Peterpan

Tittle : Peterpan
cast : Kim junmyun, kang seung yeon(OC)
genre : angst
length : one shoot
author : summer (@vnyynsc)

peterpan

yeoja itu membuka matanya, manik manik itu terlihat berkilat saat pantulan
sinar matahari yang menelusup masuk dari jendela kamarnya membelai wajahnya. Sejak kapan jendela itu terbuka? yeoja itu tidak pernah lupa untuk selalu merapatkan kamarnya saat akan tidur. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakikanya ke arah kamar mandi. terlalu pagi untuk berpikir, dan memang terlalu banyak hal yang terjadi tanpa penjelasan di hidupnya, seperti keadaanya saat ini.

namja itu tersenyum saat mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, itu tandanya gadisnya sudah bangun dari tidurnya, tangannya pun kembali lincah meyiapkan sarapan untuknya dan yeoja yang baru saja sadar dari alam mimpinya. sambil tersenyum namja itu menata masakan yang baru saja matang di atas piring-piring porselen. Aktifitas ini memang sudah menjadi rutinitas untuknya, setiap pagi datang ke rumah yeojanya untuk menyiapkan sarapan.

Yeoja itu mengenakan gaun chifon nya, lalu menyisir sedikit rambutnya dan bercermin. Hari ini, sejak ia bangun ekspresi itu belum pernah lagi terukir di wajahnya yang manis itu. Ekpresi yang membuat orang ikut merasakan kedamaian hatinya. Yeoja itu lalu menghela napas dan berjalan ke arah ruang tamu.
Ia menatap beberapa piring yang sudah tersusun rapi di atas meja makan, jantungnya terasa sakit kembali melihat pemandangan itu. Sepiring omurice dan jus jeruk yang diletakan berhadapan, semuanya terasa begitu klise hingga membuatnya sadar bahwa semuanya tidak lagi sama dan nyata.
Ia mengenggam ujung gaunnya dan memberanikan diri untuk duduk di meja makan itu. Meneguk jus jeruk dan menyuapkan omurice itu kemulutnya. yeoja itu hanya mencoba mengikuti keadaan

junmyun menoleh dan mendapati yeojanya sudah duduk manis di meja makan,ia lalu segera meninggalkan acara televisi yang sengaja ia putar untuk menunggu gadisnya.
‘pagi uri seungyeoni,, tidurmu nyenyak?’ namja itu duduk tepat di hadapan seungyeon yang sedang menyantap makanannya. Tapi yeoja itu tidak menjawab pertanyaan namja itu, bahkan seperti tidak menyadari bahwa ada seorang namja yang sedang tersenyum di hadapannya.
Yeoja itu lalu berhenti menyendokkan nasi sebentar dan meredakan isakanya, ia lalu meraih tissue di depan junmyun. Namja itu terkejut melihat ekspresi yeoja yang ada di hadapannya ini. Kenapa ia menangis? ‘neo gwencanha? Seungyeoni? Mwo haneungoya?’ namja itu mengarahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat ekspresi seungyeon dengan jelas. Wajahnya pucat, dan lingkaran hitam menghiasi matanya. Junmyun benar-benar tidak mengerti dengan yeojanya ini.seungyeon lalu beranjak dari kursinya berjalan ke arah pintu dan keluar. Junmyun yang tidak mengerti keadaan ‘ada apa ini sebetulnya?’ hanya mengikuti yeoja itu berjalan. Wanita memang sulit untuk di mengerti baginya. Ia lalu tersenyum kecil dan berlari mengejar seungyeon, karena ia sudah mengerti bagaimana seorang yeoja bertingkah bila hatinya sedang tidak baik. Walaupun tidak sebegitu baiknya, kadang ia tetap tidak mengerti kenapa seungyeon harus merengek-rengek untuk mengadakan hari jadi mereka yang ke 100 ke 150 atau bahkan ke 1000, itu sungguh tidak masuk akal baginya, tapi ya begitulah seorang yeoja.

