Forever Brother (Chapter 2)

Forever Brother

 Author: Nikichan ( @nikitaaabc )

Genre: Brothership, friendship

Length: Twoshot

Rating : G

Cast: HunHan, EXO Member

 This story is pure from my mind. No plagiarize, No bash!

Your comments are very help^^ Enjoy~

____________________

Pemuda berambut coklat berjalan menuju pintu sebuah rumah yang bisa dibilang besar. Ia berjalan dengan seekor kucing digendongannya. Kucing itu ia temukan dengan satu kaki belakangnya berdarah-darah tadi sewaktu ia dan pamannya sedang menanam bunga tulip di belakang rumah. Kasihan sekali. Pamannya bilang ia boleh merawatnya. Jadi, ia membawanya pulang. Dengan riang ia bersenandung pelan.

Ia telah masuk ke dalam rumah ketika ia mendengar sesuatu dari ruang makan.

“Bibi, apa maksud ini semua?!” suara laki-laki disertai gebrakan yang cukup keras menggema di seluruh ruangan.

Pemuda dengan kucing tadi melangkah pelan menuju sumber suara. Tak butuh waktu lama ia telah berada di ambang pintu ruang makan tersebut. Disana terlihat ada Sehun dan juga bibinya yang tengah memasang wajah kebingungan.

“Kau kenapa, Sehun-ah?” tanya wanita itu sedikit panic.

Sehun melirik ke arah meja makan. Di atas meja besar itu ada sebuah benda yang tergeletak. Benda berwarna biru. Album foto milik Luhan.

“Um, permisi. Tapi bukankah itu punyaku?” sebuah suara kalem tiba-tiba saja mendominasi isi ruangan. Orang yang selama ini hanya berdiri di ambang pintu akhirnya buka suara saat melihat miliknya ada pada tempat yang tidak seharusnya.

Dan dalam sedetik dua pasang mata memandangnya.

“A-ah, Luhan,” bibinya menyapa dengan gugup saat bocah itu berjalan menghampiri Sehun yang bungkam. “Ini punyaku, kan?” tanya Luhan lagi, menoleh pada Sehun. Tapi yang ditanya malah memandang ke arah lain.

“Luhan, kau ajak Sehun mengobrol di luar, ya. Bibi masih sibuk dengan urusan dapur.” Ujar bibinya sedikit mendorong keduanya untuk keluar.

“Tapi aku ingin mengobati kucing ini dulu. Bolehkah?” tanya Luhan lagi-lagi dengan suaranya yang lembut.

“Itu kucingmu?” Sehun berjengit melihatnya. Ia tidak terbiasa dengan hewan. Bahkan tinggal di rumah neneknya selama 15 tahun yang penuh dengan kucing dan burung beo jenis apapun sepertinya tidak membuatnya akrab dengan hewan manapun.

“Itu kucingmu? Sini, biar bibi saja yang merawatnya. Kau ngobrol dengan Sehun di luar. Ini,” bibinya menukar kucing dan album foto milik Luhan dengan cepat. Sebenarnya mereka sedikit kelabakan dengan ulah bibinya.

Pokoknya, tahu-tahu saja mereka sudah duduk di bangku taman di belakang rumah. Suasananya masih sama seperti saat mereka baru keluar dari rumah. Hening. Mereka hanya berkata “Hai” saja saat berpapasan dengan paman mereka tadi. Tapi setelah itu semuanya bungkam. Rupanya tak ada satupun yang berniat membuka mulut untuk bersuara.

“Jadi,” mulut kecil Luhan membuka sedikit untuk membuat percakapan ringan. Ia tidak terbiasa berada dalam situasi seperti ini.

“kau ingin aku menemanimu mengobrol tentang apa?” tanyanya pelan. Tapi Sehun tak memberi respon apapun. Ia tetap diam. Luhan melirik laki-laki di sebelahnya. Sementara Sehun melirik album foto berwarna biru yang sekarang berada di tangan Luhan.

“Kau… ingin melihat ini?” tanya Luhan ragu-ragu sambil menyodorkan album itu pada Sehun.

“Bisa kau jelaskan padaku soal foto-foto itu?” tanya Sehun to-the-point.

“Eh?” Sedikit terkejut, Luhan diam sebentar. Berusaha mencerna pertanyaan sederhana yang meluncur keluar dari mulut Sehun.

“Sebenarnya… aduh, aku tidak tahu darimana harus memulai.” Luhan terkikik dan refleks mengusap tengkuknya.

“Mungkin kau bisa mulai dari awal.” Usul Sehun yang masih setia menatap Luhan dengan mata coklatnya.

“Uh –ide bagus.” Gumam Luhan seraya membenarkan posisi duduknya, siap bercerita.

“Jadi, begini. Kita… kembar.” Ia melirik Sehun pelan. Ada ekspresi kaget di wajah tampan itu. Tepat seperti prediksi Luhan. Yah, walau hanya sedikit.

Sementara itu di dalam diri Sehun, hatinya melengos. Ia sudah tahu, memang. Tapi mendengarnya langsung dari Luhan membuat ia lebih… merasakan betapa terkejutnya ia.

Beberapa detik setelah itu, Luhan memberi isyarat yang nampaknya seperti boleh-aku-lanjutkan-?

“Oh, yeah, lanjutkanlah.” Jawab Sehun cepat.

“Lalu kita tinggal bersama orang tua kita. Ya, di rumah ini.” Tambah Luhan melihat arah pandangan Sehun menuju rumah yang mereka tempati –yang bisa dibilang cukup besar.

“Setelah kita berumur 2 tahun. Eh, bukan. Entahlah, aku lupa. Pokoknya nenek membawamu ke Paris.”

