I Can’t Explain What I Feel

 TITLE : I CAN’T EXPLAIN WHAT I FEEL

MAIN CAST : KIM JONG IN(EXO), PARK RAYA(OC/YOU), YANG LAIN FIGURAN-_-

GENRE : ROMANCE, SAD (?)

AUTHOR : MUTIARA ULFA (@yeolthenyeol)

WARNING : TYPO BERTEBARAN DIMANA-MANA

Capture

POV Yara

Dari berjuta-juta orang, bahkan dari bermilyaran orang, mungkin 1 2 3 4 5 6 7 8 9 dan seterusnya bisa memilih kehidupan yang nyaman dengan gampangnya. Tapi sayang, tidak padaku! Memilih kehidupan yang nyaman sangatlah susah. Apalagi tuntutan orang tua yang bersih keras. Ini! ini hidupku yang tak bisa menjalani kehidupan masa muda dengan nyaman, bebas, dan mungkin tak harus memliki tanggung jawab besar juga(?) hem, ya aku tau, kata-kata bijak “Hidup itu pilihan” memang ada benarnya juga. Eh salah, itu memang benar! Hidup memanglah pilihan, apapun yang kau pilih, itulah masalahmu! Masalah datang, karena pilihanmu, begitulah kira-kira bahasa kasarnya. Tapi… saat ini, aku tak bisa memilih. Lebih jelasnya, aku diPAKSA untuk memilih. Dipaksa? Apa yang dipaksa? Ah jelas saja ini pemaksaan tingkat dewa, pilihan yang seharusnya aku lakukan sendiri, mereka ikut bercampur tangan dalam hal itu. tentu saja yang aku bicarakan ini adalah masalah CINTA. Ibu dan Ayahku, ya ini bersangkutan dengan mereka. Pemaksaan mencintai seseorang yang tak kukenal dan menikahinya untuk menutupi sebuah hutang piutang, apakah masuk akal?  oh mungkin itu masih kedangaran halus, kasarnya orang tuaku MENJERUMUSKANKU DALAM KAWIN KONTRAK. Pernikahan ini terjadi, karena orang tuaku terjerat hutang dengan keluarga Kim, sehingga mereka mengorbankan diriku, anak semata wayang mereka menikah dengan namja yang sama sekali bukan pilihanku. Detik demi detik,hari demi hari, tak terasa sudah 1 tahun aku menjalani hubungan ini. Masa kontrak perkawinan ini, masih 1 tahun lagi. Jelas saja, ini membuatku frustasi habis-habisan! Ah aku lebay, aku tidak terlalu frustasi, mungkin tepatnya sekarang aku telah terjerumus kedalam lubang cinta lelaki tinggi, hitam, berbibir tebal itu . Tesss rintik hujan sudah menjatuhkan dirinya digenteng rumahku, hujan yang turun dari atas langit semacam menggambarkan perasaan rinduku terhadap namja itu. ia pergi dari 6 jam yang lalu, tapi aku sudah merindukan dirinya dihatiku. Entah apa namanya ini? yang jelas, 1 tahun terakhir ini aku merasa senang bila berada dismpingnya dan merasa rapuh jika jauh darinya. Suara hentakan kaki sudah terdengar disaluran telinga kiri dan kananku. Segera kubangkitkan tubuh mungilku membuka pintu untuk menyambut namja itu masuk.

“biar ku bantu” kataku saat melihat wajah namja ini sedang membawa koper yang besar, entah apa itu.

“biar aku sendiri” dengan acuhnya ia meninggalkanku masuk kedalam kamar sambari melemparkan jas baju kantor didepan wajahku. Jelas saja dia masih memiliki perasaan acuh tak acuh padaku sampai saat ini, hatinya bukan untukku! Dirinya hanya menganggapku wanita tak layak pakai(?) dan juga, sering kali dirinya bersikap kasar padaku! Kuberi 1 contoh, dirinya selalu mempermalukanku! Kupejamkan mataku menahan agar tidak mengenai mataku. Jas itu terjatuh bersamaan dengan air mataku yang jatuh pula. Ini menyedihkan, ini menyakitkan! Ya, aku tau ini akan terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya.

POV Author

Yara berjalan masuk ke kamar berniat menggantung jas suaminya dibalik pintu. Ya, laki-laki itu adalah KIM JONG IN, atau biasa di panggil dengan sebutan nama KAI. Lelaki pilihan eoma dan appa Raya 1 tahun lalu. Perasaan ragu, sedih, lesu, kecewa dll sudah tercampur merata dihati Raya saat ini. ini lebih menyakitkan 20x lipat sebelum perasaan Raya memihak ke laki-laki tinggi berkulit cokelat itu.

“jangan digantung, itu sudah kotor” ujar Kai sembari menjatuhkan dirinya diatas kasur. Raya langsung mengambil jas itu kembali dan membawanya keluar untuk menyimpan di bak kotor. Tak ada satu niat pun untuk mencuci Jas itu, karena apa? Hari ini Raya telah mencuci 5 bak besar pakaian dirinya dan Kai dari jam 5 pagi sampai sore begini. Siapa yang mau capek lagi? pikirnya. Ia letakan Jas panjang itu kedalam bak kotor khusus untuk menyimpan baju-baju berbakteri alias kotor.

“laki-laki itu menyusahkan..” gumam Raya dalam hati sembari memasukan pakaian kotor kai didalam bak kotor. Setelah itu, raya kembali menemui kai berniat menyuruh kai turun dan makan. Ini sedikit berat untuk Raya, ragu juga pasti ada. Bayangkan saja dengan penolakan yang membuat hatinya hancur pasti akan terulang kembali saat ini.

“aku tidak ingin makan, aku capek. Tinggalkan aku sendiri” ujar kai saat Raya memasuki kamar. Ini adalah hal biasa yang di alami oleh Raya. Entah kapan ini akan berakhir, Raya hanya berusaha sabar menghadapi suami acuhnya ini. Ia hela nafas panjang yang keluar dari kedua lubang hidung lancipnya seraya meninggalkan kamar. Dan lagi, rasa sakit itu datang lagi.

***

Angin berhembus kencang, sukes menusuk kulit halus nan putih yoeja yang bernama Raya. Pikiran yang hanya tertuju pada lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki kulit yang sedikit cokelat itu. Entah  hormon apa yang sudah menyuruhnya memikirkan namja gila itu. Sesekali Ia lirik jendela kamar Kai dan dirinya dari bawah saat ini, tak terbayangkan dengan hubungan tanpa cinta itu bisa hidup bersama dan mungkin menahan amarah bersama. Ini memang tampak gila bila dipikir-pikir secara logika, tapi ini memanglah pilihan, pilihan untuk menyelamatkan keluarga PARK itulah lebih penting dari sekarang.

“Raya!!!!!!!!!!!!!!” teriakan yang jelas memekakan telinga kiri dan kanan raya dengan suara yang taka sing ditelinga gadis ini. ya, itu adalah teriakan Kai memanggil Raya. Dengan sirgap, ia hapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipi mulusnya itu. secepat kilat, ia berlari menuju sumber suara yang sedari tadi memekakan telinga raya.

“iya ada apa?” ujar raya sambil melihat keadaan kamar yang sudah berantakan. Krim wajah, bantal, kaca, selimut tebal, sudah tidak berada ditempat. Raya terheran-heran dengan apa yang dilakukan kai terhadap kamarnya. Dan ini adalah contoh yang ke-2 kai bersikap bodoh dan selalu melakukan hal tak berguna.

“apa yang kau lakukan!!” bentak Raya saat melihat Kai menghancurkan barang-barang yang lain. Ia berlari menarik tangan Kai agar tidak melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Tapi sayang, kekuatan Kai lebih besar dari pada kekuatan Raya. Dengan gampang, Kai mendorong Raya hingga terjatuh. “Awwww” jerit Raya saat Kai mendorongnya. Dan ini juga adalah contoh yang ke-3, Kai kadang melakukan KDRT terhadap Raya.

“Kumohon Kai!! Berhenti melakukan hal bodoh tak berguna seperti ini!” ucap Raya sambil mengutik barang-barang Raya yang sudah dihancurkan oleh Kai. Kai yang melihat itu, kembali mendorong Raya hingga terjatuh kembali. Betapa tega lelaki ini kepada Raya. Dan kembali, Raya menjerit kesakitan menahan goresan yang tergores di pergelangan halus tangannya. Kai menarik kerah baju Raya dan mendorongnya hingga bersentuhan dengan dinding kamar.

“Andai saja orang tuaku tak terlibat hutang dengan keluargamu!  Andwae aku mau menikah dengan lekaki kasar sepertimu!!!” Kai menekan tubuh Raya kedinding dan sekaligus meninggalkannya keluar. Krystal kecil dari pelupuk mata Raya sudah tumpah tak tertahankan akibat ulah Kai. Dengan sigap, Raya meninggalkan Kai sendiri dikamar yang sudah seperti kapal pecah itu.

***

POV Kai

Ini gila! Ini memang gila! Ini bukan salah wanita itu, tapi orang tuaku! Betapa berdosanya aku memperlakukan wanita itu dengan kekasaranku, betapa berdosanya aku memperlakukan wanita itu dengan mempermalukannya dihadapanku. Aku adalah lelaki setengah wanita! Banci! Kenapa harus wanita itu yang harus aku sakiti seperti ini, hanya karena sakit hatiku kepada orang tuaku hingga aku rela, oh tidak! Tidak rela! Melepaskan yeojachinguku dengan gampangnya. Memang, aku PABO! PABO!! Tapi mengapa, rasa sedikit ingin menyayangi gadis itu masih belum ada, keikhlasan mencintai dirinya dan melindunginya seperti layaknya suami-suami pada umumnya masih belum ada. Eothoke? Eothoke? Harus kah aku memulainya sekarang? Betapa tak pantasnya diriku 180 derajat berubah drastic seperti itu, oh tuhanku!!! Jebal, tolonglah akuuuuuuuu…………………………..

