Werewolf (Chapter 3)

Title : Werewolf [Chapter 3]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre : Fantasy, Tragedy, Action *just a little*, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan (another cast will come out soon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Huftt~ akhirnya bisa juga ngelanjutin chapter 3 nya.. Maaf ya kayaknya kelamaan chapter ini, tapi makasih untuk kalian yang setia nungguin 😀 jujur, sebenernya aku pengen banget lanjutin FF ini secepatnya, tapi ternyata minggu ini tugas numpuk >.< jadinya lama deh.. oya nanti ada bagian si Wu Fan dipanggil Kris. Nah, untuk selanjutnya nama Kris yang dipake, bukan Wu Fan. Mian aku labil hehe~  mungkin FF ini banyak kekurangannya, tapi aku berusaha biar bisa ngebuat yang terbaik~ So, I need your comments ^^ it’ll help me to write and finish this FF. Happy reading! 😀

 NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

___

 “Yang kutakutkan, belati itu malah berbalik menjadi pembunuh. Atau aku yang seharusnya membunuhmu?”

___

7.45 AM

Hari ini terlihat mendung. Awan-awan kelabu tampak betah menghias langit. Pepohonan yang berdiri menjulang, selalu siap untuk menyambut siapa saja yang melewati jalan ini. Jalan beraspal yang sering dilewati gadis itu tampak basah karena hujan. Benar, semalaman hujan mengguyur Seoul tanpa henti. Paling tidak, suasana hati gadis itu tidak seburuk cuaca hari ini.

Ibunya telah susah payah untuk membangunkan Hyejin pagi-pagi. Tapi, gadis itu sepertinya sudah terlanjur menikmati alam bawah sadarnya itu. Padahal, gadis itu sendiri yang mengatakan pada ibunya untuk membangunkannya pada pukul 05.00. Walaupun bangun dengan ogah-ogahan, setidaknya ia bisa merasakan udara sejuk pagi hari yang selalu ingin dirasakannya. Karena itu, ibunya pun tidak keberatan jika harus datang ke restoran lebih pagi.

Suasana hati gadis itu sedang bagus. Ia membiarkan senyumnya menghias bibirnya. Dalam hati, Hyejin menyesal tidak bangun lebih pagi pada hari-hari sebelumnya. Ia sudah melewatkan berbagai hal menarik seperti ini karena sering bangun siang.

Hyejin langsung mengernyit ketika ia mendengar bunyi khas yang paling dibencinya. Senyum yang tadinya setia menghias bibirnya langsung lenyap bersamaan dengan bunyi yang didengarnya. Bunyi itu terdengar begitu keras dan tak jauh dari posisinya sekarang. Ibunya langsung melirik gadis itu hati-hati. Wanita itu tahu benar ekspresi apa yang akan muncul di wajah anaknya saat mendengar bunyi yang berulang itu.

“Hyejin-ah, jangan seperti itu. Kendalikan dirimu.”

Hyejin sudah tidak mempedulikan ucapan ibunya. Ia langsung berlari kecil ke arah sumber bunyi itu tanpa berpikir lagi.

Amarahnya langsung menguap ketika ia berdiri di halaman restoran tempatnya bekerja. Pandangan gadis itu langsung menyusuri tiap mobil polisi yang terparkir tak teratur di sana. Dan akhirnya, ia tahu sumber bunyi itu. Sebuah mobil besar diparkir di bagian kiri halaman restoran, dengan cat berwarna putih dan bunyi sirine yang masih terdengar berulang-ulang. Tulisan AMBULANCE tercetak di bagian kanan dan kiri badan mobil.

Hati Hyejin mencelos. Ia bisa merasakan kakinya mulai lemas. Deru napasnya yang masih belum teratur, membuatnya harus memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Ibunya yang sudah berdiri di sampingnya juga tercengang. Wanita itu berusaha untuk tidak memikirkan hal terburuk apapun yang mungkin terjadi. Setidaknya, untuk saat ini.

Sementara itu, Hyejin yang sudah bisa mengendalikan napasnya, melepas rangkulan ibunya. Ia, lalu, melangkah dengan perasaan ragu, menerobos beberapa orang yang berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu tidak peduli terhadap bentakan beberapa orang yang menghalangi jalannya. Ia juga sudah menutup telinganya untuk sekadar mengindahkan teriakan ibunya dari kerumunan. Hyejin membiarkan kakinya dan anggota tubuh lainnya mengambil alih, meninggalkan akal sehatnya.

