Brother Complex (Chapter 2)

BROTHER COMPLEX

 

CAST                                       :        LUHAN

KRIS

YOO MI (YOU)

OTHER CAST                      :        KRYSTAL

(for this chap)                           SULLI

GENRE                                   :        SCHOOLIFE, HOMELIFE, FAMILY

AUTHOR                              :        BROWNee

 

 

 

Disisi lain, Luhan hanya bisa memandangi hyung dan adiknya dari jendela kelasnya. Seperti itu Luhan memberi perhatian lebihnya kepada Yoo Mi, selalu Kris yang menjadi media. Tapi dengan seperti itu saja ia sudah bahagia. Tidak penting baginya Yoo Mi tau bahwa dirinyalah yang memberikan air itu. Cukup dengan Yoo Mi baik-baik saja. Itu sudah cukup. Karena kau adalah adikku, dan aku adalah kakakmu.

 

~!~!~!~!~!~!

 

Istirahat-

 

“Kau tadi dihukum ya anak nakal?” Tanya Luhan pada Yoo Mi. “iya.” Jawab Yoo Mi sambil mengerucutkan bibirnya. Kris hanya terkekeh melihat tingkah Yoo Mi dan menyodorkan kaleng soda ke arah Luhan, yang langsung diambil dan ditenggak oleh Luhan. Kris mengambil tempat duduk disebelah Yoo Mi. Luhan mengambil kursi kosong dan menempatkan dirinya tepat di hadapan Yoo Mi.

 

“bagaimana praktekmu? Kenapa kau bisa keluar untuk membeli air m—“ Luhan segera membungkam mulut Kris. Takut-takut Yoo Mi mengetahuinya. Matanya melirik kearah Yoo Mi, mengahela nafasnya lega kala tau Yoo Mi tidak medengarnya anak itu sedang sibuk memakan coklat batangan yang ia bawa dari rumah.

 

“m..mhh itu, jangan keras-keras hyung, takut yang lain tau kalo aku keluar saat praktek tadi. Sstt” Luhan menoleh kekanan dan kekiri, berakting seolah ia adalah siswa yang tadi membolos saat praktek. bohong! Bilang saja kau tidak mau Yoo Mi tau. Kenapa selalu saja seperti ini, ck dasar anak ini—Batin Kris. Kris menepis halus tangan Luhan.

 

“lancar hyung. Tadi itu aku izin ke toilet. Makanya aku bisa keluar.” Jawab Luhan, Luhan melihat Yoo Mi yang sedang makan coklat, sampai bibirnya belepotan coklat. Kris terkekeh kecil.

 

“kau! Makan saja sampai belepotan. Dasar anak manja. Sini mendekat.” Luhan menggerakkan tangannya memberi kode pada Yoo Mi agar mendekat. “iya kah?” Yoo Mi mencoba mengusap bibirnya. “hey-ya! Bukan disebelah situ. Makanya cepat mendekat.”

 

Yoo Mi mendekat kearah Luhan. Wajahnya dengan wajah Luhan sangatlah dekat. Luhan berhenti, menatap bibir Yoo Mi. Bibir cherry yang pink merekah. Bisakah.. bisakah aku.. Aish apa yang kupikirkan? Batin Luhan. Segera ia mengusap bibir Yoo Mi dengan ibu jarinya dengan sangat perlahan karena Tidak ingin moment ini berlalu begitu cepat.

 

“sudah belum oppa? Memang banyak sekali ya coklatnya? Ko lama sekali  membersihkannya?” tanya Yoo Mi polos “ah..ah ya.. sudah-sudah..” Luhan mendapatkan kembali kewarasannya (?) dan segera mendorong kepala Yoo Mi menjauh. “aish kau ini. Kasar sekali sih.” Yoo Mi mencibir, sedangkan Luhan membuang muka, menetralisir apa yang sekarang seang berdegup kencang. Kris mengacak rambut Yoo Mi perlahan.