POV Author

Raya tijakan kaki sumpitnya dikamar depan yaitu kamar barunya. Hela nafas sering ia lakukan saat mengingat kejadian gila tadi! Entah apa yang harus Ia lakukan sekarang, menerima nasib mungkin? Ya, kurang lebih seperti itu rupanya. Perlahan tapi pasti, ia bersihkan kamar depan yang dipenuhi dengan sarang laba-laba dan debu-debu. Sementara membersihkan kamar,terdengar suara ketukan kaki menghampiri kamar Raya. Dengan reflek, ia menoleh arah suara itu.

“Ya!!! nuguya” teriak Raya dari dalam, semacam khawatir.

“Kai” dengan suara yang parau dan serak-serak becuekz (read: kenapa lu jadi alay gini thor-_-)

Raya terdiam sambil menutup kelopak mata indahnya menahan amarah yang ia punya. Ia tak menjawab dan melanjutkan kegiatan awalnya, membersihkan kamar lebih baik dari pada memperdulikan lelaki tak tau berterimakasih seperti kai. Untuk apa  memperdulikan lelaki kasar, seperti dia pikirnya.

***

“aigoo.. sudah pagi” ucap Raya saat melihat jendela kamar yang sudah memancarkan cahaya pagi. Ia bangkit dari tidurnya dan pergi menuju dapur untuk memperisapkan makanan untuk suaminya. Ia tijakkan kakinya di ubin-ubin persegi rumahnya menuju dapur. Inilah kelebihan istri, masih bisa peduli dengan suami. Meski sakit, ini tetap Raya paksakan. Lelaki itu masih terlalu muda, masih perlu asupan gizi. Tugasnya juga berat, menjabat sebagai direktur kantor iklan terbesar di Seoul.

“oke, makanan sudah siap. Saatnya mandi” ia membalikkan tubuh mungilnya meninggalkan dapur, hati Raya tersentak saat membalikkan tubuh, dan saat itu pula kai sudah berdiri didepan wajah Raya.

“permisi. Aku mau lewat” ujar Raya dengan ketusnya. Tapi tetap, Raya kekiri Kai pun kekiri, Raya kekanan, Kai kekanan. Ini membuat wanita bertubuh tinggi sebahu Kai merasa bingung.

“apa yang kau mau?” ujar Raya mengalihkan pandangannya ke kanan. Tanpa di duga, Kai menarik tangan Raya memasuki kamar dan mendudukan Raya disisi kasur kamar.

“maaf, selama ini aku telah kurang ajar denganmu. Tapi aku akan berjanji padamu, aku akan menjadi suami yang baik untukmu!” ujar Kai sambil menatap halus Raya. Tapi tetap saja, Raya tak menatap wajah Kai yang menatap halus mata besar Raya.

“gwaenchana.”jawab Raya singkat.

“Tolong, beri aku waktu untuk menjalani ini semua. Ini begitu sulit, kumohon”

“kan sudah kubilang tidak apa-apa? Kenapa masih Tanya!?”

“baiklah, eeee malam ini ada film baru. ” ujar kai sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal.”

“hubungannya denganku?”

“jam 7 malam ! Siap-siap” Kai pergi meninggalkan Raya keluar kamar.

POV Raya

“mwo? Dia mengajakku pergi?” jantungku hampir copot saat mendengar ajakan kai tadi. Terselip rasa kesal dan ada juga rasa senang. Ini adalah pertama kalinya aku pergi bersama lelaki itu. haaaaaa eothokeeee!!! Jantungkuuuuuuu. Chakaman!! Aniyo Raya, NO! ini hanyalah ajakan, ini normal-normal saja, seorang suami mengajak isterinya pergi itu wajar! Jangan berpikiran yang macam-macam Raya~shi, Jebal!

POV Auhtor

Kai sudah menghentak-hentakan kakinya diatas tanah menunggu kedatangan Raya yang sedari tadi belum menampakan batang hidungnya dari kamar. Kai hela nafas panjang dan sesekali melihat arloji hitam ditangan kanannya, dan salah satu tangannya menyelip kedalam kantung celana.

“omo, lama sekali sih?!” ucap Kai sambil melihat arloji hitamnya. Tak lama setelah omelan Kai, Raya keluar rumah mengenakan gaun putih disertai mantel tipis untuk tubuh mungilnya ini. “dia… dia Park Raya?” gumam Kai dalam hati melihat Raya keluar dari rumah. 1 menit Kai mematung didepan rumah, bahkan hampir ingin jatuh karena lamunan konyolnya ini.

“Yak! Mau pergi tidak?” bentak Raya sekaligus mengejutkan Kai.

“i…ii.iya. kajja!”

***

Hari semakin malam, udara pun semakin merasuk kedalam kulit. Tapi, tetap saja mereka bersih keras untuk menonton film baru yang ada dibioskop atas ajakan Kai. Raya sedikit kedinginan karena lupa memakai mantel tebal.

“Yaa, tunggu sebentar! Ini dingin, kau ini enak saja berjalan cepat meninggalkanku!” bentak Raya kepada Kai. Lekaki itu berjalan dengan cepat, kuda saja kalah dengan gerakan kaki Kai. Kai menoleh kebelakang dan melihat Raya yang berjarak 5 meter dari tubuhnya akibat kedinginan mungkin(?) Kai berhenti menunggu Raya yang berjalan lambat mengikuti arah kemana Kai akan pergi.

“Siapa yang menyuruhmu memakai mantel tipis murahan seperti itu eo? Pali!” dengan menaiki salah satu alisnya.

Mereka pun berhenti disebuah halte, untuk menunggu kedatangan Bis yang sedari tadi tak kunjung mendatangi mereka, sekaligus membawa mereka ketempat mereka akan menonton bersama.

“sepertinya, menonton gagal” gumam Raya dalam hati sembari melihat arloji yang sudah menunjukan angka 7:20 KST. Tak lama, bis pun datang menghampiri mereka. Dengan secepat kilat, Raya masuk kedalam bis diikuti Kai dari belakang. Sayang, tempat duduk sudah penuh dengan orang-orang. Terpaksa mereka berdiri sambil memegang pegangan yang berada diatas kepala mereka. Disini cukup menyesakkan, banyak orang yang saling bersentuhan untuk menyeimbangkan tubuh mereka. Termasuk Raya yang tak kuat berdesak-desakan seperti ini.

“omo-___- kenapa sesak sekali. Badanku sakit disini” omel Raya dengan mengkerutkan dahinya saat orang-orang mendesak-desak dirinya. Terlihat pelukan seseorang di pinggang Raya, yang sentak mengejutkan Kai yang berada dibelakang Raya. Ahjusi berumur hampir setengah baya mencoba melingkarkan tangannya dipinggang istri seorang namja bernama Kai. Dengan sirgap, Kai menimpas tangan ahjusi tersebut hingga membuat ahjusi itu marah.

“yak! Apa yang kau lakukan eo?” bentak ahjusi itu.

“wae? Apa yang aku lakukan? Kau menyentuh-nyentuh istriku! Sudah tua, tapi pikiranmu bejat!”

“jadi dia istrimu?!”

“ne! wae! Mwo!” Kai dengan meninggikan suaranya. Raya yang masih tidak sadar akan pertengkaran kai dengan Ahjusi itu, dengan gampang tersadar saat kalimat terakhir Kai membentak Ahjusi tua itu.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Raya dengan memasang wajah yang penuh kepolosan. Kai yang merasa kesal dengan perkataan Raya yang tak tau apa-apa. Ia tatap wajah Raya dan tatapan itu sedikit menusuk. Dengan cepat, Kai memegangi tangan kecil Raya berusaha untuk melindungi gadis yang sudah Ia nikahi 1 tahun lalu.

“kau tak sadar? Ahjusi gila itu memegang pinggangmu! Untung saja ada diriku.” Tanpa menatap Raya sedikitpun.

“mwoyo? Benarkah? Eothoke? Tubuhku…..” Sambil mengibas-ngibas pinggang yang terpegang oleh ahjusi tak dikenal tadi serta merengek. Tapi hati Raya sedikit lega, dikarenakan adanya Kai disamping dirinya dan melindungi dirinya.

***

Sampailah mereka ditempat yang tentu saja bukan tempat tujuan mereka. Tempat yang hanya ada beberapa pohon yang diselimuti oleh salju, perumahan pun jarang ada disini. Bisa dibilang, tempat ini adalah tempat tanpa penghuni. Keduanya melihat satu sama lain sekarang, pertama adalah Kai. Ia dari awal sudah menduga bahwa mereka akan tersesat dan salah masuk Bis. Tapi Ia tak sempat menahan Raya yang dengan secepat kilat memasuki Bis tanpa menunggu dirinya terlebih dahulu. Keadaan juga yang membuat Kai tak bisa bicara pada Raya jika mereka sedang tersesat. Kedua, Raya merasa masih memikirkan kejadian di Bis barusan. Ia masih tak bisa berfikir, dengan gampangnya Ahjushi tua itu memeluk pinggangnya, bahkan Kai selaku suami yang sah yah walaupun hanyalah kawin kontrak, Ia masih memiliki sopan santun. Keheningan terjadi sekarang, tak ada suara sama sekali. Hanya saja raut wajah bingung yang mereka pasang.

“wae!?” Tanya Kai saat melihat Raya yang masih memasang wajah kecutnya.

“Aku benci kejadian di bis tadi. Dengan gampangnya dirinya menyentuh tubuhku, aku tidak rela!!” ujar Raya menghentak-hentakan kakinya diatas rumput yang sudah diselimuti oleh salju.

“Sudahlah, kau tenang. Aku akan melindungimu dari sesuatu yang menjatuhkan harga dirimu. Ayo kita kesana!”Kai. mwo? Kesana? Kemana? Yah ini hanya trik gila lelaki idiot itu untuk mengalihkan Raya, sekaligus menyembunyikan pada Raya bahwa mereka telah tersesat.

POV Raya

“sudahlah, kau tenang. Aku akan melindungimu dari sesuatu yang menjatuhkan harga dirimu.” Ini mimpi? Kai berkata akan melindungiku? Aku tertegum saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir tebal nan manis itu. Entah ini memang perasaanku saja yang kGRan atau memang apa? Wajahnya begitu meyakinkan, tanpa ada sedikit keraguan yang tampak diwajah dark skinnya.

