I Was Poor, Problem (Chapter 2)

Glitter_Texture_04_by_Mifti_Stock

 

Author : Mingi Kumiko

Main Cast :

– Shim Jung Hee

– Kim Jong In (Kai)

Genre: Romace, family, friendship, and school life.

Leght: Twoshot

Rating: PG-16

 

Part 1

Aigo… panas sekali di sini, kasurnya keras pula, bodoh sekali aku tadi memaksanya untuk mengizinkanku menginap di rumahnya, apa pula manfaatnya untukku. Bodoh!

Hyung! Kenapa dari tadi kau gerak terus sih?!” keluh bocah di sebelahku.

“Maaf.” jawabku sambil tetap menepuk-nepuk tanganku agar tidak di kerubungi nyamuk.

“Jangan bohong, kau pasti tidak betah di sini, ‘kan?” katanya. Ya, jujur itu memang jawaban yang sangat tepat.

“Oh ya, namamu siapa, hyung?” tanyanya.

“Kai.” jawabku.

“Kai? Tadi kudengar namamu ada jong-jongnya gitu, bagaimana bisa berubah jadi Kai?” tanyanya. Ya tuhan, kepo sekali adiknya Junghee ini.

“Karena kurasa nama itu lebih keren.”

Hyung, dari wajahmu kau terlihat lelaki pintar (gak yakin dengan kalimat ini). Mau mengajariku pelajaran yang belum aku bisa?” tanyanya seperti penuh harap.

“Baiklah, mana pelajaran yang belum kau bisa?” tanyaku.

“Bahasa Inggris.” jawabnya dan ia pun menyerahkan buku pelajaran miliknya.

 

Aku mengajarinya dengan ilmu seadanya, ini pelajaran SMP sedangkan aku sudah SMA, tentu saja aku lupa pelajarannya.

 

Setelah mengerjakan semua soalnya, aku pun tidur tanpa memikirkan kasur yang alot atau nyamuk yang menggigitiku tanpa dosa. Biarlah, hanya sehari kan aku menderita seperti ini?

Hmmm… jadi ini yang selama ini Junghee rasakan, aku jauh lebih beruntung darinya, aku tidak perlu bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhanku. Sementara Junghee, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Aku heran, bagaimana ia bisa mempertahankan prestasi menjulangnya itu? Aku yang jauh lebih beruntung dari dia saja masih sering dikalahkan olehnya dalam segi prestasi.

 

Keesokan harinya..

Aku terbangun dari tidur tidak nyenyakku. Masih jam 5 pagi? Tapi suasana di rumah ini sudah sangat ramai. Joonhee yang kemarin malam masih tidur di sebelahku saja sekarang sudah beranjak dari tempat tidurnya. Kemana ya dia?

 

Aku keluar dari kamar yang kemarin aku gunakan untuk tidur, betapa terkejutnya aku setelah keluar dari kamar melihat Junghee yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya sedang duduk santai sambil membaca bukunya.

“Junghee, kau sudah bangun?” tanyaku sambil mengucek mataku yang masih ngantuk.

“Kau tidak lihat? Bahkan aku sudah mandi dan berganti pakaian.”

“Cepatlah mandi! 30 menit lagi kita akan berangkat.” suruhnya.

“HAH BERANGKAT?! ini masih sangat pagi!” pekikku.

“Kau tahu kan jarak antara rumah dengan sekolahku sangat jauh, jadi kita harus berangkat pagi agar tidak terlambat.” tuturnya dan masih tetap terfokus pada buku pelajarannya itu.

“Kita berjalan?” tanyaku.

“Tentu saja!” jawab Junghee yang membuatku terkejut. Apa boleh buat, lebih baik aku bergegas ke kamar mandi saja.

 

Setelah selesai mandi dan sebagainya aku menata bukuku untuk pergi ke sekolah. “Hyung, ayo kita sarapan!” ajak Joonhee yang tiba-tiba muncul di depan pintu.

“Oke..” balasku dan langsung menuju meja makan mengikuti Joonhee.

“Jongin, silahkan duduk.” Ibunya Junghee mempersilahkanku.

“Terima kasih, ahjumma.” jawabku sambil langsung duduk.

 

Omona~ makanan yang ada di sini sangat sederhana, hanya ada nasi putih dan kimchi. Tapi tak apa lah, makanan apa saja jika dimakan saat lapar akan terasa enak.

“Kenapa, kau tidak suka makanan-makanan ini?” sambar Junghee.

“Aku tidak bilang begitu kok!”

