Am I Death?

Am I Death?

 

 

Author         : @deboratif_ksk

Title             : Am I Death ?

Length         : Oneshoot

Genre          : Romance, Fantasy.

Rating          : Teen

Cast            : Jongin (Kai) Soojung (Krystal) Jinri (Sulli)

 

 

 

NB :

 

Hai hai ^^ Balik lagi dengan author kece nan cantik Jelita ini #RAJAMGUE LOL~~~
Ini FF ketiga saya loh, yang pertama She’s Cold https://exofanfiction.wordpress.com/2013/05/16/shes-cold/ (Monggo dibaca ya) Ceritanya promosi.

 

 

Kedua When You’re With Her https://exofanfiction.wordpress.com/2013/07/18/when-youre-with-her-chapter-1/#more-14474

 

#PromosiLagi.

 

Udah ah ya, mending langsung baca FF saya ini. Cekidot~~~~~~~~~~~

 

cats

 

 

Jongin berlari sekuat tenaga. Harus cepat! Kalau tidak ‘dia’ akan menghilang. Jongin menerobos kerumunan manusia, menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya.

 

 

Aku harus melihatnya

 

Jongin memekik dalam hatinya. Seperti terbakar, Jongin butuh air. Haus sekali, tapi jika ia berhenti, dia akan kehilangan ‘orang itu’

 

Soojung!

 

 

 

Soojung memperhatikan deretan rak yang berisi segala jenis permen warna-warni yang cantik. Mata indah miliknya menatap dengan penuh kekaguman, seakan-akan permen-permen itu adalah hal terhebat dalam hidupnya. Setidaknya ia tidak menjatuhkan liurnya saat menatap ratusan permen itu.

 

 

 

Beli ? Pastinya.

Yang mana ? Ugh, itu yang membuat Soojung manis ini bingung

 

 

“Soojung!” seru seseorang di depan toko. Nafasnya tersenggal, keringatnya mengucur dari dahi dan bahunya naik-turun karena kelelahan.

 

 

“Jo-jongin…?”

 

 

Jongin tersenyum senang saat suara merdu Soojung terdengar di telinganya. Dengan cepat, kaki panjang Jongin melangkah mencapai tempat dimana Soojung berada.

 

 

“Kenapa….Jongin bisa tahu aku ada disini ?” Tanya Soojung heran. Mimik wajahnya bingung, menambah kesan cantik miliknya. Bibir merah delima miliknya terbuka sedikit, membuat siapapun tergoda untuk mencicipi manisnya bibir tersebut.

 

 

 

Jongin mengusap pipi Soojung pelan. Pipi selembut sutra itu akan ‘hilang’ dan Jongin tidak mau menyia-nyiakannya walau hanya sebentar. Setidaknya Soojung masih akan datang kesini. Walaupun Jongin sudah ratusan kali melarangnya

 

 

 

“Tentu saja…aku selalu tahu dimanapun kau berada.” Jawab Jongin tersenyum lembut. “Kenapa kemari lagi ? Bukankah kau sudah berjanji ? Kenapa melanggar ?” Jongin bertanya sambil tetap memasang senyum lembut miliknya.

 

 

 

Soojung menunduk pelan. Dia tidak suka ini. Soojung benci orang yang melanggar janji, tapi dia sendiri malah mengabaikan perkataannya dan membuat Jongin repot. Berlari dari taman kota ke toko permen –milik Jongin- bukanlah jarak yang dekat.

 

 

“Maaf….” Jawab Soojung sedih. “ Aku hanya rindu dengan Jongin.” Tambahnya lirih.

 

 

 

 

DEG

 

 

 

 

Jantung Jongin berdetak seratus kali lebih cepat. Darahnya berdesir dan pipinya memanas. Telinganya memerah seketika. Oh, tidak! Soojung, tolong jangan berkata seperti itu. Jongin menghembuskan nafas cepat untuk menghilangkan gugupnya.

 

 

“Tapi, Soojung….kau sudah tidak boleh disini. Kau mengerti ‘kan ? Kau bilang tidak lagi ingin membuatku repot ‘bukan ?”

