Fallen Leave (Chapter 4)

Judul: Fallen Leave

Nama Author: Vianri Novia

Genre: Romance, Angst, School-Life

Main Cast:

– Lee Minyu (OC)

– Kris Wu

– Kim Suho

– EXO

– Kim Himchan (additional)

(ps: sebelumnya maaf di part ini flashback pemeran utama sama Himchan, tapi tetap kok pemeran utama di fanfic ini tetap adalah si OC, Suho, dan Kris. Hehehehe >.< enjoy~ ^^)

______________________________________________________

Suho melemparkan tatapan kosong pada jalan yang dilaluinya. Dia tak tahu ke mana kakinya akan membawanya, dia hanya berjalan saja.

[Flashback]

“Jadi?” tanya Kris menaikkan alis.

“Ba…baiklah….” jawab Minyu agak tak yakin.

Kris tersenyum penuh kemenangan. “Jadilah budak di rumahku.” katanya.

“Mwo?!” sembur Minyu tak percaya. Raut terkejut juga terlihat di wajah member EXO. Kai membuka mulut membentuk huruf O. Kyungsoo sudah menampakkan ekspresi O___O. Lay menoleh ke Chanyeol. Baekhyun, satu-satunya protagonis di EXO, mulai menampakkan wajah panik. Dan Suho..ehem…dia tentu saja adalah orang yang paling terkejut dari semuanya. Suho terlihat ingin menghentikan Kris namun tentu saja dia tak melakukan itu. Dia menatap iba pada Minyu. Wanita itu tak mau dikasihani, namun Suho tahu, wanita itu sebenarnya lemah.

“Aku akan membayarmu 5 kali lipat dari gajimu dulu.” kata Kris. Minyu terdiam.

Kris menaikkan alis. “Maaf, tak ada waktu menolak, kau sudah bilang mau mengikuti penawaranku tadi.” kata Kris. Lalu dia berdiri dan menghampiri Minyu. “Setelah pulang sekolah, kau bisa membereskan semua barang-barangmu dan pindah ke rumahku, tentu budak harus sigap 24jam bukan?” tanya Kris, lalu dia menepuk pundak Minyu dan berlalu dari tempat itu, meninggalkan Minyu yang freeze.

-flashback end…

“Hei kau…” panggil suatu suara serak dan lemah.

Lamunan Suho buyar, dia menoleh. Dijumpainya seorang kakek yang sedang memegang sapu dan memakai baju penyapu jalanan *apa itu author gak tau namanya yg kayak seragam warna orange itu pokoknya(?)*.

Suho terperanjat, dia menghampiri kakek itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Suho dengan wajah khawatir. “Mana kantor pekerja sosial? Biar aku beritahu mereka karena mereka telah mempekerjakan pria lanjut usia…” gumamnya.

“Ah…aku tak apa-apa kok, nak.” kata kakek itu dengan suara lemah. Dari kondisinya, Suho memprediksi usia kakek itu sudah hampir 80 tahun, dia sudah terlihat lemah dan rapuh, namun yang membuat Suho tak tahan adalah pria itu masih memegang sapu dan memakai baju pekerja sosial. Rasa empati datang dari batin Suho. Dia paling tak suka ada orang yang memperdayai orang yang lemah.

“Kau baik sekali, nak..” ujar kakek itu lemah. Suho menopangkan tangannya pada punggung kakek tua itu.

Suho tersenyum, senyum malaikat. “Tak apa-apa, kakek. Aku…hanya terkejut melihat kakek bekerja di sini, kau harusnya beristirahat di rumah..” katanya. Walaupun itu kata-kata biasa yang diucapkan orang kalau menolong orang lain, namun kata-kata ini benar-benar ingin diucapkan Suho dari dalam batinnya. Dia benar-benar memaknai kata-kata itu.

“Kelak masa depanmu akan sukses, nak…” kata kakek itu.

Suho tersenyum lagi. “Iya, kakek.” jawabnya lembut.

Seolah bisa membaca pikiran Suho, kakek itu menatapnya. “Tidak..aku serius… Dahulu aku adalah seorang peramal.” kata kakek itu. Senyum Suho perlahan pudar, menjadi senyuman yang kaku. Jujur saja dia tak terlalu percaya pada ramalan.

“Ya..amin, kek…” jawab Suho dengan senyum bersahabatnya. Tatapan matanya pada kakek itu sangat hangat, senyumannya sangat tulus.

“Kau akan menjadi orang yang berhasil nantinya..” kata kakek itu. Suho tersenyum, menghargai apa yang dikatakan kakek itu. “Namun untuk urusan asmara…..” kakek itu berhenti. Senyum Suho meredup. Tiba-tiba dia memikirkan soal Minyu. “Kau sudah telat.” kata kakek itu.

Bagaikan petir di siang bolong, Suho menoleh. “Ma….maksudnya….?” Entah sejak kapan Suho jadi percaya pada apa yang dikatakan oleh kakek ini.

Kakek itu memandangi Suho dengan mata sayunya, lebih seperti tatapan iba. Dia menunjuk ke dada Suho, tempat jantung pria itu berdetak di dalamnya. “Ketakutan dari sini…yang membuatmu kehilangan kesempatan itu..” katanya. Suho hanya diam. Apa yang dimaksud kakek ini? Suho masih belum bisa mencerna. “Ingat, jodoh tak akan datang 2 kali…dia sudah datang…kau sendiri yang membuatnya datang padamu…namun kau menjauhinya karena ketakutan dalam dirimu sendiri….” kata kakek itu. Suho menunduk. Apakah benar Minyu takkan datang lagi padanya. “Jodoh itu seperti kereta. Sekali dia berhenti di stasiun, kalau kau telat atau mengabaikannya….dia akan pergi dan meninggalkanmu…takkan menoleh lagi….” kata kakek itu.

Sepintas rasa penyesalan berkelebat di hati Suho.

“Dia takkan bersamamu.” kata kakek itu menepuk pundak Suho. Suho menoleh, seperti ada guntur yang menyerang hatinya. “Namun jangan khawatir…kau bisa memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk mendapatkannya lagi..” kata kakek itu. Suho menunduk, raut wajahnya menunjukkan kesedihan. “Walaupun akhirnya kau akan punya kesempatan untuk bersama dengannya lagi…” gumam kakek itu dengan suara berbisik dan kecil, bahkan Suho pun tak mendengar gumaman itu.

“Jangan berkecil hati….” kata kakek itu.

Suho perlahan tersenyum. “Tak apa kok kakek…” katanya, seolah terlihat ingin menutupi kesedihannya. “Ngomong-ngomong ini sudah hampir senja, kau tak pulang?” tanyanya. Rasa kepeduliannya terhadap sesama ternyata jauh lebih besar dari perasaannya terhadap Minyu untuk sekarang ini.

“Ah…iya juga….” pria tua itu mendongak dengan lemah dan melihat matahari sudah di barat. “Kalau begitu aku pulang dulu. Kau juga hati-hati ya, nak…” kata kakek itu.

“Mari kuantar, kek.” kata Suho.

“Ah…tak perlu….” ujar kakek itu.

“Tapi aku hanya ingin mengantarkanmu…” ujar Suho.

“Aku tahu maksudmu baik, tapi terima kasih…aku akan pulang sendiri.” kata kakek itu. “Oh iya…dan ingat selalu…percaya pada dirimu sendiri…hilangkan rasa ketakutanmu itu…. Karena itu bisa menjadi momok yang menakutkan bagi masa depanmu nanti….” kata kakek itu.

