Forever Brother (Chapter 1)

 Author          : Nikichan

Genre              : Brothership, friendship

Length            : Twoshot

Rating             : G

Cast                 : HunHan, EXO Member

 

This story is pure from my mind. No plagiarize, No bash!

Your comments are very help^^ Enjoy~

____________________

Angin musim dingin berhembus pelan menyapu jalanan aspal sore itu. Banyak orang berlalu lalang di trotoar jalan. Kebanyakan adalah orang yang baru pulang dari bekerja. Tak jarang orang-orang sibuk itu mampir ke coffee shop sekedar untuk membeli satu cup kopi untuk menghangatkan tubuh. Dan juga banyak sekali anak muda yang keluar rumah untuk menikmati hari yang dingin ini bersama teman-temannya.

Seorang pemuda berkulit putih pucat terlihat merapatkan jaket yang ia pakai. Berusaha melindungi diri dari serangan angin. Ia berjalan sedikit buru-buru. Seperti remaja lain, pemuda itu juga hendak mengisi waktu senggang bersama teman-temannya di sebuah café.

Udara hangat menyambutnya saat ia memasuki sebuah café di sudut jalan yang ramai. Aroma khas kopi menyeruak masuk hidungnya. Suara tawa dari berbagai sudut ruangan terdengar. Tempat itu ternyata tidak kalah ramai dengan jalanan di luar.

Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah meja di tengah ruangan yang dipenuhi beberapa pemuda yang sebaya dengannya. Teman sekolah.

“Sehun, kau sudah datang?” sapa salah seorang temannya yang paling jangkung.

“Seperti yang kau lihat.” Jawab pemuda bernama Sehun itu lirih sembari menjatuhkan dirinya ke kursi di sebelah Baekhyun yang sedang sibuk meniup-niup asap kopinya yang mengepul.

“Yang lain mana?” tanya Sehun sambil celingukan. Empat temannya tidak ada disana.

“Kyungsoo ke toilet, Yixing masih memesan kopi, Kris dan Tao tadi sepertinya mereka bilang mau jalan-jalan dulu.” Jelas Junmyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca.

“Belanja, hyung. Bukan jalan-jalan,” koreksi Baekhyun.

“Umm, benarkah? Terserah.” Junmyeon mengedikkan bahu tak peduli.

“Aku rasa jalan-jalan dan belanja sama saja Baekhyun-ah.” Chanyeol mengomentari.

“Aku pikir juga begitu.” Sehun ikut menimpali.

“Kalau menurutmu begitu, terserah, deh.” Baekhyun berkata begitu karena ia tak mau berdebat.

“Halo,” seseorang menyapa dari ujung meja, membuat keempat lelaki disana mendongak. Dan nampaklah dua teman mereka yang tinggi membawa banyak kantung belanjaan.

“Oh, Tao-ya.” sambut Baekhyun ceria.

“Sepertinya ada yang harus diralat, hyung. Jadi sekarang tinggal Kyungsoo yang ke toilet dan Yixing yang masih memesan kopi.” Kicau Chayeol riang dengan cengiran lebarnya.

“Hm, terimakasih, Chanyeol-ah.” Junmyeon tersenyum kecil sebelum akhirnya menyeruput kopinya dan melanjutkan membaca majalahnya.

Mereka sempat terlibat pembicaraan seru sebelum akhirnya muncul Kyungsoo dan Yixing di antara mereka. Udara hangat ada di sekeliling mereka semua sementara dingin berada di luar. Mereka menghabiskan banyak waktu mereka untuk mengobrol dan bergurau. Tipikal nongkrong remaja pada umumnya.

Semuanya masih tertawa saat Sehun mulai memperhatikan seseorang yang duduk sendirian di meja yang berada jauh dari mereka. Orang ini seorang pemuda dengan wajah kecil dan tampan dengan rambut coklat yang membingkai rapi wajahnya. Sebuah koper berdiri di sebelah pemuda tadi. Sehun terus memperhatikannya bahkan saat orang itu memandangnya balik.

“Astaga!” Sehun tersentak dan tiba-tiba saja menghentakkan dirinya pada sandaran kursi.

“Kau kenapa Sehun?” Baekhyun berjengit memandangnya, begitu juga dengan yang lain.

