Despondency

DESPONDENCY

Judul                : Despondency

Author             : Nia Damaiyantri Pardede

Genre               : Romance, Sad, Angst.

Length             : Finclet

Main Cast        : Kim Jong In, Im Yoona Ah, Wu Yi Fan (Kris)

Hatiku terluka. Kata itu seakan menusuk terlalu dalam hingga lubuk hatiku. Nyeri. Aku merasakan sakit yang begitu menyakitkan. Pahit. Aku seakan tidak mampu menjelaskannya dalam rentetan kata-kata. Kenapa makian yang harus keluar dari mulut mungilnya? Mengapa kali ini serasa begitu pahit? Sungguh, hati ini tidak mampu untuk tidak menangis. Kucoba terus menahannya. Air mata ini seakan tidak bersahabat, dan lebih memilih hatiku daripada otakku.

Pipiku dibanjiri dengan aliran sungai yang mengalir dengan deras. Aku sudah tidak sanggup. Aku ingin menyrerah. Tapi, hatiku seakan menahanku untuk tetap bertahan, untuk tetap menikmati sakit yang terus saja digoreskan, menimbulkan luka sayatan yang sudah lama sembuh kembali mencuat. Hatiku seakan memiliki banyak lobang-lobang yang kian melebar.

Bolehkah aku bahagia sekali saja? Menikmati hangatnya cinta. Menikmati lembutnya belaian tangan kekasih dipipiku. Menikmati tulusnya pelukan yang diberikannya padaku. Sungguh, aku sangat menginginkan itu. Tapi apa dayaku, aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku hanya dapat diam dan menangis. Memohon agar dia berbalik dan menatapku. Mengharapkan kata maaf, yang sampai kapan pun tidak pernah diucapkannya.

Apakah cinta sesulit ini? Apakah cinta semenyakitkan ini? Tidak. Cinta tidak sesakit ini. Tapi, mengapa hanya aku saja yang merasakannya? Apakah  aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta? Dunia seakan tidak  memandangku. Dunia membagi kebahagiaan dengan tidak adil. Siapa yang harus kusalahkan? Diriku? Apa Tuhan? Aku merasa sangat rapuh. Seperti seluruh tulang ditubuhku, telah lenyap dan hilang meninggalkan tubuh.

Aku kembali menangis, memeluk kedua lututku. Terisak. Akankah akan begini terus? Aku ingin berakhir. Secepatnya. Tidak ingin ada air mata yang kembali tumpah untuk kesekian kalinya. Kumohon, berhentilah. Cukup sampai disini. Hati ini sudah tidak mampu. Ini begitu berat. Sudah terlalu banyak beban yang kupikul, kusembunyikan dari dunia, melalui senyumku. Menyembunyikan luka kepahitan.

Tawa.  Tidak pernah aku merasakannya. Senang. Kesenangan yang kurasakan hanya sesaat, dan akan digantikan kembali oleh rasa sakit.

Kejadian tempo hari kembali terngiang di memori otakku. Kata itu dengan mudahnya dilontarkannya. Segitu tidak berartinyakah diriku ini? Dengan mudahnya menganggap semua ini selesai? Kisah yang telah kita rajut selama setahun ini? Sekarang aku mengerti. Hanya aku yang mengharapkan hubungan ini. hanya aku yang menginginkan semua ini. hubungan ini hanya sandiwara belaka baginya. Sayatan itu kembali terlukis dengan indahnya.

Every night in my dreams
I see you, I feel you
That is how I know you, go on

Far across the distance
And spaces between us
You have come to show you, go on

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you’re here in my heart
And my heart will go on and on

            Kenangan indah yang telah tertoreh dengan indah kembali terngiang. Kembali air mataku jatuh, tak tertahankan. Senyuman hangatnya, yang sekarang kuketahui hanyalah sandirwara. Tatapan mata tajam namun tegasnya, terasa seperti menghujamku, meremehkan.

Dia, Kim Jong In, sekan idola bagiku. Idola yang begitu sempurna, bagaikan permata yang tampak bersinar. Permata yang terlihat tanpa cacat sedikit pun. Permata yangkujaga terus-menerus, takut jika permata itu akan hancur ataupun rusak. Aku seperti terbius akan kesempurnaannya. Tanpa melihat kecacatannya.

Love can touch us one time
And last for a lifetime
And never let go till we’re gone

Love was when I loved you
One true time I hold you
In my life we’ll always go on

Cintaku, seakan pupus begitu saja. Hancur akibat kepedihan. Dan hangus akibat kesakitan. Cinta ini, seakan tidak ada harganya. Seakan terlalu murah untuk dihargai.

Aku mempererat pelukan lututku. Mencegah dinginnya hawa diruangan ini. hawa yang mencekam dan menyakitkan. Seakan hawa ini mengaerti isi hatiku, berlomba untuk menghina ketersiksaan hatiku. Berlomba untuk membunuh dengan lambat laun. Dan, berlomba mengingatkanku akan memori yang semakin menari-nari di kepalaku.

Aku merasakan tubuhku digoyang-goyang oleh sebuah tangan.  Aku mengangkat kepalaku, dan memamerkan bercak-bercak air mata yang telah kering. Sosok seorang lelaki bermata tajam menghujam ke manik mata, ketika mataku bertemu dengan matanya.

“Kau.. menangis lagi” katanya lirih, terdengar seperti bisikan, yang tentu saja, masih dapat kudengar.

Dengan secepat mungkin aku menghapus sisa-sisa air mataku, menuju kamar manid, mencuci mukaku. Setelah yakin mukaku tampak lebih baik, aku keluar mengahmpirinya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya tampak gelisah, tidak tenang. Pertanda kedatangannya membawa kabar buruk.