 

 

 

Soojung mengangguk pelaaa~n sekali.

 

 

‘Aku tahu, maaf Jongin.” Sesalnya.

 

 

Dan kemudian, Soojung menghilang dari hadapan Jongin, seakan-akan Soojung lenyap bersama hembusan angin yang masuk ke dalam toko permen itu.

 

 

“Maaf….Soojung.”

 

 

Sedetik kemudian, tangis Jongin pecah. Rasanya sakit sekali. Tangisan yang begitu menyedihkan dan pilu. Membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan sakit yang sama dengan Jongin.

 

 

 

“Maaf….Soojung hiks… aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat!” Jongin menjerit tertahan. Toko permennya sudah tutup sejam yang lalu, membuat toko itu sunyi sekali dan tangis pilu Jongin berhasil memecahkan kesunyian mati itu.

 

 

“Tolong…jangan siksa aku! Aku…aku sengsara. Aku seperti seorang idot gila yang akan mati. Kupikir hiks…. kupikir kau akan membawaku. Kupikir, saat aku membuka mata dari tidur, aku sudah berada di ‘sana’ bersamamu….Tapi hiks….” Jongin berujar parau. Air mata itu sudah tidak tertahankan. Jatuh begitu saja membasahi pipi Jongin, membentuk aliran sungai kecil di sana.

 

 

 

“Soojung, bawalah aku…..”

 

 

 

 

 

 

Kau yang disana

Hei, kenapa begitu jahat ?

Aku yang disini

Hei, kenapa begitu merana ?

Kita berjalan bergandengan…

Menatap hamparan padang luas…

Tunggu aku di teluk sana….

Aku akan datang…

Dengan secercah harapan…

Yang mungkin akan segera sirna…

 

 

 

 

Jongin duduk di halte bus dengan tatapan kosong. Sejak kemarin, Soojung sudah tidak datang lagi -meninggalkan Jongin sendiri-

 

 

Nafas teratur Jongin terdengar jelas.

 

 

 

Hidup ? Okay

Mati ? …..

 

 

Ah ~ entahlan, pertanyaan yang selalu berputar di kepala Jongin. Chanyeol, Baekhyun, Jongdae, Zitao, Wufan, Yixing, Sehun, Luhan, Minseok, Kyungsoo dan Joomyun. Semuanya disini, bersama Jongin.

 

 

 

Jongin ingat betul bagaimana mereka berdua belas bersenang-senang bersama, karoke seharian, kemah, wisata ke gunung, menggila bersama. Dan melakukakan berbagai hal lain yang mereka anggap menyenangkan. Menghabiskan waktu, uang dan banyak lagi. Jiwa muda, liar dan bebas yang ada dalam diri mereka begitu kuat.

 

 

 

Namun, kecelakaan itu tidak bisa dihindari. Saat itu hari sudah sore, Soojung dan Jongin baru pulang dari sekolah. Bus yang mereka tumpangi oleng, menabrak pembatas jalanan. Menyebabkan seluruh penumpang penuh luka, bahkan ada yang harus kehilangan nyawa, salah satunya….

 

 

 

 

Soojung

 

 

 

 

Jongin terpukul sekali. Soojung pergi, maka dunianya juga pergi. Soojung pergi, maka hidupnya juga pergi. Soojung pergi, maka….

 

 

 

Jongin juga…akan pergi.

 

 

Jongin berjanji bahwa dia akan membunuh supir bis mabuk yang tidak memperhatikan jalan saat ia dan Soojung menaiki bis tersebut. Jongin berjanji bahwa dia akan membunuh supir mini van yang menabrak bis mereka.

 

 

Kematian Soojung membuat hidup Jongin hancur. Setiap hari Soojung muncul dan membuat Jongin senang bukan main. Tapi Jongin sadar bahwa…

 

 

 

Ia dan Soojung, sangatlah berbeda.

 

 

 

Soojung di ‘sana’ dan dia ada di sini.

 

 

 

 

“Sial, aku teringat Soojung lagi…” cicit Jongin tertahan. Bangku di halte bis yang didudukinya terasa tidak nyaman.

