My Immortal Guard

Author : bynx62 (@NabilAliyak)

Genre :  Fantasy, Action, Romance, Teenager life

Lenght : Oneshoot

Main cast :      – Xi Lu Han
– Han Hye Rin
– Oh Se Hun

Other cast :    – Park Chan Yeol
– Kim Jong In
– Kris
– Victoria
– Suho
– Im Yoona
– Park Hye Rin

 MY IMMORTAL GUARD - cover

My Immortal Guard

Seisi penghuni kelas menatap dengan malas ke papan tulis yang tengah dituliskan bermacam-macam rumus yang sungguh menyiksa penglihatan dan otak, ditambah teriknya matahari pada siang hari yang membuat penderitaan mereka bertambah dua kali lipat. Banyak yang menguap karena itu, dan tidak sedikit yang hampir tertidur. Mereka tidak bisa—dan tidak mungkin—untuk membiarkan kepala mereka berbaring di atas meja, karena guru yang tengah mengajar mereka ini paling tidak suka melihat itu. Akan ada beragam hukuman yang bisa saja mereka dapatkan.

Kebosanan dan rasa ngantuk tersebut juga berhasil menghampiri seorang namja tinggi berkulit putih dengan garis wajah sempurna dan paras yang manis sekaligus tampan mempesona bernama Xi Luhan. Namja itu berusaha menjaga—atau mungkin bisa dikatakan memaksa—dirinya agar tetap memperhatikan, meskipun untuk saat ini tidak ada satupun kata yang masuk ke dalam otaknya. Dia bukanlah namja yang pemalas, tetapi juga bukan siswa rajin seperti juara kelas mereka; Suho. Hanya saja, hari ini cuaca tidak mendukungnya untuk menelan bulat-bulat pelajaran dari Kris songsaenim.

“Baiklah, untuk soal nomor 4 ini adakah yang bersedia menjawab?”tanya songsaenim berhasil membuat seluruh siswa menegakkan kepalanya dan mulai sibuk mencari jawaban atau berdiskusi. Luhan pun mulai menyibukkan dirinya sendiri mencari jawaban.

“Ah, bagaimana kalau Anda, Nona Han?”

Diam-diam, mereka bernapas lega karena bukan nama mereka yang terlintas dalam benak songsaenim. Beberapa pasang mata menatap seseorang yang ‘cukup’ beruntung tersebut itu. Tak urung, Luhan pun juga langsung menatapnya.

Seseorang yang bermarga Han tersebut, tidak lain—dan satu-satunya—adalah Hyerin. Merasa namanya dipanggil, ia langsung bangkit dari kursinya dan menyelesaikan soal yang diberikan. Meskipun tidak ada satupun yang begitu memperhatikannya, tapi semua orang tahu—dan yakin—kalau dia juga tidak begitu tertarik untuk memperhatikan. Tapi, tanpa siapapun duga, kurang dari 3 menit dia sudah kembali lagi ke tempat duduknya.

Wajahnya yang tanpa gurat emosi tersebut cukup menjelaskan kalau dia seolah baru saja menyelesaikan soal kelas 1 SD. Meskipun sebenarnya, setiap saat—dan mungkin akan selalu—tanpa ekspresi disertai sikap dingin seperti biasanya.

“Bagus, Nona Han. Jawaban anda sangat tepat dan akurat.”puji songsaenim kemudian membuka buku catatannya dan menuliskan sesuatu di atas sana. Semua orang tahu, beliau baru saja menambahkan beberapa poin untuknya.

Hyerin sebenarnya adalah siswi pindahan dari sekolah lain yang baru saja masuk setelah murid kelas 10 berganti angka menjadi kelas 11. Ia mengaku pindah sekolah karena lebih dekat dengan rumahnya, sekaligus agar tidak merepotkan orang tuanya. Sejak awal perkenalan hingga sekarang, belum ada satupun yang pernah melihatnya tersenyum seinci pun. Raut wajahnya tidak pernah berubah, dia jarang mengobrol dengan siapapun sehingga sikapnya terkesan dingin dan sombong. Dia hanya akan bersuara ketika diharuskan atau memang dia menginginkannya.

Tapi, lain tanggapan dan pandangan di mata Luhan. Sejak awal bertemu, dia sudah sejak awal menaruh ketertarikan padanya. Entah kenapa dan apa sebabnya, yang pasti hingga sekarang dia seringkali memperhatikannya secara diam-diam. Dia pernah mencoba untuk mengajaknya berbicara, tetapi sayangnya hanya ditanggapi dengan singkat. Luhan yakin, apapun dan bagaimanapun sikapnya seperti itu, pasti ada suatu alasan dibalik itu.

Luhan tidak sadar kalau ia sudah terlalu lama menatap yeoja berambut ikal kecoklatan itu, sehingga membuat Hyerin membalas tatapannya balik hanya agar dia menghentikan tatapan tersebut. Luhan yang terkejut akan reaksi tersebut, buru-buru mengalihkan perhatiannya. Dalam hati, ia merutuki dirinya yang bodoh.

KRIIIIIIING!

Bel pulang berdering nyaring memenuhi seluruh ruangan. Seluruh siswa sontak membenahi buku-buku mereka untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

“Baiklah, sampai disini pelajaran kita hari ini. Pelajari lagi apa yang sudah saya ajarkan. Kerjakan soal latihan di buku kalian. Sampai jumpa minggu depan, ne?  Annyeong!”ucap Kris songsaenim mengakhiri kelasnya. Seisi kelas seketika langsung berhamburan keluar.

Luhan juga langsung bergegas menuju keluar kelas. Ia tidak langsung pulang menuju ke rumahnya, tetapi berhenti di depan sekolahnya karena sengaja untuk menunggu Hyerin keluar. Hari ini, dia mencoba keberuntungannya lagi untuk membuatnya berbicara padanya.

Melihat sosok Hyerin di antara lautan manusia, membuat Luhan menyunggingkan senyumnya yang dapat membuat siapapun melting jika melihatnya. Hyerin yang menyadari kehadiran Luhan dan mengetahui dengan jelas alasannya yang tengah berdiri menatap diujung sana, hanya menggeleng kecil dan terus melangkahkan kakinya seolah tidak mengetahui.

“Annyeong, Hyerin-ssi!”sapa Luhan saat Hyerin berjalan melewatinya. Ia kemudian mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Hyerin yang nampak mengabaikannya.

“Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Sebaiknya kau segera pulang.”tukasnya dingin. Meskipun kata yang keluar dari mulutnya bukan seperti yang diharapkan, tapi hal tersebut berhasil membuat sesuatu berdesir halus di dalam dadanya.

“Yak! Kau ketus sekali. Aku hanya ingin menyapamu, kok.”balas Luhan mencoba santai agar dapat mencairkan suasana.

Tiba-tiba, Hyerin menghentikan langkahnya. Luhan sedikit terlonjak karena hal itu.“Annyeong, Luhan-ssi.”ucapnya tiba-tiba. Sejenak, Luhan terdiam ketika bola matanya bertatapan langsung dengan bola mata cokelat hazel miliknya.“Sudah, kan? Sekarang pulanglah.”

Kalimat yang diucap Hyerin, membangunkan Luhan dari lamunannya.

“Ah, aku ingin bertanya sesuatu.”cegat Luhan kemudian menyusul Hyerin yang sudah beberapa langkah darinya.“Bagaimana kau bisa menjawab soal dari Kris songsaenim tadi? Padahal—“

Molla.”jawab Hyerin asal.

“Uh?”

Hyerin mendecak kesal.“Kau tidak dengar? Aku bilang, aku tidak tahu. Lagipula, apa pedulimu kau tahu?”jawabnya ketus. Ia sudah mulai risih dengan kehadiran namja itu disekitarnya.“Itu juga bukan hal penting yang  perlu kau tahu. Sebaiknya kau segera pulang sekarang.”

“Ngg, tapi—“

“Dan, berhenti mengikutiku!”ujar Hyerin untuk terakhir kali. Karena setelah itu, Luhan terdiam sejenak di tempatnya sebelum melangkah kembali ke parkiran sekolah untuk mengambil motornya. Meskipun usahanya tidak berjalan sesuai harapan, tapi ia sudah cukup senang bisa mendengar lebih banyak suara dari yeoja itu dan lebih dekat dengannya.

***

 “Angel, apa kau sudah menemukan pertanda yang jelas?”tanya seorang namja tinggi dengan paras mempesona yang dimilikinya. Jemarinya nampak memainkan gelas di tangannya. Ia berjalan menghampiri yeoja yang tengah duduk santai di atas sofa dengan headphone di telinganya. Meskipun dengan volume yang paling besar sekalipun, takkan mungkin bisa ‘menutup’ pendengarannya tersebut.

“Ani. Aku belum merasakannya. Sepertinya, baru pertanda biasa saja seperti sebelum-belumnya.”jawabnya tanpa berpaling.

Namja tersebut mendengus kecil.“Baiklah, yang pasti kau harus tetap berhati-hati. Kau tahu, bukan, betapa menyebalkannya serangan tiba-tiba dari mereka?”

“Huh, kau pikir aku sepertimu, Dark Hunter. “cibir yeoja tersebut sembari menegakkan punggungnya. Karena malas mendengar banyak suara yang tertangkap oleh indra pendengarannya, ia melepas dan mengalungkan headphone itu di lehernya.

“Yak! Meskipun aku baru menyelesaikan 400 misi dan membantu dalam misi—seperti ini—240 kali, tentu saja aku sudah tahu banyak hal.”elak namja itu berusaha membela diri.

Yeoja itu tertawa mencemooh. Ia ‘berjalan’ menuju dapur .“Tahu banyak darimana? Sudahlah, sekali maknae kau akan tetap maknae—meski sebagai Dark Hunter sekalipun.”ucapnya yang kurang dalam sepersekian detik sudah kembali lagi dengan makanan ringan di tangannya.

“Haiss, kau sungguh menyebalkan noona.”sungutnya. Namja itu menaruh asal gelas tersebut dan ‘bergegas’ pergi menuju ruangannya.

“Yak! Kau mau kemana, huh?”tanyanya setelah menyadari langkahnya yang jauh dari perkiraannya.

Namja itu menoleh singkat.“Aku mau ‘berburu’. Kau mau ikut?”

Yeoja itu berdecak kesal seolah direndahkan.“Meskipun begini, aku tetap punya sisi normal sebagai yeoja.”protesnya.

“Lalu, kenapa kau tidak berpikir untuk mengencaninya, heum?”tanya namja itu dengan smirknya.

Ia mendengus kesal.“Apa kau gila? Dia termasuk dalam Protect Ring. Jadi mana mungkin aku—“

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Percaya padaku.”tukasnya sambil menampilkan smirk khasnya. Mungkin, bagi siapapun yang baru pertama kali melihatnya akan terpaku karena hal itu. Tapi tidak baginya. Hal itu justru membuatnya mual seketika.

“Yang benar saja.”gumamnya sebelum memakan makanannya.

“Jadi, kau mau ikut tidak?”tanya namja itu ulang. Ia tengah sibuk merapikan sepatunya dengan ‘normal’. Benar-benar hanya membuang waktu saja, pikir Hyerin

“Tidak akan.”

“Maksudku, ikut untuk menemaniku ‘berjalan-jalan’.”ralatnya, yang berhasil membuat yeoja itu melemparkan makanan yang ada di tangannya. Meski ia tahu, tentu saja usahanya akan sia-sia.

“Mimpi saja sana!”serunya.“Dasar bocah.”

***

Sudah sejak lima belas menit yang lalu, Luhan nampak setia menunggu di depan sekolahnya. Tak henti senyum mengembang di wajahnya, terlebih ketika mengingat kejadian kemarin. Singkat, tapi bermakna lebih baginya.

Baru saja dia hendak beranjak menghampiri saat melihat kedatangannya, sedetik kemudian niat tersebut langsung hilang entah kemana. Dia yang dari dulu hanya memperhatikan saat di sekolah saja, cukup terkejut dan penasaran dengan seorang namja—yang sepertinya—menemaninya ke sekolah. Entah itu siapa, yang pasti mereka terlihat sangat akrab. Kekecewaan merengguh perasaannya sekarang. Muncul banyak pertanyaan dan dugaan dalam pikirannya. Apa mungkin ini terjadi sudah cukup lama?

“A-annyeong, Hyerin-ssi.”sapa Luhan dengan memasang senyum palsunya. Ia tidak boleh menunjukkan perasaan yang dirasakannya sekarang. Bisa dikatakan, ia tidak boleh terlihat berharap padanya.

