A Choice

Author: Myungsold

Cast: Park Chanyeol, Kim Jongin, Lee Jaeri as You

Genre: Life, Drama, Romance

Rate: Teen

Duration: Vignette

Summary: “Life is a choice, there is a choice in life.”

Note: Plot of the story pure my mind, based on the true story of my life.

A C h o i c e

©Myungsold 2013

achoice 

                “Chanyeol-ah, aku baru saja mendapat sebuah surat dengan kertas berwarna merah muda dan bau harum bunga mawar!” seru Jaeri antusias saat tiba dihadapan seorang lelaki ¾yang ia serukan dengan nama chanyeol sebelumnya¾ dengan wajah sumringah, Namun hanya dibalas dengan senyuman kecil dari pria itu.

“Hey, Apa kau tidak ingin melihatnya huh?” Jaeri menggaruk tengkuknya karena bingung, chanyeol tidak seperti biasanya. Karena biasanya sahabatnya itu selalu mendesak Jaeri untuk memperlihatkan sesuatu dari Jaeri yang berhasil membuat ia penasaran.

Chanyeol menggeleng pelan, “Kenapa?” Tanya Jaeri tanpa babibu membuat gerakan tangan Chanyeol terhenti dan membuat pria itu mengalihkan pandangan dari dalam lokernya.

“Karena aku pengirimnya,” Mata cokelat itu menatap wajah Jaeri lekat-lekat, “Darah ini, berdesir cepat. Jantung ini, berdebar lebih kencang dan lebih cepat dari biasanya. Dan aku selalu merasa nyaman ketika bersamamu, Entah sejak kapan aku pun tidak tahu.” Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti dirinya saat ini.

Jaeri berdeham pelan, “Lalu?” Chanyeol menelan salivanya, “Sungguh, jangan membuatku bertambah gugup Jaeri. Apa jawabanmu?” sedikit, Chanyeol meninggikan nada suaranya.

“Jawaban apa? Kau bahkan tidak bertanya satu pertanyaan padaku semenjak tadi.” Balas Jaeri acuh diiringi angkatan di kedua bahunya.

Chanyeol menyipitkan kedua matanya tidak mengerti pada gadis di depannya ini, lalu menarik nafas panjang, “Kau ingin menjadi kekasihku atau tidak?” Jaeri tersenyum kecut, “Tidak.” Pria dihadapannya membulatkan matanya terkejut, “Sungguh?” Jaeri menganggung cepat dengan senyum mengembang, “Tidak. Aku tidak bisa menolak tawaranmu, Park Chanyeol.” Chanyeol tersenyum lalu memperpendek jarak diantara ia dan Jaeri.

“Jadi?” nada suara pria itu terdengar meminta kepastian.

“Aku ingin menjadi kekasihmu.” Chanyeol tersenyum bangga lalu merangkul leher gadis itu, ah untuk saat ini telah resmi menjadi gadisnya mungkin.

“bisa lebih keras?” bisiknya, “Waktuku akan habis terbuang hanya untuk meneriakan itu, Tuan Park.” Jaeri melepas rangkulan Chanyeol dan berlalu pergi meninggalkan pria itu dengan berjalan lebih dulu.

Chanyeol mendengus pelan lalu tersenyum dan tertawa, “Aku tahu kau tidak pernah berubah dan tidak akan berubah,” katanya sembari berlari kecil menyusul langkah Jaeri yang telah jauh lebih dulu darinya.

“Tapi itu adalah sebuah alasan logis kenapa aku bisa menyukaimu,” Chanyeol menghela nafas panjang ketika tiba tepat disebelah Jaeri. “Apa?” Jaeri mengalihkan pandangannya mencoba menatap kedua mata Chanyeol. “Karena kau beda dari yang lain. Sederhana itu.” Dengan hanya satu hentakkan, Pria itu berhasil membawa bibir gadisnya untuk menyentuh bibirnya.

 

 

◊◊◊

Langit sore hari ini terlihat lebih cerah dari biasanya, Burung walet berterbangan dilangit jingga, Matahari telah berada diufuk barat bersiap menenggelamkan dirinya ke dalam malam. Jaeri menyesap secangkir coffee late¾yang telah ia pesan sekitar dua puluh menit yang lalu¾ di sebuah cafe kesukaan dia dan Chanyeol, tentunya.

“Lee Jaeri?” Jaeri mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang baru saja menyerukan pelan namanya.

“Kau? Hei, Apa kabar?” Sedetik kemudian senyum diwajahnya mengembang, memperlihatkan deretan giginya.

