Through The Eyes

Through The Eyes

Author             : @virawss

Rating              : G

Genre              : Angst, Romance

Length             : One Shot (±2750 words)

Cast                 :

  • Xi Luhan
  • Oh Sehun
  •   Shin Haera
  • Ahn Jisoon

 

Annyeong readers ^^ author balik lagi dengan cerita baru. Setelah “A Loveland” dan dua sequelnya, sekarang author mencoba genre baru (tapi castnya tetep, author ga bisa move on). Semoga kalian suka yaaa, selamat membaca dan komentar kalian author tunggu loh! ^^ DO NOT COPY PASTE WITHOUT PERMISSION

xxXxx

-Haera’s pov-

Ya di sinilah aku hari ini, berdiri di antara persimpangan jalan. Pakaianku tampak bagus dan wajahku nampak cantik, tanpa ada maksud hati ingin sombong namun begitulah adanya. Aku sengaja mempercantik diriku karena hari ini adalah hari penting untukku dan kekasihku yang tepat setahun ini mengisi hari-hariku dan dia adalah Xi Luhan.  Luhan adalah temanku sejak SMP namun kami baru memutuskan untuk berpacaran saat kami kelas 3 SMA.

 

Sudah hampir satu jam lamanya aku menungggu, namun sosok Luhan tak juga muncul. Aku mulai merasakan pegal di kakiku yang sedari tadi berdiri menunggunya. Karena tidak tahan aku  memutuskan untuk meneleponnya.

 

Yeoboseyo?” jawab suara di seberang sana.

“Luhan Oppa, Neo eodisseo?” tanyaku.

Ah Haera-ah mianhae aku masih di jalan, tunggulah sebentar lagi, ne?

“Baiklah Oppa, tapi aku tidak menunggumu di persimpangan ya. Kaki ku pegal jadi aku ke coffee shop kesukaanku ya”

Ne arraseo

“Ttuuutt ttuuutt” aku mengakhiri panggilanku dan berjalan menuju coffee shop.

 

Ini bukanlah pertama kalinya Luhan membuatku menunggunya untuk waktu yang lama. Dia sering melakukan hal ini kepadaku, tidak peduli moment apapun dia bisa dipastikan akan terlambat. Aku tetap menunggunya sambil melihat keluar jendela berharap sosok Luhan yang katanya sebentar lagi akan sampai, namun sudah lebih dari satu jam lagi aku menunggunya di coffee shop ini tapi dia tak kunjung muncul. Sebenarnya aku sudah muak dengan perilaku buruknya yang satu ini. Aku sudah sering mengingatkannya agar jangan telat tapi tetap saja tidak berubah.

 

Oke aku rasa kesabaranku sudah memudar. Sudah dua jam lebih dan total tiga jam aku menunggunya tapi dia tidak datang juga. Aku membereskan barang-barangku yang ada di meja dan bersiap pulang ke rumah, aku sudah muak menunggu terus-terusan.

 

“Haera-ah” panggil seseorang. Aku mengadahkan kepalaku untuk melihat orang itu. Ya, aku tahu orang itu adalah Luhan, bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. “Maafkan membuatmu menunggu selama ini” ujarnya kepadaku.

“Sudahlah tidak perlu minta maaf, ini sudah jadi kebiasaanmu yang tidak-akan-pernah-berubah, kan?” jawabku datar. “Oppa, aku sudah ingin pergi sekarang. Aku kehilangan mood-ku untuk pergi merayakan hari jadi kita yang kesatu tahun dan aku capek karena tiga jam lamanya aku menunggumu. Aku ingin pulang”

“Baiklah ayo aku antar” ujar Luhan.

“Tidak perlu Oppa, aku ingin sendiri dan Oppa aku ingin mengatakan sesuatu” aku berhenti sejenak dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. “Aku ingin mengakhiri hubungan kita Oppa” lanjutku.

“Ya Shin Haera! Jangan bercanda!” bentak Luhan sambil mengguncang tubuhku.

“Aku tidak bercanda Oppa” jawabku sambil menundukkan kepalaku. “Aku lelah  dengan sikapmu ini Oppa. Aku coba untuk menerimanya tapi aku rasa aku telah sampai pada batasku. Aku benar-benar lelah, tolong biarkanlah aku pergi” lanjutku lagi.