“Ah–” gumam Sehun. “Tapi, bagaimana denganmu?” tanya Sehun. Luhan tersenyum tipis karena pertanyaan Sehun tepat seperti apa yang ia duga.

“Kenapa nenek hanya membawaku? Kenapa kau tidak?” Sehun bertanya dengan nada menuntut. Terkesan seperti tidak terima, pikir Luhan. Tapi memang benar. Sehun merasa kalau neneknya seperti terlalu membeda-bedakan ia dan Luhan. Ia tidak suka intimidasi.

“Karena ia tidak mau aku.” Luhan menjawab dan tersenyum ringan ke arah Sehun.

“Kenapa?” tanya Sehun lagi, merasa tidak puas dengan jawaban Luhan.

“Yah, aku pernah dengar percakapan antara bibi dengan ibu. Bibi bilang, kalau nenek tidak mau membawa anak cacat sepertiku.”

Saat itu juga Sehun merasa waktu telah berhenti. Hatinya mencuat. Dan matanya melebar. Ia menatap Luhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semuanya? Luhan terlihat sangat sempurna.

‘Apanya yang cacat?’ batin Sehun.

“Kau terlihat normal, Luhan. Apanya yang cacat?” penasaran? Tentu. Sehun sangat tidak mengerti kenapa neneknya dengan mudah mengecap Luhan sebagai anak cacat.

“Aku memang cacat.” Kini malah ganti Luhan yang mengernyit menatap Sehun. Dengan pandangan penuh tanya Sehun membalas pandangan Luhan.

“Tentu saja kau belum tahu.” Luhan menanggapi dengan tawa hambar. Sehun tahu tawa itu hanyalah tawa yang penuh akan kesedihan. Ia jadi merasa bersalah karenanya.

“Aku punya penyakit kanker mata pada mata kiriku dan mata kananku buta, Sehun-ah.” Laki-laki itu memandang Sehun nanar.

“Luhan,” gumam Sehun pelan.

“Lalu saat orang tua kita meninggal,” tanpa Sehun sangka-sangka Luhan malah melanjutkan ceritanya. Akhirnya ia terpaksa tutup mulut.

“Paman dan bibi itu meminta izin pada nenek untuk mengasuhku. Ck, tentu saja dengan senang hati ia mempersilahkan.” Lagi-lagi ia tersenyum miris. Sehun memperhatikan album foto yang sekarang membuka lembaran paling depan. Sebuah foto keluarga –yang menurut Sehun adalah foto keluarga angkat Luhan. Ia paham sekarang. Ia lihat dalam foto itu Luhan sepertinya cukup bahagia tinggal bersama keluarga sederhana itu. Tapi saat melihat Luhan menceritakan tentang neneknya sekarang, ia rasa Luhan sangat sakit. Mungkin Luhan merasa seperti anak yang terbuang.

“Tapi aku tidak menyesal tinggal dengan mereka. Aku merasa bahagia.” Kali ini Luhan mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul. Sehun perih melihatnya.

“Maaf, Luhan.” Sehun berkata lirih. Matanya sayu.

“Maaf untuk apa?” tanya Luhan menatap Sehun bingung.

“Maaf karena… aku tidak pernah ada bersamamu sejak dulu. Sebagai saudara harusnya aku selalu menemanimu. Apalagi saat kau mengalami masa-masa sulit. Tapi aku malah membiarkanmu melewati masa sulit itu sendirian. Maafkan aku, aku bukan saudara yang baik.” Ujar Sehun sedih. Ia menunduk tak berani menatap Luhan.

Hening sejenak. Tak sampai satu menit, tapi rasanya seperti ada yang membuat dunia beku.

“Hei, kau bicara apa sih. Bagiku kau adalah saudara paling baik di dunia. Aku bersyukur punya kau.” Dengan ringan Luhan mengayunkan tangannya untuk merangkul Sehun. Senyuman lebar tampak di wajahnya yang tampan.

“Eh?” Sehun sedikit tersetak diperlakukan seperti itu oleh Luhan. Ini adalah pertama kalinya seseorang memperlakukannya seperti ini.

Sehun memang tak pernah merasa memiliki hidup yang sangat berarti walau ia hidup di bawah asuhan neneknya yang kaya raya, hidup dikelilingi barang-barang mewah, pernah menginjakkan kaki hampir di seluruh belahan bumi manapun. Tapi saat ini ia merasa ada sesuatu yang melengkapi hidupnya tiba-tiba. Sesuatu yang ia rasa selama ini hilang dari hidupnya. Sesuatu yang ia yakini akan membuat hidupnya lebih berarti mulai sekarang.

Luhan.

-.-.-.-.-.-.-

Masa liburan telah usai. Mengharuskan semua yang berkewajiban bersekolah untuk menuntut ilmu kembali.

Begitu juga dengan Sehun. Menurutnya hari ini akan menjadi hari yang berbeda. Pagi-pagi sekali ia telah merajut langkah menuju sekolahnya. Ia tak sendirian. Luhan ada bersamanya. Selama bersama Luhan, ia terus saja berceloteh. Menceritakan hal-hal apa saja yang terlintas di pikirannya pada Luhan. Demi apapun, pagi ini ia benar-benar cerewet.

Mereka telah tiba di sekolah saat Sehun selesai bercerita tentang teman-temannya. Luhan terus mengekor di belakang Sehun saat sampai. Ia bahkan menemani Sehun mencari kelas barunya. Maklumlah, ia belum cukup mengenal sekolah barunya itu. Setelah itu giliran Sehun menemani Luhan pergi ke ruang administrasi. Luhan perlu mengurus beberapa masalah lagi sebelum ia benar-benar akan belajar di sekolah itu.