 

 

Drrrttt

 

 

Jongin mengecek smartphone putih miliknya, ada satu pesan dari Chanyeol.

 

 

Hei, kau ada dimana ? Mau ikut, tidak ? Kami akan ke pantai. Datanglah, kami semua berkumpul di depan rumah JoonMyun. Jangan lupa bawa baju ganti, okay ?

 

 

Tertanda

Chanyeol, si Manusia tampan ^0^

 

 

 

Jongin tidak dapat menahan senyumnya saat membaca pesan dari Chanyeol. Salah satu sahabat baiknya ini memang dapat mengundang kebahagiaan.

 

 

“Dasar, narsis. Padahal aku jauh lebih tampan.” Dengan cepat Jongin mengetik balasan untuk Chanyeol.

 

 

 

Baiklah, aku ikut. Tunggu aku. Aku akan datang sebentar lagi. Kupikir aku akan meminjam baju JoomMyun saja. Aku malas pulang ke rumah.

 

 

Tertanda

Jongin, si Manusia idaman setiap orang ^0^

 

 

“Pftttt” Jongin menahan tawanya saat membalas pesan dari Chanyeol. Diedarkannya matanya, menatap jalanan kota Seoul di siang hari yang sangat sibuk. Manusia berlalu-lalang dengan cepat.

 

 

Tunggu dulu. Ini halte yang salah. Jika ia naik bisa dari halte ini, maka akan membawanya ke taman kota, bukannya rumah JoonMyun. Huft terpaksa menyeberang. Jongin melihat kiri-kanan, memastikan semuanya aman, dan kemudian kaki panjangnya memasuki jalanan.

 

 

Namun tanpa Jongin sadari, ada mobil dengan kecepatan luar biasa datang dari arah kanan, supir mobil tidak dapat mengendalikan kecepatannya, mobil tersebut tidak bisa dikontrol, dan…

 

 

 

“TUAN, AWAS!”

 

 

BRAK

 

 

Jongin terhempas begitu saja. Kepalanya bagaikan dihantam palu raksasa. Darah mengalir dengan derasnya, Sekujur tubuhnya sakit. Dilihatnya banyak orang dengan sigap datang kepadanya, berteriak kepadanya supaya bertahan. Setelah itu semuanya gelap.

 

 

Jongin tahu bahwa ada banyak orang di sekitarnya, namun manik matanya hanya bisa menangkap kegelapan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jongin menatap sekelilingnya. “Ck, sial! Aku ada dimana hah ? Kenapa tempat ini kosong ? Argh!” Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ia terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah hamparan padang rumput luas, dan ia berada di bawah sebuah pohon besar.

 

 

 

“Matilah. Ini sebenarnya dimana ?”

 

 

 

DRAP DRAP

 

 

Jongin mendengar langkah kaki. Seseorang dari jauh terlihat mendekat ? Eh, seorang perempuan  ? Jongin menajamkan mata elang miliknya. Benar ‘kok. Itu perempuan. Perempuan itu berlari hingga ketempat Jongin berdiri. Perempuan itu memakai pakaian serba putih, sama seperti yang dipakai Jongin saat ini. Tunggu, Jongin heran. Kenapa bajunya menjadi seperti ini ? Ugh, ini sebenarnya ada apa ?

 

 

 

“Hei, maaf. Aku terlambat hehehe.” Perempuan itu berujar sambil tersenyum lebar dan manis. Membuat Jongin tertegun.

 

 

Manisnya >0< Mengapa ada perempuan semanis ini ? Wajahnya bahkan sangat cantik dan imut.

 

 

“Kau…siapa ?” Tanya Jongin. Perempuan itu kembali tersenyum,

 

 

“Namaku Jinri. Senang bisa mengenalmu.” Jawabnya ramah.

 

“Bolehkah aku bertanya ? Sebenarnya ini dimana ? Dan tempat apa ini ? Ini masih di Korea ‘kan ?” Tanya Jongin penasaran. Senyum di wajah Jinri menghilang, tergantikan oleh wajah serius yang menatap Jongin dengan intens.