“Apa kau yakin Haera dengan keputusanmu ini? Kau yakin ingin mengakhirinya?” tanya Luhan. Suaranya terdengar lirih kali ini. Aku mengangguk perlahan menjawab pertanyaannya. “Baiklah jika itu maumu, aku akan membiarkanmu pergi dan mengakhiri semuanya, tapi jangan pernah memintaku untuk berhenti mencintaimu karena walaupun aku mati dan terlahir kembali aku tidak akan bisa melakukannya” lanjut Luhan yang kini telah melepaskan genggamannya pada bahuku.

“Terima kasih Oppa untuk satu tahun ini” ujarku sebelum meninggalkannya sendiri di coffee shop itu.

 

Aku berjalan menjauhi coffee shop itu. Tanpa terasa semakin jauh jarakku dari tempat itu makin banyak pula air mata yang mengalir dari mataku. Aku tidak tahu apakah keputusanku ini adalah hal yang benar atau salah mengakhiri hubunganku dengan Luhan, tapi sungguh batinku benar-benar tersiksa dengan sikapnya yang seperti itu dan seolah dia tahu kalau aku akan memaafkannya maka dia tidak pernah bisa merubah sikapnya itu.

xxXxx

Hari demi hari aku mencoba membiasakan diri tanpa hadirnya Luhan di sisiku. Aku berusaha melenyapkan perasaan rindu yang memaksa untuk dikeluarkan dalam diriku, mencoba untuk menjauhkan semua hal yang dapat mengingatkanku padanya. Namun tanpa tersadari justru perasaan rindu pada Luhan menggerogoti tiap inchi relung hatiku.

 

Hari ini adalah tepat sebulan setelah aku dan Luhan berpisah. Aku benar-benar tidak mengetahui kabar dirinya, apakah dia baik-baik saja? apakah dia juga merasakan seperti yang aku rasakan? Aku sadar aku munafik dan perlahan perasaan menyesalpun mulai menghantui diriku. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan tenaga yang aku punya, kuputuskan untuk pergi ke apartement Luhan.

 

TING TONG

 

Aku memencet bel dan menunggu Luhan membuka pintunya. Sekitar lima menit berlalu tapi tak ada jawaban dari dalam.

 

TING TONG

 

Aku membunyikan bel lagi.

 

TING TONG

 

TING TONG

 

Berkali-kali aku memencet bel tapi tidak ada yang membukakan pintu ataupun jawaban dari Luhan. Aku hanya menatap pasrah pintu apartement Luhan dan berharap dia muncul dari balik pintu itu.

 

“Maaf Agasshi, sedang apa di sini?” tegur seorang Ahjumma membangunkanku. Ternyata aku tertidur di depan pintu apartement Luhan.

“Ah, aniyo Ahjumma. Aku hanya sedang menunggu pemilik apartement ini” jawabku sambil berdiri dan merapikan pakaianku.

“Oh! Apa orang yang kau maksud Luhan?” sahut Ahjumma itu.

“I… iyaa benar. Anda mengenalnya?” tanyaku.

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia anak yang baik, dia sering membantuku membawa sayur-sayuran daganganku di gudang ke pasar. Padahal aku yakin saat itu dia hendak pergi kuliah ataupun menemui kekasihnya. Sungguh beruntung yeoja yang mendapatkannya” jawab Ahjumma itu ramah. nafasku tercekat mendapati jawaban Ahjumma itu. Pertanyaan-pertanyaan mulai menari di otakku. Apakah selama ini Luhan membantu Ahjumma ini yang membuatnya selalu terlambat menemuiku? Apakah semua kejadian ini memang salahku dan keegoisanku? Aku mulai meneteskan air mataku lagi. “Ehm, kalau saya tahu apa hubungan Agasshi dengan Luhan?” tanya Ahjumma itu lagi.

“Aku adalah kekasihnya yang tidak bersyukur karena telah menyianyiakannya” jawabku sambil mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk lesu dan memperlihatkan raut wajah penuh penyesalan, rasa sakit dan rasa bersalah pada Luhan.

