You, I and Him

Author                  : rifkakrstn

Genre                   : Sad Romance

Length                  : Oneshot

Cast                       :

  • EXO-M Lay a.k.a Ray
  • C-CLOWN Rome
  • Cherry (OC)

Hening… Sunyi… Hanya suara daun berterbangan yang terdengar malam itu. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, milik serorang wanita tua yang hanya memiliki satu cucu perempuan. Cherry, nama cucu wanita tua itu. Duduk di atas atap rumah itu, menerawang dan menatap ke atas langit yang ditaburi begitu banyak bintang.

“Aku yakin kau bahagia di sana, aku akan berada di sini setiap malam. Aku akan selalu ada untukmu,” ucap gadis itu ke arah langit malam.

Meski udara malam cukup dingin, gadis itu selalu duduk di atas atap rumah kecilnya, untuk memberi salam pada seorang laki-laki yang takkan pernah ia temui lagi di dunia ini.

“Cherry, cepat turun dan tidurlah. Bukankah besok hari pertamamu bekerja?” teriak seorang wanita tua dari arah bawah rumah kecil itu, nenek Cherry, si pemilik rumah itu.

“Baik, Nek. Sebentar lagi aku turun,” jawab Cherry kepada Neneknya.

“Kau dengar? Nenek sudah memanggil dan menyuruhku tidur, tapi sebenarnya aku masih ingin berada di sini. Aku masih merindukanmu. Ah, dan taukah kau? Aku diterima bekerja. Betapa bahagianya aku yang akhirnya mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.” Cherry mengembangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.

Meskipun wajahnya memancarkan kebahagiaan dan ia pun mampu mengembangkan senyuman di bibir, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya masih tersisa sebuah sayatan luka. Mungkin luka yang selamanya tidak akan pernah hilang meskipun sudah ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Bagaimana tidak? Orang yang sangat ia cintai, orang yang memenuhi setiap hari-harinya dengan senyum kebahagian, orang yang mungkin jika dihitung 60 detik lagi akan menjadi milik Cherry seutuhnya, pergi begitu saja. Laki-laki itu calon suaminya, Ray.

Sulit untuk dikenang, begitu menyedihkannya tragedi itu. Hari itu, ketika semua terjadi secara tidak terduga. Dan jika waktu bisa terulang, Cherry harap ia tidak akan membiarkan semuanya terjadi. Dan ia mengetahui segalanya sebelum hal itu terjadi.

Saat perjalanan menuju gereja untuk acara pemberkatan, Ray terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuatnya cukup frustasi karena ia sudah sangat terlambat dalam acaranya sendiri. Ray putuskan untuk meninggalkan mobilnya di tengah kemacetan dan berlari sekuat tenaga melalui trotoar menuju gereja. Ray merogoh saku jasnya, mengambil telepon genggam untuk menghubungi Cherry yang mungkin sudah sangat panik menunggunya. Ray memperlambat laju larinya.

“Hallo, Cherry, aku terjebak macet. Aku segera ke gereja. Tunggu aku.”

“Ray, cepatlah ini sudah terlambat 15 menit. Hati-hati di jalan. Aku menunggumu di depan gereja.”

“Baiklah, aku mencintaimu.”

“Ehm,” Cherry bergumam di seberang telepon. Kemudian Ray menutup teleponnya dan kembali berlari.

Ray terus berlari dan berlari. Ia sungguh menyesal harus membawa mobilnya sendiri dan kenapa ia harus melewati kemacetan. Ray menyesal dengan semua kejadian itu. Tapi bukan saatnya jika ia mengeluh karena hari ini, hari pernikahannya.

Sesampai Ray di seberang gereja dan melihat Cherry di sana menunggunya dengan balutan gaun yang sangat apik dikenakan, begitu indah dan sangat cantik, membuat Ray mengembangkan senyuman manisnya ke arah Cherry. Ray melambaikan tangannya kearah Cherry. Ia sangat bahagia saat itu dan menyeberang jalan menjemput Cherry dan melangsungkan pernikahan mereka sesegera mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saat Ray menyebrangi jalan sebuah mobil melaju begitu kencang, bukan ke arah Ray tapi Cherry.

Tidak seharusnya Cherry melangkahkan kakinya ke jalan raya, tidak seharusnya Cherry berniat menjemput Ray dengan menyebrangi jalanan itu. Ray yang begitu panik berlari menuju Cherry dan berteriak sekencang – kencangnya.

“CHERRY, MUNDUR! JANGAN MENYEBERANG. KEMBALI!”