 

Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harus tahu. Harus.

 

Para petugas medis dan beberapa polisi sibuk mengecek tiap sudut bangunan ini. Beberapa bahkan hanya memotret dinding yang bernoda berkali-kali, tanpa mengindahkan kehadiran gadis itu. Di lantai restoran, banyak bercak darah yang terlihat. Sebagian meja dan kursi restoran yang semula rapi, kini sudah patah dan tidak jelas bentuknya. Hyejin hanya bisa memandang pemandangan ini dengan pandangan kosong.

Hyejin langsung menghentikan langkahnya di bagian dapur restoran, kemudian menutup mulutnya dengan tangan. Gadis itu langsung jatuh terduduk. Matanya yang sudah tidak bisa memberikan pertahanan terhadap butiran bening itu, akhirnya mengeluarkannya.

“..tidak…mungkin…”

Hyejin tidak tahan melihat apa yang ada di hadapannya. Sejak tadi, ia berusaha untuk meyakinnya dirinya bahwa hari ini adalah bagian dari halusinasi pikirannya saja. Ia tahu itu salah besar. Seharusnya, ia tidak datang ke sini pagi ini.

Lantai tempatnya sekarang duduk sudah dipenuhi darah segar. Darah berwarna merah yang ia lihat sewaktu telapak tangannya berdarah. Darah yang membuat gadis itu trauma. Sekarang darah segar itu berada di sekelilingnya, yang bersumber dari sosok yang terbaring dengan kondisi tubuh mengerikan di hadapannya.

Hyejin menatap sosok yang tebaring itu sambil menangis. Jemarinya terulur untuk sekedar merasakan hembusan napas yang keluar dari hidung sosok itu. Tetapi, ia tidak bisa merasakan hembusan hangat dari situ. Ia membiarkan tangannya menyentuh pipi sosok itu. Dingin. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan dari sosok ini.

“Hei, jangan tidur di sini. Kau tidak kedinginan? Bangunlah…” Suaranya hampir seperti bisikan. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya.

Hyejin ingin menangis sekeras mungkin saat pandangannya tertuju pada bagian dada tubuh tanpa nyawa ini. Tempat dimana seharusnya jantung berdegup untuk memberi kehidupan, sudah kosong. Bagian kiri tubuh lelaki ini seperti habis dikoyak beberapa kali dengan kasar. Jantung yang harusnya ada situ, tidak ada.

Luka koyak itu terlihat mengerikan. Hyejin tidak sanggup melihat tubuh itu lebih lama lagi. Darah sudah menutupi hampir seluruh tubuh sosok ini. Kaki serta tangannya juga banyak mengeluarkan darah akibat luka cakaran panjang yang membuat tubuh itu tampak mengenaskan. Hyejin sudah membiarkan air matanya keluar dengan sendirinya. Ia harus percaya pada penglihatannya. Ia harus mau mengakui pada dirinya sendiri, bahwa yang ia lihat di hadapannya adalah sosok yang sangat dikenalnya. Seorang Do Kyungsoo.

Tidak ada seorang polisi pun yang berani mendekati Hyejin. Mereka malah ikut mengelilingi Hyejin dan tubuh tanpa nyawa itu dengan wajah murung. Suasana dalam restoran pun ikut menggelap. Seolah bangunan ini ikut berkabung karena telah kehilangan seorang yang mampu membuat restoran ini tetap hidup sampai saat ini.

 

Kenapa seperti ini? Bukan dia yang pantas mati! Aku! Aku yang harusnya mati!

 

Tangisan Hyejin semakin menjadi saat ibunya ikut terduduk di sampingnya dan mulai menangis sambil memeluk tubuh rapuh gadis itu. Tidak, ia tidak mau jika terus-menerus menangisi tubuh tanpa nyawa ini. Ia juga harus melakukan sesuatu. Ia harus menghentikan kejadian-kejadian yang tidak masuk akal ini, hanya karena kejadian yang dialaminya waktu itu.

“Hyejin-ah! Kau mau ke mana?!” Teriakan ibunya sengaja diabaikan gadis itu. Ia tidak bisa diam saja jika sudah seperti ini. Hyejin berlari menyusuri jalan ke rumahnya.

