Monalisa (Chapter 5)

Title : Monalisa (Part 5)

Author : FebrinaFR

Genre : Romance, family and I don’t know 😀

Rating : T

Length : MultiChapter

Cast : -Monalisa (OC)

-Kim Jongin

-Oh Sehun

-Nd Others

Nb :        Ini FF perdana saya^^ dan milik saya. mohon jangan  bash, kalo mau kritik boleh, tapi baik-       baik ya 😀 Semua castnya milik Tuhan, kecuali kkamjong , He is mine ! ^^ Typo tersebar dmana-mana,  Alurnya abstrak, dan maaf jika sudut pandangnya kebanyakan dari si OC         karena dia peran utamanya, biarpun ini FF gaje tetap RCL yaaa^^

HAPPY READING !

MONALISAAA

 

Part 5

 

Author POV

Monalisa sedang berjalan bersama Soo Eun menuju kantin. Kuliah di mulai 30 menit lagi, jadi mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka sejenak.

“Soo eun-ah. Kau ingin pesan apa?” Tanya Monalisa.

“Hmm,aku pesan Milkshake saja” Jawab Soo Eun.

Monalisa menuju Counter untuk memesan 2 Milkshake, untuknya dan untuk Soo Eun.

Ketika pesanannya sudah siap, Monalisa menghampiri meja Soo Eun. Namun, sialnya dia, dia malah menabrak Jongin dan menumpahkan Milkshake tersebut di baju Jongin.

“Mianhe Jongin-ssi, aku tidak sengaja. Maafkan aku” Monalisa membungkuk berkali-kali di hadapan Jongin.  Dia takut Jongin akan memarahinya lagi.

Jongin hanya diam. Dia tidak berkata apa-apa ataupun menatap Monalisa dan kemudian meninggalkan Monalisa dengan sikap Dinginnya.

Menyadari keanehan sikap Jongin, Monalisa hanya mengernyitkan dahinya, ada apa dengannya ? aneh. Pikir Monalisa.

“Kau baru saja menumpahkan Milkshake di baju Jongin !” Ujar Soo Eun ketika Monalisa telah berada di sampingnya.

Monalisa hanya mengangguk dan duduk di samping Soo Eun.

“Tapi, kenapa dia tidak marah kepadamu? Biasanya dia akan meledak jika ada yang berbuat seperti itu padanya. Kau beruntung sekali.” Ujar Soo Eun sembari menatap Jongin di kejauhan.

Monalisa berdecak kesal, “Dia juga selalu melakukan hal itu padaku. Hanya saja hari ini dia sedikit aneh” Monalisa mengalihkan pandangannya dan menatap Jongin yang sedang duduk bersama Chanyeol.

“Aku akan ke tempat Chanyeol, apa kau mau ikut?” Soo Eun beranjak dari duduknya dengan wajah Sumringah.

“Heem, aku tidak mau sendirian disini”

Monalisa mengikuti Soo Eun yang berjalan kearah Chanyeol dan disana juga ada Jongin.

“Euunnniii” Sapa Chanyeol riang mengetahui kehadiran Soo Eun.

“Channiiee” Balas Soo Eun.

Monalisa mengetahui ada keanehan di antara keduanya pun bertanya, “Kalian berpacaran?” Tanya Monalisa kepada Soo Eun dan Chanyeol.

Chanyeol merangkul pundak Soo Eun dan keduanya mengangguk sembari tersenyum. Monalisa ikut mengangguk saja melihat pernyataan keduanya.

“Chanyeol, aku harus pergi. Permisi Soo Eun-ssi” Ujar Jongin meninggalkan Monalisa, Soo Eun+Chanyeol.

“Ada apa dengan anak itu? tadi dia baik-baik saja” Tanya Chaneyol.

Monalisa hanya menatap kepergian Jongin. Kenapa dia seperti menghindariku?dia juga tidak berpamitan padaku? batin Monalisa.

“Aku juga harus pergi, permisi.” Monalisa kesal dengan sikap Jongin. Dia memutuskan meninggalkan sahabatnya bersama pacar barunya itu.

Kenapa dia menghindariku?  apa karena tadi aku menumpahkan Milkshake di bajunya? Dia bersikap lebih dingin dari biasanya. Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di pikiran Monalisa.

