When You’re With Her (Chapter 2)

When You’re With her (Chapter 2)

Title       : When You’re With Her

Author  : @deboratif_ksk

Genre   : School life, a little sad, romance, GENDERSWITCH

Rating   : Teen

Length  : Chapter

Cast       : Byun Baekhyun, Park Chanyeol.

Baekyeolff

Disclaimer :

Hai hai hai ^0^ Ketemu lagi sama saya author ketjeh nan cantik jelita ini LOL. Ada yang kenal saya gak ? Atau ada yang pernah baca ff She’s Cold. Itu FF saya. Hahaha liat komentar di She’s Cold ternyata banyak yang minta sequel eh tapi sayanya gak punya ide buat sequelnya. Mungkin karena endingnya terlalu gantung #YangBuatSiapaYangBingungSiapa

Tapi yang belum baca She’s Cold monggo dibaca https://exofanfiction.wordpress.com/2013/05/16/shes-cold/#more-12282 Malah promosi FF.

Ingat! Ini GENDERSWITCH, alias TRANSGENDER. Gak suka ? Gak usah baca ? Dan anggap aja kalau Baekhyun, Zitao, Luhan dan yang ‘sejenisnya’  tuh disini cewek bukan cowok .__.

Daripada bacot tak jelas mending langsung baca nih FF baru saya (chap 2) CEKIDOTTT~~

“Aku kesal sekali, Sanghyun! Aku tidak terima! Bagaimana mungkin Ayah memberikan perusahaan dan rumahnya kepada orang yang bahkan tidak kita kenal ?!” Hardik Baekhyun geram sambil memasukkan beberapa keripik kentang ukuran jumbo kedalam mulutnya. Lapar dan emosi bercampur menjadi satu, membuat tangan Baekhyun tidak dapat berhenti mencomot keripik kentang dari toples bening yang saat ini masih bertengger manis di tangannya.

“Byun kecil, ini sudah keputusan Ayah. Kita tidak boleh menentang. Lagipula kau mengenal Chanyeol. Dia teman sekolah mu ‘kan ?”

Entah kenapa, tapi mulut Baekhyun tiba-tiba berhenti mengunyah dengan sendirinya.

“I-Iya me-memang, tapi kami beda kelas. Dan…. Lagi pula kami…tidak terlalu akrab.” Baekhyun mencicit seperti anak tikus saat mengatakan kalimat terakhir.

“Tapi tetap saja, Byun Kecil. Kau mengenalnya.” Jawab sang Kakak dengan senyum tulusnya. Ugh, kalau sudah begini Baekhyun tidak akan bisa melawan lagi. Mana bisa dia tahan dengan senyum malaikat kakaknya.

TAP TAP TAP

Terdengar tapak kaki seseorang dari arah tangga. Pasti Ibu, pikir Baekhyun. Baekhyun tidak peduli. Ibu tirinya membuatnya kesal lagi. Seenaknya membuat kamar Chanyeol di sebelah kamar Baekhyun dan membuat Byun kecil itu mendapat migrain mendadak. Chanyeol bilang ia akan datang sore ini.

Jika saja Chanyeol tidak menyatakan cintanya pada Luhan…

Jika saja Chanyeol tidak menyukai Luhan…

Jika saja Baekhyun tidak jatuh cinta pada Chanyeol…

Pasti Baekhyun akan dengan senang hati menerima Chanyeol di rumahnya.

Tapi……

Takdir berkata lain……

Baekhyun sudah terlalu jatuh untuk Chanyeol……

“Halo, Bibi.” Chanyeol tersenyum ramah –seperti biasanya- kepada Nyonya Byun. Rumah baru Chanyeol –rumah Baekhyun- sangatlah besar dan luas. Rumah Chanyeol juga seperti itu, hanya saja tidak sebesar dan seluas ini.

Chanyeol disambut pemandangan dimana sepasang kakak-beradik yang sedang bersantai ria di ruang tamu, membuatnya berkecil hati. Pasalnya Chanyeol anak tunggal dan ia sangat tidak menyukai hal itu.

“Ey, Chanyeol datang….” Ujar Sanghyun pelan. Baekhyun menegak liurnya paksa.