“Benarkah?!?!” sahut Ahjumma itu terkejut. “Tapi maaf Agasshi, dengan sangat menyesal aku harus bilang kalau Luhan sudah tidak tinggal di sini lagi sejak hampir sebulan yang lalu” kini wajah Ahjumma itu ikut muram.

“Apa anda tahu kemana dia pergi? Tolonglah bantu aku” aku menggenggam tangan Ahjumma itu memohon bantuannya.

“Maafkan aku Agasshi, aku tidak tahu kemana dia pergi” ujar Ahjumma itu. Seluruh tubuhku lemas, aku menghempaskan tubuhku ke lantai dan menangis sejadinya. Aku merasakan sakit yang teramat perih pada hatiku ini. “Lebih baik Agasshi pulang sekarang, ini sudah cukup larut” lanjut Ahjumma itu sambil membantuku berdiri. Aku membungkukkan tubuhku lesu kepadanya dan berlalu pergi.

 

Aku kembali berjalan tanpa arah. Tidak peduli dinginnya malam yang menusuk kulitku ini. Kubiarkan angin membawa tubuhku ke manapun, aku tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk menolaknya. Sampai akhirnya angin menghentikan langkahku di sebuah taman dengan danau di tengahnya yang tak asing untukku. Aku menatap taman itu dengan tatapan kosong dan memoriku memutar kembali kejadian setahun yang lalu di taman ini.

 

Flashback

“Haera-ah kau tunggu di sini dulu ya sebentar, aku mau membeli minuman dulu” ujar Luhan kepadaku.

“Baiklah” jawabku singkat.

 

“Noona bisakah kau membantuku memegangi balonku? Aku mau mengikat tali sepatuku” tak berapa lama setelah Luhan pergi ada seorang anak laki-laki menghampiriku.

“Tentu saja” jawabku ramah seraya tersenyum pada anak itu dan mengambil balon dari tangannya. Aku menunggunya mengikat tali sepatunya. Tapi setelah tali sepatunya terikat dia justru lari meninggalkan balonnya bersamaku. “Hei tungguuu!!! Ini balonmu!!!” teriakku sambil mengejar anak itu.Namun belum sempat aku menangkap anak laki-laki itu, tiba-tiba seorang gadis kecil berlari ke arahku dan memberiku sebuket bunga mawar. Aku menerima bunga itu dengan perasaan bingung. “Siapa yang menyuruhmu memberiku bunga ini?” tanyaku.

“Seorang Oppa yang tampan” jawabnya sambil tersenyum. “Oppa bilang kalau Eonni harus memilih bunga yang aku berikan atau balon itu, dia menunggu Eonni di balik pohon itu” tunjuk gadis kecil itu kesalah satu pohon di hadapanku. “Cepat Eonni temui Oppa itu” gadis itu mendorong tubuhku agar menuju pohon yang dimaksud.

 

Masih dengan perasaan bingung aku melangkahkan kakiku menuju pohon itu. Aku menoleh ke belakang tapi sosok gadis kecil itu sudah menghilang. Mau tidak mau aku melanjutkan langkah kakiku dan bertanya-tanya siapakah namja itu.

 

“Luhan?!?!?!” seruku terkejut bukan kepalang. “Apa ini semua ulahmu?” tanyaku.

“Ehehehe, iya Haera-ah” jawabnya terkekeh malu.

“Lalu apa maksudnya semua ini?” tanyaku lagi.

“Apa kau tidak sadar benda apa yang menggantung di ujung tali balon itu? bukankah itu sudah jelas?” sahut Luhan. Aku melihat sebuah cincin di ujung tali balon itu.

“Cincin?” aku masih clueless.