Gadis itu kembali membiarkan sisi tidak logis dirinya mengambil alih. Ia tidak mau jika pada akhirnya, orang-orang yang berada di sekelilingnya perlahan-lahan pergi dari dunia ini.

___

10.55 AM

Gadis itu sepertinya tidak bisa berhenti menangis. Matanya yang mungil itu terlihat bengkak dan memerah karena terlalu banyak menangis. Setelah beberapa menit sudah bisa menenangkan diri di pojok kamarnya, gadis itu kembali menangis. Sebagian besar waktu yang dihabiskannya di kamarnya sejak tadi hanyalah menangis tanpa suara.

Kamar itu tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk ditempati dua orang. Semua benda tertata rapi, tanpa sedikitpun debu. Walaupun tumpukan kardus di sudut kiri kamar cukup mengganggu pemandangan kamarnya, tetapi kamar itu tetap terlihat rapi. Lemari pakaian yang terlihat usang masih berdiri dengan kokoh di bagian kanan kamar. Tetapi, yang mengganjal dari kamar itu adalah penerangannya.

Lampu yang harusnya menerangi kamar itu dengan baik, ternyata sudah redup. Gadis itu bahkan tidak kesulitan saat memasuki kamar yang minim penerangan ini. Selain itu, langit-langit kamarnya seperti tidak pernah disentuh dan rapuh. Debu di beberapa bagian langit-langit kamar terlihat menumpuk. Yang membuat lelaki ini heran, gadis itu tampak sama sekali tidak terganggu dengan hal itu.

Gadis itu malah masih sibuk mengusap air matanya dengan tisu. Ternyata, ia sudah berpindah tempat ke dekat meja belajarnya, yang membuat lelaki ini harus menyembunyikan dirinya dengan baik di dekat jendela. Lelaki ini memaki dirinya sendiri karena salah memilih tempat untuk bersembunyi.

Melihat air mata yang terus-menerus mengalir dari mata sembab gadis itu, lelaki ini semakin merasa bersalah. Ia ingin sekali memeluk tubuh mungil gadis itu hanya untuk memberinya kehangatan, walaupun untuk sementara.

Aku seharusnya tidak melakukannya! Aku seharusnya tidak mendengar apa yang dikatakan makhluk keji itu!

Dini hari tadi, ia akhirnya melakukan apa yang dikatakan Wu Fan padanya beberapa hari lalu. Ia sudah mengambil keputusan yang bulat. Ia sudah berusaha keras untuk meyakinkan dirinya bahwa hal ini mudah. Bunuh, ambil jantungnya, kemudian bersihkan kalung itu dengan darah dari jantung itu. Ketika memegang kalung yang dicurinya dari lemari meja belajar gadis itu, Chanyeol bisa merasakan bahwa bukan hanya satu orang yang sudah memegang kalungnya.

Lelaki ini sudah membunuh orang pertama yang menyentuh kalungnya, yaitu lelaki di restoran itu. Ia sudah mengusapkan banyak darah dari jantung lelaki itu di liontin kalungnya. Tetapi, karena ia baru menyadari bahwa matahari sudah hampir terbit, ia bergegas menuju rumah gadis itu, kemudian meletakkan kalung itu pada tempatnya semula.

Wu Fan yang mengajarkan semua ini padanya kemarin malam. Lelaki itu juga yang mengatakan padanya untuk menyelesaikan semuanya sebelum matahari terbit. Ia menjelaskan apa saja yang harus dilakukannya untuk hari ini dengan sabar dan tenang. Tapi, tiap kali lelaki itu melihat keraguan di mata Chanyeol, lelaki itu akan membentaknya dan meninjunya. Chanyeol tahu, hal itu dilakukan Wu Fan agar ia bisa mendapatkan kembali apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya.

Lelaki ini hanya bingung dengan satu hal. Mengapa ia harus mengembalikan kalung itu ke tempatnya semula dan bukannya langsung membunuh gadis itu selagi bisa? Bukankah kalau ia melakukannya hari ini juga, ia bisa langsung mendapatkan kekuatannya dengan penuh?

Ada sesuatu yang tidak ia katakan padaku.

“Buku ini memang konyol! Mana mungkin manusia serigala masih berkeliaran?” Gadis itu melempar buku cerita bergambar yang sejak tadi dibacanya. Ia menghela napas panjang, “Kyungsoo benar, harusnya aku tidak memungut buku cerita anak-anak.”