 

 

“Ini adalah padang kegembiraan. Kau bisa menemukan semua kebahagiaanmu disini. Jadi….apa kebahagiaanmu ?”

 

 

Jongin tertegun sejenak. Itu adalah pertanyaan yang sangat aneh. “Tentu saja kebahagiaan ku adalah Soojung.” Jawab Jongin cepat. “Tapi, dia sudah pergi…”

 

 

“Aku bisa mengantar mu padanya.”

 

 

Jongin menatap Jinri tidak percaya. Kupingnya sedang bermasalah, ya ? Atau gadis bernama Jinri ini sudah gila ? Soojung kan…..sudah meninggal.

 

 

“Aku tidak gila. Aku serius bisa mengantarmu pada Soojung.” Tambah Jinri.

 

 

Astaga! Apa ini ? Membaca pikiran ? Mind Reader ? Hei, Gadis ini ini siapa ? Padahal tadi cantik dan imut sekali tapi sekarang malah membuatku takut.

 

 

“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sekarang…apa kau mau bertemu Soojung ?”

 

 

Walaupun Jongin masih curiga, tapi ia tetap mengiyakan pertanyaan Jinri. “Jongin, kau lihat daun yang berwarna merah itu ?” Tanya Jinri sambil menunjuk daun merah yang tergeletak di tanah.

 

 

“Ya. Memangnya kenapa ?”

 

“Ambil, lalu terbangkan daun itu. Maka daun itu akan pergi kemana Soojung berada dan kita tinggal mengikuti daun merah itu.”

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hey, Jinri. Kenapa lama sekali ? Aku lelah~” Jongin merengek seperti anak kecil. Berjam-jam mereka berjalan, mengitari padang rumput nan luas itu. “Mana aku tahu. Yang jelas, tempat Soojung berada sangat jauh.”

 

“Ugh aku benar-benar lelah.”

 

“Jangan merengek seperti anak kecil. Ini demi Soojung mu!”

 

“Kenapa membentakku ?!”

 

“Siapa yang membentakmu, hah ?!”

 

“Tuh. Kau membentakku!”

 

“Aku tidak membentakmu! Dasar payah.”

 

“Apa ? Siapa yang kau bilang payah ?!’

 

“Kau. Kau payah, hanya demi Soojung kau meninggalkan semuanya. Ku pikir bagaimana teman-temanmu, hah ? Dasar egois. Karena ingin bersama Soojung kau bahkan rela meninggalkan mereka semua!” Maki Jinri menggebu-gebu.

 

 

 

Jongin terdiam. Kata-kata Jinri begitu menusuk hatinya. Dia tertegun. Teman-temannya, orangtuanya, saudaranya…..

 

 

 

Tiba-tiba ada bayangan seperti cermin di depan Jongin dan Jinri.

 

 

“Lihat dan perhatikan baik-baik, Jongin.” Desis Jinri.

 

 

Bayangan seperti cermin itu menunjukkan semua hidup Jongin. Saat ia bersenang-senang bersama teman-temannya, saat bercanda bersama kedua orang tuanya, semua hal indah terputar dalam bayangan seperti cermin besar itu. Dan terakhir, Jongin dengan jelas dapat melihat kedua orangtuanya dan semua teman-temannya…..menangis hebat di kamar rumah sakit, dimana ia tergeletak seperti tak bernyawa.

 

 

 

Semuanya, menangis dengan hebatnya. Lihat lah Kris. Si ‘wajah datar’ itu bahkan menitiskan air mata kesedihannya. Jongin….terpukul. Dia tidak ingin teman-temannya bersedih! Dia ingin kembali! Tapi….

 

 

 

Soojung tidak ada disana

 

 

 

 

 

“Kau pikir aku akan senang jika kau mengejarku kemari, kkamjong ?”