“Sayang sekali kita tidak satu kelas.” gumam Sehun sedih saat ia dan Luhan keluar dari ruang administrasi. Ia masih akan menemani Luhan menuju kelasnya.

“Memangnya kenapa? Kita kan masih satu rumah.” Luhan menjawabnya disertai tawanya yang renyah.

Sehun benar-benar berpendapat kalau gurunya tidak pintar menentukan di kelas mana kembarannya seharusnya berada. Pasalnya, kelasnya dan kelas Luhan berbeda gedung. Dan arahnya bertolak belakang. Pemuda itu sedikit memiliki niatan untuk protes pada petugas administrasi sekolah.

“Ya ampun. Kelasmu jauh sekali. Bagaimana kita bisa makan bersama kalau begini?” desah Sehun pelan saat berhasil menyelesaikan langkahnya di undakan tangga terakhir. Kelas Luhan berada di lantai atas masalahnya.

“Wow, melelahkan juga, ya, untuk sampai ke kelas sendiri saja. Haha,” sambung Luhan dengan tawa, lagi-lagi.

“Nanti waktu istirahat aku ke kelasmu. Kita makan bersama nanti.” Ajak Sehun.

“Boleh. Hanya kita?”

“Terserah kau sih. Kalau kau mau, aku bisa ajak teman-temanku ikut serta. Bagaimana?”

“Tentu. Pasti menyenangkan. Eh, tapi temanmu ramah semua, kan?” tanya Luhan memastikan.

“Iya, tenang saja. Mereka pasti langsung bisa menerimamu. Aku ke kelas dulu, ya. belajar yang baik di kelas.” laki-laki bernama Sehun itu berlari menuruni tangga sambil melambaikan tangan ceria pada saudara kembarnya.

“Baiklah,” sahut Luhan tak lupa memasang senyum bahagianya.

-.-.-.-.-.-.-

“Luhan, kemarilah.” Seorang wanita yang duduk di balik meja guru melambaikan tanganya pada anak baru yang duduk di bangku pojok belakang. Perlahan laki-laki itu melangkah menurut menuju wali kelas baru kelas itu.

Minseok, awalnya tak menghiraukan apa yang terjadi di depannya. Bilang saja ia tak punya niat menguping. Tentu saja karena ia sedang mengerjakan tugas. Ia tak terbiasa mengerjakan tugas sembari melakukan hal lain. Tapi kali ini berbeda.

Yeah, mulai ada sedikit niatan untuk menguping ketika wali kelasnya itu mulai mengecilkan suaranya dan mengatakan sesuatu tentang suatu penyakit atau semacamnya. Ia penasaran dan baginya tidaklah sulit untuk menangkap pembicaraan antara wali kelasnya dengan anak baru itu, Luhan, karena ia duduk tepat di depan meja guru.

“Aku tahu kau berprestasi, nak. Dan aku juga bisa merasakan jadi dirimu yang memiliki penyakit itu. Tapi aku harap hal itu tidak membuatmu berhenti mengukir prestasi gemilang. Lihat, nilai raport-mu yang dulu sangat gemilang. Mungkin sebelum kau lulus dari sini kau bisa membuat sekolah bangga terhadapmu.” Samar-samar kata-kata ibu guru terdengar. Laki-laki pemilik nama lengkap Kim Minseok itu memaklumi kata-kata formal dan bijak yang sudah seringkali ia dengar dari guru-guru manapun. Tapi satu kelas tak ada yang peduli kecuali Luhan –yang diajak bicara– plus Minseok saja. Ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ia hanya memikirkan ‘nilai gemilang Luhan’ yang disebut-sebut gurunya tadi.

Laki-laki berwajah bulat dengan rambut landak itu sudah setahun menyandang predikat sebagai anak terpintar di kelasnya. Ia adalah orang yang cukup menjaga reputasi dirinya di sekolah. Ya, hingga saat ini ia selalu dipandang baik oleh siapapun karena gelarnya tersebut. Jadi jangan salahkan dia kalau dia tidak ingin gelarnya itu direbut oleh siapapun darinya.

Dan, ‘nilai gemilang Luhan’ membuatnya menjadi paranoid. Ia tidak ingin Luhan menyaingi dirinya dalam hal apapun.

“Minseok-ya, kau sudah selesai?” tegur wanita berkacamata di depannya tajam.

“Be-belum, seonsaengnim.” Dengan buru-buru ia melanjutkan menyelesaikan tugas Bahasa Inggrisnya. Tulisannya jadi berantakkan.

TETT… TEEETT…

“Hh… Bel istirahat sudah berbunyi. Kalian boleh istirahat. Minseok, kau kumpulkan tugasmu di meja saya saja nanti.” Ujar gurunya sambil berdiri dan membawa banyak berkas yang tadi ia bawa bersamanya.

“Baik.” Gumam Minseok pelan. Dan dia bersumpah, ia mendengar ejekan pedas dari gurunya tadi.

“Hh, baru hari pertama kelas 2 saja sudah dijelek-jelekkan guru. Apa-apaan– eh?” Kim Minseok menggerutu kesal sembari melangkahkan kakinya kasar hendak keluar kelas ketika ia menyadari ada sesuatu tergeletak di lantai. Tentu saja ia memungutnya karena itu adalah sebuah laporan hasil belajar. Bukankah itu benda penting?

“Luhan.” Ia membaca nama pemilik raport itu yang ditulis menggunakan huruf capital dengan pena hitam tebal.

Laki-laki itu membawa serta raport yang ia temukan untuk ia kembalikkan pada wali kelasnya. Baru saja ia hendak keluar, seseorang menghadang jalannya. Ia mendongak. Sehun ada di depannya. Minseok baru ingin bertaya ada apa bocah sepopuler Sehun berada di kelasnya. Tapi pertanyaan keburu terjawab saat Sehun memanggil sebuah nama.