“Annyeong.”balas Hyerin singkat. Perasaannya makin campur aduk setelah mendengar jawaban tadi. Sebenarnya yang aneh disini sekarang siapa? Dirinya sendiri atau yeoja itu? Ia baru saja merasa kecewa, tiba-tiba berlonjak riang di dalam hati. Hyerin berhasil membingungkannya sekarang.

Sekarang ia benar-benar bingung harus berbicara apalagi. Ia masih tidak menyangka dengan jawaban yang didengarnya.

“Ngg, Hyerin-ssi. Kalau boleh tahu, apa rumahmu memang benar dekat dari sini?”tanya Luhan yang sebenarnya sudah kehabisan ide.

“Ne.”jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kalau begitu, kau biasanya pergi jalan kaki atau—“

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Hyerin tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan kali ini langsung menatap Luhan.”Wae? Kau penasaran dengan namja tadi?”

Luhan terdiam, terkesiap dalam hati. Sebenarnya dia tidak begitu berniat untuk menanyakan hal tersebut. Tetapi, yeoja di depannya ini mampu menebak hal yang terpikirkannya saja belum.

“Dia temanku—Oh Sehun. Jangan kau ambil pusing mengenai dia. Dia memang sedikit ‘gila’.”jelas Hyerin tanpa diminta. Luhan kembali berpikir keras. Apakah yang dilakukannya kemarin berpengaruh begitu besar?

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Luhan, Hyerin merutuki  kebodohan yang baru saja dilakukannya. Gerangan apa yang membuatnya sampai berkata seperti itu?

“Sudahlah. Abaikan kata-kataku tadi.”tukasnya kemudian mempercepat langkahnya.

“Ah, chakkaman!”seru Luhan, tetapi tidak membuat Hyerin mengurangi kecepatan langkahnya.”Boleh aku tahu dimana rumahmu?”

Hyerin menghentikan langkahnya.”Maksudmu?”tanyanya sedikit was-was.

“Err, maksudku, boleh aku mengantarmu—“

“ANI!”

Belum selesai Luhan bicara, Hyerin yang memang cepat menangkap langsung menolaknya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Sementara Luhan masih dikelilingi kebingungan dari apa yang baru saja terjadi. Ia menggaruk kepalanya yang—sebenarnya—tidak gatal, sambil menatap tempat dimana Hyerin melesat pergi tadi.

Padahal ini masih pagi. Tetapi otaknya sudah terkuras beberapa persen. Mungkin, ia akan makan lebih banyak saat jam istirahat nanti.

***

Kebosanan yang biasa melanda ketika pelajaran sejarah berlangsung untuk kali ini menghilang sejenak. Victoria songsaenim tengah mendiktekan catatan yang sudah dirangkumnya. Sehingga, kini kelas sunyi-senyap tanpa suara. Hanya detakkan jarum jam yang samar-samar terdengar. Semua sibuk mendengarkan dan mencatat.Tak terkecuali untuk Hyerin sendiri. Meskipun, ia sebenarnya sudah hapal diluar kepalanya.

Gerakan tangan Hyerin tiba-tiba terhenti ketika dengan sangat jelas mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Ia mengabaikan suara disekitarnya dan mencoba memusatkan konsentrasinya, tanpa membuatnya menjadi pusat perhatian. Urat pada kepalan tangannya seketika menonjol, setelah memastikan asal suara tersebut. Ia menjadi sangat was-was.

“Songsaenim, boleh saya permisi ke belakang sebentar?”tanya Hyerin tiba-tiba, memotong penjelasan songsaenim.

“Tapi, saya sedang mendiktekan catatan. Bagaimana jika—?”

“Jebal.”lanjutnya dengan tatapan fokus yang membuat beberapa siswa menatapnya curiga dan penuh tanya. Sementara, Hyerin sendiri sudah tidak kuasa lagi.

Songsaenim mendengus kecil.”Ya, baiklah.”

Hyerin lalu mengucapkan permisi dengan singkat dan cepat. Tanpa babibu lagi, ia langsung mengambil seribu langkah menuju keluar kelas. Melihat itu, Victoria songsaenim menggeleng kecil. Hal itu membuat beliau yakin seratus persen dengan ucapannya tadi.

Tidak hanya songsaenim, Luhan yang melihat air mukanya yang nampak tidak seperti biasanya—ditambah sikapnya tadi—menjadi bingung sekaligus penasaran. Sepertinya ada hal yang membuatnya sampai seperti itu. Semakin hari, semakin banyak saja hal yang membuat misterius yeoja tersebut.

Luhan kembali memperhatikan songsaenim yang mulai menjelaskan satu persatu dari apa yang didiktekannya tadi. Tapi belum lama dia memperhatikan, sesuatu dengan cepat mengalihkan perhatiannya. Ia yakin kalau baru saja suatu hal bergerak cepat dari luar jendelanya. Merasa kalau yang dilihatnya adalah ilusi semata, ia mengacuhkannya.

Sekali lagi, sekelebat bayangan terlihat lagi melintas sangat cepat dari ekor matanya. Hal itu terlalu nyata jika dikatakan hanya sebuah ilusi. Luhan memutuskan mencuri-curi pandang ke luar jendela untuk memastikan penglihatannya.

Ia hampir saja terlonjak kaget melihat hal yang cukup jelas tertangkap oleh lensa matanya. Antara percaya dan tidak, ia baru saja melihat sekelebat bayangan yang bertemu sehingga menunjukkan setitik bayangan yang melesat menjauh dari tempat mereka bertabrakan. Mungkinkah dirinya sedang bermimpi sekarang?

Entah mengapa, melihat hal itu membuat jantungnya berdetak tidak karuan sehingga menyesakkan rongga dadanya. Suatu perasaan aneh tiba-tiba menyeruak di dalam dirinya. Konsentrasinya seolah pecah dan menghilang. Pandangannya tidak fokus, pendengarannya pun seolah tidak berfungsi lagi. Ia merasa otaknya sudah berhenti bekerja. Ia tidak bisa melakukan apapun, tenaganya seperti menghilang entah kemana. Ia tidak tahu harus apa, bahkan untuk berteriak pun tidak mampu.

Sedetik kemudian, ia merasa tubuhnya goyah dan jatuh ke bawah karena tertarik oleh gravitasi. Tubuhnya seperti patung tak bernyawa. Tidak tahu bagaimana dan kenapa, pandangannya menjadi kabur dan kemudian gelap.

Semua terjadi begitu cepat. Sangat cepat.

***

Luhan merasa kalau ia sudah sadar—meski belum sepenuhnya. Perlahan, ia mencoba membuka matanya. Ia menggerang kecil ketika secercah cahaya menyilaukan pandangannya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan. Setelah sepenuhnya terbuka, ia langsung menemukan yeoja yang sangat dikenalnya duduk di samping tempatnya berbaring. Wajahnya nampak cemas.

“Kau sudah sadar, Luhan-ssi? Gwencanayo?”tanya Hyerin yang langsung disambut anggukan oleh Luhan. Belum tuntas Luhan menggerakkan kepalanya, rasa sakit seketika menjalar kepalanya. Erangan kecil keluar dengan mulus dari mulutnya.

“Ah, kepalamu sakit eoh?”tanyanya seraya bangkit dari duduknya.”Sehunna!”

Belum reda dia dikagetkan dengan apa yang dilihatnya di kelas tadi dan dibingungkan dengan posisinya sekarang, ia kembali diperlihatkan hal yang benar-benar tidak masuk akal. Setelah Hyerin menyerukan nama tersebut, sepersekian detik kemudian seorang namja yang disebut sebagai temannya itu sudah berdiri tepat di sebelahnya. Untuk kesekian kalinya, beribu pertanyaan menumpuk di dalam otaknya.

“Tidak perlu memikirkan apapun. Pejamkan matamu, dan cobalah untuk rileks.“titah Hyerin. Tanpa banyak tanya, Luhan langsung memejamkan matanya. Entah apa yang dilakukan oleh mereka, ia merasa kepalanya terasa ringan dan otaknya seperti fresh kembali. Rasanya begitu nyaman sehingga membuatnya hampir terlelap.

“Bagaimana mungkin kau lupa untuk ‘mengembalikan’ kondisi kepalanya? Kau tahu, kan, kalau itu bisa berdampak buruk?”cecar Hyerin setengah berbisik.

Sehun berdecak kecil.”Aku sudah mengembalikan kondisinya tadi. Apa kau tidak melihat tenagaku hampir terkuras? Lagipula, bagaimana kau bisa begitu cereboh membiarkan Dead Hole itu mendekatinya?”

“Aku sudah berusaha untuk menghalaunya, tapi serangan tadi itu benar-benar mendadak. Hampir saja aku terlambat beberapa detik sebelum kedatangannya.”jelas Hyerin dengan banyak emosi tergambar jelas dalam rautnya. Rasa penyesalan lebih mewakili perasaannya sekarang. Hampir saja ia menghilangkan nyawa namja yang tengah berbaring itu. Ia akui, ia tidak cukup gesit tadi.

“Sebenarnya, apa yang terjadi?”tanya Luhan seraya meneggakkan punggungnya. Hyerin langsung membantunya agar berdiri dan menaruh bantal di belakang punggungnya sebagai ganjalan. Meskipun ia tidak begitu menyimak apa yang dibicarakan, ratusan pertanyaan membuatnya bertanya-tanya di dalam pikirannya.

Hyerin sejenak menoleh ke arah Sehun. Mereka seolah berbicara melalui tatapan mereka masing-masing.

“Uhm, tidak ada apa-apa. Songsaenim bilang kalau kau tiba-tiba pingsan tadi. Apa tadi pagi kau belum sarapan? Apa kau merasa lapar?”ucap Hyerin mengalihkan pembicaraan. Sementara, tanpa sempat tertangkap oleh lensa mata Luhan, Sehun sudah menghilang bak asap.

Luhan mencoba kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tetapi sayangnya ia tidak ingat begitu banyak. Hanya saat tubuhnya seperti ‘mati’ seketika dan kemudian kesadarannya menghilang, yang ia ingat. Selebihnya ia hampir tidak mengingat apapun.

“Aniya. Aku tidak lapar. Mungkin aku sedikit kecapekkan.”jawabnya asal.

“Ya sudah, istirahatlah. Aku kembali ke kelas dulu ne.”

Baru saja Hyerin hendak beranjak, dengan cepat Luhan menahan tangannya.”Ngomong-ngomong, kenapa kau ada disini?”tanyanya penasaran.

Hyerin mengangkat sedikit ujung bibirnya, lalu menarik tangannya dari genggaman Luhan.”Songsaenim yang menyuruh. Sudah, sebaiknya kau istirahat saja. Annyeong.”

Luhan menghela napas singkat setelah pintu tertutup kembali dan suasana seketika menjadi senyap. Ia bingung dan heran, bagaimana bisa ia lupa dengan kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu. Ia yakin, kalau kejadian itulah yang menjadi jawaban sesungguhnya dia bisa berada disini.

Nyanyian burung dari luar jendela membuatnya menoleh. Semua terjadi terlalu cepat dan begitu misterius. Terlebih mengenai keberadaan Hyerin tadi. Ia menggegam hampa tangan kirinya yang baru saja menggegam tangan miliknya. Padahal sudah terjadi dalam selang waktu yang cukup lama, debaran jantungnya baru terasa sekarang.

Ia lalu merebahkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur, dengan kedua lengannya yang ditaruh ke belakang kepalanya. Sambil menatap langit-langit yang bersih tanpa apapun, seulas senyum mengembang indah seketika.

***

Kenapa kau tidak membiarkan dia mengetahuinya?

 

Hyerin yang tengah memperhatikan dengan malas tiba tersentak pelan, terkejut ketika mendengar sebuah suara menggema di dalam kepalanya. Ia tentu tahu siapa pemilik suara tersebut.

Belum waktunya. Lagipula kalau dia tahu, dia pasti tidak akan bisa menerimanya begitu saja.

Ini sudah biasa terjadi dan bukan halnya yang aneh. Siapapun diantara mereka bisa berbicara melalui pikiran masing-masing. Ini biasanya mereka lakukan agar sang Black Heart tidak bisa mendengar dan mengetahui rencana mereka.

Death Hole sudah berhasil menemukannya, berarti cepat atau lambat dia harus mengetahui tentang semua ini. Tentang bahaya yang menghampirinya ini.

 

Beruntung Hyerin sedang ada kelas sekarang. Jika tidak, ia pasti sudah menghabisi namja cerewet satu itu. Ia tahu apa yang ia lakukan. Jika Luhan mengetahui secepat ini, yang ada hal buruk yang akan terjadi. Itu karena mereka tidak bisa mengetahui jalan pikiran manusia. Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi manusia yang mereka lindungi.