“Aku membawa surat.. darinya”

Seakan membaca pikiranku, lelaki itu—Kris—menjawab pertanyaanku yang tercipta dipikiranku. Dengan gugup aku menerima surat yang sudah diletakkan Kris di atas meja di depannya. Dengan hati-hati aku membukanya, takut jika surat itu akan sobek. Seketika wangi kamboja tercium oleh indera penciumanku.

Dear Yoona..

            Anyeonghasseo,

            Kuharap kau tidak akan menangis menerima suratku ini. Mungkin, ini akan surat terakhir sekaligus kenangan dariku. Maafkan aku, aku akan meninggalkanmu. Bukan keinginanku, namun takdir.

            Maafkan kelakuanku selama masa pacaran kita. Sungguh, aku melakukannya untuk menyembunyikan penyakitku, membuatmu membenciku dan meninggalkanku. Tapi tetap saja, cintamu terlalu tulus untukku. Tapi percayalah, aku sungguh mencintaimu. Aku hanya menginginkanmu bahagia. Walaupun tidak bersamaku.

            Dan maafkan aku, aku tidak menepati janjiku untuk menikahimu. Aku tahu jika kau menganggapnya hanya bercanda, tapi aku serius. Jika Tuhan tidak memanggilku secepat ini, aku akan menemui orang tuamu dan melamarmu. Tapi sayang, Tuhan berkata lain.

            Satu lagi, maaf jika aku tidak memberitahumu mengenai penyakit kronisku ini. aku mengidap leukimia. Penyakit yang sama diderita oleh Kim Nana Noona, noonaku yang telah meninggal  7 tahun yang lalu.

            Kurasa ini cukup untuk menyampaikan permintaan maafku. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku menitipkanmu pada Kris. Lihatlah dia, dia menyukaimu jauh sebelum aku mengenalmu, Yoona.

            Sampai jumpa..

            Kim Jong In    

 

Hatiku kembali merasa sesak. Pesediaan air mataku telah terisi kembali entah darimana. Seakan mempunyai persediaan yang lebih banyak, air mataku mengalir lebih deras dari seblumnya.

Sakit. itu yang kurasakan. Mengetahui orang yang kucintai telah pergi. Pergi kea lam yang berbeda. Jauh dan tidak dapat kujangkau. Menyakitkan. Lebih menyakitkan dari sakit hati yang kurasakan sebelumnya.

Kris memelukku dengan erat. Ingin menyalurkan kehangatan dan kenyamanan tubuhnya padaku. Meredam tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Bolehkah aku meangisinya untuk terakhir kalinya? Tanpa pertanyaan itu terjawab, air mataku sudah tumpah semakin banyak. Kurasakan kaus hitam yang dikenakan Kris, basah akibat ulah tangisanku.

Kurasakan belain lembut tangan Kris di pucuk kepalaku. Begitu lembut dan menenagkan. Bukannya berhenti menangis oleh belain itu, tangisanku malah semakin menjadi-jadi. Belaian itu, sama persis dengan belain Jong In. Oh, tidak.  Aku kembali mengingat lelaki berkulit gelap itu.

 

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you’re here in my heart
And my heart will go on and on

You’re here, there’s nothing I fear
And I know that my heart will go on
We’ll stay forever this way
You are safe in my heart
And my heart will go on and on

 

Membayangkan hari-hari tanpa lelaki itu, terasa menyakitkan. Sepi. Hatiku terasa hampa. Tidak akan ada lagi seseorang yang mengisi hari-hariku dengan perilaku dinginnya. Sungguh, aku akan sangat merindukannya.

“Berhentilah. Kumohon. Tidak bisakah kau melihatku disini? Yang selalu menyediakan tempat untukmu?”

Aku melepas pelukanku dan menghapus air mataku yang tersisa. Dengan tatapan penuh kebingungan, aku menatapnya.

“Aku mencintaimu” gumam Kris.

Aku tercekat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Kris. Dia mencintaiku? Jadi, Jong In benar. Kris mencintaiku selama kami bersahabat dari kecil. Kenapa aku tidak menyadarinya? Aku terlalu buta dengan cintaku kepada seorang Kim Jong In, hingga tidak melihat sosok Kris yang selalu berada dibalik punggungku. Aku bodoh. Sangat bodoh. Tidak pernah melihatnya. Malah mengabaikan dan mengacuhkannya.

“Kris..”

“Tidak apa, Yoona. Kau tidak perlu membalas perasaanku.”

“Kris.. Bolehkah aku belajar mencintaimu?”

Seketika wajah Kris berubah menjadi terkejut. Ya, lebih baik begini. Aku akan mencoba belajar mencintaimu, Kris. Mencoba melupakan Jong In dan masa laluku. Membuka lembaran baru bersamamu. Bersama senyumanmu.

Kris memelukku erat. Mencium pucuk kepalaku. Aku tersenyum. Pelukan ini,  sama hangatnya dengan pelukan Jong In.

Seketika, aku melihat bayangan putih dibalik pintu kaca yang memisahkan ruang tamu ini dengan balkon apartemenku. Aku melihat sileut Jong In. Samar-samar kulihat dia tersenyum. Tersenyum kepadaku. Seakan merasa puas dengan kejadian ini. Jong In melambaikan tangannya kepadaku, yang kubalas dengan senyuman perpisahan.

 

Selamat tinggal, Jong In. Selamat tinggal…

10 pemikiran pada “Despondency

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s