“yak! Mau pergi tidak?!” Aku terkejut saat Kai membentakku, ini sekaligus membut lamunanku terhenti. Ini sudah biasa menurutku, lelaki itu hampir setiap saat membentakku. Aku sedikit heran dengan suasana didaerah ini, Kai berkata padaku ia ingin mengajakku menonton tapi kenapa aku berada disebuah taman ini?

“ah ya, kenapa kita disini? kita tidak menonton?” Aku melirik kiri dan kananku seraya memastikan dan mencari dimana gedung bioskopnya.

“tidak” dengan gampangnya Kai berbicara tidak yang tentu saja membuat kukesal tak tertahankan, apalagi dengan cuaca seperti ini mereka berada diluar. Kulit rasanya ingin membeku.

“wae??” Aku menatapnya serius.

“malas.”omo-_- dia kambuh! Ini mungkin adalah contoh sikapnya yang ke-4 “BICARA SEENAKNNYA” aish, eothoke… Aku begitu kedinginan saat ini, Aku tak mampu berlama-lama didaerah terbuka seperti ini, tapi tak mengapa mungkin sedikit lagi atau sebentar lagi.

“sial!” Bentakku mendorong tubuh Kai hingga hampir terjatuh. Aku menyimpulkan kedua tanganku diatas dada dan membuang muka dengan Kai. Kumulai melangkahkan kakiku diatas rumput meninggalkan Kai yang ada ditaman yang masih berdiri mematung tampak tak peduli sedikit pun. Aku kesal, Aku benci! Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa kami salah masuk Bis. Dan kenapa namja bodoh itu tak memberitahuku bahwa kami salah masuk Bis? Ini salahnya! arghhhhh

“YA!!!!” Teriak Kai kepadaku. Dadaku terangkat karena kaget akan teriakan namja gila itu. Tetap dengan keputusanku, Aku ingin pulang. Aku sudah malas berada disini, tempat tidak jelas seperti ini siapa yang ingin mengunjunginya. Hari pun semakin dingin, mantel tipisku ini juga tidak ada gunanya kubawa kemari. Sama sekali tidak berguna.

“YA!!! pulang kau sana!!!!” Teriakan yang kedua kalinya kepadaku. Aku tidak peduli lagi dengan namja idiot bernama Kai itu. Dari kejauhan, sudah tampak Halte bus dan segera aku berlari menuju Halte itu untuk menunggu Bis. Dengan penuh harapan aku berlari mendekati Halte Bus.

POV Author

Raya dudukan tubuhnya di kursi tunggu Halte Bus. Hatinya masih sedikit kesal dengan Kai yang membawanya kedalam daerah yang tak jelas ini. Waktu terus berlalu, sudah hampir 1 jam Raya menunggu kedatangan Bus menuju daerah rumah dirinya tapi tak ada satu pun orang berlalu lalang melewati halte tersebut. Udara dingin sudah menusuk-nusuk ditubuh mungil Raya. Sesekali ia menggosok lengannya sebagai alternatif untuk sedikit menghangatkan.

“Halte jaman apa ini? aish sial! Bagaimana aku bisa pulang eo?” Omelnya menepak-nepak tiang Halte. Udara dingin terus menusuk kulit halus yeoja berparas cantik nan putih itu.

Tak terasa, sudah menunjukan pukul 09:30 KST, Bus belum juga datang. Ini semakin membuat Raya muak! Membuat Raya merasa kesal! Akhirnya, Raya putuskan untuk mencari rumah masyarakat untuk menumpang menghangatkan diri sekaligus menanyakan alur jalan. Tapi sia-sia, tak ada satu rumah pun didaerah ini.”apa yang harus dilakukan kalau seperti ini?” Raya merengek sambil menghentak-hentakan kakinya diatas aspal yang diselimui oleh salju. “eothoke!!!!!!!!!!!!!!” teriak Raya mencabik-cabik baju mantel miliknya.

“kajja!” Seorang namja dengan sirgap menarik tangan Raya sekaligus mengejutkan Raya. Namja itu adalah Kai, suami Raya sendiri yang membuat dirinya tersesat entah dimana ia berada sekarang. Raya meringis kesakitan karena genggaman yang begitu kuat dilakukan oleh Kai dengan lengan kirinya.

“ya!! lepaskan! Sakit!” Raya berusaha berontak dan ingin lepas dari gandengan tangan namja yang Ia anggap pembawa masalah itu.

“kau ingin mati eo? Kenapa kau disini heh?” Kai menatap tajam Raya yang merengek kesakitan. Kai akui, Ia memang salah. Tapi dengan keegoisan yang Ia punya tetap saja Ialah yang benar! Bahkan dirinya seutuhnya menyalahkan Raya, Rayalah yang salah!

“ini semua karenamu pabo! Tempat macam apa ini hah? Tak ada rumah, hanya ada halte tua tak berguna saja!” kembali, gadis yang satu tahun lalu Kai nikahi mengomel lagi. Tak tahu berapa banyak energy yang Ia punya, dirinya tak pernah bosan untuk mengomel dan memarahi Kai.

“aku juga tidak tau” Ujar kai dengan santainya.

“Mwo!? Kau tidak tau? Kau yang membawaku kemari tapi kau juga tidak tau? Sial!” bentak Raya menunjuk-nunjuk wajah Kai. Lantas saja, Kai mengalihkan pandangannya dari yoeja agresif ini.

“kita salah masuk bis” balasnya lagi. Raya sudah tidak sanggup lagi untuk memarahi Kai yang bersifat seperti itu. Ia menyerah! Menyerah dalam memarahi Kai yang bila terus dibentak, dimarahi, disudutkan dan lain-lain maka Ia terus bersikap acuh tak acuh tak perduli.

“jadi kita harus bagaimana?” Raya.

“Molla”Kai. Raya melebarkan matanya dan menatap sini Kai.

“wae?”Kai.

“kau gila! Paboya!!! Aku ingin pulang” Rengek Raya sampai mengeluarkan air mata dari pelupuk kiri dan kanannya. Ini membuat Kai merasa khawatir, sebenarnya Ia bukan tak tahu, Ia hanya bingung sekaligus tak bisa berfikir jernih kali ini.

“ya! jangan menangis seperti itu. kita pasti akan pulang.” Bujuk Kai.

“tapi kapan… hiksss” Rengek Raya lagi.

“Entah lah!” Kai menolehkan wajahnya kearah lain dan tidak menatap wajah Raya yang sudah memerah sehabis menangis tadi.

Pov Kai

Omo, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tak tahu ini daerah apa. Kugarukan kepalaku yang sebenarnya tak gatal ini. Yoeja didepanku sudah merengek menutup wajahnya dan marah padaku. Aku memang Pabo! Kenapa sampai salah naik bis seperti ini eo? Sesekali ku pandangi yeoja didepanku. Ingin rasanya ku tarik tangan mungilnya dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya sejak tadi. Aku merasa kasihan dengan yoeja didepanku ini, karena kesalahanku mungkin, Ia menangis seperti ini. Ku putuskan mengajaknya pergi dan mencari perumahan di tempat lain dan menginap semalam.

“Kajja pergi” Kutarik tangan yang dingin itu berjalan meninggalkan jalan aspal yang dipenuhi salju putih. Ia masih menundukan wajahnya saat berjalan bersamaku. Tapi, ini memang salahku! Salahku!

“Ya! Jangan menangis! Cepatlah sedikit berjalan.” Aishhh kenapa aku tak bisa bersabar dalam menghadapi yoeja ini sih. Kenapa aku selalu membentak dirinya, ini sama saja aku menimbulkan masalah baru. Oke Kai, keep calm and bring your wife to the good place.

“Ya!!! Lepaskan Aku! Aku tidak kuat!! Tubuhku kedinginan! Memang kau peduli eo? Kau terus saja memarahiku dalam situasi seperti ini! Apa maumu!?” bentaknya kepadaku. Dia sukses membuatku terpojok! Sial!. Ini cukup membuatku tertegum dengan perkataan pedas yeoja ini. Dengan tidak memperdulikan omongannya, kulepaskan mantel bulu tebalku dan kulemparkan kepada yeoja itu.

“pakai!” suruhku padanya. 3 detik mungkin yeoja ini mematung dan membuatku kesal.

“ya! pakai cepatlah. Kau bisa kedinginan. Kajja” Ajakku kembali menyuruhnya cepat berjalan mencari rumah penduduk.

POV Author

Sampailah mereka disebuah perumahan kecil yang berada 100 meter dari tempat mereka berhenti. Kai mencoba mengetuk pintu rumah tersebut dan nihil! Tak ada balasan. Amarah kembali menyelimuti namja ini.

“Yaaaa!! Ada orang? Kami butuh tempat tinggal, 1 malam saja!!” teriak Kai dari depan pintu seraya menggedor-gedor pintu. Terdengar suara orang yang membuka kunci dari dalam rumah.

“ada apa? Kau ini, ini sudah malam.” Keluar seorang namja gendut tinggi dari rumah yang Kai dan Raya datangi.

“kami butuh tempat tinggal untuk beberapa hari. Kami tersesat, boleh?”

“oh kalian tersesat ya. oh baiklah, kumohon kalian PERGI dari sini!!!!!!!!!!!!!!” teriak ahjusi tua itu yang langsung membuat Kai terkejut dan mendengus pelan.

“Sudahlah Kai, ka..kaa…kaja kita pergi saja” suara Raya terdengar parau disertai dengan wajah yang begitu pucat akibat kedinginan.

“siapa dia?”ahjushi.

“Istriku. Jebal, istriku kedinginan. Kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan ahjushi, istriku…” Lekaki tua itu merasa iba dengan Kai dan mengizinkan mereka masuk untuk bermalam beberapa hari.