“Luhan!” teriaknya keras-keras. Luhan yang sedang sibuk dengan buku-bukunya pun menoleh.

Dan selanjutnya mereka mengobrol singkat dengan senyum terpampang di masing-masing wajah dan mereka berlari pergi. Minseok memandang aneh mereka.

“Luhan kenal dengan Sehun?” tanyanya pada diri sendiri. Lalu ia mulai berjalan. Selama berjalan ia banyak menggumam. Yang terakhir adalah, “Bagaimana mungkin mereka saling kenal? Luhan dengan anak sepopuler Sehun? Rasanya tidak mungkin sekali. Ia kan, anak baru. Masa iya teman pertamanya sekolah adalah Sehun.” Dan akhirnya ia hanya bergumam “terserah.” pada dirinya sendiri.

Ia baru ingat kalau ia membawa raport Luhan juga. Jadi, ia menyempatkan untuk membuka dan membaca isinya, tentu saja. Dan betapa terkejutnya ia. Hampir seluruh nilainya sempurna!

“Minseok-ya!” seseorang mengejutkannya. Buru-buru ia menutup raport Luhan itu dan mendongak.

“Kemana saja kau? Kenapa lama sekali? Apa butuh waktu selama itu untuk mengerjakan tugas mudah seperti tadi?” sembur gurunya itu tajam. Ia mematung. Baru kali ini ia dimarahi guru di koridor sekolah.

“Ma-maaf, seonsaengnim. Oh, iya, saya tadi menemukan ini jatuh di kelas.” ujarnya terbata sembari menyerahkan buku tugas dan raport Luhan bersamaan.

“Oh, raport Luhan! Astaga, untung kau menemukannya. Ini sangat penting. Terimakasih.” Ujar guru muda itu sebelum berbalik kembali ke ruang guru. Minseok cukup senang bisa membantu.

“Oh, iya, Minseok,” panggil wanita itu sambil menoleh sejenak ke arah Minseok berdiri.

“Sepertinya tahun ini kau punya saingan baru.”

-.-.-.-.-.-.-

“Kalau boleh jujur, sebenarnya kalian berdua itu tidak mirip.” Ungkap Chanyeol yang disusul satu suapan nasi ke dalam mulutnya.

“Tapi sayangnya, kau tidak diperbolehkan jujur sekarang.” Sehun mengelak komentar Chanyeol.

“Tapi aku terlanjur bilang,” Chanyeol mengedikkan sebelah bahunya dan fokus dengan makanan di depannya.

“Aku setuju dengan Chanyeol. Kalian tidak terlihat kembar. Malah, Sehun terlihat lebih tua dari Luhan.” Komentar Baekhyun sukses membuat Sehun membulatkan matanya tak percaya.

“Luhan, kau sama sekali tidak mengelak kata-kata mereka?” tanya Sehun pada Luhan. Ia butuh seseorang yang mau mebela dia, secepatnya.

“Tidak. Aku tidak akan.” Jawab Luhan masih terkekeh geli karena tingkah teman-teman Sehun ini. Mereka anak yang menyenangkan walaupun satu sama lain memiliki sifat aneh yang berbeda-beda.

Aish! Apa tidak ada yang mau membelaku?” Sehun merengek frustasi.

“Bukannya kamu sudah biasa dibully, Sehun?” tanya Tao yang sejak tadi hanya mengobrol dengan Kris. Sehun ingin berteriak pada Tao tapi bel masuk telah berbunyi. Membuat ia menahan rasa kesal yang berlebihan.

“Sudah, ah. Ke kelas dulu, bye.” Kyungsoo yang pertama berdiri dari kursi pun melambaikan tangannya dan berlalu pergi.

“Kami juga. Sampai ketemu nanti.” Susul Kris dan juga Tao. Hingga akhirnya mereka semua lenyap.

“Nanti aku ke kelasmu lagi. kita pulang bersama yang lain, bagaimana?” tanya Sehun dengan mata berbinar sebelum akhirnya ia dan Luhan akhirnya berpisah.

“Tentu. Aku tunggu nanti.” Luhan menyambut dengan senang hati dan berlalu dari hadapan Sehun.

Dan dari tempat yang cukup jauh, seseorang melihat adegan itu.

-.-.-.-.-.-.-

Hari ini tepat empat bulan kepindahan Luhan. Dan hari ini juga adalah hari penerimaan hasil belajar setelah ujian tengah semester. Benar-benar menyenangkan bagi Luhan. Karena ia mendapat rangking pertama di kelas. Banyak teman sekelasnya yang kagum dan banyak juga yang mengucapkan selamat padanya.

Hari ini sebenarnya Luhan ingin segera pulang dan bersantai di rumah. Tapi ia tidak tega meninggalkan Sehun sendirian. Sehun ada acara bersama teman-teman tim basket sekolah untuk tanding setelah pulang sekolah. Hanya sebagai latihan saja. Luhan sudah bilang pada Sehun tadi kalau setelah menerima raport ia akan menyusulnya ke lapangan besket.

Dan disinilah dia sekarang. Ada di koridor yang sudah lumayan sepi untuk menuju lapangan basket. Ternyata belum banyak yang sudah pulang. Karena hampir di semua kelas yang ia lewati selama berjalan di koridor masih terisi. Kebanyakan anak laki-laki yang sedang bermain game bersama. Ada juga anak-anak perempuan yang berfoto bersama di dalam kelas.

Lelaki imut itu tidak sempat menyelesaikan langkahnya untuk sampai di ujung koridor. Karena tanpa ia duga-duga, seseorang menarik tubuhnya dari belakang dan mendorongnya hingga menghimpit dinding. Ia terkejut, jelas. Dan ia lebih terkejut ketika menyadari bahwa yang berdiri di depannya saat ini adalah Kim Minseok, teman sekelasnya.