“Kalau suka makanlah cepat, jangan banyak celingukan!” kata Junghee sinis.

 

Setelah melahap makanan sederhana yang ada di piringku ini aku segera beranjak dari kursiku.

“Junghee, jadi berangkat sekarang ‘kan?” tanyaku pada Junghee.

“Oke, ayo!”

 

Ahjumma, ahjussi, kami pamit ya! Terima kasih kamar dan sarapannya.” pamitku sambil membungkuk 90o.

“Iya, nak Jongin.” jawab Youngdae ahjussi. Kami pun segera pulang keluar dari pintu untuk perjalanan ke sekolah.

 

Aku menikmati angin pagi yang berhembus, walaupun sebenarnya sangat dingin.

“Apa setiap hari kau seperti ini?” tanyaku tiba-tiba pada Junghee.

“Tentu saja!” jawab Junghee.

“Kau kan punya sepeda kenapa malah dititipkan dan tidak kau bawa ke sekolah?” tanyaku.

“Sebenarnya mauku dari awal memang seperti itu, tapi melihat keadaan di sekolah yang sangat elit itu, aku jadi minder.” jelas Junghee sambil menunduk. Kuputuskan untuk tidak menanyakannya tentang apapun lagi, aku takut kalau dia akan lebih tersinggung.

 

Kulihat sedari tadi Junghee hanya memegang kepalanya. Entah ada apa dengannya.

“Kau kenapa, Junghee?” tanyaku.

“Aku baik-baik saja.” jawabnya, tapi sepertinya itu tidak benar, kulihat sebuah cairan kental berwarna merah keluar lewat hidungnya.

“Jungee-ya! Kau mimisan?” pekikku.

“Ah masa?” Jawabnya sambil mengusap darah merah tadi.

“Junghee, kau sakit, kondisimu tidak memungkinkan untuk masuk sekolah.” ujarku panik.

“Kita sudah sampai jauh, kalau kembali kan sayang.” katanya yang tetap bersi kukuh tidak ingin pulang.

 

Tanpa basa-basi lagi aku langsung menyelempangkan tasku ke dada. Aku mengangkat tubuhnya ke punggungku dan berbalik arah menuju rumahnya agar dia beristirahat dulu.

“Kai, turunkan aku!” teriaknya sambil berusaha melepaskan dirinya.

“Tidak, kau tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran dengan keadaan seperti ini.” kataku dan tetap berlari.

 

Setelah berpeluh-peluh demi menuju rumah Junghee, akhirnya kami sampai juga.

“Jongin, kenapa kembali? Ada apa dengan Junghee sampai kau angkat seperti itu?” tanya ibunya Junghee kebingungan dan setengah panik.

“Tadi dia pusing dan mimisan, karena menurutku kondisinya tidak memungkinkan untuk masuk sekolah, jadi aku bawa dia pulang.”

“Apa? Baiklah, segera bawa dia ke kamar!” kata ahjumma mempersilahkanku.

 

Aku pun bergegas membaringkan tubuhnya di kasur saat sudah sampai di kamarnya. Kulihat keadaan di kamar ini sangat, ah tidak tega aku mengatakannya. Yang jelas sangat berbeda dengan keadaan kamarku yang colorful, dilengkapi kasur empuk, meja belajar yang keren, juga lemari yang besar untuk menyimpan koleksi baju, topi, dan sepatuku.

Sedangkan kamar Junghee, hanya ada 1 kasur sempit dan temboknya pun tidak dicat, malangnya nasibmu, Junghee-ya..

 

Aku keluar dari kamar Junghee setelah membaringkan tubuh dan menyelimutinya. Kurasa aku harus menelpon sopir pribadiku untuk mengantarku ke sekolah, tidak mungkin dalam waktu yang tersisa sedikit ini aku bisa sampai ke sekolah dengan berjalan kaki, yang benar saja!

 

Aku menunggu jemputan dari sopirku di depan halaman rumah Junghee. Setalah sekian lama menunggu jemputan, akhirnya datang juga supir lamban itu.

Ahjumma, aku pergi, terima kasih sekali lagi.” kataku sambil berbalik dan membungkuk ke arah ibunya Junghee. Dan aku pun segera menuju mobilku.