***

Monalisa POV

Kelas sedang dimulai, tetapi aku tidak bisa berkonsentrasi memeperhatikan dosen di depan. Aku selalu memperhatikan Jongin. Jujur saja, aku tidak menyukai sikapnya saat ini padaku.

“Monalisa, dosennya itu saya atau Kim Jongin! kenapa kamu malah memperhatikan Jongin !” tegur Dosen kepadaku. Aku terkejut mendengarnya sekaligus malu karena aku tertangkap basah memandangi Jongin. Semua mata menatapku sekarang.

“Mianhamnida, tadi aku melihat ada serangga di rambut Jongin” aku mencoba mencari alasan.

“Mwo??”

“Tapi sekarang sudah tidak ada” Lanjutku sambil sedikit tersenyum menahan malu.

“Tsk !” Dosen tersebut berdecak kesal mendengar pernyataanku.

Semua teman-teman di kelasku masih menatapku dengan tatapan aneh, semuanya kecuali Jongin. Dia masih fokus menghadap papan tulis. Dia juga tidak melihatku ketika aku ditegur sedang menatapnya.

Aku menghembuskan nafas berat melihat tingkahnya, dan mulai fokus kepada papan tulis dan dosen. Aku tidak mau ditegur untuk yang kedua kalinya.

 

Auhtor POV

Jam pelajaran di kelas Monalisa berakhir, beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi sudah keluar dari kelas. Monalisa sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Kenapa kau menatapnya tadi?” Tanya Soo Eun sedikit berbisik karena seseorang yang dimaksud masih berada diruangan itu.

“Bukankah aku sudah bilang alasannya” jawab Monalisa.

“Kau Bohong !” Balas Soo Eun.

Monalisa tidak  memperdulikan perkataan Soo Eun. Hari ini Moodnya sedang buruk.

“Euunnniii, ayo kita pulang !” teriak Chanyeol yang sudah berada di depan pintu.

“Okkee, Monalisa aku pulang duluan ya ! bye bye” Ujar Soo Eun. Monalisa tersenyum dan mengangguk. Dia mengerti bahwa sahabatnya itu sedang kasmaran.

“Jongin-ah aku duluan ya !” Pamit Chanyeol kepada Jongin. Dan Jongin hanya berdehem (?).

Setelah Keduanya pergi, hanya tinggal Monalisa dan Jongin di dalam ruangan. Keduanya saling diam. Tidak ada yang berbicara sedikitpun. Monalisa sangat canggung dengan sikap Jongi hari ini, ditambah lagi sekarang dia hanya berdua dengan Jongin, menarik nafas saja sulit rasanya.

Tiba-tiba Sehun datang dan membuat Monalisa bernafas lega.

“Jongin-ah, kau belum pulang?” Tanya Sehun.

“Aku akan pulang sekarang Sehun-ah” Jawab jongin terdengar ramah.

“Baiklah, aku dan Monalisa juga akan pulang sekarang” Sehun menggenggam tangan Monalisa dan mereka berjalan berdua menuju Mobil Sehun.

Monalisa membalikan badannya, dan Jongin sudah tidak ada. Dia berharap dapat melihat Jongin dan harapannya tidak terkabul. Monalisa berjalan dengan wajah Lesu.

***

Monalisa POV

Aku baru saja membuat segelas susu, aku melihat Hyori ahjumma pulang. Sejak semalaman pergi siang ini dia baru pulang.

Hyori ahjumma terlihat kelelahan, wajahnya pucat dan jalannya sedikit sempoyongan.

“Ahjumma, apakah ahjumma sakit?” Tanyaku.

Hyori ahjumma hanya mengernyitkan dahinya.

“Wajah Ahjumma pucat dan badan ahjumma juga panas” Aku memegang keningnya. Badannya panas dan beberapa kali di bersin-bersin.

“Sepertinya ahjumma demam” Ujarku.

Hyori ahjumma tidak membentak seperti biasanya, dia hanya pergi meninggalkanku dan ini membuatku semakin yakin bahwa dia benar-benar sedang sakit.

Tidak ada orang dirumah, BoA ahjumma dan Lee Harabeoji sedang bekerja, Sehun sedang pergi bersama Appanya dan Jongin, sejak pulang kuliah, dia belum kembali. Hanya ada beberapa pelayan dan aku.