Seungyeon memutuskan untuk duduk di bangku taman di bawah pohon pinus, tempatnya beberapa hari yang lalu bercerita dan tertawa bersama seseorang, tempat terakhirnya terlukis ekspresi indah itu. Ia hanya menatap ujung kakinya, merasakan angin yang sebetulnya bisa membawa ketenangan untuknya bila ia tidak di saat seperti ini.

Junmyun memperhatikan keadaan seungyeon yang duduk di sampingnya, dia mulai merasa bahwa seungyeon tidak baik-baik saja, wajahnya pucat dan terlihat sakit. Ia lalu merapatkan duduknya ke arah seungyeon dan merengkuh gadis itu dalam-dalam, mencoba memberikan ketenangan pada yeojanya. Tapi tubuh seungyeon semakin bergetar dan napasnya terputus-putus. Terisak, yeoja itu menangis, membuat junmyun terkejut dengan apa yang terjadi pada seungyeon, namja itu melepaskan pelukannya dan mencoba melihat keadaan yeoja itu, namja itu berani bersumpah bahwa ia tidak pernah melihat seungyeon menangis seperti ini, ia lalu bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan yeoja itu, menatapnya lekat-lekat, tapi yeoja itu tetap meraung bahkan beberapa kali memukul-mukul dadanya seakan-akan ia benar-benar putus asa, junmyun merasa pilu dengan suara tangisan seungyeon, sungguh tangisannya dapat membuat semua orang yang mendengarnya ikut berlinang, ‘ seungyeoni geumanhae.. geumanhae…’ suara junmyun serak, dan ikut bergetar, ia tidak tega melihat seungyeon seperti ini. Berusaha untuk merengkuh kembali yeoja itu tapi kali ini gagal, seungyeon tetap meraung dan memukul dirinya sendiri,
seketika dengan cepat junmyun menangkap tangan seungyeon dan menatap yeoja itu. Matanya terlihat berbeda, ia terkejut dengan tatapan itu, tatapan putus asa, dan kebingungan. Matanya bergerak-gerak dan membulat.dan sedetik kemudian yeoja itu menjauh mundur, seakan ketakutan, dan berlari kencang meninggalkan junmyun.

Perasaan itu, tidak bisa ia sembunyikan lagi, kehilangan, keadaan seperti sebuah film yang dipercepat, ia tidak tahu apa yang terjadi, dan keadaanya sekarang ia sudah sendiri, tidak ada lagi kenangan itu, senyuman malaikat itu, cerita-cerita mereka berdua. ‘junmyun…’ akhirnya, yeoja itu berbisik dalam isakannya, akhirnya ia menyebutkan nama itu juga, setelah sekian lama mencoba berani dengan keadaan ini, tidak ingin mengingat nama itu lagi, tapi akhirnya pertahanan itu runtuh juga, air mata itu mengalir deras di pipinya. Keadaan dimana ia tidak sempat memeluk raga itu, namja yang dicintainya.namja yang selalu tersenyum kepadanya.ia mengarahkan kepalan tangannya itu ke arah dadanya, berkali-kali, namun tetap tidak bisa menghilangkan perasaan sesak ini, yang seakan bisa membuat dadanya meledak. Dan sedetik kemudian ia terkejut saat tangannya seakan kaku dan tidak dapat bergerak, matanya mencari-cari apa yang membuat tangannya seperti itu dan ia melihat mata itu, mata namja yang membuatnya seperti ini, mata yang ia rindukan beberapa hari ini. Jantungnya seakan berhenti sesaat. Ia lalu tahu bahwa itu adalah ilusi, hanya ilusi. Ia lalu berlari- lari secepat-cepatnya ke tempat dimana ia bisa menemukan namja itu.