 

“Ke sekolah cepat, ahjussi!” pintaku pada supir pribadiku, eh ralat, maksudku supir pribadi papaku. Dalam perjalanan ke sekolah aku masih saja mengingat kejadian kemarin dan tadi pagi ketika aku ikut merasakan aktivitas yang selama ini Junghee lakukan. Gila, aktifitasnya sangat padat dan melelahkan, tidak heran jika keadaannya sangat lemah, belum lagi jika harus berjalan dengan jarak kira-kira 2 km dari rumah ke sekolah. Junghee benar-benar hebat!

 

Tidak sadar tiba-tiba aku sudah sampai sekolah, aku pun langsung turun dari mobil dan segera berlari bergegas menuju kelas, karena aku sudah hampir terlambat.

 

Saat sampai di kelas, kulihat teman-temanku yang sedang gaduh entah membicarakan apa.

“Kenapa Junghee tidak masuk? Siapa yang akan mengerjakan PRku?” terdengar keluhan Chanyeol selaku pelanggan setia Junghee. Hahaha, rasakan itu sekarang Junghee tidak masuk sekolah, siapa yang akan mengerjakan PRmu?

 

Tiba-tiba saja Chanyeol membisikkan sesuatu ke telinga Baekhyun. Setelah menyelesaikan bisikannya dengan Baekhyun tiba-tiba mereka berdua menoleh padaku dan memberi senyuman licik. Aku hanya bisa bingung dan berhati-hati.

 

Mereka menghampiriku dengan pandangan aneh.

Mwo?” tanyaku. Mereka hanya memjawab pertanyaanku dengan senyuman licik.

“Kerjakan PR kami ya! Karena Junghee tidak masuk dan kepintaranmu nomor dua setelah Junghee. Kami minta bantuanmu.” jelas Baekhyun.

“Aku tidak mau.” tolakku sambil melipat tangan.

“Kau mau menantang kami, huh?!” kata Chanyeol sambil mencekik leherku.

“Awww.. sakit.. lepaskan!!! Iya iya aku akan mengerjakan PR kalian berdua, free!” pekikku kesakitan.

“Nah, begitu dong!” kata Chanyeol langsung melepaskan cekikannya dari leherku.

“Ya sudah, cepat kerjakan!” kata Baekhyun dan langsung pergi. Cih! Menyebalkan sekali mereka, pemerasan!

 

Aku pun mengerjakan PR mereka berdua dengan cara menyalin dari PRku. Rencanaku sebenarnya sih ingin mengerjakan PR mereka dengan jawaban asal-asalan agar mereka salah semua, tapi itu sama saja mengajak mereka ribut. Aku kan orangnya cinta damai.

 

Fyuuuhhh, selesai juga. Aku menghela nafas sambil menggembungkan pipiku. “Chanyeol, Baekhyun, ini PR kalian!” teriakku sambil melemparkan buku mereka dan kuharap tepat melayang di depan wajah mereka. Dan yak! Buku itu tetap melayang di depan wajah mereka, aku hanya terkekeh kecil melihat apa yang kulihat saat ini.

 

Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku memutuskan untuk segera pulang. Tapi ketika berjalan seketika saja aku teringat oleh Junghee. Bagaimana ya keadaannya, apa dia sudah baikan? Apa aku harus menjenguknya? Ya sudah, minta tolong Kim ahjussi untuk mengantarku kesana kan bisa.

 

Aku menuju mobilku yang tepat berada di depan pintu gerbang sekolah. Aku segera membuka pintunya dan menaikinya.

Ahjussi, kita ke rumah sederhana tadi ya.” pintaku.

“Baik, tuan.” jawab Kim ahjussi mengiyakan perkataanku.

 

Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya aku sampai juga di rumah Junghee. Aku bergegas untuk segera mengetuk pintunya.

Tok.. tok.. tok..

Beberapa detik berselang, kulihat seorang gadis membawa sebuah sapu membukakan pintu.

“Kai, ada apa kau ke mari?” tanya gadis itu.

“Aku ingin menjengukmu.” jawabku tersenyum.

“Menjengukku, aku baik-baik saja. Sudah ya, kau pulang saja, aku sibuk.” tukas Junghee tak acuh.

“Eh? Kenapa kau sama sekali tidak menghargaiku yang sudah susah-susah ke mari?” tanyaku geram.

“Jadi kau mau apa, masuk? Ya sudah, masuklah!” Junghee mempersilahkanku masuk.

 

“Duduklah!” suruhnya.

“Bagaimana, kau sudah baikan? Seharusnya kan kau masih istirahat.” tanyaku memulai pembicaraan.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Ini semua salahmu, kalau saja kau tidak membawaku pulang, aku pasti akan dibolehkan bekerja oleh ayahku. Kau menyebalkan!” pekik Junghee mendengus kesal.