 

Kriiiiiiiiiiiiing kriiiiiiiiiiiiiing

 

“hahaha. Sudah sana masuk kelas. Istirahat telah berakhir.” Ucap Luhan mengambil coklat yang masih setengah dari tangan Min Yoo. “ya! Itu coklatku! Kembalikan!” Yoo Mi berusaha mengambil coklatnya, namun tubuh mungilnya tidak setinggi Luhan jadi dengan mudah Luhan mengerjainya. “hyung! ambil!” Luhan melemparkannya pada Kris.

 

Tepat! Coklat itu sudah berada digenggaman Kris. Kris hanya menyeringai menatap Yoo Mi. Kalau ditangan Luhan Oppa saja aku sudah tidak bisa mengambilnya. Apalagi ditangan Kris Oppa. Shisus! “sudah masuk sana.” Ucap Kris dengan bijaksananya dan disambut Tawa menyeramkan dari Luhan. Yoo Mi mencibir. Menghentakkan kakinya sebelum melangkah pergi meninggalkan kedua kakaknya.

 

 

 

Kabar baik, Murid-murid SHS dipulangkan lebih cepat hari ini karena guru-guru ada rapat, entahlah ada rapat apa yang jelas seluruh murid senang mendengar hal itu. Kabar buruknya adalah, saat ini sedang hujan deras, jadi mau tidak mau murid-murid SHS harus menunggu disekolah sampai hujannya reda.

 

Kris, Luhan, dan Yoo Mi tengah berada di ruang musik, mereka tidak bisa pulang karena hujan deras diluar, apalagi mereka harus pulang menggunakan bis. Jalan dari Sekolah mereka ke halte bis saja sudah lumayan jauh, bisa-bisa mereka basah kuyup.

 

“oppa coklatku mana?” Pinta Yoo Mi saat memasuki ruang musik. Mereka lebih memilih ruang musik jika harus menunggu jika salah satu dari mereka masih ada urusan atau apalah itu yang mengharuskan mereka untuk pulang terlambat dibanding harus kembali kekelas atau menunggu di depan sekolah. Mereka memang harus pulang bersama setiap harinya, karena berangkat sekolah bersama maka pulangpun harus bersama. itu yang selalu ommanya tanamkan.

 

“Masih ingat saja kau Yoo Mi-ah. Ckckck” jawab Luhan. “tentu saja.” Yoo Mi menghampiri Luhan dan mulai meraba-raba saku baju dan celana Luhan. “hey hey apa yang kau lakukan?”

 

“dimana coklatku?” Tanya Yoo Mi sambil berkacak pinggang. “bukan padaku.”Jawab Luhan

Satu-satunya tersangka yang tersisa, hanya Kris. Yoo Mi langsung menoleh kearah Kris. Terlihat Kris mengambil sesuatu dari kantong celananya, itu coklatku, batin Yoo Mi. Namun bukannya memberikannya pada Yoo Mi yang ada Kris malah menaruh coklatnya diantara kedua rahangnya  “kalau kau mau, ambillah!”

 

“a-apa? Aish jinjja. Oppa ppali kembalikan padaku” Rengek Yoo Mi. “yasudah kalau tidak mau. Aku gigit saja.” Kris mulai mengatupkan rahangnya perlahan-lahan, matanya melirik jenaka kearah Yoo Mi.

 

“ANDWAE‼ shiro.” Pekik Yoo Mi. “oppa~” berbalik ke arah Luhan menatap Luhan seolah berkata “oppa help me please!” Luhan hanya menaikan bahu tanda tidak mau berbuat apa-apa.

 

Dengan ragu Yoo Mi menghampiri Kris. “coklatku tinggal sedikit. Kau makan eoh?” tanya Yoo Mi. “iya.” Jawab Kris santai, Yoo Mi menggeram. Akhirnya Yoo Mi sampai tepat didepan Kris, ia menatap wajah tampan kakaknya. “oppa ini tinggal sedikit. Bagaimana..bagaimana kalau.. bibir kita.. you know..” Ucap Yoo Mi gugup. “lalu kenapa? Sewaktu kecilpun kau sudah sering kucium. Aku sudah pernah merasakan bibirmu” Kris menjawab santai.