“Minseok-ya.” ucapnya bermaksud menyapa.

“Kau jangan sombong dulu, murid baru. Kau baru pertama kali mendapat rangking pertama disini.” Kata Minseok. Laki-laki itu bicara cukup keras di koridor yang sepi begini. Banyak kepala yang menyembul dari beberapa pintu kelas, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tapi akhirnya mereka menarik kepala mereka masuk kembali setelah Minseok menatap mereka satu-satu. Ingat, Minseok orang yang lumayan disegani karena reputasinya.

“Mungkin kau memang berhasil membuat kesan pertama yang bagus saat ini. Tapi kita lihat saja nanti. Untuk selanjutnya… kuharap kau tidak terlalu berharap bisa mengalahkanku.” Ujarnya dengan senyum meremehkan di wajahnya.

“A-aku…”

“Hei!” sebuah teriakan dari ujung koridor membuyarkan fokus dua laki-laki yang sedang dalam obrolan serius. Lalu disusul oleh langkah kaki yang menghampiri.

“Lu, aku mencarimu dari tadi. Kau kemana saja? Dan apa yang kau lakukan disini?” tanya Sehun yang sekarang berdiri – terlihat kesal – mengenakan seragam basketnya pada Luhan lalu Minseok.

“Aku kan sudah bilang akan menyusulmu.” jawab Luhan kalem seperti biasa sembari melempar senyum menenangkan pada saudaranya.

“Aku hanya sedang mengobrol dengan Luhan.” Giliran Minseok yang menjawab dengan sangat lancar. Sehun mengernyit. Agaknya ia meragukan jawaban Minseok. Lantas ia beralih melirik Luhan, meminta kepastian.

“I-iya, kok. Kami tadi sedang mengobrol.” Sambung Luhan cepat.

“Oh.” Respon Sehun singkat. Tapi tatapan tajamnya masih belum beralih dari Minseok.

“Heh, kau.” Sehun mengulurkan tangannya untuk mendorong sedikit bahu Minseok yang lebih pendek sedikit darinya. Tak ayal Minseok terhuyung mundur beberapa langkah.

“Kalau sampai aku tahu kau macam-macam dengan Luhan… awas kau.” Bisik Sehun tajam.

“Sehun, sudah. Ayo, aku ingin lihat permainanmu.” Luhan dengan panic menarik tangan Sehun untuk pergi menjauh. Tapi sayangnya, saat Sehun belum sempat berbalik, ia telah mendapat satu tinjuan tepat di pipi kanannya.

“Sehun!” Luhan berteriak sangat nyaring. Ia berusaha untuk menopang Sehun yang nyaris tersungkur.

“Jaga kata-katamu! Kau tidak bisa berbuat semaumu hanya karena kau terkenal di sekolah ini!” teriak Minseok tepat di depan muka Sehun. Wajah tampan Sehun itu kini berubah menjadi kecut karena perkataan Minseok barusan.

“Ck, kau marah-marah begini karena kalah dari Luhan, kan?” Sehun berdiri dengan tegas sementara Luhan di sampingnya masih saja terus menarik-narik lengannya, meminta untuk berhenti bertengkar dan lebih baik segera pergi. Luhan tidak suka bertengkar.

Mwo? Kau pikir aku punya sifat sampah seperti itu? Iri? Mwoya,” sangkal Minseok berusaha untuk tenang walau dalam dirinya ia benar-benar dongkol dikata-katai Sehun seperti itu.

Sehun melirik Luhan sebentar sebelum akhirnya berkata, “Terserah. Bodoh.” dan ia membuat Luhan bernapas lega karena ia mau berpaling dari Minseok dan berlalu pergi.

Tapi sialnya, lagi-lagi Minseok melayangkan tinjunya ke pipi kanan Sehun. Sambil merintih Sehun berbalik dan tanpa basa-basi membalas Minseok.

“Jauhkan tangan kotormu dariku!” teriaknya. Kedua orang itu benar-benar membuat Luhan panic setengah mati. Masalahnya sekarang mulai banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. Luhan pikir mereka berdua pasti tidak menyadari kalau mereka sedang jadi, kan?

“Sudah, hentikan,” Luhan berkata parau berusaha memisahkan Sehun dan Minseok yang masih adu jotos dengan seru.

“Diam kau!” Minseok berteriak dengan lantang dengan suaranya yang mulai serak. Ia melayangkan tinjunya lagi, ingin memukul Sehun. Tapi dengan cepat pemuda tampan itu menghindar. Namun naasnya, tinjunya itu malah mengenai mata kiri Luhan.

Luhan ambruk seketika. Jeritan tercekat mulai terdengar di sana-sini. Dengan cepat Sehun mengahmpiri Luhan. Wajahnya ketakutan. Ia panic.

Luhan merasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Ia bahkan kesulitan untuk fokus mendengarkan apa yang dikatakan orang-orang di sekelilingnya.

“Urusan kita belum selesai!” Sehun memperingatkan Minseok sebelum ia membopong Luhan pergi. Ia berniat membawa saudara kembarnya ke rumah sakit. Ia takut terjadi apa-apa pada Luhan.

Jujur, semenjak Luhan bercerita tentang penyakitnya, Sehun jadi lebih ingin berada di dekat saudaranya. Jika Luhan tidak mempunyai mata kanan, maka ia akan menjadi mata kanan Luhan. Lagipula mungkin sekaranglah saat yang tepat baginya untuk mulai ada untuk Luhan… setelah 15 tahun lamanya mereka tidak mengenal satu sama lain.

“Sehun?” panggil Luhan.