Begitu terkejutnya Cherry ketika melihat mobil itu dan berlari kembali ke atas trotoar tapi gaunnya terseret mobil itu dan Cherry terjatuh yang membuat badannya terbentur trotoar. Ketika mobil itu sudah jauh dari pandangan mata, Cherry merasa jantungnya berhenti seketika. Ia merasa waktu berhenti seketika, melihat Ray yang sudah tergeletak lemas tak berdaya di tengah jalan raya.

“Ray!” Dengan sekuat tenaga Cherry berteriak yang membuat seluruh tamu undangan keluar dari gereja dan sudah cukup banyak mengerumuni tubuh Ray yang sudah tergeletak tak berdaya.

Cherry berlari ke arah Ray, tidak percaya semua ini terjadi. Dengan gaunnya yang sudah robek dan tangan Cherry yang sudah berlumuran darah.

“Ray, bangun. Kau tidak bisa melewatkan pernikahan kita.” Cherry menangis memeluk Ray.

Kejadian yang membuat Cherry frustasi. Semua penyesalan. Andai saja Cherry tidak berjalan keluar dari trotoar, andai saja semua belum terjadi. Sudah hampir tiga bulan yang lalu, kejadian yang begitu menyakitkan, menyiksa hari-harinya. Setiap mengingat hal itu, bulir-bulir air keluar satu persatu dari matanya menetes begitu saja.

“Selamat malam. Besok akan kuceritakan semua yang akan terjadi padamu.” Masih tersenyum dengan baluran air mata yang tak dapat dibendung lagi, Cherry melambaikan tangannya ke arah langit malam. Kemudian menuruni satu persatu anak tangga, berjalan memasuki rumahnya, dan tidur. Ini sudah pukul sebelas malam. Cukup malam untuk Cherry tidur sedangkan paginya, ia harus bangun dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari pertama bekerja.

***

Pukul enam pagi, Cherry dibangunkan oleh alarm yang sudah ia pasang sejak awal. Tidur yang cukup singkat baginya. Cherry berjalan malas menuju kamar mandi dan setelahnya, ia berangkat bekerja. Cukup pagi, karena ini hari pertamanya bekerja. Dan untuk menuju tempatnya bekerja hanya ada satu kendaraan yang sangat efisien, Kereta Api.

Cherry begitu tidak menyangka sudah tiga bulan ia lewati tanpa Ray. Di dalam kereta api, perjalanannya menuju tempat bekerja, ia duduk termenung. Hanya melihat setiap hal yang ia lewati. Cherry berada di gerbong ketiga, masih menunggu kapan ia sampai tempat tujuannya. Saat itu pula ia melihat sesosok pria yang sangat tidak asing berdiri di gerbong ketiga disela-sela bangku yang masih kosong. Menggunakan setelan yang cukup rapi.

“Rome? AH, benar itu Rome.” Matanya menewarang ke arah laki-laki itu dan memanggilnya.

“Hei Rome.” Cherry melambaikan tangan menandakan bahwa Cherry lah yang memanggilnya.

Laki-laki itu masih terdiam dan melihat kearah Cherry, berdiri dan berjalan mendekati Cherry.

“Ah, Cherry. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar?” tanya laki-laki itu, Rome, yang berdiri di depan Cherry karena tidak ada lagi bangku yang dapat ditempati.

“Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana kau dan keluargamu?” jawab Cherry yang balik melempar pertanyaan pada Rome.

“Aku baik. Keluargaku? Ah, jangan seperti itu, keluargaku kan keluargamu juga. Mereka baik juga.”

Cherry tertawa kecil dan tidak mengeluarkan satu kata pun karena ia kembali mengingat Ray dan segala penyesalannya.

“Ah, maaf jika aku membuatmu mengingatnya.”  Rome angkat bicara dan meminta maaf karena merasa bersalah mempertanyakan hal itu pada Cherry.

“Ah tidak, tidak perlu khawatir seperti itu,” Cherry menjawab Rome dengan senyumannya.

“Memangnya kau akan pergi kemana sepagi ini?”

“Aku sudah mendapat pekerjaan baru.”

“Wah, selamat.”

“Dan kau, kau akan pergi kemana?”

“Aku juga bekerja.”

Dan perbincangan mereka terhenti saat kereta yang mereka tumpangi sudah sampai pada pemberhentian selanjutnya di mana Rome juga harus turun di stasiun itu.

“Cherry, aku turun di sini. Kau berhati-hati ya. Bye.” Rome mengucapkan salam perpisahan dan melambaikan tangan pada Cherry.

“Oh, iya. Bye,” Cherry menjawab dan juga melambaikan tangannya.