 

“Ayo cepat.. kau ini lamban sekali.. aku hitung sampai tiga, kalau tidak coklat ini akan jatuh ke perutku. Hana.. dul..” tantang Kris

“argh~ ne arra.. merunduklah! Kau itu terlalu tinggi.” Yoo Mi mendekatkan wajahnya dengan cepat, membuka sedikit mulutnya lalu mulai menggigit coklat batangan itu. Tak sengaja matanya bergerak keatas, tepat dimana mata coklat Kris —yang sedang menatap dalam ke matanya.

CHU~

Bibirnya—tentu saja— menyentuh bibir Kris karena coklat tersebut sudah tinggal sedikit. Yoo Mi kaget, lalu segera menarik wajahnya menjauh dari wajah Tampan Kris.

Ia merasa awkward , tidak berani menatap Kris. Apakah ini yang disebut Ciuman? Karena jujur saja, Yoo Mi belum berciuman saat dirinya beranjak remaja, jangankan berciuman, berpacaran pun ia belum pernah. Ciuman..ciuman pertamanya diambil oleh kakaknya sendiri? Apakah yang seperti itu bisa juga disebut ciuman.  Otak Yoo Mi terus saja bekerja memikirkan hal yang baru saja terjadi.

Luhan membuang mukanya kearah lain. Ia berdiri yang tak jauh dari mereka berdua hanya berdiri santai sambil menangkupkan kedua tangannya didada. “hey, hujannya sudah mulai reda. Mau segera pulang?” Suara Luhan mengahamburkan spacing out Yoo Mi akan pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dipikirannya. Berjalan gugup menghampiri Luhan menoleh sebentar ke jendela besar yang ada mengelilingi ruangan itu. Yoo Mi hanya bergumam mengiyakan pertanyaan Luhan.

“ahh kalian berdua duluan saja. Aku ada urusan kecil dengan Sulli.” Luhan berjalan mengambil Tas lalu menyelempangkan sebelah talinya di pundak tegapnya. Lalu berjalan santai keluar dari ruangan.

Yoo Mi memperhatikan punggung lebar kakaknya yang perlahan menjauh. Menghampiri Kris yang juga merasa gugup, Mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.

~!~!~!~!~!~!~!~

 

Seorang yeoja cantik menyesap Vanilla milkshakenya perlahan sambil terus mengumpat kesal karena sejak daritadi teman yang ditunggunya tak kunjung datang.

“maaf aku terlambat” Namja yang ditunggu itu pun datang dengan langkah santai dan langsung duduk dikursi dihadapan yeoja itu—Sulli. “kemana saja kau. Aku menunggumu hampir sejam. Bakka!” sungut Sulli

“kau tidak lihat hari ini hujan” jawab Luhan dengan dingin tanpa menatap lawan bicaranya—malah terlihat memanggil pelayan.

“pesanannya tuan”  pelayan itu tersenyum ramah sambil memberikan lembar menu kepada Luhan. “tidak usah. Espresso saja.” Jawab Luhan membalas senyum pelayan tersebut. For God sake, aku berani bertaruh pelayan itu meleleh akan pesona senyum Luhan yang maha imut (?) . “baiklah. Pesananmu segera datang dalam 10 menit, tuan.” lalu pelayan itu pergi.

Setelah kepergian pelayan tersebut. Hanya keheningan yang ada diantara Luhan dan Sulli. Detik berubah menjadi menit, Karena Luhan terlalu jengah dengan keadaan itu. Akhirnya ia berinisiatif untuk memulai percakapan “lalu, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Luhan. “apa kau mempunyai yeojacingu Luhan-ssi?” tanya Sulli mantap, ia tak mau terlihant ragu dihadapan Luhan. “tidak. Apa kau pernah melihatku berjalan beriringan dengan seorang wanita?” Luhan malah balik bertanya. “ mm memang, aku memang belum pernah melihatmu berjalan dengan wanita. Tapi aku hanyaingin memastikan.” Jawab Sulli

Tak sampai 10 menit pesanan Luhan datang, dan ia langsung menyesap Espresso yang ia pasan tadi. “lalu?” tanya Luhan lagi. “Kenapa dia tidak peka sekali sih.” batin Sulli. “emm.. aku ingin kau menjadi namjacinguku Luhan-ssi” Sulli menunduk, bisa Luhan semburat merah muncul dikedua pipi halus didepannya.