Aku tahu itu, Sehunnie. Tapi, apa kau mau bertanggung jawab kalau itu malah memburuk keadaan, heum?

Tentu saja, tidak. Aku—

Sudahlah, biar aku saja yang urus ini.

Baiklah, terserah apa katamu saja. Aku akan selalu siap jika kau butuh bantuanku.

 

Hyerin tahu, dia pasti tengah tersenyum sumringah bangga akan dirinya sendiri.

Ne, memang sudah semestinya begitu.

Ia mengulum senyumnya menahan tawa. Pasti namja itu tengah merengut karena ucapannya tadi. Ia lalu ‘menutup’  kemampuannya itu, agar Sehun tidak dapat menggerutu atau mengomel-omel tidak jelas di dalam pikirannya.

KRIIIIIING!

Bel pulang berbunyi nyaring. Seperti biasa, setelah songsaenim mengakhiri pelajarannya seluruh siswa langsung berhamburan memenuhi koridor sekolah. Biasanya saat seperti ini adalah yang paling ditunggu oleh Hyerin, tapi tidak untuk kali ini. Pulang sekolah, itu berarti ia harus meningkatkan kewaspadaannya dan mengetatkan penjagaannya terhadap namja itu. Hal seperti inilah yang baru disebutnya sebagai tugas.

“Luhan-ssi, mulai hari ini setiap sepulang sekolah kau langsung pulang ke rumah, dan tidak ada penolakkan apapun.”ucap Hyerin sebelum Luhan beranjak dari kursinya.

Luhan refleks berhenti kemudian menoleh.”Kita ini teman sekelas, meskipun tidak begitu dekat tapi bisakah kau menghilangkan embel-embel ‘ssi’ ketika memanggilku?”

Hyerin mendongak sehingga bertemu langsung dengan mata cokelat muda Luhan. Menatap mata sudah hal biasa dan merupakan bukti dari perlawanannya. Jika sedang bertarung, ia selalu berani menatap lawannya seolah menantang. Apalagi jika manusia, tentu dia lebih biasa lagi. Anehnya, ia baru sadar jika semenjak bertemu mata dengan namja—err—manis di depannya ini, matanya selalu menolak untuk menatapnya balik walau hanya sedetik.

“Kau dengar apa yang kukatakan tadi, kan?”ujar Hyerin mengacuhkan kalimat Luhan.

Luhan mendengus kecil. Ia sudah tahu, setiap ucapannya pasti selalu diabaikannya.”Ne, aku dengar. Memangnya kenapa, eoh?”

“Tidak perlu banyak tanya dan tidak ada penolakan apapun. Setiap pulang sekolah kau harus langsung pulang dan jika datang ke sekolah jangan terlalu pagi. Datanglah saat sekolah ini sudah cukup ramai, dan segeralah pulang sebelum sekolah ini sepi.”terang Hyerin.

“Bagaimana aku bisa tahu setiap pagi kalau sekolah sudah cukup ramai?”tanya Luhan seraya sedikit mencondongkan tubuhnya dan menaruh tangannya di atas meja Hyerin sebagai penyangga tubuhnya. Tetapi, bukannya dijawab, Hyerin langsung berjalan keluar kelas. Luhan menundukkan kepalanya seraya menghela napas. Ia bingung bagaimana bisa ada yeoja secuek itu di dunia ini.

“Y-yak!”seru Luhan kemudian mengejarnya yang sudah cukup jauh. Susah payah ia mencoba mensejajarkan langkahnya dengan yeoja yang sebenarnya tidak memiliki kaki sepanjang miliknya—tetapi  mampu berjalan lebih cepat darinya.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”kata Luhan sambil menggapai bahu Hyerin. Tapi, belum sampai tangannnya menyentuh bahu yeoja itu, Hyerin sudah lebih cepat menoleh.

“Kau tuli, ya? Sudah kubilang segeralah pulang! Tidak punya kegiatan lain apa selain mengikutiku setiap saat!”sergak Hyerin setengah berteriak. Luhan seketika terdiam. Ia merasa sesuatu hancur di dalam tubuhnya. Belum sempat ia menangkap sesuatu dari dalam matanya, Hyerin segera berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa.

Meskipun hal itu berhasil menyesakkan dadanya, tetapi ia merasa ada hal lain yang berlawanan dari sikapnya tadi. Ia merasa kalau sikapnya tadi—atau mungkin selama ini—adalah sengaja atau sekedar akting belaka. Entah bagaimana ia bisa tahu, tetapi sejak bertemu mata dengannya pemikiran itu munculan di dalam pikirannya. Bahkan sejak pertama bertemu, ia tidak pernah menatap atau menganggapnya negatif seperti teman-temannya yang lain.

Entah itu pemikiran hati nuraninya atau hanya pemikiran gilanya saja, ia bukannya mengikuti perkataan yeoja itu tetapi malah memilih untuk mengikutinya secara diam-diam. Terserah apa katanya nanti, yang pasti ia ingin mengetahui sebab dan alasan sikap darinya selama ini.

Luhan bergegas mengambil jalan pintas untuk mengikuti yeoja itu. Tidak butuh waktu lama ia berhasil menemukan Hyerin. Sebenarnya ia sudah lama tahu rute jalan ke rumah yeoja itu, tetapi tidak untuk letak rumahnya. Luhan terus mengikutinya dengan terus menjaga jarak darinya. Baru setengah jalan ia mengikuti, Luhan merasa ada yang aneh. Jalan yang dilalui bukanlah jalan yang biasanya dilalui Hyerin. Apa mungkin Hyerin bermaksud menuju ke suatu tempat?

Ah, mungkin saja, batin Luhan. Mengingat yeoja itu melarangnya keras untuk mengikutinya, mungkin ini alasannya. Luhan terus mengikuti bahkan sampai Hyerin mengarah pada reruntuhan bangunan. Meskipun sedikit heran, ia terus mengikuti. Tepat, saat melewati reruntuhan ia merasa mendengar suatu suara kretak dari atas mereka. Ia melihat dengan jelas sebuah balok kayu terjatuh bebas ke bawah, dan hendak menimpa Hyerin.

Entah dapat keberanian dari mana dan bagaimana bisa dia melupakan misi sebelumnya, ia langsung berlari mendorong tubuh Hyerin dengan tubuhnya. Tubuh mereka langsung terjatuh membentur tanah dengan keras, sementara balok kayu yang—ternyata—jumlahnya lebih dari satu itu jatuh tidak jauh dari mereka.

Luhan mengerang kecil karena harus membiarkan tubuhnya membentur tanah sepenuhnya agar tidak melukai sedikit pun tubuh Hyerin yang berada dalam rengkuhannya. Hyerin yang tidak menyangka akan apa yang terjadi sekarang, terdiam sejenak sementara napasnya tiba-tiba berhembus tidak beraturan. Entah mengapa, ia merasakan debaran jantung yang tidak karuan yang terdengar berirama dengannya.

Hyerin mendongak menatap namja yang sebenarnya sudah sejak awal dia tahu keberadaannya. Untuk itulah ia memilih mengambil jalan yang jauh agar namja itu berhenti mengikutinya. Tapi sangat tak disangka, namja ini benar-benar keras kepala.

Dengan segera Hyerin bangkit, kemudian membersihkan debu dari  seragamnya. Tanpa babibu dan tanpa Luhan sangka, Hyerin tiba-tiba menampar wajahnya.

“Apa kau benar-benar sudah tuli, huh? Apa kau tidak mengerti bahasa manusia lagi? Sudah kubilang segeralah pulang dan berhenti mengikutiku!”tukas Hyerin kemudian melangkah pergi meninggalkan Luhan. Luhan yang sama sekali tidak menyangka dan tidak mengerti dengan sikapnya barusan, cukup lama terdiam di tempatnya.

Melihat sikapnya tadi, mungkin itu adalah sikap terakhir yang akan dilihatnya dari yeoja itu. Kesabarannya sudah tersulut habis.

“Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak akan peduli padamu lagi!”tukas Luhan seraya berdiri. Ia menatap punggung Hyerin  yang berjalan lurus jauh di depannya.

“Terserah!”seru yeoja itu tanpa berpaling.

Sementara Luhan berjalan berlawanan arah dengannya sambil bersungut kesal dalam hati, saat itu juga sesuatu yang tidak mengenakkan menggerogoti perasaan Hyerin. Perlahan namun pasti, ia melambatkan langkahnya lalu menoleh ke belakang menatap punggung Luhan yang sudah jauh dari pandangannya.

“Kau tidak mengerti, Luhan-ah”

***

“Pabo! Pabo! Pabo!”seru Luhan berulang-ulang.”Kau benar-benar paboya Luhan!”

Sepanjang jalan ia terus menggerutu dan merutuk. Ia benar-benar merasa bodoh, kesal, kecewa dan hancur bercampuk dalam dirinya.

“Setelah sekian banyak yang aku lakukan, hanya ini yang aku dapatkan. Padahal aku sudah terlalu sering diabaikannya, bagaimana bisa aku masih terus berusaha mendekatinya? Seharusnya sejak dulu aku tidak perlu memusingkan diri untuk memikirkan yeoja keterlaluan itu! Argh!!”

Ia menendang dengan keras batu kerikil di dekatnya, kemudian kerikil itu melambung tinggi dan jatuh bebas ke danau di depannya. Sudah banyak pasang mata yang melirik heran padanya, tapi ia sama sekali tidak peduli. Ia sudah tidak peduli dengan perintah Hyerin yang menyuruhnya untuk segera pulang. Setelah kembali ke sekolah dan mengambil motornya, ia langsung menancap gas menuju danau.

“Memangnya dia pikir dia siapa menyuruhku seenaknya begitu.”tukasnya. Ia lalu mendudukkan dirinya di atas rerumputan. Tubuhnya sudah tersulut habis oleh emosi itu perlahan tenang kembali. Ia tidak tahu pasti apa yang dirasakannya, yang pasti itu sangat menyesakkan rongga dadanya. Sedari tadi ia merasa suatu sengatan kecil di sekitar matanya. Tangannya terus mengepal keras, berusaha meredam sengatan kecil tersebut. Berusaha menahan cairan bening muncul dari balik bola matanya. Apa mungkin dirinya sedang terluka sekarang?

Selagi ia tengah melamun sambil menatap hamparan danau di depannya, tiba-tiba ia mendengar isak tangis seseorang tak jauh darinya. Suara tersebut benar-benar menarik perhatiannya membuat ia langsung mencari asal suara tersebut. Tak butuh waktu lama, ia langsung menatap sosok yeoja dari kejauhan tengah duduk merengkuh kakinya dan menenggalamkan wajahnya ke dalam. Isak tangisnya begitu pilu, entah apa gerangan yang membuatnya begitu.

Luhan langsung mendekati yeoja tersebut. Yeoja itu terlihat begitu rapuh baginya. Tangan Luhan menggapai bahu yeoja itu, membuat yeoja itu memelankan tangisnya.

“Gwencanayo?”tanya Luhan.

“Tolong…”lirih yeoja itu.

“Waeyo? Apa yang membuatmu menangis? Mungkin aku bisa membantu.”ucap Luhan menawarkan dirinya.

Yeoja perlahan mengangkat kepalanya.”Jeongmal? Kau mau membantuku?”tanyanya tanpa menoleh. Belum sempat Luhan menjawab, tiba-tiba tangannya yang berada di atas bahu yeoja itu dicengkram erat olehnya. Luhan sedikit tersentak karena gerakannya terlalu tiba-tiba. Tanpa diduga olehnya, yeoja itu tahu-tahu sudah bangkit dan sudah berada dibelakangnya, mengunci tangannya ke belakang punggung.

“Kalau begitu, serahkan jiwamu padaku sekarang.”

WHUSH!!

Kurang dari sepersekian detik—bahkan tanpa sempat disadari oleh Luhan, dirinya terdorong ke belakang dengan cepat. Semua terjadi terlalu cepat. Ia merasa, baru dua kali ia mengedipkan matanya sudah banyak hal yang terjadi padanya. Setelah tubuhnya ditarik menjauh tadi, ia baru sadar kalau sekarang  ia berada  cukup jauh dari posisinya semula dan sudah berdiri Sehun di sebelahnya. Tapi, ia merasa kalau ada yang berbeda darinya.

DRUAAAK!

Suara dentuman keras, membuatnya menoleh cepat. Matanya melebar dua kali lipat melihat apa yang terjadi di depannya. Sesuatu baru saja menabrak pepohonan yang tegak dengan kokohnya, sehingga membuat barisan pepohonan itu runtuh seketika.