Suho termenung, menatap kosong ke jalan. Benar, dia tak boleh takut. Dia harus memperbaiki hubungannya dengan Minyu. Namun dia teringat saat pesta ulang tahun dia. Itu seperti tanda penolakan Minyu padanya. Apakah sejak saat itu Minyu sudah menjauhinya?

“Ehm, tapi….” Suho ingin bertanya pada kakek peramal itu dan menoleh. Kakek itu telah hilang. Suho menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan Minyu dari pikirannya. Apakah kakek itu sudah pulang sekarang. “Kuharap dia bisa pulang dengan semangat…” gumamnya. Lalu Suho teringat akan niatnya dari awal. Dia buru-buru berlari ke suatu tempat yang ingin dia kunjungi sekarang.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seseorang yang mengenakan seragam kerja berwarna biru.

Suho duduk di depan meja kerja orang itu. “Benarkah….ini kantor pekerja sosial?” tanyanya.

“Iya, ada yang bisa kami bantu?” tanya orang itu.

“Aku…ingin bertanya. Apa kantor ini mempekerjakan orang lanjut usia…?” tanya Suho.

“Kami tak membatasi umur berapa saja untuk pekerja sosial ini.” kata pekerja itu. “Namanya juga pekerja sosial, kami hanya menarik orang-orang yang dengan sukarela ingin bekerja, namun tentu saja kami memberikan berbagai tunjangan.” kata orang itu.

Suho terdiam.

Minyu menarik napas panjang. Awalnya dia hendak menolak penawaran Kris, namun terpaksa dia menuruti penawaran pria itu. Bukan karena bayaran berlipat ganda, namun karena Minyu ingin bertemu dengan orang tuanya. Dia ingin sekali melihat siapa ayah dan ibunya, bagaimana wajah mereka, apakah mereka mirip dengan Minyu atau tidak.

Akhirnya Minyu sampai di depan rumah Kris. Rumah itu cukup besar.

“Permisi…” sapa Minyu pada seorang satpam(?) yang berjaga di sebelah pintu.

“Ah…kau pasti Lee Minyu pembantu baru itu kan?” tanya satpam itu.

Kata ‘pembantu’ cukup menyakiti hati Minyu, karena selama ini dia hidup di bawah hinaan orang, namun dia masih bisa bertahan karena harga dirinya dan prestise nya. Harga dirinya itu yang dibangunnya sendiri, puing-puing keangkuhan itu dibangunnya perlahan, hingga membuat suatu tembok yang membatasi dirinya dengan orang-orang di luar, yang membuatnya terlihat menakutkan dan disegani. Namun sekarang, demi bertemu orang tuanya, hancurlah ‘tembok’ yang dibangunnya beberapa tahun itu.

“Iya…” jawab Minyu pasrah dipanggil pembantu.

“Hmm….” satpam itu membuka pintu gerbang. “Masuklah, tuan sudah menunggumu dari tadi di ruang tamu..” katanya.

Minyu menunduk memberi hormat, ini tak pernah dilakukan Minyu sebelumnya, namun menyadari dirinya tak memiliki apa-apa sekarang, membuat Minyu berpikir, bersikap angkuh bukanlah sesuatu yang bisa dilakukannya sekarang. Satpam(?) itu membimbing Minyu berjalan ke rumah.

TOK TOK TOK.

“Tuan, Lee Minyu sudah datang.” kata satpam.

“Suruh masuk.” terdengar suara dari dalam dan Minyu tahu itu suara siapa.

Satpam membuka pintu dan Minyu masuk, lalu pintu tertutup.

“Untuk apa kau hanya berdiri?” tanya Kris. Minyu melemparkan death glare kepada Kris, lalu dia berjalan mendekati Kris, masih dengan koper yang dibawanya.

“Mulai hari ini kau bekerja di rumahku, ingat ada beberapa peraturan yang harus kau turuti. Mungkin kau berpikir kalau kau melanggar peraturan ini, kau akan kupecat. Tenang saja, kau takkan kupecat, tapi akan kuberi hukuman sesuai dengan pelanggaranmu…” kata Kris, menajamkan pandangannya kepada Minyu. “Pertama, setelah pulang sekolah, kau harus langsung  pulang ke sini dan melakukan tugas-tugasmu. Kedua, kau wajib membangunkan aku sebelum ke sekolah. Ketiga, ini rumahku pribadi, rumah ini cukup besar untuk ditinggali sendiri, jadi kuharap kau bisa membersihkan rumah ini dari lantai satu sampai lantai tiga setiap harinya.” katanya. Minyu membelalak. Orang gila macam apa dia ini?! “Keempat, kau harus menurut semua perintahku…” katanya.

Perasaan Minyu agak tak enak. Dia memandangi Kris dengan gelisah.

“Kelima, aku sudah mengundang koki mahal untuk memasak makan pagi, siang dan malamku, jadi kau tak perlu memasak untukku kecuali bila aku memintamu.” katanya. “Oh ya, dan yang terakhir……jangan memandangiku seperti itu, aku majikanmu.” kata Kris dingin. “Dan….satu lagi. Aku akan menggajimu bulan depan…jadi kuharap…..kau bisa bertahan dengan uangmu dulu karena aku tak menanggung uang makanmu. Pokoknya kau di sini hanya sebagai budak, arasseo?” tanya Kris menaikkan kepalanya dengan nada mengintimidasi.

Minyu mengangguk pelan. Peraturan ini sangat membuatnya terlihat hina. Tapi demi bertemu orang tuanya, semua gengsi dan ego ditepisnya. Baru kali ini seumur hidupnya, Minyu merendah di depan orang lain. Sejak di panti asuhan, dia tak membiarkan satu orang pun mengintimidasinya.

“Kau bisa mulai kerja sekarang.” katanya lalu beranjak pergi. Minyu menarik napas panjang. Dia harus memulai dari mana ya? “Oh iya.” Kris berbalik.

“Hm?” Minyu menyahut.

Suho berjalan, masih dengan pandangan tak percaya. Dia baru kembali dari kantor pekerja sosial tadi. Dia berjalan dengan langkah tak menentu, melemparkan tatapan kosong pada jalan yang dilaluinya.

[Flashback]

“Ehm…begini…tadi aku sedang berjalan di sekitar jalan Namdong, dan aku melihat ada pekerja sosial seorang kakek tua sedang menyapu. Ya…memang penjelasanmu masuk akal, namun yang kulihat di situ, adalah seorang pekerja sosial yang sudah sangat tua renta….sekitar umur 80tahun.” kata Suho. Sang karyawan menaikkan alis, terlihat bingung. “Ya…aku tak memaksamu namun….aku hanya ingin memberitahu, kasihan pria itu. Bukankah seharusnya dia berhenti kerja dan beristirahat? Maksudku…ini kan lembaga pemerintah. Kalian tentu bisa memberinya dana pensiun setiap bulan. Ya…..ini aku bilang untuk keb—”
“Maaf.” sela karyawan itu. “Tapi sebelumnya…tadi kau bilang…kau melihat pekerja yang kau sebutkan itu di mana?” tanyanya.

“Di jalan Namdong.” jawab Suho.

Karyawan itu mengernyitkan dahinya. Dia lalu membuka lacinya dan mencari sesuatu, akhirnya dia mengeluarkan sebuah pigura dan memperlihatkan itu pada Suho. “Apakah orangya yang ini?” tanya karyawan itu.

