Exotics and Their Stories (Chapter 5)

Title: Exotics and Their Stories (PART 5)

Author: baekhug12 / @sarahmnabila

Genre: Fantasy, Romance, Family

Cast:

  • EXO-M’s Luhan
  • EXO-K’s Kai
  • EXO-K’s Baekhyun
  • f(x)’s Krystal
  • EXO-M’s Lay
  • EXO-K’s Sehun
  • Super Junior’s Siwon
  • f(x)’s Sulli
  • EXO-M’s Tao
  • Choi Seolhwa (OC)
  • EXO-M’s Kris

Rating: PG

Length: Chaptered

POSTER 6

_____________________________________________________________________________________

Sehun menyeka embun yang menempel di jendela rumah Luhan (dan Kai), kemudian mengintip ke dalamnya. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sana, Sehun melipat kedua tangannya di depan dada dan menghela napas.

Dengan satu kali dorongan, muncul sebuah pusaran angin mungil yang berkekuatan dahsyat mendobrak pintu rumah itu hingga lepas dari engselnya. Sehun sedikit terperanjat dengan ulahnya itu, namun sedetik kemudian ia tersenyum puas dan melenggang masuk.

Kalí̱ douleiá (kerja yang bagus), Sehun.” gumamnya.

Sehun memandang sekelilingnya. Masih sama seperti terakhir ia menginjakkan kakinya di sana, terutama suasana hangat dan nyaman yang menyelimuti rumah itu. Hanya Luhan yang tahu mengapa.

Samar-samar, ia mendengar suara dari kejauhan. “Ya, Hyung! Lihat pintu rumahku! Apa ada pencuri?! Lalu kemana Luhan Hyung dan Seolhwa Sunbae?”

Sehun mendengus. Lagi-lagi bahasa yang begitu asing di telinganya. Ia memilih tak peduli dan mendaratkan bokongnya di atas sofa.

Selang beberapa detik kemudian, seorang namja berkulit gelap dan seorang namja imut bergegas memasuki rumah. Sehun seketika menegakkan badannya ketika melihat dua makhluk berwajah familiar itu.

Sang namja imut membulatkan mata ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, kemudian menatap namja berkulit gelap dan menarik lengannya, hendak membawanya pergi. Namun aksi mendadak itu berhenti ketika perlahan bibir Sehun bergumam, nyaris berbisik.

“……Kai.”

Dangsin-eun nuguyo?!”

***

Gomawoyo. Maaf bila merepotkanmu, Luhan-ssi.” Seolhwa tersenyum seraya membuka pintu mobil. Luhan balas tersenyum, “Cheonmaneyo (terima kasih kembali). Sama sekali tidak.”

Seolhwa kemudian mengangguk canggung dan hendak keluar dari mobil, namun ia dapat merasakan jantungnya berhenti berdetak ketika tiba-tiba saja Luhan menahan tangannya.

Nne?”

“Apa aku boleh mampir, Seolhwa-ssi?”

Ketika melihat ekspresi heran tersirat di wajah yeoja itu, Luhan segera menambahkan, “Maksudku… Appa-mu ada di dalam, ‘kan? Aku… ingin berbicara dengannya.”

Seolhwa mengangguk ragu. “Tentu saja boleh. Tapi Appa pasti tidak suka jika ia tahu aku diantar oleh seorang namja.”

“Tenang, aku akan menjelaskannya.”

Seolhwa kembali mengangguk dan keluar dari mobil diikuti oleh Luhan, menyambut seorang namja paruh baya yang berdiri di depan pintu dengan pandangan murka tertuju pada putrinya.

“Choi Seolhwa… kau tahu sudah pukul berapa ini?! Mengapa ponselmu tidak aktif?! Apa kau tidak tahu bahwa aku sangat mengkhawatirkanmu?! Kau adalah gadis kecil-ku satu-satunya! Lalu siapa ini? Kau diantar pulang oleh seorang namja?!”

Seolhwa memutar kedua bola matanya, ia sudah terbiasa dengan sifat Appa yang over-protektif terhadapnya. Ia hanya memilih diam dan melenggang masuk meninggalkan Luhan. Lagipula namja itu ingin berbicara dengan Appa. Itu berarti sudah bukan urusannya lagi, ‘kan?

“Anak itu…” Siwon (appa._.) mengacak rambutnya frustasi, kemudian pandangannya mendarat pada sosok Luhan yang terdiam di sana. Dengan segera Luhan membungkuk.

Joesonghamnida.”

Siwon menatapnya penuh tanya. “Siapa kau? Baekhyun?”