“Y-yak! Apa yang—“

“Harus kubilang berapa kali, sih, supaya ngerti!”sembur Hyerin tiba-tiba sudah ada di depannya, membuatnya hampir terlonjak ke belakang karena kaget. Bukan hanya kehadirannya saja yang membuat Luhan kaget, tetapi penampilan dari sosok yeoja yang dikenalnya benar-benar berbeda sekarang. Seketika ia tahu, dimana letak perbedaan fisik dari kedua orang di dekatnya itu.

“A-aku—“

Belum sempat Luhan berbicara, sesuatu seolah mengalihkan perhatian mereka. Mereka secara serempak menoleh ke arah reruntuhan pepohonan yang setengah hancur itu. Entah mengapa, Luhan merasa aura disekitarnya mendadak berubah. Sejenak mengalihkan perhatian, ia bingung dengan lingkungan sekitarnya yang sudah sepi seolah tanpa kehidupan. Kemana gerangan semua orang? batinnya dalam hati.

“Sehun-ah, cepat bawa dia pergi.”titah Hyerin tanpa menoleh.

Luhan tidak tahu apa yang mereka lakukan atau apapun yang terjadi sekarang ini, tetapi ia sungguh enggan untuk beranjak dari sana. Seolah ini semua adalah kunci dari jawaban atas pertanyaannya selama ini. Ketika Sehun memegang tangan Luhan hendak menariknya pergi, Luhan refleks menarik tangannya. Ada dua hal yang membuatnya refleks menolak; pertama, karena dia sudah keukeh untuk tidak beranjak dari sini, dan yang kedua, saat Sehun menyentuhnya tadi—entah hanya perasaannya saja atau memang benar—Luhan merasa ia seolah bersentuh dengan balok es, dingin sekali.

“Ani! Aku tidak akan pergi dari sini.”tolaknya.

Dengan mata Hyerin yang sudah berubah warna menjadi biru kehijauan, ia menoleh cepat menatap tajam ke arahnya.”Kau ini keras kepala sekali! Bisakah untuk kali ini tidak perlu membantah, eoh?”

“T-tapi aku—“

“Kau tidak perlu memaksanya, Angel.”kata satu suara yang cukup asing di telinga Luhan, sementara sepertinya tidak untuk mereka. Pemilik suara tersebut membuat Hyerin langsung menoleh cepat dan menatapnya was-was, sementara Sehun tak hentinya menatap lurus ke arahnya dengan tajam.

“Jika dia memang rela memberikannya jiwanya, tentu tidak jadi masalah, bukan?”

Dari balik debu yang menutupi pandangan mereka, Luhan kini dapat melihat sosok pemilik suara tadi. Sejenak ia berpikir, apa mungkin ini yeoja yang ditemuinya tadi? Seorang namja?

Ia bertubuh tinggi tegap—lebih tinggi darinya atau siapapun di dekatnya sekarang, di sekitar mata merah menyalanya dihiasi eyeliner hitam, wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena kerah pada jubah hitam yang dikenakannya menutupi sampai batas hidungnya. Ia memang tidak terlihat aneh, tetapi sungguh menyeramkan. Saat mata Luhan beradu temu dengan matanya itu, dadanya tiba-tiba sesak seketika.

“Ugh.”rintihnya pelan. Ia merasa seperti déjà vu.

Hyerin menoleh cepat dan segera mendekatinya, dan dengan sigap langsung memegang tubuhnya yang perlahan mulai goyah.”Bawa dia pergi sekarang!”titah Hyerin lagi.

Lagi-lagi Luhan menolak. Ia memegang pundak Hyerin yang sedikit rendah darinya karena mencoba menahan tubuhnya. Meski warna matanya masih sama, tetapi ia dapat dengan jelas menangkap kekhawatiran yang besar di dalamnya.

“Tidak, tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”kilah Luhan.

“Tidak bisa. Kau tidak mengerti, Luhan-ya. Ini sangat berbahaya dari yang kau kira.”ucap Hyerin masih mencoba membuat namja itu mengerti.

Sementara mereka digeluti oleh kepanikan di ujung sana, diam-diam namja yang menjadi penyebab ini semua tersenyum sumringah dan tertawa mengejek di dalam hatinya.

“Aigoo~ Untuk apa kau memaksanya kalau dia tidak mau? Mungkin dia sudah siap dengan kematiannya.”ucapnya.

Telinga Hyerin terasa panas mendengar makhluk menyebalkan itu. Dia sebenarnya sungguh tidak pantas disebut makhluk—bahkan dia lebih rendah dari pada hewan. Mata biru kehijauannya berkilat-kilat seolah menunjukkan amarahnya yang memuncak.

“Kau benar-benar sialan, Yeobi!”sungut Hyerin, seraya ‘mendekat’ dan menyerang sosok bernama Yeobi tersebut. Dia memang adalah seorang Death Hole, salah satu anggota atau pesuruh Black Heart yang bertugas mengambil jiwa manusia. Tetapi, tentu saja hal itu sepenuhnya tidak akan berjalan mulus karena adanya Hunter yang bertugas menjaga setiap manusia yang ada di dalam daftar Protect Ring mereka.

Luhan merasa sedikit membaik saat Hyerin memulai pertarungan kembali dengan Death Hole tadi. Sementara itu, Sehun mengiringnya duduk di kursi tak jauh dari mereka dan segera mengobatinya. Sehun merupakan Dark Hunter, yang bertugas sebagai pendamping Hunter utama yang dalam diri mereka memiliki banyak kemampuan yang lebih beragam. Terkadang, jika memang dibutuhkan, mereka biasa ‘terjun’ langsung untuk melindungi manusia sendirian. Hunter seperti ini dibagi dua macam; Dark Hunter dan White Hunter. Dark Hunter kebanyakkan adalah namja, sedangkan White Hunter biasa dimiliki oleh yeoja.

Pertarungan terjadi semakin sengit. Entah mengapa dan sejak kapan, Luhan bisa merasakan gelombang aura yang beragam dan sesekali bertabrakan di sekitarnya. Ia mendongak menatap langit, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Meski ia tahu, ia tidak mungkin bisa melihatnya seperti di kelas waktu itu. Ya, dia sudah ingat semuanya semenjak rasa sakit di dadanya tadi. Meskipun masih membingungkan, tetapi ia sudah paham beberapa hal.

“Kau diam saja disini, jangan kemana-mana.”titah Sehun. Sebelum dia pergi, ia mengangkat kedua tangannya dan mengulurkannya ke depan lalu membuat gerakan ke samping. Sesuatu berbentuk transparan muncul dari tangannya. Luhan tidak tahu itu apa, yang pasti benda tersebut menjadi kasat mata setelah mengitari tempatnya duduk.  Setelah itu, Sehun bergegas ‘pergi’ menuju tempat pertarungan berlangsung.

Luhan tidak membantah kali ini. Banyak hal—bahkan lebih banyak hal—berputar di dalam otaknya. Ini sungguh membingungkan dan aneh baginya. Ia memegang dadanya seolah merasakan rasa sakit yang dirasakannya tadi. Ia teringat dengan namja menyeramkan yang dilihatnya tadi.

Dia hendak mengambil jiwaku? batinnya dalam hati. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa mereka? Angel? Hyerin adalah Angel? Apa maksudnya? Bagaimana mungkin Sehun tadi bisa menyembuhkan rasa sakit tadi hanya dengan mengulurkannya ke depan dada? Apa itu juga terjadi saat di ruang uks tadi? Astaga, ini terlalu gila untuk dimengerti. Apa mungkin aku sedang bermimpi?

Luhan menjerit tertahan saat mencubit sendiri lengannya. Ia sekarang sadar, kalau apa yang terjadi ini bukanlah mimpi. Tubuhnya terasa lemas sekarang. Apa mungkin ini akhir hidupnya? Mungkinkah Hyerin dan Sehun benar-benar pelindungnya? Luhan mendongak, menatap sekelebat bayangan yang saling beradu. Atau mungkin, sebenarnya mereka tengah bertarung memperebutkan jiwanya? Luhan merasa dibuat frustasi oleh pemikirannya sendiri. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

Ketika Luhan mendongak menatap ke depan lagi, ia dikagetkan dengan sosok bernama Yeobi yang sudah berdiri di depannya. Ia dapat melihat sinar keinginan membunuh dan merampas dari matanya. Luhan merasa ia tengah berada di dalam kandang kecil yang dikelilingi oleh singa yang hendak menerkam dan memangsanya.

“Jauhi dia!”seru Hyerin seraya menendang jauh Yeobi.”Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya seinci pun!” Yeobi seketika terlempar jauh dan terhempas ke dalam danau. Lagi-lagi hal itu terjadi sangat cepat di mata Luhan.

Hyerin menoleh ke arah Luhan sekilas.”Untung saja kau memakaikannya itu.”ujarnya—tentu saja—pada Sehun yang dalam sepersekian detik sudah berada di sebelahnya.

Sehun mendengus kecil sambil menyunggingkan smirknya“Aku tahu seberapa licik mereka itu.”jawabnya. Bola mata kuning keperakkannya itu berkilat sekilas.

Luhan tidak tahu seberapa sengit pertempuran mereka tadi, yang pasti dia tidak berhasil menemukan sedikitpun luka memar pada tubuh mereka. Ia bertanya dalam dirinya, pantasnya disebut apakah mereka ini? Monster, kah? Dewa, kah? Atau, apa?

Dari dalam danau tepat tempat dimana Yeobi terjatuh, tiba-tiba muncul gelembung yang terus membesar diikuti suatu sinar terang dari dalam sana. Sinar itu semakin jelas dan terus mendekati permukaan.  Sedetik kemudian, sesuatu muncul keluar dari dalam sana. Mungkin, sekarang Luhan tidak akan merasa asing lagi jika melihat seseorang—sejenis mereka—terbang melayang di udara seolah menapak di atas tanah. Tetapi, seseorang bernama Yeobi tadi muncul dengan api membentuk sayap yang membentang lebar di belakang punggungnya.

“Cih, benar-benar licik! Apa itu saja kemampuanmu sampai kau harus menggunakan kekuatanmu itu, huh?”tukas Sehun.

Yeobi yang awalnya sudah menyeramkan, semakin menyeramkan saat menatap Sehun dengan tatapan matanya yang merah berkilat.”Diam kau makhluk rendah!”ucapnya seraya mengayunkan tangannya ke depan yang—ternyata—melemparkan serangan transparan pada Sehun.”Berisik sekali—mengganggu saja.”

“Sehunna!”seru Hyerin sambil berusaha secepat mungkin mengalahkan kecepatan dari serangan yang diterima Sehun. Untunglah, ia berhasil menangkap dan menahan tubuh Sehun agar tidak membentur pepohonan dengan keras. Meski tidak dapat mengobati, Hyerin tahu kalau sesuatu terjadi cukup parah dengan organ dalam tubuh Sehun. Serangan tadi memang belum sepenuhnya, tetapi tentu saja berdampak besar.

“A-aku tidak apa-apa, noona. Sebaiknya kau jaga dia.”ucap Sehun setengah terbata-bata. Hyerin menggeleng keras, tanpa sadar air matanya meluncur bebar melewati pipinya. Bayangan tentang masa lalu, melintas cepat dalam pikirannya.

“Aniyo, Sehunnie! Aku tidak mungkin meninggalkanmu.”tolaknya.

Sehun menggeleng pelan, matanya terlihat setengah sayu.”Kau tidak boleh begitu. Lagipula, aku ini Dark Hunter, aku pasti baik-baik saja. Percayalah.”ujarnya masih mencoba tersenyum.

Tanpa mereka sadari, Luhan yang memang tidak sedang banyak bicara itu—tentu saja—melihat apa yang terjadi di depan matanya sekarang. Ia tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini ia merasa dirinya terasa rapuh. Ia menelan ludahnya keras, seolah hal itu bisa mengembalikan sesuatu yang retak di dalam dirinya. Mungkin, inikah alasan sikap dinginmu selama ini, Hyerin-ah? batin Luhan perih.

Baru saja Luhan ingin mengalihkan perhatiannya, sesuatu yang bergerak cepat membuatnya mendongak. Ia sedikit terlonjak kaget saat melihat Yeobi untuk kesekian kalinya sudah berada di dekatnya. Yeobi mengayunkan satu tangannya ke depan secara melintang. Luhan menutup wajahnya dengan kedua lengannya saat mengerti apa yang akan dilakukan olehnya. Pelindung transparan yang dipasang di sekitarnya tadi pecah menjadi seperti serpihan kaca.