Aku  kembali ke dapur dan akan membuat makanan untuk Hyori ahjumma. Setelah makanannya siap aku menatanya dia atas Nampan untuk di bawa ke kamar Hyori ahjumma.

Sampai di sepan Kamar Hyori ahjumma, ku ketuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban, dan ternyata pintu kamar tersebut tidak dikunci.

Aku memutuskan untuk masuk kekamarnya, mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi aku lebih tidak mau melihat makanan yang aku bawa ini menjadi dingin.

Hyori ahjumma sedang berbaring di tempat tidur.

“Permisi, ahjumma. hmm, maksudku Nyonya..” Dia menyadari kedatanganku dan menegakkan badannya.

“Bagaimana kau bisa masuk?” Suaranya terdengar sedikit parau.

“Pintunya tidak di kunci, Nyonya. Aku sudah membuatkan ini untuk Nyonya” Aku meletakkan nampan berisi makanan tersebut di atas meja.

“Memangnya tidak ada pelayan? Kenapa harus kau yang membuatkannya?” Biarpun Hyori ahjumma sedang sakit, nada tajam masih terdengar pada perkatannya padaku.

“Aku juga Pelayan Nyonya kan” aku menegaskan ucapan ku pada kata ‘Nyonya’.

“Kau sudah berani melawanku ya” Hyori ahjumma menatapku dengan tatapan nakal, aku merasa dia melunak sekarang.

Aku mengambil Semangkuk Sup yang tadi aku buat, dan duduk di samping ranjang tidurnya, “Aku berpikir orang yangsedang sakit tidak mungkin bisa melawan apalagi membentak” aku tersenyum kepadanya dan dia hanya mendengus kesal.

“Kata Halmeoni, Sup ayam bisa mengobati sakit demam atau Flu” Aku hendak menyuapi Hyori ahjumma tetapi dia kembali menatapku.

“Kenapa anak kecil bersikap seperti orang dewasa?”

“jika orang dewasa bisa bersikap seperti anak kecil, kenapa tidak.” Balasku. Hyori ahjumma menatapku kesal.

Aku kembali menyuapinya dan diluar dugaanku, dia menerima suapanku dan memakan Sup buatanku.

“Bagaimana, enakkan?” Tanyaku kepada Hyori ahjumma.

“Terlalu asin, bagaimana seorang pelayan sepertimu bisa membuat makanan seperti ini? pasti café tempatmu bekerja tidak pernah laku” Jawab Hyori ahjumma. Aku tersenyum  mendengar jawabannya. Terlihat jelas bahwa dia sedang berbohong.

“Tetapi nyonya memakannya dengan lahap?”

“Ini karena aku lapar” Aku kembali tersenyum mendengar jawabannya.

Tiba-tiba Hyori ahjumma menghentikkan makanannya, dan memegang tanganku. Aku kaget melihat Tindakkan Hyori ahjumma.

“Gomawo, kau sudah mempertemukan Sehun dan appanya” Hyori Ahjumma tersenyum tulus kepadaku. Ini pertama kalinya. Aku sangat senang dan membalas senyumannya.

“Cheonmanayo, apakah Nyonya sudah menemui Oh Ahjussi?” Tanyaku. Hyori ahjumma menghembuskan nafas dan beralih menatap keluar jendela.

“Belum. Aku dan dia sudah lama berpisah, pasti kami akan saling canggung. Dan itu sangat suit buatku” Hyori ahjumma kembali menatapku, tatapannya sangat sendu.

Aku menggenggam tangannya, “Oh ahjussi sangat mengharapkan nyonya dan Sehun kembali. Dia masih menyayangi kalian. Bahkan di apartement nya, Oh ahjussi memajang Foto Nyonya dan juga Sehun” Hyori ahjumma menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Percayalah padaku” Hyori ahjumma membalas genggaman tanganku.

“Sebaiknya nyonya istirahat, agar cepat sembuh” Aku beranjak dari dudukku dan mengambil nampan yang tadi aku bawa.

“Tunggu?” panggil Hyori ahjumma, kualihkan pandanganku.

“Apa kau tidak membenciku?”