“Tidak buruk. Bagaimana denganmu, Jaeri-ah? Ah, Ingatanmu masih kuat ternyata.” Pria itu tersenyum tipis.

“Aku akan selalu baik, Itu yang kuharapkan. Darimana saja?” Gadis itu mengabaikan candaan pria itu yang dilontarkan di akhir kalimatnya.

“Baru saja tiba dua puluh menit yang lalu,” Jelas pria itu lalu melepas topi hitamnya dan memasukkannya kedalam ransel yang ia bawa. “Dari Jepang.” Lanjutnya, seolah dapat menerka pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Jaeri selanjutnya.

“Kau tidak pernah berubah, Jongin,” Gadis itu mendengus lalu menyesap kopinya yang sempat ia lupakan beberapa saat lalu.

“Namaku Kkamjong, Bukan Jongin.” sela pria ¾yang menyebut dirinya dengan nama Kai¾ lalu tertawa.

“Sama saja.” Jaeri memutar bola matanya mencoba mengabaikan tawaan Jongin. “Aku telah lama merindukanmu.” Bisik Jonginpelan ¾hampir tidak terdengar¾ dan membuat kedua alis Jaeri terpaut keatas.

“Jae¾” gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ¾untuk menghindari kegugupannya, tentu saja¾ lalu beranjak dari tempat duduknya.

“Jongin, kenalkan dia Chanyeol, Kekasihku.” Jongin ikut beranjak dari duduknya lalu tersenyum ke arah Chanyeol dan dibalas senyuman kecil oleh Chanyeol.

“Aku rasa,Aku tidak bisa berlama-lama lagi, Masih ada yang perlu aku urus. Sampai berjumpa lain waktu!” Jongin tersenyum lebar lalu berlalu meninggalkan dua sejoli itu.

Chanyeol menatap Jaeri dari sudut samping dengan tatapan menyelidik, “Ada yang tidak beres. Ini hanya perasaanku atau memang benar?” Tanyanya seolah-olah pada dirinya sendiri yang membuat perhatian Jaeri tertuju kepadanya.

“Dia, Teman lamaku sewaktu dibangku menengah atas.” Chanyeol menatap Jaeri menuntut kejelasan, “Ia baru saja tiba dari jepang satu jam yang lalu. Sekarang bisa kita pergi? Aku telah lama menunggu kedatanganmu disini.” Jaeri berjalan mendahului pria itu. Bukan, lagi-lagi ia meninggalkan Chanyeol lebih dulu.

Tubuh pria itu tidak bergerak sama sekali, Ia tetap diam, berdiri ditempat ia berdiri sejak tadi. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan dari Jaeri tentang  Jongin.

Jaeri menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan mendengus, “Chanyeol, Ayo pergi!” Lelaki itu tetap tidak bergerak dan akhirnya membuat Jaeri berjalan kembali menghampirinya, “Ayo.” Gadis itu meraih lengan kekasihnya, “Aku tidak percaya.” Chanyeol membuka suara.

“Apa?” Jaeri bertanya dengan nada datar, sebenarnya ia tahu apa maksud perkataan Chanyeol barusan. “Aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskan sekarang.” Chanyeol berjalan mendahului Jaeri dengan langkah lebar, Tanpa memperdulikan gadisnya dibelakang.

 

 

◊◊◊

 

Chanyeol’s side.

Terlalu berat rasanya untuk berpikir positif sekarang, Apa gadis yang selama ini sering disebut dan dimaksud oleh Jongin adalah Jaeri? Gadis yang selalu ia ceritakan setiap harinya? Dari semasa Sekolah dahulu hingga dia menetap di Jepang pun selalu gadis itu yang ia ceritakan.

 

-Flashback start-

“Yeoboseyo?” Aku mengernyitkan dahi ketika membaca sederet nomor asing yang telah menghubungi nomor ponselku.

“Chanyeol! Apa Kabarmu? Ini nomor baruku selama aku masih menetap di Jepang, kau bisa menghubunginya kapan kau merindukanku! hahaha.” Aku hanya terdiam tidak mengerti dengan seseorang yang menghubungiku dari Jepang tapi dengan logat korea yang kental.

“Halo? Kenapa diam? Kau melupakanku? Aku Kim Jongin. Sobat tertampanmu yang sedang menetap di Jepang untuk melanjutkan studi. huh!” Aku tersenyum lalu tertawa ketika mendengarnya menggerutu. Kurasa Aku merindukan sosok Kim Jongin.

“Bogosipeoyo, Kkamjong.” Kataku perlahan.

“Aku merindukanmu ah tepatnya suara monstermu itu hahahah.” Lagi-lagi dia membuatku tersenyum.