PRAANG!

Mengetahui nyawa namja itu dalam bahaya, dengan sigap Hyerin bangkit dan segera mendekati tempat Luhan berada. Tetapi, sayang dia kalah cepat dari Yeobi yang sudah melipatgandakan kekuatannya itu. Langkah Hyerin seketika terhenti karena tidak kuasa menahan jerat transparan yang mencengkram lehernya tiba-tiba. Ia memegangi lehernya berusaha melepaskan apapun yang mencekiknya sekarang. Meskipun ia tahu, usahanya tentu sangat sia-sia. Hyerin merasa dirinya benar-benar ceroboh kali ini.

Sementara itu, Luhan menatap horor namja di depannya itu. Seketika, rasa takut menggerogoti perasaannya. Tidak ada yang bisa melindunginya sekarang. Semuanya sudah berhasil dilumpuhkan.

Yeobi menghela napas lega.“Sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggu kita”ucapnya sambil tersenyum sumringah di balik kerah lehernya.”Kau tidak perlu merasa takut. Aku hanya membutuhkan waktu hanya beberapa detik saja. Ini tidak akan menyakitimu. Bahkan, kau tidak akan merasakan apapun. “

Ingin rasanya Luhan melawan dan menghabisinya, tetapi apa daya mengingat dia bisa mengambil nyawanya sekarang juga.

“J-jauhi d-d-ia ,si-sia-sialan…”ucap Hyerin di sela-sela melawan rasa sakit yang amat sangat di sekitar lehernya.

Mendengar itu, Yeobi semakin menekukkan jemari tangan kirinya yang digunakan untuk mengendalikan jerat transparan padanya. Hyerin semakin tercekat dan berusaha mati-matian menahan rasa sakit itu.”Kalian ini tidak bisakah diam sebentar saja. Makhluk banyak bicara seperti kalian seharusnya sejak awal musnah saja.”ujarnya.

Luhan yang melihat raut wajah tersiksa dari Hyerin, sungguh ingin rasanya menghabisi namja di depannya ini. Ia menyalurkan emosinya pada kepalan tangannya yang mencuatkan setiap urat-uratnya. Dalam satu hembusan pelan, ia meredam amarahnya yang sebenarnya sudah menggebu.

“Kumohon, lepaskan dia.”ucapnya penuh tekanan. Yeobi seketika melirik ke arahnya sambil menaikkan salah satu alisnya.

Luhan menarik napas dalam, mencoba memantapkan keputusannya yang benar-benar gila.”Jika aku mau memberikan jiwaku padamu, maukah kau melepaskan dia?”

Yeobi seketika tersenyum sumringah mendengar pernyataan itu.“Bocah pintar. Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya. Lagipula, siapa juga yang membutuhkan dia.”ujarnya sembari melepaskan jerat tersebut, sekaligus melemparkannya cukup jauh.

Hyerin terbatuk-batuk kecil sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.”A-andwae, Luhan-ah..”lirihnya parau.

Luhan tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya memejamkan mata dan membiarkan apapun yang terjadi padanya. Jika ini memang keputusan yang tepat dan memang beginilah akhir baginya, ia hanya bisa pasrah.

Yeobi mengulurkan kedua tangannya ke depan, menyatuhkan kedua ujung ibu jari dan telunjuknya lalu melebarkan tangannya ke samping sehingga muncul suatu lingkaran hitam yang cukup besar. Lingkaran hitam itu membentuk sebuah lubang yang terbuka secara spiral pada bagian tengahnya sehingga seukuran lingkaran tersebut. Lubang itu perlahan namun pasti, menghisap jiwa Luhan yang berupa seperti asap berwarna kelabu.

Seketika itu juga, Luhan merasa seperti napasnya ditarik keluar. Ia kembali merasakan apa yang terjadi ketika di kelas tadi. Rasanya bahkan dua kali lebih menyiksa dan menyakitkan.

“Tidak. TIDAK! Luhan-ah! Menjauhlah—jebal!”seru Hyerin dari kejauhan. Tubuhnya masih terasa lemas karena kekurangan oksigen dan rasa sakit yang seolah menjalar ke seluruh tubuh. Ia berusaha sekuat mungkin untuk bangkit dan menghentikan semampunya sebelum benar-benar terlambat.

Air matanya lagi-lagi meluncur bebas tanpa diminta. Sekelebat bayangan masa lalu dan rasa takut menjalar di setiap inci sel pada tubuhnya. Dengan segenap kekuatan yang tersisa di dalam dirinya, ia terus berusaha bangkit dan menjauhkan namja itu dari sana. Setiap kali mencoba berdiri, ia terus menerus terjatuh ke atas tanah. Energinya sudah terkuras, sekarang emosi menghabisi sisa energi yang ada pada dirinya.

“Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat. Aku.. pasti mampu.”gumamnya pada dirinya sendiri.

Sementara itu, saat Hyerin terus berusaha mengumpulkan tenaganya lagi, jiwa Luhan sudah sepenuhnya dihisap habis. Tanpa ampun, tubuh Luhan langsung jatuh tak berdaya di atas tanah. Tidak ada lagi jiwa yang mendiami raga tersebut. Hyerin tentu saja melihat itu. Napasnya seketika menggebu. Air matanya mengalir semakin deras.

“Tidak. Tidak mungkin.”lirihnya.”LUHAAAN!!!!!”

Lubang hitam yang tadi terbuka perlahan menutup, kemudian disusul dengan menghilangnya lingkaran hitam tadi. Yeobi tersenyum puas di balik kerah tingginya. Tawanya seketika menggelegar hebat.

“Sekarang tugasku sudah selesai.”ujarnya.”Kau bisa pulang sekarang, Angel. Tidak ada yang perlu kau jaga lagi sekarang. HAHAHA.”

Hyerin mengepal erat jemarinya, emosinya sudah benar-benar tersulut. Banyak hal yang membuatnya emosi sekarang. Termasuk pada dirinya sendiri yang terlalu pabo dan ceroboh itu. Ia menatap tajam Yeobi yang tertawa puas atas keberhasilannya. Sayang , sayang sekali memang energinya sudah tidak banyak lagi sekarang.

Tapi, secara tiba-tiba, entah dapat kekuatan darimana, Hyerin sudah berhasil bangkit, berdiri di sebelahnya, dan berhasil melayangkan pukulan yang sudah bercampur dengan emosi dan kemarahan di dalamnya. Yeobi yang sangat tidak menduga datangnya serangan tersebut, langsung terlempar jauh ke belakang dan menabrak dinding beton yang sebagai penyangga dari tangga di atasnya.

Meski tidak percaya sendiri dengan apa yang baru dilakukannya, Hyerin mencoba untuk berpikir ulang. Ia hampir saja menepuk kepalanya sendiri karena kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa lupakan dengan dirinya yang sekarang—seorang immortal—yang tentu saja, tidak butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi tubuhnya sendiri. Hyerin melihat kedua telapak tangannya, lalu menggegamnya hampa. Ia dapat merasakan energi baru mengalir dalam dirinya.

Dari kejauhan nampak, Yeobi yang mencoba bangkit dari balik reruntuhan beton. Ia mengerahkan kekuatannya, sehingga segala reruntuhan itu terlempar menjauh darinya. Kurang dalam sedetik, ia sudah bangkit lagi, kali ini dengan lebih banyak kobaran api yang mengelilingi tubuhnya.

“Kau mencari masalah denganku rupanya.”tukasnya.

Hyerin diam tidak membalas, sementara ia sudah memasang ancang-ancang bersiap menerima serangan darinya. Tetapi, baru saja Yeobi akan melangkah untuk mendekat, ia merasa sesuatu menyesakkan dadanya. Seolah dalam dirinya ada sesuatu yang hendak mendobrak keluar. Yeobi langsung terjatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Ia bingung sekaligus heran, gerangan apa yang sebenarnya terjadi.

Hyerin yang melihat itu, menatapnya penasaran sekaligus heran. Apa mungkin namja itu tengah akan mengeluarkan kekuatan yang lain? Tapi mengapa wajahnya seperti menahan sakit begitu?

Deru napas Yeobi semakin tidak beraturan, dadanya benar-benar sesak. Ia terjatuh ke depan dengan kedua tangan sebagai penyangganya. Tangannya mencekram rerumputan di bawahnya, sakitnya bukan main. Lagi-lagi ia merasa ‘sesuatu’ itu mendobrak, memaksa untuk keluar.

Apa ini? batinnya.

Punggung Yeobi langsung tegak kembali, sementara dadanya membusung ke depan. ‘Sesuatu’ itu seolah mengendalikan tubuhnya.

“AAAKKH!!!”teriaknya seolah menyalurkan rasa sakit yang dirasakannya. Sesuatu berbentuk lingkaran berwarna hitam muncul di depan dadanya. Melihat keanehan yang kelewat ganjil itu, membuat Hyerin sedikit tertegun. Apa yang dilakukannya? Apa yang terjadi? batinnya.

Lingkaran hitam yang awalnya kecil itu perlahan membesar, hingga besarnya hampir setengah dari tubuhnya. Dari balik lingkaran itu, kembali terbuka lagi lubang yang sama persis seperti yang mengambil jiwa Luhan. Tidak yakin dan tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya, dari lubang itu muncul seberkas cahaya berwarna kelabu yang berpusat pada satu titik. Lalu, belum terlihat jelas ke arah mana titik itu menuju, lingkaran itu tiba-tiba meledak hebat.

Hyerin segera mengalihkan pandangannya sebelum apapun dari sana merusak penglihatannya—meski hanya sementara. Ia lalu membuka matanya lagi, saat merasa terlihat suatu sinar terang di balik kelopak matanya. Kini suatu keanehan terjadi lagi di depan matanya. Tubuh Luhan yang sudah beberapa menit tidak ada raganya lagi terangkat ke udara dan diselumuti oleh seberkas cahaya serta suatu asap kelabu yang mengelilinginya.

Tidak terlihat lagi keberadaan Yeobi dimana pun, pasti dia sudah meledak bersama yang tadi. Ia melihat asap kelabu yang hampir transparan itu perlahan memasuki raga Luhan, kemudian menghilang bersamaan dengan cahaya yang mengitarinya. Dengan cepat dan sigap, Hyerin langsung menangkap tubuh Luhan agar tidak menghantam tanah untuk kedua kalinya. Entah bagaimana tahu, ia yakin pasti itu tadi adalah jiwa Luhan yang diambil sebelumnya. Ya, itu pasti.

Ia menaruh kepala Luhan di atas lengan kanannya, sementara ia berusaha untuk membangunkan namja itu. Hyerin sangat yakin yang memasuki raganya tadi adalah jiwanya. Ia yakin pasti belum terlambat baginya untuk kembali.

“Luhan-ah, kumohon bangunlah. Jebal~”pintanya sambil sesekali menepuk pelan pipi namja itu. Ia meraba denyut nadi pada tangannya, tetapi masih belum ditemukan tanda-tanda kehidupan dari sana. Lagi-lagi, Hyerin berusaha untuk membangunkannya lagi.

“Yak! Ini sama sekali tidak lucu, Luhan-ah. Bangunlah. Aku tidak suka dipermainkan. Kumohon bangunlah!”ujar Hyerin sambil menggoyang-goyangkan tubuh namja itu. Ia menggigit bawah bibirnya untuk meredam sengatan kecil yang menjalar di sudut matanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Tidak akan lagi. Jangan lagi.

Hyerin pantang menyerah. Ia masih terus berusaha membangunkannya. Ia yakin, pasti belum terlambat.”Bangunlah, pabo! Apa kau tidak mengerti apa yang kuucapkan? Apa kau tidak mengerti , huh?”ucapnya mulai tercekat.”Berhenti berpura-pura. Apa kau mendengar suaraku? Kumohon, bangun..”

Tepat saat tangis Hyerin hampir pecah, tiba-tiba Luhan menarik napasnya dalam seolah ia baru saja menahan napas selama mungkin di dalam air. Hyerin langsung terhenyak, antara percaya dan tidak atas apa yang dilihatnya sekarang. Ia dapat merasakan detak jantungnya yang berdegup kembali, dan denyut nadinya yang terasa meski masih cukup lemah. Perlahan namun pasti Luhan membuka kedua kelopak matanya. Dalam sehari, ini adalah untuk kedua kalinya ia tidak sadarkan diri.

“Luhan-ah, kau sudah sadar eoh?”tanya Hyerin masih tidak percaya.