“Apa aku punya alasan untuk membenci Nyonya? keluarga Nyonya sudah sangat baik kepadaku” aku berjalan keluar kamar Hyori ahjumma.

Senang sekali rasanya dapat berbicara dengan Hyori ahjumma. Dia bahkan bersikap baik kepadaku. Dan juga aku sangat senang karena sebentar lagi Sehun akan mempunyai orang tua yang lengkap.

Aku terus tersenyum sepanjang jalan, membayangkan hal yang tadi aku lakukan kepada Hyori ahjumma. ahjumma sebenarnya orang yang baik, hanya saja terkadang sifatnya seperti anak kecil.

Aku menghentikan langkahku, Jongin berada di hadapanku sekarang. Kami berpapasan. Tetapi tidak ada yang bicara diantara kami, dia melewatiku begitu saja. Hari ini bahkan dia tidak memarahiku, aku merindukan hal itu.

“Ada apa denganmu?” tanyaku kepada Jongin.

Jongin tidak menjawabku, dia juga tidak berhenti.

“Kau seolah-olah tidak menganggap keberadaanku” lanjutku.

Jongin menghentikan langkahnya, tetapi dia tidak beralih melihatku.

“Bukankah ini yang kau mau? Hidupmu tenang sekarang. Aku tidak akan menganggumu lagi” Ucapnya begitu dingin.

Aku merasa ada bagian di hatiku yang sakit mendengar jawabannya, bukan jawaban ini yang aku mau.

“Kau begitu dingin kepadaku. Aku tidak suka. aku lebih suka kau yang pemarah dan selalu memarahiku” Balasku. Entah kenapa aku malah mengatakan ini. seharusnya aku senang karena tidak ada Kim Jongin yang akan mengganggu hidupku lagi, tapi kenapa rasanya berbeda sekarang.

“Kalau kau tidak suka terhadap sikapku, jangan pernah berada di tempat yang sama denganku, agar aku tidak melihatmu dan sebaliknya. Dan jangan pernah tersenyum di hadapanku karena aku membencinya” Ucapannya semakin dingin dan dia berjalan meninggalkanku.

Kenapa dia berkata seperti itu. Apakah dia sangat membenciku. Sebesar itukah kebenciannya terhadapku. Sakit sekali rasanya.

 

Jongin POV

 Aku terus menghindari Monalisa hari ini. mungkin dengan begini, aku lebih mudah membencinya. Bukan hal mudah buatku bersikap seperti ini padanya, aku bahkan lebih seperti bunuh diri ketika bersikap dingin kepadanya. Dia juga selalu tersenyum di hadapanku, dan itu membuatku semakin sulit.

Aku mencoba menyelesaikan lukisanku, tetapi bayangan Monalisa yang selalu ada di pikiranku. Aku kembali fokus terhadap kanvas di hadapanku, tinggal beberapa sapuan warna lagi lukisan ini siap. Aku harus menyelesaikannya.

 

Author POV

Kediaman keluarga Lee Harabeoji sedang kedatangan tamu, dan tamunya adalah Oh Ahjussi. Siang tadi, Monalisa menelpon Oh Ahjussi dan mengabari bahwa Hyori sakit. tentu saja Oh ahjussi khawatir mendengarnya dan segera menuju Rumah Lee harabeoji.

Oh ahjussi dan Hyori berbicara didalam kamar cukup lama, tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah keluar keduanya saling bergandengan tangan dan memberi kabar bahwa mereka akan hidup bersama lagi.Hal ini membuat Sehun sangat senang.

Dari luar terdengar suara ramai oleh pembicaraan di Ruang keluarga, di sana semua orang tengah berkumpul. Ada Lee Harabeoji, BoA ahjumma, Hyori Ahjumma, Jongin, Sehun, Monalisa dan tentunya Oh ahjussi. Mereka semua hendak pergi merayakan kembalinya Oh ahjussi.

“Jongin-ah, kau tidak ikut?” Tanya BoA kepada Jongin. Jongin masih memakai baju santai sedangkan yang lainnya sudah berdandan rapi.

“Tidak eomma, aku ingin dirumah sekarang” Jawabnya.

“Tumben sekali, biasanya kau paling semangat jika berpergian” Lanjut BoA

“Aku hanya tidak ingin berada di tempat yang sama dengannya” Ujar Jongin pelan sambil berjalan pergi.