Rome, laki-laki itu juga sangat berpengaruh dalam hidupnya. Dia adalah adik Ray yang hanya berbeda 2 tahun. Umur Cherry juga sama dengan Rome, tapi Rome lahir bulan Februari dan Cherry Oktober.

Rome, selama ini sudah sangat baik ketika Ray dan Cherry bersama. Bahkan semenjak keluarga Ray pindah ke daerah lain. Meski masih satu kota, mungkin masih trauma atas kematian Ray. Rome kadang-kadang menelepon Cherry untuk menanyakan keadaan Cherry . Rome, juga selalu menemani Ray dan Cherry ketika mereka dalam suatu masalah. Bahkan menjadi penengah bagi Ray dan Cherry jika mereka bertengkar. Meskipun Ray adalah kakak Rome, namun sifat mereka sungguh berbeda. Rome lebih dewasa menanggapi suatu masalah, tidak dengan Ray. Dia sangat kekanak-kanakkan, tapi Cherry sangat mencintai Ray.

Semenjak pertemuan mereka di dalam kereta, mereka menjadi semakin sering bertemu. Bahkan mereka cukup sering berbincang bersama, berjalan-jalan bersama. Karena pekerjaan mereka juga tidak terlalu jauh hanya berbeda satu stasiun kereta jika dibandingkan. Mulai dari hari itu, Rome dan Cherry setiap hari pulang dan pergi bersama jika bekerja, meski menggunakan kereta api.

26 Mei 2013

Dua tahun yang lalu. Ketika kematian Ray, ketika hari pernikahannya harus ternodai dengan sebuah kematian.

Hari itu Cherry seharusnya bekerja, tapi ia mengambil cutinya untuk datang ke pemakaman Ray. Saat di sana ia hanya duduk diam dengan tatapan kosongnya. Begitu menyakitkan meski sudah berlalu, meski sudah dua tahun yang lalu. Masih merasa sangat menyesal.

“Betapa bodohnya aku saat itu, Ray. Jika saja aku tidak menyebrang jalan, jika saja aku tidak menunggumu di depan gereja, jika saja aku tidak melewati trotoar itu. Maafkan aku, Ray.” Satu persatu air mata menuruni pelipis wajahnya. Sungguh merasa bersalah.

“Cherry.”

Suara seorang laki-laki yang memanggilnya dan Cherry pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.

“Rome?” Cherry segera membersihkan cucuran air matanya.

“Tak perlu sungkan, menangislah,” sahut Rome ketika Cherry membersihkan air matanya.

“Ah, kau, kau kenapa datang ke sini? Bukankah kau bekerja?” tanya Cherry dengan kata-katanya yang terbata-bata.

“Aku? Bukankah hari ini 2 tahun pemakaman kakakku? Jadi aku mengambil cuti untuk datang ke sini.”

“Tapi kau masih menggunakan pakaian kerjamu. Tapi yasudahlah.” Rome hanya tertawa kecil ketika Cherry menjawabnya.

Cherry yang masih terlarut dalam kesedihannya hanya diam termenung, begitu juga dengan Rome. Suasana begitu sepi dan tidak cukup banyak orang datang ke pemakaman hari itu. Cukup lama mereka hanya berdiam diri menatap sedih ke arah makam Ray.

“Ehm,” Rome berdeham untuk mencairkan suasana dan ia juga memulai pembicaraan. “Kau setelah ini tidak ada acarakan?”

“Tidak,” jawab Cherry singkat.

“Kau mau ikut denganku?”

“Ah? Kemana?”

“Ikut saja.”

“Baiklah.”

Cherry kembali menabur bunga yang masih tersisa di atas makam Ray. Sedih, sakit melihat kenyataan yang terjadi.

“Ayo, kita pergi,” ajak Cherry yang sudah berdiri dan terlihat lebih ceria daripada sebelumnya.

“Ah, kau sudah selesai?” jawab Rome kaget.

“Sudah.”

“ Aku membawa mobil hari ini, jadi tidak perlu naik transportasi umum.”

Cherry hanya mengangguk dan tersenyum kecil yang kemudian berjalan bersama dengan Rome. Di dalam mobil Cherry hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun, tatapannya kosong memandang jalanan.

“Kau sungguh mau ikut bersamaku? Wajahmu terlihat sangat lesu, aku antar kau pulang saja ya?”

“Ah, tidak, tidak, tidak. Kita pergi saja ke tempat yang ingin kau tunjukan padaku. Tidak perlu khawatir,” jawab Cherry yang langsung mengembangkan senyumannya, agar tidak membuat Rome khawatir.

“Sungguh?”

“Yaaaa.” Rome menoleh ke arah Cherry dan tersenyum tipis.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, sampailah mereka di suatu sekolah yang cukup besar di daerah yang cukup terpencil.

