Bad Girl (Chapter 1)

Author : Lee Yera

Cast: Zhang Yizing, Yoon Joonhee

Genre: Romance, Angst

Rating: T

Inspired by MV Lee Hyori – Bad Girls

~***~

Chapter 1

Spring, 2003

“Joonhee-ya, jangan pergi terlalu jauh ya… kau belum sembuh betul” Gadis berumur dua belas tahun itu mengangguk saat mendengar perkataan ayah tirinya. Raut wajahnya sedikit kesal karna terus dilarang melakukan apa yang ia mau.

“Kim Joonhee, ingat itu hm?” kini ibunya yang mengingatkan gadis itu, sedikit khawatir karna tingkah putrinya yang memang sedikit luar biasa dari anak-anak lainnya.

“Margaku Yoon, bukan Kim! Bukannya aku sudah mengatakannya beberapa kali eomma? Dan jangan cemaskan aku, aku bisa menjaga diriku sendiri” emosi Joonhee mulai naik, saat ibunya memanggilnya dengan marga ayah tirinya. Sedikit menghentakkan kakinya karna kesal, Joonhee berjalan sambil menggeret tiang infusnya menjauh dari kedua orang tuanya itu.

Gadis itu terus berjalan, menikmati udara segar dihalaman rumah sakit yang ditempatinya saat ini. Joonhee berhenti berjalan saat melewati sebuah ruang ICU, menatap sendu pintu itu. Entah sudah berapa lama, dia menjadi penghuni diruangan itu sebelum dokter menyatakan kesehatannya mulai membaik dan diijinkan dirawat diruang VIP 4 hari yang lalu. ya… menurutnya ruangan dengan nama ICU itu adalah neraka, dirinya benar-benar dijaga sangat ketat disana. Bahkan orang-orang yang memasuki ruangannya harus memakai seragam putih-putih dan masker, keadaannya benar-benar kritis saat itu.

“Pa… jangan menangis lagi, sungguh aku tidak apa-apa” Joonhee mengalihkan pandangannya saat mendengar suara rengekan seseorang yang menurutnya sangat menyebalkan. Rasa kesalnya hilang seketika saat melihat seorang laki-laki yang duduk diatas kursi roda sedang menenangkan seorang pria paru baya yang Joonhee yakin adalah ayah anak itu.

Pria paru baya itu kemudian mengusap air matanya dan menatap laki-laki kecil itu dengan senyuman.

“Maafkan Papa…”

“Sudahlah, Papa tidak salah” Hati gadis itu mencelos, sangat iri dengan apa yang dilihatnya saat ini. selama hidupnya, gadis itu bahkan tidak pernah melihat ayahnya secara langsung. Hanya melalui foto dan telfon, itu saja sangat jarang sekali karna ayahnya adalah orang yang sangat sibuk.

“Papa benar-benar minta maaf” Laki-laki kecil itu kemudian tersenyum lalu beranjak memeluk ayahnya dengan posisi yang masih duduk diatas kursi roda.

“Tidak apa-apa Pa… jangan menangis lagi, ehm… lebih baik Papa mengambilkanku minum dan makanan, aku benar-benar lapar. Kutunggu disini, aku masih ingin melihat taman.” ayah laki-laki itu mengangguk, kemudian beranjak pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian.

Joonhee kemudian tersenyum, gadis itu terlihat tertarik dengan laki-laki yang terus diperhatikannya sejak beberapa menit lalu itu. Masih dengan tiang infusnya, gadis itu berjalan mendekati laki-laki itu. lalu duduk disandaran yang tepat berada didepan laki-laki itu. Sejenak laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung saat melihat Joonhee yang tiba-tiba duduk didepannya.

“Hai…” Joonhee tersenyum saat menyapa laki-laki yang semakin bingung itu.

“Hai…” dengan sedikit canggung, laki-laki itu menjawab sapaan Joonhee. Ya… setidaknya demi kesopanan.