Suho membelalak. “Ya benar!” foto kakek itu terpampang di pigura itu.

Lalu orang itu memasukkan pigura itu ke lacinya lagi. “Ehm..jadi begini…kakek ini memang adalah pekerja sosial di tempat kami. Namun 2 tahun yang lalu, ketika beliau sedang menyapu di jalan Namdong, beliau menjadi korban tabrak lari orang tak bertanggung jawab di jalan. Orang-orang sekitar mengusahakan yang terbaik, namun ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, detak jantungnya melemah dan dia telah pergi selama-lamanya sebelum sampai ke rumah sakit.” kata karyawan itu. Suho membelalak. Tak percaya apa yang didengarnya itu. “Bukan cuma kau yang melapor seperti ini, ada beberapa orang yang melapor seperti ini sebelumnya, mereka juga melihat sosok kakek Jung.” lanjutnya.

Suho hanya gulped dan menampakkan wajah pucat. “Bi…bisakah…kau ceritakan sedikit tentang kakek itu..?”

“Kami biasa memanggil kakek itu dengan sebutan Kakek Jung. Beliau dahulu adalah peramal terkenal. Namun setelah semakin tua usianya, cara bicaranya menjadi ngelantur, dia bahkan meramal siapa saja yang ada di dekatnya. Bukan ramalan bagus, namun ramalan yang buruk. Dan mulai saat itu dia dikucilkan…. Tapi dari laporan, semua ramalan dia biasa tepat.”

-flashback end…

Jadi…benar kakek itu adalah seorang peramal? Suho tak tahu, apakah dia harus percaya apa kata peramal itu atau tidak, namun entah mengapa dia menjadi gelisah sekarang.

Tiba-tiba ada seorang anak yang berlari mendahului Suho. Suho melihat anak kecil itu. Anak kecil itu berlari menghampiri seorang wanita yang sedang berbicara dengan polisi dengan raut wajah panik.

“Mama!” panggil anak itu.

“Ah anakku!” wanita itu berlari dan memeluk anaknya lalu menggendong anaknya. “Terima kasih Tuhan, akhirnya anakku kembali…” kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca, menahan haru. “Kau tak kenapa-kenapa kan nak?” tanya wanita itu.

Anak itu menggeleng. “Aku tak apa-apa, berkat kakak itu…” anak kecil itu menunjuk ke arah Suho.

Suho terkejut, lalu ditengoknya di belakang, sosok yang dikenalnya, Lee Minyu, wanita itu sedang tersenyum pada anak kecil itu. Lalu Minyu berjalan menghampiri orang tua anak itu, tanpa melihat Suho.

“Tadi aku melihat anak ini menangis di depan supermarket.” kata Minyu.

“Ah, terima kasih!” kata wanita itu terharu. “Aku tak tahu bagaimana harus membalasmu….ah…” wanita itu kemudian merogoh tasnya dan mengambil dompetnya, wanita itu kemudian mengeluarkan sejumlah uang. “Ini karena kau telah menemukan anakku.”

“Ah…tak perlu…” Minyu menjauh.

“Ambil saja…” wanita itu memaksa.

“Tak perlu…” kata Minyu. “Aku sedang buru-buru, maaf.” Minyu berbalik dan mencoba menghindari wanita itu. Namun yang membuat terkejut Minyu adalah saat dia langsung berpapasan dengan Suho yang tersenyum di depannya *bayangin lagi nengok tiba2 ada cowok ganteng lg senyum /nosebleed/(?)*. Minyu gasped(?).

Suho lalu merangkul bahu Minyu, Minyu masih membelalak. “Maaf, aku sudah menunggu kekasihku untuk makan malam dari tadi.” katanya tersenyum.

“Ah….baiklah…” kata wanita itu.

“Baiklah, kami pamit dulu ya…” kata Suho. “Annyeong….” dia tersenyum melambai-lambaikan tangan pada wanita dan anak kecilnya itu, lalu masih dengan posisi merangkul bahu Minyu, dan berjalan ke suatu tempat.

Sementara itu Minyu masih membatu.

Ternyata Suho membawa Minyu ke suatu tempat yang disukainya, Han River. Mereka duduk di bangku di tepi sungai Han sambil memandangi keindahan sungai itu di malam hari.

“Ini adalah tempat kesukaanku…” kata Suho. Minyu perlahan menoleh pada Suho, lalu dia memandangi sungai Han lagi. “Kalau aku stress, aku akan ke sini.” lanjutnya.

Tiba-tiba terlantun sebuah musik pelan. Ya, memang setiap malam selalu diputar lagu love song di tepi sungai Han, karena tempat ini populer bagi mereka yang ingin menyatakan perasaannya atau bertemu kekasihnya.

Lagu yang diputar ternyata adalah lagu Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou.

Why did I end up falling in love with you?

Suho memandangi wajah Minyu. Wajah lelah dan dingin itu. Masih lekat di ingatan Suho bagaimana Minyu di pesta ulang tahunnya waktu itu. Minyu, aku janji akan membuatmu kembali menjadi Minyu yang sebenarnya, batin Suho. Tiba-tiba pikiran Suho melayang ke masa itu….

No matter how much time has passed…

I still thought you were here…

Suho menyesal karena dia tak bisa menemukan Minyu secepat itu sebelumnya. Kini mungkin semua sudah terlambat. Minyu tumbuh menjadi gadis yang dingin…karena itu…karena ada masa yang ‘hilang’ itu….

Since that day I first met you…

I felt like I already knew you…

You and I melded into each other so smoothly…

Ingatan Suho melayang ke masa itu…saat dua orang anak kecil bermain bersama. Suho percaya pada love at first sight sejak masa itu. Karena dia yakin sekali…cinta tak mengenal umur dan waktu….

Why did I end up falling in love with you?

Mengapa Suho harus jatuh hati kepada wanita ini? Terkadang Suho berpikir…. Tak ada yang tahu Suho menangis setiap malam, membayangkan kesalahan masa lalunya. Karena dia…karena perbuatan dia sendiri…seorang gadis lemah tak mendapatkan tempatnya yang sebenarnya. Karena Suho…gadis itu kehilangan kehidupannya yang sebenarnya, tumbuh menjadi sosok lain. Dan mengapa gadis yang malang ini haruslah orang yang dicintainya…….

How we were before…

We can’t return it anymore…

Dia tahu dia takkan bisa memutar waktu lagi. Sekarang dia harus mengembalikan kenangan itu ke wanita ini.

“Ehm…. Minyu…” panggil Suho.

Minyu menoleh, dia baru menyadari seberapa dekat jaraknya dengan Suho sekarang. “Hm?” tanya Minyu dengan ekspresi straight face. Tatapan mata wanita itu…bukan tatapan yang sebenarnya. Suho tahu wanita itu harusnya memiliki tatapan yang hangat, bukan tatapan kosong seperti ini.

“Aku…—”

“Kau di sini rupanya?” tanya seseorang yang menghancurkan suasana itu dan Suho berjanji akan mengutuk orang itu. Mereka berdua menoleh ke asal suara, dan Suho terkejut karena itu adalah Kris.

“Aku menunggumu dari tadi. Aku tak bisa mandi karena sabun ku habis, dan sekarang aku menemukan kau disini berdua dengannya?” tanya Kris sambil melipat tangannya dan melemparkan tatapan dingin.

“Kau bisa berbicara lebih baik padaku kan?” tanya Minyu mengernyitkan dahinya.