seungyeon menghentikan langkahnya, dan mulai berjalan pelan, junmyun yang berusaha mengejar yeoja itu lalu mengambil napas nya sebentar, napasnya sampai terputus-putus saat mengejar seungyeon.junmyun terus mengikuti langkah seungyeon yang gontai, mecoba berhenti bertanya ‘ada apa’ agar yeoja itu sedikit tenang.tapi junmyun salah. Kali ini dirinya lah yang lemas, seakan-akan darahnya tumpah habis, kakinya bahkan tidak mampu menopang bobot tubuhnya lagi saat melihat apa yang ada dihadapannya dan seungyeon. Sebuah tempat peristirahatan terakhir beserta namanya yang terukir di batu itu. Seungyeon sejak tadi berbaur di atas tanah dengan rumput itu, menangis, dan meratapi raga yang sudah menyatu dengan bumi saat ini. Junmyun tidak percaya bahwa dia sudah meninggal, bahwa sekarang hanya arwahnya lah yang bersama seungyeon. Sekarang ia bahkan tidak bisa lagi menyentuh gadis itu. Matanya terus membulat, napsnya tersengal-sengal. Mengingat hal apa yang bisa membuatnya seperti ini. ‘naega wae geurae? Eotteokae?’ junmyun menatap jari-jarinya yang mulai terlihat bercahaya

Flashback
namja itu berlari-lari, berkali-kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. ‘Ciiiiiiit’ suara ban itu membuat junmyun mundur beberapa langkah dan menenangkan dirinya, ia sadar ia sudah berlari hingga tidak peduli dengan apapun. Ia lalu kembali berlari menuju suatu tempat, ia tidak bisa membiarkan gadis itu menunggu terlalu lama.

Seungyeon berkali-kali mengutuk junmyun yang belum juga muncul. ‘kim junmyun, aku hampir tersanjung dengan tempat istimewa ini, tapi semuanya luntur karena kau telat’ seungyeon sudah menolak setiap kali pelayan datang menawarkan pesanan. Tidak sebelum junmyun datang pikirnya. Walaupun namja itu sudah terlambat lebih dari satu jam, tepi yeoja itu tetap rela menunggunya, karena ia merasa junmyun akan melamarnya malam ini, memberinya cincin dan memintanya untuk menjadi istrinya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat jantung seungyeon berdetak dan tersenyum malu.
Akhirnya langkah itu terdengar di kuping seungyeon, yeoja itu menoleh dan melihat junmyun yang tersenyum kearahnya. Namja itu lalu duduk di hadapannya. ‘jadi.. apa yang sudah kau lakukan selama menungguku?’ junmyun menggoda seungyeon yang sekarang sudah bertingkah seakan dia marah kepada junmyun, tapi semakin marah seungyeon semakin suka namja itu menggodanya, bahkan namja itu tidak mengucapkan maaf sama sekali. junmyun lalu tertawa dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang membuat mata seungyeon membulat penasaran.
‘ini untukmu’ junmyun memberikan sebuah boneka beruang berwarna coklat ke arah seungyeon. Yeoja itu menghela napasnya dan menatap junmyun. Ini sungguh jauh dari apa yang di pkirakannya.tidak ada cincin, atau bahkan suasana ini jauh dari kesan romantis. Seungyeon lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan junmyun. Namja itu lalu berusaha menahan seungyeon
‘seungyeon ah.. chakanman,..’ langkahnya terus mengikuti langkah seungyeon tapi namja itu tidak berusaha untuk mendahuluinya lalu mencegahnya,
‘seungyeoniii… chakanmanyooo’ bahkan sekarang nada suara namja itu seakaan meledek seungyeon, mendengar hal itu seungyeon semakin mempercepat langkahnya. Tidak perduli dengan junmyung yang terus mengikutinya
‘BRUUKKK’
suara itu, berhasil membuat seungyeon menoleh kebelakang, sejak ia tidak mengacuhkan suara junmyun untuk membuatnya berhenti suara itu seakan menandakan ada sesuatu yang terjadi,