“Aku hanya ingin berteman, benar-benar bosan disini sendirian. Tidak apa-apa kan?” sebuah senyuman kini menghiasi wajah laki-laki itu, setidaknya punya teman disini tidak masalahkan?

“Tentu saja, siapa namamu?” Senyuman Joonhee semakin lebar, ya… gadis itu melupakan predikat nakal yang disandangnya saat berbicara dengan laki-laki yang bahkan terlihat seumuran dengannya itu.

“Yoon Joonhee”

“Eh? Kau bukan orang China?” Tanya laki-laki itu saat merasa nama Joonhee yang terdengar sangat aneh ditelingannya.

“Bukan, ayah dan ibuku orang Korea. Kau sendiri, siapa namamu?”

“Zhang Yizing” Joonhee tersenyum lebar, pertama kali gadis itu merasa akrab dengan orang asing.

“Kenapa kau dirawat disini?”

“Operasi, aku punya amandel, jadi harus diangkat” Jawab laki-laki bernama Yizing itu saat Joohee menanyakan alasannya ia dirawat dirumah sakit ini.

“Eh? Hanya amandel?” Senyuman laki-laki itu semakin pudar, sedikit enggan mengambil topic ini sebagai bahan pembicaraan mereka.

“Terjadi pendarahan saat dioperasi, aku punya Hemofilia. Lagi pula… darahku langkah, jadi sangat sulit mencari pendonornya” Joonhee mengangguk mengerti, cerita mereka… sedikit mirip.

“Memangnya golongan darahmu apa?”

“A dengan rhesus negative, ditambah lagi, Subkelompok antigenku A2” Joonhee tersenyum kecil, Yizing yang melihat itu langsung saja merengut, apa ini lucu?

“Kau masih beruntung”

“Beruntung?” Yizing menautkan kedua alisnya bingung, apa mempunyai golongan darah langka itu beruntung?

“Golongan darahmu A-, itu berarti masih ada 6,3 % orang yang memilikinya didunia ini. Yah… walau Subkelompok antigenmu sedikit langka, tapi kau perlu bersyukur, masih banyak kok yang seperti itu” Joonhee tersenyum lebar, hal itu membuat Yizing mendengus kesal.

“Kau saja yang tidak merasakannya…” Joonhee kemudian memandang sendu Yizing, sedikit memaksakan senyumnya saat mendengar perkataan laki-laki yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu itu.

“aku-“

“Yizing, kau berbicara dengan siapa?” Joohee dan Yizing mengalihkan pandangan mereka pada seorang pria paruh baya yang terlihat membawa satu cup minuman juga satu bungkus makanan.

“Papa… dia temanku” Yizing tersenyum lebar, tuan Zhang kemudian memandang Joonhee. Laki-laki itu kemudian mengernyit saat melihat wajah gadis kecil itu.

“Ah… Kau Kim Joonhee?” Yizing dan Joonhee sontak saja dibuat bingung karna perkataan tuan Zhang. Laki-laki paruh baya itu tersenyum lebar pada gadis itu.

“Namaku Yoon Joonhee paman, itu margaku yang asli” Joonhee berusaha tersenyum selebar mungkin, gadis itu benar-benar tidak menyukai seseorang memanggilnya dengan marga selain marga ayah kandungnya.

“Ah… maaf” Joonhee hanya mengangguk mendengar perkataan tuan Zhang.

“Yizing, dia penghuni kamar disebelahmu saat kau koma diruang ICU” laki-laki itu terlihat mengerti dengan tatapan yang diberikan putranya juga Joonhee itu. Namun sepertinya, jawaban yang diberikan tuan Zhang semakin membuat Yizing bingung.

“Eh? Ruang ICU?”

“Ya… ah, Papa masuk kemarmu dulu ya? ini, makanlah… Papa sedang ada urusan sebentar” tuan Zhang menyerahkan kedua barang bawaannya pada Yizing lalu bergegas masuk kedalam kamar Yizing yang tidak terlalu jauh dari depan ruang ICU tempat Yizing saat ini.