Sulli memang salah satu murid tercerdas dan tercantik yang dimilki SHS. Tidak Luhan pungkiri sebagai namja ia mengakui kecantikan Sulli. Namun ia memang tidak mempunyai perasaan kepada Sulli —selain teman—

Namun sedetik kemudian Luhan berfikir, bukankah tidak ada salahnya jika ia mencobanya. Lagipula ini bisa menjadi media untuk dirinya, mungkin saja ia bisa melupakan perasaanya pada Yoo Mi. Ia tahu ini Sister Complex namanya. ini mungkin bisa langkah awal untuknya.

Menghela nafas sebentar dan menatap wanita yang menunduk dihadapannya “ya.” Gumam Luhan sambil mengaduk Espresoonya. Sulli mendongak mendengar jawaban Luhan. “oh?” Sulli memiringkan kepalanya tanda ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Luhan berusan. “A-apa maksudnya dengan ‘ya?’” Luhan membuang tatapannya kearah lain.

“aku menerimamu.” Luhan menggedikkan bahunya dan tersenyum tipis pada Sulli.  “terima kasih oppa” jawab Sulli. “Luhan-ssi” kata Luhan singkat.  Sulli mengangkat kedua alisnya, memiringkan kepalanya tanda ia tidak mengerti.

“kenapa? Bukankah wanita yang berpacaran memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘oppa’?” tanya Sulli. “Tidak, aku tidak suka, maaf. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan. Aku harus segera puang” Luhan berdiri mengambil tasnya dan melenggang pergi setelah meninggalkan sejumlah uang diatas meja. Meninggalkan Sulli sendiri.

“Maaf Sulli, ‘Oppa’ hanya untuk Yoo Mi. Aku tidak ingin panggilan itu tersamakan oleh orang lain.” Batin Luhan

 

~!~!~!~!~!~!~!

 

Luhan POV

“ Aku pulang” aku membuka sepatuku dan berjalan masuk kedalam rumah. Omma menyambutku dengan senyum hangatnya, sedikit menelisik kearah rambut dan tubuhku yang sedikit basah karena hujan diluar.

“kau darimana saja eoh?” tanyanya sambil membukakan Jaket coklat yang aku pakai. Kulihat dari ekor mataku Yoo Mi sedang duduk sofa mulai berpaling kearahku. Aku membalas senyum omma.

“aku ada sedikit urusan omma.” Sedikit menggumamkan kata terima kasih padanya.

“cepat mandi, nanti kau masuk angin.” Omma meninggalkanku setelah menggantung jaketku tak jauh dari tempatku berdiri. Aku melangkah kelantai atas menuju kamarku. Berjalan dengan gontai menuju kamar, membuka pintu lalu menutupnya. Menghela nafas setelah meletakkan tas ransel coklatku diatas meja belajar.

Aku masuk kedalam kamar mandi dan mulai menatap cermin yang ada didalamnya. Hari ini melelahkan, padahal tak ada yang berbeda ari hari-hari sebelumnya. Mungkin fikiranku yang lelah. Tiba-tiba ingatan itu kembali muncul, saat Sulli menyatakan perasaanya padaku.  Semoga keputusanku ini benar.

 

~!~!~!~!~!

 

Aku keluar dari kamar mandi bersamaan dengan terbukanya pintu kamarku menampakkan sosok Yoo Mi yang memasang wajah datar, aku mengerutkan keningku sekilas. Ada apa dengannya.

“ada apa?” tanyaku singkat tanpa menatapnya, menundudukkan tubuhku di tepi ranjang. Sambil tanganku tak berhenti mengusap rambutku. Tidak ada jawaban, bisa kulihat dari ekor mataku Yoo Mi masih berdiri di belakang pintu, wajahnya masih datar.

Aku menolehkan wajahku, menaikkan kedua alisku karena belum ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“ada yang ingin kau pinjam? Kamusku? Atau laptopku? Um?” tanyaku lembut

“…” masih tidak ada jawaban

“hey.. kau ini kenapa?” aku menghampirinya. Kulihat ia sedikit menundukkan kepalanya. Aku menangkupkan tanganku di pipinya. Memaksanya untuk menatapku. Matanya mulai memerah. Kenapa bocah ini..