“Hm?”

“Kita kema– ”

“Rumah sakit. Kau harus memeriksakan keadaanmu.” Jawab Sehun cepat. Luhan diam saja. Ia menurut kalau itu yang Sehun mau.

-.-.-.-.-.-.-

Hari masih belum terlalu siang saat Sehun memasuki toko roti di pinggir jalan raya yang ramai. Bibinya, seperti biasa, menyuruhnya membeli roti. Dan jadilah dia sekarang berada diantara jajaran-jajaran rak yang tingginya tak kalah dengannya. Ia sedang mencari roti sesuai seleranya ketika ia melihat seseorang berdiri di dekat meja kasir. Sehun mengenali orang itu. Dokter itu.

“Selamat pagi, dok.” Sapa Sehun hormat.

“Eh, kau. Ya, ya, selamat pagi.” Pria itu membalas dengan ramah.

“Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini.” Lanjut pria dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya.

Ne. Saya sedang mencari-cari kue. Sepertinya anda sudah mau pergi, dokter?” tanya Sehun.

“Ah, ya, ya, aku sudah mendapatkan semua yang aku cari.

“Oh, iya, dok, saya–”

“Saudaramu.” Sambar dokter itu cepat. Seolah-olah beliau tahu betul apa yang ingin Sehun tanyakan. Laki-laki itu menunggu pria di depannya melanjutkan.

“ Maaf sebelumnya. Aku… tidak bisa menjamin kesembuhannya. Hasil tes minggu lalu tidak menunjukkan tanda-tanda yang baik. Kemungkinan besar dia – saudaramu – akan kehilangan penglihatannya perlahan-demi perlahan.” Jelas dokter itu. Sehun melengos. Tubuhnya serasa membeku tiba-tiba. Membuatnya tidak merespon apapun ucapan dokter tadi.

“Nah, aku pulang dulu. Selamat pagi,”

-.-.-.-.-.-.-

“Hai, Luhan. Kau baik-baik saja?” Sehun menyembul dari luar kamar Luhan. Luhan sedang… melambaikan tangannya sendiri di depan wajahnya?

“Hai, Sehun.” Balasnya dengan senyum.

“Kau… sedang apa?” tanya Sehun gugup.

“Aku sedang mengetes penglihatanku. Sedikit kabur. Apa mungkin efek kerena tidur terlalu lama, ya?” tanya Luhan entah pada siapa. Ia seperti berbicara sendiri.

“Mungkin.” sahut Sehun pelan. Ia terlalu takut menghadapi kenyataan. Ia belum bisa menerima kalau ini mulai terjadi.

Luhan belum boleh buta total.

-.-.-.-.-.-.-

Matahari hampir terbenam. Tapi pemuda bernama Luhan sedang duduk tenang di bangku panjang taman sekolahnya. Ia lelah sebenarnya hari ini. Ia ingin istirahat. Tapi ia ingin pulang bersama Sehun. Sayangnya saudaranya itu ada latihan basket hari ini. Dan Sehun juga menyuruhnya untuk menunggu hingga latihan basket selesai, sehingga mereka bisa pulang bersama-sama. Akhirnya ia rela menunggu kembarannya tanpa melakukan apapun. Hanya duduk diam dan sedikit meratapi nasibnya. Matanya…

Luhan sedang sangat sedih ketika tiba-tiba seorang anak SD – sekitar kelas 4-5 sepertinya – duduk di sebelahnya. Ia mengernyit heran. Wajahnya tampak menyimpan pertanyaan seperti apa-yang-dilakukan-anak-SD-di-sekolahku-?

“Halo, kak.” Sapa anak itu. Cara bicaraya aneh. Dan wajahnya terlihat… tidak normal?

“Hai.” Balas Luhan singkat, masih memperhatikan gerak-gerik anak itu. Ia menolehkan kepalanya ke segala arah sejak tadi. Sepertinya mencari seseorang.

“Kakakku… mana kakakku? Kakak! Kakak dimana? Aku disini. Kakakku baik, kak.” Ujarnya. Ia sepertinya berbicara pada Luhan. Saat itu Luhan menyadari bahwa anak ini adalah… anak autis. Anak itu mengingatkannya pada adik angkatnya dulu, Jongin. Jongin juga anak autis.

“Kakakmu? Kau mencari kakakmu?” Luhan bertanya dengan lembut. Ia tahu betul bagaimana harus menghadapi tipe anak macam begini. Pengalaman. Tiba-tiba anak itu memegang baju Luhan sangat erat. Masih dengan kepalanya yang celingukan kemana-mana.

“Kakakku baik. Dia sangat baik. Tapi kemarin dia mendorongku, aku jatuh. Dan mataku, dia melukai mataku itu sebabnya mataku sakit.” Anak itu menangis dengan sangat tiba-tiba sambil menunjukkan bekas darah yang mulai mongering yang ada di sikunya. Juga, ia mengucek matanya kasar hingga matanya merah dan terus menangis. Luhan kebingungan.

“Sudah, sudah. Kakakmu tidak bermaksud jahat, kok. Mungkin dia sedang ada masalah.” Pemuda itu terus berusaha menenangkan anak itu sebisa mungkin. Walau ia berusaha, tapi anak itu tak mau berhenti menangis. Luhan juga berusaha menurunkan tangan anak itu yang terus-terusan mengucek matanya tanpa sebab hingga memerah. Kalau dibiarkan itu bisa bahaya.

“Cepat!” seorang wanita yang baru keluar dari pintu depan bangunan sekolah berteriak. Tak lama muncullah seorang pemuda. Asumsi Luhan pemuda itu adalah putranya. Pemuda itu adalah…

“Minseok-ya, ibu membawa Jongdae kesini.”