“Oh….kau berani bilang seperti itu padaku?!” Kris menghampiri Minyu. Lalu dia menarik Minyu dengan kasar. “Ingat, kau budakku sekarang, ayo pulang! Kau harus dihukum!” serunya.

Minyu hanya pasrah mengikuti Kris, dia berjalan tanpa berbalik pada Suho. Jujur Suho merasa bodoh karena tak menolong Minyu saat itu. Lalu Suho berdiri dan hendak berseru, namun dia terkejut karena Minyu menarik tangannya dari tarikan Kris.

“Tapi aku tetap bisa bertemu orang tuaku kan?” tanya Minyu. Wajahnya terlihat penuh kekhawatiran, karena dia sekarang berharap pada pria tinggi ini, pria yang memberinya harapan namun tak tahu bisa mewujudkannya atau tidak.

Kris terdiam. Suho hanya memandangi wanita itu. Tak ada Minyu yang dingin lagi sekarang, Minyu yang sekarang adalah Minyu yang harga dirinya rela diinjak demi bertemu orang tuanya. Dan lagi-lagi ini menyakiti hati Suho.

Kris menoleh. “Kau…mau mengikutiku dan ‘mungkin’ memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang tuamu, atau tidak sama sekali?” tanyanya, lalu dia berjalan menuju ke mobilnya.

Minyu menunduk. Dia pun pasrah mengikuti Kris ke mobilnya.

Suho lalu terduduk di kursi sana. Dia tak mau menoleh ke belakang lagi, melihat Minyu, itu akan semakin menyayat hatinya. Tanpa disadarinya, matanya berkaca-kaca. Sungai Han yang indah kali ini menjadi sungai yang gelap bagi Suho. Air matanya jatuh. Untungnya malam ini Sungai Han cukup sepi, tak ada yang melihat air mata yang turun dari seorang pria. Ya….sama seperti tak ada yang tahu…seberapa cintanya dia pada Minyu…..bahkan dia sudah mencintai wanita itu sebelum wanita itu mengenalnya…….

Lagu Doushite masih mengalun mengiringi tangisan Suho yang diam.

But still, even if I’m nowhere near you anymore.

I’m praying that you may be happy for eternity.

No matter how much that would make me lonely.

No matter how lonely….

Keesokan harinya, seperti biasa, hari sekolah. Kris sudah bilang, dia akan ke sekolah naik mobilnya, sedangkan Minyu harus berjalan seperti biasa.

Jangan sampai mereka semua tahu kita tinggal bersama, aku tak mau mereka tahu aku tinggal bersama gadis yatim piatu miskin sepertimu.” desis Kris.

Ingin sekali Minyu meninju wajah Kris saat dia berkata seperti itu. Namun Minyu ambil sisi positifnya, kalau tak ada yang tahu mereka tinggal bersama, berarti tak ada yang tahu juga kalau Minyu adalah pembantunya Kris. Jangan sampai mereka tahu. Kalau sampai mereka semua tahu, maka Minyu sudah pasti diinjak-injak, takkan ada lagi Minyu yang disegani, karena harga diri yang dia bangun selama ini akan runtuh menjadi berkeping-keping.

“Cih…ternyata Minyu itu mantan tuan Himchan…itu loh adik kepala sekolah!” kasak-kusuk siswa-siswi saat Minyu memasuki koridor sekolah. Tentu saja Minyu bisa mendengar itu, dia cukup terkejut. Namun akhirnya dia teringat, satu-satunya orang yang mengetahui ini adalah Kris. Rasanya Minyu ingin sekali meretakkan gigi pria itu sekarang, namun dia teringat posisinya sebagai pembantu.

“Kau tahu tak mengapa mereka putus?” bisik siswi lain.

Astaga…bahkan cerita hubungan mereka pun sudah diketahui banyak orang.

“Semua yang dialami tuan Himchan sekarang adalah karena dia….” bisik siswa lain menatap sinis pada Minyu. “Aku tak menyangka dia wanita seperti itu…”

Namun Minyu terus berjalan dan mengabaikan mereka semua. Dia sudah lelah. Nasi sudah menjadi bubur, harus kepada berapa banyak orang dia menjelaskan kalau dia bukanlah wanita seperti itu.

Jam pertama dia harus sudah ada di ruang auditorium. Drama lagi. Namun ketika Minyu hendak membuka pintu, Minyu mendengar dari dalam.

“Sebelumnya aku ingin memberitahu kalian sesuatu dulu. Tuan Himchan tak datang 2 hari ini karena dia masih di rumah sakit.” kata tutor. Minyu terhenyak mendengar itu. Sejak kapan? Kemarin dia tak ikut latihan drama, dia pasti sudah ketinggalan suatu berita. Minyu mencoba untuk menguping lagi. “Seperti yang kita tahu, dua hari yang lalu, setelah latihan drama jam pertama, beliau langsung pulang–”

“Bukannya katanya beliau berbicara dengan Minyu dulu?” tanya seseorang murid.

“Ya, setelah berbicara dengan Minyu, beliau langsung pulang, dan saat pulang beliau mengalami kecelakaan di jalan. Luka beliau sangat parah, untungnya warga yang melihat kejadian langsung membawanya ke rumah sakit dan akhirnya bisa tertolong.” kata tutor. “Nah, setelah pulang sekolah, bagaimana kalau kita menjenguknya ke rumah sakit?” tanyanya. “Kalau ada yang mau ikut, nanti ikut aku saja ke sana setelah makan siang, ke Rumah Sakit Seoul, kamar nomor 702. Karena jam besuk adalah jam 1 siang.”

Minyu tercengang. Dia berjalan mundur. Lalu dia berlari di koridor sekolah, sampai dia tertabrak pada seseorang.

“Minyu?” panggil orang itu. Minyu mendongak. Suho. “Mengapa kau di sini? Kau…tak mengikuti kelas drama?” tanya Suho.

“Ma…maaf….aku buru-buru…..” kata Minyu. Lalu Minyu berlari keluar sekolah. Suho memandangi gadis itu sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.

“Baiklah sekarang semua sepertinya sudah berkumpul di sini…” kata tutor.

“Mian, aku telat…” Suho memasuki auditorium, lalu dia berjalan menghampiri kerumunan.

“Ah baiklah, Minyu mana?” tanya tutor.

Semua orang menggeleng. Suho melirik ke Kris, namun pria itu tetap menaikkan kepalanya dan menampakkan ekspresi tak mau tahu.

“Baiklah kalau begitu kita latihan tanpa Minyu dulu, karena waktu sudah mepet.” kata tutor. “Oh iya Suho, tuan Himchan tak bisa datang karena dia kecelakaan ya, dia sekarang ada di rumah sakit.” katanya.

Suho terdiam. Tadi dia melihat Minyu keluar dari sekolah. Jangan-jangan…….

“Aduh…ini Minyu bagaimana sih?” gumam tutor cemas. “Hei, tadi kau bertemu Minyu tidak di luar?” tanyanya. Semua anak drama sekarang sudah sibuk sendiri. Ada yang berlatih  vocal sendiri, ada yang

“Ehm…” Suho terkejut. “Ah….ti….tidak…..” katanya.

“Mungkin sulit bagi dia ya, Suho..” kata tutor. Suho mendongak. “Apa kau tahu sesuatu tentang hubungan dia dengan Himchan?” tanyanya.

Suho membelalak. Bagaimana bisa tutor tahu hal ini?!