Cherry merasakan sesuatu yang aneh dan tidak biasa, seperti ada sesuatu dan ia merasa pernah datang ke sekolah itu. Cherry hanya menatap sekolah itu, berusaha mengingat sesuatu yang pernah ia alami di situ, tapi nihil.

“Cherry? Kau pernah ke sini?” tanya Rome ketika melihat wajah Cherry yang tertegun.

“Ah, tidak tahu.” Masih dengan menatap sekolah itu tanpa menoleh ke arah Rome.

“Ini SD ku. Dulu aku sekolah di sini, tidak bersama Ray tapi aku di sini hanya bersama nenek.”

“Ah, dulu kau tidak tinggal bersama Ray?”

“Hanya sampai kelas 5 SD, hingga akhirnya ayah membawaku bersamanya, ibu dan Ray. Ayo, kita masuk.” Rome meraih tangan Cherry dan menariknya masuk ke dalam sekolah itu. Rome cukup senang bisa mengajak Cherry kembali ke masa lalunya. Dia menceritakan semua hal yang terjadi ketika itu.

“Nah ,di sinilah tempat paling menyenangkan. Au sering sekali bermain piano di sini bersama seorang gadis kecil yang sama sekali tidak mengerti piano.” Rome tertawa renyah, yang membuat Cherry tersenyum.

“Aku sangat merindukan dia, yang selalu duduk di sampingku ketika bermain piano. Dia cantik ketika tersenyum, dan sangat menyebalkan ketika marah. Dulu ketika aku harus bermusuhan dengannya, sangat menyebalkan sekali, hanya karena aku kesalah pahaman saja.”

“Memangnya apa yang membuat kalian bermusuhan?” tanya Cherry tiba-tiba memotong Rome yang sedari tadi terus berbicara.

“Ah, jadi ketika itu dia berjalan melewati kelas menuju perpustakaan ada segerombol anak-anak nakal di belakangnya dan ketika itu roknya diangkat ke atas, tapi ketika dia menoleh ke belakang hanya ada aku di sana, jadi akulah yang disalahkan. Sampai cukup lama kami bermusuhan, itu ketika kami kelas 5 SD.”

Cherry mengembangkan senyumnya mendengar semua cerita Rome, tidak biasanya Rome berbicara seperti itu. Cherry terus menatap ke arah Rome yang masih asyik dnegan ceritanya.

“Oh ya, aku masih ingat sekali ketika dulu pelajaran seni musik, di kelasku hanya aku dan satu gadis kecil yang bisa memainkan piano dan saat itu piano di sekolah ini hanya ada satu jadi kami memainkannya bersama. Aku senang sekali ketika dia memainkan piano dan ketika itu kami tertawa satu sama lain, tapi saat itu seperti ada orang lain yang memperhatikan kami.”

“Memangnya nama gadis kecil itu siapa?”

“Ah, yang bermain piano denganku namanya Akeelah.” jawab Rome dan mereka masih berdiri di luar ruangan seni. Ruangan yang menjadi kesukaan Rome.

“Dia sepertinya tidak suka jika aku bermain bersama Akeelah, dia mungkin iri dengan Akeelah yang bisa bermain piano dan dia hanya bisa bermain suling, tapi dia lucu sekali ketika bermain suling itu, pipinya menggembung.” Rome tertawa ketika mengingat hal itu.

Cherry juga tertawa mendengar hal itu, tapi tidak seheboh Rome.

“Tapi di saat itulah aku menjadi jauh dengannya. Dia sepertinya sanagat membenciku. Aku tidak tahu kenapa. Ketika kelas 5 saat di mana aku akan pindah, sebenarnya aku sangat sedih, aku tidak ingin pergi dari sekolah itu, tapi aku tidak bisa menolak ajakan ayah. Saat itu, ketika aku dan Akeelah sering bermain piano bersama hingga sore dan aku yang biasanya pulang bersama gadis kecil itu, tapi tidak untuk ketika itu, aku tidak tahu dia pergi kemana. Setahuku dia pulang karena aku akan bermain piano bersama dengan Akeelah untuk terakhir kalinya. Tapi ketika kami akan bermain piano, salah satu tuts piano itu tidak ada, menghilang entah kemana. Jadi kami membatalkan rencana itu, Akeelah mengucapkan salam perpisahan padaku, dia tahu aku akan pergi. Dan saat itu baru Akeelah lah yang mengetahuinya. Bodohnya aku tidak mengatakan pada gadis kecil lucu itu.”

“Kau masih mengingat semua ya? Kau tidak lupa satu pun kejadian yang ada di sini?” potong Cherry disela-sela perbincangan mereka.