“Aku merindukan semuanya.” Ujarnya kembali.

“Termasuk, babimu?” Selaku lalu tertawa pelan.

“Dia gadis manis, kau harus tahu itu.” Belanya tidak mau kalah.

“Gadis manis yang kau ibaratkan seperti boneka babi.” Ucapku geli menahan tawa.

“Itu karena boneka babi itu pemberian terakhirnya untukku sebelum aku berangkat ke Jepang. hah kau ini tidak pernah bisa mengerti.” Jelasnya.

“Ya, Apapun itu terserah kau saja. Cepat kembali ke Seoul, Aku menunggumu.” Kataku berteriak pada ponsel.

“Kecilkan suaramu itu, kau boleh berteriak ketika suaramu telah melembut seperti wajahmu. Aku akan kembali besok tanggal 20 Juli, Aku tidak meminta kau menjemputku.” Katanya terdengar antusias, Namun hanya kubalas dengan gumaman kecil.

“Sudah dulu ya? Aku ada kelas sore ini. sampai bertemu kembali di Seoul.” Aku tersenyum ketika percakapan berakhr bersamaan dengan aku Menutup flap ponselku.

-Flashback end-                                                                                                                                         

 

Aku beranjak dari tidurku, tidak lebih tepatnya hanya tidur dengan pikiran yang memenuhi kepalaku, bukan tidur beristirahat. Segera aku menghampiri kalender yang tergantung disudut ruangan. Aku menyipitkan mataku ketika melihat tinta merah yang melingkar disalah satu angka kalender itu dan segera menatap jam dipergelangan tanganku lalu mencocokkannya dengan kalender dihadapanku.

“20? hari ini tanggal 20? Bukankah Jongin akan kembali tanggal 20? hari ini?” Gumamku terus menerus, “Jongin kembali tanpa mengabariku? Kenapa?” Sekelebat pertanyaan muncul di pikiranku, Aku tidak mengerti, untuk apa?

“…Joha ni modeun geosi joha

Meoributeo balkkeutkkajido

Jogeuman haengdongkkaji hana hana…”

“Jaeri?” Aku menoleh, lalu mempercepat langkahku menghampiri meja tempat dimana kuletakkan ponsel yang berbunyi itu.

“Kkamjong’s calling?” Aku bergumam pelan.

Piip

“Yeobos¾”

“Kutunggu di cafe tempat kita bertemu tadi sore. Sekarang¾Piip.” Kutatap ponselku beberapa detik. Dia Kim Jongin? ‘The latest of Jongin’ begitu?

Aku tersenyum kecut lalu segera meraih jaket dan keluar meninggalkan apartemen.

 

 

◊◊◊

 

Author’s side.

               

Trining Trining

                “Selamat datang!” Sapa seorang pelayan pria ketika Chanyeol telah menginjakkan kakinya didalam cafe kecil dengan model minimalis itu. Chanyeol hanya membalas sapaan  itu dengan senyuman dan sedikit membungkukkan badannya.

Chanyeol mengedarkan pandangannya ke seluruh seudut ruangan di cafe itu mencari sosok Jongin, Namun ia tidak menemukannya.

“Chanyeol, disini!” Chanyeol menolehkan kepalanya menemukan sosok Jongin yang telah mengangkat setengah lengannya untuk memberi tanda.

Pria itu menghampiri Jongin yang tengah duduk sambil menghadap laptopnya dengan kursi tepat berada didepan bar cafe itu.

 

“Aku sungguh tidak mengerti soal kejadian tadi siang.” Jongin membuka percakapan tanpa mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya.

“Kau bahkan tidak mengabariku akan kembali sore ini.” Ujar Chanyeol dengan nada membela lalu menyeruput cappucino float-nya yang tiba lima menit lalu.

“Bukankah aku telah mengabarimu seminggu yang lalu, Aku akan kembali hari ini?” Tanya Jongin lalu mengalihkan pandangan menatap Chanyeol dihadapannya.

“Ya. Hari ini, tapi aku tidak tahu kapan tepatnya kau tiba, Dan aku telah melupakan tanda merah yang melingkar di angka kalenderku.” Ia mengangkat bahu lalu meraih ponsel dari dalam saku jaketnya.

“Bagaimana bisa kalian bisa berpacaran?”

“Siapa?”

“Kau dan Jaeri.”

Chanyeol terdiam sejenak. Ia menarik napas perlahan dan menghembuskannya kembali, “Kenapa kau sepenasaran itu?”