“kau..” suaranya tercekat. Ia tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia ingin menundukkan kembali wajahnya, namun aku tahan sebelum ia bisa melakukannya.

“katakan, apa yang terjadi Park Yoo Mi?‼” aku sedikit meninggikan nada bicaraku, berharap ia mau mebuka suaranya.

Yoo Mi menggeleng dan mendorong tubuhku menjauh darinya. Ia berputar dan ingin melangkan keluar, namun ku tahan. Dengan sekali hantakan aku mendorong tubuhnya ke dinding. Menguncinya agar tidak bisa lagi menghindar.

~Yoo Mi POV~

Aku tidak bisa mengatakannya, suara tercekat sampai ditenggorokan. Aku pun tidak tau kenapa aku bisa merasa ada yang meluap didalam hatiku, bukan..bukan luapan senang, namun…luapan err kesedihan? Entahlah aku tak mengerti. Saat membaca pesan singkat dari Sulli yang mengatakan bahwa dirinya baru saja menyatakan cinta kepada Luhan oppa, dan ia resmi menjadi kekasih Luhan Oppa hari ini. Aku mencoba untuk tak peduli, sungguh. Tapi aku tidak bisa!

Seharusnya aku senang dan melompat kepelukan Luhan Oppa untuk memberinya selamat. Namun apa yang aku lakukan sekarang.  Aku malah ingin menampar wajah tampan di depanku ini.

Aku mendorongnya dan berniat keluar kamarnya, lalu melupakan segalanya. Namun lengan besar menahan langkahku. Ia mendorongku ke dinding dan mengunciku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku tidak lagi bisa menghindar. Matanya mulai mengunci mataku agar tidak bisa lagi melihat kearah lain selain matanya.

“katakan! Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis hah? Ada yang menyakitimu? Jawab aku‼”

“tidak ada. Dan aku tidak menangis!” jawabku datar, namun berbanding terbalik dengan apa yang jatuh dari pelupuk mataku, air mataku jatuh dengan sempurna tanpa ada penghalang. Aku terus meronta berusaha melapaskan diri, namun nihil, kekuatannya jauh lebih besar.

“kau fikir aku bodoh. Tidak ada orang yang menangis tanpa  sebab!”

Aku mengambil nafas, dan menghembuskannya perlahan, mencoba rilex. Dan mulai membuka mulutku “Sulli.. Sulli kekasihmu Oppa?” tanyaku lirih

Aku lihat mataya membulat, aku yakin dia amat terkejut dengan pertanyaanku.

“bagai..bagaimana kau tahu?” tanyanya ikut lirih

“dia mengirimiku pesan singkat. Jadi itu urusanmu pulang terlambat?” tanyaku. Luhan oppa tampak berpikir namun akhirnya ia menjawab “ne” tatapan matanya berubah menjadi sendu.

“apa kau..menangis karena ini?” Luhan Oppa menelisik dengan matanya.

“tidak. baguslah. Aku senang kau memiliki kekasih. Lagipula kenapa aku harus menangisi ini? Bukan urusanku..” kata-kata yang keluar dari bibiru, berbanding terbalik dengan apa yang ada dihatiku. Aku merasa dadaku bergemuruh saat Luhan Oppa mengatakan iya..

“chukkae”  aku bergumam, dan langsung menghentakkan kedua tangannya yang mengunciku, ia tak lagi menahanku, matanya menatap lantai. aku berjalan menjauhinya.

~Author POV~

Yoo Mi mengulurkan tangannya untuk memutar knop pintu, Namun lagi-lagi langkah Yoo Mi terhenti saat kedua tangan Luhan melingkar erat di bahu Yoo Mi. Air matanya kembali mengalir. Punggungnya merasa hangat. Kenapa harus seperti ini.

“maafkan aku. Aku tidak tau lagi harus bagaimana. Aku tidak mau kau menangis. Tapi aku juga tidak bisa melepas Sulli. Katakan! Apa yang harus aku lakukan?” Luhan memutar tubuh Yoo Mi agar berhadapan dengannya. Menghapus jejak air mata di pipi adiknya dengan kedua jempolnya. Hatinya merasa sakit saat melihat adik yang sangat ia cintai menangis karenanya.