Animnida (bukan–bentuk formal), Luhan imnida. Aku datang ke sini tidak hanya untuk mengantarkan putrimu pulang, tetapi… mengenai Kim Taeyeon.”

Siwon menarik napas dalam-dalam. Selama hampir enam belas tahun, tidak ada yang berani menyebut nama itu di depannya. Ia tak pernah mempedulikan bisik-bisik tetangga yang menemukan kecurigaan besar di balik berita kematian yang telah ia rekayasa sedemikian rupa. Siapa yang akan percaya jika ia berkata bahwa yeoja itu menghilang, tanpa jejak sedikit pun? Sampai saat ini… ia sendiri masih belum bisa mempercayainya.

Ketika melihat binar mata Luhan, ia memutuskan sesuatu.

“Masuklah.”

***

“Jadi… apa yang kau ketahui tentang dia?”

Luhan menyesap kopi yang telah disuguhkan untuknya, kemudian berdeham gugup.

“Anda tentu sudah tahu legenda EXOPLANET, bukan?”

Siwon terdiam sesaat sebelum akhirnya menelan ludah, “Ya. Tentu saja.”

“Aku adalah bagian dari legenda itu. Luhan, Telekinesis.”

Siwon memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi aneh yang tak akan pernah terulang lagi. Berharap bahwa yeoja bernama Kim Taeyeon itu memang benar manusia dan ia lebih memilih kehilangannya karena kematian itu.

Ia tak pernah percaya pada legenda. Ia selalu menekankan kalimat itu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Namun… yeoja itu berhasil membuka cakrawalanya tentang dunia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya, atau lebih tepatnya–dunia yang tak pernah ia anggap nyata.

Vasílissa Alexis… ia meminta kami untuk membawa putrinya–putri kalian ke planet EXO.”

Siwon seketika sadar dari lamunannya.

Apa ini? Setelah pergi begitu saja, sekarang ia akan membawa Seolhwa bersamanya?

Vasílissa Alexis sudah memerintah selama 100 tahun lamanya… sudah saatnya keturunannya menggantikan posisinya.”

Siwon tersenyum sinis, “Ia mencoba mempermainkanku, hah? Mengapa tidak ia bawa saja anak itu bersamanya sejak awal? Tidak setelah… aku…”

Siwon merasakan hatinya tertohok. Ia kemudian menunduk, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya seiring dengan beribu perasaan berkecamuk di dadanya. Sementara Luhan terdiam. Ia tahu apa yang akan Siwon ucapkan padanya.

Dan ia mengerti.

Tidak setelah aku begitu mencintai putrinya… putriku.

“Tidak ada satu pun manusia yang diperbolehkan menginjakkan kakinya di tanah EXO. Tetapi… satu-satunya keturunan yang Vasílissa miliki adalah Seolhwa. Kami tidak memiliki pilihan selain menghapus aturan itu. Lagipula… dalam tubuh Seolhwa mengalir darah ibunya juga. Itu berarti… secara tidak langsung ia termasuk bagian dari kami, exotic.”

Luhan menghindari kontak mata dengan Siwon, berusaha mengusir rasa iba-nya pada namja paruh baya itu. Cepat atau lambat, garis keturunan itu harus terus berlanjut. Bagaimana pun caranya, mereka harus membawa Seolhwa ke sana. Dan baik Siwon maupun Seolhwa harus siap menerima kenyataan itu.

Luhan kembali terdiam ketika benaknya menyuarakan kalimat tersebut. Ia lantas berpikir…

Bagaimana dengannya?

Sejak ia bertemu dengan Sehun, ia tahu takdirnya yang sebenarnya adalah menjadi penjaga Pohon Kehidupan. Dan sejak saat itu, ia bertingkah seolah telah mengingat semua masa lalunya. Bahkan kalau boleh egois(?), Luhan mempunyai andil yang lebih besar dibandingkan Sehun dalam tugas yang sejak awal diperuntukkan untuk Sehun seorang. Ia pun selalu mengingatkan Baekhyun dan Chanyeol agar mereka tidak perlu takut. Dan pada akhirnya, mereka harus menyerah dan melepas segala urusan di Bumi. Mereka harus siap menerima kenyataan.

Lalu bagaimana dengan Luhan?

Jauh di dalam lubuk hatinya… apakah ia siap menerima kenyataan ini?

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Siwon menepuk pundak Luhan yang sontak membuyarkan lamunannya.