“Kau kan teman baiknya…” goda tutor. Lalu dia menghela napas panjang. “Aku juga tak tahu sebelumnya, namun dunia begitu sempit ya… Aku tahu kabar ini tadi pagi, anak-anak membicarakannya. Aku jadi merasa bersalah padanya…. Pasti canggung sekali berlatih drama di depan mantannya.” katanya. Suho masih berpikir dari mana anak-anak bisa mendapatkan info ini. Apakah Minyu tahu kalau info ini sudah tersebar? Suho tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Minyu kalau dia tahu kisahnya ini tersebar. “Ternyata Minyu dan Himchan dulu berasal dari sekolah yang sama. Aku tak menyangka dia tega berselingkuh dengan adik kelasnya…” katanya.

Suho membelalak. Bagaimana bisa bagian ini juga tersebar? Ok, Suho mungkin tak tahu apakah part ‘berselingkuh’ itu benar atau tidak, namun dia sangat penasaran siapa yang menyebarkan kisah ini kepada mereka semua. It’s too rude. Perhatian Suho langsung tertuju pada pria tinggi yang sedang melipat tangannya, Kris.

Lalu Suho menghampiri pria itu.

“Hei, aku mau berbicara empat mata denganmu.” kata Suho dengan nada dingin. Jarang sekali Kris mendengarkan sepupunya itu berbicara dengan nada dingin.

“Di sini saja.” ujarnya tak kalah dingin.

“Kau yang menyebarkan semua itu?” tanya Suho.

“Kalau iya memang mengapa?” jawab Kris acuh tak acuh.

Suho memandang tak percaya. “Mengapa….?” tanyanyai.

Kris menunduk sebentar dan memasang ekspresi belagu(?). “Dia adalah budakku sekarang, dia di bawah kekuasaanku, jadi terserah aku dong?” tanya Kris.

Dan di luar dugaan, Suho melontarkan tinjunya ke wajah Kris hingga pria tinggi itu terkejut dan ambruk. Seisi ruangan terdiam melihat itu, terutama anak EXO yang mengetahui kalau mereka berdua adalah sepupu.

“Kau licik, Kris!” pekik Suho. Semua orang terkejut, Suho yang terlihat sabar, memekik? Suho terlihat sangat marah. Lalu dia berlari keluar dari auditorium. Semua orang masih terdiam melihat kejadian itu. Ada apa ini?

Sementara itu Tao, Lay, dan Luhan datang menolong Kris.

“Aku tak apa-apa.” jawabnya menepis tangan-tangan yang ingin menolongnya dengan dingin. Dia kemudian berdiri sendiri. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. “Kau akan mendapatkan balasan setimpal…” desis Kris, lebih seperti bergumam.

Jujur, dia tak tahu apa yang dikatakan oleh Suho. Namun apapun itu, itu pasti ada hubungannya dengan Minyu. Sebenarnya Kris yang sekarang masih Kris yang bodoh, Kris yang lambat dalam mengerti sesuatu. Namun Kris ingin membangun image nya lagi. Dia ingin membangun image Kris yang angkuh, Kris yang dingin, Kris yang menguasai segalanya. Sejak dia pindah ke sekolah ini…tepatnya sejak dia bertemu dengan wanita bernama Lee Minyu itu, dunia seakan terbalik. Dia tak tahu apa yang terjadi, namun mulai sekarang dia berharap dia bisa terus seperti ini. Dia mau membatasi dirinya dengan wanita itu. Ya…dia tak mau seorang pun tahu…kalau dia…sebenarnya…sudah menyimpan sedikit rasa terhadap wanita itu….

Orang itu membuka matanya, dia sedang berada di dalam mobilnya. Dia rupanya sedang menyetir. Ah untung saja dia tak ketiduran, rasanya kepalanya berat sekali. Dia melihat ada lampu merah, dia pun menginjak rem nya. Namun tak berfungsi. Apakah rem nya blong? Orang itu panik, semakin dia menginjak pedal rem, mobilnya melaju semakin cepat. Apakah ini?! Di mana pedal rem mobilnya?! Dia mencoba menginjak pedal yang satu lagi. Sama. Keduanya pedal gas.

Orang itu sudah panik. Dia merasa bulu kuduknya meremang. Dia menoleh ke sebelahnya dan terkejut. Minyu, ada di dalam mobil itu. Dengan wajah pucat dan kusut. “Aku membencimu…..Kim Himchan….” kata gadis itu, tatapannya kosong dan dingin. Lalu dia menampar Himchan, persis seperti kejadian saat Himchan memanggilnya ke ruang tamu sekolah itu. Hingga akhirnya Himchan baru tersadar dia masih mengendarai mobil dan ternyata dari samping sudah ada truk.

“AAAaAAA!!!!!!!!!!!!!” teriaknya membelokkan mobilnya, namun semua terlambat.

Himchan membuka matanya. Detak jantungnya 3kali lebih cepat daripada biasa. Dia yakin sekali tadi itu nyata sekali. Detak jantungnya masih berdegup kencang, dan dia merasakan ada keringat di tubuhnya. Lalu dia terdiam beberapa saat. Sudah 2 hari sejak dia di rumah sakit, dia bermimpi buruk, masih terbawa trauma. Namun bukan itu yang membuat hatinya terluka sekarang. Dia melihat keadaan sekitarnya. Sepi. Selama dia di rumah sakit dari 2 hari yang lalu, tak ada satupun dari anggota keluarga atau keluarganya yang menjenguknya.

Sebenarnya Himchan adalah seorang pria yang mengidap syndrome dari kecil. Hidupnya memang terlihat sempurna. Harta, tahta, wanita, semua seolah menempel padanya. Namun dari kecil dia adalah anak yang sering ditinggal orang tuanya. Mereka semua sibuk kerja dan kerja terus. Saat Himchan kecil meminta waktu ayah atau ibunya sebentar saja, mereka pasti tak punya waktu. Bahkan waktu Himchan sakit sampai di rumah sakitkan, orang tuanya hanya menitip Himchan pada suster yang ada.

Hati Himchan kosong. Dia tumbuh menjadi anak yang angkuh, yang otoriter, padahal sebenarnya dalam hatinya dia mengais perhatian dari orang sekitarnya. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Sunhwa. Wanita itu cantik, putih, baik hati, lembut, seperti wanita biasa. Namun satu bulan setelah menjalin hubungan kasih, ternyata Sunhwa berselingkuh, dengan Seungho, temannya sendiri. Sejak saat itu dia menutup hati untuk wanita. Sampai 2 tahun kemudian, dia melihat anak beasiswa baru bernama Lee Minyu. Pertama dia tertarik pada Minyu karena penampilan wanita itu. Namun setelah mengenal wanita itu, wanita itu tetap jutek. Sampai akhirnya wanita itu pun luluh pada Himchan. Himchan menyatakan perasaannya pada Minyu satu minggu setelah berkenalan. Tentu saja Minyu menolak, tapi itu tak membuat Himchan menolak, Himchan pun terus mendekati wanita itu sampai akhirnya dia luluh.

Namun waktu itu Minyu masih terlalu egois, dan polos. Masih ada banyak pertimbangan lagi. Himchan bingung, apakah harus mengakhiri hubungan ini atau tidak. Tapi dia mau Minyu berubah menjadi sosok yang lebih baik lagi.