 

 

Jongin menoleh cepat. Di hadapannya, Soojung sedang tersenyum kepadanya. “Soo-soojung…”

 

 

“Aku tidak mau Jongin melepas hidup hanya demi aku. Kembalilah~”

 

 

“Tapi…mana mungkin aku hidup tanpamu…” Lirih Jongin. Soojung hanya menggelengkan kepalanya. “Aku akan sangat sedih, jika Jongin memilih untuk mengejarku kemari daripada kembali bersama mereka. Jangan egois, kau mengejarku, akan membuat banyak orang bersedih.”

 

 

 

Jongin tersentak, tidak terasa cairan bening dari matanya menetes keluar. “Kembalilah Jongin.”

 

Jongin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak. Kau tidak ada disana, sama saja dengan nyawaku tidak ada disana juga. Aku ingin bersamamu, Soojung.”

 

 

Soojung tersenyum tipis. “Kkamjong, hidupmu masih panjang, masa depanmu sangat cerah. Aku tidak mau kkamjong seperti ini, kembalilah. Dan jangan kejar aku.”

 

 

“Tapi Soojung, aku ti-“

 

“Kalau Kkamjong mengejarku, maka aku akan semakin sedih.”

 

“Soojung…..”

 

“Aku ingin Kkamjong kembali bersama mereka semua.”

 

 

 

SRAK

 

 

 

Jongin menoleh cepat (lagi) saat ada suara daun…yang robek….

 

 

“Yak! Kenapa daunnya robek ?” Seru Jongin menatap nanar pada daun merah itu yang kini menjadi remahan.

 

 

“Itu karena kau sendiri. Hatimu merobeknya, karena kau ingin kembali.” Ujar Jinri santai. Tunggu….kenapa Jinri ? Mana soojung ?

 

 

“Tidak usah pikirkan Soojung. Dia sudah bahagia.”

 

 

 

 

“Lalu bagaiman caranya aku bisa kembali ?” Tanya Jongin penasaran. Jinri tersenyum senang. “Syukurlah jika kau benar-benar ingin kembali.”

 

 

“Caranya ?”

 

 

PLUK!

 

 

Mata Jongin terbuka. Sekelilingnya berubah lagi! Ini bukan padang rumput tadi. Ini….ini tempat apa ? Kenapa semua daun berguguran ? Tempat ini begitu luas, dan … banyak daun yang berguguran disini.

 

 

“Jinri ? Jinri kau dimana ?!” Jongin berseru nyaring.

 

 

“Jangan berisik!”

 

 

“Eh ? Ji-jinri ? Kau dimana ?!”

 

 

“Dibelakangmu bodoh.”

 

 

Jinri mengukir sesuatu di pohon besar yang dibelakangi oleh Jongin. Mengukirnya dengan cekatan. “Apa yang kau lakukan ?”

 

Jinri diam saja saat Jongin menanyakan tentang perilakunya itu.

 

 

“Hei, Jinri ?”

 

 

“…”

 

 

“Yak! Jinri!”

 

 

“…”

 

 

“Ugh, wanita aneh! Jawab pertanyaankuuuu.”

 

 

“…”

 

 

Haahh~~ Jongin menghela nafasnya keras-keras. Perempuan aneh. Jongin mendudukkan dirinya tepat disamping Jinri, menatap dan memperhatikan wajah cantik Jinri dengan seksama, dari alis, mata,pipi, hidung dan bibir nya Jinri.

 

 

Jinri terus mengukir di batang pohon kayu tua tersebut.

 

 

“Sekarang kau bisa pulang.” Jinri berkata secara tiba-tiba yang membuat Jongin terkejut bukan main. Sungguh, wanita ini sangatlah aneh.

 

 

“E-eh ? Apa yang kau bilang ?”

 

 

Jinri menolehkan kepalanya menghadap Jongin.

 

 

“Ketika kau terbangun, kau akan kembali ke sana. Kau hanya akan melihat kebahagiaan.”

 

 

“Maksud…mu ?” Tanya Jongin tidak mengerti dan hanya dibalas senyum manis milik Jinri.

 

 

“Yang jelas, kau akan kembali, Kim Jongin…”

 

 

“A-apa kita bisa bertemu lagi ?!”