“Maaf, rumaku kecil jadi mohon memakluminya. Kalian bisa tidur disana, dikamar itu. ah ya, suruh istrimu memakai baju ini. ini mungkin bisa menghangatkan istrimu”

“oh ne, gamsahamnida ahjushi. Jeongmal gomawo.” Kai membungkukkan 90 derajat tubuhnya dihadapan ahjushi yang memberikan tumpangan untuk mereka. Masih nasib baik mereka tak mati kedinginan diluar sana.

At room

“Raya~ah pakailah baju ini.” Kai memberikan baju berlengan panjang tebal kepada Raya. Raya sedikit terkejut dengan perlakuan Kai hari ini, dirinya begitu sopan memanggil Raya dengan menambahkan Ah dibelakang nama gadis berparas cantik itu,

“Ne, kau keluarlah. Aku ingin ganti baju dulu”

“Arraseo” Kai keluar dari kamar dan menuju ruang tamu rumah ahjushi tua itu untuk menanyakan transfortasi kapan saja yang akan datang kedaerah ini.

Living Room

“anyeong haseyo ahjushi. Kim jong in imnida, panggil saja Kai. Eee aku ingin menanyakan tentang kendaraan yang berlalu lalang didaerah ini. Kapan biasanya angkutan umum melewati jalur ini?” Tanya Kai sambil menjulurkan tangannya  dan duduk disamping ahjushi  itu.

“Ne, Lee Jong Hyun imnida. 3 hari sekali biasanya angkutan umum di daerah ini lewat. Itu juga tidak menentu, kadang 1 minggu 1 kali dan bahkan sampai 1 bulan 1 kali” Kai membulatkan matanya dan menepak jidat halusnya dihadapan ahjushi.

“mwoyo? Mau sampai kapan aku disini ahjushi………”

“Kalau saja istrimu sehat-sehat saja aku tidak mungkin mengizinkanmu menginap disini. tapi karena musim dingin baru datang dan udara dingin juga sudah mulai menusuk kulit, ku izinkan kalian menunggu disini. arra? Berterimakasih lah padaku eo?”

“ne ahjushi.. aku juga tau -_- dan ahjushi tinggal bersama siapa disini?”kai.

“sendiri. Istriku sudah meninggal 3 tahun lalu. Dan beginila aku, masak sendiri, minum sendiri, tidur sendiri. Kalian pengantin baru?”

“tidak juga, sudah hampir 1 tahun. Ah ya, aku kekamar dulu.” kai berdiri meninggalkan ahjushi itu dan pergi menuju kamarnya.

At Room

Kai tijakan kakinya diatas ubin sederhana didalam kamar yang sudah disediakan ahjushi. Selagi Kai menutup pintu, terlihat Raya yang sedang menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala. Kai yang melihat kondisi Raya, langsung mendekati Raya dan bertanya tentang keadaan Raya.

“Raya~ah, gwaenchana?”

“…”

“Raya~ah, gwaenchana?” Kai meninggikan suaranya dan membuat Raya terkejut.

“aku dingin… dadaku sesak” ucapnya dengan suara yang serak.

“asmamu kambuh?”

“mungkin…”

“Kau tidur lah, aku akan menjagamu. Eee jika kau butuh sesuatu, katakan padaku.” Raya hanya diam dan menutup matanya mencoba untuk tidur.

Kai tumbangkan tubuhnya diatas sofa hijau yang berada dikamar yang sederhana itu. Sesekali Kai mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Pikiran Kai tetap tertuju pada Raya yang sedang terbaring sakit.

 

Pov Kai

Aku mencoba menutup mataku mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Pikiranku tetap tertuju pada yeoja yang sedang terbaring sakit kedinginan sekaligus asma yang sudah kembali kambuh. Aku sedikit heran dengan perasaanku sekarang, aku kasihan melihat keadaan yeoja itu. Serta, aku merasa bersalah selama ini sering bersikap egois dan menyakiti dirinya. Arloji hitam yang kupakai sudah menunjukan waktu 1:00 KST malam, tapi sama sekali aku masih belum bisa tidur. apa yang harus aku lakukan……

“Kai… tidurlah. Aku tidak apa-apa” terdengar suara serak menyeru namaku, dan itu adalah Raya.

“Ne” jawabku singkat dan berusaha kembali menidurkan diriku.

Pov Author

Akhirnya, Kai berhasil tertidur di sofa kamarnya itu. 2 jam mungkin dirinya bisa tertidur pulas disofa hijau itu, dan membuat dirinya terbangun saat mendengar nafas ter engah-engah terdengar di kuping kiri dan kanannya.

“Raya, kau tidak apa-apa?” ujar Kai mendekati Raya yang sudah susah bernafas di atas kasur. Wajahnya pucat, dan tubuh Raya terasa panas.

“hahkkkk hahkkk” Kai merasa bingung dan pergi meninggalkan kamar menuju kamar ahjushhi.

“Ahjushi!! Ahjushi!!!” Kai mengetuk pintu kamar ahjusi tua itu.

“wae?” dengan masih setengah sadar, ahjusi itu membukakan pintu.

“istriku raya, asmanya kambuh kembali. Adakah kau obat untuk memperbaiki nafasnya?”

“Kau beri saja nafas buatan. Aku ngantuk.” Ahjushi menutup kamarnya dan membuat Kai merasa bingung.

“KAU BERI SAJA NAFAS BUATAN” inilah kalimat yang berisi 5 kata di keluarkan oleh ahjusi tua itu. Kai masih bingung, apakah ini harus ia lakukan atau tidak. Tapi Kai berfikir ini karena dirinya, karenanya Raya mengalami kambuh. Dengan berfikir panjang, Kai memasuki kamar dan mendekati Raya.

“Raya, mianheee” Ucapnya dan langsung mengecup manis bibir Raya, tidak menggunakan nafsu tapi menggunakan perasaan untuk menyembuhkan Raya. 1 2 kali hembusan nafas masuk kedalam mulut Raya. Sedikit demi sedikit, nafas Raya kembali normal dan mampu mengendalikan nafasnya. Kai melepaskan ciuman nafas buatan untuk Raya secara perlahan dan menatap Raya.

“masih sesak?” Tanya Kai.

“aniyo. Gomawo” dengan suara yang masih serak dan parau. Tanpa berfikir panjang, Kai langsung mendekap Raya dipelukannya dan memeluk Raya semakin lama semakin kuat.

“mianhe” ucapnya kepada Raya.”kau begini karenaku. Maafkan atas sikapku” lanjut Kai. Raya masih terdiam mematung dipelukan Kai dan membalas pelukan Kai. 5 menit pelukan hangat itu tetap terjadi, perlahan Kai melepaskan pelukannya. Memegangkan kedua tangannya diatas bahu Raya dan menatap Raya dengan tatapan yang tajam.

“waeyo?” Tanya Raya terheran melihat Kai yang menatap tajam Raya. “Yak!!!!!!!!!!” teriak Raya menyadarkan Kai yang melihat dirinya dengan tatapan penuh kejahatan mungkin(?)

“Kumohon Kai, jangan lakukan kekasaran lagi padaku. Luka di tubuhku ini masih belum sembuh juga.” Sambil menunjukan lengan yang tergores 2 hari lalu akibat ulah Kai. Kai mendengus pelan, melepaskan pegangan tangannya dihadapan Raya. Bibirnya menandakan ingin berbicara sesuatu, tapi ia tahan! Tahan, dan rasanya tak ingin untuk mengeluarkan kata-kata itu.

“Raya~ah. Ini memang begitu sulit bagiku untuk menerimanya. Pertama-tama, terimakasih untuk selalu peduli padaku dan mengerti dengan keadaanku 1 tahun terakhir ini. ya, aku memang bersikap kasar, kurang ajar, dan masih banyak lagi yang aku lakukan padamu. Sebenarnya aku sama sekali tak membenci dirimu, tapi orang tuaku!Aku melampiaskan semuanya padamu. Aku benci cara mereka seperti ini menjodohkanku dengan seseorang yang sama sekali tak ku kenal. Tanpa adanya perkenalan terlebih dahulu, seenaknya saja mereka bilang bahwa besok adalah hari pernikahan diriku dan dirimu serta menyuruhku memutuskan kekasihku waktu itu. apa kau tahu soal itu? sebelumnya aku sudah memiliki yeojachingu. Aku merasa ini adalah permainan gila antara kedua keluarga besar kita. Merelakan anak mereka tersiksa seperti ini, tak bisa memilih jalan hidup yang nyaman dan bebas. Ini menyakitkan Raya~ah, apakah kau merasakan hal yang sama denganku? Tapi… aku berjanji, mulai sekarang ayolah buat suatu kenangan bersama. Ini adalah tahun terakhir hubungan perkawinan kontrak ini.” Kai menghentikan bicaranya dan meneguk saliva yang ada di mulutnya itu, dan mulai melanjutkan lagi.

“mungkin saat ini adalah anugerah dari tuhan, kita sengaja disesatkan didaerah entah apa namanya daerah ini. mungkin ini adalah pertanda dimana, kita bisa memulai kehidupan yang normal layaknya sepasang suami istri lain didunia ini. saling melindungi satu sama lain, peduli, dan setia bukan? bukan saling acuh tak acuh seperti biasanya. ya, aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, aku berjanji akan selalu melindungimu dan satu lagi, aku tak akan pernah lagi berbuat kasar denganmu. Perlakuanku selama ini sudah sangat-sangat keterlaluan, hingga melukai tubuhmu seperti itu. jadi sekarang kau mengerti maksudku eo? Arraseo?” Kai menatap Raya kembali  dan menunggu sebuah jawaban dari bibir manis Raya. Dan akhirnya, penantian beberapa menit itu membuahkan hasil. Respon diterima dengan senyum lembut dari garis bibir gadis itu.

