleh supir ayahnya. Saat ia turun ternyata Hyeji juga baru sampai di sekolah. Ketika Hyeji menyapanya, ia langsung masuk, seolah-olah Hyeji orang asing yang sok kenal dengannya.

Saat istirahat tiba, D.O dan ketiga temannya menuju kantin.

“Cantiknya…” Kata Sung Je yang terpaku melihat seorang gadis yang berjalan.

“Babo, itu Hyeji tau. Song Hyeji.” Kata Junghong memukul kepala Sung Je.

“Jeongmal?. Jinja?.”

“Dia cantik ya. Tapi sayang punya si Kyung Soo…” Kata Junghong putus asa.

“Siapa sih?.” Tanya D.O yang telah selesai membeli makanan.

“Itu pacar kamu, Hyeji.” Kata Junghong dengan tampang menggoda. Namun, ekspresi D.O hanya datar.

Hyeji yang melihat D.O dan temannya, ia segera langsung menghampiri mereka.

“Annyeong…” Sapa Hyeji yang tersenyum.

“Annyeong…” Balas Sung Je.

Tanpa berkata apapun, D.O langsung pergi meninggalkan ketiga temannya. Karena merasa ada yang aneh, ketiga temannya mengejarnya.

Waktu pulangpun akhirnya tiba. Hyeji bertekad untuk terus berusaha agar D.O dapat berbicara dengannya. Saat yang tepat, ia melihat D.O di gerbang sekolah sedang menunggu jemputan. Ia langsung menghampirinya.

“Tunggu di jemput ya?.” Kata Hyeji yang berdiri di samping D.O sambil memegang sepedanya.

“Kalau lama banget di jemput, pulang sama aku aja yuk.” Ajak Hyeji. Namun, D.O tidak ada reaksi.

Hyeji mencari cara jitu dengan membuat D.O marah.

“Kalau lama di panas kamu bisa hitam. Bisa jadi kayak ayam panggang. Sayang banget kulit kamu yang putih kayak bayi raksasa nanti jadi hitam. Kalau hitam my sweety baby kan jadi jelek. Kalau jelek….” Hyeji terus saja memanas-manasi D.O, namun D.O malah mengambil headset dan melengketkan di kupingnya.

“BABY HUEY!!!. DENGAR GAK SIH?!!.” Teriak Hyeji di kuping D.O. Lagi-lagi ia hanya diam, seolah Hyeji tidak ada.

“Belum pulang?.” Tanya Mina teman sekelas D.O yang menghampirinya.

“Belum, ini lagi nunggu di jemput.” Jawab D.O dengan penuh senyuman.

Hyeji terkejut melihat D.O yang menjawab pertanyaan Mina.

“Gak pulang bareng Hyeji?.” Tanya Mina. D.O menggelengkan kepalanya.

“Kalau gitu pulang bareng aku aja. Itu mobil aku uda keliatan. Yuk!. Tempat les aku kan lewat rumah kamu.” Tawar Mina.

“Beneran nih gak ngerepotin?.”

“Ya ampun, kan sekalian lewat. Yuk itu uda sampai.” Mina menarik tangan D.O meninggalkan Hyeji yang seperti orang bodoh.

***

Mula-mula Hyeji dapat menahan diri atas sikap D.O pada dirinya. Namun sudah hampir tiga hari suasana makin memburuk. D.O bukannya hanya tidak peduli, tapi membuat seolah-olah dirinya sama sekali tidak pernah ada di kehidupannya.

Hari itu D.O tidak di jemput dari sekolah, ia pulang berjalan kaki. Hyeji mengikutinya dengan berjalan kaki, ia tidak membawa sepeda hari itu. D.O tahu Hyeji mengikutinya, namun ia berusaha untuk tidak peduli.

“Kamu benar-benar gak kenal aku lagi?.” Tanya Hyeji di belakangnya.

D.O terus berjalan tidak memperdulikan Hyeji. Hal itu membuat Hyeji semakin marah, lalu mengejar D.O dan berdiri di hadapannya.

“Aku mau gila rasanya!. Tiap hari aku berfikir mencari kesalahanku. Makin aku berfikir, aku makin gak mengerti, sebenarnya salah aku di mana. Apa susahnya bilang apa salah aku. Aku bingung!!. BINGUNG!!. BINGUNG!!.” Hyeji meluapkan emosinya.

“Kamu bingung?. Aku seribu kali lipat lebih bingung.” Kata D.O menatap wajah Hyeji.

“Lalu kenapa kamu pura-pura gak kenal sama aku?. Sebegitu besarkah salah aku?.”

“Perlu berapa kali aku bilang?, kamu gak ada salah apa-apa. Jangan tanya hal yang sama!!. Aku muak mendengarnya!.”