“Kau juga masuk kedalam sana, sakit apa?” Yizing menautkan kedua alisnya bingung sambil menunjuk ruang ICU yang tidak jauh dari mereka saat ini. Joonhee kemudian meraih bungkusan makanan milik Yizing, berniat menyuapi teman barunya itu, gadis itu tersenyum sekilas sebelum menjawab pertanyaan laki-laki itu.

“Ada kelainan dengan jantungku hingga membuatku memerlukan pencangkokkan, sedikit sulit mencari pendonor karna… aku juga memiliki golongan darah yang langka” Yizing memandang terkejut Joonhee, mereka… senasib.

“Darahku AB dengan rhesus negative, subkelompok A3b juga… Junior rhesus negative” Joonhee tersenyum lemah, menjelaskan dengan detail golongan darah yang dimilikinya, Yizing terlihat mengernyit tidak mengerti dengan rentetan kalimat yang diucapkan gadis itu. laki-laki itu hanya mengerti bagaimana kelangkaan golongan darahnya saja.

“golongan AB saja hanya ada 3 % didunia ini, jadi… hanya sekitar 0,6 % orang yang memiliki golongan darah AB-. Lalu, Subkelompok A3b. Itu berarti, hanya ada 0,027 % orang yang memilikinya, jika aku AB-, berarti hanya ada 0,027 % dari 0,6 % penduduk Bumi. Dan… Jr-, rata-rata manusia memiliki darah dengan golongan darah Junior positive atau Lengeris positive. Bisa kau bayangkan bagaimana langkanya darahku?” Joonhee tersenyum pahit, Yizing yang mendengar penjelasan Joonhee kini memandang penuh rasa bersalah karna ucapannya tadi. Laki-laki, benar-benar tidak tau.

“Sudahlah… lagi pula, aku sudah sehat sekarang. Ada seorang gadis berkebangsaan Afrika yang meninggal dua minggu yang lalu karna kecelakaan, setelah dites darahnya cocok denganku. Aku sungguh berterimah kasih dengannya, Adannaya Evangelista” Senyum Joonhee kini sangat lebar, gadis itu kemudian kembali menyuapi Yizing yang masih saja menampilkan wajah murungnya.

“Hey… aku bilang, sudah tidak apa-apa kan? Lalu… berapa umurmu?”

“12 tahun”

“Huaa… benarkah? Kita seumuran, aku juga… tapi kau harus memanggilku Jiejie!” Yizing kemudian memandang Joonhee aneh, umur mereka sama tapi kenapa harus memanggil kakak?

“Jantungku ini berumur 16 tahun, itu berarti… aku lebih tua darimu Zhang Yizing!”

“Tidak mau” mereka berdua kemudian tertawa lepas, memecahkan kesunyian didepan ruang ICU itu.

~***~

 

Spring, 2008

“Boo!”

“Ya! Kau mengejutkanku!” Joonhee berteriak keras sedang seorang laki-laki yang tadi mengejutkannya hanya tertawa lepas sambil mengambil duduk dibangku didepannya.

“Siapa suruh melamun sambil menatapi sebuah foto” Yizing menjulurkan lidahnya pada Joonhee membuat gadis itu menarik nafas kasar.

“Aku hanya mengingat-ingat bagaimana kita bertemu 5 tahun lalu, sudah lama ya…” Joonhee memandang jendela kantin sekolahnya, menerawang, kembali mengingat bagaimana ia bertemu dengan laki-laki yang menjadi sahabatnya itu. Gadis itu kemudian memasukkan foto yang diambil pada hari terakhir mereka dirumah sakit, 5 tahun yang lalu.

“ehem… saat itu aku benar-benar tertipu, kukira kau adalah gadis kecil yang anggun dan baik hati, ternyata…” Yizing mengangguk-angguk pelan, dan kata-kata terakhir yang diucapkan laki-laki itu berhasil membuat Joonhee memandang tajam kearah laki-laki berlesung pipit itu.