“ne, gwaenchana. Aku selalu ingat perkataan ibuku sebelum aku menikah denganmu ‘layani suami dengan baik jika kau menikah nanti. Kepribadian baik wanita tampak dimata seorang suami dari cara dirimu memperlakukan suami seperti apa. Arra?’ jadi janganlah terlalu berlebihan seperti itu berterimakasih denganku. Ah ya, topic kita yang pertama? Hemmm aku tahu bagaimana perasaanmu saat itu, aku juga begitu. Pemaksaan perjodohan gila ini memang menyakitkan bagi setiap manusia yang mendapatkannya.. mana ada orang mau menikah dengan orang yang belum ia kenal bahkan untuk melihat saja tidak pernah bukan? aku sudah tau isi hatimu dari dulu tuan kim, hatimu itu penuh kebingungan! Dan itu salah satu mengapa aku selalu bersikap sabar menghadapi dirimu yang 1. Mempermalukanku, 2. Menyakiti perasaanku, 3. Menyakiti tubuhku dan masih banyak lagi malah. Tapi tak mengapa, aku sangatlah mengerti dengan perasaanmu. Ah ne, dan juga maafkan atas perkataanku saat dikamar waktu itu. dan perkataanmu tadi….tuhan memberikan kita anugerah dengan menyesatkan kita didaerah entah apa namanya ini dan mengajakku membuat sebuah kenangan dan menjalani kehidupan normal layaknya pasangan suami istri di dunia. Hemm araseo araseo… ayo kita mulai” ucap Raya dengan bersemangat merespond ajakan Kai kepada Raya. Kai tersenyum lebar, dan inilah senyuman pertama yang dilontarkan oleh Kai untuk Raya pertama kalinya.

“hem baiklah. Ayo, tidurlah. Sudah…” Kai memotong bicaranya sembari melihat arlojinya. Pukul 06:00 KST. Kai melebarkan kedua matanya dan menatap Raya.

“sebenarnya berapa lama aku menciummu?”Kai. Raya menyengir kepada Kai saat namja itu bertanya padanya dengan wajah sok polos.

“cukup lama.” Jawab Raya singkat.”kau mengambil first kissku u,u” lanjut Raya melipatkan kedua tangannya diatas dada. Kai tertawa cekikikan mendengar perkataan Raya dengan polosnya membuat Kai geli mendengarnya. “yaa pasangan suami istri didalam sana, keluarlah kalian sekarang. Sudah pagi masih saja bermesraan didalam” teriakan berat ala kakek-kakek sudah tua, itulah mungkin cara mendeskripsikan suara ahjushi.

***

Food Room.

 

Kai dan Raya berdecak kagum melihat makanan yang sudah tertata rapi diatas meja makan berbetuk oval ini. Tanpa berfikir panjang, Kai mendekati makanan itu dan ujung telunjuk serta ibu jari sudah menarik mie goreng cokelat dicampur dengan daging itu. “hush!!! Tidak sopan kau, tunggu ahjushi dulu. baru kau makan, kau ini masih saja tidak bisa sopan-_-“ omel Raya. Kai menghela nafas dan menuruti perintah istri hasil kawin kontraknya itu. tak lama, datanglah ahjushi tua dengan membawa sebaskom nasi yahh mungkin untuk mereka bertiga.

“ayo makanlah. Kalian belum makan dari kemarin eo? Dan… omo-_- yaa Raya shi, kenapa kau tak ambilkan nasi untuk suami mu itu hah? Jangan malu-malu melakukannya disini. Anggap saja rumah kalian sendiri” Kai yang mendengarnya langsung terhenti mengambil 1 cauk nasi untuknya. Tiba-tiba Raya menempis tangan Kai dan mengambil piring yang ada di tangan namja itu, lalu memberikan 2 cauk nasi.

“nahh kalau begitukan lebih enak dilihat.” Ujar ahjushi lega. Raya menghela nafas dan mulai mengambil nasi  untuk dirinya. Ia lirik Kai yang tertawa kecil melihat sikapnya barusan.

“apa perlu, aku ambilkan?” Tanya Kai kepada Raya. Raya tak memperdulikan omongan Kai, ia tetap mengambil Nasi.

 

***

Kesunyian terjadi lagi dihalaman depan rumah ahjushi tua. Hanya hembusan angin dan lenggak lenggok daun kelapa yang terdengar ditelinga mereka berdua. Ya, Kai dan Raya. Sewaktu-waktu, Raya menatap Kai yang sedang menekukkan lututnya serta memeluk erat lutut kurus kering itu.”posisimu sama seperti saat aku menangis karenamu dihalaman belakang rumah” gumam Raya dalam hati. Kai menatap Raya yang juga menatap dirinya. Ini adalah yang pertama kalinya Raya bisa duduk sedempet ini, saling bersentuhan badan dengan Kai, laki-laki angkuh yang ia kenal selama menjalani hubungan.

“Apa?” Tanya Raya membuang muka.

“Aniyo. Kau jelek!” eejek Kai sambil mengacak Rambut Raya yang masih tertata rapi sebelumnya. Raya langsung menimpas tangan Kai yang berada diatas kepalanya sambil mendongak.

“Yak! Rambutku! Lepaskan!” Teriak Raya sembari merapikan kembali rambutnya. Suasana kembali sunyi, tak ada suara ribut lagi. Semuanya diam, udara dingin sudah menusuk-nusuk kulit mereka. Terlebih Raya yang mempunyai kekuatan fisik yang lemah, gampang mendapatkan penyakit dan bakteripun gampang masuk kedalam tubuh mungilnya ini. Raya menggosok-gosok kulit dengan tangannya sembari menahan dingin yang sudah merasuk kedalam tubuhnya.

“Aku masuk dulu” Raya bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk masuk. Tapi gagal, Kai terlebih dahulu menarik tubuh mungil Raya dan langsung mendekap gadis mungil ini. Raya mengkedap-kedipkan matanya serasa terkejut sekaligus tak percaya dengan perlakuan Kai terhadapnya. Raya sama sekali tak berontak, “nyaman” gumamnya dalam hati. Dada Kai yang bidang sukses membuat Raya merasa nyaman dan ingin berlama-lama dipelukan laki-laki kurus tinggi ini. Terasa detakan jantung Kai yang terdengar ditelinga Raya, pertanda namja itu tampak grogi. Dada Kai terasa hangat dan nyaman, semakin lama ia terus mendekap Raya dengan dekapan yang lebih kuat, berusaha untuk menghangatkannya mungkin.

“apa terasa nyaman?” Tanya Kai yang masih mendekap Raya. Tak ad jawaban dari Raya, hanya anggukan yang menandakan bahwa dirinya terasa nyaman berada didekapan Kai,”Aku sebelumnya tak pernah mendekap ataupun memeluk yoeja. Bahkan yeoja pilihanku pun tak pernah kuperlakukan seperti ini” Lanjut Kai. Perlahan Kai melepaskan dekapan dirinya dan menarik tangan Raya untuk masuk kedalam rumah” yah, kenapa kau lepas” gumam Raya merasa kecewa. Kai memasukan Raya kedalam kamar dan menyelimuti yeoja yang bernama Raya.

“hem? Apa yang kau lakukan? Aku tidak sakit” Raya merasa heran. Kai tersenyum halus pada Raya sambil memainkan rambut panjang sebahu Raya itu.

“ya, kau ini kedinginan bukan? selimut ini hangat untuk dirimu” ujar Kai. Raya mendengus pelan. Pikirannya masih mengingat kejadian didepan rumah tadi,”pelukanmu lebih hangat dari ini” gumamnya sambil menatap Kai. Kai tersenyum pada Raya, entah lelaki ini memang bisa membaca pikiran seseorang atau apa.

“ya aku tahu, pelukanku itu lebih hangat dari ini” Raya langsung membulatkan matanya dan menutupi wajahnya dengan selimut. Rasa malu pasti ada, dan untuk kesekian kalinya Kai berhasil mempermalukan Raya dihadapannya. “laki-laki gila, tau dari mana dia kata-kata itu” omelnya dengan suara yang kecil didalam selimut, meskipun pelan tetap saja bisa didengar oleh Kai. Kai menyengir setan kepada Raya.

“aku keluar dulu.” Kai berencana untuk keluar meninggalkan Raya. Raya sedikit kecewa dengan perlakuan Kai yang dengan cepatnya meninggalkan dirinya. Raya yang masih ingin berlama-lama dengan Kai merasa kecewa. Raya membuka selimut itu dari tubuhnya dan melemparnya kelantai. Kai yang melihat perlakuan Raya seperti itu, tertawa kecil. Kai mengedipkan satu mata yang kontan membuat Raya salting.

“nanti malam.” Ujar Kai saat memutuskan menutup kenop pintu. Raya yang mendengarnya tersenyum lebar. Hatinya telah dipenuhi kupu-kupu yang memaksanya untuk keluar.

***

Matahari sudah menenggelamkan dirinya diufuk barat, siang telah berganti dengan malam. Terang telah berubah menjadi kegelapan. Raya masi terbaring lesu diatas kasur, enggan ingin keluar dari kamar. Tubuhnya terasa lemah. Ini bukan modus untuk memancing Kai datang kedalam dan melakukan adegan pelukan lagi. Tidak! Tidak sama sekali. Ini memang betul terasa sakit, menusuk, dan terasa dingin sekali. Selimut tebal yang menyelimuti tubuh Raya sama sekali tak mempan. Masih saja terasa dingin.

“ Raya~ah, sedang apa didalam?” Kai membuka kenop pintu membawa 1 kantong plastic merah berisi wine untuk menghangatkan tubuh. Seolah-seolah seperti melihat hantu, Kai menjatuhkan wine yang ia bawa dan berlari kearah Raya dan mendekatinya.

“Gwaenchanaseyo?” Tanya Kai sambil meraba wajah Raya yang begitu dingin.

“aha, kau sudah pulang” Raya mencoba untuk bangun dan bersandar. Dengan cekatan, Kai menolong Raya duduk untuk bersandar. Masih bisa memberi senyuman, Raya tersenyum pilu kepada Kai.

“kau kenapa? Badanmu dingin.” Kai memegang tangan Raya yang dingin untuk yang kedua kalinya.

“Aku hanya kedinginan. Tak biasanya aku merasa dingin yang cukup menusuk seperti ini”

“Benarkkah? Kau tidurlah saja. Kau mungkin butuh istirahat, arraseo?” Raya mengangguk dan membaringkan tubuhnya lagi diatas kasur. Dan pasti, Kai menolong Raya untuk membaringkan tubuhnya.