“Tentu tidak, karena gadis kecil itu masih aku cari sampai sekarang, dan aku sungguh menyesal harus ikut bersama ayahku, tapi sudah lama aku merindukan mereka. Jadi aku lebih memilih tinggal bersama mereka dan meninggalkan semua kenangan indah di sini.”

“Ohya, kenapa kau tidak memberi tahu gadis kecil itu kalau kau akan pindah?” tanya Cherry penasaran.

“Ah iya, sebelumnya aku ingin mengatakan itu tapi aku mengurungkan niat karena aku takut dia marah. Tapi aku menyesal tidak memberi tahunya terlebih dulu. Jadi ketika aku berada di ruang kepala sekolah dan memberi salam terakhir, Cherry melihatku di sana dan saat aku melihatnya dia pergi begitu saja. Dan betapa bodohnya aku, kenapa aku tidak mengejarnya. Tapi ketika aku sudah akan berangkat bersama  ayah, ada suara gadis kecil yang sangat khas, dia memnaggilku. Dia berlari ke arahku dan tiba-tiba memelukku, dia menangis. Aku sungguh sedih melihatnya menangis merengek seperti anak bayi, ya karena kami masih anak –anak. Aku hanya diam dan tak tahu harus berkata apa. ‘Maaf’ katanya tiba-tiba setelah melepas pelukan. Aku tidak mengerti harusnya aku yang meminta maaf padanya, tapi aku membeku tidak tahu harus bagaimana.”

“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Cherry penasaran.

“Aku sungguh terkejut, ketika dia meroggoh saku roknya dan tahukah kau apa yang dia keluarkan? Tuts piano sekolah yang hilang ketika aku dan Akeelah akan bermain saat itu. Dan sekarang aku baru mengerti, dia menyukaiku. Dia cemburu ketika melihat aku bersama Akeelah. Aku bahkan tidak mengetahuinya. Aku sungguh menyesal karena dulu aku juga menyukainya. Kenapa tidak sejak dari dulu saja aku mengatakan bahwa aku menyukainya dan tidak kehilangan dia?”

Mereka berbicara sambil berjalan melihat-lihat sekolah lama Rome yang tidak banyak berubah itu. Dan akhirnya mereka putuskan untuk duduk di depan pintu masuk sekolah yang mengingatkan Rome ketika ia akan meninggalkan sekolah itu.

“Kau tahu di mana perempuan itu sekarang?”

“Ya, aku tahu. Tapi aku rasa dia tidak mengingatku, bahkan sekarang mungkin dia sudah tidak menyukaiku lagi. Itu sudah sangat lama. Dua belas tahun yang lalu.”

“Siapa gadis kecil itu? Dan mengapa sedari tadi kau tidak menyebutkan namanya? Wah, kau hebat sekali bisa mengingat dan bahkan kau masih menyukai perempuan itu.”

Rome tertawa mendengar ucapan Cherry tadi.

“Sulit untuk mengatakan namanya.”

“Ayolah sebutkan siapa, aku sungguh penasaran.”

“Tidak, aku malu.  Aku tidak akan mengatakan sekarang.”

“Kenapa harus malu? Katakanlah atau jangan-jangan aku ada hubungannya dengan gadis kecil itu, tapi tidak mungkin kan?” tanya Cherry dengan nada menggoda sambil tertawa.

“Tidak. Oh ya, apa kau punya kenangan yang sama denganku? Mungkin cerita ketika kau masih duduk di bangku sekolah dasar? Atau hal lain?” tanya Rome yang mengalihkan pembicaraannya.

“Ehmmm, sepertinya ada tapi aku sudah lupa. Banyak hal yang benar-benar terlupakan dari kehidupanku di masa lalu karena suatu kejadian yang membuatku kehilangan segalanya.” Cherry memulai ceritanya dan tertunduk, terlihat cukup sedih untuk menceritakan hal itu.

Hal di mana ia harus kehilangan segalanya, orang tuanya bahkan ingatannya. Beruntung hanya ingatannya yang hilang, bukan nyawanya. Tapi tetap saja orang tuanya adalah sebagian nyawa Cherry. Mereka harus berpisah di dua dunia yang berbeda karena kecelakaan maut yang menimpanya dan kedua orang tua Cherry. Dan akhirnya Cherry harus tinggal hanya dengan neneknya saja juga harus berpindah tempat.