Suara serak gadis itu menarik perhatian Chanyeol. Ia berusaha memfokuskan pandangannya pada buku cukup tebal yang dilempar gadis itu sembarang. Otomatis, ia menggunakan kemampuan melihatnya yang tajam untuk melihat gambar di halaman yang dibaca gadis itu.

Lelaki ini terbelalak. Di sana terlihat gambar seorang manusia serigala yang sedang menggenggam sesuatu seukuran kepalan tangan, dengan darah yang masih mengucur dari sesuatu itu. Chanyeol yakin sesuatu yang sedang digenggam manusia serigala itu adalah sebuah jantung manusia murni.

Entah karena apa, lelaki ini sedikit ngeri melihat jantung itu. Ia jadi teringat dengan perbuatan keji yang dilakukannya pada lelaki di restoran itu. Ada rasa penyesalan jauh di dalam hatinya. Tetapi, tiba-tiba ia teringat perkataan Wu Fan bahwa manusia serigala tidak mengenal rasa belas kasihan. Ya, benar. Ia tidak boleh membiarkan rasa belas kasihan memenuhi hatinya.

Seandainya saja Wu Fan benar tentang semuanya. Mungkin aku tidak harus menjadi seperti ini.

 

“Ah, dasar gadis bodoh! Kenapa waktu itu kau membiarkan laki-laki polos itu menyentuh benda terkutuk ini, hm?” Suara lemah gadis itu membuat lelaki ini sadar dari lamunannya. Ia beralih memandang gadis itu yang sedang menggenggam sesuatu. Gadis itu mengusapkan ibu jarinya beberapa kali pada liontin kalung milik lelaki ini. Suaranya masih serak karena terlalu banyak menangis.

Gadis itu menjadikan tangan kirinya sebagai penopang kepalanya, sementara jemari tangan kanannya masih memegang liontin berbentuk kepala serigala. Ia tersenyum kecut dan kembali mengeluarkan air matanya, “Hyejin, kau bodoh sekali, ya.”

“Tidak! Jangan sentuh liontin kalung itu lagi!”

Gadis itu langsung memusatkan pandangannya ke jendela kamarnya. Samar-samar, ia merasa mendengar suara tertahan dari jendela itu. Gadis itu langsung mendorong jendelanya sampai terbuka lebar, kemudian mencari-cari sumber suara. Nihil. Tidak ada seorangpun yang berada di halaman belakang rumahnya. Gadis itupun kembali menutup jendela kamarnya. Hanya pikiranmu saja, batinnya.

Sementara itu, Chanyeol berusaha mengatur napasnya. Ia hampir saja ketahuan jika ia tidak segera naik ke atap rumah gadis ini. Lagi-lagi, ia ceroboh. Entah karena apa, jika berada dekat dengan gadis itu, ia sampai tidak menyadari bahwa ia sedang bersembunyi. Ia selalu saja melakukan kesalahan yang bisa membuatnya dalam bahaya.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, lelaki ini memutuskan kembali ke rumah besarnya. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya yang semakin lama melemah. Dan ia harus bisa mengingat sesuatu.

“Hyejin, rupanya. Mungkin kaulah yang akhirnya menjadi penolong, bukan aku.”

___

 

10.20 PM

BUGG!

Ini sudah kesekian kalinya Wu Fan meninju wajah Chanyeol. Lelaki itu tampaknya ingin meluapkan seluruh kekesalannya padanya karena tidak mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Lelaki itu meninju Chanyeol dengan seluruh tenaganya, sampai membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Chanyeol yang akhirnya ambruk pun memejamkan matanya saat ia merasakan Wu Fan sudah siap menendangnya.

“INI?! INI YANG INGIN KAU RASAKAN, HUH?!” Teriakan Wu Fan menggema di ruangan pribadi lelaki ini. Ia, lalu, menarik kerah baju yang dikenakan Chanyeol dengan kasar sampai membuat lelaki itu terhuyung-huyung.

Wu Fan tidak bisa membendung lagi kemarahannya. Gigi-giginya yang tadinya terlihat normal dan tersusun dengan rapi, kini berubah menjadi sama tajamnya dengan belati. Begitu pula dengan iris matanya yang mulai berubah menjadi merah terang. Hanya tinggal tunggu waktu sampai lelaki itu benar-benar menghabisi Chanyeol.