Ini Bencana! Tolong aku! Siapa saja! Jerit Baekhyun dalam hatinya.

“Baekhyun, Sanghyun, kemari sebentar.” Nyonya Byun memanggil kedua kakak-beradik itu dengan nada datar. “Kalian lihat ‘kan kalau Chanyeol sudah datang, sekarang bawa koper dan tas Chanyeol, masukkan ke kamarnya.”

Badai menyerang, gempa bumi dimana-mana, itulah yang dirasakan Baekhyun. Apa tadi ? Apa ? Membawa koper ? Tas ? Baekhyun meyakinkan pendengarannya. Kupingnya yang bermasalah atau lidah ibu tirinya ini yang kelewat tajam ?

Baekhyun menoleh pada Sanghyun. Sepertinya Sanghyun pun tidak kalah terkejut. Ibu kandung mereka bahkan tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu yang aneh dan berkata dingin.

“Apa yang kalian tunggu ? Cepat lakukan!”

Chanyeol menahan Nyonya Byun. “Tidak apa-apa, Bibi. Aku bisa melakukannya sendiri.”

Nyonya Byun menoleh cepat kearah Chanyeol. “Dengar, Chanyeol. Kau pasti lelah. Jadi biarkan saja Sanghyun dan Baekhyun yang membawakan barang-barangmu. Lagipula, ini juga sekaligus latihan untuk Baekhyun, supaya ia tidak suka bermalas-malasan.”

Baekhyun menunduk pelan.

Apa nya yang malas ? Kita punya pembantu tapi kau selalu menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan kau hanya bersantai ria, berbelanja dan menghamburkan uang Ayahku dengan percuma. Dasar wanita tidak tahu diuntung! Baekhyun mengumpat dalam hatinya.

Sanghyun mengambil satu koper Chanyeol yang berwarna coklat dan dengan sigap ia melesat melewati anak tangga. Baekhyun masih diam.

“Byun Baekhyun! Ada apa denganmu ?! Cepat bawa barang Chanyeol. Dasar siput pemalas. Sudah bodoh, berisik dan sangat mengganggu. Apa lagi yang kau tunggu, siput ?!” Nyonya Byun memaki Baekhyun dengan beringas. Melemparkan pandangan mautnya pada Baekhyun yang masih saja diam.

Chanyeol menganga. Bola matanya serasa akan lepas. Nyonya Byun ternyata kejam sekali. Baekhyun pasti tersiksa dengan Ibu tiri seperti itu.

“Cih, apa kau gila, huh ?” Baekhyun mulai bersuara.

“A-apa kau bilang ? Hey,anak bodoh! Dasar tidak sopan. Aku ini ibumu.”

Baekhyun menengadah menatap sang Ibu seakan-akan ia akan melenyapkan wanita itu sekarang juga.

“Aku bodoh ? Cih, dasar wanita murah! Beraninya hanya saat Ayahku tidak ada di rumah. Menyuruhku ini itu seperti aku adalah seorang budak. Oh, memangnya kau ibu ku ya ? Maaf, Ibu ku sudah wafat saat aku masih berumur 12 tahun.” Caci Baekhyun bengis. Matanya mengeluarkan kilat kemarahan. Dan Ibu tirinya menganga tidak percaya.

“….Ka-kau…kurang ajar….Akan kuberitahu pada Ayahmu akan kelakuanmu ini!”

“Oh, beritahu saja. Aku tidak peduli. Terserah kau mau mengatakan kalau aku ini pemalas, bodoh berisik, tolol, idiot……Aku tidak peduli! Setidaknya aku bukanlah wanita yang menikahi seorang pria kaya raya hanya untuk uang!” Baekhyun melakukan skak mati pada Ibunya, membuat empunya melotot kejam.

“Kau……”

Chanyeol meneguk liurnya paksa. Tidak, ini semua sudah diambang batas. Apa yang akan terjadi ? Perang dunia ? Oh, tidak. Chanyeol tidak akan sanggup melihat hal itu. Pertengkaran bukanlah hal yang lumrah dalam hidupnya.

Baekhyun menatap sang Ibu bengis. Dengan sekali hentakan dia membawa koper Chanyeol dan menariknya kasar melewati tangga.