“Ah, aku… tidak apa-apa.” Jawab pemuda itu berusaha bertindak wajar.

“Yakin?” tanya Yixing dan Sehun hanya menganggukkan kepalanya mantap.

“Baiklah… Tao-ya, lanjutkan.” Chanyeol mendesak Tao untuk melanjutkan cerita humornya yang tadi sempat terpotong. Semua telah kembali normal. Tapi saat Sehun melihat ke meja tempat pemuda tadi duduk, bukannya mendapati pemuda tadi tapi ia justru mendapati sepasang kekasih yang tengah tertawa bersama. Ia yakin ia tidak salah meja.

Saat Sehun sibuk mencari pemuda tadi di antara padatnya pengunjung café, seorang pelayan mengahampiri meja sepasang kekasih tadi. Pelayan itu membawa dua cangkir kopi dan beberapa kue yang jelasnya adalah pesanan dua orang itu.

Dari situ Sehun sadar. Ia tidak salah meja atau apa. Tapi lelaki tadi memang sudah pergi.

Sehun memang bukan tipe pemuda yang sok kenal. Tapi entah benar mengenal atau tidak, ia merasa kalau ia memang mengenal laki-laki tadi. Rasanya ia pernah bertemu di suatu tempat. Tempat yang sangat jarang ia kunjungi sepertinya. Tempat yang tak berada di antara tempat ramai di kota. Sangat sulit bagi Sehun untuk mengingatnya. Seolah-olah itu semua adalah kenangan yang sudah sangat lama.

Tapi demi apapun Sehun bersumpah ia mengenalnya. Mata itu, wajah itu, orang itu.

Rasanya sangat familiar.

-.-.-.-.-.-.-

“Aku pulang.” Sehun baru sampai di rumah saat jam di dinding hendak menunjukkan pukul delapan malam. Ia berjengit saat melihat ada sepasang sepatu di dekat rak sepatu. Ia berjengit bukan karena ada sepatu yang diletakkan tidak pada tempatnya, tapi karena ada sepatu asing tergeletak disana. Sepatu kets abu-abu itu jelas bukanlah miliknya. Ia rasa juga bukan milik paman atau bibinya karena tak mungkin sekali mereka memakai sepatu model begini. Ini kan sepatu yang dipakai anak muda –biasanya.

“Bibi, ada tamu, ya?” tanyanya saat menemukan bibinya di dapur.

“Oh, kau sudah pulang? Iya, ada tamu. Tumben kau tidak pulang larut?” tanya bibinya sambil lari dari dapur ke ruang makan untuk meletakkan berbagai macam masakannya di atas meja makan.

“Bibi sedang apa sih?” Sehun mengerutkan dahi bingung melihat bibinya yang tergopoh-gopoh.

Aish, kau ini. Tidak lihat bibi menata meja makan.” Bibinya nyaris berteriak tapi masih berlari-lari.

“Bukankah jam makan malah sudah lewat? Lagipula aku juga sudah makan sama teman-teman kok tadi.”

“Bibi sengaja menunda jam makan malam karena paman dan bibi ingin makan malam bersama tamu ini. Ia tamu special, tahu.” Ujar bibinya sewot.

“Kukira semua ini untukku.” Sehun sedikit kecewa bahwa semua ini bukan untuknya. Siapa sih tamunya?

“Siapa sih tamunya?” tanya Sehun penasaran sembari melongok ke ruang tamu. Tapi tak ada siapa-siapa disana. Ruang tamunya kosong.

“Sana, cuci tanganmu. Pamanmu sudah datang. Makan malam akan dimulai.” Suruh bibinya yang dengan cepat berlalu pergi dari ruang makan. Sehun beranjak dengan patuh saat ia mendengar derum mobil di luar. Itu pamannya.

Ia berjalan ke kamarnya di lantai dua dengan berat. Ia ingin tidur tapi perutnya tak mengizinkan. Ia lapar dan benar-benar tergoda dengan masakan bibinya tadi. Karena, jujur saja, tadi di café ia hanya makan kue saja dan itupun juga tak banyak.