“Eh… aku… izinkan aku membawa Seolhwa ke rumahku. Setidaknya ia dapat belajar lebih mudah di sana. Gerhana bulan sebentar lagi akan datang, tapi kami tidak tahu kapan. Jadi akan lebih baik jika ia bersama kami.”

Siwon kembali menunduk. Ia tahu sekeras apa pun ia menolak, anak di depannya tidak akan mungkin menyerah begitu saja. Ia akhirnya mengangguk dengan berat, berusaha terlihat kuat di mata Luhan yang tanpa ia ketahui telah membaca isi hatinya sejak awal.

“…baiklah. Tapi… bolehkah aku meminta waktu untuk mengucapkan perpisahan? Setidaknya sa-” Siwon menggantungkan kalimatnya di udara ketika dilihatnya ekspresi Luhan yang berubah panik.

“Ada apa, Luhan-gun?”

Luhan tidak menjawab. Ia dengan segera beranjak dari duduknya dan membungkuk ke arah Siwon seraya berkata dengan cepat, “Tentu saja. Aku akan membawa Seolhwa ketika anda sudah siap. Dan saat ini… aku ada urusan mendadak. Maaf sudah merepotkanmu. Annyeonghi gyesipsiyo.” kemudian ia melesat keluar dari sana. Memang terkesan tidak sopan, tapi ini jauh lebih penting.

‘Krys, kau masih di sana?’

‘Cepat, Han… kalau tidak… aku… akan mati…’

‘Jangan bicara seperti itu! Sekarang kau ada di mana?’

‘Pakai… kekuatanmu… babo!’

Luhan kembali menggerutu. Dalam keadaan kritis sekali pun, yeoja ini tetap saja menyebalkan. Walaupun begitu, Luhan sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari menerobos jalanan yang sepi, tanpa sedikitpun berpikiran tentang mobilnya yang masih terparkir manis di depan rumah Seolhwa.

Siwon’s Side

Siwon termenung memandang cangkir kopi milik Luhan yang masih setengah penuh. Rasa gundah merasuk di dadanya, membuat pandangannya beralih pada sebuah pintu dengan aneka bentuk origami warna-warni yang ditempel asal-asalan. Siwon menghela napas lalu tersenyum hampa, membawa kedua kakinya melangkah menuju pintu tersebut dan membukanya perlahan.

“Kau sudah tidur, Seolhwa-ya?” bisiknya ketika mendapati kamar anak gadisnya itu gelap. Ia kembali melangkah perlahan mendekati bibir ranjang, kemudian mengusap lembut puncak kepala Seolhwa yang menyembul di balik selimut tebalnya.

Apakah keputusannya benar? Apakah ia sudah siap merelakan Seolhwa? Apa ia sudah siap…

Hidup tanpa melihat senyum ceria milik yeoja itu ketika ia membawanya ke perpustakaan, atau tarian kecilnya ketika bangun di pagi hari, atau celotehan yeoja itu mengenai penerapan rumus kalkulus.

Ia pasti akan sangat merindukannya. Gadis kecilnya yang mulai beranjak dewasa. Ia bahkan masih ingat kapan gadis itu mengalami menstruasi pertamanya, dan hari dimana gadis itu tertangkap basah menggunakan uang sakunya untuk membeli serangkaian lip tint di Myeong-dong.

Tidak. Merelakanmu… Appa tidak mempersalahkan itu. Karena suatu saat kau juga akan menikah dan tinggal bersama pasangan hidupmu. Appa hanya takut… tidak dapat bertemu denganmu lagi.

Siwon berangsur mendekat dan mengecup dahi Seolhwa. Ia kembali tersenyum, kemudian beranjak keluar sambil berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berair.

Tanpa Siwon sadari, setetes kristal bening meleleh dari pelupuk mata Seolhwa.

***

Dangsin-eun nuguyo?!”

Sehun tidak menjawab. Diam-diam ia mengutuk dirinya sendiri yang sama sekali tidak menyiapkan diri untuk berkomunikasi. Tapi setidaknya ia tahu ia salah besar sudah datang kemari ketika Baekhyun memandangnya dengan horor, seolah ingin menerkamnya bulat-bulat.

“Jongin-ah, ia sahabat Luhan yang datang dari… Amerika! Ya, Amerika. Err… ia baru datang hari ini. Namanya… Oh, Sehun. Oh Sehun! Ia sebenarnya orang Korea, tetapi ia menetap di Amerika dan sama sekali tidak mengerti bahasa Korea.”

Kai memandang Baekhyun penuh curiga. “Lalu mengapa ia mendobrak pintu rumah?!”