Namun tak disangka, keputusannya merubah kehidupannya selamanya. Minyu tak menoleh lagi dan tak kembali lagi padanya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Himchan menoleh. Detak jantungnya berdegup kencang lagi. Lee Minyu? Wanita itu membatu di samping pintu, menatapnya dengan tatapan kosong. Himchan kemudian membuang wajahnya, ini semua pasti hanya fatamorgana. Sejak kejadian itu dia terus bermimpi yang buruk tentang dirinya dan Minyu selalu muncul juga dalam mimpi buruknya itu. Ini pasti mimpi lagi, dan aku sedang tidur lagi, batin Himchan.

“Nona! Jangan masuk dulu! Ini belum jam besuk!” ujar seorang suster masuk ke kamar Himchan.

Apakah ini mimpi? Minyu? Datang ke sini? Tunggu! Dari mana wanita ini tahu kalau dia ada di sini? Bukankah seharusnya wanita ini sedang sekolah sekarang?! Himchan blinked beberapa kali dan mencoba menelaah, apakah ini mimpi atau bukan.

“Maaf nona, jam besuk untuk pasien adalah nanti siang jam 1 siang.” kata suster.

Bukan mimpi? “Biarkan dia masuk ke sini.” kata Himchan dengan nada mengintimidasi. “Aku menunggunya beberapa hari ini.” katanya.

“Ah…baiklah…..” suster itu agak tak enak. “Ada yang bisa kubantu lagi?” tanyanya.

“Tolong bantu aku duduk…” kata Himchan.

Suster itu pun mendekati Himchan dan membantu pria itu untuk bangkit, sekarang dia dalam posisi duduk di kasurnya. “Ada yang bisa kubantu lagi?”

“Sudah, terima kasih.” jawab Himchan.

Suster itu pun kemudian pamit dan keluar menutup pintu kamar Himchan.

Minyu berjalan mendekati tempat Himchan duduk berbaring(?) *apaini*. Himchan menatap wanita itu. Tetap sama, Minyu yang lusuh. Namun kali ini ekspresi wanita itu berbeda. Dahinya berkerut. Sorot matanya memandang cemas. Dan yang mencengangkan, tak ada aura keangkuhan lagi dalam diri wanita itu. Entah mengapa Minyu yang ada di depannya adalah Minyu yang rapuh dan lemah. Himchan tak tahu apakah wanita ini hanya sekadar berakting atau bersungguh-sungguh.

“Ada apa lagi kau ke sini?” tanya Himchan dengan nada dingin.

Minyu terdiam sebentar. “A…aku………—-” Diam. Himchan menatapnya sekarang, menunggu apa yang ingin diucapkan wanita itu. Minyu menutup matanya dan menghela napas. Lalu membukanya lagi. Melakukan eye contact dengan Himchan. Seumur hidup Himchan, dia tak pernah melihat mata Minyu yang seperti ini, seolah tersihir oleh sorot mata Minyu, Himchan pun berasumsi ini semua benar, bukan akting Minyu. “A…aku……” Minyu masih stuttered. “A………..” Minyu terlihat gugup. Dia terdiam, lama, matanya memandang ke bawah dengan gelisah, memikirkan sesuatu. Sepertinya ada berjuta-juta kegalauan di hatinya. “Aku…hanya ingin memastikan keadaanmu…” katanya lalu mendongak dan melakukan kontak mata lagi. Lalu dia tersenyum, senyum tipis, dan Himchan bersumpah itu adalah senyuman paling mengenaskan dari Minyu yang pernah dia lihat. “Kau baik-baik saja….” kata Minyu. Hening. Tak ada topik. “Baguslah…… Aku…balik lagi  ya…….” katanya, lalu berbalik. Namun tangannya ditahan oleh Himchan *author sinetron abis ya*. Himchan menarik wanita itu ke pelukannya. Dia sudah tak peduli kalaupun Minyu akan menamparnya karena ini, karena sekarang dia benar-benar rindu kepada Minyu.

Namun Minyu tak menampakkan reaksi apapun. Dia hanya diam, dalam pelukan Himchan. Jauh dalam lubuk hatinya, dia juga merindukan pria itu.

Lalu Minyu menarik dirinya lagi. Himchan menutup matanya, takut dirinya digampar, atau ditonjok, sama seperti tingkah Minyu pada pria tinggi bernama Kris. Namun ternyata Minyu mengacak-ngacak rambut pria itu dengan lembut. Apakah Minyu yang dulu telah kembali? Atau…apakah ini hanya mimpi?

“Kk….kau……tak mengikuti pelajaran…?” tanya Himchan.

Minyu menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya tadi dia sudah lupa akan pelajaran, ketika didengarnya Himchan sakit, dia langsung panik dan buru-buru ke sini, dengan berlari. Ya…karena tak punya cukup uang untuk naik bus, Minyu berlari 5km jauhnya ke sini dari sekolahnya, dia menghabiskan waktu 2 setengah jam ke sini, termasuk waktu tersasar dan bertanya pada orang-orang di jalan di manakah arah Seoul Hospital.

“Kau naik apa ke sini tadi?” tanya Himchan. Minyu memandangi pria itu. Pria itu menyadari masih ada peluh keringat di leher dan dahi Minyu. Wajah wanita itu juga terlihat agak pucat. “Beritahu aku, kau naik apa ke sini.” pintanya.

Minyu tersenyum, senyuman lemah. “Untuk apa kau mempedulikan itu? Yang penting sekarang aku ada di sini untuk menjengukmu.” jawabnya.

“Apa kau berjalan kaki?” tanya Himchan. Lebih dari itu, Minyu berlari.

“Kurang lebih.” jawab Minyu mendongak dan memberikan senyuman pahit lagi. Minyu bukan ingin mencari simpati, tapi dia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana menjelaskan ke Himchan kalau siswa-siswi sekolah sudah mengetahui hubungan mereka. Tapi kalau Himchan tahu, mungkin dia akan menjadi sangat marah nanti, karena Minyu tahu, Himchan itu adalah pria dengan harga diri tinggi. Dia pasti tak mau hubungannya dengan Minyu terkuak. Kalau sampai Himchan tahu yang menyebarkan ini adalah Kris, dia bisa-bisa lebih marah.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Himchan seolah dia bisa membaca kegundahan Minyu.

“A…aniyo….” jawab Minyu tersenyum, namun dia tetap terlihat gelisah.

“Kau terlihat tak biasa.” kata Himchan. Minyu terdiam. “Kau banyak tersenyum, namun aku tahu senyummu itu palsu kan?” tanyanya. Minyu hanya menunduk, memainkan resleting jaketnya, dan menatap kosong. “Ah ayolah Minyu….aku sudah mengenalmu dari dulu, aku tahu kalau kau sedang ada masalah.” lanjutnya. Himchan kemudian menggenggam jari-jari Minyu. “Kalau ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, kau bisa menceritakannya padaku. Anggap saja aku sebagai kakakmu..” katanya.

Minyu menjilat bibirnya yang pucat. Hendak membuka mulut. Dia bingung ingin bercerita dari mana. “K…kau tahu….temanku?”

“Jangan terburu-buru Minyu. Santai saja ceritanya. Takkan ada yang ke sini kok.” kata Himchan. Tapi memang benar, semua keluarganya sibuk. Dan dia terkejut hari ini akhirnya ada yang mengunjunginya, Lee Minyu. “Temanmu yang mana?”