“Tapi kan ini demi kebaikanmu juga, kau ini manusia, bukannya mesin atau robot jadi perlu istirahat, jangan bekerja terus!” omelku dengan suara yang tidak kalah memaksa.

“Lalu bagaimana dengan pelangganku yang kehausan akan nilai PR?” tanya Junghee.

“Huh! Gara-gara itu aku jadi yang kena sasaran. Chanyeol dan Baekhyun mengancamku untuk mengerjakan PR mereka. Tidak dibayar pula!” jelasku kesal setelah mengingat kejadian tadi pagi.

“Hahaha, anggap lah bersedekah kepada dua makhluk itu.” balas Junghee sambil terkekeh kecil.

 

“Maaf, tidak bisa menyediakanmu apa-apa, karena di rumah ini sepi, selain itu ibuku juga belum berbelanja.” ujar Junghee sepertinya sungkan.

“Tidak apa-apa, aku kan ke mari untuk menjengukku bukan untuk meminta makanan.”

“Ya sudah aku pulang dulu, besok jangan lupa masuk! Aku tidak mau menjadi sasaran BaekYeol itu!” tukasku.

“Tentu saja!” jawab Junghee sambil mengantarkanku kedepan pintu.

“Hati-hati ya!” ucap Junghee padaku.

“Oke! Hmmm, Junghee…….” panggilku lirih padanya.

“Apa?” sahut Junghee. Dan……

MUACH!

Aku mengecup bibirnya sekilas dan langsung lari. Aku tahu kalau aku tetap berdiri di hadapannya, pasti aku akan dipukuli sapu.

 

“KAI??!!” kejutnya.

Get well soon, Junghee!” teriakku saat berlari ke belakang menuju mobil ayahku.

 

***

 

Malam harinya…

Eoh, kenapa tiba-tiba saja tadi siang aku khawatir dengan gadis super tangguh itu?

Ada acara menjenguk dia sampai kerumahnya pula. Dan kenapa aku harus mengatakan Tapi kan ini demi kebaikanmu juga, kau ini manusia, bukannya mesin atau robot jadi perlu istirahat, jangan bekerja terus! Perhatian sekali aku kepadanya?

Dan yang paling mengesankan itu, ketika aku mengecupnya singkat. Jahil sekali aku, memainkan bibir wanita seenaknya. Kau mulai menjadi nakal, Kim Jong In…

Tapi tidak biasanya aku seperti ini pada seorang gadis. Apalagi saat tadi ia malah menyuruhku pulang, kenapa hatiku seperti tertusuk, dan segera pulih ketika ia memperbolehkan aku masuk, apa jangan-jangan aku? Ah, Kim Jong In! Jangan kau berpikir yang tidak mungkin.

 

Apa namanya jatuh cinta seperti ini? Ketika kita perhatian kepada seorang gadis, mengalami ketergantungan dan tidak bisa lepas, jika ditinggalkan timbul rasa sakit. Nah lho, kenapa jadi asal begini, bukannya itu gejala sakauw pada pecandu narkoba?

(Kesimpulan: jatuh cinta itu seperti sakauw karena narkoba. Oke siip!)

 

***

Pagi ini giliran Heo sonsaengnim mengajar, guru yang selalu mengajak kami ke luar kelas untuk melakukan sebuah penelitian, yang bisa dibilang tidak penting bagiku. Meneliti kejernihan air lah, tekanan udara, organisme yang ada di suatu tempat, apa pun itu.

 

“Hari ini ada tugas kelompok untuk kalian! Pergilah ke lingkungan sekolah ini dan cari beberapa individu lalu deskripsikan yang kalian temukan!” perintah Heo sonsanegnim.

“Dan Jongin, Junghee! Kalian satu kelompok karena sonsaengnim anggap kalian murid paling pintar, jadi bimbinglah teman kalian!” seru beliau. Mataku langsung membulat dengan apa yang beliau katakan barusan, aku sekelompok dengan gadis galak itu? Aish, mimpi apa aku semalam… pasti akan sangat canggung. Tidak enak juga ditakdirkan sebagai siswa pintar. Tapi aku senang sih, nggak tahu kenapa. Haha, ababil ==”

 

“Hey, Jongin! Cepat keluar, Heo sonsaengnim telah menyuruhmu sekelompok denganku!” seru Junghee yang tiba-tiba menghampiriku.

“Aku malas…” jawabku datar dan santai.