“Baiklah sepertinya aku memang harus menjelaskannya padamu dari awal, kau memang yeoja phabo” jawab Luhan. Sekarang dia hanya berjarak satu meter dari hadapanku. “Kau ingat ini?” Luhan mengeluarkan sebuah plester luka using dari dompetnya. Aku menganggukkan kepalaku. “Sudah hampir 6 tahun sejak kejadian itu. Tahukah kau kalau sejak saat kau menolongku yang terjatuh di lapangan sekolah itu, aku telah jatuh hati kepadamu sampai detik ini. Sejujurnya sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini semua kepadamu, tapi aku ragu karena sepertinya kau tidak tertarik untuk berpacaran dengan siapapun. Tapi hari ini aku mantapkan hatiku untuk mengungkapkannya padamu. Jadi sekarang pilihlah di depanku, kalau kau memilih bunga itu maka kau menolakku dan jika kau memilih balon itu berarti kau mau menjadi kekasihku” ujar Luhan sambil tersipu.

“Kaulah yang phabo” jawabku sambil membuang buket mawar itu ke tanah. “Kau tahu berapa lama aku menunggumu untuk mengatakan hal ini kepadaku?” tanyaku yang kini sudah meneteskan air mata bahagia. Luhan tersenyum bahagia mendengar pernyataanku dan menarikku ke dalam dekapannya.

 

Flashback end

 

Aku kembali ke dunia nyataku yang pahit ini, aku melihat sekeliling bahwa yang tadi aku rasakan adalah memori indahku di taman ini. Hujan mulai turun dengan derasnya. Tetesan airnya seolah menghujam diriku yang dengan bodohnya melepaskan Luhan. Aku bersimpuh membiarkan air hujan memaki diriku sepuasnya. Tanganku hanya mampu memegangi dadaku yang terasa sakit karena keegoisanku sendiri. Tak sedikitpun aku berniat beranjak dari tempat itu.

 

“Haera?” panggil seseorang. Aku menoleh untuk menatapnya. “Astaga benar!!! Haera-ah apa yang kau lakukan di sini? Di tengah hujan deras seperti ini? Ayo bangun kuantar kau pulang” lanjutnya.

“Biarkan aku di sini Jisoon-ah, kau tidak mau pulang” jawabku. Dia adalah sahabatku Ahn Jisoon.

“Tapi kalau terus kehujanan kau akan sakit Haera-ah. Ayo ke rumahku dan jangan membantahku” sahutnya sambil memaksaku berdiri. Dengan enggan aku mengikutinya.

 

Di rumah Jisoon…

“Haera-ah, kau kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Luhan?” tanya Jisoon. Mendengar nama itu disebut membuat mataku kembali panas. Aku mengangguk lemah. “Kau menyesal mengakhiri hubungan kalian?”

“A… aku sa…ngat me…nyes… sal” jawabku mulai menangis lagi. “Aku ada…lah gadis ter…bodoh yang pernah ada” sambungku. “Aku terlalu bodoh sampai hati aku menyakitinya dan kini dia benar-benar pergi. Aku mencarinya ke apartementnya tapi ternyata dia sudah pergi dari sebulan yang lalu. Aku telah menghancurkannya Jisoon-ah” aku tenggelam dalam tangisku. Jisoon menghampiriku dan memelukku.

“Sudahlah Haera-ah, ini semua telah terjadi. Kau akan bertambah bodoh berkali-kali lipat kalau kau terus-terusan menyesalinya. Kalian berdua sama-sama hancur perasaannya saat ini, sekarang lebih baik kau menenangkan dirimu dan memaafkan dirimu Haera-ah. Aku yakin, Luhan juga tidak ingin kau terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri. Aku mohon demi kebaikan dirimu sendiri, janganlah seperti ini lagi. Kau harus bangkit dan tegar. Banyak hal lain yang menunggumu di luar sana” ujar Jisoon menyemangatiku.

xxXxx

Sejak malam aku menginap di rumah Jisoon , perlahan aku mulai bangkit dari keterpurukkanku. Jisoon sering menemaniku agar  aku tidak merasa kesepian atau agar aku tidak menangis lagi. Aku sangat berterima kasih dengan kehadiran Jisoon di sampingku. Jisoon berkata kepadaku agar aku mencoba untuk membuka hati kembali. Aku masih memikirkan perkataan Jisoon tapi aku rasa aku masih butuh sedikit waktu lagi.