“Hey, Park Chanyeol, jangan diam saja. Kau tidak mau melihat kamarmu ?!” Seru Baekhyun kesal. Chanyeol segera tersadar dari lamunannya.

“Ah~~ I-iya….”

Chanyeol mengikuti langkah kecil Baekhyun menaiki anak tangga. Diam dan sunyi. Sanghyun entah pergi kemana, mungkin setelah mengantar tas Chanyeol ia langsung melesat tidur di kamar super nyaman miliknya. Baekhyun membuka pintu berwarna coklat dengan ukiran indah di depannya. Pelan dibukanya.

“Ini kamarmu.” Ujar Baekhyun ketus.

“Te-terima kasih…..”

“…”

“Baekhyun….?”

“…”

“Baek-Baekhyun…..?”

“…”

“Hei, Baekhyun !”

Baekhyun hanya diam saja. Mungkin Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun melamun, namun nyatanya tidak. Otaknya hanya berfantasi ria dengan khayalannya. Ibunya, Ayahnya dan juga Chanyeol –tentunya-semua masalah ini membuatnya dirinya tertekan. Baekhyun takut sekali, ia tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupnya.

“Aku mau ke bawah, kalau ada apa-apa panggil saja aku atau Sanghyun. Kamarku di sebelah kamarmu ini dan kamar Sanghyun ada di lantai tiga.”

Baekhyun berlalu begitu saja, tanpa melihat atau menatap Chanyeol.

“Aku akan pergi selama beberapa hari jadi aku minta kepada kalian untuk menjaga rumah. Sanghyun sudah kembali ke apatementnya. Baekhyun, kau yang menjaga rumah. Chanyeol juga. Kalian mengerti ?” nada dingin tidak pernah hilang dari mulut Nyonya Byun dan itu semakin membuat Baekhyun muak.

“Terserah….” Desis Baekhyun tajam.

“Baik, bibi.” Jawab Chanyeol riang –seperti biasanya-

Setelah kepergian Nyonya Byun, Baekhyun menghabiskan waktunya di depan TV ruang tengah, bermain game seharian sudah menjadi hobinya beberapa bulan ini –sejak diajari oleh Sanghyun-

Baekhyun menatap pintu kamar Chanyeol yang berada di lantai dua. Hatinya kembali teriris, sakit memang. Tapi mau bagaimana lagi ?

“Siap~~~” Baekhyun berseru girang saat ia berhasil menyelesaikan omelet buatannya. Masak sendiri membuatnya berbangga hati.

“Saatnya makan….”

Eh tunggu, ada yang kurang. Baekhyun berpikir, entah kenapa tapi rasanya sangat kurang. Ada sesuatu yang mengganjal, entah apa itu Baekhyun tidak tahu.

“Chanyeol…..” gumamnya. “ Ugh, diajak makan atau tidak, ya ?”

“Diajak, tidak. Diajak, tidak Oh Tuhan~ Betapa tidak adilnya hidupku Argh.” Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa wanita itu harus pergi ? Kenapa Ayah harus sakit ? Kenapa Sanghyun harus kembali ke apartementnya ? Kenapa aku harus berdua dengan Chanyeol ? Kenapa~~ ?!” Baekhyun bersungut-sungut. Meremas rambutnya hingga rontok.

GREP

Baekhyun melotot, mata indah itu hendak keluar saat seseorang menyentuh bahu miliknya.

“Baekhyun, kau kenapa ? Apa kau sakit ?”

 

Chanyeol.

 

 

Habis sudah, tamatlah semuanya. Telah berpulang ke sisi-Nya jiwa dan roh seorang Byun Baekhyun. Park Chanyeol memang kurang ajar, seenaknya menepuk pundak malaikat kecil ini dan membuatnya gemetar setangah mati.

“Baek-baekhyun….?” Chanyeol memanggil nama Bakhyun sekali lagi.

Roh nenek moyang, dewa kematian, malaikat maut, siapa saja, tolong! Ambil nyawaku sekarang juga. Jerit Baekhyun, dalam hati tentunya. Baekhyun membalikkan badannya cepat.

“Oh, Chanyeol….ada a-apa ?”