“Mungkin… ia tidak ingin menunggu Luhan terlalu lama di luar. Lagipula cuaca semakin dingin akhir-akhir ini. Dan-”

“Apa ia tidak tahu tata krama? Orang bisa saja mengira ia pencuri!” Kai memotong kalimat Baekhyun dan tetap menatapnya penuh curiga.

“Aku sudah bilang ia menetap di Amerika! Mungkin saja orang-orang Amerika seperti-” Baekhyun berusaha mengelak, namun Kai kembali memotong kalimatnya.

Hyung… aku. Tidak. Sebodoh. Yang. Kau. Kira.”

Baekhyun bungkam seketika.

Sehun menghela napas. Sedikit demi sedikit ia mengerti ke mana arah pembicaraan mereka, terutama karena suasana tegang yang mulai menyelimuti ruangan itu.

Adelfós, sudahlah. Tidak ada gunanya menutupi hal ini. Kai sudah melihatku. Mungkin… saat ini adalah yang terbaik untuk menceritakan semuanya.”

Kalimat yang keluar begitu saja dari Sehun membuat Kai melontarkan tatapan menyelidik, sementara Baekhyun hanya bisa memukul kepalanya yang tidak bekerja saat itu.

“Aha… bwabwa (lihat), Hyung! Aku sangat yakin bahasa Inggris tidak terdengar seperti itu! Jujur saja padaku, siapa dia sebenarnya? Atau jangan-jangan… ia memang pencuri dan kau bersekongkol dengannya?! Kau membawaku pergi, sedangkan… ah, Seolhwa Sunbae! Ia yang membawa Luhan Hyung pergi, benar begitu?!”

Belum sempat Baekhyun menyuarakan protes terhadap tuduhan Kai, terdengar kerusuhan kecil di luar yang menarik perhatian mereka.

Oppa… aku tidak kuat lagi berjalan…”

“Kalau begitu berhentilah. Tempat tujuan kita sudah ada di depan mata.”

“Ehm, jeogiyo (hei–bentuk formal)… sebenarnya ada maksud apa kalian membawaku ke sini? Aku punya urusan lain di Korea, tidak hanya melayani keinginan kalian saja.”

Kai tercengang ketika sumber kerusuhan kecil tersebut menginjakkan kaki mereka di depan rumahnya dan Luhan. Kai kembali memandang Baekhyun, kali ini dengan tatapan murka.

Hyung… kau telah merencanakan ini semua?!” serunya.

Baekhyun mendengarnya dengan jelas, hanya saja tenggorokannya tercekat, bahkan untuk sekadar berkata ‘tidak’ atas segala tuduhan yang Kai lontarkan padanya.

Kai mengacak-acak rambutnya kesal. Pertanyaannya tertiup angin musim dingin dan hanya lewat begitu saja di telinga Baekhyun–begitulah pemikirannya.

Sehun yang tak kalah tercengang menatap Baekhyun penuh harap, semoga saja namja itu mengerti maksudnya dan mengurusi Kai sementara ia mendatangi tiga orang yang berdiri di ambang pintu.

Baekhyun menerima kode dari Sehun dan mengangguk ragu, kemudian menarik lengan Kai dan membawanya ke kamar.

Kai melipat kedua tangannya di depan dada, meminta penjelasan atas semua yang ia lihat. Baekhyun menghela napas, ia sendiri juga ikut tercengang ketika wajah-wajah familiar itu tiba-tiba saja muncul. Sepertinya akan terjadi sesuatu malam ini, batinnya.

“Ka–Jongin-ah, aku bukan pencuri. Sehun bukan pencuri. Dan tiga orang itu juga bukan pencuri. Aku mengenali mereka, dan Luhan Hyung mengenali mereka.”

Kedua alis Kai bertautan, “Hal apa lagi yang Lulu Hyung sembunyikan dariku?”

“…Suatu rahasia yang kelam.”

Mwo?”

“Kita akan menunggunya pulang dan menjelaskan semuanya. Sekarang kau tenanglah di sini. Aku akan bicara pada mereka.”

Tidak seperti yang Baekhyun bayangkan, Kai mengangguk acuh tak acuh. Walaupun anak itu keras kepala, Baekhyun tahu ia percaya padanya… dan Luhan.

Sehun’s Side

Sehun terdiam kehilangan kata-kata.

Apa ini yang dikatakan Krystal? (baca Part 2) Seseorang yang telah mengingat masa lalunya dengan usahanya sendiri.