MWO?” Minseok berteriak sekencang mungkin untuk mengekspresikan rasa kesalnya.

“Kenapa ibu membawa dia kemari? Aku sudah bilang pada ibu untuk tidak membawa Jongdae kemari. Aku malu! Reputasiku bisa buruk,” Minseok berteriak marah pada ibunya.

“Apa!? Itu adikmu, Minseok-ah! Tidak bisakah kau berhenti tidak menganggapnya sebagai adikmu? Sadarlah!” ujar wanita itu lalu berlalu pergi. Beliau mengeluarkan saputangannya dengan buru-buru. Ia menangis.

“Kakak! Kakak!” anak kecil di samping Luhan berteriak-teriak sambil melihat ke arah Minseok yang sedang diam mematung. Nampaknya suara teriakan anak kecil itu membuat Minseok mengarahkan pandangannya ke tempat Luhan berada. Ia melangkah dengan gusar.

“Jongdae! Sudah berapa kali kubilang padamu, hah?! Jangan pernah datang kemari! Apa kau tidak tahu betapa malunya aku punya adik sepertimu? Adikku cacat, dan itu akan membuat reputasiku buruk di sekolah!” teriak Minseok pada adiknya. Adik Minseok – Jongdae – wajahnya berubah menjadi ketakutan. Ia sesekali membisikkan kata “kakak,” dengan sedih.

“Minseok! Apa perlu kau bicara sekasar itu pada adikmu sendiri?” Luhan berdiri dengan wajah marah. Ia tidak tega melihat Jongdae dimarahi habis-habisan seperti itu.

“Ini bukan urusanmu! Aku tidak ingin cari masalah denganmu. Ayo,” Minseok menuding Luhan dengan jari telunjuknya lalu menarik tangan Jongdae paksa. Tapi adiknya yang autis itu diam saja. Pandangannya menerawang dan air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Ayo, idiot!” kali ini Minseok memukul kepala adiknya sebelum menarik paksa adiknya lagi. Tapi Jongdae tetap memberi balasan yang sama. Ia diam di tempat.

“Idiot! Kita harus pulang!” teriak Minseok emosi.

“Kau ini bodoh atau apa, huh? Saudaramu memang tidak normal seperti kau. Tapi apa dia tidak bisa menerima kasih sayangmu?”

“Jangan menceramahiku! Ini bukan urusanmu. Apa kau sendiri tidak pernah berpikir, apakah Sehun malu atau tidak punya saudara kembar yang cacat sepertimu?!” sembur Minseok.

“A-apa?”

“Aku tahu kau cacat! Aku tidak sebodoh yang kau kira. Aku bisa lihat dari gerak-gerikmu setiap hari. Kau punya masalah dengan indra penglihatanmu.” Minseok tersenyum penuh kemenangan. Pasalnya Luhan diam saja. Lidahnya kelu.

“Kau benar-benar tidak pernah berpikir kalau Sehun malu punya–”

“Aku tidak malu.” Tiba-tiba saja muncul sosok Sehun diantara mereka yang berjalan dengan ringan dan tatapan tajamnya yang ditujukan pada Minseok.

“Dia saudaraku. Untuk apa aku malu? Dia bagian dari diriku.” Kata Sehun tenang.

“Ck, sok bijak.” Minseok memutar bola matanya seolah tak peduli.

“Bagaimanapun keadaannya, dia tetap saudaraku.” Kata Sehun lagi. Kali ini benar-benar serius. Minseok mendongak menatap Sehun dalam-dalam. Entah apa yang ia pikirkan. Tanpa berkata apa-apa ia berlalu pergi dengan Jongdae yang masih ada di bawah perlakuan kasarnya.

Sehun dan Luhan tak ambil pusing. Melangkah pulang ke rumah adalah satu-satunya hal yang mereka lakukan.

“Luhan,” Panggil Sehun yang sedang berdiri mengahadap ke lemari Luhan.

“Hm?” Luhan yang sedang bergelut dengan laptopnya menyahut. Pemuda itu sedang bermain game. Sudah cukup lama ia menatap lekat-lekat layar laptopnya – lebih tepatnya berusaha melihat apa yang ada di layar laptopnya.

Sehun menghela napas berat melihat Luhan yang kesulitan melihat. Ia tidak tega melihat Luhan harus membelalakkan dan mengucek matanya tiap kali ia mencoba untuk melihat dengan jelas. Ia tidak tega melihat orang yang disayanginya memiliki hidup yang sulit.

“Apa?” Luhan menatap Sehun dengan satu alis terangkat setelah untuk kesekian kalinya muncul tulisan ‘game over’ di layar laptopnya.

“Eh, aku boleh pinjam kaosmu?” tanya Sehun sembari mengangkat kaos tim bola favoritnya – milik Luhan.

“Pakai saja. Punyaku berarti punyamu juga.” jawab Luhan tersenyum ceria dan kembali menatap layar laptopnya serius. Sehun tidak tahu kenapa Luhan terus berusaha untuk melihat walau ia kesulitan. Mungkin ia tidak ingin orang lain tahu tentang keadaannya. Mungkin ia ingin orang lain menganggapnya sedang baik-baik saja. Mungkin.

Tapi sayangnya Sehun orang pertama dan orang yang paling tahu kalau Luhan… tidak pernah baik-baik saja.

-.-.-.-.-.-.-

Semuanya berlalu sangat cepat bagi Luhan selama tiga bulan terakhir.

Hari itu, tiba-tiba saja pagi yang indah datang. Harusnya ia bisa menikmati hari itu dengan senyuman bersama Sehun, bersama orang yang ia sayang. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa saat Tuhan lebih memilih menjadikan hari kemarin sebagai hari terakhirnya melihat dunia. Agaknya Tuhan tak mengizinkan ia bisa melihat indahnya dunia lagi. Mungkin untuk selamanya.