Sementara itu, Luhan berusaha untuk bangkit sambil menahan rasa sakit yang seketika menjelar di sekitar kepalanya.”Apa yang terjadi? Kenapa aku—“

“Ah, syukurlah!”seru Hyerin yang—mungkin—terlalu girang, sehingga langsung memeluk erat Luhan yang masih belum sepenuhnya pulih dari rasa syoknya. Ia mengerjap heran sekaligus bingung. Tapi, tanpa ia sadari, sikap Hyerin padanya berhasil membuat senyum mengembang menghias wajahnya.

“Gwencanayo? Kau—menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?”tanya Luhan sambil berusaha menutupi rasa kecewanya saat Hyerin melepas pelukannya. Hyerin hanya menggeleng lalu menutupi bekas dari gurat air matanya dengan senyumnya.

“Gwencana. Aku bukan menangis karena sedih. Aku senang kau ‘kembali’.”ucapnya sambil menyeka setitik air mata disudut matanya.

Sejenak Luhan terkesiap, seolah baru ingat sesuatu.”Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana bisa aku masih hidup? Bukankah aku tadi—“

“Kau tidak perlu memusingkan bagaimana dan kenapa. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa.”ujar Hyerin yang masih dibingungkan dengan apa yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Sungguh, selama dia menjadi Angel Hunter baru pertama kali kejadian aneh seperti itu terjadi.

“Penolakan jiwa; begitulah yang pernah kudengar.”ucap satu suara berhasil membuat Hyerin dan Luhan menoleh ke arahnya.

“Sehunna!”seru Hyerin yang dalam sekejap mata sudah berdiri di sebelahnya.”Gwencanayo? Kau sungguh tak apa, eoh?”

Seperti biasa, namja itu langsung menebarkan smirk khasnya.”Tentu saja. Sudah kubilang kalau aku pasti mampu menyembuhkan diriku sendiri. Tidak ada yang perlu dicemaskan, bukan?”tukasnya.

Hyerin memicingkan matanya, menatapnya penuh selidik.”Yak! Jangan bilang kau sudah lama pulih.”tebaknya

Sehun mengangkat bahu tidak peduli“Menurutmu saja.”jawabnya acuh.

“Haish, sialan kau! Bagaimana bisa kau membiarkan aku melawan makhluk menyebalkan itu sendirian, huh?”cecar Hyerin sambil berkacak pinggang.

“Itu karena aku yakin kau pasti bisa mengalahkannya. Lagipula, dia, kan, memang tanggung jawabmu.”jawab Sehun seenak jidat.

Tanpa ampun Hyerin langsung menjambak rambut namja jangkung di dekatnya itu.“Kau benar-benar menyebalkan! Uugh ~ Kau mencari mati rupanya, huh!”sungutnya.

“Hentikan—hey! Kau tidak bisa menyalahkanku begitu saja.”tukas Sehun sambil melepaskan tangan maut milik Hyerin dari rambutnya. “Sekarang juga tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, ini semua sudah selesai eoh.”

Wajah Sehun langsung mengkerut cemberut karena rambutnya sudah berantakan karena ulah Hyerin.

“Huh, tetap saja kau itu keterlaluan. Di lain waktu, jangan sampai aku memiliki teman partner sepertimu lagi.”ucap Hyerin bersungguh-sungguh.

“Eoh? Jeongmal? Aku ini orangnya mudah dikangenin, lho. Nanti setelah kita tidak menjadi partner lagi, kau malah kangen lagi denganku.”kata Sehun percaya diri.

Hyerin mendelik tajam ke arahnya.“Ya, tentu saja. Aku akan kangen untuk menjitak kepalamu itu.”tukasnya.

“Tuh, kan, belum berpisah saja kau sudah kangen padaku.”ujar Sehun lalu tertawa puas karena ulahnya yang selalu berhasil membuat jengkel Hyerin.

Hyerin berdecak kecil.“Haish, berhentilah untuk terlalu percaya diri, pabo.”

Luhan yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka hanya menggeleng-geleng tidak habis pikir. Tak disangka, ternyata dua orang di depannya ini ternyata bisa saling bercanda seperti manusia pada umumnya.

“Yak! Kalian tidak bisa seenaknya tertawa sekarang.”tegur Luhan memotong tawa Sehun.”Kalian berhutang banyak cerita padaku tentang semua ini.”

Mereka lalu saling melempar pandang kemudian tersenyum penuh arti.

***

“Oh, jadi kalian ini datang dari masa depan. Si Yeobi itu juga?”ujar Luhan mengangguk paham setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang dari kedua ‘makhluk’ di depannya itu. Sekarang mereka berada di rumah sekaligus tempat Hyerin dan Sehun menghabiskan kebosanan mereka sejenak.

Sehun mengangguk mengiyakan.“Ne, tentu saja. Kami semua datang dari masa depan.”

“Jadi kalian ini semacam dewa yang melindungi manusia dari ancaman pemburu jiwa itu?”tanya Luhan masih penasaran.

Sehun terkikik geli mendengar istilah yang dibuat olehnya.“Kami juga dulu adalah manusia—termasuk makhluk yang kau sebut pemburu jiwa itu. Tetapi, karena kami sudah hidup berabad-abad dan tidak akan mati mungkin kami lebih cocok disebut makhluk immortal.”terangnya.

Luhan menggeleng tidak percaya.“Ini sungguh rumit. Jadi, apa tujuan kalian ke banyak masa?”tanyanya.

“Tujuan kami sebenarnya hanya satu, untuk mengubah dan mencegah masa ini agar tidak sampai seperti di masa kami. Dimana kami tidak tahu apa penyebab kami menjadi seperti sekarang.”jawab Hyerin sembari menuangkan minuman ke dalam gelasnya.

“Kalian tidak tahu apa penyebab kalian menjadi makhluk immortal begini?”tanya Luhan hampir tidak percaya. Alisnya bertaut tajam sangking syoknya.

Setelah gelasnya terisi penuh, kurang dari sedetik Hyerin sudah duduk tidak jauh dari kursi Luhan.“Kami bukan tidak tahu, tetapi kami dibuat lupa—entahlah. Ingatan kami dihilangkan sehingga kami tidak tahu siapa kami, keluarga kami, dan penyebab kenapa kami seperti ini.”jawabnya menerangkan sedikit lebih detail lagi.

Luhan terkesiap pelan.“Satupun… tidak ada yang ingat?”tanyanya.“Jadi, ini semacam re-born, begitu?”

“Entahlah. Yang pasti, kami para immortal yang terbagi menjadi dua klan ini dan hanya mengikuti perintah master kami masing-masing.”ujar Sehun yang tiba-tiba melompat duduk ke sofa yang diduduki oleh Luhan. Ia lalu menawarkan makanan ringan yang ada di tangannya.

“Mengapa kalian tidak bertanya langsung dengan master kalian itu? Mana mungkin dia tidak tahu kenapa dia memerintah kalian.”ucap Luhan sembari mengambil beberapa makanan yang disuguhkan Sehun kepadanya.

“Kau belum memberitahunya misi utama kita?”tanya Sehun—lebih tepatnya—kepada Hyerin yang tengah menyibukkan dirinya dengan membaca majalah. Merasa dirinya yang diajak berbicara, Hyerin segera mendongak kemudian menggeleng sebagai jawaban.

“Misi utama?”tanya Luhan sambil menyernyitkan dahi.

Sehun menelan makanan yang ada di mulutnya sebelum menjawab.“Dibalik tugas kami yang menjaga dan melindungi kalian para manusia, ada misi utama yaitu mencari pemilik keping kristal abadi terakhir yang tersimpan secara acak di dalam jiwa manusia.”terangnya.

“Keping kristal abadi? Terakhir? Apa maksudmu?”

Sehun menghela napas panjang. Ia harusnya sejak awal tau kalau akan banyak hal yang dijelaskan kepada manusia satu ini.“Tujuan kami adalah melindungi manusia agar jiwanya tidak diambil oleh Black Heart untuk dijadikannya sebagai sumber kekuatan. Sementara tujuan Black Heart yang lain—selain mengambil jiwa manusia—adalah mengumpulkan kepingan kristal abadi yang dapat membuat dirinya dan seluruh klannya menjadi abadi.”

Entah sudah untuk keberapa kalinya, Luhan terbelalak melongo tidak percaya dengan penjelasan mereka. Ia tidak menyangka kalau kehidupan mereka akan seasing dan setidak masuk akal seperti ini.“Mwo? T-tunggu dulu. Bukannya kalian ini sudah ‘abadi’?”tanyanya.

“Ah, ani. Maksudku, dia benar-benar tidak akan mati oleh apapun bahkan dengan segenap kekuatan kami sekalipun. Yang pasti intinya, dia akan sangat kuat.”ralat Sehun.

“Saat hal itu terjadi, mereka akan mengambil alih dunia manusia.”tambah Hyerin sembari menutup majalah yang dibacanya. Ia sudah cukup bosan, karena sudah menjelajahi banyak masa dan sudah mengetahui terlalu banyak hal di dunia ini.

“Aigoo~ Mengerikan sekali hidup di masa kalian. Apa kristal abadi itu hampir sempurna? Bukankah kau bilang tadi keping yang terakhir?”

Hyerin mengangguk singkat.“Ne, untuk itu kami sekarang lebih memperketat penjagaan kami. Salah satunya dengan menambah partner seperti aku ini.”ujarnya lalu melirik malas ke arah Sehun.

“Dia yang memilihku.”tukas Sehun percaya diri.

Hyerin mendelik, menatap jijik ke arahnya.“Tch, siapa juga yang memilihmu? Master yang menunjukmu untuk ikut bersamaku.”ucapnya.“Oh ya, ngomong-ngomong, aku masih penasaran dengan—yang kau sebut—‘penolakan jiwa’ tadi.”

“Oh, itu. Sebenarnya aku juga kurang mengerti apa maksudnya, tapi aku pernah mendengarnya dari salah satu temanku. Ada hal khusus kenapa jiwa yang sudah dihisap itu menolak masuk dan kembali ke pemiliknya. Tetapi aku tidak dengar langsung apa dan kenapa.”terang Sehun yang membuat Hyerin semakin ingin menjitak habis-habisan kepala namja itu.

“Haish, kau ini. Suka sekali memberi informasi setengah-setengah begitu.”rutuknya.

Seperti yang sudah dapat Luhan tebak akan kelanjutannya, mereka kembali melempar ejekan, cibiran, ledekan dan cacian satu sama lain. Mungkin, ini akan menjadi hal biasa di matanya. Luhan sempat merutuki dirinya sendiri karena sempat menaruh rasa cemburu pada seseorang yang lebih muda darinya dan lebih dianggap sebagai sahabat bagi Hyerin—meski mereka terlalu sering bertengkar tentang hal yang tidak jelas.

“Lalu, setelah ini, kalian akan kemana?”tanya Luhan memotong sekaligus menghentikan aksi ‘kekanak-kanakan’ mereka.

“Kami?”ulang Sehun.”Tentu saja akan kembali ke pusat dan bersiap menerima misi kembali.”

“Kembali? Dengan apa?”

Tepat setelah Luhan berkata itu, terdengar suara gemuruh dari balik dinding kayu tak jauh di depannya. Dari dinding itu perlahan muncul gerbang yang di dalamnya terdapat lubang seperti portal menuju dimensi lain.

“Selalu tepat waktu.”gumam Hyerin setelah melirik jam tangan silver yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

“Tadaa~”seru Sehun yang sudah berdiri di sebelah lingkaran tersebut.”Inilah ‘kendaraan’ kami dari masa ke masa; gerbang waktu. Kami datang dan kembali dengan ini.”

“Dia akan datang satu jam setelah selesainya misi.”lanjut Hyerin.

Luhan terkesiap seolah ingat suatu hal.“T-tunggu dulu. Apa kalian akan pergi sekarang?”tanyanya sembari beranjak berdiri.

Sehun tersenyum kecil seolah mengerti jalan pikirannya.“Kau masih memiliki sisa waktu—ngg—sekitar enam jam sebelum gerbang waktu ini tertutup. Jadi, kau masih punya cukup waktu kalau ada hal yang ingin dibicarakan—ehm—berdua.”ucapnya kemudian ‘berjalan’ menuju balkon. Hal itu berhasil membuat Hyerin memberikan death glarenya.“Aku permisi jalan-jalan sebentar. Sampai jumpa enam jam lagi.”

“Yak! Awas saja kalau kau pergi duluan.”seru Hyerin lebih terdengar seperti ancaman.

“Aku pastikan itu tidak akan terjadi.”jawab Sehun setengah berteriak karena dia sudah berada di bawah.

Luhan menggaruk bagian belakang kepalanya sambil bergumam kecil.“Mau jalan-jalan seperti layaknya manusia biasa? Aku tahu tempat bagus—meski agak jauh dari sini.”