“tidak ada. Lakukanlah sesukamu. Aku tak berhak untuk melarangmu dengannya. Aku bahagia jika kau bahagia. Karena kau adalah kakakku, dan aku adalah adikmu” aku membalikkan kata-kata Luhan dan Kris oppa yang sering mereka katakan padaku dari kecil hingga sekarang jika ada seseorang yang menjahiliku. Aku selalu bertanya pada mereka, kenapa mereka selalu memukul atau membully orang-orang yang menyakitiku, dan mereka pasti menjawab seperti itu “karena kau adikku, dan aku adalah kakakmu.”

Luhan meraih kepala Yoo Mi dan memeluk tubuh mungil itu. Menyandarkan dagunya di bahu sempit Yoo Mi. Yoo Mi terisak, Yoo Mi semakin menenggelamkan wajahnya di dada Luhan, merengkuh erat tubuh kakaknya, meluapkan segala perasaan yang ada, yang sebenarnya Yoo Mi sendiri tidak mengerti, perasaan apa itu.

Luhan melapas pelukannya perlahan, mengusap bibir cherry itu yang masih terisak. Menggumamkan kata ‘uljima’ berkali-kali. Air mata Yoo Mi malah jatuh semakin deras saat bibir Luhan mengecup berkali-kali bibirnya yang masih saja terisak. Yoo Mi terkejut dengan apa yang Luhan lakukan namun ia tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya kaku.

Luhan menghentikan kecupannya. Berniat menjauhkan wajahnya, namun diluar dugaan Yoo Mi menarik wajah Luhan untuk menempelkan kedua bibir itu kembali. Kali ini tanpa kecupan. Yoo Mi menahan tengkuk Luhan dengan melingkarkan kedua lengannya di belakang leher Luhan agar Luhan agar tidak menjauh.

Luhan membelalakkan matanya, terkejut akan apa yang adiknya lakukan. Namun ia berpikir mungkin ini bisa menenangkan Yoo Mi. jadi ia tidak menolaknya.

Entah siapa yang memulai, namun sekarang mereka mulai mengulum lembut bibir satu sama lain. Luhan mengusap lembut pipi Yoo Mi yang basah. Ini terlalu sulit baginya.

Luhan menangkup rahang Yoo Mi dengan kedua tangannya, ia mulai menikamatinya, Yoo Mi pun mulai menikmati ciuman ini, tidak peduli apa. Ia hanya ingin Luhan berada didekatnya.

Luhan mendorong wajah Yoo Mi sedikit manjauh, ingin menyudahi ciuman mereka. Isakan kecil masih lolos dari bibir mungil dihadapannya.

“kenapa kau menangis, eum?” Luhan bertanya lembut sambil menatap dalam mata Yoo Mi.

“entahlah. Aku juga tidak tau, tapi aku merasa tidak rela kau memiliki kekasih.” Yoo Mi menundukkan kepalanya, ia malu. Ia yakin pipinya sudah merah padam sekarang.

Luhan tidak lagi menjawab perkataan Yoo Mi, yang ia lakukan selanjutnya adalah kembali menyatukan bibir mereka berdua. Yoo Mi menyambutnya, Luhan sedikit mengulum senyum saat tau Yoo Mi membalasnya.

“aku mencintaimu.” Luhan bergumam pelan ditengah ciuman mereka, ia pikir Yoo Mi mungkin tidak akan mendengarnya.

 

KNOCK KNOCK

 

Mereka berdua terkesiap dan menjauh satu sama lain. Luhan berdehem sambil mengusap tengkuknya canggung. “Luhan-ah‼ makan malam!!” suara Kris menggema di luar pintu.

“maafkan aku.” Yoo Mi menatap Luhan sekilas, susana dikamar Luhan saat ini terasa lebih panas di tubuh mereka berdua, padahal sekarang masih musim dingin.

“ne hyung, aku akan segera turun” Luhan sedikit berteriak menjawab panggilan Kris.