“Gak ada salah apa-apa?. Tapi kamu membeci aku seolah aku membuat kesalahan yang tidak akan termaafkan. Apakah aku pernah marah?. Apakah aku pernah marah gara-gara kamu biarin gitu aja saat Kris nyium aku?. Aku sakit hati, tapi aku tidak sampai benar-benar marah sama kamu.”

“Lalu kenapa kamu gak marah?. Kenapa gak sekalian aja benci sama aku?.” D.O menatap Hyeji dengan raut wajah yang begitu marah.

“Bukan itu jawabannya!. Kasih tahu aku, gemana caranya supaya kamu gak marah lagi sama aku.” Pinta Hyeji yang menghapus air matanya yang mengalir tanpa di sadarinya.

“Cuma ada satu!. Pergi dari kehidupan aku!.”

D.O langsung pergi meninggalkan Hyeji yang terdiam tidak percaya dengan perkataan D.O.

“Berjuta-juta kali kamu buat aku menangispun tidak masalah. Asal kamu bisa maafin aku. Tolong jangan acuhin aku!. Semakin kamu mengacuhkan aku, aku semakin berfikir tentang kamu. Kalau itu terus terjadi, aku tidak akan pernah bisa pergi dari kehidupan kamu. Aku mohon!!.” Hyeji berkata dengan tulus pada punggung D.O.

D.O tidak mampu berbalik, ia tidak mampu menatap wajah Hyeji, karena matanya sudah berkaca-kaca. Ia berusaha untuk di benci Hyeji.

“Aku maafkan!.” Kata D.O.

Hyeji mendengar dengan jelas perkataan D.O. Sekarang semua sudah jelas, ia tidak perlu repot-repot lagi mencari-cari kesalahannya. Ia membungkuk sembilan puluh derajat pada punggung D.O sebagai tanda perpisahan. Air matanya jatuh membasahi tanah, ini adalah akhir dari perkenalannya dengan D.O. Hyeji bangkit dan meninggalkan D.O yang masih berdiri membelakanginya.

Sementara D.O terus menahan agar air matanya tidak jatuh. Ia mendengar langkah kaki Hyeji yang menjauhinya.

“Aku gak mungkin bisa berhenti mencintai kamu. Aku hanya bisa belajar hidup tanpa kamu.” Batin D.O berkata. Dan ia pun berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.

Mereka merasakan hal yang sama, sangat berat untuk melupakan satu sama lain. Apalagi harus bersikap seolah tidak saling mengenal.

“Anak mami, kalau gak mau telat cepat naik!”

            “Apa yang kau bilang barusan?, kau bilang otakku otot semua?”

Ya! kau mau kemana?. Kau tahu?, lebih baik jadi perempuan seperti aku. Dari pada kamu?, jadi laki-laki cuma merek. Kau bahkan lebih buruk dari banci. Dasar banci kaleng!. Banci Salon!. Ya! Ya! Ya! Tunggu aku.” 

“Oho!, jangan anggap remeh!. Kalau aku pake baju perempuan, kamu pasti juga akan jatuh cinta sama aku”

Satu persatu kenangannya bersama Hyeji, menemaninya berjalan. Ia menangis dan kadang tertawa karena mengingat kejadian-kejadian lucu bersama Hyeji.

***

@Cherry Park

Kris duduk dengan tatapan kosong menghadap ke sebuah sungai yang mengalir di hadapannya. Ia sedang menunggu seseorang.

“Hyung…” Sapa Jung Hwa saat ia tiba.

“Annyeong Jung Hwa.” Sapa Kris sambil tersenyum.

“Bagaimana?. Hyung sehat?.” Tanya Jung Hwa.

“Hmm…sepertinya tidak.” Jawabnya yang masih saja tersenyum.

“Hyung mau cerita apa soal Kris?.”

“Kris?. Hmm…, dia laki-laki yang pintar, tampan dan mudah bergaul. Dia punya banyak teman, dan banyak sekali perempuan yang jatuh cinta dengannya. Setiap hari ada saja perempuan yang menyatakan cintanya pada Kris.”

“Wuah!. Aku ingin menjadi seperti Kris ketika besar nanti.” Kata Jung Hwa kagum.

“Tapi, dia tidak pernah jatuh cinta sekalipun. Setiap kali ada perempuan yang menyatakan cinta padanya, ia selalu menolaknya. Entah apa yang dipikirkannya. Semua ia miliki, kekayaan, kepintaran, teman, wanita, namun tidak dengan cinta.” Kris bercerita dengan wajah sendu.

“Kenapa dia tolak semua hyung?.”

“Dia tidak ingin melukai hati wanita. Bahkan menolak sahabat dekatnya sendiri. Padahal ia sangat tahu betapa cintanya gadis itu padanya.” Kris berkata sambil membayangkan sosok Yoona di hadapannya.