Detik sudah menunjukan 7200 detik. Dua jam sudah Raya tertidur pulas. Kai yang hanya bisa duduk manis disampingnya hanya menghela nafas melihat keadaan Raya.”kenapa fisikmu lemah sekali sih?” ucap Kai sambil melihat tubuh Raya yang sudah terbaring tak berdaya itu. Raya yang sebenarnya sudah bangun dari 5 menit yang lalu berpura-pura tak mendengar perkataan Kai. Raya membuka satu matanya untuk melirik Kai yang sedang mengoceh tentang dirinya.

“apa tadi kau bilang?” Ujar Raya sambil menutup kedua matanya. Dengan cepat, Kai menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan.

“apa tadi kau bilang? Ayo jawablah.” Ulang Raya.

“aku tidak bilang apa-apa” ungkap Kai dengan polosnya. Raya tertawa kecil melihat sikap Kai yang sudah mulai salah tingkah ini. Raya membalikkan tubuhnya dihadapan Kai dan menatap ciptaan tuhan yang sempurna ini. Kai mengangkat dagunya yang member isarat”apa”tapi Raya malah semakin menertawakan Kai.

“ayolah Raya, jangan bermain-main lagi. irona! Mandilah cepat” Raya terkejut atas suruhan Kai yang menyuruhnya mandi dimalam hari seperti ini.

“mwoyo? Kau gila! Aku bisa mati kedinginan tau”

“benarkah? Ya sudah, kau cuci muka saja eo? Kita pergi” Raya tersenyum lebar atas ajakan Kai.

***

“Mana mantel mu eo? Kau ini mau sakit lagi?” Tanya Kai saat melihat Raya keluar hanya menggunakan baju berlengan panjang disertai sarung tangan merah muda.

“oh iya. Tunggu sebentar” Raya kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil mantel.

“kajja”. Mereka tijakan kaki mereka diatas jalan aspal yang masih diselimuti salju itu. entah kemana Kai akan membawa Raya pergi, Raya tetap berjalan bersama Kai. Tangan mungil Raya begitu gatal untuk menggandeng tangan kurus Kai. Sesekali Raya melihat lengan Kai yang panjang bergerak santai kedepan dan kebelakang. Sementara Raya, memasukan kedua tangan mungil kedalam kocek mantel dikanan dan di kirinya. Terus berjalan tanpa henti mengikuti Kai berjalan yang entah kemana Raya akan dibawa.

“ayo pegang” Kai berhenti sekaligus mengejut Raya. Ia menyodorkan lengan kirinya untuk Raya bisa memegangnya.

“maksudmu?” Raya ikut berhenti.

“kau ini lama sekali. Nah seperti ini maksudku” Kai menyilangkan tangan Raya di pergelangan tangan Kai. Raya hanya bersikap pasrah atas perlakuan Kai kepada dirinya. Bukan hanya pasrah, inilah tawaran yang Ia tunggu sejak tadi.

Entah dimana mereka sekarang berada. Kai memberhentikan langkahnya dan menyuruh Raya menunggu untuk beberapa saat. Ia lanjutkan perjalanannya masuk kedalam rumah kecil bercat kuning itu. tak lama, Kai melambai-lambaikan tangan kurusnya mengiisyaratkan agar Raya datang menghampiri Kai.

“tempat apa ini?”Raya. Kai tersenyum kecil dan memegang erat tangan Raya.

“hem, aku juga tidak tau” Kai tersenyum melihat wajah Raya yang keheranan dengan tempat ini.

“kenapa wajah mu seperti itu?” Raya menepak bahu Kai seraya Kai merintih kesakitan.

“awwww… kau ini yeoja atau namja eo? Sakit sekali!” Kai menggosok-gosok bahunya yang baru saja dipukul oleh Raya.

Pov Kai’s

Sangat bahagia melihat senyum yeoja ini. baru kali ini, aku melihat senyum setulus dari wajah bulat gadis yang tengah duduk disampingku. Sesekali kupandangi begitu dalam wajah gadis ini dan ini….. ahh sialan! Jantungku berdegup kencang untuk yang kesekeian kalinya. Ya! Kau Kai shi, jangan berfikiran yang tidak-tidak okey!!

“Kai~ya, tak adakah tempat duduk disini? Aku ingin duduk, kaki terasa pegal” ujar gadis dihadapanku dengan sedikit mengkerutkan dahinya. Dengan cepat, kubawa gadis ini duduk dibawah pohon cemara yang sudah diselimuti dengan salju bewarna putih.

“ahh, eothoke? Duduk disini” Kubantu dirinya untuk duduk. Dan lagi, kutatap wajah bulat gadis ini. Dan lagi juga, jantungku berdegup kencang! Ingin meledak rasanya mungkin? Haha. Paboya!

“hm sedikit lega. Ah ya! kau lekaki gila! Kenapa kau membawaku disini eo?” Nada suara gadis ini sedikit ia tinggikan saat bicara denganku.

“ya kau gadis cerewet! Naega….ah lupakan!” Aku berusaha menahan perasaanku. Kugaruk kepalaku yang nyatanya tak gatal ini. Ini trik untuk mengalihkan pembicaraan yang kuanggap jika berhubungan dengan perasaan.

“ahh yaa, Kai-shi. Tak bisakah kau lepaskan tanganmu dari tanganku? Ini sakit sekali” Aku tak bergeming sama sekali. Dengan memejamkan sebelah mata, kutatap tanganku yang masih menempel erat ditangan mungil nan halus yoeja ini. ku lepaskan perlahan genggamanku dari tangan yeoja ini dan sedikit tertawa kecil.

“mianhe.. hehe” dan lagi, kugaruk kepalaku yang nyatanya….. tak gatal ini. Beberapa menit, keheningan terjadi dalam lingkungan sekitar kami. Aku tak berani membuka topik pembicaraan dahulu. Aku adalah namja yang tak bisa memulai sosialisasi dengan siapapun.

“Kai~ah…..” keheningan pecah saat gadis disebelahku membuka topic pembicaraan.

“hem?” jawabku singkat tanpa menoleh kearah yeoja disampingku. Dan lagi, “DEGGG” jantungku sudah mulai beraksi.

“jika masa perkawinan kontrak ini berakhir, apakah masih bisa kita saling mengenal dan berteman? Setidaknya seperti ini.”

Deg deg deg deg deg deg deg deg. Semakin kencang detakan jantungku saat mendengar perkataan yeoja itu.

“tentu saja. Tentu saja kita masih bisa berteman, bahkan kita masih bisa bertemu dan mengobrol seperti ini” kataku sambil menatap langit nan gelap gulita ini. Gadis disampingku tak bergeming sedikit pun saat mendengar jawabanku. Apakah dia tak puas dengan jawabanku? Aku bertanya-tanya. Kesunyian terjadi lagi, aku bingung ingin bicara apa dengan yeoja yang duduk disebelahku. Tanpa pikir panjang, ku dekap tubuh mungilnya dan membiarkan tubuhnya bersandar didadaku. Terasa detakan jantung yang tak karuan. Ia hanya diam dan sepertinya pasrah saja apa yang aku lakukan padanya. Kutundukan kepalaku melihat gadis yang kudekap sedari tadi. Air mata yang entah kapan membanjiri pipi gadis itu tanpa sepengetahuanku. “jangan menangis…” lirihku dan semakin mengeratkan pelukanku. Apa mungkin aku sudah gila melakukan hal ini? Ya tuhan… sebenarnya apa yang ada diotakku saat ini eo? Tak terasa, bajuku terasa lembab akibat air mata yang menderai didadaku. Tetap kubiarkan, biar gadis yang berada didekapanku puas, puas meluapkan segala amarah yang tertimbun dan menjanggal dihatinya.

“menangislah sepuasmu” ucapku menepuk-nepuk punggungnya layaknya seorang ibu menidurkan anak tersayang. Perlahan, Ia lepaskan pelukanku. Dan dengan cepat Ia menghapus air mata yang sedari tadi berlomba-lomba menuruni pipi halusnya. Kulontarkan senyum ketulusanku padanya, okey ini pertama kali aku tersenyum pada yoeja ini.

“hahaha.. apa yang aku lakukan? aku menangis eo?hiks hiks” walaupun air matanya sudah Ia hapus dari pipinya, tetap saja isakan tangis masih membekas. Aku melihatnya dan……cupppppppppppp aku mengecup ujung kepala gadis disebelahku. Ia pejamkan matanya semacam ikhlas dengan apa yang telah kulakukan. Perlahan, semakin kuturunkan ciuman itu. Dari kening, hingga hidung, dan terakhir bibir. Aku tak melumatnya, karena aku masih tahu diri. Aku tak pantas seperti itu, aku harus bersikap sopan padanya. Dengan hanya mengecup bibirnya tanpa lumatan dan bermodalkan perasaan mungkin itu sudah cukup.

“Kai~ah………” lirihnya memanggil namaku.

“waeyo?”

“Jebal….. tetap berada disisiku untuk sementara waktu” ucapnya dan jelas saja membuatku tertegun. Aku tak percaya apa yang Ia katakana padaku barusan. Tanpa ragu-ragu aku mengangguk mengIYAkan permintaannya. Dan juga, kusimpulkan malam ini adalah malam permulaan dimana aku  sudah mulai merasa nyaman berada disamping yeoja yang bermarga Park ini.

The last day in uncle house

POV Raya.

Huh, hari ini aku dan Kai akan kembali pulang ke Seoul. Dimana kota kebanggaanku akan kudatangi kembali. Aku merindukan tempat itu, dan juga aku rindu rumahku bersama Kai. Pakaian yang pertama kali kupakai hingga kesini, sudah terpakai lagi sekarang. Aku tidak enak memakai baju Ahjuma yang sebenarnya sudah ditawarkan oleh Ahjushi untuk aku memakainya. Oh ya, kemana lelaki itu? sejak pagi aku tak melihat batang hidungnya. Dirinya yang setiap malam membaringkan dirinya diatas sofa hijau didalam kamar dan biasanya saat ini Ia masih bermain-main didalam mimpi, entah ada angin apa Ia sudah tak ada disana. Aku putuskan untuk keluar dari kamar dan melihat keadaan diluar. Aku tak tahu sama sekali dengan keadaan diluar, karena aku tak keluar dari kamar sejak kemarin. Dan….. wow daebak! Kai yang dengan tampang cool sudah duduk manis disofa. Ia melambai tangannya padaku dengan memamerkan gigi rapinya untukku.