Sulli terdiam, mencengkram jaket Lay kuat dan membiarkannya melangkah terlebih dahulu. Sementara Tao mengikuti mereka dari belakang seraya menghembuskan napas panjang.

Oppa, kau yakin kita diperbolehkan masuk? Orang ini kelihatannya tidak menyukai kita… ah, apa itu Sehun yang kau bicarakan? Omo, sepertinya aku paling normal dari semua orang yang kau kenal.” bisik Sulli. Lay mengangguk mantap, “Ekspresi wajahnya memang seperti itu.”

Sehun menelan ludah untuk kesekian kalinya. Tanpa Krystal, ia merasa seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa. Mau tak mau, Sehun mendekati Lay yang ikut melangkah mendekatinya. Tanpa aba-aba, Lay kemudian menariknya ke dalam pelukan.

I found you, Sehun.”

Sehun tertegun. Di samping karena ia tidak mengerti apa yang dikatakan Lay, matanya justru teralihkan oleh seorang gadis yang masih enggan melepas genggamannya dari jaket Lay. Gadis itu menatap Sehun tajam, membuatnya bergidik. Belum lagi dengan posisi seperti ini, jarak wajahnya cukup dekat dengan wajah gadis itu.

A…adelfós Lay…”

Sulli mengangkat alis, “Lay siapa? Namanya Yixing! Lihatlah, Oppa, ia tidak mengenalmu!”

Ya, Sulli-ya, lepaskan jaketku!”

***

Seoul Station, three hours ago

“Kau kenal dia, Oppa…? Tapi sepertinya ia tidak mengenalmu.” bisik Sulli heran seraya memandang namja bernama Tao itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Lay tidak merespon Sulli. Ia hanya memandang Tao dengan takjub.

“Tao… kau ingat aku? Aku Lay! Bagaimana kau bisa ada di Korea? Apa kau yang membuat perjalanan di kereta menjadi singkat? Dan apa kau sedang mencari Sehun juga? Kalau begitu ayo kita cari bersama!” seru Lay bertubi-tubi menggunakan bahasa China. Dan seperti apa kata Sulli, Tao tampak kebingungan. Memang, wajah namja di hadapannya itu terkesan familiar… tapi ia tidak ingat pernah melihatnya di mana.

“Ehm… maaf. Aku tidak mengenalmu. Aku juga tidak kenal Sehun, dan… aku datang kemari karena urusan pribadi. Dan, yah… perjalanan di kereta tadi memang terasa singkat. Mungkin karena aku buru-buru. Err, selamat tinggal! Senang bertemu denganmu.” sebelum Tao mengambil ancang-ancang untuk kabur, Lay segera menarik kaus namja itu.

“Ada apa, sih?!” serunya gusar. Sudah yang kedua kalinya ia diperlakukan seperti itu. Sulli kembali berbisik di telinga Lay, “Lebih baik jangan buat masalah dengannya, Oppa.”

Tanpa menghiraukan nasihat(?) Sulli, Lay menepuk pundak Tao dengan semangat. “Ayolah, ikut denganku! Aku sangat berharap kau bisa mengingatku, kenangan kita bersama penjaga-penjaga lain… berdua belas. Sehun bisa membantumu.”

Ketika mendengar kata “dua belas” keluar dari mulut Lay, Tao dapat merasakan sesuatu yang ganjal di hatinya. Sesuatu yang membuatnya sedikit berubah pikiran terhadap Lay, sehingga akhirnya ia tidak menolak ketika namja itu menariknya pergi.

***

“Apa yang kau lakukan di tempat sempit seperti itu?! Kau tahu seberapa paniknya aku ketika melihatmu terbaring di tanah dengan wajah layaknya mayat hidup?”

Luhan menutup hidungnya mencium bau obat-obatan yang mendominasi ruangan, sementara  Krystal hanya memejamkan mata tanpa sedikit pun mengindahkan omelan kecil Luhan. Walaupun begitu, ia tahu ia berhutang budi pada namja itu. Ia mungkin benar-benar akan mati jika Luhan terlambat membawanya ke rumah sakit.

Krystal mengambil napas sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba tubuhnya diselimuti rasa cemas, seolah mengharapkan sesuatu atau seseorang yang tak kunjung datang. Dan yang membuatnya heran adalah…

Ia tidak tahu itu.

“Aku… hanya berusaha menghindar dari realita.”

Luhan mengangkat alisnya bingung, “Apa maksudmu?”

“Aku berusaha memasuki pikiran Kai, dan sepertinya kekuatanku melemah.”

