Ha-Na (Chapter 3)

Title                 : Ha-Na (Part 3)

Author             : Lucky Cupcake

Rating             : PG-13

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Cast                 : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast    : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

page (3)

Luhan POV

Hari ini sebagai rasa terima kasiku karena sudah menyelamatkan orang yang paling aku sayangi, aku mengajak Ha Na berkeliling di kota Seoul. Sebenernya tujuannya bukan berkeliling, aku bermaksud membantu Ha Na mencapai impiannya. Tapi sebelumnya ada satu hal yang harus dirubah. Rambut. Rambutnya panjang memberikan kesan tidak baik padanya maka dari itu aku bermaksud mengajaknya ke salon hari ini.

“Ki-kita akan kemana?”

Aku tersenyum dan berkata “Hari ini aku akan membantumu!”

“Hah? Membantu? Sudahlah Luhan, sebaiknya kita kembali ke sekolah”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku terus menariknya hingga sampailah kami di sebuah salon. Wajah Ha Na terlihat kaget, sebelum dia bertanya tujuanku mengajaknya kesini, aku menjelaskan padanya.

“Kamu bilang ingin menjadi penyanyi, tetapi menjadi seorang penyanyi penampilan sangatlah penting, jadi aku sarankan kamu memotong sedikit rambutmu”

Ha Na terlihat berpikir, terlihat dari wajahnya ia sangat kebingungan. Tetapi pada akhirnya dia mengangguk. Lantas seorang pegawai mempersilahkannya duduk. Setelah mencuci rambutnya, aku lihat tangan Ha Na bergetar.

“Ha Na, kenapa? Kalau kamu memang tidak ingin memotong rambutmu, tidak apa-apa”

“Bukan begitu, a-aku hanya takut pada gunting” Semula aku kaget, ternyata Ha Na punya fobia terhadap gunting. Aku jadi ingat sewaktu aku kecil, aku yang punya fobia terhadap ketinggian juga sering gemetar sampai suatu ketika sahabat masa kecilku, Na Eun membantuku mengurangi ketakutanku terhadap ketinggian.

Flashback

Pejamkan matamu” begitu katanya sambil memegang kedua tanganku yang tak henti-hentinya bergetar. Saat itu kami sedang menaiki bianglala bersama. Aku pejamkan mataku, perlahan-lahan ketakutan mulai hilang.

Kembali ke masa yang sekarang. Ketakutan Ha Na mulai menjadi-jadi. Wajahnya mulai mengeluarkan keringat. Aku segera menggenggam tangannya.

“Pejamkan matamu” Ha Na terlihat bingung dan kaget.

“Lakukan saja” segera setelah aku mengatakan itu, Ha Na mulai memejamkan matanya. Satu persatu rambut Ha Na mulai jatuh ke lantai. Sedikit demi sedikit aku melihat wajah Ha Na dengan jelas.

Ha Na POV

Setelah pegawai salon mengatakan bahwa rambutku telah selesai dipotong dan Luhan mulai melepaskan genggaman tangannya, aku membuka mataku perlahan-lahan. Aku melihat pantulan wajahku di cermin. Siapa itu? Apa benar itu aku?

Luhan POV

Dia benar-benar sangat cantik. Andai saja aku menyadari ini dari awal. Mataku tidak bisa berhenti memandangi Ha Na. Tanpa sadar aku melihatnya dengan mulut terbuka.

“Ekhem ekheem, sepertinya pacarmu tidak bisa berhenti melihatmu” pegawai itu tertawa kecil melihatku salah tingkah.

“Ah dia bukan—“

“Ha Na, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Sebaiknya kita harus cepat-cepat” aku memotong pembicaraannya. Tapi, kenapa aku memotong pembicaraan mereka? Aku mulai bingung dengan kelakuanku saat itu.

Matahari mulai tidak nampak di langit. Waktu yang sangat tepat untuk melaksanakan misi selanjutnya. Perjalanan kali ini terlihat sangat canggung. Entah kenapa setiap kali aku melirik Ha Na, ada pukulan kuat yang menimpa jantungku. Kenapa aku seperti ini? Selama perjalanan, semua orang memperhatikan kami, tepatnya Ha Na. Sepertinya mereka terpikat dengan Ha Na. Aku mulai tidak senang.

Tibalah kami di sebuah taman. Para musisi-musisi jalanan mulai bersiap-siap dengan peralatan musiknya. Aku menyapa salah satu dari mereka.