 

 

Jinri tersentak kaget. Tidak menyangka bahwa Jongin akan mengutarakan pertanyaan yang bahkan sebelumnya tidak pernah diperkirakan.

 

 

“Kurasa…iya, tapi..dalam wujud lain.”

 

 

Kening Jongin mengerut. “Maksudmu?”

 

 

“Kita bisa bertemu, hanya saja mungkin aku tidak lagi mengenalmu atau kau yang tidak mengenalku.”  Jawab Jinri yang membuat Jongin kaget. “Tunggu! Bagaimana bisa seperti itu ?! Ini aneh!”

 

 

Jinri menghela nafas berat. “Kuberitahu sebuah rahasia padamu.” Jinri menarik nafas sebentar. “Sebenarnya, aku ini manusia biasa, sama seperti mu. Aku bersekolah dan punya rumah. Hanya saja, ada yang namanya ‘Manusia terpilih’ Kami, para ‘Manusia Terpilih’ memiliki tugas untuk mengembalikan seseorang pada ‘jalan yang benar’ dan…..yahhh….kami sering bertemu para manusia yang kami bantu, tapi bisa saja manusia itu tidak ingat pada kami atau kami yang tidak mengingat mereka.” Jelas Jinri panjang lebar.

 

 

Mulut Jongin menganga lebar. “Jadi maksudmu, hanya salah satu saja yang ingat, begitu ? Astaga, kenapa bisa seperti itu, huh ?”

 

 

Jinri mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah, yang jelas itu peraturan sejak dulu.”

 

 

Jinri memperhatikan langit yang berwarna jingga kekuningan. Matanya menerawang, cantik sekali.

 

 

“Saatnya kau kembali, Jongin…”

 

 

“Tunggu dulu! Aku masih…ARGH!”

 

 

 

Dan setelah itu, Jongin hanya melihat kegelapan. Kegelapan yang kelam. Jongin berusaha berteriak, tapi suaranya tercekat, lidahnya kelu dan tubuhnya bergetar hebat.

 

 

 

Semuanya gelap.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jongin perlahan membuka kelopak matanya. Putih….semua putih. Apa ini ? Tadi yang ada hanya kegelapan yang menyelubung, kenapa semua sekarang menjadi putih ? Apa yang terjadi ?

 

 

 

Jongin mengedarkan matanya. Ini…ruangan ? Ugh, tempat apa ini ? Hey, apa tidak ada orang ? Mana Jinri ?

 

 

 

Jongin membelalakkan matanya saat ia menyadari sesuatu. Tangannya diinfus ?! Hei ini benar-benar tidak masuk akal. Ruangan ini bau obat. Menjijikkan. Dan….dan….Jongin merasakan sakit kepala yang luar biasa.

 

 

 

“Akh…..” ringkihnya. “Kepalaku…sakit..tolong!” Jongin berseru tertahan dan saat itulah seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

 

“JONGIN!” Jeritnya.

 

 

“Se-sehun….”

 

 

“SEMUANYA, JONGIN SUDAH SADAR.”

 

 

Jongin tidak bisa menangkap semuanya. Kepalanya berdenyut-denyut. Rasanya ada martil besar yang menghantam kepalanya. Matanya melihat bahwa segerombolan orang masuk, teman-temannya.

 

 

 

“Jongin, kau tidak apa-apa ?!”

 

“Kepalamu masih sakit. Aku panggilkan dokter.”

 

 

 

Jongin tidak bisa melakukan apapun. Yang dia lakukan hanyalah merintih kesakitan,Tao dan Sehun membantunya memegangi kepalanya yang seakan-akan hendak meledak. Mata Jongin berkunang-kunang. Semuanya buram. Dokter tidak kunjung datang.

 

Dan dalam kesamaran matanya, Jongin menangkap sosok Jinri…..

 

 

 

 

Tepat berdiri di sudut ruangan itu. Menatap Jongin pilu dan khawatir.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Jongin, tangkap bolanya!” Zitao berteriak dari sisi lapangan. Sorak-sorai riuh memenuhi lapangan. Para siswi menjerit, memberi semangat pada pria-pria ‘idaman’ mereka ini. Jongin men-dribble bola dengan cepat, dan…..mencetak dua poin lagi. Basket memang olahraga nya.