“Kau menyesal berteman denganku he?” Joonhee bersungut kesal, gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada, pandangannya menyipit tajam pada Yizing. Ada raut kesal diwajahnya.

“Tidak juga… kau cukup menarik”

“Tentu saja! kau harus bersyukur karna aku adalah gadis dengan kepribadian 1 banding 10000” Joonhee berkata dengan kesal, sahabatnya itu memang suka sekali menyidirnya.

“Benarkah? Aku banyak menemui gadis sepertimu dijalanan” Yizing berkata dengan santai tanpa memperdulikan Joonhee yang semakin kesal karna perkataan tajamnya.

“Zhang Yizing!” Yizing langsung saja berlari menghindari kejaran Joonhee yang terlihat sangat marah, gadis itu terlihat sangat kesal juga marah. Muris-murid lain yang melihat mereka berduanya hanya menggelengkan kepala maklum, mereka sendiri heran. Bagaimana sesuatu yang bertolak belakang bisa menjadi teman baik. Bahkan guru-guru sendiri heran dibuatnya, ada juga beberapa yang menasehati Yizing agar tidak berteman dengan gadis pembuat masalah nomor satu disekolah itu.

“Kau tidak bisa lari dariku, Yizing sayang…” Joonhee menyeringai senang saat berhasil menangkap sahabatnya itu, mereka bahkan berlari hingga halaman belakang sekolah.

“Hah…hah… Ya, kenapa kau selalu bisa menangkapmu he?” Nafas laki-laki itu bahkan sampai tersengal-sengal karna menghindari kejaran Joonhee, sedangkan gadis itu hanya terkekeh geli.

“Molla…”

“Dan berhenti menggunakan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti Joon…” Yoon Joonhee kemudian tertawa sangat keras melihat ekspresi Yizing yang menurutnya lucu, mengembungkan kedua pipinya karna kesal. Joonhee bahkan sudah melupakan rasa kesalnya.

“kau harus belajar banyak dariku Yizing-ah… siapa tahu kau tiba-tiba hijrah ke Korea” Joonhee mengedikkan bahunya lalu melepaskan pegangan tangannya pada lengan Yizing, gadis itu kemudian merosok untuk duduk direrumputan hijau yang dipijaknya. Yizing hanya tersenyum sekilas lalu mengikuti Joonhee untuk duduk disebelahnya.

“Ya… siapa tahu” Joonhee kemudian tersenyum lebar, gadis itu mengacak-acak rambut Yizing gemas. Entah sudah berapa lama itu menjadi kebiasaannya.

“Ya, jangan merusak tatanan rambutku… kalau ada yang melihat bagaimana? Aku ini laki-laki” Joonhee tentu saja semakin gemas dibuatnya, gadis itu malah semakin memberantakan rambut hitam milik sahabatnya itu.

“Aigoo… Uri Yizing sudah besar” Joonhee menyipitkan matanya, lalu berkata dengan suara agyeo yang tentu saja dibuat-buat.

“Sudah kubilang… berhenti menggunakan bahasa yang tidak kumengerti Joonhee”

“Arraseo…”

“YA Yoon Joonhee!”

~***~

 

“Zhang Yizing, jika aku meninggal apa yang akan kau lakukan?” Suara Joonhee berhasil memecahkan keheningan diantara mereka berdua sejak beberapa menit lalu, gadis itu memandang taman dengan air mancur dihadapannya dengan datar.

“Berpesta mungkin…” Yizing menjawab santai, laki-laki itu sebenarnya sangat enggan dengan permbicaraan yang menyangkut masalah ini.

“Haha… benarkah?” Joonhee terkekeh pelan mendengar jawaban acuh tak acuh sahabatnya itu. Gadis itu kemudian melanjutkan perkataannya “Kuharap memeng seperti itu…” Sontak saja Yizing memandang Joonhee dengan tatapan tidak percaya, bagaimana gadis itu bisa berharap seperti itu?