 

Bagaimana dengan Luhan? Saat ini sudah satu setengah tahun sejak kami berpisah. Aku benar-benar tidak mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Ya sekuat apapun aku mengingkarinya, aku tetap tidak bisa bohong bahwa aku sangat merindukannya. Aku merindukan tatapan matanya yang hangat, suaranya yang terdengar manis ketika dia bernyanyi untukku dan segala tentangnya. Dengan menyimpan rapat-rapat rasa rinduku, aku kembali menata hidupku lagi.

xxXxx

“Luhan?!?!” aku berteriak dan menjatuhkan semua kantong belanjaanku ketika melihat sosok namja berperwakan seperti Luhan berada tepat di depan pintu rumahku. “Xi Luhan!” aku memanggilnya tepat di belakang punggung namja itu. Namja itu menoleh dan tersenyum kepadaku. “Astaga!” aku benar-benar terkejut melihat namja di hadapanku ini, dia terlihat seperti Luhan tapi dia bukan Luhan.

“Kau pasti Shin Haera?” tanyanya lembut. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Naega Oh Sehun imnida” katanya sambil membungkukkan badan.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku.

“Oh itu, Uhm karena selembar foto ini dan tentu saja alamatmu. Aku mau memberikan surat ini kepadamu” jawab Sehun.

“Kalau begitu ayo masuk dulu” ajakku mempersilakan Sehun masuk ke rumahku.

 

“Jadi kau adalah kekasihnya Luhan?” tanya Sehun saat kami duduk berhadapan di ruang tamuku.

“Kau mengenal Luhan?” tanyaku penuh harap.

“Tentu saja, kami sangat dekat”

“Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?” tanyaku lagi.

“Maafkan aku, aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Luhan bilang aku tidak boleh mengatakan apapun tentang dirinya dan biarkan kau mengetahuinya sendiri lewat ini” kata Sehun sambil menyodorkan surat tadi. “Jika kau ingin tahu keadaannya lebih baik kau baca surat itu” lanjut Sehun. Aku mengambil surat itu dari meja dan membukanya.

 

Aku membuka amplop yang membungkus surat itu. Aku sangat mengenal tulisan tangan ini, tulisan tangan yang ku kenal sejak duduk di bangku SMP. Aku mulai membaca kata demi kata pada surat itu.

xxXxx

Untuk Shin Haera…

 

Haera-ah bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? Aku harap kau baik-baik saja, karena aku di sini juga baik-baik saja berkat Sehun yang selalu menguatkanku. Di surat ini aku ingin menyampaikan semua perasaanku yang tak tersampaikan kepadamu. Pertama-tama aku ingin berterima kasih kepadamu karena selama hampir 7 tahun kau selalu ada di sampingku. Mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai seseorang. Terima kasih juga untuk satu tahun kebersamaan kita sebagai kekasih karena kau telah mengajarkanku bagaimana rasanya dicintai. Dan terima kasih untuk satu tahun terakhir ini karena kau telah mengajarkan aku bagaimana rasanya sakit dan jatuh karena cinta. Sejujurnya, aku juga ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya Haera-ah, tapi tak apalah biar aku saja yang mengungkapkan perasaanku ini. Kau tahu Haera-ah sejak kejadian di Coffee Shop itu hidupku serasa terbalik, aku tidak mampu mengerjakan sesuatu dengan benar. Untuk itulah aku memutuskan untuk pergi dari Seoul dan memulai kehidupan yang baru. Saat kau membaca surat ini, kau pasti telah bertemu dengan Sehun, dia tampan sepertiku kan? Ketika surat ini sampai ke tanganmu, itu berarti aku sudah tidak berada di dunia yang sama denganmu. Aku sudah pindah ke surga dan berubah menjadi malaikat pelindungmu Haera-ah. Aku merasa hidupku sebagai manusia tidak ada gunanya jika tidak bisa membuatmu tersenyum. Maka, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku perlahan-lahan agar aku bisa menjadi malaikat yang setiap saat bisa mendampingi dirimu kemanapun kau pergi. Dan sebelum aku meninggal, aku menitipkan surat ini kepada Sehun dan memintanya untuk pergi mencarimu dan memberikan surat ini kepadamu. Haera-ah apa kau bisa lihat Sehun terlihat mirip denganku? Dan lihatlah lekat-lekat ke dalam bola matanya karena itu adalah mataku… Sehun terlahir buta dan aku rasa mendonorkan mataku kepadanya adalah hal baik terakhir yang mampu aku lakukan. Jadi walaupun sekarang aku tidak ada di dunia ini, tapi aku tetap hidup dan mengawasimu melalui Sehun. Apa kau ingat perkataan terakhirku di Coffee Shop hari itu? Aku bilang ‘aku akan membiarkanmu pergi dan mengakhiri semuanya, tapi jangan pernah memintaku untuk berhenti mencintaimu karena walaupun aku mati dan terlahir kembali aku tidak akan bisa melakukannya’ dan sekarang aku terlahir kembali sebagai seorang Sehun dan aku tetap mencintaimu. Sebagai permintaan terakhirku kepadamu, kau harus berjanji kepadaku untuk mencintai Sehun seperti kau mencintaiku selama ini ya…