Chanyeol tersenyum ramah –seperti biasa- Senyum indah itulah yang sangat dirindukan Baekhyun. Sayangnya senyum itu tidak akan pernah menjadi miliknya. Senyum indah itu sudah menjadi milik orang lain.

Sendainya saja Baekhyun punya mesin waktu maka ia akan kembali ke masa lampau. Masa dimana semuanya berjalan normal, masa dimana ia tidak akan menghabiskan uangnya hanya untuk Chanyeol, masa dimana ia tidak pernah menguntit Chanyeol, masa dimana ia tidak pernah berbohong kepada guru hanya untuk lewat di depan kelas Chanyeol, masa dimana ia dapat makan dengan tenang di kantin sekolah tanpa khawatir dimana keberadaan Chanyeol, masa dimana ia……..

tidak pernah mengenal Chanyeol seumur hidupnya…..

Tapi apa daya, Nasi sudah mnjadi bubur, dan semua sudah terlanjur terjadi.

“Aku lapar. Apa ada makanan ? Kau bisa masak tidak ?” Chanyeol bertanya dengan mata berbinar penuh harap, mata yang mempesona Baekhyun. Mata yang membuat seluruh dunianya bergonjang-ganjing. Mata indah yang sangat sulit diraihnya.

“Hei Baekhyun, kau melamun lagi ?”

“Tidak. Aku tidak melamun. Aku sudah masak omelet, kalau mau makan saja, aku ingin tidur.” Ujar Baekhyun dengan senyum tipis di wajahnya. Chanyeol menoleh kea rah meja makan. Hanya ada..satu ?

Baekhyun melangkahkan kaki mungilnya. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Chanyeol adalah milik Luhan, dan Baekhyun….

Bukan siapa-siapa.

“Baekhyun,” Chanyeol berseru memamanggil nama Bakhyun. Sang empunya pemilik nama hanya bisa menghela nafas, sulit sekali menghindari pria jangkung ini. Jika diberi pilihan, Baekhyun akan memilih untuk melenyapkan dirinya sendiri agar tidak bertemu Chanyeol.

“Ini….kau masak hanya satu ?” Tanya Chanyeol (lagi)

“Ya, kenapa ? Apa kurang ?”

“Bukan, hanya saja, memangnya kau tidak makan ? Kenapa hanya satu ?” Chanyeol memiringkan kepalanya bingung. Oh, lihatlah wajah imut miliknya itu benar-benar menggemaskan! Seperti anak kecil.

GLEK

Baekhyun menelan liurnya dengan sangat susah payah. Oh, tidak! Pesona Park Chanyeol kembali merajai jantungnya.

 

Tenang, Byun Baek, tenanglah. Dia hanya memiringkan kepalanya seperti….anak kecil yang sangat mengemaskan >.< Andai saja dia tidak menyukai senior Luhan…..AAAAAA aku bisa gila! Tolong bawa aku ke rumah sakit, aku butuh oksigen.

 

 

“Byun Baekhyun, apa hobimu itu melamun ? Hei sadarlah!” Chanyeol berseru tepat di depan wajah Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. Sadarlah Baekhyun sayang, Chanyeol itu punya orang lain.

“Tidak. Aku tadi mau membuat banyak, hanya saja di rumah cuma kau dan aku, jadi kubuat saja satu. Lagipula, aku sudah kenyang. Sudah, ya. Aku ke atas. Kalau ada perlu panggil saja.” Ujar Baekhyun cepat dan sedetik kemudian, Baekhyun berlari secepat Jet tempur melewati anak tangga, memasuki dan mengunci kamarnya, dan kemudian manarik nafas sebanyak yang dia bisa.

Jika begini terus, aku bisa gila. Astaga, aku harus kabur. Aku tidak tahan. Tuhan Yang Maha Kuaa, kumohon cabut saja nyawaku sekarang juga. Aku benar-benar tidak sanggup >0< Wajah tampannya dan badannya yang tegap bak seorang ksatria benar-benar memikat. Kurasa aku akan gila!

 

 

 

 

 

Aku tersedak ketika menghirup asam

 

Batuk dan lemas terceruk

 

Marah dan terbaret-baret

 

Cinta membuat ku bertahan

 

Dengan secuil redup harapan

 

 

 

 

“Chanyeol tinggal di rumah Baekhyun ?”