“Aku benar- benar begitu sial, bahkan aku hanya mengingat detik-detik di mana mobil yang dikendarai ayahnya oleng. Aku benar-benar takut. Aku sudah membuat banyak orang menderita. Aku merasa aku seorang yang benar-benar memperburuk keadaan karena setiap orang yang dekat denganku pasti meninggal karena kecelakaan. Pertama kedua orang tuaku dan kedua Ray. Aku rasa semua berhubungan. Aku benar-benar tak habis pikir, kutukkan apa yang menimpaku?” Panjang lebar Cherry menceritakan semua masa lalu yang semampu ia ingat pada Rome. Sedikit mengeluarkan air mata.

“Sudah, kau tak perlu menangis, ada aku di sini.” Rome berbicara cukup lembut dan mengalungkan tangannya di bahu Cherry kemudian meletakkan kepala Cherry di bahunya. Cherry terdiam, dia tak tahu harus berbuat apa saat itu. Ketika Rome menenangkannya seperti Ray, dia kembali mengingat Ray.

“Maaf.” Disela- sela isakan tangis Cherry, Rome mengucap kata maaf. Maaf karena telah bertanya sesuatu yang membuat Cherry kembali menangis, maaf karena seharusnya Rome tidak menanyakan masa lalu Cherry.

“Tidak, kau tak perlu mengucapkan kata-kata itu. Kau membuatku sadar bahwa mungkin aku tidak seharusnya hidup, bukan aku tapi harusnya orang tuaku dan Ray.”

“Sudahlah, Cherry. Ini bukanlah salahmu, Tuhan lah yang sudah mengatur semua ini. Tuhan mungkin sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dan ketika kau bersama Ray mungkin itu belum saatnya kau merasakan kebahagian itu,” jelas Rome panjang lebar. Kemudian Rome menegakkan badan Cherry dan berbicara berhadapan dengannya.

“Sebaiknya kita pulang,” ajak Rome tiba-tiba.

“Kau marah denganku? Karena aku mengacaukan acara hari ini. Maafkan aku, tidak seharusnya aku secengeng ini. Aku benar-benar kekanak-kanakkan.” Rome tertawa ringan dan tersenyum mengahadap Cherry.

“Kau tidak pernah berubah,” ucap Rome lirih, namun Cherry masih dapat mendengarnya.

“Aku? Tidak berubah? Maksudmu apa?” tanya Cherry bingung.

“Tidak, aku tidak bicara apapun.” Rome tertawa dan berdiri kemudian berlari meninggalkan Cherry yang masih bingung dengan ucapakn Rome tadi.

“Ah, hey, tunggu aku. Kau benar-benar aneh. Kau orang aneh, Rome.” Cherry berlari menyusul Rome, sedikit tersenyum dan tertawa melihat tingkah Rome yang tidak terduga itu.

**

Hari sudah cukup gelap dan mereka, Rome dan Cherry masih dalam perjalanan pulang. Perjalanan itu memakan waktu yang cukup lama. Rome dan Cherry hanya terdiam, tak berbicara sepatah katapun.

“Ah, Rome, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Ya. Apa?” jawab Rome singkat dan matanya yang terus tertuju ke arah jalanan di depannya.

“Apa kita pernah mengenal sebelumnya?”

Ciiiiittt. Rome mengerem mobilnya mendadak, tanpa ia takuti di belakang ada mobil lain atau tidak, tapi memang tidak ada mobil lain, karena daerah itu cukup sepi dan tidak terlalu banyak orang datang menggunakan mobil ke daerah itu.

“Ada apa, Rome? Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu? Kau memang pernah mengenalku sebelumnya? Dan kau menyembunyikan itu?”

“Kenapa kau bertanya hal seperti itu?” Rome terlihat gagu dan grogi, seperti orang yang menyembunyikan sesuatu dan ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat.

“Tidak, aku hanya merasakan hal itu. Sepertinya aku dan kau pernah mengenal satu sama lain. Aku merasa jika di dekatmu seperti bersama Ray. Aku senang, aku jadi banyak tersenyum. Ya, senang.”

“Ah.” Rome mengangguk dan tertawa ringan. Seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tak dapat seorangpun mengetahuinya.

“Ah, aku sungguh bodoh. Untuk apa aku mempertanyakan hal seperti itu? Itu sungguh tidak penting. Jelas saja kau itu mirip dengan Ray karena kau adiknya,” ucap Cherry tiba-tiba dan sedikit tertawa, menertawai kebodohannya sendiri.

“Ehm, sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi aku sedang menyetir. Jadi, lain kali saja kita bicarakan.”

“Baiklah, tapi aku penasaran apa yang ingin kau katakan.” Cherry tertawa  dan dengan nadanya yang sedang menggoda.

Tak berapa lama setelah perbincangan mereka berakhir, tibalah di rumah Cherry.