Luhan berdecak, entah kagum atau heran. “Mengapa kau melakukannya? Kau tahu, ‘kan, anak itu keras kepala? Tubuhnya pasti menolak. Dan kau juga keras kepala, tetap memaksakan dirimu.”

Krystal melemparkan pandangan tak suka ke arah namja di hadapannya itu. “Tapi mengapa kau bisa, Han? Kau bisa melacak di mana keberadaannya, kau bisa membaca pikirannya… mengapa aku tidak bisa?”

“Mungkin karena ia percaya padaku?”

“Cih. Ia percaya padaku, sebelum akhirnya Kris menghasut pikirannya untuk ikut dalam ritual itu.”

Luhan menghela napas. “Kau tidak bisa selamanya menyalahkan kakakmu, Krys. Bagaimana pun juga, Kai lah yang mengubah pikirannya sendiri. Kau juga tahu, ‘kan, anak itu tidak suka dipengaruhi oleh orang lain?”

Krystal terdiam. Bukan karena kalimat yang dilontarkan Luhan, namun lebih kepada perasaan cemas di dadanya yang semakin membuncah. Krystal beranjak duduk dari posisi berbaringnya, memandang ke sekeliling rumah sakit yang cukup ramai oleh orang berlalu-lalang.

Hoksi… apakah ada pasien yeoja yang baru masuk? Eum… ia berambut hitam legam dan bermata biru.”

Hatinya mencelos ketika mendengar suara itu. Suara yang berasal dari seorang namja yang sedang menghadap ke arah resepsionis, memunggunginya.

Suaranya… bahkan punggungnya terlihat familiar…

Tanpa sadar, Krystal melepaskan jarum infus dengan paksa dari lengan kirinya. Ia berjalan cepat ke arah meja resepsionis. Luhan yang terkejut dengan segera menahan lengan Krystal, namun ditepisnya kasar.

Someone’s Side

Entah apa yang merasuki pikirannya ketika ia menginjakkan kaki di bandara Incheon. Hanya karena bunga tidur yang sering dialaminya, ia memilih beristirahat sejenak dan berlibur di Seoul. Mengira bahwa ia akan melupakan gadis bermata biru yang selalu menghantuinya itu… yang pada akhirnya terlihat semakin nyata.

Dan entah apa pula yang merasuki pikirannya ketika ia menginjakkan kaki di rumah sakit itu. Hanya karena ia kembali melihat gadis bermata biru itu berada dalam rumah sakit yang sama persis dengan yang ia datangi saat ini.

Ia tahu ia nekat, tapi apa salahnya mencoba? Rasa penasarannya jauh lebih besar dari apa pun.

Hoksi… apakah ada pasien yeoja yang baru masuk? Em… ia berambut hitam legam dan bermata biru.” Tanyanya kepada resepsionis rumah sakit dengan bahasa seadanya. Sang resepsionis hanya menatapnya aneh, enggan berkata apa pun. Mungkin karena ia tidak mengerti apa yang dikatakannya, atau mungkin karena pertanyaannya terdengar seperti mata-mata yang sedang menguntit?

Sebelum resepsionis itu sempat menyentuh gagang telepon, ia merasakan lengannya ditarik oleh seseorang, membuatnya hampir oleng dan terjatuh jika saja ia tidak menjaga keseimbangan.

Omo, Agassi! Anda belum boleh banyak bergerak!” seru resepsionis itu.

Kedua tangan Krystal refleks membekap mulutnya rapat. Ditatapnya namja itu tak percaya. Sementara namja itu tak kalah terperanjat, ketika sepasang mata biru yang selalu muncul di mimpi kini ada di hadapannya. Nyata.

Namja itu mengerang tertahan, kepalanya seolah dihantam oleh batu besar. Seiring dengan aroma bunga lily yang menusuk indra penciumannya, sekelebat ingatan berputar dalam benak namja itu. Dadanya seakan diremas menyakitkan, membuatnya berlutut menggapai udara.

Dalam diam, Krystal ikut berlutut di hadapan namja itu dan merengkuhnya ke dalam pelukan hangat. Tangisannya pun pecah seketika. “Kris… I miss you so damn much…”

Kris masih menyempatkan dirinya untuk melihat sekali lagi yeoja bermata biru itu, dan tanpa sadar bibirnya berucap.

“………Krystal?”

Krystal tidak tahu ia harus bahagia atau bingung. Bahagia karena akhirnya ia bertemu dengan Kris, atau bingung karena…

Ia tidak tahu itu.