“Temanku….yang bermain drama denganku…”

“Oh..yang kau sering tampar itu? Ada apa lagi?” tanya Himchan. Minyu diam. “Apa…dia melakukan sesuatu yang buruk padamu….?” tanyanya. Minyu sebenarnya mau menjawab, sangat…sangat buruk! “Kalau dia melakukan sesuatu yang buruk, kau bilang saja padaku, aku akan mengutus anak buahku untuk menghabisinya. Kau mau dia berakhir seperti apa? Sekarat? Koma? Atau mati?” tanya Himchan dengan napas yang memburu. Begini-begini dia masih menyimpan sedikit rasa pada Minyu, dia tahu siapa Minyu sebenarnya, dan dia tak tega kalau ada orang yang menyakitinya.

Namun Minyu menggeleng. “Ah…bukan….” katanya. “Aku……….aku bekerja pada orang itu……” kata Minyu.

“Bekerja?” Himchan menaikkan alis. “Apakah dia pemilik cafe?”

“Bukan….” kata Minyu.

“Jadi?”

“A…aku……. Aku bekerja sebagai bu…..maksudku pembantunya….”

“Apa?!” Himchan membelalak, tak percaya. Minyu yang dikenalnya hangat dulu, walaupun berubah menjadi dingin, namun dia tahu, Minyu juga adalah wanita dengan harga diri tinggi. Dia takkan membiarkan orang menginjak harga dirinya, dia lebih baik mati daripada seperti itu.

“Tapi dia menjanjikanku akan mempertemukanku dengan orang tuaku.” kata Minyu.

Himchan menatapnya iba. Dia tahu dari dulu Minyu belajar terus, dia ingin menjadi sukses, supaya kelak bisa bertemu dengan orang tuanya. Tapi Himchan masih tak bisa terima, pria itu memperlakukan Minyu dengan cara seperti ini untuk merendahkan Minyu. “Mengapa kau tak melamar pekerjaan ke tempat lain? Masih banyak yang mau menerimamu kan? Kalau kau melamar pekerjaan di tempat lain, kau bisa mendapatkan uang, lalu kau bisa mencari orang tuamu, iya kan?” tanya Himchan.

Minyu terdiam. Dia tak bisa menjelaskan pada Himchan kalau Kris menyuruh semua toko dan cafe untuk melakukan blacklist pada dirinya. “Dia memang bilang dia akan menggajiku 5kali lipat daripada gaji awal, tapi aku melakukan ini bukan untuk uang.” jawab Minyu.

Sejenak terbesit rasa menyesal di hati Himchan. Tahu begini, dia duluan yang mencari tahu siapa orang tua Minyu. Tapi sepertinya dia sudah ketinggalan start, sepertinya Kris sudah mengetahui siapa orang tua Minyu.

“Oh iya, ngomong-ngomong kau kenapa berjalan kaki ke sini? Setahuku dari sekolah ke sini agak jauh kan?” akhirnya Himchan menanyakan juga pertanyaan yang dari awal ingin dia tanyakan.

“Tak juga…” jawab Minyu. “Oh ya kau sudah makan?” tanyanya mengalihkan.

Himchan menggeleng. “Aku baru bangun tadi.” katanya.

Minyu lalu mengambil nampan makanan yang ada di meja sebelah kasur Himchan. “Makan saja dulu, mungkin sudah dingin, tapi kau butuh makan pagi.” kata Minyu. Minyu lalu membuka plastik yang menyelimuti(?) makanan di atas nampan itu. Himchan memperhatikan Minyu. Wanita ini seharusnya menjadi miliknya sekarang. Namun dia berpikir positif juga, bila dia tak memutuskan wanita ini saat itu, mungkin wanita ini takkan menjadi dirinya yang sekarang.

“Kau sudah makan pagi?” tanya Himchan, sekadar basa basi.

“Aku sedang diet.” jawab Minyu tenang, masih dengan ekspresi datar. Dia tak mau berdusta pada Himchan. Dia memang belum makan, namun tak ada salahnya bukan kalau dia bilang dia sedang diet?

Himchan mengerutkan kening. “Yang benar?!” tanyanya.

Entah mengapa Minyu menyesal melontarkan jawaban itu tadi. “Aku memang sudah seperti ini kok beberapa hari, aku harus diet supaya bisa memakai kostum drama nanti.” katanya duduk mendekat pada Himchan dengan mangkuk bubur dingin di tangannya. Minyu menyendoki bubur itu dan menyuapi Himchan. “Ayo makan.” katanya. Tapi Himchan memandanginya, tak membuka mulut. “Kau harus makan untuk memulihkan keadaanmu.” kata Minyu.

“Aku tak mau makan sebelum kau makan.” kata Himchan.

“Hei!” Minyu membelalak tak percaya. “Sudah kubilang aku sedang diet, aku akan baik-baik saja kok, nanti siang aku…….—” Minyu terdiam. Dia baru ingat, dia kan sedang kabur dari sekolah sekarang, dia melihat ke jam dinding. “Ommo!” Minyu gasped(?). Ternyata sudah hampir jam 12 siang. Bagaimana bisa? Dia ketinggalan makan siang. Mengingat uangnya yang tersisa sekarang hanyalah 2.800won. Dia takkan bisa membeli makan malam. “Jinjja….bagaimana bisa…..” gumamnya.

“Ada apa?” tanya Himchan.

“Ah…” Minyu baru menyadari ada Himchan bersamanya. “Tak apa…” jawabnya kemudian tersenyum pada Himchan. “Kau harus makan.” kata Minyu melemparkan tatapan innocent nya pada pria itu.

“Kau juga.” balas Himchan cepat. Minyu kehilangan kata-kata untuk membalas pria itu.

“Tapi kau sedang dalam masa pemulihan.” balas Minyu kemudian.

“Pokoknya aku hanya mau makan kalau kau memakan itu juga.” kata Himchan.

Minyu membelalak, namun kemudian dia tersenyum. “Ba….baiklah…..” jawab Minyu pasrah. “Tapi kau yang makan dulu.” kata Minyu. Minyu kemudian menyodorkan sesendok bubur itu kepada Himchan. Himchan pun memakan bubur dari suapan Minyu ituk. Kemudian Himchan merebut sendok yang dipegang Minyu.

“Sekarang giliranmu.” kata pria itu dengan mulut masih penuh bubur. Minyu tersenyum melihat tingkah Himchan.

Himchan menyendoki bubur dan memberikannya pada Minyu. Minyu mulanya ragu. “Ayo makan…” ujar Himchan dengan wajah innocent nya.

Minyu perlahan membuka mulut dan memakan bubur itu. Lalu dia tersenyum. Himchan pun juga tersenyum melihat Minyu. Ini adalah bubur terenak yang pernah dimakan Minyu. Walaupun rasanya sama seperti bubur di rumah sakit biasa, tak ada garam, tak ada rasa, namun ini tetaplah yang terenak, karena Minyu belum makan dari kemarin malam dan terlebih ini adalah suapan Himchan. Pria yang pernah dirasa dekat dengannya, namun terasa jauh lagi, dan sekarang Minyu bisa merasakan kedekatannya lagi dengan Himchan.

Tiba-tiba pikiran mereka berdua terbang pada saat itu.

[Flashback]

Minyu dan Himchan sedang berada di suatu kedai. Hanya ada mereka berdua di situ. Saat itu sedang hujan. Himchan pun mempunyai ide, dia mencolok(?) iPodnya dengan hansfree nya. Dia dan Minyu mendengarkan lagu dari iPod nya menggunakan hansfree itu. Hansfree kiri ada di telinga kiri Minyu, sementara hansfree kanan ada di telinga kanan Himchan. Saat itu mengalun lagu L.O.V.E.