“Kau harusnya mendengarkanku! Apa kau ingin mati?!”

Chanyeol menyeringai. Wajah yang babak belur ditambah darah dari sudut bibirnya membuat seringaiannya terlihat mengerikan. Ia mengangkat tangan kanannya supaya Wu Fan berhenti memukulnya, kemudian berkata dengan suara parau, “Cukup, Kris. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Semua yang dulu kau katakan ternyata omong kosong.”

“Kau berani memanggilku dengan nama itu, ternyata. Memangnya kau siapa?! Kau hanya manusia serigala yang tidak pantas untuk hidup, kau tahu!” Lelaki itu kembali berteriak. Tanpa ragu, Kris langsung meninju wajah Chanyeol.

“Aku memang tidak pantas untuk hidup. Tapi, kenapa dulu kau membiarkanku hidup? Kenapa kau malah menjadikanku makhluk terkutuk seperti ini, huh?”

Mendengar apa yang dikatakan Chanyeol, Kris menahan amarahnya. Ia menurunkan kepalan tangannya yang sudah siap untuk meninju lelaki itu lagi. Ia melepas cengkeramannya dari kerah baju lelaki itu, kemudian mengacak rambutnya frustasi.

Kris menatap tajam Chanyeol yang sudah terkapar dengan luka lebam di wajahnya, lalu melangkah ke ambang jendela kamar Chanyeol, “Jangan menyesal jika aku yang menyelesaikan hal ini. Akan kutunjukkan bagaimana seharusnya kau menerapkan apa yang telah kau pelajari.”

Dan tanpa mengatakan apapun lagi, lelaki jangkung itu menghilang dari ambang jendela. Chanyeol yang masih terkapar di lantai dekat jendela kamarnya, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia berusaha mengabaikan rasa nyeri yang menjalari tubuhnya dan membiarkan angin dingin menusuk kulitnya. Sudah tidak ada tenaga lagi dalam tubuhnya untuk berjalan ke arah ranjangnya. Ia merasa tubuhnya remuk akibat hantaman keras dari kepalan tangan Kris. Lelaki ini pasrah jika esok harinya, ia hanya bisa berbaring di ranjangnya.

Kini, ia harus bertindak sendiri. Lelaki ini tidak ingin terus-menerus bergantung kepada Kris. Ia berusaha untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan Kris nantinya. Bukannya ingin mengabaikan ancaman itu, tetapi ia sudah muak dengan perlakuan lelaki itu. Ia tidak ingin hidupnya tambah hancur karena ia adalah makhluk pembunuh yang keji. Mau tidak mau, ia juga harus rela jika Kris pada akhirnya berbalik menjadi musuhnya.

“Kalau aku yang mati, tidak ada bedanya ‘kan?”

Kesadarannya pun hilang.

___

Normal POV

Dini hari. Kesunyian masih menyelimuti kota, walaupun suara deru kendaraan terdengar samar jauh di pusat kota. Selain itu, tidak ada lagi. Hanya kegelapan yang masih setia menemani.

Wanita paruh baya itu terbangun dari tidur nyenyaknya karena teringat sesuatu. Ia harus memasak air hangat, kemudian menyapu halaman belakang rumahnya. Wanita itu tidak peduli akan dinginnya udara luar. Setelah selesai memasak air, ia langsung mengambil sapu di dekat dapur, kemudian bergegas ke halaman belakang.

Udara dingin langsung menusuk kulit tubuhnya, karena ia tidak mengenakan pakaian hangat. Sambil berusaha mengabaikan dinginnya udara, wanita itu terus saja menyapu. Sesekali ia memungut dedaunan kering yang berserakan di halaman, kemudian menumpuknya di dekat sebuah pohon besar yang tumbuh di sana.

Ia beristirahat sejenak di sebuah bangku kayu tempatnya biasa duduk bersama anak satu-satunya itu. Dalam beberapa hari ini, ia terus-menerus mengkhawatirkan kondisi Hyejin. Gadis itu hampir seperti kehilangan semangat hidupnya. Yang ia lakukan hanya membaca berbagai buku tebal tentang legenda manusia serigala dan mengurung diri di kamarnya. Wanita paruh baya itu tidak mau jika anaknya tertekan karena peristiwa menyedihkan itu.