“Karena itu berhubungan banyak denganku.” Seringaian Chanyeol seakan mengakatan ‘begitu’.

“Atas dasar apa?” Jongin terdiam. Ia kembali berfikir secara logika. Ya, Atas dasar apa dia menuntut Chanyeol menjelaskan semuanya?

“Kau bahkan tidak pernah bercerita bahwa wanita yang sering kau ceritakan sejak dulu itu Jaeri. Benar bukan?” Skak mat. Jongin merasa terlihat bodoh selama ini, semua yang dinyatakan Chanyeol benar. Ia tidak pernah bercerita tentang hal paling penting itu sebelumnya.

“Jadi, Siapa yang salah saat ini? Aku yang merebut Jaeri darimu tanpa niatan merebut karena tidak tahu menahu, atau kau yang tidak menceritakan hal ini sebelumnya padaku?” Lanjut Chanyeol, tatapannya tidak beralih dari Jongin saat ini. Menunggu satu jawaban yang keluar dari bibir Jongin.

“Aku yang salah. Kau menang.” Ujar Jongin akhirnya, suaranya terdengar serak.

“Calm, Jong. Aku bahkan tidak ingin bertaruh akan hal ini.” Chanyeol menghela napas panjang dan menghembuskannya¾lagi¾ . Ia sudah paham sifat sahabatnya ini dari lama, Bahkan sampai dia menetap sendiri untuk studi di Jepang sifatnya tetap tidak berubah.

“Lalu apa maumu?”

“Biar Jaeri yang menentukan. Kau bisa menanyakan dan menjelaskan semuanya pada Jaeri besok. Aku tidak akan mengganggu kalian berdua, Tenang saja.”

 

 

◊◊◊

 

                Angin musim semi berhembus perlahan,  Menyapa dedaunan di pepohonan dan bunga-bunga yang telah bermekaran di pekarangan setiap rumah di Seoul, Pagi ini.

Ting Tong

Krieet

                “Jarang seorang Kkamjong dapat bangun sepagi ini.” Jongin yang masih menguap membulatkan matanya ketika mengetahui siapa tamu yang datang ke rumahnya pagi ini, seorang gadis.

“Tidak usah terkejut begitu. Wajahmu terlihat menyeramkan seperti zombie yang baru bangun dari kuburannya.” Jongin masih terdiam, matanya hanya mengikuti gerak-gerik gadis yang telah memasuki rumahnya semenit lalu.

“Untuk apa kau datang kesini?”

“Kau bilang kemarin, kau telah lama merindukanku,”

“Lalu?”

“Aku merindukanmu, sama seperti kau merindukanku.”

Deg Deg Deg

                “Aku tidak mengerti.” Jongin bergumam pelan namun masih dapat dijangkau oleh pendengaran gadis itu.

“Tidak ada yang perlu dimengerti, Kim Jongin. Bersyukurlah, Lee Jaeri masih mengingatmu dan bahkan ia telah merindukanmu.” Senyum gadis itu, Jaeri, mengembang walaupun Jongin tidak dapat melihatnya karena gadis itu membelakanginya.

“Cepat mandi. Aku menunggumu disini.” Jongin mengangguk kecil lalu berjalan menaiki tangga meninggalkan gadis itu di lantai dasar.

 

“Sebenarnya untuk apa kau kesini?” Tanya Jongin masih dengan handuk yang mengalung dilehernya lalu duduk bersandar di sofa yang menghadap ke sofa tempat dimana ada Jaeri disana.

“Kau masih menyayangiku?”

“Tentu.”

“Kau masih mencintaiku?”

“Hm.”

“Kau masih menginginkanku?”

“Ya.” Jongin berkata dalam hatinya, Ia memilih diam untuk jawaban yang satu itu karena pada kenyataannya ia sama bingungnya dengan perasaannya sendiri.

“Aku ingin bertanya padamu.” Jongin mencoba relaks dan tidak gugup untuk saat ini, Gadis itu selalu bisa membuat darahnya berdesir lebih cepat.

“Apa?”

“Kau memilih masa depan atau masa lalu?” Jaeri terdiam. Mungkin gadis itu sedang berpikir keras, takut-takut jawaban yang akan keluar dari mulutnya salah.

Jaeri menarik napas panjang  lalu menghembuskannya, “Masa sekarang.” Dahi Jongin  mengernyit.

“Itu artinya kau tenang hidup dalam kebingungan?”

“Apa tidak ada pilihan lain?” Jongin menggeleng cepat.

“Hidup itu hanya ada dua pilihan. Hanya dua, dan kau harus memilih salah satunya.” Jelas Jongin lalu mengalihkan pandangan menatap platfon rumahnya.