“Astaga! Ini berita hebat! Bagaimana jadinya ?”

“Kujamin, Baekhyun pasti semakin sakit hati.”

“Kudengar Chanyeol tinggal di rumah Baekhyun karena perusahaan Ayah nya Baekhyun diberikan kepada Chanyeol.”

“Bagaimana bisa ? Bukankah itu akan menjaid milik Sanghyun ?”

“Memangnya siapa peduli ? Yang jelas Baekhyun tidak akan tenang tinggal dalam satu atap bersama orang yang menghancurkan hatinya.”

“Hei, kau merebut kata-kataku!”

Baekhyun menutup telinganya rapat-rapat, menghalau semua perkataan yang membuatnya semakin tersiksa. Ugh, nothing to do here. Sebaiknya ia cepat ke kelas. Seharusnya ia kembali saja ke Cina dan mengiyakan permintaan Ayahnya untuk menempeuh pendidikan disana. Tapi jika ia ke Cina, mungkin seumur-umur Baekhyun tidak akan pernah mengenal Chanyeol.

Tuh ‘kan. Chanyeol lagi dan Chanyeol lagi. Sepertinya Baekhyun harus segera ke psikolog. Jika ia, berarti ia sudah gila ? Ya, gila akan Chanyeol.

“Sial, bagaimana mungkin satu sekolah mengetahuinya ? Aku bahkan belum mengatakannya pada ZiTao….” Baekhyun menggumam pelan, dikunyahnya permen karet pappermint dengan beringas, melampiaskan rasa kesalnya.

“Zitaaa~ooo~ kupikir aku harus pindah sekolah saja. Benar-benar menggelikan, bagaimana mungkin satu sekolah tahu bahwa aku seatap dengan Chanyeol ? Apa lebih baik aku mati ?” Baekhyun mendramatisir keadaannya, mimik wajahnya tersedu-sedu dan yang lebih parah, ia kena flu! Lihatlah, sudah berlembar-lembar tisu yang dihabiskannya.

Zitao memandang miris kakak sepupunya ini. Sebagai wanita, ia paham betul rasanya. Zitao hanya bisa menghela nafas keras-keras. “ Semua sudah terlanjur terjadi, Baekhyunnie. Mau bagaimana lagi, huh ? Walaupun kau terjun dari namsan tower dan tenggelam di sungai Han pun tak akan ada yang berubah. Seluruh sekolah, tetap mengetahui bahwa kau SATU ATAP dengan PARK CHANYEOL.” Zitao mencoba menjadi seorang provokator, dilihat dari nada ia mengucapkan SATU ATAP dan PARK CHANYEOL. Penuh intonasi, pelafalan yang jelas, dan penekanan penuh.

“Ya! Panda! Kau membuatku semakin kesal!” Hardik Baekhyun keras.

“Siapa yang membuatmu kesal ? Aku hanya mengatakan fakta!” Bela Zitao.

“Panda, kau mengatakan ‘fakta’ yang membuatku tertohok!”

“Aih, Byun Baekhyun, kau ini cerewet sekali.”

“Hey, Huang Zi Tao. Apa kata-katamu itu tidak terbalik, huh ?”

BRAK

Baekhyun dan Zitao tercengang saat seseorang yang duduk di meja kantin sebelah mereka menggebrak meja dengan kasar. Astaga apa-apaan orang ini ? Mau cari mati, huh ? Apa dia tidak tahu bahwa seorang Huang Zi Tao siap ‘melayani’ siapapun dengan wushu miliknya ?

“Hei, apa-apaan kau me-“

“Kalian berisik sekali! Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan makananku.” Potong pria tersebut. Tatapan matanya tajam nan menusuk, tinggi badan di atas rata-rata, rambut pirang keemasan dan postur tubuh yang sempurna. Bahkan Tao dan Baekhyun harus mendongak ketika melihatnya.

“Memangnya kau siapa, huh ?” tanya ZiTao kesal. Sang pria menatap mata hitam pekat milik Tao.

“Aku ? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya senior kalian di sekolah ini. Yang jelas, kalian berdua sudah mengganggu acara makan siangku.”

Dan kemudian, pria tersebut berlalu begitu saja.

