Misuderstanding

Author                  : Nastiti Widoretno (@Justnenoo)

Main Cast            : Kim Jongin, Lee Naya

Genre                   : Romantic

Rating                   : PG-15

Length                  : Ficlet

A/N:

Huaa, ini fanfic pertamaku dengan main cast EXO. Aku gak tau gimana ini feelnya dan ma’af kalau alurnya udah pasaran.  Ehehe.

Enjoy!

***

kaijongin

Seoul, 2013.

“Hahh..”

Ini sudah ketiga kalinya aku menghela nafas berat sejak duduk di sini. Saat ini adalah jam terakhir pelajaran di sekolah dan kelasku sedang tidak ada pelajaran karena Park Songsaenim, guru Bahasa Korea kami sedang izin. Dan sekarang, aku sedang menyendiri di atap sekolah. Ini adalah kebiasaanku semenjak tiga tahun terakhir. Memang, aku sering merasa kesepian. Aku mempunyai beberapa teman baik, namun rasanya aku sering merasa tidak terlalu nyaman. Begini lebih baik, merenungi semua kegundahan di atap sekolah yang sepi dan menenangkan.

Iris mataku menangkap langit yang tampak kelabu siang ini. Ahh, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Mengingat kata hujan, otakku menayangkan sekelibat rekaman kejadian masa lalu..

*flashback*

Sekitar enam tahun yang lalu. Saat itu aku berada di tingkat akhir sekolah dasar. Hari itu aku pulang telat karena kebagian piket kelas. Dan sialnya, hujan turun..

“Ya Naya-ah, palliwa! Kita sudah basah kuyup gara-gara kau.”

“Aish, mengapa hanya menyalahkanku? Siapa yang menyuruhmu menungguku piket siang huh?”

“Jinjja, kau tidak tahu terima kasih. Sudah untung aku menemanimu sendirian saat mendung seperti tadi. Aku hanya mematuhi perintah Lee Ahjumma untuk menjagamu.”

“Arra, arra. Ayo kita lari saja. Lagipula, tinggal sedikit lagi rumah kita sudah terlihat.”

“O. Kemarilah. Pegang tanganku, ne. Agar kau tidak tertinggal.”

Mendengar kata-katanya barusan secara perlahan membuat pipiku menghangat meskipun aku tengah basah kuyup. Aish, sepertinya pipiku memerah. Untung saja ia tidak melihatnya, karena sedang fokus berlari sambil memegang tanganku..

*flashback end*

Kim Jongin.

Ya, itu adalah namanya. Nama bocah laki-laki kecil yang enam tahun lalu menggandeng tanganku di kala hujan. Dia adalah tetanggaku. Rumahnya tepat di depan rumahku. Dan dari TK hingga High School sekarang, kami selalu satu sekolah. Tidak heran, sejak kecil kami selalu bersama. Dimana ada Jongin, disitu ada Naya. Begitulah yang selalu teman-teman kami katakan.

Kim Jongin.

Laki-laki yang sejak saat itu membuatku sadar, aku menyukainya. Menyukai segala hal tentangnya. Menyukainya ketika kami beradu mulut untuk hal tak penting. Menyukainya ketika ia memarahiku karena kecerobohanku. Menyukainya ketika ia selalu melindungiku dari apapun. Menyukainya ketika mendengar suaranya memanggilku ‘Naya-ah’. Ya, aku menyukai dan merindukannya.. sangat merindukannya.

Tidak.