 

 

“KYAAA JONGIN HEBAT!”

 

“JONGIN~AH, SEMANGAT!”

 

“JONGIN, AKU MENCINTAIMU!”

 

“JONGIN, AYO MENIKAH!”

 

 

 

Jongin terkekeh pelan saat mendengar rendah riuh kalimat teriakan dari bangku penonton. Apalagi saat mendengar kedua kalimat terakhir. Timnya sudah unggul beberapa poin. Dan tidak sulit bagi Jongin untuk menambah angka lagi.

 

“Kerja bagus, Jongin.” Luhan mengacungkan jempolnya kepada Jongin.

 

 

 

PRITTTTT

 

 

 

Peluit dibunyikan, pertanda permainan sudah usai. Menang lagi, huh ? Bosan! Jongin bosan menang. Ia ingin sekali bermain dengan lawan kuat yang dapat mengalahkannya.

 

 

 

Sorak sorai kembali terdengar.

 

 

 

Jongin tersenyum senang. Berhari-hari di rumah sakit membuatnya tidak tenang. Makanan rumah sakit yang luar biasa tidak enak, bau obat, air pahit, itu semua membuat Jongin muak. Kecuali yah…Jinri.

 

 

Hahaha, Jongin ingat betul. Selama di rumah sakit, semua teman-temannya mengunjungi nya. Namun, tanpa mereka sadari, Jinri sudah mengawasi Jongin terlebih dahulu. Yah tentu saja, Jinri itu ‘kan bukan manusia biasa…..

 

Sebenarnya itu membuat Jongin senang. Tapi…saat tidak ada siapa-siapa, Jinri menghilang begitu saja. Dan yang membuat Jongin bingung adalah, Jinri tidak mau berbicara kepadanya sekalipun.

 

 

“Aih Kim Jongin. Kenapa kau melamun tentang perempuan aneh itu ? Bagaimana dengan Soojungie, heh ? Kau bisa dicekik mati. Hiiiii.” Jongin merinding setelah mengucapkan kalimat super aneh tersebut. Jongin mempercepat jalan menuju loker. Sepanjang melewati koridor sekolah, Jongin dan teman-temannya bersenda gurau dan bercanda tawa. Dan saat telinga Jongin mendengar berita-

 

 

 

“Kau tahu kan kalau di kelas 11-1 akan ada murid baru ?”

 

 

11-1 ? Kelasku ? Murid baru ? Pekik Jongin dalam hati.

 

 

“Ya, aku sudah tahu. Perempuan ‘kan ? Astaga, tadi aku melihatnya di kantor kepala sekolah. Cantik sekali. Seperti bidadari!”

 

 

 

Bidadari ? Ada-ada saja. Mana ada yang namanya bidadari, tapi kalau cantik itu pasti jinri….. HEH~??? APA YANG KUPIKIRKAN ?!

 

 

 

Jongin  menepuk pipinya keras.

 

 

“Hey, Kim Jongin, kau kenapa, huh ???” Wu Fan bertanya dengan bingung. “Ah~ tidak, tidak apa-apa.”

 

 

Dan Jongin berlalu, meninggalkan tanda tanya besar di benak Wu Fan.

 

 

 

“Apa…..ini karena…Soojung ?”

 

 

 

 

 

 

 

Jongin menahan nafasnya. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

 

 

Jinri!!!

 

 

“Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu.” Guru Park berujar dengan senyum ramah diwajahnya kepada seorang perempuan yang berdiri di sebelah guru tampan tersebut, perempuan yang membuat Jongin tercekat setengah mati.

 

“Baik. Halo semua, namaku Choi-“

 

 

“JINRI!”

 

 

Seluruh murid kelas 11-1 menolehkan kepala pada Jongin. Antara bingung dan aneh. Bagaimana mungkin Jongin mengetahui nama anak baru itu ? Padahal dia belum memperkenalkan dirinya.

 

 

“Hehhhh~ Bagaimana kau tahu namaku ? Aku bahkan belum memperkenalkannya.”