Ia melempar jaketnya asal dan merebahkan dirinya di kasur sebentar sebelum turun untuk makan malam. Samar-samar ia mendengar obrolan dari kamar sebelah. Kamar itu sudah lama kosong. Dan ia rasa ‘si tamu’ akan menginap malam ini. Dan ia yakin seratus persen bibinya sekarang sedang mengajak orang itu untuk makan malam.

Sehun akhirnya bangun setelah mencuci muka dan merapikan sedikit rambutnya yang cukup acak-acakan. Lalu ia turun langsung menuju meja makan. Sepertinya paman, bibi, dan ‘si tamu’ itu telah berkumpul karena di ruang makan terdengar ramai sekali.

Tapi ia berdiri terpaku di ambang pintu ruang makan. Ia pasti akan terus berdiri disana seperti orang yang melihat hantu jika saja bibinya tidak menyuruhnya untuk segera duduk.

“Sehun, cepat duduk sini.” Perintah wanita bertubuh kecil ramping itu dengan wajah berbinar. Dengan kaku pemuda itu bergerak dan menggeser kursi yang tersisa tepat di sebalah ‘si tamu’.

“Nah, kenalkan. Ini Luhan, tamu special yang tadi kubilang.”

“Luhan.” Orang itu mengulurkan tangan pada Sehun sembari tersenyum hangat. Ia orang yang ramah sepertinya.

“Se..hun.” pemuda bernama Sehun itu sedikit canggung menyambut uluran tangan Luhan. Sedikit speechless.

“Apa kalian harus berkenalan seperti itu? Apa tidak terlalu aneh untuk orang yang bersaudara? Kalian kan hanya tidak bertemu beberapa tahun,”

‘Apa paman bilang? Saudara? Tapi aku bahkan tidak mengenal orang ini. Aku bahkan belum pernah melihatnya. Ralat. Baru melihatnya di café tadi dan itu tidak berarti aku dan dia bersaudara kan?’ Batin Sehun.

“Kenapa melongo seperti itu? Ayo, makan.” Bibinya membuyarkan lamunannya. Dengan bingung ia mengambil daging lalu langsung melahapnya.

Makan malam kali ini terlalu hening bagi Sehun. Padahal paman dan bibinya banyak mengobrol dengan Luhan. Mereka membicarakan banyak hal mulai dari jam berapa Luhan biasa tidur, pendapat mereka tentang pembawa acara di suatu channel olahraga, hingga presiden Amerika Serikat. Sehun benar-benar tak paham apa yang orang di sekelilignya sedang bicarakan dan sama sekali tak berniat memahami satu kalimatpun. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah laki-laki di sebelahnya ini. Tadinya saat di café ia memang sempat berpikir bahwa ia pernah mengenal orang bernama Luhan ini. Tapi ia tidak pernah berpikir bahwa ia ada hubungan darah dengannya.

Sehun tidak benar-benar tak peduli pada keadaan di sekelilingnya saat ini. Sesekali ia melirik Luhan di sampingnya. Memperhatikan tiap gerak-gerik laki-laki yang mungkin benar saudaranya itu. Mungkin yang dimaksud pamannya, Luhan ini adalah saudara sepupunya yang sangat jauh. Maka dari itu ia tak pernah bertemu sebelumnya. Mungkin. Tapi yang jelas Sehun tak mungkin salah soal Luhan yang sering kali meleset saat mengambil makanan. Ia yakin ia tak salah lihat saat berkali-kali melihat tangan Luhan harus bergeser beberapa senti dari tempat ia menancapkan garpunya.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu disana?” tanya pamannya yang sedari tadi mengintrogasi Luhan dengan berbagai macam pertanyaan.

“Baik. Paman dan bibi disana sangat baik padaku dan merawatku dengan baik juga.” jawab Luhan sambil tersenyum.

“Aku dengar mereka memiliki anak beberapa tahun setelah membawamu?” bibi kembali ke ruang makan sambil membawa teko besar berisi limun.

“Uhuk–” Luhan terbatuk membuat Sehun menoleh sedikit ke arahnya.

“Ah, iya, benar. Mereka memiliki anak lelaki.” Laki-laki itu menunduk entah karena apa. Sehun tebak Luhan merasakan sesuatu tentang anak yang diceritakannya itu.

Entah karena Sehun yang terlalu bosan dengan makan malam kali ini atau karena semuanya terlalu senang tapi ia merasa waktu cepat berlalu. Tahu-tahu saja ia sudah berbaring di atas tempat tidurnya hendak tidur.