“Terima kasih, Rome, sudah membuatku tertawa hari ini.” Cherry tertawa kecil dan melambaikan tangannya pada Rome memberi salam berpisah.

Rome pun membalas dengan senyuman manis dan juga melambaikan tangannya ke arah Cherry dan berkata, “Besok kita bertemu di stasiun utama, bagaimana? Kita bicarakan di dalam kafe stasiun itu.”

“Oh, besok? Baiklah. Sampai berjumpa besok. Hati-hati di jalan, Rome.”

Cherry menatap mobil Rome sampai tidak terlihat lagi. Dan sebelum Cherry masuk ke dalam rumahnya, dia berdiri di depan pintu dan menatap ke arah langit malam yang cukup indah.

“Selamat malam, Ray. Kau sudah mengetahui kejadian hari ini pasti. Aku mencintaimu,” ucap Cherry singkat dan melambaikan tangannya ke atas langit malam.

**

Keesokan harinya Cherry melakukan hal rutinitasnya, bekerja. Ada satu hal yang berbeda dari hari biasanya. Entah apa hal yang dapat membuatnya seperti itu atau mungkin karena hari ini dia akan bertemu dengan Rome. Sungguh berbeda, seperti bukan seorang teman, tapi sepasang kekasih yang saling merindukan.

Cherry segera berangkat dan berpamitan dengan neneknya. Sampailah ia di stasiun. Di pemberhentian kedua tempat biasa mereka bertemu, Rome dan Cherry —saat itu tidak ada Rome, bahkan Cherry berangkat lebih awal untuk menunggu Rome, tapi Rome tak kunjung datang. Akhirnya ia putuskan untuk kembali menaiki kereta itu dan memutuskan untuk bertemu Rome sore harinya setelah ia pulang bekerja.

Dan ya, ketika sore itu, sesuai janji mereka berdua bertemu di stasiun utama di sebuah kafe. Cherry memasuki kafe itu yang terlihat cukup ramai dikunjungi para penumpang kereta.

“Cherry,” teriak seorang laki-laki dari sebuah kejauhan yang tak lain adalah Rome yang sudah duduk di sebuah meja yang sudah dipersiapkan.

“Ah, Rome.” Cherry menoleh dan membalas lambaian tangan Rome, berjalan menuju meja Rome dan langsung saja Cherry bertanya, “Apa yang ingin kau bicarakan, Rome? Pagi ini kau kemana saja? Aku tidak melihatmu berangkat bekerja?”

“Oh, pagi ini aku ada urusan lain, jadi tidak bekerja,” jawab Rome.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” lanjut Cherry yang cukup penasaran pertanyaan apa yang akan dikatakan Rome.

“Ehm, Cherry, aku ingin membicarakan hubunganmu, Ray dan aku.” Cherry yang cukup sibuk dengan minuman di mejanya mengalihkan pandangannya ke arah Rome.

“Apa? Ray dan kau? Apa maksudnya?” tanya Cherry kebingungan.

“Ya. Aku juga akan menjawab semua pertanyaanmu kemarin. Kita sudah mengenal satu sama lain cukup lama, bukan?”

“Ehm. Jadi? Ayolah, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Aku… aku menyukaimu, Cherry,” ucap Rome spontan di depan Cherry, menatap mata Cherry dalam-dalam menandakan kesungguhannya.

Hening. Cherry tak menjawab apapun, hanya diam, tak tahu apa yang harus dikatakan. Cherry hanya memalingkan pandangan tak percayanya dari Rome ke arah lain.

“Aku tahu. Kau pasti sangat terkejut mendengar ini semua, tapi kau dan Ray, aku tidak mengerti kenapa kau bisa bertemu Ray. Mungkin Tuhan sudah mengatur ini semua. Akulah yang mengenal kau lebih dulu. Sudahlah, itu tak perlu kukatakan.”

Cherry masih tidak menjawab segala ucapan yang keluar dari mulut Rome.

“Jadi, pertanyaan pertamamu akan kujawab. Ingatkah kau ketika bertanya siapa nama gadis kecil yang aku sukai ketika duduk di bangku sekolah dasar?” Rome berhenti sejenak kemudian melanjutkan, “Itu kau.” Ketika Rome mengatakan hal itu, Cherry benar-benar terkejut.

Cherry terdiam dan benar-benar tak mengerti apa maksud Rome berbicara seperti itu. Cherry tidak berbicara apapun.

“Kau dan nenekmu, aku sudah sangat mengenal dekat nenekmu jika kau tahu. Jadi aku yakin bahwa kau adalah Cherry, gadis kecil yang sangat kusukai dan kutinggal pergi saat itu. Kau, Cherry.”

Cherry masih tak dapat menatap Rome, dia hanya ingin menangis.