Minyu memakan ddeukbokki dengan garpunya.

“Enak?” tanya Himchan, dia senang melihat kekasihnya senang.

Minyu menangguk dan tersenyum. Lalu Minyu mengambil ddeukbokki dengan garpunya dan memberikannya pada Himchan.

Himchan memandang jijik. “Aku harus makan dari garpumu?” tanyanya.

Minyu menarik garpunya. “Ya sudah kalau kau tak mau makan.” desisnya masih dengan ddeukbokki yang memenuhi mulutnya.

Himchan dengan cepat menarik tangan Minyu dan memakan ddeukbokki yang hampir dimakan oleh Minyu itu. “Enak sekali.” kata pria itu eyesmile sambil mengunyah. “Enak karena aku berciuman tak langsung denganmu karena aku makan dari garpumu.” katanya tersenyum usil.

Minyu berdesis. “Cih…dasar otak yadong….” desisnya.

Lalu Himchan bergeser, menjadi lebih dekat dengan Minyu, tangannya merangkul bahu Minyu, sekarang tangan kiri Minyu bersentuhan dengan dada Himchan. “Aku kedinginan…” kata Himchan dengan nada sok(?) manja.

“Pergi…atau kutusuk wajahmu dengan garpuku ini…?” tanya Minyu yang sudah mengangkat garpunya itu.

[in this scene, listen to this: L.O.V.E Acapella version: http://www.youtube.com/watch?v=ma2MLS8DhyU]

Himchan pun pouting. “Lihat saja, kau suatu saat pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.” katanya.

“Ya…terserah…” ujar Minyu.

Lagu di iPod Himchan mengalun indah, di tengah hujan, dan kehangatan kedai kecil itu.

L is for the way you look at me.

O is for the only one I see.

V is very, very extraordinary.

E is even more than anyone that you adore and

Minyu tersenyum melihat Himchan yang makan berantakan. Minyu pun mengambil tissue dan mengelap mulut Himchan.

“Cara makanmu seperti bayi.” cetus Minyu.

Himchan hanya tertawa. “Kau juga.” katanya.

“Jinjja?” Minyu terkejut. Minyu memegang-megang sekitar mulutnya mencari noda makanan dia. Lalu Himchan menarik tangan Minyu dan langsung mencium bibir wanita itu.

Ini adalah saat-saat terindah di bawah hujan….

Love is all that I can give to you.

Love is more than just a game for two.

Two in love can make it.

Take my heart and please don’t break it.

Love was made for me and you….

-flashback end…

Dan benar, Minyu sangat merindukan masa-masa seperti itu sekarang. Bisakah dia kembali ke masa lalu? Dia rindu dengan kehidupannya yang dahulu. Namun dia tak mau kembali lagi ke masa itu, hati Minyu terlalu sakit untuk itu. Tak sadar, air matanya terjatuh.

“Ada apa Minyu?” tanya Himchan meletakkan mangkuk buburnya di meja.

“Tidak…” Minyu cepat-cepat mengelap air matanya. “Ini…adalah bubur terenak yang pernah kumakan… Benar-benar terenak.” ujarnya tersenyum.

Himchan menggunakan tangannya yang masih lemah, tangannya yang berbalut perban, mengusap air mata di pipi Minyu. Tapi itu justru membuat air mata Minyu mengalir deras. Minyu menunduk, dia tak mau memperlihatkan wajahnya yang sedih. Minyu bertopang pada tangannya sendiri. Air matanya terus menerus jatuh, badannya gemetar.

Himchan iba melihatnya. Dia paling tak bisa melihat wanita menangis. Dia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Minyu dan menarik wanita itu supaya jatuh ke pelukannya. Minyu terkejut. Dia mendongak. Matanya lebam. Dan Himchan bersumpah dia akan mengutuk siapapun yang membuat Minyu terlihat horrible seperti ini kalau misalnya Minyu tak menangis untuknya.

“Diamlah.” kata pria itu.

Minyu perlahan membenamkan wajahnya ke dada Himchan. Detak jantung pria itu dengan jelas bisa terasa oleh Minyu. Himchan mengeratkan pelukannya. Dia bersumpah akan mengutuk siapapun yang membuat Minyu seperti ini. Ini jelas bukan Minyu yang dikenalnya.

Secara tak langsung, sorot mata mereka berdua mengisyaratkan kerinduan mereka satu sama lain. Namun Himchan tahu, Minyu takkan mau melihat ke masa lalu lagi, dia tak mau kejadian yang sama terulang lagi.

Tanpa sadar, sepasang mata mengawasi mereka dari tadi dari luar pintu kamar pasien Himchan, melihat apa saja yang dilakukan mereka berdua dari tadi….

*author is trolling trololol /digampar*

>> to be continued….

Iklan

16 pemikiran pada “Fallen Leave (Chapter 4)

  1. Ya akhirnya ini FF chapter 4nya muncul juga ~^o^~
    Udah hampir setahun loh thor nunggunya chap 3 kan tanggal 23 agustus 2012 *kalogasalah* sekarang udah tgl 14 agustus 2013, botak nih nunggunya -_-
    pokoknya chapter selanjutnya cepet di publish ya thor 😮
    lope-lope dah buat nih FF saya setia menunggu~ ❤

  2. Asiiik akhirnya chap 4 nya keluar juga!! XD
    kereen thor aku suka banget nih ff ^^b apalgi pas part”nya minyu sama kris lagi berantem o u o hihi mereka lucu :3 tapi kasian juga sih minyu sering disiksa sama kris 😦 hiks /apaaa
    oh iya, di chapt ini moment minchan nya lagi flashbackan ya, hmm so sweet tapi sedih juga :’D
    ditunggu chap selanjutnya~ Keep writing author, faighting! ^^)9

  3. Himchan minyu msa lalunya so sweet tp menyedihkan(?).
    It yg lhat mrk siapa suho or kris? Brharap kris yg lhat.hahahahaha
    Sumpah 1thun thor nunggunya. 1 thun masyallah lma bnar ya. Aku msti baca ulg dr part 1 lg biar ngk lupa-_-
    wlwpn bhs msh amburadul typo brtebaran bgai butiran debut#ditabokauthor# tp crtanya bgus.gambaran ksdihan minyu Feelnya jga dpt(?)kok.

    Please part slnjtnya jgn lma2.Masa iya mesti nunggu stahun lg?buat baca part slanjtnya.hahahahaha

    • ehehehehe
      harusnya ketahuan itu siapa yg liat mereka dari kejadian di sekolah :p
      ahhahaha iya mian ya aku sempet hiatus >..< di chap 5 deh nanti kurapiin lagi ya ^^
      iya bentar lagi aku kirim kok ke email exoff heheh
      gomawo ya ^^

  4. Akhirnya dipublish jugaaa! Hehehe Overall udah bagus thor, jalan ceritanya aku suka, feelnya jg dapet~~ Tp msh harus diperhatikan mslh typo, layout paragraf, dan tanda baca di bbrp tempat biar feelnya lebiiih dapet lagi^^ Ini sekedar saran aja ya, fighting for next chapteeer!

  5. Sekian lama menunggu akhirnya di post juga. Duh moment himchan sama minyu nya so sweet banget:’) jadi iri deh haha. chapter selanjutnya jangan lama2 ya di publishnya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s