                                                                                                Aku yang mencintaimu selalu,

                                                                                                             Xi Luhan

xxXxx

“Oppaaaaaa” ucapku lirih sambil memeluk sepucuk surat terakhir darinya. “Sehun-ssi, bolehkah aku melihat mata itu?” tanyaku pada Sehun.

“Selama dan sebanyak apapun yang kau mau” jawab Sehun. Aku menyentuh pipi Sehun dan menatap matanya lekat-lekat. Ya tidak perlu di ragukan lagi itu adalah mata Luhan dan benar yang Luhan katakan bahwa Sehun memang terlihat sangat mirip dengannya. Air mata tak hentinya jatuh dari mataku. Dengan perlahan Sehun memelukku. “Aku tahu ini berat untukmu Haera-ssi. Luhan bilang kepadaku sebagai pesan terakhirnya untukku. Ketika aku sudah bisa melihat dunia, aku harus menemukan sesuatu yang paling indah yang ada di dunia ini dan cintailah keindahan itu. Dia memintaku untuk menjaga sesuatu yang berharga untuk dirinya dan dia bilang bahwa matanya akan menuntunku untuk menemukan sesuatu itu. Dan ketika aku sudah bisa melihat, aku tahu aku sudah tidak bisa melihat sosok Luhan untuk berterima kasih kepadanya. Maka, aku bertekad untuk melakukan pesan terakhirnya. Saat aku mengambil surat ini dari lemariku, aku menemukan fotomu di bawah surat itu. Saat aku melihat fotomu aku merasa bahwa kau adalah hal yang terindah dan aku tidak ingin menemukan hal yang lebih indah lagi. Dan di sinilah aku sekarang memenuhi janjiku pada Luhan, menemukan hal yang indah, mencintainya dan menjaga sesuatu yang berharga untuknya” ungkap Sehun. “Jadi Shin Haera, aku harap perlahan-lahan kau bisa mencintaiku juga”

“Aku akan berusaha mencintaimu Sehun-ssi, bukan semata-mata karena Luhan tapi memang karena dirimu” jawabku. “Luhan, aku tahu saat ini kau melihatku dari surga. Seperti permintaanmu aku akan belajar mencintai Sehun seperti aku mencintaimu. Aku menerima  Sehun karena aku percaya dia adalah orang yang kau kirimkan untukku dari surga” ujarku sambil mempererat pelukanku ke Sehun

 

-FIN-

 

 

Iklan

19 pemikiran pada “Through The Eyes

  1. Luhaann T_T knp harus mati??
    huaaa…
    cukup bikin gw nyesek bikin Luhan gw mati.
    haha..
    tapi keren ceritanya.
    ditunggu sequel’a yaw.
    kkkk~

    • eh? persis banget kah? soalnya aku ga pernah bikin kyumin. tp memang aku buat versi haebum dengan cerita yg sama dan a/n aku. aku boleh minta yg link yg kyumin? mau aku cek ^^

  2. ehehe mian baru muncul. maaf kalau aku mau mengecewakan kalian. tapi maaf FF ini aku sengaja akhiri dengan one shoot tanpa sequel *bow* tapi gantinya aku sedang progress FF baru ditunggu ya! jangan lupa yg belum baca a loveland dan sequelnya di baca yaa. chu~ *bow*

Tinggalkan Balasan ke kimsun217 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s