Hari itu adalah hari yang suram baginya. Selama hampir 24 jam penuh ia hanya mengurung diri di kamar. Mencoba sebisanya untuk menerima takdirnya. Sehun tak pernah sekalipun meninggalkannya waktu itu. Aku setia bersama Luhan, kata Sehun.

Sejak saat itu Luhan merasa dunia ini hampa dan waktu sangat cepat berlalu. Seakan-akan ia tidak pernah hidup selama hidupnya. Ia merasa mati. Setiap hari ia hanya membuka matanya di pagi hari, duduk dan mendengar kesunyian. Dan tiba-tiba saja malam datang dan pagi datang lagi. Dan itu terjadi berulang-ulang, selalu. Terasa sangat semu.

Setiap hari ia hanya duduk dengan pandangan menerawang. Menunggu dan menunggu. Ia menunggu kapan ia bisa melihat lagi. Ia masih menunggu ketika Sehun datang ke kamarnya dengan senyuman. Tapi, oh, kenapa harus tersenyum. Luhan bahkan sudah tidak bisa lagi melihat senyumannya.

“Hai, Luhan.” Kini Sehun duduk di pinggir ranjangnya. Luhan membalasnya dengan tersenyum saja.

“Tahu tidak? Minseok… tadi dia menanyakan kabarmu.” Ucap Sehun memulai ceritanya. Ia selalu begitu. Setiap bel pulang berbunyi, ia dengan segera menenteng tasnya dan berlari pulang ke rumah. Ingin bertemu Luhan, ia rindu pada Luhan. Katanya.

“Lalu, aku bilang kalau kau baik. Oh iya, dia juga cerita padaku kalau dia dan adiknya sudah semakin akur sekarang. Dia bilang kalau dia sangat menyayangi adiknya, Jongdae.” Lanjut Sehun masih tersenyum ke arah Luhan.

“Benarkah? Wah, itu kabar bagus.” Luhan menoleh ke arah kirinya. Bermaksud menatap Sehun, walau sebenarnya ia tidak benar-benar menatap tepat pada Sehun. Sehun tersenyum miris. Dan hening pun menyapa.

“Sehun,” Luhan buka mulut akhirnya.

“Iya?”

“Aku… ingin bisa melihat lagi.” ujar Luhan dengan nada datar penuh kesedihan. Sehun tidak menyahut. Ia terlalu sakit. Ia juga ingin saudaranya bisa melihat lagi!

“Jangan menangis, kumohon.” Ujar Sehun pelan saat melihat air mata perlahan mulai menuruni wajah sempurna Luhan, lagi. Luhan ingin berhenti menangis seperti perempuan. Itu cengeng. Dan ia yakin kalau dirinya tidak selemah kelihatannya. Dia kuat. Tapi keyakinan itu belum cukup untuk menghentikan air matanya.

“Aku…” Sehun berkata pelan. Ia mengambil jeda sebelum melanjutkan. Luhan mengangkat wajahnya, menantikan kelanjutan ucapan Sehun.

“…aku disini, Luhan. Aku bisa membantumu. Jika kau tak bisa melihat, aku bisa jadi matamu. Punyaku berarti punyamu juga, kan?” lanjut Sehun. Luhan sedikit terhibur karenanya.

“Terimakasih.” Luhan tersenyum lemah.

“Kau tahu? Aku tak akan meninggalkanmu seperti… waktu itu. Tidak saat kau sudah jadi bagian hidupku sekarang. Aku ingin bilang, umm… oh, percayalah, aku menyayangimu, Lu.” Kata Sehun akhirnya. Luhan tersenyum tulus.

“Aku percaya, Sehun. Aku juga menyayangimu. Aku… ingin kau menemaniku selama aku hidup. Aku tak ingin kehilanganmu lagi.” Luhan kembali mengingat masa lalunya. Saat ia berpisah dengan saudaranya itu, saat ia benar-benar sangat ingin Sehun berada di sisinya. Seperti sekarang.

“Tidak akan pernah. Aku janji.” Perlahan tapi pasti. Jari kelingking mereka bertaut satu sama lain. Membuat sebuah janji abadi diantara mereka. Hanya mereka.

-.-.-.-.-.-.-

END

____________________

Hadohh! Ini fic berantakkan banget deh kayaknya. Endinya-nya itu sebenernya nggak sesuai sama apa yang aku bayangin U,U

Ini fic terinspirasi dari kisah nyata dua anak kembar dari Inggris kalo gak salah. Aku lupa nama si kembar itu. Yang jelas salah satu dari mereka itu cacat. Dan kata-kata Sehun yang, “Bagaimanapun keadaannya, dia tetap saudaraku.” itu aku ambil dari kisah aslinya. Aku terharu banget, sampe nangis pas pertama ngedengernya *curcol ._.v

Tapi tetep yaa, plotnya 100% murni saya yang bikin B))

Ohya, maaf banget kalo yang chapter 2 ini terlalu panjang, banyak typo, aneh, jelekkk, tata bahasa yang ancur, feelnya gadapet samasekali, dll…

Thankyou for reading… and

See you at my next FF ^.^{}

Iklan

4 pemikiran pada “Forever Brother (Chapter 2)

  1. Ya ampun…. Ini ff bikin aku terharu :’)
    Feelnya kerasa banget
    Pokoknya ni ff bener2 daebak !!!

    Keep writing kak author !!
    fighting fighting fighting !!!

  2. Daebak, sungguh sungguh daebak (y) 🙂
    brothership yang mengharukan … T.T
    bingung mau koment apa lagi … -_- 🙂 …
    tapi sumpah, i like it 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s