Hyerin menoleh sejenak, kemudian tersenyum kecil.“Aku, sih, tidak masalah. Tapi, awas saja kalau kau tidak menepati janjimu—soal tempat bagus itu.”ujarnya yang sudah berdiri tepat di sebelah Luhan.“Kajja!”

***

Hyerin membentangkan tangannya selebar mungkin di depan hamparan laut yang bermandikan cahaya rembulan dan bintang, sementara angin malam dibiarkan saja menusuk kulitnya. Luhan sempat menawarkan jaket tebalnya, tetapi yeoja itu menolak. Ia sedikit menjelaskan tentang ‘dirinya’ yang sudah mati rasa dengan suhu seekstrim apapun.

“Sudah tidak lama aku tidak menghabiskan waktu untuk bersantai seperti ini.”akunya setelah menghirup sebanyak mungkin udara di daerah pantai yang—entah sejak—kapan sangat disukainya.

Luhan berdecak kecil ketika melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam pada jam tangannya. Waktunya tidak lebih dari empat jam lagi. Tak disangka, untuk sampai ke tempat ini saja sudah menghabiskan sepertiga waktu yang diberikan.

“Waeyo?”tanyanya seraya merapatkan jaketnya. Ia seolah melarang keras angin malam menyelusup masuk ke dalam jaketnya.

Hyerin menoleh.“Itu karena aku tidak tau untuk apa dan dengan siapa.”jawabnya, kemudian duduk di atas hamparan pasir dan membiarkan kakinya yang telanjang tenggelam ke dalamnya.

“Apa kalian ‘benar-benar’ tidak merasa lelah?”tanya Luhan yang mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Hyerin mendengus pelan.“Lelah, sih, tidak. Mungkin, bosan—lebih tepatnya.”ujarnya

“Kalian sungguh tidak memiliki kenangan sama sekali, ya?”tanya Luhan sembari menatap hamparan laut yang selalu berhasil menarik perhatiannya.

“Eoh? Maksudmu?”

“Ng, maksudku, apa kau tidak mengingat suatu kejadian apapun yang berkesan?”ulangnya memperjelas kalimatnya.

“Tidak ada satupun yang kami ingat sampai kami menjadi sekarang ini. Kami tidak mengenal siapapun, bahkan kami sempat merasa asing dengan diri kami sendiri. Untuk itu kami sebenarnya tidak memiliki nama tetap. Setiap misi kami hanya dikenal dengan nama ‘agen’ kami saja.”jelas Hyerin.

Luhan menoleh, menatap tidak mengerti.“Lalu, namamu—dan Sehun—sekarang?”

“Itu kami sendiri yang membuat dan menyepakati juga.”jawab Hyerin mencoba untuk tersenyum.“Hidup kami seperti tidak ada peraturan sama sekali tentang jati diri. Sungguh konyol—kurasa.”

Keheningan sejenak menyelinap masuk. Pikiran mereka tengah berkelana dalam jalan pemikiran masing-masing. Gemuruh ombak yang menari-nari lembut, mengisi kesunyian di antara mereka.

“Sebenarnya kebosanan hidup kami baru dimulai ketika saat itu.”ucap Hyerin memulai pembicaraan.”Saat dimana perang besar antara kami para makhluk immortal dan mengikut sertakan manusia terjadi. “

“Mwo? Manusia juga? Apa yang terjadi?”tanya Luhan penasaran.

Hyerin menghela napas panjang. Mencoba menetralkan rasa pahit yang tiba-tiba menyeruak.“Beberapa masa silam, kami memiliki kehidupan yang cukup ‘berwarna’. Dimana kami tidak perlu menyembunyikan diri kami dari identitas kami sesungguhnya, dimana kami bisa mengobrol dan bercanda gurau dengan manusia yang kami lindungi, dimana kami merasakan adanya emosi beragam yang dapat tersalurkan bukan sikap dingin dan angkuh seperti yang kami tunjukkan.”

“Perang itu, tragedi itu, merubah segalanya. Merengguh semuanya. Perasaan, senyum, tawa, persahabatan, kebahagiaan, semua harus kami lupakan. Semuanya!”ujarnya setengah berteriak. Mati-matian ia berusaha untuk tidak meneteskan kembali cairan bening yang mulai menutupi pandangannya sekarang.

“Dulu, dulu sekali, kami diperbolehkan menunjukkan diri kami, memperkenalkan diri kami di depan manusia. Mengatakan pada mereka kalau kami datang dari masa depan ditugaskan untuk melindungi manusia dari Death Hole yang hendak mengambil jiwa mereka.”

“Kami mempunyai beragam kisah dan cerita dengan manusia. Ada manusia yang bisa menerima kehadiran kami dan kenyataan yang menimpa mereka, ada juga disamping kami harus memantau mereka, kami juga harus meyakinkan kalau kami akan melindungi mereka apapun yang terjadi. Terdengar menyenangkan, bukan?”

“Tetapi, karena jarak dan keakraban kami yang terlalu dekat itu, menyebabkan hal yang luar biasa fatal terjadi. Masih ingat dengan keping kristal abadi? Berjuta masa yang lalu, lima keping pertama ditemukan serentak pada masa itu. Saat itu, pertempuran hidup mati tak terelakkan lagi. Perebutan sekaligus perlindungan jiwa manusia yang sangat terancam terjadi.”

“Kami bertarung, berjaung, melawan, melindungi, mengerahkan tenaga kami sepenuhnya, bahkan mempertaruhkan nyawa kami demi menjaga kelima keping tersebut. Banyak dari kami yang tewas karena berhadapan langsung dengan Black Heart yang turun langsung ke pertempuran. Karena serangan mendadak itulah, banyak jiwa manusia yang terhisap—termasuk kelima jiwa pemilik keping kristal abadi itu.”

“Pertarungan besar itu juga, yang merenggut nyawa orang yang sudah kuanggap sebagai saudara sekaligus sahabat terbaikku. Orang pertama dan utama yang paling kusayang. Dia, Yoona eonnie.”

“Saat itu, aku tidak sadar kalau aku sedang melindungi salah keping kristal abadi itu. Lalu, saat Black Heart menyerangku, Yoona eonnie tiba-tiba muncul di depanku, menjadi dinding penghalang dari serangan tersebut. Saat itulah, aku merasakan rasa sakit teramat sangat jauh di dalam dadaku. Sesak. Begitu menyakitkan.”

Luhan terdiam mendengarkan ceritanya. Mungkinkah, ini alasannya kenapa dia menangis jika melihat kematian didekatnya? Seperti Sehun yang mendadak sekarat, dan dirinya yang—bisa dikatakan— hampir mati.

“Sejak kejadian itu, kami tidak diperbolehkan lagi untuk ‘menampakkan’ diri kami di hadapan manusia. Kami harus benar-benar ‘tidak terlihat’ oleh kalian. Kami harus merubah hati dan sifat kami menjadi beku dan sedingin es. Kami bertarung dan melindungi kalian secara sembunyi-sembunyi. Kami harus membuat kalian tidak menyadari keberadaan kami sehingga kalian tidak perlu merasa adanya ancaman—seolah hidup kalian ‘normal-normal’ saja.”

Sejak awal cerita, Hyerin berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, mengatur suaranya yang mulai tidak stabil, sesak yang memenuhi rongga dadanya, dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tetapi, serangkai mimpi buruk yang muncul dan berputar ulang di dalam memorinya, meruntuhkan segala pertahanannya.

Luhan menatap getir yeoja di dekatnya.“Itu… pasti sulit dan menyakitkan eoh.”ujarnya singkat. Ya—sayangnya, hanya itu. Sungguh, jika bisa, jika mampu, ia sangat ingin merengkuhnya erat ke dalam pelukannya saat ini juga. Apapun itu, agar dapat mengurangi sakit yang dirasakan olehnya.

“Awalnya memang begitu, tetapi sekarang bukan masalah lagi.”jawab Hyerin sambil menyeka air matanya dan menggantikannya dengan senyuman—seperti sebelumnya.

Luhan menunduk, menatap kosong apapun di depannya sekarang. Tangannya mengepal geram pasir di dekatnya. Berusaha menyentuh dan meremukkan butiran pasir di dalam geggamannya, meskipun pasir tersebut lebih dulu lolos sebelum tangannya benar-benar terkepal. Hatinya terasa amat sangat remuk.

“Mianhae.”gumamnya. Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Hm?”

Kali ini ia membiarkan hatinya yang berbicara.“Mian, aku sudah berkata kasar dan bilang tidak akan memperdulikanmu lagi. Itu karena aku sudah kepalang kesal dengan sikapmu itu.”aku Luhan.

“Aku juga minta maaf karena menamparmu. Itu kulakukan untukmu juga. Aku takut jika kau mengikuti waktu itu, Death Hole melihatmu dan menyerangmu.”ucap Hyerin menjelaskan.

Luhan melirik jam tangannya. Waktunya tinggal satu setengah jam lagi.“Ngomong-ngomong, kau dulu pernah menyukai seseorang?”tanyanya, lebih terdengar basa-basi. Pikirannya sudah dipenuhi dengan kekesalannya pada waktu yang sangat tidak berpihak padanya saat ini.

Seketika Hyerin tertawa renyah mendengarnya.“Aku ini masih normal tahu, jangan suka bertanya yang tidak-tidak. Mungkin, sebelum aku menjadi seperti ini aku sudah merasakan first love.”

“Sifat dan sikap dinginmu itu hanya sisi palsumu saja, kan? Kau pasti tidak pernah serius dengan sikap acuhmu itu, kan?”kata Luhan sambil menatap lurus ke arah pantai.

Hyerin refleks menoleh.“A-apa yang kau maksud?”tanyanya heran.

“Aku melihat kau bercanda gurau dengan Sehun, kepedulianmu yang tulus dan juga kekhawatiran yang tersirat jelas dari bola matamu. Dari sana juga terbaca dengan jelas perasaanmu yang sesungguhnya. Aku yakin pasti masih ada sisi hangatmu— dan rasa sayangmu—seperti halnya hati manusia. Bilang padaku kalau kau masih memilikinya, Hye-ya.”ucap Luhan, yang kemudian langsung menatap Hyerin yang juga tengah menatapnya penuh tanya.

Hyerin menggeleng masih tidak mengerti.“Memangnya kenapa? Apa yang—tunggu dulu”

Seketika ia terkesiap. Jangan bilang dia…

Luhan mengalihkan pandangannya ke depan lagi.“Masa bodoh dengan peraturan yang dibuat oleh mastermu. Masa bodoh dengan siapa dirimu dan tugas gilamu itu. Kau pikir bahwa sikap dingin dan acuhmu sejak awal bertemu juga membekukan hatiku juga? Kau salah besar, Hye-ya.”tukasnya. Hyerin merasa jantungnya berhenti sejenak. Tidak, kumohon, jangan…

“Aku sungguh tidak peduli jika selamanya kau bersikap dingin padaku, atau aku harus mengetahui kenyataan dengan siapa dirimu yang sebenarnya—seperti sekarang ini. Sejak pertama bertemu sampai saat ini, perasaan ini tidak—akan—berubah sedikit pun.”lanjut Luhan, yang kembali beradu tatap dengan Hyerin yang perasaannya sudah tidak karuan lagi.

“Luhan-ah, tapi—”

Luhan merengkuh wajah Hyerin.“Hye-ya, tatap lebih dalam mataku sekarang. Kau bisa melihatnya? Kau bisa melihat kejujuran ucapanku, ketulusan perasaan yang terpendam ini, semua terlihat jelas, bukan?”

Mata Hyerin kembali berkaca-kaca.“Tidak. Tidak, Luhan-ah. Kau tidak mengerti.”ujarnya sambil menggeleng-geleng tegas dan menundukkan kepalanya. Sungguh, hanya menatap matanya saja membuat hatinya terasa remuk.

“Ya, aku mengerti. Aku sangat mengerti, Hye-ya. Aku mengerti apa yang kau hadapi sekarang.”ucap Luhan, sambil terus menatapnya lembut.

Lagi-lagi, Hyerin menggeleng keras. Ia mendongak dengan air mata yang sudah kembali mengalir deras.“Tidak, bukan itu. Kau tidak mengerti bagaimana rasanya meninggalkan dan ditinggalkan, melupakan dan dilupakan. Itu, itu…”

Melihat air mata yeoja itu mengalir sudah untuk kesekian kalinya, Luhan tidak dapat lagi menahan rasa perih dalam dadanya. Dalam sekali gerakan cepat, Luhan langsung menarik Hyerin ke dalam pelukannya. Pertahanan Hyerin runtuh seketika. Mendengar tangisnya, membuat Luhan semakin mengeratkan pelukannya.