 

 

Guru Park membetulkan letak kaca matanya. “Kim Jongin, apa kau mengenal nona Jinri, sebelumnya ?” tanyanya.

 

 

Jongin mengangguk cepat. “Ya, Guru Park. Dia Jinri, orang yang menyelamatkanku saat kecelakaan dulu!”

 

 

Kelas menjadi ribut, Guru Park bahkan tidak tahu harus berkata apa.

 

 

“Ma-maaf, tapi…aku rasa aku tidak pernah menolongmu.” Ujar Jinri kaku. Jongin terehenyak. Dan kemudian, ia tersenyum. Ia ingat perkataan Jinri saat mereka berpisah dulu. “Ah~ kau pasti hanya lupa, Jinri.”

 

 

 

 

 

Bel istirahat berbunyi. Jongin mendekat ke bangku Jinri perlahan. “Hai.”

 

 

“Oh, Hai. Boleh aku bertanya ? Kau tahu namaku dari mana ?” tanya Jinri langsung, hampir satu kelas memperhatikan mereka.

 

 

“Kan sudah kukatakan, kau pernah menolongku.”

 

“Tapi aku tidak pernah me-“

 

“Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang aku yang bertanya padamu.” Jinri memiringkan kepalanya bingung. Orang ini maunya apa ?

 

Jongin tersenyum lembut, dan kemudian-

 

 

 

 

 

“Choi Jinri, maukah kau mejadi pacarku ?”

 

 

Saat satu kelas menjerit kaget, dan Jinri hanya bisa membuka mulutnya, tidak tahu harus berbuat apa dan menjawab apa.

 

 

END~~~

 

 

 

Plis jangan bunuh saya karena endingnya. LOL XD XD

 

Komen ya, kalau banyak yang komen, saya bikin sequel deh. Hahaha, sekalian saya pengen tahu, siapa aja yang baca FF saya ini. Gamsa ^0^ /bow/

31 pemikiran pada “Am I Death?

  1. *tebar bunga kamboja*
    AAAAAAAAAAAA FFNYA BAGUS BANGET!!!!!!!!!! JINRI!! JONGIN!!!! soojung.-. *hening seketika*
    Author!!!! Hihhiiii… cinta deh ♡♥
    Bagus, feelnya dapet, dan terkesan ngga terburu-buru walaupun one shot (dan berdoa agar ada sequelnya) hihhiiii

    HAVE A NICE DAY AUTHORNYAAA!!! *tebar bunga mawar* *menghilang*

  2. Entahlah aku sebelumnya sudah komentar atau belum, karena sebelumnya aku udah baca beberapa kali, dan aku males komentar *ditimpuk author*
    Author jangan bikin sequel, bikin FF KaiStal aja, tapi terserah sih mau bikin sequel apa gak. Tapi gak janji baca, kurang suka couplenya *ditimpuk author(lagi)*
    Trus aku sukanya HunLli, kalo sequel ceritanya si Sulli nolak trus tiba2 muncul Sehun dan Sulli suka Sehun, Kai merana trus meninggal dan ketemu sama Krystal, hidup bahagia deh *banyak maunya* *ditimpuk author (lagi)(lagi)*
    Oke segitu aja, kalo kepanjangan nanti author nimpuk aku lagi 😛 *ditimpuk author (lagi)(lagi)(lagi)*
    Tuhkan ditimpuk lagi akunya, kasihan kan? Jangan suka timpuk-timpuk aku lagi *puppy eyes* *ditimpuk author (lagi)(lagi)(lagi)(lagi)*
    Oke ini beneran komentar gak jelas, aku udahan dulu. Pamit yaa~ *author : syukurlah ini readers bawel pergi*
    Pai pai author, oiya, reply ya *kebanyakan maunya* *untungnya gak ditimpuk, karena author sudah capek menimpuk readers unyu ini :D*

  3. aku mau jadi pacarnya kai !!! 😀
    lanjut thor . bagus kok ff nya . cuma aku rada bingung krna gk dijlasin latar tmpat nya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s