Tak butuh waktu lama matanya telah tertutup. Ia terlalu capek.

-.-.-.-.-.-.-

“Sehun, bangun! Sudah pagi!” teriakkan bibinya yang menggelegar dari lantai bawah cukup membuat ia tersentak. Perlahan ia berjalan keluar kamar. Ia melewati kamar Luhan saat melangkah ke kamar mandi. Iseng, pemuda itu membuka pintu kayu tersebut. Pintu itu berderit pelan, menampakkan sebuah ruangan persegi yang tertata rapi.

“Waah,” Sehun bergumam pelan. Dalam hati ia mengagumi betapa rapinya ruang tidur seorang lelaki. Ia mundur beberapa langkah untuk mengintip kamarnya. Tempat tidur yang berantakkan, property yang berserakan dimana-mana. Tipikal kamar laki-laki pada umumnya. Sangat kontras bila dibandingkan dengan kamar Luhan.

“Apa yang kau lakukan?” seseorang bertanya dari ujung tangga.

“Eh, aku hanya…hanya, umm, begini, aku tadi mau ke kamar mandi saat melihat pintu kamar Luhan terbuka. Jadi, aku ingin menutupnya. Iya, itu saja. Aku hanya ingin menutupnya kok,” dalih Sehun yang dengan buru-buru menutup pintu kayu di sampingnya dan dengan cepat melesat melewati bibinya menuju kamar mandi.

-.-.-.-.-.-.-

“Habiskan makananmu.” Perintah bibinya dari dapur, sedang menata perabotan makan.

“Iya iya, aku akan habiskan.” Sahut Sehun yang sedang mengunyah roti bakarnya dengan semangat.

“Oh ya, bi–”

“Telan dulu.” Ingat bibinya yang sekarang sudah duduk di hadapannya dengan semangkuk salad.

“–Luhan,” Sehun membuka mulut ingin bertanya. Tapi bibinya memotong, “Pamanmu mengajak dia pergi ke rumah temannya. Katanya ada urusan pekerjaan dan sekalian mengambil benih bunga tulip yang kemarin temannya janjikan. Ia baru pulang dari Belanda, katanya.” Jelas bibinya panjang.

“Aku tidak tanya soal itu, bi. Aku ingin tanya, berapa lama Luhan menginap disini?” laki-laki itu bertanya dengan wajah sedikit masam. Kesal karena bibinya sok tahu.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut wanita itu. Detik berikutnya, pandangannya menerawang.

“Aku tidak tahu. Yang jelas akan lama sekali. Ia akan sekolah disini soalnya,”

“Hah? Sekolah disini?” tanya Sehun yang hampir tersedak. Ia terkejut

“Kenapa?” lanjutnya dengan suara parau.

“Kenapa? Rumahnya kan disini, Sehun-ah. Bagaimana sih kau ini.” Ada nada keras dalam suara bibinya tadi. Sehun menyandarkan tubuhnya sambil meminum air.

“Bibi, kalau bisa jelaskan padaku siapa sebenarnya Luhan.” Pinta Sehun.

“Dia saudaramu. Kau tidak dengar, ya, paman bilang padamu semalam, ck.” Bibinya berdecak kesal sembari mendorong piring salad yang sudah bersih menjauh darinya. Lalu mengambil jus di kulkas.

“Bukan itu maksudku. Dia itu saudara sepupuku…yang mana?” tanya Sehun takut-takut. Takut kalau ia salah mengatakan Luhan adalah saudara sepupunya. Tapi kalau ia pikir sepertinya tidak salah. Ia dan Luhan belum pernah bertemu, benar? Jadi, masuk akal saja kan kalau ia menganggap Luhan adalah sepupunya yang selama ini jauh sekali darinya.

“Astaga, lelucon apa ini?” tak lama setelah itu bibinya telah kembali dengan satu botol jus jambu kesukaannya. Jambu itu bagus untuk kulit, katanya.

“Aku sungguh-sungguh, bibi,” gumam Sehun tak bersemangat sambil meletakkan kepalanya di atas meja.