Berjalan kearah pintu diikuti dengan Yoo Mi dibelakangnya. Pintu terbuka dan tampaklah Kris yang sedang berdiri didepannya. Kris menatap heran pada kedua adiknya, terkejut  saat ia melihat mata Yoo Mi yang merah dan sembab, seperti habis menangis.

“kau..gwenchana?” tanya Kris menarik tubuh Yoo Mi mendekat ke arahnya menangkup kedua pipi Yoo Mi dengan kedua tangan besarnya.

“aku baik-baik saja, Oppa” jawab Yoo Mi menepis halus tangan Kris, mengambil tangan kiri Kris untuk ia genggam, “Ayo makan malam‼” serunya dengan ceria. Dan segera menarik Kris berjalan. Kris yang bingung dengan perubahan sikap Yoo Mi hanya menurut mengikuti langkah Yoo Mi. namun Kris masih menyimpan banyak pertanyaan di otaknya. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara Luhan dan adiknya tadi didalam.

“aku baik-baik saja, Oppa” jawab Yoo Mi menepis halus tangan Kris, mengambil tangan kiri Kris untuk ia genggam, “Ayo makan malam‼” serunya dengan ceria. Dan segera menarik Kris berjalan. Kris yang bingung dengan perubahan sikap Yoo Mi hanya menurut mengikuti langkah Yoo Mi. namun Kris masih menyimpan banyak pertanyaan di otaknya. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara Luhan dan adiknya tadi didalam.

 

~!~!~!~!~!~!~!

 

Di meja makan Omma mereka sudah menunggu ketiga anaknya di meja makan. Tersenyum melihat Yoo Mi menggandeng tangan Kris. Sebagai ibu ia tau Yoo Mi memang lebih dekat dengan Kris, sangat dekat ketimbang dengan Luhan. Mungkin karena Yoo Mi yang manja, dan Kris yang memang suka dengan sifat manja Yoo Mi, berbeda dengan Luhan yang memang tidak suka terlalu memanjakan Yoo Mi. itu yang menyebabkan Luhan dan Yoo Mi sering bertengkar satu sama lain.

“ayo kita makan.. duduklah” Omma menarik bangku disebelahnya agar Yoo Mi duduk disebelahnya. Sedangkan Kris di sebelah kiri Yoo Mi dan Luhan duduk tepat dihadapan Yoo Mi, membuat Yoo Mi terus menundukkan kepalanya karena tidak ingin menatap Luhan.

“appa belum pulang?”  tanya Kris

“appa pulang larut, tadi appa mengirim pesan pada omma” Omma mengambilkan nasi di piring mereka masing-masing.

“biar aku yang mengisi mangkuk Kris oppa, Omma” Yoo Mi mengambil mangkuk Kris dan mulai menyendokkan nasi kedalamnya.

“Luhan oppa tidak?” tanya Omma menggoda Yoo Mi.

“untuk Luhan oppa, Omma saja yang mengambilkan.” Luhan hanya mendelik mendengar jawaban Yoo Mi. sedangkan Kris hanya menatap mereka bergantian.

“oppa kau mau apa?” tanya Yoo Mi.

“sudahlah biar aku yang memilihnya sendiri, kau ambillah nasimu.” Tolak Kris mengambil alih mangkuk miliknya yang dipegang Yoo Mi.

“oh? Baiklah.” Yoo Mi tersenyum lebar pada Kris. Kris membalas senyum Yoo Mi mencubit gemas pipi Yoo Mi.

Sepanjang makan malam Yoo Mi terus saja menggoda Kris, tertawa lepas saat mendengar lelucon yang dilontarkan Kris. Sedangkan Luhan hanya menatap nanar pada mereka berdua. Ia hanya diam dan diam. Tidak seperti biasanya, biasanya mereka akan bercengkrama bersama, dan tertawa bersama. Omma yang merasa ada sesuatu yang ganjal .

“bagaimana sekolahmu?” tanya Omma

“baik.” Jawab Luhan singkat.

“kau.. sudah memilik kekasih?” Tanya Omma lagi.

PRANK

Tepat disaat omma menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba Yoo Mi menjatuhkan gelasnya membuat gelas itu hancur. Semua orang yang berada dimeja makan terkejut.