“Dan ya, benar. Itu kau, Cherry. Tapi aku terlambat, Ray lah yang mendapatkanmu lebih dulu. Ray lah yang dapat membuat hatimu mengubah segalanya, bahkan kau sudah tidak mengingatku. Aku tahu karena kecelakaan besar itu. Jika saja aku dapat menemukanmu lebih dulu,” sesal Rome.

“Maaf, Rome.” Cherry angkat bicara, merasa benar-benar canggung dan melanjutkan pembicaraannya, “Rome, aku harus pergi.” Cherry keluar berlari dari kafe itu dan segera membeli tiket kereta dan memasuki kereta di gerbong ketiga tempat biasanya. Dia benar-benar tak percaya. Cherry, Ray dan Rome benar-benar memiliki hubungan yang sangat rumit. Cherry hanya terdiam di dalam kereta dengan tatapan kosongnya.

Sementara itu di tempat lain, Rome yang masih duduk di dalam kafe, diam, tak bersuara. Menatap ke satu arah dengan tatapan kosongnya. Tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Seharusnya tak perlu ia katakan semua, tak seharusnya.

“Bodoh, Rome! Kau bodoh! Sudah cukup lama kau dan Cherry dekat setelah kematian Ray. Tapi kau hancurkan begitu saja dengan mengatakan semua ini. Tidak seharusnya,” sesal Rome. Benar-benar bodoh dengan segala hal yang ia lakukan tadi.

Rome merogoh saku celananya untuk mengambil telepon genggamnya dan menelepon Cherry. Tapi tak satupun telponnya diangkat oleh Cherry.

Drrrtt… Telpon genggam Rome bergetar. Tertera nama Cherry di sana.

Maafkan aku, Rome. Aku belum bisa melupakan Ray. Aku tidak marah padamu. Terima kasih sudah mengatakan semuanya padaku. Tapi aku dan kau… aku sungguh minta maaf aku tak bermaksud mengecewakanmu, tapi lebih baik kita tidak perlu bertemu dulu sampai semua sudah benar-benar kumengerti. Maafkan aku, Rome. Jangan terus menunggu dan mengharapkanku. Kau perlu orang yang lebih baik dariku. Aku tidak cukup baik untukmu. Sekali lagi, maafkan aku. Kau harus punya hidup  yang lebih baik dengan orang lain, bukan aku.

Rome hanya dapat menyesali perbuatan bodohnya, benar – benar kecewa. Dia juga sangat menyesal, harusnya Rome tahu bahwa ia sudah tidak dapat lagi menggantikan posisi Ray.

Cherry yang masih dalam perjalanannya di kereta hanya dapat menangis mengirim pesan singkat itu pada Rome. Dia cukup sedih harus mengatakan itu semua, tapi Cherry memang belum dapat melupakan Ray sepenuhnya meski sudah dua tahun berlalu. Bahkan meski Cherry mulai dapat memberi ruang kosong di dalam hatinya untuk Rome, dia merasa tidak pantas untuk Rome. Dia tidak ingin kejadian yang sama menimpa Rome. Mulai hari itu Cherry putuskan untuk pergi dari kehidupan Rome dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Rome dan tentu saja, Ray.

***

Paginya, Cherry dan neneknya setelah merundingkan semua, nenek Cherry yang sangat menyayanginya tidak ingin cucu kesayangannya bersedih dan mengingat segala masa lalu kelamnya, menyetujui dan mengemas semua barang-barang mereka.

Dan mulai hari itu, Cherry dan Rome sudah tidak saling berhubungan. Cherry sudah pindah ke tempat lain dan Rome tidak mengetahui kepindahannya. Mereka memulai kehidupan mereka masing-masing. Menata hidup mereka menjadi lebih baik. Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu yang mereka inginkan. Karena tiga hal yang tak akan pernah kembali.

Waktu, perkataan, dan kesempatan.

END

Note :

Annyeong ^^ ini ff pertamaku yang dipublish di sini. Sebelumnya terima kasih sudah membaca kkk. Visit here  http://urineunkys.wordpress.com/ kkkk. Terima kasih ^^

 

Iklan

6 pemikiran pada “You, I and Him

  1. sumpeh ga nyangka bacanya..
    Trnyata akhrnya, malah misah smua sendiri2..
    Apa lg kata ‘…karena tiga hal yg tak akan pernah kembali. Waktu, perkataan, dan kesempatan.’ itu seketika bubar smua perkiraanku..
    Bgus thor, aku suka ini sad end tp bkn jd nyesek bgtbgtbgt tp ya kyk kmbli ke realita normalnya aja..
    Keep writing^^a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s