“Heee~ orang yang sangat aneh….” Gumam Zitao pelan. Dan Baekhyun hanya bisa menganga, tidak percaya dengan sikap pria aneh tadi.

Baekhyun menghela nafas berat. Berat sekali. Ia menatap pintu kamar ‘ibu’ nya dengan sendu. Menatap dengan nanar dan pilu. Hatinya terbakar. Bukan karena cemburu. Bukan! Tapi karena sang ‘Ibu’ benar-benar menyulust bara api dalam hatinya.

Dengan mata kepalanya, Baekhyun melihat ‘Ibu’ nya berciuman, bercumbu dan becinta di kamar. Kamar yang menjadi tempat ‘ibu’ nya dan Ayahnya, kini menjadi tempat pemuasan nafsu kedua insan yang tengah bercumbu dan menikmati setiap detik dalam pergulatan tubuh tersebut.

Tanpa sadar, seorang Byun Baekhyun yang terkenal dengan hatinya yang ramah, baik, murah senyum, kini mengepalkan tangannya erat, seakan-akan tangan mungil dengan jari-jari lentik tersebut akan menghancurkan apa saja.

“Dasar…wanita brengsek…” Tangan Baekhyun semakin mengepal erat.

“Alasanmu pergi selama beberapa hari untuk urusan bisnis tapi…ternyata…ini ya “ Gumam Baekhyun dengan senyum miring di wajahnya.

“Kau….memang wanita murah bedebah yang tidak tahu untung…” desisnya tajam. Nafas Baekhyun mulai tidak teratur. Bahunya naik-turun.

“Lebih baik kau mati saja.”

“Hai, Baekhyun.” Sapa Chanyeol ramah –seperti biasa- saat pria jangkung tersebut melewati ruang keluarga.

“Oh, kau. Hai”

Chanyeol tertegun sejenak. Ini tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Baekhyun ? Tatapan matanya kosong mengarah pada terlevisi yang kini sedang menampilkan acara berita-

Tunggu!

Sejak kapan Baekhyun menonton berita ?!

“Ka-kau…baik-baik saja Baekhyun ?” tanya Chanyeol pelan.

Baekhyun menolehkan kepalanya pada Chanyeol seraya tersenyum tipis. Senyum paling tipis yang (mungkin) ada dalam hidup Baekhyun.

“Aku baik-baik saja. Kau belum makan siang ‘kan ? Ibu sudah menyiapkan semuanya.” Jawabnya pelan.

Chanyeol menanggukkan kepalanya paham, sepertinya Baekhyun sedang ingin sendiri, pikir pria jangkung tersebut.

“Tidak, itu tidak perlu. Aku sudah makan siang dengan Luhan.”

DEG

Ucapan Chanyeol tadi menohok hati Baekhyun ke lubuk paling dalam. Kepala Bakehyun serasa berdeyut-denyut, dan tubuhnya gemetar ringan.

Tahan, Byun Baek, tahan. Park Chanyeol bukan siapa-siapamu. Kau harus ingat itu!

 

 

Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali.

“Oh, senior Luhan ya…baiklah tidak apa-apa.”

Chanyeol menganggukdan kemudian melesat menuju kamarnya, meninggalkan Baekhyun yang kembali dengan tatapan kosong miliknya. Tapi siapa sangka, bulir air mata kini mengalir di pipi lembut miliknya, mengalir tanpa henti, seperti tidak ada habisnya.

Baekhyun tersenyum getir.

“Apa aku punya banyak dosa sehingga hidupku kacau seperti ini ?” isaknya kecil. “Kenapa seperti ini ? Kenapa hidupku tidak tenang ? Kenapa….kenapa aku harus menghadapi ini semua ?!

Baekhyun menangis dalam diam. Mengeluarkan isakannya, dan mendengar isakan itu sendiri.  Baekhyun berani bersumpah, bahwa ia tidak akan masuk ke ruang orang lain tanpa ijin! Baekhyun ambil sumpah itu.

Baekhyun ingat kejadian tadi siang, saat ia masuk ke dalam ruangan Chanyeol…..

 

 

 

 

Baekhyun menatap sengit ‘ibu’ nya yang beberapa menit lalu baru keluar dari kamar bersama pria yang tidak di kenal Baekhyun. Hal yang lumrah sebenarnya untuk Baekhyun.