“Yoo Mi kau tidak apa-apa?” Tanya Luhan khawatir.

“tidak..aku baik-baik saja. Maaf” jawab Yoo Mi lirih “aku sudah selesai. Aku akan kembali kekamar.” Yoo Mi berbalik menaiki tangga menuju kamarnya. Kris, Luhan, dan Omma menatap satu sama lain, tidak mengerti apa yang terjadi pada Yoo Mi.

“biar aku yang bereskan omma.” Luhan berdiri dari duduknya setelah sebelumnya memberi kode pada Kris untuk menghampiri Yoo Mi dan dibalas anggukan oleh Kris. Omma mengangguk dan mulai membereskan piring-piring yang ada di meja makan.

Luhan jongkok dihadapan pecahan gelas yang baru saja dipechakan Yoo Mi, tiba-tiba tangannya tergores pecahan beling tersebut membuat darah segar mengalir dari jarinya. Luhan tidak menghiraukan darahnya yang terus keluar, hanya Yoo Mi yang memenuhi pikirannya, apa anak itu terkejut dengan pertanyaan omma hingga ia menjatuhkan gelas ini.

“anak bodoh! Untuk apa dia memberitahu pada Yoo Mi tentang hubungan bodoh ini.” Luhan bergumam merutuki kebodohan Sulli yang memberitahu hubungannya dengan Luhan pada Yoo Mi.

Membuang pecahan tersebut ketempat sampah dan segera membasuh jarinya yang masih mengeluarkan darah.

 

You got a messeuji~

 

Suara dering sms membuat Luhan terkesiap mematikan keran air. Membuka pesan tersebut dan mendesah malas saat tau siapa yang mengiriminya pesan, Krystal.

‘Oppaaaaaaaaaa kau menghianatiku‼ apa maksudmu menerima pernyataan cinta Sulli huh? Kau tau kan kalau aku ini mencintaimu Luhan oppa‼! Aku harus bicara padamu besok! >//<’

Ia berniat memasukkan kembali handphone touchscreen putih itu kembali kekantung celananya namun suara dering itu kembali terdengar, Luhan membukanya dengan malas, kali ini dari pengirim yang berbeda.

Sulli

‘oppa apa kau sudah makan malam?’

‘sudah’

‘kau sedang apa sekarang eoh?’

‘tidak sedang apa-apa. Kau sendri sedang apa?’

‘memikirkanmu o^^o’

Luhan terdiam. ‘kekasihnya’ sedang memikirkannya tapi ia sendiri malah memikirkan orang lain. Jahat kah? Entahlah.

‘kau memberitau hubungan kita pada Yoo Mi?’

‘oh? Dia sudah bertanya padamu? Iya ^^;; tidak apa-apa kan?’

‘seharusnya kau bertanya dulu padaku’

‘dia adalah teman dekatku oppa. Aku fikir tidak masalah jika ia tau aku berhubungan dengan kakaknya. Mianhae, aku tidak akan mengulanginya T^T’

Luhan membuang handphonenya saat ia berada di dalam kamarnya ia tidak berniat untuk membalas pean dari Sulli. Merebahkan dirinya di kasur. Membuang nafas kasar. Ia butuh sandaran. Bukankah pria juga butuh teman curhat. Kris, ya..hyungnya mungkin bisa membantunya.

 

TBC 

Iklan

8 pemikiran pada “Brother Complex (Chapter 2)

  1. eh? si lulu ngomong ‘saranghae’ ke yoomi._.si yoomi denger plisss u,u
    duhh thor ak suka banget thor sama ff ini T_T ending nya susah ditebak! lanjut ya thor. hwaiting

  2. Authooorrr… Kapan lanjut?! Ceritanya kece benar 😀 aaah… Tersentuh sama sikap manis luhan yang gentle disini :’) *maaf bacot

  3. Aaa luhan kesian…
    Dia selalu pake perantara buat ngasih perhatian ke adeknya.hiks
    Thorr aku tunggu ff ini!
    Biar pun sampe jenggotan! /apaansi._.
    Keep writing!! Hwaiting!!-.-9
    Penyakit TBC-nya jan lama2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s