jantung seungyeon berdetak lebih cepat, tubuhnya lemas saat ia melihat namja itu sudah terlempar lebih dari lima meter dari tempatnya berdiri tadi. Seungyeon lalu berlari ke arah junmyun yang merintih kesakitan, seungyeon mengangkat kepala junmyun dan meletakannya di pahanya. ‘junmyuni.. chagi.. bertahanlah..’ seungyeon mendekap kepala junmyun, bergetar, yeoja itu sungguh tidak ingin kehilangan junmyun seperti ini. Tapi namja itu bahkan sudah tidak menjawab seungyeon lagi. Sudah tenang, junmyunnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Seungyeon hanya bisa merinintih, membodohi dirinya.
Boneka itu? Seungyeon tersadar saat ia akan mengentar tubuh junmyun ke rumah sakit, ia mencari boneka yang akan junmyun berikan kepadanya. Ia pun kembali turun dari mobil dan mencari boneka itu. Sedetik kemudian pandangan sengyeon mendapati sebuah boneka terlempar di bawah pohon tidak jauh dari tempat junmyun kecelakaan. sengyeon
mengambil boneka yang ada di bawah pohon itu, ia lalu kembali menangis, menyesali perbuatannya kepada junmyun,namja yang mencintainya.memeluk boneka itu, seakan itu adalah junmyun.
Seungyeon lalu terdiam sejenak. Merasakan ada sesuatu di dalam boneka yang tingginya hampir menyamai dirinya saat sedang berlutut seperti ini. Seungyeon lalu merogoh baju yang dikenakan oleh boneka itu. Dan untuk kesekian kalinya yeoja itu benar-benar mengutuk hal yang terjadi saat ini, di tanganya terdapat sebuah kotak kecil berwarna merah yang dilapisi oleh beludru. Seungyeon bahkan tidak berani untuk membukanya, karena sebetulnya ia tahu benda apa yang berada di dalamnya, benda yang selama ini diinginkannya, tapi tidak disaat ini, tidak disaat seperti ini.

Flashback end
cahaya dari tubuh junmyun mulai memudar, tubuhnya semakin transparan, ia bahkan belum mengatakan selamat tinggal kepada seungyeon. Berkali-kali junmyun mencoba untuk menyentuh yeoja itu tapi ia tidak bisa. Tubuhnya hanya seperti bayangan sekarang. Junyum mendekat ke arah seungyeon dan melihat yeoja itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Cincin. Sebuah cincin yang akan ia gunakan untuk melamar seungyeon. Namja itu terus memperhatikan apa yang yeoja itu akan lakukan dengan cincin itu. ‘mianhae junmyuna.. aku harus mengembalikan ini, aku-‘ seungyeon terlihat mencoba menarik napas untuk membetulkan suaranya, ‘aku tidak bisa terus menyimpan benda ini.’ yeoja itu lalu meletakkan cincin itu di atas tumpukan bunga dan bangkit dari tempatnya. Ia berjalan menjauh lalu membalikan tubuhnya kembali menatap makam junmyun’kau harus menyimpan cincin itu dengan baik ara? Dan berikan pada ku di saat kita bertemu kembali’ seungyeon meneteskan air mata terakhirnya saat itu dan tersenyum meninggal kan tempat itu. Junmyun yang semakin lemah dan memudarpun tersenyum. Dan bersama dengan angin yang berhembus junmyun pun pergi.

Our relationship that shows of a watch spring How much would it have changed
Although I turned one page that I lastly wrote about you in, no longer
Do I have the strength to read on I’m going to erase the sad writings
It’s not going to be the end of our story
Because I’m going to meet you again- PETERPAN (EXO)

//

Iklan

7 thoughts on “Peterpan

  1. Omo!!! daebak! feelnya berasa bgt thot, aku jadi terharu T.T hwaaa 😦
    good job thor! tp sayang bgt udah meninggal junmyunnya;;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s