***

“…Aku bosan, Hyung.” gerutu Kai. Sejak tadi ia sibuk merapikan pakaiannya di lemari untuk meluangkan waktu. Sementara Baekhyun hanya mondar-mandir di depan pintu tanpa sedikit pun memberi perubahan.

“Sebentar lagi… Luhan Hyung pasti datang.”

Kai merentangkan kedua tangannya lelah. Baekhyun sudah mengulang kalimat itu untuk yang kesekian kali, tanpa sedikit pun menghentikan kegiatan mondar-mandirnya.

“Sebenarnya apa yang mereka berempat bicarakan di luar?”

“Semua orang punya privasi masing-masing, Jongin-ah.”

Kai menghela napas. Sudah kesekian kalinya Kai melontarkan pertanyaan yang sama, dan selalu dibalas oleh jawaban yang sama dari Baekhyun.

‘Baekhyun-ah.’

Baekhyun seketika berhenti, membuat Kai yang sejak tadi memerhatikannya ikut terkejut.

‘Luhan Hyung! Kau ada di mana?’

‘Aku ada di depan rumah. Tenang saja, Baekhyun-ah, aku sudah mengetahui semuanya dari Krystal. Bawa Kai keluar. Mungkin… ini saatnya.’

Baekhyun menyentuh dadanya yang bergemuruh kencang. Tiba-tiba saja ia merasa tegang dan cemas. Ia kemudian menatap Kai dan menggenggam tangannya kuat.

Wae geurae, Hyung?”

“Apa pun  yang terjadi… tetaplah berjuang, Jongin-ah.”

Kai balas menatap Baekhyun heran, seiring dengan Baekhyun yang membuka pintu kamar dan menarik tangannya perlahan.

“Luhan Hyung, kau sudah datang!” seru Kai ketika dilihatnya Luhan tampak berbincang serius dengan Sehun. Ia tersenyum lebar, namun hanya dibalas dengan ekspresi datar oleh Luhan dan membuatnya kembali melempar pandangan heran. Ia memandang ke sekelilingnya dengan bingung. Semua orang begitu asing kecuali Baekhyun dan Luhan, dan…

“Jongin-ah, aku ingin bicara denganmu.”

Alih-alih merespon pernyataan Luhan, Kai membeku di tempat ketika seorang yeoja bermata biru muncul dari ambang pintu.

Eo?!” seru Kai, sebelumnya akhirnya ia merasakan nyeri yang teramat-sangat di bagian pinggangnya. Ia terduduk menahan sakit, sementara yang lain hanya terdiam memandangnya horor, tak ubahnya Sulli yang masih mencengkram jaket Lay dari belakang.

“Han…Hyung!” Tenggorokan Kai tercekat, membuatnya kesusahan mengambil napas.

Luhan setengah mati menahan dirinya untuk tidak menghampiri Kai. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Yang saat ini hanya bisa ia lakukan adalah diam dan menunggu.

Ini yang terbaik untukmu, Jongin-ah… Kai.

AISH, WAE IRAE (ada apa dengan kalian), JINJJA?! APA KALIAN AKAN TETAP BERDIRI DI SANA DAN MEMBIARKANNYA MATI KESAKITAN?!”

Seiring dengan teriakan Sulli yang menggema di segala penjuru rumah, pandangan Kai berangsur kabur, hanya tersisa sepasang mata biru laut yang menatapnya tajam dari ambang pintu.

Dan kini semuanya benar-benar gelap.

Walaupun pandangannya berangsur kabur, Kai masih bisa melihat seorang pria yang tengah berdiri tak jauh darinya. Ia mendekap erat sebuah bunga mawar berwarna hijau di dada. Pandangannya lurus ke arah langit.

Mama… hanya dengan ini. Biarkanlah ia tidur dengan tenang. Bersama kami.”

Perlahan, bunga mawar itu layu, berubah menjadi hitam dan kering. Setetes air mata membasahi pipinya.

Lypámai (maaf).”

***

Sulli meniup poninya kesal. Ia tidak habis pikir. Bagaimana mereka bisa diam tanpa sedikit pun peduli ketika di hadapan mereka ada seseorang yang membutuhkan bantuan?

Namja yang disebut-sebut bernama Jongin itu tampak pucat pasi dan tak berdaya. Sulli lah yang pertama kali mendekatinya ketika ia pingsan, dan bahkan menawarkan diri untuk menggendongnya ke kamar, walaupun hampir semua orang di sana adalah namja. Lagipula mereka tampaknya tidak keberatan.

Namja tidak pernah bisa mengerti perasaan yeoja, batinnya.