Dia tidak hilang. Dia tidak pergi kemanapun. Dia masih satu sekolah denganku. Rumahnya pun masih berada tepat di depan rumahku. Namun, rasanya sama seperti aku kehilangannya. Sejak kami masuk sekolah menengah atas, dia seperti perlahan pergi dari hidupku. Atau aku yang menjauhinya? Aku tidak tahu. Hanya saja, aku merasa tidak layak untuk berada di dekatnya. Kim Jongin yang sekarang adalah salah satu namja paling popular di sekolah. Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang cool membuat banyak gadis-gadis cantik di sekolah menggilainya. Dan tampaknya hal itu membuat Jongin terlena. Tak terhitung berapa banyak yeoja yang pernah menjadi pacarnya. Perhatiannya yang dulu sepenuhnya hanya untukku, kini sudah teralihkan. Aku bukan lagi sahabat yang menemaninya kemana-mana. Di luar sana, banyak yeoja yang dengan sukarela menemaninya kapanpun dan dimanapun. Dan itu membuatku merasa kehilangan Jongin, Jonginku..

***

Ini hari Sabtu, dan aku sedang berjalan sendirian di koridor sekolah. Aku baru saja dari Lee Songsaenim mengumpulkan tugas matematika teman-teman sekelas. Ini adalah saat-saat terakhirku di sekolah, karena beberapa bulan lagi aku akan lulus. Saat ini, sekolah sudah cukup sepi mengingat kelas sudah berakhir setengah jam yang lalu.

“Yaa! Lee Naya! Tunggu aku.”

Ah, itu suara Jung Daehyun. Dia teman sekelas sekaligus teman sebangkuku. Orangnya lucu dan ramah. Itulah yang membuatku betah duduk dengannya selama kurang lebih dua tahun. Kuputuskan untuk menoleh ke belakang.

“Daehyunnie? Kenapa masih di sini? Kau tidak pulang eoh?”

“Ahni, aku baru saja menemui Jieun. Ehehe.”

“Hahaha, apa misimu berhasil? Kau diterima?”

“Ahniya. Aku belum menyatakan padanya, aku hanya mengajaknya keluar nanti malam. Kau mau pulang? Ayo kuantar seperti biasa.”

“Masih bolehkah? Apa Jieun tidak akan marah jika melihat?”

“Aish, dia khan belum jadi pacarku Lee Naya!”

“Geurae, ayo kita pulang!”

Aku sebenarnya sangat berterima kasih pada Daehyun. Dia salah satu teman terdekatku saat ini. Duduk dengannya, membuatku cukup terhibur dan tak terlalu memikirkan kesedihanku tentang Jongin. Aku menyukainya, tetapi tidak seperti aku menyukai Jongin. Aku membutuhkan Daehyun untuk selalu jadi temanku. Lagipula, Daehyun menyukai Lee Jieun, gadis manis adik kelas kami.

Kami berjalan menuju parkiran sembari mengobrol santai dan sesekali tertawa. Namun tawaku langsung lenyap ketika mataku tak sengaja melihat Jongin sedang mengelus rambut seorang yeoja sambil tersenyum manis. Yeoja yang kuketahui sebagai salah satu yeoja paling popular di sekolah, Son Naeun. Mereka berdiri di parikran tepat di sebelah motor Jongin. Dan tampaknya, mereka menyadari kehadiranku dan Daehyun. Terlihat dari senyum manis Jongin yang mulai hilang saat menatap kami berdua dan tatapannya perlahan menjadi sinis. Apa dia sekarang membenciku? Aku merindukan senyumnya yang dulu hanya untukku. Daehyun yang tahu suasana mulai tak nyaman segera menarik tanganku menuju motornya.

“Naya-ah, kajja.”

Aku hanya bisa pasrah dan mengalihkan padanganku ke arah lain. Karena entah sadar atau tidak, air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak mau Jongin melihatku menangis karena melihatnya bersama seorang gadis. Aku tidak mau Jongin tahu kalau aku lemah jika melihatnya seperti itu. Aku tidak mau Jongin tahu kalau aku mencintainya..

Jongin-ah, wae..

***

Seoul, 2020.