Tidak ada yang mendengar perkataan Jongin karena dia mengatakannya dengan sangat pelan, kecuali Monalisa. sedari tadi dia terus memperhatikan Jongin sehingga dia dapat mendengar apa yang Jongin katakan.

Monalisa menunduk ketika mendengarnya, dia tidak menyangka bahwa Jongin akan bersikap seperti ini padanya. Jongin seolah-olah sedang mengadakan perang dingin dengan dirinya.

“Ayo, kita pergi !” Ujar Hyori ahjumma seraya merangkul pundak Monalisa.

“Iya, nyonya” Ujar Monalisa.

“Jangan panggil aku Nyonya, karena sekarang aku ahjummamu” balas Hyori sembari tersenyum.

Hubungan mereka sekarang sangat baik, Hyori bersikap baik kepada Monalisa. Tidak ada tatapan tajam, perkataan kasar dan tentunya ‘nyonya’.

 

Jongin POV

Mereka semua pergi untuk merayakan kembalinya Oh Ahjussi ke rumah ini. Hanya aku yang ada di rumah, seluruh pelayan juga sudah pulang ke rumahnya, karena mereka hanya bekerja sampai jam 7 malam.

Rumah ini terasa begitu sepi, dan aku juga merasa sangat bosan. aku berjalan kearah kolam renang dengan membawa kanvas, cat, dan kuas. Di malam hari, pemandangan di tempat ini cukup indah karena langsung berbatasan dengan taman.

Monalisa pasti sedang bersenang-senang dengan Sehun, pikirku.

Aku mulai melukis, langit malam kubuat sebagai latarnya dan Rumput hijau yang gelap sebagai bagian latar yang lain. Aku suka melukis karena appaku. Dia yang pertama kali mengajarkanku untuk melukis. Dia selalu berkata ‘melukis itu harus dengan hati’. Cih, omong kosong. Bagaimana bisa hati melukis, yang benar melukis itu menggunakan tangan. Dia juga selalu bilang, melukis itu dengan cinta. Itu juga omong kosong buatku, aku tidak memiliki cinta sejak kepergiannya, aku tetap bisa melukis. Di suasana hati yang buruk pun aku masih bisa melukis. Tapi, ketika aku melihat senyumnya, aku merasa cinta itu kembali. Cinta yang berbeda, cinta seorang namja kepada seorang Yeoja.

Tanpa sengaja aku menumpahkan cat berwarna merah, padahal cat itu tinggal sedikit dan sekarang aku menumpahkannya. Ck ! aku berdecak kesal. Terpaksa aku harus mengambilnya lagi di kamar.

Aku berlari ke kamarku dan mengambil cat berwarna merah, kemudian aku segera kembali ke Kolam renang. Aku berlari cukup cepat dan tanpa sengaja menginjak cat merah yang tadi aku tumpahkan. Kemudian..

AAAAAAAA !!!

Byuuuurrrr..

Aku masuk ke dalam Kolam Renang.

Bagaimana ini..aku..aku tidak bisa berenang !

Aku mencoba menggoyang-goyangkan kaki dan tanganku, berusaha berenang. Tetapi percuma aku tidak bisa.

“Tolonggg !!! tolong !!! to..long.. a..ku!” aku berteriak sekuat yang aku bisa. Berharap ada yang mendengarnya. Semoga ada pelayan yang belum pulang.

Nafasku mulai sesak, beberapa mili air juga sudah masuk kedalam perutku.

Aku mulai tenggelam, tenagaku sudah habis. Seluruh badanku sudah di dalam air sekarang. Kupejamkan mataku, berdo’a kepada Tuhan. Mungkin ini akhirnya.

Monalisa, saranghaeyo..

Semuanya menjadi gelap.

 

Monalisa POV

“Hmm, Ahjumma, harabeoji, sepertinya aku tidak ikut” Ujarku kepada mereka.

“Waeyo?” Tanya BoA ahjumma heran.

“Ini kan acara keluarga kalian. Aku juga lupa bahwa aku punya tugas jadi aku harus menyelesaikannya” Kusilangkan jari tengahku dan jari telunjukku, tanda aku sedang berbohong sekarang.