Sugo haesseo (kau sudah bekerja keras).” Sulli menoleh, mendapati Lay tersenyum seraya menyodorkan segelas air putih. Ia menerimanya setengah hati, kemudian menghabiskannya dalam satu tegukan.

“Apa mereka teman-temanmu, Oppa? Cih. Mereka tidak berperasaan.” umpatnya. Lay hanya tertawa, “Bisa dibilang ya. Tapi mereka terpaksa melakukan itu.”

“Membiarkan ia mati begitu saja?”

“Ia tidak mati. Setidaknya aku menyelamatkannya menggunakan kekuatanku.”

Sulli mendengus, “Kau bicara seperti lulusan fakultas kedokteran saja.”

Lay mengacak rambut Sulli gemas, lalu tersenyum penuh arti. “Rupanya banyak hal yang tidak kau ketahui tentangku.”

Sulli menghela napas seraya merapikan rambutnya, “Sekarang apa yang akan kau lakukan? Lalu bagaimana dengan si Tao itu?”

“Mungkin aku akan menginap di sini bersama Tao. Dan kalau kau mau, kau juga boleh menginap di sini. Kau bisa tidur bersama Krystal.”

Dwaesseo (lupakan). Yeoja itu menyeramkan. Aku akan menginap di rumah Seolhwa.”

Lay mengangguk mengiyakan, “Keurae. Kau bisa ke sana sendirian, ‘kan?”

Sulli terdiam.

Mwo? Sendirian katamu? Aish keurae, namja tidak pernah bisa mengerti perasaan yeoja.

Dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, Sulli mengangguk. Ia kemudian membereskan tasnya dan beranjak tanpa mengucapkan sepatah kata. Lay memandangnya bingung.

“Ada apa dengan yeoja itu?”

Di dalam kamar, Luhan menatap wajah Kai yang pusat pasi dalam diam. Ia tahu ia sangat bodoh membiarkan Kai merasakan sakitnya sendirian.

“Sehun bilang padaku kalau nyeri pinggang yang ia alami adalah efek samping dari ritual itu.” gumamnya lebih kepada diri sendiri. Krystal yang berada di sana menghembuskan napas, “Aku tidak bisa menyalahkan begitu saja, tapi sebenarnya nyeri pinggang itu adalah efek tubuh Kai yang menolak untuk mengingat masa lalunya.”

“Maksudmu?”

Pandangan Krystal menerawang, “Ia mengalami nyeri pinggang karena melihatku. Saat itu ia mengingat sesuatu, tapi tubuhnya menolak menerima ingatan tersebut. Namun sekeras apa pun tubuhnya menolak, pikirannya menentang dan berusaha memasukkan ingatan masa lalunya.”

“…”

“Itu adalah perbuatan pikirannya, memaksa Kai agar dapat mengingat ritual itu, yang artinya ia mengingat masa lalunya. Dan menari… kau masih ingat apa yang pernah dikatakannya? Ia berusaha melupakan Sehun yang mendatanginya lewat mimpi dengan menari (baca Part 1). Itu adalah salah satu cara tubuhnya menolak.”

Luhan mengangguk paham. Namja itu sangat keras kepala, bahkan mengingat masa lalunya saja ia enggan? “Lalu bukankah itu berarti… Kai tidak ingin mengingat masa lalunya?”

“Mungkin ada sesuatu yang kelam di sana, yang membuatnya tidak ingin kembali. Tapi ia tahu, cepat atau lambat ia akan tetap kembali.”

“Apa kau tahu?” Krystal mengangkat bahu, “Sayangnya ia tidak percaya padaku.” Luhan tersenyum masam menanggapi perkataan Krystal.

Krystal balas tersenyum jahil, “Ayolah, Han. Kau seorang Telekinesis. Apa kau lupa?”

-TBC-

 

A/N: Oke, saya tau ini lama (T-T). Jadi sebagai gantinya, part ini author buat lebih panjang dari part-part sebelumnya ehehehe semoga tidak mengecewakan O:) kamsahamnida yang kesekian kalinya buat readers yang baca dan comment, yang ga berhenti bikin author semangat buat ngelanjutin :’)

Sedikit bocoran, di part 6 bakal dikasih tau (lewat Krystal) tentang masa-masa mereka di Bumi, termasuk kenapa Luhan bisa ada di Korea dan serumah sama Kai, gimana Lay bisa tau Sulli, Tao, Baekhyun, dan Chanyeol-Suzy 😀

6 pemikiran pada “Exotics and Their Stories (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s