Ha-Na (Chapter 2)

Title                 : Ha-Na (Part 2)

Author             : Lucky Cupcake

Rating             : PG-13

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Cast                 : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast    : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

page (2)

 

Ha Na POV

 

“Hmm,  sebaiknya kamu duduk dimana ya?” Guru memperhatikan semua bangku yang kosong.

“Aku duduk disamping gadis itu saja” Murid baru itu memandangku sambil tersenyum. Aku tidah bisa membaca apa yang dipikirkannya. Apa tujuannya duduk disampingku? Untuk menggangguku? Atau apa? Namun dilihat dari wajahnya, anak laki-laki yang bernama Luhan itu terlihat tulus.

Perlahan-lahan dia jalan menuju bangku kosong yang ada disebelahku. Semua orang terutama para gadis memperhatikannya tanpa henti. Wah dia tampan ya! Kenapa dia mau duduk disamping penyihir? Jangan-jangan si penyihir sudah menyihirnya! Pikiran mereka terdengar jelas. Aku hanya bisa menunduk hingga Luhan, orang baru yang duduk disampingku tiba-tiba melambaikan tangannya. “Hai, kita bertemu lagi. Aku Luhan, kam–?” sebelum dia selesai bicara, aku memberikan gulungan kertas padanya. Kim Ha Na. Dia membacanya sambil tertawa kecil. Apa yang ia tertawakan? Apa tulisanku jelek? Atau namaku aneh? Kemudian ia lemparkan sebuah gulungan kertas ke mejaku.

Kim Ha Na, nama yang bagus, salam kenal. Mari kita berteman^^. Entah kenapa rasanya ada benturan keras dijantungku. Jantungku berdetak tanpa henti. Tanganku bergetar, aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini? Apa aku sakit?

“Baiklah anak-anak, setelah pelajaran selesai tolong salah satu dari kalian bagikan buku catatan ini”

Kemudian Kim Yuna berdiri sambil mengancungkan tangannya “Biar Kim Ha Na saja pak!”  jelas setelah dia berkata seperti itu semua orang tertawa sambil berteriak kalau mereka setuju. Kecuali Luhan. Aku lihat Luhan terlihat bingung dan memandangiku dengan wajah simpati. Tentu saja dia akan seperti itu melihat seseorang yang terus diintimidasi oleh teman-temannya. Bel pun berbunyi, lantas setelah guru pergi, aku membagikan buku catatan itu. Semua orang terlihat diam hingga tiba-tiba bruukkk!! Aku tersandung oleh kaki seseorang. Kim Yuna!?. Dia sengaja membuatku tersandung. Buku catatan berantakan di lantai. Teman-teman datang mengerumuniku. “Yaah!! Hati-hati buku catatanku mahal!” Haha, rasakan! “Yaah!! Kim Ha Na!! Kalau buku catatanku rusak kamu harus ganti dengan yang baru!” Siapa suruh dekat dengan Luhanku! Perkataan serta pikiran mereka bergabung menjadi satu seperti ada bom atom yang siap meledakkan telingaku. Tanpa sadar, air mataku turun. Aku berusaha untuk kuat tetapi malah semakin deras. Kemudian tangan seseorang menggenggam lenganku dan menarikku keluar dari kelas. Luhan!? Apa yang dilakukannya?

Sampailah kami di atap sekolah. Dia melepaskan genggaman tangannya dan memandangiku. Aku hanya menunduk sesekali menghapus air mata yang terus turun.

“Kenapa kamu membawaku kesini?”

Dia dengan tegas menjawab “Aku muak dengan ulah mereka”

“Sebaiknya kita kembali atau guru akan menghukum kita” Sesaat ketika aku ingin berbalik tiba-tiba bel berbunyi tanda jam makan siang.

“Lebih baik kita ke kantin, sudah bel makan siang” Aku menggelengkan kepalaku. Aku menolak ajakannya. Di kantin merupakan neraka bagiku. Disana, hinaan dan ejekan tak henti-hentinya akan terdengar.

“Aku…. ingin diam disini sebentar, kamu duluan saja ke kantin”

“Hmm, kalau kamu tidak kesana, aku juga tidak” Mendengarnya bicara begitu aku hanya bisa menghela nafas. Aku duduk dan Luhan pun ikut duduk disampingku. Ada hening yang panjang. Aku terdiam sambil merangkul kedua kakiku dan Luhan sedang sibuk dengan rubiknya. Sambil bermain dia menghilangkan keheningan dengan memulai pembicaraan denganku.

“Waktu aku kecil aku bercita-cita ingin menjadi ahli rubik tapi ternyata sulit” Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Hmm, apa kamu punya impian?” Sejenak aku terdiam. Luhan berhasil menyelesaikan rubiknya dan terlihat menunggu jawabanku.

“Aku… ingin… menjadi penyanyi….” Setelah bicara jujur seperti itu aku langsung menutup telingaku untuk bersiap-siap mendengar tawa darinya. Tapi tidak ada tawa, aku melihatnya dia hanya tersenyum dan seperti memikirkan sesuatu.

“Impian yang bagus, aku yakin pasti itu akan terkabul dan aku akan menjadi fans pertamamu” Mendengar itu jantungku mulai berdetak lagi. Aku menepuk-nepuk dadaku agar berhenti yang ada malah semakin keras.

Bel berbunyi. Aku berdiri dan merapikan rokku yang kotor “Luhan, aku duluan”. Tiba-tiba langkahku berhenti oleh sebuah tangan yang menarikku. “Setelah ini ada kelas matematika, aku tidak suka, sekarang lebih baik temani aku jalan-jalan disekitar sini” Sekarang dia bukan lagi memegang lenganku tapi tangan. Jantungku mulai berdetak lagi. Aku tidak bisa menolak.

5 pemikiran pada “Ha-Na (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s