“Berapa tahun kalian tidak bertemu? Masa sampai lupa begini.” Bibinya menanggapi dengan tawa renyah. Seakan-akan menganggap pertanyaan Sehun tadi adalah benar-benar sebuah lelucon. Sehun hanya diam. Menunggu bibinya mau menjawab pertanyaannya entah kapan.

“Tunggu dulu.” bibinya menghentikan kegiatan minum jusnya dengan tiba-tiba. Membuat Sehun menegakkan badannya seketika.

“Kau…jangan bilang kau benar-benar lupa dengan anak itu.” wanita dengan gelas jus jambu merah di tangannya menunjuk Sehun dramatis. Seolah-olah pemuda itu adalah tersangka tindak kejahatan.

Sehun mengedikkan bahu palan. Bagaimana lagi. Ia benar-benar tidak tahu soal anak bernama Luhan ini.

“Astaga! Kau ini bagaimana, huh? Masa sama saudara sendiri lupa?!” bibinya berteriak dengan suaranya yang melengking. Sehun tersentak.

“Maka dari itu aku tadi tanya, dia saudara sepupuku yang mana? Aduh bibi,” Sehun berujar lemas.

“Kau tak ingat sama sekali tentang dia?” tapi sayang sekali bibinya tak langsung menjawabnya. Sepertinya wanita itu ingin memberi teka-teki bagi Sehun.

“Yah, aku hanya ingat pernah melihatnya di suatu tempat.” Gumam Sehun yang lama-lama jengah dengan obrolan ini.

“Di pemakaman?” Celetuk bibinya.

“Pemakaman?” ulang Sehun. Rasanya otaknya berputar cepat setelah itu. Gambaran sebuah pemakaman tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Disana sangat banyak orang-orang berpakain serba hitam. Ia sendiri mengenakan tuxedo hitam. Disana, ia melihat seorang anak kecil – seumuran dengan dia sepertinya – sedang menangis terisak-isak. Seseorang memeluknya, menenangkannya. Itu bibinya. Dan anak kecil itu – ia benar-benar yakin kalau itu adalah Luhan.

Saat itu adalah saat pemakaman orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.

“Hmm?” tiba-tiba saja ia mendapati bibinya yang mencondongkan tubuh ke arahnya. Mendesaknya untuk segera memberi tahu apa saja yang ia ingat.

Sehun hendak menjawab saat tiba-tiba saja ada orang masuk ke dalam rumah.

“Kami pulang.”

-.-.-.-.-.-.-

Jam besar di ruang tengah sebuah rumah berdentang satu kali saat waktu telah menunjukkan jam satu dini hari. Sekarang memang sudah sangat larut. Tapi selarut apapun itu kiranya tak cukup untuk mengehentikan pemuda bernama Sehun ini agar berhenti memainkan stick game-nya.

“Ah, sial!” umpatnya ketika ia kalah dalam permainan. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. Mencoba menenangkan dirinya yang baru saja kalah serta ingin bernapas dulu sebelum mulai bermain lagi.

Di tengah-tengah suara napasnya ia mendengar erangan pelan dan suara ‘gedebuk’ yang cukup membuat telinganya bereaksi. Ia mendudukkan dirinya pelan-pelan. Ia tidak tahu benar atau salah tapi ada bagian dari dirinya yakin bahwa suara-suara itu berasal dari kamar sebelah.

Ia melangkahkan kakinya perlahan. Dalam beberapa detik ia sudah berada tepat di depan pintu kamar Luhan. Ia hendak mengetuk pintunya saat dari dalam terdengar suara ‘gedebuk’ lagi. Tanpa basa-basi lagi ia segera mengetuk pintu kayu itu. Suara langkah kaki yang bergesekan dengan lantai terdengar dari dalam sebelum akhirnya pintu kayu itu mengayun terbuka. Dan muncullah sosok Luhan yang tengah mengucek matanya.

“Oh, Sehun-ah. Kau belum tidur?” tanya Luhan berusaha tersenyum pada Sehun.

“Belum. Aku mendengar suara-suara aneh dari kamarmu. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sehun menatap Luhan dengan matanya yang sudah berkantung.

“Oh, itu. Tadi aku bermain game dan baru saja selesai. Dan suara-suara yang kau maksud tadi mungkin berasal dariku yang sangat frustasi karena kalah terus. Maaf ya, kalau itu mengganggumu.” Ujar Luhan sambil menggaruk tengkuknya merasa tak enak pada Sehun.