Wanita itu menghela napas panjang. Memikirkan hal yang terlalu berat sudah tidak bagus untuk kesehatan tubuhnya, mengingat beberapa hari ini ia bekerja sendirian di restoran, melayani banyak pelanggan yang masih saja berdatangan.

Wanita itu hendak masuk kembali ke rumah, ketika sebuah suara membuatnya membeku di tempat.

“Sayangnya, kau tidak bisa menghiburnya ‘kan? Anak satu-satunya yang kau miliki.”

Wanita itu menoleh. Firasat buruk langsung menghampiri benaknya ketika ia melihat sosok ini. Postur tubuh tegap, tinggi dan terlihat atletis. Tatanan rambut yang berantakan serta sorot mata yang tajam membuatnya terlihat menawan. Tetapi, senyum meremehkan yang menghias bibirnya, bisa membuat siapapun tidak berani mendekatinya.

“Siapa   

“Oh, kau takkan pernah tahu siapa aku. Karena sebentar lagi nyawamu akan kembali ke asalnya.” Lelaki itu berkata dengan nada cuek.

Wanita paruh baya itu mundur beberapa langkah. Tubuhnya yang seperti mati rasa, ia paksakan untuk bergerak. Tangannya berusaha meraih belati yang tergantung di kenop pintu dapurnya. Tapi, sia-sia.

“Wah, wah.. Mau melukaiku dengan benda tajam itu?” Lelaki itu masih tersenyum meremehkan. Ia yang tadinya berada di hadapan wanita itu, sekarang sudah berada di belakangnya. “Yang kutakutkan, belati itu malah berbalik menjadi pembunuh. Atau aku yang seharusnya membunuhmu?”

Wanita itu langsung memutar tubuhnya ke arah lelaki itu, kemudian cepat-cepat menjauh. Saat itu juga, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia ketakutan. “Tidak! Kau tidak boleh membunuhku!”

Suara tawa itu terdengar menusuk telinga wanita itu. Lelaki jangkung itu mulai melangkah, mengurangi jarak diantara mereka. Karena sudah putus asa tidak bisa melarikan diri, wanita itu langsung melemparkan belati itu.

Lelaki itu mulanya terkejut karena belati itu menorehkan luka gores di pipi kirinya, tetapi ia langsung terkekeh pelan sambil mengusapkan ibu jarinya di bagian pipinya yang tergores. Dengan cepat, iris mata lelaki itu berubah menjadi warna biru agak terang disertai dengan gigi-giginya yang berubah menjadi taring tajam. Udara yang dingin menusuk kulit, menjadi lebih dingin lagi seolah ketegangan yang dirasakan wanita itu ikut dirasakan oleh udara.

“Rasa takutmu membuatku semakin ingin membunuhmu. Lagipula, kau sudah menyentuh benda terlarang itu. Well, as you can see, there are no chance to escape, right?

Saat itu juga, lelaki itu menepis tubuh lemas wanita itu dengan satu tangan. Tubuh wanita itu langsung membentur sebuah pohon besar dengan keras. Wanita itu ambruk ke tanah dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Dengan santai dan sorot mata tajam, lelaki itu menghampiri tubuh lemah itu. Ia berjongkok di samping wajah tua wanita itu.

Any last words?”

“Aku tahu.. aku akan mati. Tapi, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau juga berencana membunuh gadis itu..” ucapnya dengan suara serak dan parau. Napas wanita itu sudah tersendat-sendat, tetapi ia tetap memaksakan agar tidak kehilangan kesadaran saat ini.

Senyum licik langsung terpampang di wajah sempurna lelaki itu. “Kalau itu, aku tidak peduli. Tidak lama lagi, gadis itu juga akan bernasib sama sepertimu.”

Setelah mengatakan hal itu, tanpa keraguan sedikitpun, lelaki itu memuaskan nafsu membunuhnya. Kuku-kuku jari lelaki itu langsung bekerja sesuai fungsinya tanpa ampun.

Hal terakhir yang bisa terdengar dengan keras adalah suara teriakan putus asa yang memilukan.

 

[To be Continued]

 

Gimana? Aneh, ngawur atau malah bikin pusing? Aduuhh maafkan author yang pemula ini huhu  >.<  menurut kalian lebih bagus tetep pake nama Wu Fan atau Kris? Please leave your comments, really need that~

33 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s