“Kau dengar suara detak jantungku di dalam sana?”ucap Luhan setengah melirih.“Selama jantungku masih berdetak, selama deru napasku ini masih ada, selama itu juga perasaan ini akan terus ada—apapun yang terjadi. Saranghae, Hye-ya.”

“Aniya! Kau.. tidak boleh.”seru Hyerin menggeleng tegas di dalam rengkuhan Luhan. Tangannya meremas jaket tebal yang dikenakannya.”Kau tahu keadaanku bagaimana, kan? Kau tahu kalau setelah ini aku tidak akan bisa berada di dekatmu lagi. Kau tahu itu, kan?!”

Tidak ada sedetik pun bagi Luhan untuk melonggarkan pelukannya terhadap Hyerin. Sudah tidak banyak waktu yang dimilikinya.“Aku tahu itu. Aku tidak mengharapkan kau selamanya ada disisiku, cukup mendengar—dan mengetahui—ungkapan perasaanmu yang sesungguhnya padaku, itu sudah lebih dari cukup. Ya, sangat lebih dari cukup.”

Hyerin kembali menggeleng tegas di dalam pelukannya. Sampai saat ini ia masih belum sanggup untuk membalas pelukan dari namja itu. Hatinya benar-benar bimbang sekarang. Ia tidak ingin namja yang—sejujurnya—sangat disayanginya ini merasakannya perihnya perpisahan.

“Kumohon, jujurlah pada perasaanmu kali ini saja.”lirih Luhan.“Meski ini untuk yang terakhir kalinya.”

Tangis Hyerin semakin menjadi. Ia berusaha meredamnya dengan menggigit bagian bawah bibirnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, ketulusan dari matanya, hangat sikapnya, membuat Hyerin sungguh tak dapat mengabaikannya. Awalnya, ia mengira kalau dirinya yang kerap kali memikirkan namja itu hanya karena khawatir akan bahaya yang mengancam nyawanya. Tetapi, apa yang terjadi sekarang ini, memperjelas dan menjawab akan sikapnya itu.

Tangannya yang sebelumnya menggegam erat jaket tebal Luhan, kini melingkar erat dipunggungnya.“Ne, Luhan-ah… Ne!”serunya setelah sekian detik tak bersuara.”Nado… Nado saranghaeyo!”

“Gomawo.”ucap Luhan setengah berbisik. Ia tidak dapat membendung air matanya lagi. Perasaannya tersalur ke dalam cairan bening yang keluar dari balik kelopak matanya. Ia langsung menenggelamkan kepalanya ke dalam untaian rambut ikal kecoklatannya. Menghirup sebanyak mungkin aroma khas Hyerin agar dapat tersimpan rapat ke dalam memorinya.

Luhan perlahan melepaskan pelukannya. Hyerin terlihat masih sesegukan karena tangis yang terlalu sering dipendamnya keluar begitu saja malam ini. Luhan mengusap lembut sisa air mata yang ada pada pipi Hyerin, lalu menarik kedua ujung bibir yeoja itu agar membentuk senyuman. Senyum Hyerin seketika mengembang, terlebih ketika bertemu mata dengan namja di depannya itu.

Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara gemuruh yang—cukup—tidak asing lagi—bagi Luhan. Mereka seketika menoleh, dan kini sudah terpampang portal waktu yang sama persis seperti di rumah Hyerin.

“Bisa kita berangkat sekarang, noona? Waktu kita tinggal dua menit lagi.”ucap Sehun yang sudah berdiri di dekat gerbang waktu tersebut.”Aku sudah menepati janjiku, lho, untuk tidak berangkat lebih dulu. Bahkan, aku sudah susah payah membawa gerbang ini ke sini.”

Hyerin mendengus kecil.”Sejak kapan kau bisa membawanya, heum?”

“Ng, bukan membawa, sih. Lebih tepatnya ‘dia’, yang menuntunku ke tempatmu.”ujar Sehun yang kemudian menggaruk-garuk bagian kepalanya. Melihat itu, Hyerin seketika tertawa kecil.

“Pergilah, Hye-ya. Jaga dirimu disana, ne.”kata Luhan, mencoba tersenyum sebisa mungkin. Ia lalu mengacak sayang puncak kepala yeoja itu.

Hyerin tersenyum kecil.”Harusnya aku yang bilang begitu, Lulu-ya. Aku janji, aku akan baik-baik saja.”

Luhan kembali menariknya kedalam pelukan. Sungguh, jika waktu bisa dihentikan, ia tidak ingin ini berakhir. Tetapi, sayangnya ia tidak boleh egois.

“Sampai jumpa lagi, Luhan-ah. Sering-sering merindukan aku ya!”ujar Sehun, yang langsung mendapatkan jitakan mulus gratis di kepalanya.”Aigoo~”

“Berhenti bersikap seperti itu, atau kau akan kutinggalkan disini.”ancam Hyerin.

“Ne, arraseo.”sungut Sehun.”Awas saja, akan aku adukan pada hyungku nanti.”

Hyerin langsung melirik tajam ke arahnya.”Mwoya? Kau akan mengadukanku? Pada hyungmu yang mana, eoh?”

“Aniyo!>< Aku hanya bercanda.”kata Sehun cepat, kemudian bergegas masuk ke dalam gerbang waktu.

“Haiss, bocah itu jinjjayo…”

Luhan selalu tidak dapat menahan tawanya jika sudah melihat tingkah mereka yang memang lebih disebut kekanak-kanakkan itu.

“Percaya padaku, Lulu-ya. Suatu saat kita akan bertemu lagi.”ucap Hyerin sebelum memasuki gerbang waktu.”Tetapi, dalam diriku yang ‘berbeda’.”

Luhan tidak sedetik pun membiarkan perhatiannya teralihkan dari senyum yang terpasang pada paras Hyerin. Karena, sampai kapanpun, senyum itu akan terus melekat pada memorinya. Mungkin, senyum itu akan terus mampir ke dalam mimpinya.

Setelah Hyerin masuk ke dalam portal tersebut, sedetik kemudian benda itu menghilang dengan sendirinya. Luhan melirik jam tangannya sejenak. Tepat jam 12 malam—rupanya. Ia membaringkan tubuhnya di atas hamparan pasir yang sedingin tumpukan balok es. Tapi, ia sudah tidak peduli lagi. Sejenak, ia menutup matanya. Tanpa diminta, air mata kembali meluncur bebas.

Sakit. Perih. Sesak. Begitulah yang ia rasakan sekarang.

Rembulan yang bersinar terang, milyaran bintang bertaburan di langit malam, hempasan lembut ombak pantai, sapuan dingin nan menusuk  angin malam, kesunyian yang menyelimuti, menjadi saksi bisu perihnya luka yang dirasakannya sekarang. Di atas hamparan pasir yang sebeku es, ia menumpahkan seluruh emosinya yang bercampur aduk.

***

Seorang namja nampak tengah asyik mendengarkan musik dari headphone, sementara kepalanya sesekali bergoyang sesuai irama dari lagu yang berputar. Lima belas menit yang lalu, bel pulang sudah berbunyi. Ia tengah menghabiskan waktunya sebentar di kafe dekat sekolahnya sebelum pulang.

Ketika namja itu tengah asik dengan dunianya sendiri, nampak seorang yeoja tinggi semampai dengan rambut lurus terurai tengah menghampiri mejanya.“Permisi, boleh aku duduk bersamamu disini? Tempat duduk yang lain sudah penuh, dan aku tidak menemukan tempat duduk yang kosong selain punyamu.”ucapnya membuat namja itu menoleh.

Seketika, namja itu terkesiap. Ia merasa, dunia berhenti untuk sepersekian detik. Wajah itu, paras itu, mungkinkah dia?

“Kalau tidak boleh aku—“

“Ah, aniyo. Mianhae. Kau boleh, kok, duduk disini.”ucap namja itu cepat. Karena sangking syoknya, ia bahkan hampir lupa bagaimana caranya bernapas.

Yeoja itu tersenyum kecil, kemudian duduk tepat di depan namja itu.“Gomawo… ?”

“Luhan. Xi Luhan imnida.”ucap Luhan memperkenalkan diri.

“Oh, gomawo, Luhan-ssi. Aku Hyerin. Park Hyerin imnida.”balas yeoja yang—ternyata—bernama Hyerin itu. Luhan menyambut uluran tangannya cepat, kemudian tersenyum penuh arti. Bahkan senyumnya sama persis, batinnya. Mungkin, inikah dirimu yang ‘berbeda’ seperti maksudmu waktu itu, Hye-ya… ?

“Apa kau orang baru, Hyerin-ssi? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”ujar Luhan memulai pembicaraan. Sungguh, ia sebelumnya memang tidak pernah melihat yeoja ini.

Hyerin sungguh terlihat lucu dengan beanie berwarna merah marun yang dikenakannya.“Ne, begitulah. Aku baru pindah ke Seoul dua hari yang lalu.”jawabnya setelah memesan makanannya.

“Jeongmal? Kau baru pindah, eoh? Memangnya kau datang dari mana?”tanya Luhan antusias.

Hyerin berdeham kecil sebelum menjelaskan.“Sebelumnya, aku pernah tinggal di Seoul, tetapi beberapa minggu kemudian aku pindah ke Amsterdam karena pekerjaan orang tuaku. Sekarang, aku kembali lagi kesini.”terangnya.“Apa kau murid di sekolah itu? Besok aku akan memulai belajar disana.”

“Ne—tentu saja!”jawab Luhan cepat. Meski Luhan tidak mengerti dengan jalannya ‘permainan’ di dunia ini, tetapi ia sangat senang dengan skenario hidupnya dan bahagia dengan siapapun yang pernah masuk dalam kehidupannya.

“Huaa, semoga kita sekelas ne! ^^”seru Hyerin. Manik matanya seolah tersenyum ketika kedua ujung bibirnya ditarik ke atas.

“Ne ~ ^^”

Jauh dari pandangan siapapun, seseorang nampak memperhatikan dua sejoli yang tengah asik bercengkrama mengobrol riang itu. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari namja rupawan yang masih mengenakan seragamnya.

“Meskipun, dia sudah berhasil kau kalahkan, tetapi bukan berarti kau bisa lolos begitu saja.”ujarnya.“Jiwamu harus menjadi milikku, dengan begitu keping kristal abadi akan lengkap. Pada saatnya, keabadian yang paling abadi akan aku miliki. Tunggulah kedatanganku—tidak akan lama lagi.”

Tawanya seketika menggelegar, mengusik ‘para makhluk’ yang mampu mendengarnya.

~  ~  ~

.

.

.

MAIN CAST PROFILE

 

~//~

~//~

Yak! Siapa bilang aku narsis? Aku ini orangnya percaya diri. Percaya diri itu bagus tau!

Haish, diamlah, pabo!

Hyung ~

~//~

~//~

————————————————-

Annyeong ~

Lega rasanya oneshoot pertama ini selesai! ^^

Mian, kalau ini oneshoot yang agak panjang dari biasanya. Soalnya, author belum pernah dan gak biasa buat cerita oneshoot gini, kkk. Mungkin, sebagai tanda perminta maafan, main cast profile postcard ver. diatas itu author kasih sebagai bonus, hehe ^^

Sebenarnya sekarang lagi pertengahan UKK, lho. ei, kei, ei (re: a.k.a) Ujian Kenaikan Kelas. Kok malah buat ff sih, thor? Hoho, itu soalnya author gak tahan sama ide author yang numpuk selama ngerjain soal ulangan. Ceritanya, waktu sedang menunggu hidayah(?) untuk ngejawab soal, yang muncul malah secuil(?) ide untuk buat ff oneshoot ini. kk ^^

Tentang ff multi-chapternya author bakal tetep lanjut kok. Tapi, nunggu setelah ujian yaw. Soalnya, kalo buat yang multi-chapter lebih membutuhkan banyak inspirasi. Kalo ngerjainnya sekarang, ntar gak sempet belajar dong. wks xP Tapi, bener kok author masih belajar. Author aja ngerjain ff ini waktu ada waktu hari libur doang. ._.v

Okedeh, sekian aja cuap-cuapnya, hehe. Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

Iklan

41 pemikiran pada “My Immortal Guard

  1. Daebak! Mian Thor baru baca sekarang
    Hyerin ama Sehun lucu banget..
    Kok aku merasa yg death hole itu Kris ya?
    Buat sequelnya dong! ^_^
    Keep writing Thor!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s