“Kau main game?” tanya sehun sambil melongok sedikit ke dalam kamar yang rapi itu. Terlihat ada sebuah mac dan sepasang stick game yang tergeletak di atas meja. Sepertinya baru digunakan bertempur.

“Aku juga main game tadi.” Terang Sehun dengan cengiran.

“Benarkah?” Luhan mengangkat alisnya dan Sehun mengangguk bersemangat.

“Tapi apa tidak sebaiknya kau tidur? Kau kelihatan mengantuk.” Luhan menatap mata Sehun yang sudah merah.

“Benar juga sih. Kalau begitu, selamat malam, Luhan.” Sehun melambaikan tangannya.

“Malam, Sehun.”

-.-.-.-.-.-.-

“Sehuuuuuuuuun!!” suara melengking bibinya di pagi hari yang cerah ini lagi-lagi kembali terdengar dan itu cukup untuk membuat Sehun terjungkal dari tempat tidurnya sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki berat menuju kamar mandi.

“Pagi,” sapa laki-laki itu serak saat ia memasuki ruang makan lalu duduk di salah satu kursinya. Pagi yang biasa menurutnya.

“Ini sudah siang,” sahut bibinya dari dapur. Sepertinya sedang memasak untuk makan siang.

“Dimana Luhan?” Sehun bertanya di tengah-tengah acaranya menyantap makanan bekas sarapan.

“Menanam bunga tulip di halaman belakang rumah.” Jawab bibinya dengan suara yang sangat keras.

“Ck.” Sehun berdecak pelan lalu pergi meninggalkan ruang makan. Ia baru akan menginjakkan kakinya pada anak tangga pertama ketika bibinya memanggil lagi.

Ya, Sehun-ah, kau tidak ikut saudaramu?” tanya bibinya yang muncul di ambang pintu dapur sembari mengaduk entah apa yang ada di mangkuk di tangannya.

“Tidak.” Pemuda itu menjawab dengan datar. Ia hendak melanjutkan langkahnya ketika teringat sesuatu. Dengan cepat ia berbalik.

“Bi, Luhan itu saudara sepupuku yang mana?” ia mengeraskan suaranya, bermaksud agar bibinya mendengarnya. Tapi nyatanya bibinya malah tak menggubrisnya sama sekali.

“Ck.” Lagi-lagi Sehun berdecak, kesal. Ia pergi ke lantai dua, ke kamar Luhan. Dulu kamar yang ditempati Luhan sekarang adalah ruangan kosong. Sehun terbiasa menyimpan barang-barangnya – yang tak muat di kamarnya – di kamar itu. Tapi tampaknya bibinya itu telah membereskan semuanya sebelum Luhan datang. Dan barang-barangnya entah dipindah kemana. Mungkin di loteng. Tapi disana masih ada lemari yang dulu. Mungkin sengaja tidak dipindah agar Luhan bisa menggunakannya. Mungkin.

Laki-laki berkulit pucat itu membuka pintu kamar Luhan pelan. Ia berpikir tidak apa-apa jika ia masuk. Soalnya ia mau mengambil kaos bolanya yang sepertinya masih ada di lemari kayu besar yang ada di pojok ruangan itu. Semoga saja.

Butuh sedikit waktu bagi Sehun untuk menemukan apa yang dicarinya di bawah tumpukan baju Luhan yang lain. Setelah mendapatkannya ia berniat keluar ketika mata cokelatnya menangkap sesuatu yang menyembul dari dalam koper Luhan. Sesuatu yang berwarna biru.

Benda itu membuat Sehun terdorong untuk menariknya keluar dan melihatnya. Dalam beberapa detik saja benda itu telah berada di tangannya. Sebuah album foto. Jari-jarinya membuka lembar pertama. Terpampang jelas foto Luhan disana. Dia dan… seseorang. ‘Mungkin adiknya.’ Pikir Sehun yang dilanjutkannya dengan membuka lembar kedua. Isinya tetap sama. Luhan dan ‘anak itu’ entah siapa. Beberapa lembar setelah itu ada foto anak laki-laki kecil yang meniup lilin berangka 8 di atas kue ulang tahun. Jelas sekali itu Luhan yang sedag berulang tahun. Di bawah foto tadi ada sebuah foto keluarga. ‘Keluarga Luhan.’ Batin Sehun. Tiga lembar setelahnya juga hanya berisi foto keluarga yang sama.