“Anyeong~…..” sapanya. Dan tentu saja, aku membalasnya dengan senyuman yang lebih sumringah dari itu. Dia sedikit menyeringai melihat senyumanku untuknya, haha. Kenak kau! Senyumanku berhasil membuatmu die haha. Aku duduk disampingnya dan menanyakan pertanyaan jika dipagi hari.

“sudah mandi?” aku mengelus bajunya dan sedikit mencium aroma tubuhnya, dan ini menandakan bahwa dirinya sudah mandi.

“tentu saja, wangi ditubuhku sudah bertebaran dimana-mana” ucapnya sedikit menggodaku. Aku tertawa kecil tentu saja dengan tepakan halus dari tanganku sukses membuatnya berhenti menggodaku. Entah ini hanya perasaanku saja atau apa, rasanya bahuku memiliki beban. Kulirik kesamping kiriku dan jeng jeng!!! Kepala lelaki itu sudah terjatuh di bahuku.

“Kai~ah, berat sekali. Irona, pali” ujarku mengangkat kepalanya dari bahuku.

“diamlah, biarkan seperti ini sebentar” lirihnya dan sekaligus membuatku berhenti mengangkat kepalanya dan menghindar. Cukup lama Ia jatuhkan kepalanya dibahuku, entah apa rasanya berada dibahuku ini, entahlah! Mungkin terasa nyaman untuknya.

“Kai~ah, jam berapa Bis datang menjemput kita?” aku memecahkan keheningan.

“mungkin sebentar lagi.”jawabnya tanpa menatapku, masih saja mematung dengan kondisi menyenderkan kepalanya dibahuku.

Pov Author

Brem..brem… sudah terdengar suara gas mobil yang menandakan Bis sudah siap membawa mereka ke Seoul. Dengan hanya bermodalkan pakaian hangat, mereka berpamitan dan tentu saja berterimakasih untuk semuanya. “Ahjushi, Gamsahamnida.. Jeongmal” mereka berdua membungkukkan badannya berpamitan.

In The Bus

“Kai~ah, untunglah kita mendapatkan tempat duduk. Walaupun paling pojok seperti ini” Ujar Raya memecah keheningan lagi.

“ne tentu saja. dan jika ada yang melecehkanmu lagi, akan mati ditempat mereka karena kuhabisi” Kai sedikit menyombongkan diri.

“hahaha. kau jangan terlalu berlebihan!”

“aniyo.. aku tidak berlebihan, dan juga jika tak ada diriku mungkin harga dirimu sudah hilang akibat ulahnya” dan lagi, Kai menyombongkan diri sambil mendekatkan wajahnya dihadapan Raya.

“ne..ne..ne… kau memang hebat!” Raya menyerah juga akhirnya.

At Home

Kai dan Raya memasuki koridor rumah dengan perasaan lega dan terselip juga kerinduan. Mereka berdua berpisah dipersimpangan rumah. Raya kenanan menuju kamar depan, dan Kai kekiri menuju kamar lamanya. Kai tak sadar sudah berjalan sendiri sejak tadi. Dengan melirik sedikit kesebelah kanan, Kai langsung sadar bahwa Raya sudah tak ada.

“mwo? Kemana wanita itu” Kai bingung sambil menoleh kiri dan kekanan. Kai baru teringat bahhwa mereka sudah pisah kamar sejak seminggu yang lalu. Dengan cepat Kai menghampiri Raya yang sedang berganti baju didalam.

“Raya~ah…” Ia munculkan kepalanya kedalam kamar sambil menyapa Raya yang sedang berganti pakaian.

“Neo jinja!!! Aku sedang ganti baju!!” teriak Raya saat Kai masuk kedalam tanpa menggedor pintu terlebih dahulu. Kai yang terkejut saat Raya meneriakinya dengan cepat menutup pintu dan bersandar dipintu bagian luar.

“apa yang tadi kulihat?” Kai mengacak-ngacak rambutnya frustasi akibat kejadian yang terjadi barusan. Pertama kali dalam hidupnya melihat Raya tanpa menggunakan pakaian.

“Kai~ah, masuklah” teriak Raya dari dalam. Kai pun masuk kedalam dan tanpa ragu-ragu Ia jatuhkan badan kurusnya dikasur berukuran queen itu.

“apa yang kau lakukan?” Tanya Raya berusaha menarik tangan Kai untuk bangun. Sayang, kekuatan Raya tak mampu ditandingkan dengan kekuatan Kai yang terlebih dahulu menarik tubuh Raya hingga membentuk posisi Raya berada  diatas badan Kai. Raya membulatkan matanya dan berusaha untuk bangun menghindari Kai.

“Ya!! Kai~ah, irona!!” Peduli apa Kai? Tetap saja menahan Raya yang sekarang berada diatas tubuhnya.

“tak bisakah kau kecilkan suaramu? ini sungguh memakakkan telingaku!” ucap Kai menurunkan Raya dari atas tubuhnya. Raya hanya mematung saat Kai menurunkan dirinya, terbaring mematung dikasur dan masih memikirkan kejadian yang terjadi barusan. Kai terkikik setan melihat tingkah lucu Raya yang mengeluarkan ekspresi blo’on itu.

“aku lapar”Kai.

“lalu?” jawab Raya tanpa menoleh sedikit pun ke Kai.

“Ya! kau ini istriku, harusnya kau urusi aku. Aku belum makan dari rumah ahjushi”

“arraseo. Keluarlah dulu.” suruh Raya.

Food Room

Raya dengan senyum tulusnya meletakan makanan yang Ia buat diatas meja untuk Kai. Kai berdecak kagum melihat masakan Raya yang tak terlalu mewah tapi mengesankan itu. tanpa menunggu Raya, Kai cauk 1 sendok 2 sendok nasi, dan itu membuat Raya menggeleng-geleng kepalanya.

“sikapmu masih saja belum berubah” ujar Raya mendudukan tubuhnya dikursi tepat disamping Kai.

“sama-sama, makanan yang enak” Kai. Raya menyeringai mendengar ucapan Kai.

“sejak kapan aku masak itu tak enak eo? Kau saja yang tak mengakuinya”

“kau menyindirku ya?”

“bisa jadi” Raya mengunyah makanannya tanpa memperdulikan Kai yang nampaknya sudah kesal dengan ucapan Raya. Sesekali Raya melirik Kai yang memanyunkan bibir tebalnya dihadapan Raya. Ini cukup membuat Raya terkikik melihat Kai.

Night

Kesunyian terjadi dikamar depan, jelasnya dikamar Raya. Ia tak bisa tertidur karena cuaca dingin yang merasuk kedalam kulit halusnya.

“aku rindu pelukan namja itu” ucapnya seraya menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut yang cukup tebal.

“jinjayo?” suara yang taka sing ditelinga Raya sukses mengejutkan Raya.

Pov Raya

“aku rindu pelukan namja itu” ucapku seraya menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut yang cukup tebal.

“jinjayo?” suara yang taka sing ditelingaku mengejutkanku. Dan sudah kutebak, itu adalah Kai. Masih dengan sikap yang tak pernah berubah, Ia selalu menyelonong masuk kekamarku. Tanpa peduli sedikitpun dengan kegiatanku didalam. Contohnya saja tadi, Ia memasuki kamarku saat aku sedang ganti baju. Omo-_- ia melihat semuanya.

“apa yang kau lakukan disini eo?” bentakku tanpa melihat wajahnya. Aku tak mampu karena harus menanggung malu untuk yang kesekian kalinya. Tanpa ragu-ragu Ia jatuhkan tubuhnya dikasurku. Aku menoleh kearahnya dan menerjang tubuh kurusnya itu agar ia tak tidur diranjangku.

“ya kai shi! irona! Kau punya kamar sendiri!”

“ya! kau ini istri sahku! Ini hakku meniduri kamarmu. Kamarmu, tentu saja kamarku juga” DEG, jantungku rasanya ingin meledak mendengar perkataan namja kurus ini. sejak kapan Ia mengakuiku sebagai istrinya didepanku.

“heh?” ujarku. Ia hanya menyeringai kepadaku saat ini dan tetap tertidur diranjangku.

Ia menarik tanganku  dan langsung mendekap tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya Ia lakukan ini kepadaku. Seenaknya saja Ia lakukan itu padaku. Aku berusaha menghindar tapi tak bisa. Ia mendekati wajahku hingga tertinggal beberapa inci saja dihadapanku. DEG, jantungku berdetak kencang. Kupejamkan mataku dan mulai mengikhlaskan semuanya pada Kai. Ia mencium bibirku, tapi ini beda. Ia menciumku dengan lumatan, penuh nafsu! Dan juga, Ia menggigit bibir bawahku. Kini posisinya diatas badanku. cukup berat juga, tapi tak terlalu. Mungkin pengaruh ciuman namja ini. kuberi celah untuknya, tanpa ragu Ia menelusuri isi mulutku. Bermain-main dengan lidahku. Dan sampailah ketitik dimana aku tak mampu menolak/tidak boleh dipublikasikan/.