“Apa kau bilang?” bentaknya sambil memberi death gaze yang sangat menyeramkan.

“Kau ikut atau aku akan menghajarmu!” ancamnya.

“Ampunn… baiklah aku ikut!”

“Ayo!” kata Junghee sambil menarik tanganku kasar.

 

Junghee membawaku ke taman yang memang seharusnya untuk penelitian yang telah ditugaskan Heo sonsaengnim.

“Aku malas di sini..” ujarku.

“Ada apa denganmu? Kenapa semuanya serba malas?” tanya Junghee heran.

“Tidak tahu, ayo kita ke tempat lain.”

Shirreo!” Junghee menolak.

“Aish, ayolah!” Aku memaksanya dan tanpa menunggu persetujuannya aku langsung membawa Junghee kabur dari tempat membosankan ini.

 

Aigo, Kai-ya! Kau tidak menuruti prosedur sekali, sonsaengnim menyuruh kita untuk mengawasi murid-murid lainnya!” ujar Junghee mendengus kesal dan mencoba melepaskan gandenganku saat aku membawanya ke taman belakang sekolah yang sepi.

“Dan apa kau pikir mereka adalah bocah TK yang masih perlu diurusi, mereka bisa mengurus diri mereka sendiri!” seruku acuh.

“Ya.. mmm.. ada benarnya juga sih..”

“Nah, sekarang duduklah di sebelahku!” pintaku. Tanpa menjawab ajakanku Junghee pun langsung duduk di bangku yang aku duduki juga.

 

“Hari Selasa itu, maafkan aku ya…” ucapku.

“Tentang apa?” tanya Junghee.

“Aku yang menciummu, hehe…”

“Oh itu, tapi kenapa tiba-tiba kau menciumku? Lancang sekali!”

“Nggak tahu, aku cuman iseng. Jangan marah dong!”

“Ah, aku hanya terlalu jengkel. Manis sih, tapi kenapa harus kau lakukan padaku?”

“Apa kau bilang? Ciuman itu manis?”

“Iya, aku suka adegan seperti itu di drama-drama. Eh, ternyata aku juga akan mengalami hal seperti itu, dicium seseorang yang sangat ‘sesuatu’ untukku pula!”

“Haha, aku sendiri juga tak menyangka akan melakukan itu.” aku terkekeh dan kemudian berusaha menyandarkan kepala Junghee di bahuku. Dan tak kusangka dengan sangat mudah melakukan hal itu. Perasaanku mendadak jadi hangat.

 

“Jadi kau enak sekali ya..” kata Junghee tiba-tiba.

“Tentu saja, karena aku selalu mensyukuri hidupku.” balasku.

“Hmmm..” kata Junghee mengiyakan.

“Jadi kau juga enak.” Kataku.

“Kau jauh lebih beruntung, kau kaya, tenar, pintar pula.. kau mau apa pun pasti terkabul dengan sendirinya. Sedangkan aku yang harus berusaha keras untuk memenuhi kemauanku.” ujar Junghee dengan nada sedikit sedih.

“Semua manusia itu beruntung. Beneran deh! Jadi Shim Jung Hee itu enak tahu. Dia sangat tahu betapa mengharukannya kerja keras, membeli sesuatu yang diinginkan dari uang tabungan sendiri. Itu membanggakan. Aku mengidolakan Shim Jung Hee! Yeah!” ocehku menyemangatinya.

“Entah tersambar jin apa tiba-tiba seorang Kim Jong In yang menyebalkan bisa sekonyol ini.” ujar Junghee heran sambil terkekeh kecil.

 

Kulihat wajahnya ketika tertawa sekilas. Perasaan apa ini? Perasaan ingin mencuri bibirnya lagi??

Aku memandang wajahnya semakin dalam saja, dan Junghee pun sadar dengan apa yang aku lakukan ini.

“Kai, apa yang kau lakukan?” tegur Junghee.

“Eh… bukan apa-apa!” jawabku lalu segera menjauhkan wajahku darinya. Haduh! aku salah tingkah.

“Ada-ada saja kau ini, kau menatapku terlalu serius.” katanya terlihat keberatan.

 

“Aku cinta kamu!” ujarku tiba-tiba tanpa pikir panjang.

“Aku juga.” jawab Junghee.

“Yang benar?” tiba-tiba mataku membulat mendengar jawabannya.

“Tidaklah, aku hanya bercanda. Tertipu kau, Kai! Hahaha~” jawabnya dengan tersenyum licik. Sial,aku tertipu.