“Ya sudahlah, cepat selesaikan tugasmu itu” Kata Hyori Ahjumma. Aku pamit kepada mereka dan masuk kembali kedalam Rumah.

Apa yang Jongin katakan tadi siang benar-benar dia lakukan.

Aku melamun disepanjang jalan, jalan ke kamarku bersebrangan dengan jalan ke Kolam Renang. Kualihakan pandanganku kearah Kolam, dan mataku terbelalak ketika melihat ada seseorang yang tenggelam. Aku berlari ke Kolam Renang, dan itu Jongin.

Tanpa pikir panjang aku segera menceburkan diri ke Kolam, aku berenang kearah Jongin dan membawanya ke pinggir Kolam.

 

Author POV

Monalisa membawa Jongin ke pinggir Kolam. Jongin tidak bergerak dan membuat Monalisa panik. Ia mencoba menekan-nekan dada Jongin, tetapi tidak ada respon. Jongin tetap tidak bergerak.

Monalisa merasa sangat ketakutan, dia berpikir bahwa Jongin telah mati. Tanpa disadarinya air matanya menetes dan dia mulai terisak sembari masih menekan-nekan dada Jongin dan memeriksa Denyut nadinya.

“Aku Mohon..bangunlah..hiks hiks.. tidak apa kau membenciku asalkan kau tetap hidup hiks..!” tangis Monalisa memecah. Suaranya terdengar bergetar. Dia sangat takut.

“Bangunlah ! bangun !” teriaknya lagi.dia begitu panic.

Jongin tetap tidak bergerak, tubuhnya benar-benar pucat.

“Jangan pergi sebelum aku mengatakan aku mencintaimu ! hiks..hiks..aku mohon !” Monalisa memukul-mukul pipi Jongin tetapi tidak menimbulkan respon.

“Apa aku harus melakukan itu?” tangisannya berhenti.

Monalisa mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin, dan bersiap memberikan nafas buatan pada Jongin, karena ini harapan terakhirnya.

Ia menarik nafas sejenak dan kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Jongin. tubuhnya bergidik ketika merasakan dinginnya bibir Jongin.

Tuhan, aku mohon sadarkanlah dia. aku mencintainya. Apakah kau akan mengambil orang yang aku sayangi lagi? Kau sudah mengambil appa dan eomma. jangan engkau mengambilnya lagi, karena itu akan membuatku menangis.Monalisa memejamkan matanya dan berdo’a.

“Monalisa???” Suara Sehun mengagetkannya. Dan dia menghentikan kegiatannya.

“Sehun..hiks..Jongin tenggelam. Hiks..” Ucap Monalisa yang masih terisak. Monalisa kembali memeriksa denyut jantung Jongin, dan merasakan bahwa jantung Jongin kembali berdetak.

Sebuah senyuman mengembang di bibir Monalisa, “Sehun-ah. Jantungnya berdetak !” Ujar Monalisa senang. Dia kembali memeriksa denyut nadi Jongin dan hasilnya sama.

Sehun menghampiri Monalisa dan Jongin, Sehun memperhatikan keduanya bergantian.

“Uhukk..uhukk..” Jongin sadar, air keluar dari mulutnya ketika ia batuk.

“Sehun, aku akan mengambilkan handuk untuknya. Tuhan, terima kasih. Kau mengabulkan do’a ku” Kata Monalisa senang, dan meninggalkan Sehun berdua dengan Jongin.

Sehun masih memperhatikan tingkah Monalisa yang kemudian lenyap di balik tembok. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Jongin. Jongin membuka mata.

“Uhukk.. Sehun-ah? Eohh, terima kasih kau sudah..uhukk..menyelamatkanku” Ujar Jongin bangkit dari tidurnya.

Jongin memegangi dadanya, masih terasa sesak. “Terima kasih Sehun-ah. Kau benar-benar saudara yang terbaik” Jongin bangkit dari duduknya. Kepalanya sedikit pusing.

“Kau mau kemana?” Tanya Sehun kepada Jongin.

“Aku ingin istirahat di kamar” Jongin tersenyum kepada Sehun dan berjalan dengan tertatih menuju kamarnya.

Monalisa kembali dengan membawa sebuah handuk, dia kaget melihat Jongin yang sudah tidak berada di tempat.