Aku baru saja keluar dari Bandara Incheon setelah melakukan penerbangan selama belasan jam dari Belanda. Ya, aku baru saja kembali setelah lima tahun meninggalkan Seoul. Lima tahun lalu, aku merengek pada Appa dan Eomma untuk menyekolahkanku di Belanda, Negara impianku. Selain mewujudkan mimpiku untuk kuliah di bidang International Relations dan bekerja sebagai konsultan disana, aku juga memiliki alasan lain yang cukup kuat. Meninggalkan dan melupakan kenangan pahit di tahun-tahun terakhirku bersekolah. Termasuk melupakan Kim Jongin.. Ah, lima tahun tanpa mau mendengar kabar apapun darinya. Aku akui, aku tidak berhasil melupakannya. Justru, setiap saat aku merasa aku semakin merindukan sosoknya, terlebih membutuhkan kehadirannya.

Taxi yang kutumpangi mulai memasuki kompleks perumahanku. Tidak banyak yang berubah. Hanya terlihat beberapa rumah baru yang dulu belum ada. Aku segera membayar ongkos dan cepat trurun ketika kusadari taxi sudah berhenti. Setelah mengambil koper di bagasi belakang, aku bergegas untuk membuka pagar rumahku sebelum tertegun beberapa saat. Aku membalikkan tubuhku, melihat bangunan di hadapanku dengan mata sendu.

Apa kabar Jongin-ah? Tidakkah kau merindukanku?

Haha. Aku menertawakan diriku sendiri. Mana mungkin seorang Kim Jongin merindukanmu Naya-ah.. masih banyak gadis-gadis yang lebih pantas dia rindukan selain dirimu.

“Aigoo. Naya-ah!”

Aku membalikkan tubuhku dan segera berlari memeluk sosok wanita yang sangat aku rindukan.

“EOMMAAAAA!”

***

“Aigoo Lee Naya! Aku pangling melihatmu. Kau cantik sekali.”

“Terima kasih Ahjumma. Ahjumma juga masih terlihat muda dan cantik.”

“Hahaha, kau ini ada-ada saja. Ah, apa kau mau pergi ke kamar Jongin? Dia masih ada di kantor bersama Abeojinya. Kalau kau mau, kau bisa pergi ke kamarnya sembari menunggunya. Aku akan menyelesaikan masakanku. Ne?”

DEG.

Mendengar nama itu disebut, dadaku bergemuruh hebat. Aku memang berada di rumah Jongin sekarang. Aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya seperti saran Eomma kemarin malam. Eomma berkata bahwa Kim Ahjussi dan Ahjumma-orang tua Jongin- sangat merindukanku.

Kakiku bergerak perlahan menaiki tangga yang akan membawaku ke lantai dua, dimana kamar Jongin berada. Hah, sudah berapa tahun aku tidak berkunjung kesini. Seingatku, terakhir kali aku bermain bersama Jongin disini pada awal kami memasuki sekolah menengah atas. Itu berarti sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Aku membuka pintu kamarnya perlahan dan aroma mint segar khas Jongin memasuki indera penciumanku. Ah, bahkan wanginya masih sama. Aku mulai melangkahkan kaki dan mataku menelusuri tiap sudut kamar ini dengan seksama. Kamarnya jauh lebih rapi dan simple. Mungkin karena dia sudah dewasa sekarang. Kamarnya tak lagi dipenuhi oleh kaset-kaset game atau bola basket yang menjadi kegemarannya dulu.

*flashback*

“Naya-ah, ayo kita tanding game!”

“Mwo? Apa kau gila? Aku sama sekali tidak berminat dengan puluhan game milikmu!”

“Aish, bilang saja kau takut kalah.”

“Cih, tidak berminat bukan berarti aku akan kalah jika memainkannya Kim Jongin.”

“Kalau begitu ayo temani aku sekali saja. Ah, bagaimana kalau kutraktir es krim. Eoh?”

“Kau menyogokku?”

“Anhi. Es krim itu akan kubelikan jika kau menang.”

“Apalagi begitu. Aku tambah tidak mau.”

“Kau payah Lee Naya.”