Jari Sehun terus menelusuri album foto itu. Hingga ia menemukan sebuah foto dua bayi yang tengah tertidur lelap. Lucu sekali. Sehun tersenyum melihatnya.

“Eh, ini bayi siapa?” gumam Sehun. Ia bingung.

“Apa ini Luhan? Kalau ini Luhan, lalu yang di sebelahnya siapa? Masa iya ini adiknya? Masa adik sama kakak lahirnya bareng?” Sehun lebih mengernyitkan dahinya lagi saat membuka halaman berikutnya. Dua anak laki-laki lucu yang sedang bermain bersama dan terlihat sangat gembira. Sehun berani bilang kalau salah satu dari anak itu adalah Luhan. Terang saja, ini kan album foto milik Luhan, benar?

Ia terus membalik lembar demi lembar. Ia sampai pada sebuah foto yang ukurannya lebih besar daripada foto-foto lain sebelum ini. Foto sebuah keluarga, lagi-lagi. Tapi ini foto yang berbeda. Disana ada Luhan yang masih kecil dan juga – mungkin – saudaranya di sampingnya. Foto ini sepertinya sudah lama sekali karena gambarnya sedikit buram membuat Sehun kesulitan melihatnya. Di belakang anak tadi ada seorang pria dan wanita. Tentu saja orang akan berpikir dua orang itu adalah orang tua anak-anak tadi. Tapi Sehun tidak berpikir begitu. Yang Sehun pikirkan sekarang adalah, kalau ini keluarga Luhan lalu yang di lembar depan tadi keluarga siapa? Jelas-jelas Luhan ada disana juga kan?

Sehun agaknya benar-benar dibuat bingung oleh foto-foto ini.  Ia ingin bertanya pada bibinya. Siapa tahu wanita periang itu tahu jawabannya. Ia hampir sampai di lantai dasar saat ia menyadari satu foto telah jatuh dari albumnya. Foto keluarga terakhir yang dilihatnya. Ia memungutnya dan tanpa disengaja ia melihat ada tulisan di balik foto tadi.

‘eomma, appa, Sehun, Luhan ^^’

Terkejut, Sehun menjatuhkan album yang ia bawa. Beberapa foto berhamburan di lantai. Ia memungutnya hati-hati sambil sesekali melihat kalau-kalau ada tulisan mengejutkan seperti tadi di balik tiap foto. Ia memungut foto pertama. Foto Luhan yang sudah besar dengan seorang anak laki-laki tadi yang tidak dikenal Sehun. Ada tulisan di baliknya. ‘Luhan & Jongin’.

Sempat sebuah pertanyaan terlintas di benak Sehun. Siapa-itu-Jongin.

Tapi toh ia tak terlalu peduli. Karena ada yang membuat ia lebih terkejut. Di balik foto dua anak yang berangkulan dan tersenyum, ada serentetan tulisan rapi.

 

Luhan & Sehun

Beloved Twins

Forever Brother

-.-.-.-.-.-.-

TBC

____________________

Haihaii! Author balik lagi masih dengan cerita HunHan \=D/

Saya minta maaf kalo cerita chapter pertama ini jelek/mengecewakan/tdk memuaskan/cacat dan banyak typo. Bahasanya juga, maaf kalau aneh atau apalah. Saya masih belajar dan berusaha untuk bisa meggunakan bahasa yang baik dan benar dalam cerita =))

Buat yg lain-lain aku ceritakan nanti di chapter 2 aja yaa 😀

Nah, aku harap readers berkenan untuk meninggalkan komen{}

Thankyouuuu~^^

Iklan

6 pemikiran pada “Forever Brother (Chapter 1)

  1. luhan itu siapanya sehun sih thor?
    apa saudara kembarnya?
    terus kenapa sehun gak kenal?
    jongin siapanya luhan?
    *penasaran banget
    part selanjutnya jangan pake lama ya thor 🙂

Tinggalkan Balasan ke XiuLu99 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s