“Sampai akhirnya, perempuan jadi-jadian yang kini berubah menjadi gadis cantik membuatnya jatuh cinta. Gadis itu nunamu, Song Hye Ji. Kris begitu mencintainya. Hyeji adalah cinta pertamanya. Kris tidak peduli Hyeji itu mau tampil menjadi laki-laki atau perempuan. Karena cintanya tetap sama tidak berbubah sedikitpun. Tapi, cinta Hyeji begitu besar untuk orang lain. Kris begitu hancur saat tau orang lain itu juga sama besarnya mencintai Hyeji.” Kris tertunduk , lalu menyambung lagi kata-katanya.

“Kris bilang, dia tidak masalah kalau Hyeji tidak mencintai dia.Karena dia sudah cukup bahagia dapat merasakan bagaimana itu cinta. Walaupun kedengarannya tolol.” Kata Kris yang berusaha menghibur dirinya sendiri.

“Sebesar itukah hyung?, cinta Kris sama nuna aku?.” Tanya Jung Hwa yang merasa iba mendengar cerita tentang Kris.

“Besaaaaaaar sekali. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.”

Jung Hwa semakin bingung dengan yang namanya cinta. Begitu aneh menurutnya, orang setampan Kris menyukai nunanya yang begitu banyak kekurangan. Dan nunanya malah mencintai laki-laki lain yang 180 derajat lebih buruk dari Kris.

“Hyung kenapa menangis?.” Tanya Jung Hwa yang melihat Kris meneteskan air mata.

Kris tidak menjawab, berkali-kali ia menghapus air matanya yang jatuh tanpa bisa di kendalikan.

“Sakit sekali harus membohongi diri sendiri. Mengatakan tidak apa-apa kalau dia tidak mencintai, mengatakan kalau akan bahagia kalau dia bahagia dengan orang lain. Dan mengatakan bahagia karena telah mengetahui apa itu cinta. Rasanya, benar-benar idiot!!.”

“Jadi kenapa hyung menangis?.”

“Yang di rasakan Kris sama dengan yang aku rasakan.”

Jung Hwa hanya dapat duduk terdiam, ia melihat Kris yang berusaha untuk tidak menangis walaupun air matanya terus berjatuhan.

“Tidak tolol ataupun idiot. Mungkin sekarang memang terasa sedikit berat, tapi semua akan cepat berlalu, jadi hyung jangan pernah patah semangat. Fighting!!.”

Kris tersenyum mendengar perkataan Jung Hwa, lalu ia mengacak-ngacak rambutnya.

“Terima Kasih teman kecil.” Katanya pada Jung Hwa.

“Lalu hyung?. Nunaku boleh tidak mendapatkan orang yang di cintainya?.”

Kris mengangguk, “Boleh!.” Ia berat mengatakannya.

“Lalu, maukah hyung membantuku agar nunaku mendapatkan orang yang di cintainya?. ” Tanya Jung Hwa pada Kris dengan wajah memelas.

“Bagaimana kalau aku pikirkan dulu?.”

“Ne!.” Jawab Jung Hwa mengangguk dengan senyuman.

Setelah lebih dari satu jam bercakap-cakap, mereka berdua lalu memutuskan untuk pulang. Kini hati Kris sudah sedikit lega, karena sudah melepaskan unek-unek hatinya. Kris menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.

“Hyuuung….” Tiba-tiba dari jauh Jung Hwa memanggilnya. Ia bingung mengapa Jung Hwa balik lagi.

“Ada apa?.” Tanyanya saat Jung Hwa telah sampai di hadapannya.

“Ini hyung…” Kata Jung Hwa sambil menyerahkan dua buah coklat batang pendek.

“Untuk hyung?.”

“Satu untuk hyung, satu lagi tolong berikan pada Kris. Dan bilang pada Kris temui sahabat yang mencintainya itu, dan hyung bilang sama dia ‘kalau seseorang telah menolakmu artinya Tuhan menyuruhmu untuk menerima orang lain. Karena Tuhan tau bahwa orang lain itu punya cinta yang lebih besar dari cinta yang kamu punya’. Tolong katakan itu pada Kris ya Hyung…”

Kris terdiam dengan perkataan Jung Hwa.

“Aku pulang dulu. Annyeong….” Jung hwa melaju dengan sepeda mininya.

Kris seperti baru sadar dengan sesuatu. Tiba-tiba…

“JUNG HWA!!!.” Teriaknya pada Jung Hwa yang mulai menjauh.

“ADA APA HYUNG???.”

“AKU MAU MEMBANTUMU!!.”

To Be Continued…

38 pemikiran pada “100 Ducks (Chapter 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s