“Hey… sudahlah, jangan berbicara seperti itu. Kau masih sehat-sehat saja Yoon Joonhee” raut wajah laki-laki itu berubah seketika, sangat kesal, dan ada sebagian besar dalam dirinya yang marah jika memikirkan hal itu.

“Siapa tahu… tiba-tiba aku kecelakaan, atau mungkin… Overdosis” Joonhee tersenyum lemah diakhir kalimatnya.

“Siapa suruh memakai obat-obatan seperti itu” Yizing berkata sangat datar, laki-laki itu mengingat kembali bagaimana marahnya ia saat mengetahui jika Joonhee memakai obat-obatan terlarang dua tahun lalu. Masih sangat tabu untuk dilakukan gadis berusia lima belas tahun, atau… empat belas tahun? Karna Yizing tidak tahu pasti sejak kapan sahabatnya itu menjadi seorang pemakai.

“Yaya… kau tidak perlu menasehatiku lagi Zhang Yizing, lagi pula aku tidak menyesal” Ya… Yoon Joonhee tidak pernah menyesal dengan semua hal yang ia lakukan selama ini, karna itu memang kehendaknya sendiri, bukan karna paksaan.

“Cih… Lalu kenapa kau bertanya ‘bagaimana jika aku meninggal’?” Joonhee kemudian terkekeh pelan, gadis itu kemudian merangkul akrab pundak Yizing sebelum menatap langit biru diatasnya.

“Hanya memastikan jika kau baik-baik saja, sepertinya memang begitu jika mendengar kau akan berpesta saat aku meninggal nanti” Yizing kemudian menatap sendu sahabatnya yang masih saja menatap langit biru, sebuah senyuman lemah terukir diwajah tampannya. Ya… kemungkinan itu ada. Setidaknya, aku tidak pernah menyesal berteman dengan Troublemaker sepertimu.

~***~

 

“Zhang Yizing, menurutmu yang atau yang ini yang bagus?” Joonhee memperlihatkan duah buah gelang tali dengan nuansa dark pada sahabatnya yang kali ini menemani pergi jalan-jalan. Setelah cukup lama tidak mendengar jawaban laki-laki bermarga Zhang itu, Joonhee berbalik dan memukul belakang kepala Yizing dengan kesal.

“Ya! jangan melamun!” Serunya kesal, kini Yizing memandang Joonhee dengan kesal. Namun laki-laki itu tidak melakukan apapun selain kembali memandangi luar jendela toko aksesoris itu. Menatap satu titik dijalanan setapak itu, Joonhee mengerutkan alisnya bingung. Apa ada yang salah dengan sahabatnya itu?

“Ya… Zhang Yizing, jangan membuatku takut dengan tingkahmu yang aneh ini” –tidak ada jawaban, kerutan dikening Joonhee semakin terlihat jelas. Gadis itu kemudian melihat ‘apa’ yang menjadikan seorang Zhang Yizing tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Seorang gadis. Joonhee memiringkan kepalanya, tidak yakin dengan dugaannya jika sahabatnya itu kini tengah memandangi seorang gadis. Joonhee kemudian kembali menatap Yizing, lalu pada gadis itu secara bergantian. Perlahan, tangan kanan Joonhee yang masih memegangi dua buah gelang menggenggam erat dada sebelah kirinya. Gadis itu tidak pernah melihat tatapan seorang Zhang Yizing seperti itu, bahkan pada dirinya.

“Zhang… Yizing, menurutmu bagus yang mana?” Joonhee menggeleng pelan kemudian dengan sedikit sentakan, menarik Yizing hingga menatap kearahnya. Sejenak, laki-laki itu mengerjapkan kedua matanya seperti orang linglung. Yizing kemudian menautkan kedua alisnya saat melihat Joonhee yang menunjukkan dua buah gelang padanya, laki-laki itu kemudian kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hilang. Gadis itu sudah tidak ada ditempatnya semula, Yizing kemudan menghela nafas panjang.