“Sandeul, hari ini aku tidak bisa menggantikanmu, tapi aku membawa vokalis pengganti” Aku lihat Ha Na nampak kebingungan.

“A-ah, se-sepertinya ada yang salah”

“Wah, hyung membawa vokalis yang sangat cantik, baiklah hari ini target 100 penonton akan berhasil” Sandeul mulai kegirangan dan langsung memberikan mikrofon pada Ha Na. Tangan Ha Na bergetar lagi, aku memberikan jempol padanya. Dia mulai ketakutan tetapi aku tetap menyemangatkannya. Sandeul mulai memanggil para penonton. Puluhan orang mulai berkumpul. Para musisi mulai memainkan musiknya. Aku mulai cemas kalau-kalau Ha Na tiba-tiba tidak menyanyi atau parahnya dia akan kabur. Tapi! Suara Ha Na mulai terdengar. Ia menyanyi On Rainy Day dengan suara lembutnya yang khas. Para penonton mulai bertambah dan menyaksikannya dengan rasa takjub.

“Luhan hyung, kamu membawa orang yang tepat”

“Tentu saja” aku jawab dengan rasa bangga.

“Dia pacarmu?” mendengar pertanyaan Sandeul, penyakit salah tingkahku kambuh lagi. Dia hanya tertawa melihat tingkah lakuku yang sangat aneh.

Ha Na POV

Pagi yang cerah ditambah nyanyian burung yang mengiringi langkahku menuju sekolah. Sangat sesuai dengan perasaanku yang sangat senang akibat kejadian kemarin malam. Untuk pertama kalinya, aku bernyanyi didepan banyak orang. Aku sangat berterima kasih kepada Luhan. Sesampai di sekolah, bukan hinaan atau ejekan yang ku dapat tetapi orang-orang mulai bertingkah dan berpikir berbeda hari ini. Wah cantik sekali! Si penyihir ternyata seorang peri!! Apa benar dia yang rekaman?Kalau itu benar dia yang di rekaman berarti penyihir benar-benar DAEBAK!! Aku terkaget mendengar pikiran-pikiran mereka. Rekaman apa? Apa kemarin ada stasiun TV yang merekamku? Sontak kemudian Ibu Lee memanggilku untuk bertemu dengannya di ruang guru. Aku mulai takut. Aku pikir Ibu Lee akan memarahiku karena kemarin aku dan Luhan tidak mengikuti pelajarannya.

“Nona Kim, ibu sudah melihat rekamanmu dan ibu sangat terkesan sekali, sebenarnya beberapa hari lagi akan ada kontes menyanyi untuk merekrut seorang penyanyi oleh agen bakat terkenal di Korea, apa kamu bersedia menjadi perwakilan sekolah?”

Semula aku sangat kaget. Apa benar ini bukan mimpi? Tapi rekaman apa maksudnya? Lantas aku menjawab “Tentu saja, saya siap bu! Tapi saya tidak mengerti tentang rekaman”

Ibu Lee menunjukkan sebuah rekaman yang sedang tayang di TV sekolah. Itu rekamanku yang sedang menyanyi di taman.

“Ibu, siapa yang merekam semua itu?”

Ibu Lee tersenyum dan berkata “Kamu harus berterima kasih dengan anak laki-laki yang sedang mendukungmu itu”

Aku langsung berbalik untuk melihat jendela yang ditunjukkan ibu Lee. Aku sontak kaget karena melihat seorang anak laki-laki sedang membawa sebuah papan bertuliskan Ha Na, aku akan jadi fans pertamamu! HWAITING!!^^. Laki-laki itu tidak lain adalah Luhan.

 

 

 

 

10 pemikiran pada “Ha-Na (Chapter 3)

  1. Wah wah makin seru^^ next part ceritain gimana perasaan masing-masing dong thor, tapi lebih detail gitu . Biar readers bisa ngertiin perasaan keduanya. Part ini rada kecepetan alurnya, jadi kurang greget, padahal disini banyak banget moment ha na sama luhannya. Semangaaat!!! ^^

  2. Author, ini keren banget loh, tapi agak kurang panjang, kalau dipanjangin lagi pasti keren, btw, next chap nya udh ada blm? Kalau blm jangan lama” ya thor 😀

  3. kkkk~ iya ya luhan ternyata org deketnya hana dulu kkkk~ cie cie hana jadi penyanyi dadakan ayo aku traktir han(?) hohihi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s