“Baekhyun, jaga rumah. Aku akan segera kembali.” Ujaran ‘Ibu’ nya itu terdengar seperti perintah kerja rodi untuk Baekhyun. Dan ketika ‘Ibu’ nya menghilang dibalik pintu rumah, Baekhyun hanya bisa membanting bantal sofa empuk yang tidak berdosa itu.

“Sampai jumpa, wanita murah.”

Baekhyun berjalan menaiki anak tangga dan tubuhnya terhenti di ambang pintu kamar Chanyeol. Kaki mungilnya mengantarnya sampai sini. Masuk, tidak. Masuk, tidak. Masuk, tidak.

“Tidak-tidak Byun Baek. Ini tidak benar. Ini namanya mengganggu privasi orang lain. Jangan masuk ruangan orang lain sembarangan.” Baekhyun mulai berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Tapi….aku sangat penasaraaa~n.”

Baekhyun tidak tahan lagi! Dengan segera, gagang pintu kamar Chanyeol berputar dan terpampanglah ruangan luas dengan sebuah single bed berwarna merah, dua lemari kayu, meja belajar, seperangkat computer, kamar mandi, dan sebuah sofa empuk  berwarna putih , terletak di samping jendela besar yang menghadap langsung ke sebuah taman.

Aih~~ bagusnya kamar Chanyeol. Baekhyun saja iri.

Tapi ke-irian Bakehyun itu hanya bertahan sementara. Setelah itu badannya lemas, saat melihat di meja belajar Chanyeol, ada sebuah foto.

Foto Chanyeol dengan Luhan, yang sedang tersenyum cerah ke arah kamera. Disampingnya terdapat foto Luhan yang sangat manis.

“Ugh…” Baekhyun meringis pelan. Kepalanya mendadak pening, dunianya seakan-akan berputar. Dia harus keluar. Sekarang juga!

Dengan sigap, Baekhyun mengambil langkah seribu, dan membanting pintu kamar Chanyeol.

Dan Baekhyun saat ini hanya bisa meratapi nasib ‘buruk’ yang datang padanya

 

 

 

Baekhyun memilin ujung kaos biru yang dikenakannya, rasanya ia jenuh dengan semua ini. Baekhyun….Baekhyun takut. Ia ketakutan.

“Cha-Channie…..” cicitnya tertahan. “Aku…bahkan lupa kapan terakhir kali aku memanggilmu ‘Channie’… “ ujaran pelan Baekhyun mulai terdengar parau.”Apa aku tidak punya kesempatan ? A-aku hanya ingin bersama Channie. Apa itu salah ?”

Bahu Baekhyun naik turun, nafasnya mulai tidak teratur.

“Se-seharusnya…aku tidak pernah mengenal Channie dalam hidupku…”

“BYUN BAEKHYUN!” Jeritan seseorang dari ambang pintu mengejutkan raga Baekhyun. Suasana hening rumah mendadak mati karena teriakan tersebut.

“Zi-zitao ? Ada apa, hm ?”

Zitao tidak menjawab melainkan menatap Baekhyun sedih, sorot lugu dan polos milik Zitao membuat Baekhyun tertegun sejenak. Ada apa ?

“Zitao…ka-kau baik-baik saja ? Ada apa…?” tanya Baekhyun sambil mendekat kepada Zitao.

“Baekhyunnie, tadi…aku dapat telpon dari rumah sakit. Ayahmu…”

“Ayahku ?” Perasaan Baekhyun mulai tidak tenang.

“…”

“Hey, Panda. Apa yang terjadi ? Ada apa dengan Ayahku ?”

“Ayahmu memasuki keadaan kritis, dan…..koma….”

Saat itu juga, Baekhyun mempercayai bahwa ada yang namanya ‘Hari Sial’ bagi seseorang.

TBC~~

Haloooooo ini saya datang bawa Chap 2 nya ^0^

As usual, saya harap readers tolong di komen, supaya saya tahu apa ff ini mau lanjut apa engga. Thank youuuu muachhh /cium joonmyun/ :****

Iklan

13 pemikiran pada “When You’re With Her (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s