“Dimana dia??” Tanya Monalisa kepada Sehun.

Sehun menghampiri Monalisa, “Dia Sudah kekamarnya”

“Syukurlah kalau begitu. Aku senang dia sudah sadar” Monalisa kembali mengembangkan senyumnya.

Sehun mengambil handuk yang di bawa Monalisa dan memakaikannya di tubuh Monalisa. “Lebih baik kau yang menggunakan handuk ini. kau terlihat seperti seekor itik yang kedinginan”

“Hehe, kau benar” Monalisa mengelap rambutnya yang basah dengan handuk, dia baru merasakan bahwa udaranya benar-benar dingin.

“Kau tidak ikut yang lainnya?”

“Tidak, aku merasa paling muda. Jadi aku tidak ikut” Sehun tersenyum kepada Monalisa.

Monalisa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Masuklah kekamarmu, nanti kau sakit” Sehun Mengusap pundak Monalisa lembut.

Monalisa mengangguk dan pergi.

Sehun memandangi punggung Monalisa yang menjauh, “Dia menangis..”

 

Di kamar Jongin..

Jongin sedang mengganti pakaiannya yang basah, dia membuka bajunya dan terlihat jelas ABS yang menghiasi perutnya *author tutup mata. Jongin merasa berhutang kepada Sehun karena telah menyelamatkannya. Jika tidak ada Sehun, pasti besok akan ada pemakaman untuk dirinya.

“Jongin-ah” Sehun memasuki kamar Jongin.

“Nde? Oh iya, sekali lagi Gomawo, kau telah menolongku” kata Jongin seraya tersenyum.

“Nde.. aku ingin bertanya padamu?” Sehun duduk di ranjang tidur Jongin.

“Mwoo??”

“menurutmu, Monalisa menyukai Namja humoris atau Namja Cool?” Tanya Sehun antusias.

Jongin tampak berpikir, “Aku tidak tahu, tanyakan saja padanya” Jawab Jongin cuek.

“Dia menyukai taman atau pantai?” Tanya Sehun lagi.

“Tanyakan saja padanya, Sehun-ah” Jongin masih bersikap cuek.

“Dia menyukai Bunga atau Coklat?” Tanya Sehun lagi dan lagi.

Jongin mendengus kesal, “Tanyakan saja padanya” Jawabannya masih sama.

“Jawabanmu selalu sama” Ujar Sehun mulai kesal.

Jongin tidak membalas ucapan Sehun. Dia sedang mengatur penghangat Ruangan dikamarnya.

“Dia menyukai Oh Sehun atau Kim Jongin?” Sehun berubah Serius.

Jongin menatap Sehun, dia tidak percaya bahwa Sehun akan bertanya seperti itu..

“Tanyakan saja padanya” Jongin mengalihkan pandangannya dari Sehun. Dia tidak ingin Sehun mengetahui kegugupannya.

“Begitu yaa..” Sehun beranjak dan pandangannya tertuju pada sebuah kanvas yang terletak di pojok kamar Jongin.

“Kenapa Lukisanmu seperti ini?” Sehun melihat sebuah lukisan berwarna hitam yang kemarin Jongin selesaikan.

“itu yang ada dipikranku..” Jawab Jongin singkat.

“Kenapa hitam begini?” Tanya Sehun masih memperhatikan Lukisan itu.

“Keadaan hatiku sama seperti lukisan itu”

Seakan mengerti maksud perkataan Jongin, Sehun mengangguk. Dia kemudian keluar dari kamar Jongin. Sehun merasa dia sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan..

“Aku mengerti sekarang….”

 

TO BE CONTINUED..

Terima kasih sudah membaca FF saya ^^ maaf jika banyak typo, dan kegajean yang lain *bow.

RCL please.. ^^

16 pemikiran pada “Monalisa (Chapter 5)

  1. Maaf sebelumnya, kayaknya chapter selanjutnya agak lama, soalnya baru di kirim, maaf yah 🙂 , aku harap readers setia baca ff ini sampe end. Terima kasih 🙂

  2. rasanya g tega dgn kai yg berusaha nahan perasaannya k monalisa..apa yg sehun lakuin y nanti..aku jg sng hyori ahjumma bisa sayang sama monalisa..seruuu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s