“Terserah apa katamu. Lebih baik aku pergi ke kamar Hyora Onnie-kakak Jongin- saja.”

“Aish, Hyora Noona sedang tidak ada di rumah babo!”

“Kalau begitu aku pulang saja.”

“Andwae. Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Bagaimana kalau kita langsung pergi membeli es krim saja?”

“Oke. Tapi kau yang traktir.”

“Arraseo. Terserah kau saja.”

“WHOAA. Kim Jongin kau baik sekali hari ini.” Seruku seraya tersenyum semanis mungkin.

“Hentikan senyumanmu. Itu menjijikkan.”

“Cih, kau kembali menyebalkan.”

*flashback end*

Aku tersenyum kecil mengingat obrolan kami di kamar ini beberapa tahun yang lalu. Hah, aku benar-benar merindukannya.

“Cih, kau berani-beraninya kau kembali.”

DEG. Suara itu.. suara yang entah berapa lama aku tak mendengarnya. Suara Kim Jongin..

Perlahan, aku memutar tubuhku kembali menghadap pintu. Rasanya, jantungku mau meledak ketika melihat sosoknya berdiri di dekat daun pintu. Dia.. masih tampan. Anhi, semakin tampan dan mempesona. Dengan celana dan kemeja hitam, juga dasi putih yang membalut tubuhnya. Dandanan ala direktur muda yang menawan. Ah, pasti dia sudah memiliki kekasih yang cantik. Atau bahkan mungkin tunangan..

Tak ada yang memulai pembicaraan. Kami hanya saling menatap satu sama lain selama beberapa menit. Saling menyelami perasaan masing-masing ketika mata kami beradu pandang dengan intens. Hingga kuputuskan untuk angkat bicara.

“Jongin-ah..”

“Untuk apa kau kembali kesini  Lee Naya-ssi? Bukankah lebih baik jika kau tetap di Belanda?”

Hatiku mencelos ketika mendengar penuturannya. Bahkan ia memanggilku dengan embel-embel –ssi. Aku tahu, ia semakin membenciku sekarang.

“Mianhae Jongin-ah..” Aku menunduk untuk menghindari tatapan matanya.

“Cih, untuk apa kau meminta ma’af. Setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar dan membiarkanku seperti orang gila di sini? Aku tidak butuh ma’afmu.”

“Mwo? Aku tidak bermaksud begitu. Kupikir kau tidak akan peduli lagi padaku. Lagipula, aku tidak ingin mengganggu kau dengan kekasihmu.”

“Kenapa kau suka sekali membuat kesimpulan sendiri tanpa perlu membuktikan kebenarannya Naya-ah?”

Aku mendongakkan kepalaku ketika mendengar suaranya melemah dan tatapannya berubah menjadi sayu.

“Jongin-ah, aku tidak mengerti.”

“Ya, kau tidak akan pernah mengerti bagaimana frustasinya diriku ketika kau mulai menjauh dari hidupku. Bahkan kau tidak pernah tahu bagaimana frustasinya aku begitu tau kau pergi tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik Naya-ah.”

“Saranghae Lee Naya..”

Tubuhku kaku dan hatiku berdebar keras mendengar apa yang dia ucapkan barusan. Jongin-ah..

“M-mwo? Jongin-ah, kau ber…”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sepasang lengan sudah memelukku erat. Aku membelalakkan mata ketika menyadari aku berada dalam dekapan Kim Jongin. Apakah ini nyata Tuhan?

“Nan jeongmal bogoshippeo, Naya-ah. Apa kau tidak merindukanku, hmm?”

Jongin bertanya sembari mengecup rambutku beberapa kali. Pipiku memanas dan aku terisak kecil ketika Jongin kembali mengeratkan pelukannya.

“Nado bogoshippeo Jongin-ah. A-aku.. juga mencintaimu.”

END

Iklan

21 pemikiran pada “Misuderstanding

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s