“Kenapa kau menipuku?” tanyaku kesal.

“Karena aku tahu kau akan menipuku, aku tidak bodoh, Kai…” katanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak menipu. Aku sungguh-sungguh!” pekikku menekan.

“Lalu?” tanyanya dengan tatapan remeh.

“Ini!” jawabku langsung mendorong kepalanya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Dan aku pun segera menciumnya paksa, seperti keinginan awalku. Jujur saja bibirnya memang sangat menggoda.

 

Kulumat bagian bawah bibirnya dengan penuh gairah. Kurasakan bibirnya yang sedikit mengandung rasa jeruk. Aku tahu tadi dia meminum Floridina sebelum masuk ke kelas.

 

Ia pun terkejut dan langsung mendorongku agar menjauh darinya.

“Hey, apa-apaan kau? Mencium wanita tanpa permisi, itu tidak sopan!” gerutunya, ia pun berbalik –memunggunngiku– dan seperti membuat gerakan mengusap bibir dengan punggung tangan. Aku tahu ia tidak berani melakukan itu di depanku. Memang tidak sopan juga, sih.

 

Aku pun merengkuhnya dari belakang. Kucengkeram erat pinggangnya dengan tangan kananku, sedangkan tangan kiri kulingkarkan di atas dadanya.

“Aku lakukan itu karena aku mencintaimu.” bisikku lembut tepat di telinganya.

“Bukti mencintai bukan seperti itu!” omelnya.

“Lalu seperti apa?”

Molla, aku tidak mencintaimu, jadi mana aku tahu caranya.”

“Tak bisa kah kau mencintaiku walaupun hanya sedikit?” tanyaku gelisah.

“Tentu saja bisa, tapi kau tidak sopan telah mencuri hal penting dariku, bagaimana cara mengembalikannya?”

“Dengan cara aku menciummu lagi.”

Aish, nafsumu sangat tinggi. Tidak mau!” tolaknya dengan mentah-mentah.

“Lalu bagaimana, kau mencintaiku juga tidak?” tanyaku harap-harap cemas.

“Sedikit. Sedikit sekali!” jawabnya sambil membentuk tangannya menjadi lingkarang kecil.

“Yang penting ada, chagi-ya!” ucapku dengan senyuman yang menghiasi bibirku.

“Apa maksudmu memanggilku chagi, kita hanya teman biasa! Eh, kita musuh bebuyutan. Ya ‘kan?” kata Junghee meralat.

“Kurasa dua orang yang saling mecintai sudah punya ikatan. Jadi kurasa aku tidak perlu memintamu untuk menjadikan kau pacarku.” ujarku seenaknya.

“Keputusan macam apa itu? Itu melanggar Hak Asasi Manusia. Kau tidak baca UUD 1945 pasal 28 A-J?? (apa banget?!)” Omel Junghee yang membawa-bawa pelajaran yang diajarkan guru pendidikan kewarganegaraan.

“Sudahlah, akui saja aku sebagai pacar barumu!” paksaku.

“Baiklah, karena kau memaksa. Sekarang kau pacarku, tuan Kim Jong In.” ucap Junghee sedikit menekan.

“Baiklah, berpelukaaann..” kataku sambil membentangkan tanganku mempersilahkan Junghee memelukku.

“Hehehe..” Junghee pun terkekeh kecil lalu melingkarkan tangannya di area leherku, kemudian mengecup bibirku. Aku belum siap mengambil nafas, ciuman itu datang tiba-tiba. Dengan sisa nafas yang tersisa ini, aku pun mengeratkan pelukanku pada pinggangnya.

Akhirnya aku mendapatkannya juga…

 

/ END /

Beneran udah end broh. Maaf ya kalo ada typo dan alurnya kecepetan :v

Jangan minta sequel, gak ada project akunyah XD

18 pemikiran pada “I Was Poor, Problem (Chapter 2)

  1. harus diingat Kesimpulan: jatuh cinta itu seperti sakauw karena narkoba….. by the way sakauw itu apaan ya thor?
    oh iya.. AUTHOOOOOOR… rani masih kecil… kenapa harus ada kiss scene? *Meluk kai* #MIMPI…

  2. annyeong, chingu ^^
    such fluff fanfict kkk~ cute banget. Entah kenapa yg terlintas di otak saya adalah wajah kai yg teramat polos (?) wkwk dari segi pemilihan kata-katanya sih hehe karakternya tetap saja kai dibuat pervert wkwk Junghee polosnya nanggung ya haha
    keep writing xoxo 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s