 

ONE YEAR LATER……

Pov Raya

Ku fokuskan tatapanku ke Handphone milikku yang memiliki wallpaper bergambar dirikku dan Kai. Rasa rindu tersirat dihatiku saat melihat foto ini. Mengingat besok adalah hari dimana kami harus mengakhiri hubungan ini dengan gampangnya, dengan hanya memberi tanda tangan disebuah lembaran kertas bermaterai kami SAH berpisah alias bercerai seumur hidup. Kupeluk erat Handphoneku dan tak terasa, air mata telah jatuh dari pelupuk mataku. Mengingat sebuah kata-kata indah dari dirinya yang membuat jantungku memaksa untuk berdegup kencang, dan sukses membuatku terhanyut kedalam kesedihan tak ingin terpisah dari dirinya. Adakalanya aku berfikir, pilihan yang bukan pilihan kita adalah sesuatu yang bisa membuat hidup kita berubah lebih baik ataupun lebih buruk mungkin? Aku merasa pilihan orang tuaku memang salah awalnya, tapi setelah menjalani semua ini, ini semakin terasa bahwa pilihan orang tuaku memang salah! Karena mereka, tumbuh bibit-bibit cinta yang pastinya akan tumbuh dihatiku kepada namja gila itu, dan karena itu juga aku harus ikhlas melepas kepergian namja gila itu juga. Oh tuhan…. Eothokeeeeeeeeeeeeee. Isakan tangisku tak tertahan lagi. Sudah hampir jam 12 malam, aku menangis dikamarku menahan tangisan yang tak mampu lagi kubendung.

“aku akan berjanji padamu, aku akan menjadi suami yang baik untukmu” ini, kalimat pertama dirimu yang kau lontarkan dari bibir manismu. Aku tak akan pernah melupakan kalimat ini yang terdengar dari saluran telinga kiri dan kananku.

Tolong, beri aku waktu untuk menjalani ini semua. Ini begitu sulit, kumohon” kalimat kedua yang cukup meyakinkan hatiku bahwa kau sanggup menjadi suami yang baik untukku.

sudahlah, kau tenang. Aku akan melindungimu dari sesuatu yang menjatuhkan harga dirimu” kalimat ketiga yang mampu membuktikanku, bahwa Kai sudah menjadi suami yang baik untukku saat itu. dengan melindungiku dari perlakuan atau pelecehan sexual yang terjadi di Bus 1 tahun yang lalu. Mataku sudah meninggalkan kantung mata dan sekaligus membuat mataku merah merona. Aku tak bisa tertidur memikirkan semuanya.

bisakah aku hidup tanpa kau disisiku?”

“bisakah aku membuka hatiku untuk orang lain?”

“bisakah aku melupakanmu?”

“bisakah aku melupakan semua kenangan indah bersamamu?”

“bisakah kau kembali padaku dan menjalani hubungan secara reality?”

Hatiku terus bertanya-tanya. Akan kah aku baik-baik saja tanpa dirinya disisiku. Kucoba menutup mataku untuk melupakan sejenak namja idiot yang sukses merasuk kepikiranku saat ini.

“So Goodbye Don’t cry and smile
gaseum sirideon sigandeul
moduda bonaejulgeoya
So Goodbye eodumsok oerobdeon na
nan nega piryohae
I need your love again

mae-il tto geuraewat deusi
apeun sangcheowa seulpeun gi-eokeul
jiwogadeon na
neol cheo-eum bon geu sungane nan
meomchundeuthaetgo nan neoman boyeosseo
geochinsiryeone muneojyeo gajiman
huhoeneun eobseul geot gata
dununeul gameumyeon ni sumgyeori neukkyeojyeo
ijeneun nan useul su isseo

So Goodbye Don’t cry and smile
gaseum sirideon sigandeul
moduda bonaejulgeoya
So Goodbye eodumsok oerobdeon na
nan nega piryohae
I need your love again

geochinsiryeone muneojyeo gajiman
huhoeneun eobseul geot gata
dununeul gameumyeon ni sumgyeori neukkyeojyeo
ijeneun nan useul su isseo

So Goodbye Don’t cry and smile
gaseum sirideon sigandeul
moduda bonaejulgeoya
So Goodbye eodumsok oerobdeon na
nan nega piryohae
I need your love again

So Goodbye Don’t cry and smile
himgyeobdeon sigandeul
neol wihaeseo neol wihae ijeobolkkeoya
So Goodbye eodumsok oerobdeon na
nan nega piryohae
I need your love again

nan nega piryohae
I need you for my love”

 

Next day

 

Yah! Harinya sudah datang, Aku dan Kai harus berpisah kali ini. Dirinya sudah berada di kantor hukum untuk mengurusi surat perceraian kami. Aku putuskan untuk tidak pergi dan aku menyuruh dirinya untuk mewakiliku. Aku tak mampu bangun dari tidurku dan rasanya aku ingin terus menangis diranjang ini. Tak kuat menahan kesedihan yang melanda hidupku. Dan akhirnya, kuputuskan untuk bangkit dan mengemasi semua barang-barangku yang ada dirumah Kai ini. Aku tak sanggup lagi berlama-lama disini. Dengan mata yang masih kembang dan meninggalkan kantung mata ini tetap dengan tekadku untuk pergi meninggalkan namja itu.

“yaa!!” suara yang tak asing ditelingaku ini sentak mengejutkanku. Ya, dia Kai. Dia mendirikan badanku dan tanpa ragu-ragu mengecup mata kiri dan kananku yang merah ini. kupejamkan mataku menerima kecupannya, ku anggap ini adalah ciuman terakhir sebagai ciuman perpisahan. Dan tanpa ragu juga, ia kecup bibirku dan melumatnya secara kasar. Oh tidak, ini tak kasar, semakin lama ini semakin lembut. Lumatan bibirnya membuatku terbawa olehnya. Perlahan ia lepaskan ciuman tulus itu dari bibirku.

“haljima! Aku tak akan pergi meninggalkanmu”

“maksudmu?”

“kubatalakan perceraian kita, Jebal! Tetaplah berada disisiku”

“heh?” Aku semakin bingung dengan perkataan namja idiot ini.

“Ayo, berikan lagi” ia mencoba merayuku.

“ani!!!!!!”

Dengan paksa ia menarik kepalaku dan menyentuhkan bibirnya dibibirku. Dengan lumatan yang lebih lembut ia lakukan padaku. Tak peduli dengan apa yang terjadi sekarang, yang jelas Kai sudah sah menjadi suamiku. Ini bukan palsu lagi, tapi REAL! Kenyataan yang menghampas kehidupanku yang dulunya merasa kelam berada disisi namja ini.

 

9 month later

Perutku sudah membuncit, terasa beban berjalan-jalan kemana-kamana. Kontraksi sudah sering terjadi dengan diriku sekarang. Menurut dokter, hari ini adalah hari dimana aku diprediksikan akan melahirkan bayi hasil perbuatan malam itu.

“Kai~ah… sakit sekali……..” ucapku menahan sakit yang tak sanggup lagi kutahan.

“wae?wae?!” Kai panik sambil mengelus-elus perutku.

“molla.. jebal Kai~ah!!”

“sepertinya kau akan melahirkan, kajja kita kerumah sakit” Kai menggendongku sampai kedalam mobil dan wajahnya mengiisyaratkan bahwa dirinya khawatir.

In Hospital

Pov Author

“ayo agashi.. sedikit lagi…” ucap seorang dokter. Dengan wajah yang memerah, Raya mencoba untuk mengeluarkan jabang bayi yang sudah akan keluar. Raya mencengkram kuat tangan Kai yang berada disampingnya.

“ayo Raya~ah, sedikit lagi” ucap Kai sambil mengelus kening yang sudah bersimbah keringat itu.

30 minutes later….

Usai sudah, permata yang paling beharga dihidup mereka telah selamat dan ibu dari permata itu pun sudah terbaring lega dikasur rumah sakit. Tak lupa, seorang lelaki berparas tampan itu tetap setia menemani istri yang tengah terbaring lega itu.

“anak kita sangat lucu yah”Kai.

“hem” jawab Raya singkat.

“wae?! Kau tak senang Ia lahir didunia ini?”

“bukan begitu. Tapi kau menggenggam tanganku terlalu kuat! Sejak tadi tak kau lepaskan, ini sakit paboya!” dengan cepat Kai melepaskan genggamannya.

“aku ini kan suamimu pabo! Kenapa jadi tak boleh memegang tangan istri sendiri?” Kai sambil memanyunkan bibirnya.

“hahaha. yak Kai~ah..”

“apalagi? Adakah yang harus kulepaskan lagi eo?”

“saranghae…….” Raya sedikit bangkit dari baringnya dan mengecup ujung kepala Kai.

“cih. Apa-apan ini? seenaknya saja menciumku!” Kai masih tetap memanyunkan bibirnya.

“hahaha. kau begitu tampan bila marah seperti ini..” Raya mencoba merayu Kai.

“cih! Aku ini memang sudah tampan dari oroknya!”

“Hahahaha. Saranghae ahjushi…………………..”

“mwo? Ahjushi? Neo jinjja!!” Kai mencubit pipi Raya dan sukses membuat pipi Raya merah merona. Tak lupa, kecupan tulus dari bibirnya mengecup tangan halus Raya.

“kenapa ditangan? Disini!” menunjuk kening. Kai menyeringai.

“Ya Raya~ah” Kai menatap Raya nakal.

“hem?”

“ayo membuat anak lagi!! hahahahaha”

“Yakkk kau Kai~ah!!!!!”

END

 

Ahahaha eothoke? Jelek yah? Gaje? Sudah gua duga dari awal-_- ini memang FF gaje yang bisa dibilang WOW coba-coba untuk membuatnya. Oh iya, maaf juga yaa endingnya semacam gila—“ hihi. Okey, maafkanlah segala kesalah ane okey? Dan jangan lupa I NEED YOUR COMENT. Thanks

Iklan

36 respons untuk ‘I Can’t Explain What I Feel

  1. cerita nya bagus tpi kdg buat kesel dgn c kai dgn prlkuan ksr’a tpi bgs dan tak percya dgn ending nya di kira ending akn sdih tpi happy ending ….
    Sungguh mengharukan dan membahagiakan ..
    He he he ….

  2. Min kenapa ga buat sad ending sih? Aku malah lebih sukaan gitu ‘-‘
    Dan coba cek fanfic ini belum isi rating, coba dikasih ratingnya semacam 18+ atau nc soalnya gatau kan di bagian endingnya ada yang ga cocok dibaca buat bocah hehehe
    Segitu aja deh min dari aku, ga maksud menggurui, tapi aku suka kok ff nya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s