“Apa yang kau lihat?” Joonhee berpura-pura melihat kearah tempat Yizing tadi memandang, gadis itu tidak ingin jika Yizing tahu bahwa ia tahu apa yang sejak tadi diperhatikan sahabatnya itu.

“Tidak ada, kau tanya apa tadi?” Joonhee mengerucutkan bibirnya lalu menunjukkan kedua gelang yang masih ditangannya didepan Yizing. “mana yang bagus?” tanya Joonhee dengan nada kesal pada Yizing.

“Ehm… aku masih tidak mengerti seleramu itu bagaimana, terlalu abstrak. Kusarankan membeli keduanya saja” Yizing tersenyum sekilas, perkataan Yizing dengan raut wajah polosnya itu membuat Joonhee membuang nafas sebal, selalu saja seperti itu. “Kau menyebalkan” Komentar Joonhee pelan lalu membawa kedua gelang itu kemeja kasir.

“Jadi… kita hanya membeli gelang anehmu itu?” Yizing menunjuk bungkusan yang dibawah Joonhee ditangan kanannya, gadis itu mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Ya! kalau begitu kenapa begitu memaksa? Ada banyak PR yang belum kukerjakan Yoon Joonhee” Yizing membuang wajahnya kesal, hari sudah mulai malam. Dirinya bahkan belum mengganti seragamnya, tapi harus menerima ‘ajakan’ Joonhee.

“Kau sudah sangat pintar Zhang Yizing, lagi pula aku ingin mengajakmu kesuatu tempat” Joonhee kemudian merangkul lengan Yizing, menarik laki-laki itu untuk mempercepat langkah mereka.

“Tempat?” Yizing mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya Joonhee mengajaknya kesuatu tempat. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum sekilas sambil mengangguk.

Langkah mereka berdua berhenti tepat didepan sebuah caffee shop bergaya minimalis dan classic, dengan papan kayu besar didepannya yang bertuliskan ‘Fly High’. “Apa ini yang kau maksud dengan suatu tempat Joon?” Yizing menatap Joonhee aneh, terdengar sangat rahasia namun akhirnya mereka berhenti tepat didepan sebuah caffe.

“ehem…” Yizing kemudian berjalan masuk kedalam caffee namun dengan cepat ditahan Joonhee. “siapa bilang kita akan masuk?” Yizing mengerutkan keningnya bingung, lalu untuk apa mereka datang kecaffee?

“Sebulan lagi perayaan persabatan kita, aku hanya bilang. Jangan datang kemari selama sebulan, aku ingin membuat sebuah kejutan. Bukankah selama beberapa tahun ini kau yang selalu membuat kejutan? Sekarang giliranku” Kerutan Yizing semakin terlihat, caffee ini memang caffee langganannya. Selain tempatnya nyaman, pelayan yang ramah, caffee ini juga penuh kenangan. Baik dengan keluarganya maupun Joonhee, sahabatnya sendiri.

“Kenapa?”

“Ayolah… ya? ya?” Joonhee mengayun-ayunkan lengan Yizing manja, gadis itu bahkan menatap Yizing dengan puppy eyesnya. “Baiklah…” Joonhee sontak saja tersenyum lebar mendengar satu kata yang diucapkan sahabatnya itu meski dengan helaan nafas panjang.

“Datanglah sebulan lagi, ingat! Tepat tanggal 9!”

“Iya Nona Yoon”

TBC

Allmyfantasylyr.wordpress.com

Iklan

7 pemikiran pada “Bad Girl (Chapter 1)

    • Haha… mianhae 🙂
      ehm… mungkin baru chap 4 diperbaiki, soalnya yg chap 2 n 3 udah dikirim. bakalan aku koreksi semuanya, makasih ya udah komen 🙂
      Maklum, biasanya aku bikin Luhan atau Sehun, baru-baru ini aku suka Lay jadi kefikiran buat bikin ff dia…
      Ehm, ini juga ff pertamaku yang dipublis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s