“Aku mengerti semuanya. Tapi aku tidak ingin ada yang sakit hati dari salah satunya.” Ujar Jaeri lalu menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Ia takut menatap Jongin.

“Mereka akan selalu siap dengan pilihanmu. Karena mereka yang mengajukan pilihan itu jadi mereka juga yang akan menanggung rasa senang atau sakitnya.” Jelas Jongin lagi lalu tersenyum kecil.

“Aku memilih keduanya. Tanpa masa lalu tidak akan ada masa depan, tanpa masa depan tidak akan ada masa lalu.” Jongin menghela napas panjang mendengar jawaban Jaeri.

“Aku tidak ingin persahabatan kalian rusak.” Ujar Jaeri lagi mendongak menatap Jongin dihadapannya.

“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Chanyeol? Seluruh pertanyaanku tadi bersangkut paut dengannya.”

“Apa kau keberatan?”

“Tidak. Asal kalian tidak mengumbar kemesraan dihadapanku.”

“Kau lucu, Kkam.”

“Kau jelek.”

“Menyebalkan.”

“Mari kita pergi menemui Chanyeol.”

 

 

◊◊◊

 

 

Semilir Angin musim semi di pantai berhembus lebih kencang daripada di kota tadi, Seorang Pria dengan tubuh jangkung terdiam menyaksikan matahari terbenam disisi barat dihadapannya, Ingin sekali rasanya ia membagi kebahagiaan menyaksikan matahari  terbenam dengan orang-orang terdekatnya, Namun tetap saja tidak akan bisa.

“…Joha ni modeun geosi joha

Meoributeo balkkeutkkajido

Jogeuman haengdongkkaji hana hana…”

Piip

“Hei idiot! Kau dimana sekarang?” Pria itu menjauhkan ponselnya beberapa jarak dari dari telinganya,

“Kecilkan suaramu, jelek!” Ia  berteriak pada ponselnya tidak kalah kerasnya.

“Dimana kau? Suara wanita tadi berganti dengan suara berat dan serak¾yang mudah diketahui itu suara seorang laki-laki¾.

“Di Busan.”

“Ingin mengasingkan diri rupanya?”

“Tidak¾”

“Hei idiot, kenapa kau ke busan tanpaku hah?!” Pria itu tersenyum

“Pengeluaranku akan bertambah jika aku pergi bersamamu!” Pria itu berteriak lagi membalas ponselnya lalu tertawa geli.

“Hei, sudah! Ponselku bisa rusak jika kalian pergunakan tidak selayaknya!” sela suara berat diseberang sana, Pria itu semakin terkikik geli.

Aku akan pergi kesana dengan Jaeri. Ingat, She’s still your girl, Park chanyeol.

“Kita masih teman?”

“Tentu saja. Sudah dulu, aku sedang menyetir. Sampai bertemu dibusan, Tunggu kami!”

Piip

Pria itu tersenyum puas setelah menutup ponselnya lalu pandangannya beralih memandang laut lepas dan menghirupnya dalam-dalam.

“Terimakasih.” Gumam Chanyeol pelan dan kembali tersenyum.

.

.

.

“There are only two ways to live your life.

One is as though nothing is a miracle.

The other is as though everything is a miracle.”― Albert Einstein

.

.

.

.

.

.

.

.

.

FIN.

Aku kembali dengan fanfic abal yang sebagian ceritanya memang benar terjadi di kehidupan aku sendiri hoho~. Aku tahu kalian ga akan puas dengan cerita ini TT, typo itu kesalahan yang wajar untuk penulis awam dan…..amatir seperti aku hihi. Hanya satu permintaanku, aku hanya minta komentar kalian berupa review/kritik/pujian. Karena komentar kalian membuat aku lebih cermat lagi dalam menulis sebuah cerita. Sampai bertemu di fanfic selanjutnya!

Iklan

9 pemikiran pada “A Choice

  1. Udah gtu z ? Lngsung FIN ?
    Hehehehehe q suka ff y’, tp q msh bingung sma ksmpulny’, p lg td d akhir Englishn gthu, wahaha g ngerti, ,

    jd Jaeri plih siapa ? Chanyeol ?
    Jgn 2_2 nyalah, 1 z, tar 1 nya bt q, hehe

    y udh atc, udhn z dc,
    author tetep smangat n trus brkrya ya,
    q tnggu trus krya2 nya,

  2. Alurnya aja kecepatan.. tapi overall Romance nya dapet… keep writing thor :’) ini crita buat squel dong :3 kkkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s